Login
Section Islamic Education Method

Deep Learning in the Arabic languague learning curriculum : An Analytical Study at the Integrated Islamic Junior High School (SMPIT) of Utsman Bin Affan Islamic Boarding School, Tulangan, Sidoarjo

Penerapan Deep Learning dalam Kurikulum Pembelajaran Bahasa Arab: Sebuah Studi Analitis di Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Pesantren Utsman Bin Affan, Tulangan, Sidoarjo
Vol. 21 No. 1 (2026): February:

Syifa Shobrina (1), Khizanatul Hikmah (2)

(1) Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Arabic language education requires innovative approaches that move beyond memorization toward deeper understanding and meaningful use of language. Specific Background: Within the Merdeka Curriculum, deep learning is presented as an approach emphasizing conceptual understanding, contextual learning, active participation, and the integration of mindful, meaningful, and joyful learning. Knowledge Gap: Previous studies have examined deep learning in Arabic reading, teacher perceptions, and classroom methods, but its implementation within the Arabic curriculum at an integrated Islamic junior high school remains less comprehensively discussed, particularly regarding planning, classroom practice, evaluation, and supporting and inhibiting factors. Aims: This study examines the implementation of deep learning in Arabic language learning at SMPIT Utsman Bin Affan Tulangan, Sidoarjo, and identifies factors supporting and constraining its implementation. Results: Using a descriptive qualitative approach through interviews, observations, and documentation, the study found that teachers prepared learning through training, curriculum planning, teaching modules, and supporting facilities. Classroom practices involved lectures, dialogic activities, collaborative learning, visual media, and extracurricular Arabic activities. Students reportedly showed better motivation, understanding, communication, and language practice, while diverse educational backgrounds created challenges in selecting appropriate methods. Novelty: The study provides a contextual analysis of deep learning implementation in an Arabic curriculum within an integrated Islamic boarding school setting. Implications: The findings suggest that teacher preparation, adequate facilities, contextual activities, and appropriate method selection are important considerations for sustaining deep learning in Arabic education.


Key Findings Highlights


Teacher training and adequate facilities supported classroom and extracurricular activities.


Collaborative discussion fostered understanding, communication, and empathetic listening.


Differences in prior schooling complicated method selection, while project-based work remained limited.


Keywords : Deep Learning, Arabic Language Education, Merdeka Curriculum, Contextual Learning, Islamic Junior High School

Pendahuluan

Pendidikan merupakan suatu proses pengubahan yang dilalui oleh manusia baik secara individu maupun kelompok melalui kegiatan pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan pembentukan karakter untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari serta diwariskan dari generasi ke generasi. Pendidikan memiliki peranan penting dalam memajukan suatu bangsa dan negara dengan mencerdaskan generasi penerus agar mampu menghadapi tantangan zaman. Oleh karena itu, lembaga pendidikan dituntut untuk mempersiapkan berbagai komponen pendukung pembelajaran, seperti kurikulum, tenaga pendidik, bahan ajar, sarana prasarana, serta pendekatan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan peserta didik[1].

Bahasa menjadi salah satu media utama yang digunakaan manusia untuk memenuhi berbagai kepentingan dalam kehidupan, baik dalam bidang pendidikan, administrasi, politik, ekonomi maupun transaksi sosial[2].Sebagai sarana komunikasi, bahasa berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan gagasan, pikiran dan informasi antar individu. Dalam konteks global, bahasa Arab memiliki posisi strategis sebagai salah satu bahasa internasional yang berpengaruh besar dalam bidang pendidikan, keagamaan sosial, dan budaya.[3]

Pembelajaran bahasa Arab merupakan proses yang menuntut pemikiran dan pemahaman yang sistematis, mencakup aspek tata bahasa (nahwu shorof), fonologi (ashwat) dan pengusaan kosa kata.[4] Selain itu , pembelajaran bahasa Arab juga melibatkan empat keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan tersebut memerlukan perencanaan serta penyusunan materi yang tepat agar proses pembelajaran berlangsung secara efektif dan kondusif.[5]

Adapun pembelajaran bahasa Arab pada periode terakhir mengalami perkembangan yang pesat.[6] sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan penguasaan bahasa Arab baik dalam konteks pendidikan, keagamaan, maupun globalisasi. Perkembangan ini ditandai dengan pembaruan kurikulum, pemanfaatan teknologi digital, serta penerapan berbagai pendekatan dan metode pembelajaran yang lebih inovatif dan kontekstual.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pendekatan pembelajaran juga mengalami perubahan. Salah satu pendekatan yang saat ini banyak dikembangkan dalam dunia pendidikan adalah pendekatan Deep Learning. Deep learning dalam konteks pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai teknologi kecerdasan buatan, melainkan sebagai pendekatan pembelajaran yang menekankan pada pemahaman mendalam, berpikir kritis, reflektif, kolaborasi kreativitas, kemandirian serta beriman dan bertakwa kepada Tuhan. Pendekatan deep learning hadir untuk memfasilitasi pemahaman konseptual yang lebih tinggi dengan mendorong siswa untuk mengaitkan kosa kata dengan pengalaman dan nilai-nilai di kehidupan nyata[7] Juga, peserta didik didorong untuk aktif mengeksplorasi konsep, menganalisis permasalahan, serta mengonstruksi pengetahuan secara mandiri. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing proses berpikir siswa agar mencapai pemahaman yang komprehensif dan berkelanjutan. Ada tiga konsep utama deep learning dalam pembelajaran yang saling terintegrasi, yaitu pembelajaran mindful (sadar penuh), meaningful (bermakna), dan joyful (menyenangkan).[8]

Dalam konteks pendidikan nasional Indonesia, Kurikulum Merdeka menyediakan berbagai peluang pembelajaraan, memberi kebebasan kepada guru dan siswa untuk mengeksplor materi dengan cara menarik dan fokus pada hal-hal penting dalam membangun karakter peserta didik.[9] Kurikulum Merdeka menekankan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, penguatan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila, serta pembelajaran yang bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata. Sejalan dengan implementasi Kurikulum Merdeka, pendekatan Deep Learning dan Kontekstual Learning menjadi dua pendekatan yang relevan untuk diterapkan dalam proses pembelajaran. Deep learning merupakan pendekatan yang menekankan kemampuan pada pemahaman mendalam, koneksi antar konsep, serta kemampuan peserta didik untuk mengaplikasikan pengetahuan secara bermakna dalam kehidupan nyata[10]. Sedangkan kontekstual learning, peserta didik didorong untuk menghubungkan materi yang dipelajari di kelas dengan pengalaman sehari-hari, lingkungan sosial serta permasalahan nyata yang mereka hadapi. Dengan demikian pembelajaran lebih bermakna, aplikatif dan mudah dipahami. Pembelajaran bermakna memungkinkan peserta didik terlibat secara aktif dalam kegiatan yang berkaitan langsung dengan materi pembelajaran sehingga mereka dapat membangun pemahaman secara mandiri berdasarkan pengalaman belajar yang didapatkan.[11]

Perpaduan antara deep learning dan kontekstual learning dalam kurikulum merdeka menjadi strategi pembelajaran yang saling melengkapi. Deep learning memberikan kedalaman pemahaman dan penguatan kemampuan berfikir kritis, sementara kontekstual learning memberikan relevansi dan kebermaknaan materi pembelajaran. Kombinasi kedua pendekatan ini sejalan dengan prinsip kurikulum merdeka yang menekankan pembelajaran diferensiatif, reflektif, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi peserta didik secara utuh. Dengan demikian, penerapan pendekatan deep learning dan kontekstual learning dalam kurikulum pembelajaran bahasa Arab menjadi sangat penting. Pendekatan ini tidak hanya membantu peserta didik memahami kaidah dan kosakata bahasa Arab secara mendalam, tetapi juga mampu mengaplikasikan bahasa Arab serta relevansinya dengan kebutuhan peserta didik di era kurikulum merdeka.

Adapun penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Muhammad Nasrullah dengan judul “Implementasi Pembelajaran Deep Learning dalam Meningkatkan Kemampuan Mahārah Qirā’ah di Pondok Pesantren Al-Kausar Srengat Blitar” menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran deep learning mampu meningkatkan kemampuan mahārah qirā’ah peserta didik. Hasil penelitian tersebut menegaskan bahwa proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada kegiatan membaca dan menerjemahkan teks, tetapi diarahkan pada penggalian makna, pemahaman yang mendalam, serta penerapan nilai-nilai yang terkandung dalam teks bacaan ke dalam kehidupan sehari-hari[12].Hasil penelitian Yoyon Mahardika, Christian Arief Jaya yang berjudul “Persepsi Guru Terhadap Implementasi Deep Learning sebagai Pembelajaran Berbasis Pemahaman Konseptual di Sekolah Dasar” Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memandang deep learning sebagai pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman konsep secara mendalam dan keterlibatan aktif siswa. Namun, pemahaman guru masih terbatas dan penerapannya belum optimal karena kurangnya pelatihan yang memadai[13].Hasil penelitian Isma Mardlatika Rahman, Haikal Akhtar Haniffm Asna Taqiyyahm Iffa Rousyana dengan judul “Penerapan Pendekatan Deep Learning dalam Pembelajaran Bahasa Arab melalui Metode Ceramah di MAN 1 Semarang” Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi deep learning dalam metode ceramah dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, pemahaman konseptual, dan minat belajar siswa.

SMPIT Utsman Bin Affan merupakan salah satu pondok pesantren yang sudah menerapkan kurikulum merdeka dengan pendekatan deep learning khususnya pada pembelajaran bahasa Arab dengan berbagai metode. Dimana pondok pesantren tersebut memiliki program unggulan yaitu kelas bahasa Arab Internasional yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Arab , adapun sekolah tersebut di desain dengan mengembangkan kurikulum yang memaksimalkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, berilmu, bertanggung jawab, berakhlak mulia, berjiwa pemimpin serta rasionalis. Melihat dari latar belakang masalah, peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana implementasi pembelajaran Bahasa Arab berbasis Deep Learning dalam Kurikulum Merdeka di SMPIT Utsman Bin Affan. Penelitian ini difokuskan pada bagaimana perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran tersebut serta faktor pendukung dan penghambat dalam implementasinya. Berdasarkan paparan latar belakang diatas peneliti akan melakukan penelitian di SMPIT Utsman Bin Affan dengan judul penelitian “Deep learning dalam kurikulum pembelajaran bahasa Arab : Studi analisis di SMPIT Utsman Bin Affan Tulangan Sidoarjo”.

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Metode ini berfokus pada pemahaman makna, persepsi, serta konteks sosial yang melibatkan partisipan dalam situasi penelitian, berbeda dengan metode kuantitatif yang lebih mengutamakan pengukuran dan analisis data numerik.[14] Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara terbuka dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, guru Bahasa Arab , serta beberapa siswa kelas VII SMPIT Utsman Bin Affan dengan pedoman semi-terstruktur untuk menggali persepsi informan mengenai penerapan deep learning dalam pembelajaran bahasa Arab. Data sekunder diperoleh melalui observasi non-partisipatif untuk mengamati secara langsung pelaksanaan pembelajaran di kelas yang berkaitan dengan penerapan deep learning, analisis dokumen seperti rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), modul ajar Kurikulum Merdeka, perangkat pembelajaran, serta dokumentasi pendukung lainnya guna melengkapi dan memperkuat data hasil wawancara dan observasi.

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui beberapa metode, yaitu observasi untuk mengamati secara langsung proses pembelajaran Bahasa Arab berbasis mendalam, wawancara dilakukan dengan kepala sekolah, waka kurikulum, guru bahasa arab, serta beberapa siswa untuk memperoleh informasi mengenai pengalaman informan, persepsi, serta hasil dari pendekatan ini.[15] dokumentasi untuk memperkuat data lapangan seperti RPP, materi ajar, catatan hasil belajar dan foto kegiatan pembelajaran, serta triangulasi data guna meningkatkan validitas dan keabsahan data penelitian.Teknik analisis data dilakukan melalui tiga tahapan utama, yaitu reduksi data dengan memilih dan memfokuskan data yang relevan dengan tujuan penelitian, penyajian data dalam bentuk narasi deskriptif yang sistematis, serta tahap terakhirnya adalah yang induktif berdasarkan temuan empiris dan interpretasi terhadap konteks pembelajaran. Kemudian hasil analisis ini diverifikasi secara berulang untuk memastikan konsistensi dan keabsahan data.[16] penarikan kesimpulan berdasarkan temuan penelitian yang telah diverifikasi. Berikut merupakan bagan alur penelitian

Figure 1.

Gambar 1. Prosedur penelitian

.Hasil dan Pembahasan

Dalam pembelajaran Bahasa Arab, pendekatan deep learning sangat relevan karena pembelajaran bahasa menuntut pemahaman struktur, makna, dan penggunaan bahasa dalam konteks yang nyata. Pembelajaran Bahasa Arab tidak hanya mencakup aspek kognitif, tetapi juga keterampilan berbahasa seperti menyimak, berbicara, membaca, menulis yang membutuhkan latihan berkelanjutan dan pemahaman mendalam. Pendekatan deep learning dalam pembelajaran Bahasa Arab di pondok pesantren atau sekolah Islam dapat diterapkan melalui perencanaan pembelajaran yang berorientasi pada pemahaman konsep, penggunaan metode pembelajaran aktif, serta pemanfaatan media pembelajaran yang mendukung keterlibatan peserta didik. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan motivasi belajar, kemandirian, serta kemampuan berpikir kritis peserta didik.

Pembelajaran Bahasa Arab berbasis deep learning dalam Kurikulum Merdeka menunjukan bahwasannya pendekatan ini menciptakan pembelajaran yang bermakna, relevan, dan berorientasi pada pemahaman mendalam. Pendekatan ini menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran, sementara guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing dan mengarahkan proses berpikir siswa. Pada pembahasan ini, peneliti akan menjelaskan mengenai penerapan kurikulum merdeka di SMPIT Utsman bin Affan.

A.Implementasi Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Deep Learning di SMPIT Utsman Bin Affan

Penerapan pembelajaran mendalam tidak dapat dilaksanakan secara langsung. Guru perlu terlebih dahulu mengenali karakteristik masing-masing siswa, menetapkan tujuan pembelajaran yang jelas, serta merancang keterkaitan materi dengan konteks kehidupan sehari-hari.[17] Selain itu guru juga dituntut untuk memilih strategi, metode dan media pembelajaran yang sesuai agar proses belajar dapat berlangsung secara efektif dan bermakna. Adapun fokus dari penelitian ini dilihat dari perencanaan, pelakasanaan serta evaluasi .

Perencanaan

Tahap perencanaan implementasi Deep Learning dalam kurikulum pembelajaran bahasa Arab di SMPIT Utsman bin Affan. Pada tahap ini para guru khususnya guru bahasa Arab agar menyusun skema pembelajaran yang tidak sekedar memuat uraian materi, tetapi juga mencakup perumusan pertanyaan pemantik, pemilihan metode pembelajaran yang relevan, serta penyediaan sumber belajar yang bervariasi.[18] Fokus utama pada tahap ini adalah menyiapkan seluruh komponen sekolah agar siap dalam mengimplementasikan pendekatan ini. Diantaranya adalah :

  1. Pelatihan Guru
  2. Rancangan Kurikulum
  3. Penyusunan RPP/Modul Ajar
  4. Persiapan sarana dan prasarana

Kepala sekolah SMPIT Utsman bin Affan menyiapkan beberapa guru dari segi kualitas dan kuantitas. Guru menjadi faktor yang sangat menentukan dalam peningkatan mutu pembelajaran. Oleh karena itu, proses pembelajaran perlu dirancang secara sistematis agar mampu menghasilkan capaian belajar sesuai dengan yang diharapkan.[19] para guru juga mengikuti pelatihan-pelatihan atau mengikuti akreditasi kurikulum merdeka yang diadakan oleh dinas pendidikan, pelatihan ini bertujuan untuk memastikan para guru siap dan mampu mengimplementasikan pendekatan deep learning dengan baik. Adapun waka kurikulum berperan dalam merancang pelaksanaan kurikulum, termasuk untuk menentukan jumlah jam pelajaran, dan media pembelajaran. Sedangkan guru merancang kegiatan yang mendorong siswa untuk berdiskusi, menganalisis teks, memecahkan masalah sederhana, serta mempraktikkan bahasa Arab dalam situasi sehari-hari juga menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP) yang disesuaikan dengan pedoman kurikulum merdeka. Sekolah juga menyediakan fasilitas yang dibutuhkan untuk mendukung pembelajaran seperti proyektor, modul ajar, dan buku ajar.

Implementasi

Fokus pada tahap ini adalah bagaimana pendekatan deep learning ini diterapkan di kelas, khususnya pada mata pelajaran Bahasa Arab.

  1. Proses Pembelajaran
  2. Metode Pembelajaran
  3. Penggunaan Media Pembelajaran
  4. Kegiatan di Luar Kelas

Tahap implementasi merupakan fase dimana gagasan yang telah dirancang dalam perencanaan diwujudkan menjadi aktivitas pembelajaran yang nyata didalam kelas.[20] Pada tahap ini guru bahasa Arab mengimplementasikan strategi, metode, dan media pembelajaran yang telah ditetapkan untuk menciptakan proses belajar yang terarah dan bermakna.

Pembelajaran bahasa Arab di SMPIT Utsman bin Affan dirancang agar lebih praktis dan menyenangkan. Guru lebih banyak melakukan praktik daripada hanya memberikan materi teoritis. Guru bahasa Arab menggunakan berbagai metode seperti metode ceramah, dialogic learning, dan metode collaborative learning. Para guru juga memanfaatkan media pembelajaran seperti papan tulis, proyektor, dan gambar-gambar yang menarik, hal ini membuat siswa lebih aktif dan tidak mudah bosan. Selain belajar dikelas, sekolah juga mengadakan kegiatan diluar kelas untuk mendukung peningkatan kemampuan berbahasa Arab, seperti kegiatan muhadatsah serta muhadhoroh yang diadakan setiap hari minggu pagi. Kegiatan ini sesuai dengan konsep Mindful Learning karna melibatkan kesadaran siswa terhadap proses berpikir, penggunaan bahasa, dan refleksi diri dalam pembelajaran secara kontekstual dan reflektif memberikan kesempatan siswa untuk mempraktikan langsung apa yang telah dipelajari.[21]

Evaluasi

Hasil dari pendekatan pembelajaran berbasis deep learning secara umum menunjukkan dampak yang positif. Evaluasi dilakukan berdasarkan wawancara dengan berbagai pihak, seperti kepala sekolah, waka kurikulum, guru bahasa Arab serta beberapa siswa. Hasil evaluasi diantaranya sebagai berikut :

  1. Peningkatan Kualitas Pembelajaran
  2. Respon dan Peningkatan Siswa
  3. Dampak pada guru

Kepala sekolah dan wakil kurikulum di SMPIT Utsman bin Affan menyatakan bahwa penerapan deep learning dalam Kurikulum Merdeka pada pembelajaran bahasa Arab telah memberikan hasil yang baik, meskipun belum sempurna terjadi peningkatan dalam pembelajaran. Beberapa siswa kelas VII setelah di wawancara, mengklaim adanya peningkatan kemampuan bahasa Arab dengan cukup baik, terutama karena adanya beberapa metode yang dipakai salah satunya yaitu Pembelajaran Kolaboratif (Collaborative learning) karna dengan adanya kegiatan diskusi, peserta didik dapat memperdalam pemahaman bersama, menumbuhkan sikap saling menghargai perbedaan perspektif, serta melatih keterampilan berkomunikasi dan menyimak secara empatik.[22] Diskusi juga berfungsi sebagai sarana meluruskan kesalahpahaman dan memperkaya wawasan.. Adapun dampak pada guru yakni dituntut agar lebih kreatif dalam merancang modul ajar, tujuan serta alur pembelajaran guna meningkatkan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar khususnya pada mata pelajaran bahasa Arab.

B. Faktor Penghambat dan Pendukung dalam menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis Deep Learning Pada Pembelajaran Bahasa Arab di SMPIT Utsman Bin Affan

Penerapan pembelajaran mendalam bukanlah hal yang sederhana. Dalam praktiknya guru sering menghadapi berbagai hambatan dikelas, seperti keterbatasan waktu pembelajaran, padatnya tuntutan materi, serta sarana dan prasarana yang belum sepenuhnya mendukung. Kondisi tersebut sering kali mendorong guru kembali pada pendekatan konvesional, yakni berfokus pada pencapaian target materi tanpa memberikan ruang yang cukup bagi peserta didik untuk memahami dan memaknai pembelajaran secara optimal [23].Usaha yang dilakukan oleh lembaga pendidikan dalam perubahan pendekatan pembelajaran yang diterapkan dalam aktivitas belajar mengajar tentu terdapat kelebihan dan kekurangan .Adapun faktor penghambat dan pendukung diantaranya sebagai berikut :

  1. Faktor Penghambat :
  • Latar Belakang Pendidikan Siswa yang Beragam: Siswa di kelas VII berasal dari sekolah dasar dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda, seperti berasal dari sekolah yang tidak ada pelajaran bahasa Arabnya. Hal ini menjadi tantangan besar bagi guru untuk membuat metode agar lebih mudah dipahami oleh siswa.
  • Menentukan metode yang tepat: dikarenakan latar belakang siswa yang beragam, membuat para guru khususnya guru bahasa Arab terkadang kesulitan dalam menentukan metode yang tepat
  1. Faktor Pendukung :
  • Pelatihan Guru: Ini dianggap sebagai pendukung terkuat. Melalui pelatihan, para guru dipersiapkan secara matang untuk memahami dan menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis Deep Learning dalam proses belajar mengajar.
  • Fasilitas yang Memadai: Pihak sekolah menyediakan fasilitas yang dibutuhkan, seperti proyektor, modul ajar, dan buku ajar. Ketersediaan fasilitas yang memadai ini sangat membantu dalam kelancaran pembelajaran dan berkontribusi pada pencapaian tujuan sekolah.

Simpulan

Penerapan deep learning dalam kurikulum pembelajaran bahasa Arab di SMPIT Utsman Bin Affan Tulangan Sidoarjo mulai diterapkan pada tahun 2022.Mengenai pelaksanaan implementasinya peneliti dapat menyimpulkan bahwa melalui pendekatan mendalam sudah terlaksana dengan baik setelah melihat respon baik dari kepala sekolah, dan persiapan yang dilakukan oleh waka kurikulum dengan menyiapkan berbagai macam media pembelajaran dan pengadaan pelatihan kepada guru dalam pembelajaran dikelas maupun diluar kelas. Bukan hanya dari kedua pihak tersebut akan tetapi pelaksanaanya yaitu guru mata pelajaran bahasa Arab mengimplementasikan ini dengan baik, sehingga hasil siswa mengalami peningkatan dari sebelumnya. Dengan peningkatan pembelajaran ini maka kita bisa katakan bahwa implementasi deep learning dalam pembelajaran bahasa arab menghasilkan peningkatan yang cukup baik. Walaupun belum terlaksana dengan sempurna dikarenakan masih ada kekurangan yaitu dalam penggunaan metode PjBL (Project Based Learning), padahal metode ini sangat populer dikurikulum merdeka, karena metode ini dapat membuat siswa menciptakan sebuah karya.[24] Usaha-usaha dalam pengimplementasian pendekatan deep learning kurikulum merdeka di SMPIT Utsman Bin Affan memiliki dua faktor , yaitu faktor penghambat dan faktor pendukung. Adapun faktor penghambat ialah pemilihan metode yang akan digunakan oleh seorang guru ketika pembelajaran, dikarenakan latar belakang pendidikan seorang siswa berbeda-beda , maka seorang guru harus pandai memilih motode yang cocok agar pembelajaran dapat terlaksana dengan baik. Sedangkan faktor pendukung dari implementasi kurikulum merdeka di SMPIT Utsman Bin Affan ada dua yaitu adanya pelatihan guru dan media pembelajaran yang memadai. Kedua faktor pendukung menjadi terlaksananya kurikulum merdeka di SMPIT Utsman Bin Affan berjalan sampai sekarang.

Ucapan Terima Kasih

Ucapan terima kasih kepada Allah SWT yang memberikan kemampuan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini. Kepada orang tua saya terkhusus Ummi saya yang selalu mendoakan dan mensupport saya dalam pengerjaan tugas akhir ini, kepada dosen yang telah ikut memberikan masukan-masukan dalam penelitian saya, saya sadar bahwa usulan itu sangatlah penting dan berharga. Dan kepada teman-teman saya yang selalu mengingatkan hal-hal baik kepada saya ketika saya lalai dalam mengerjakan tugas akhir

References

E. Yanuarti, “Pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara dan Relevansinya dengan Kurikulum 13,” J. Penelit., vol. 11, no. 2, 2018.

A. Madkur, Ta’liimul Lughotul Al-Arrobiyah Lighoiri Nathiqin Bihaa. Darul Fikri Al-Arabiy, 2006.

R. Iswanto, “Pembelajaran Bahasa Arab dengan Pemanfaatan Teknologi,” Arab. J. Bhs. Arab, vol. 1, no. 2, pp. 139–152, Dec. 2017.

R. T. Ahmad, Almaharotul Lughowiyah Mustawiyatuha Tadrisiha Shu’batuha. Darul Fikri Al Arabiy, 2004.

A. Madkur, Tadrisu Funuun Al-Lughotil Al-Arobiyah. Darul Syawaf, 1991.

Izzan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung, Indonesia: Humaniora, 2011.

H. Aulia and H. Mahliatussikah, “Implementing Deep Learning in Arabic Language Education at Madrasah Aliyah: Enhancing Critical Thinking and Contextual Learning,” Abjadia Int. J. Educ., vol. 10, no. 3, pp. 584–594, 2025.

J. Wawasan and P. Pendidikan, “Implementasi Deep Learning: Suatu Inovasi Pendidikan,” vol. 13, no. 1, 2025. [Online]. Available: https://ejournal.undaris.ac.id/index.php/waspada

D. Relinda Qurniawati, “Efektivitas Pelaksanaan Kurikulum Merdeka Belajar.”

Hasan Assidiqi and D. Sadiyah, “Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) di Sekolah Dasar sebagai Penguatan Kurikulum Merdeka,” PEDASUD: J. Ilmu Pendidik. Guru Sekolah Dasar dan Usia Dini.

Wahab Rosyidi, M. Mamlu, and Atul Ni, Pembelajaran Bahasa Arab.

M. Nasrulloh, “Jumlatuna: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab,” 2025. [Online]. Available: https://ejournal.staidhtulungagung.ac.id/index.php/jumlatuna/index

Y. Mahardika and C. Arief Jaya, “Persepsi Guru Terhadap Penerapan Pembelajaran Mendalam dalam Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam,” Pendidik. J. Inov. Pendidik., vol. 4, no. 3, pp. 1123–1139, 2025.

M. Rahman, H. A. Haniff, A. Taqiyyah, and I. Rousyana, “Penerapan Pendekatan Deep Learning dalam Pembelajaran Bahasa Arab Melalui Metode Ceramah di MAN 1 Semarang,” 2025.

Susiawati, “Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah Ibtidaiyah (Tinjauan Pada Kompetensi Guru dan Model Pembelajaran),” El-Tsaqafah J. Jur. PBA, vol. 21, no. 1, pp. 101–116, 2022.

L. J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung, Indonesia: Remaja Rosdakarya, 2017.

Burhan, Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta, Indonesia: Raja Grafindo Persada, 2019.

R. Kurniawan, “Pembelajaran Diferensiasi Berbasis Deep Learning: Strategi Mindful, Meaningful, dan Joyful Learning,” Penerbit Lutfi Gilang, 2025.

M. Ulpah, Muflihah, and U. Hidayati, “Pengembangan Materi Pembelajaran Bahasa Inggris dengan Konteks Islami untuk Calon Guru Matematika,” EDUKASIA J. Pendidik. dan Pembelajaran, vol. 6, no. 2, 2025.

S. Sabaniah, D. Ramdhan, and S. Rohmah, “Peran Guru dalam Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh di Tengah Wabah Covid-19,” Edunisia J. Ilm. Pendidik., vol. 2, no. 1, 2021.

Suar Adnyana, “Implementasi Pendekatan Deep Learning dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia,” Retorika J. Pembelajaran Bhs. dan Sastra Indones., vol. 5, no. 2, pp. 1–14, Dec. 2024.

Y. Yonesti, “Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan Menggunakan Metode Diskusi,” J. Komprehensif, vol. 3, no. 1, pp. 93–99, 2025.

M. Rozani Al-Am and E. Tri Murni, Sumatera Barat, Indonesia.

Q. Farid, “Problematika Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Mata Pelajaran Bahasa Arab di MA Nasyi’in Sidoarjo,” JALIE J. Appl. Linguist. Islam. Educ., vol. 6, no. 2, pp. 251–268, Sep. 2022.