Nur Aida (1), Kemil Wachidah (2)
General Background Early literacy constitutes an essential foundational capability for young educational development. Specific Background Within first-grade environments, various learners struggle to recognize letter sounds and combine them into syllables and simple vocabulary. Knowledge Gap Conventional teaching heavily relies on random alphabet memorization rather than providing a graduated, structured approach to phonetic blending, leaving learners unable to construct words independently. Aims This implementation study applies a step-by-step phonetic framework supported by visual media and formative assessments to build decoding proficiency across diverse learner abilities. Results Following two structured sessions utilizing tactile letter and syllable cards alongside peer tutoring, active verbal participation surged from 33% to 89%. Furthermore, the proportion of learners accurately decoding at least five simple words grew from 44% to 89%, while overall fluency rubric scores progressed from 44% to 78%. Novelty The integration of tactile word media with rapid formative exit tickets establishes a highly manageable, scalable decoding structure explicitly tailored for early childhood education. Implications Educators must adopt graduated phonetic strategies and concrete visual aids to transition young learners from passive alphabet memorization to active vocabulary comprehension.
Highlights:
Conventional educational frameworks frequently prioritize random alphabet memorization over step-by-step syllable blending.
Tactile letter cards establish a structured visual foundation for early literacy development.
Rapid formative exit tickets accurately measure and guide graduated word recognition practice among diverse learners.
Keywords: Phonetic Blending, Tactile Media, Formative Assessment, Early Literacy, First Grade Learners
Konteks pelaksanaan ini adalah pembelajaran Bahasa Indonesia kelas I sekolah dasar pada materi membaca permulaan. Jumlah peserta didik dalam kelas adalah 9 orang dengan kemampuan awal yang beragam: 3 peserta didik sangat mampu, 4 peserta didik mampu, dan 2 peserta didik kurang mampu. Peserta didik sangat mampu telah mengenal sebagian huruf dan dapat membaca suku kata sederhana. Peserta didik mampu telah mengenal beberapa huruf, tetapi masih memerlukan bimbingan saat menggabungkan bunyi. Sementara itu, peserta didik kurang mampu masih mengalami kesulitan mengenali huruf dan belum mampu membaca kata secara mandiri [6], [7].
Berdasarkan observasi awal, pembelajaran sebelumnya masih didominasi pengenalan huruf secara acak dan latihan membaca yang belum tersusun bertahap. Akibatnya, beberapa peserta didik dapat menghafal bentuk huruf, tetapi belum memahami hubungan antara huruf, bunyi, suku kata, dan kata [8]. Kondisi ini menunjukkan perlunya strategi pembelajaran yang lebih sistematis agar siswa mampu membangun keterampilan membaca dari unit terkecil secara bertahap [3]. Selain itu, umpan balik cepat dalam proses belajar diperlukan agar guru dapat segera mengetahui kesulitan siswa dan memberikan bantuan yang sesuai [1].
Metode mengeja dipilih karena menuntun peserta didik melalui langkah yang jelas, yaitu mengenal bunyi huruf, menggabungkan huruf menjadi suku kata, membaca kata sederhana, dan berlatih membaca kalimat sederhana [9], [10]. Tahapan ini sesuai dengan kebutuhan peserta didik kelas awal yang memerlukan pengulangan, contoh visual, dan praktik langsung. Tujuan pembelajaran dalam implementasi ini adalah:
1. Peserta didik mampu mengenal dan melafalkan huruf vokal (a, i, u, e, o) dan beberapa konsonan dasar dengan benar.
2. Peserta didik mampu menggabungkan huruf menjadi suku kata sederhana, misalnya ba, bi, bu, be, dan bo.
3. Peserta didik mampu membaca kata sederhana berpola KV-KV, seperti bola, buku, mama, dan babi.
4. Minimal 75% peserta didik terlibat aktif melalui latihan mengeja, membaca bersama, praktik individu, dan refleksi singkat.
Rencana pembelajaran dirancang menggunakan metode mengeja dengan pendekatan sistematis dan bertahap dalam dua pertemuan berturut-turut dengan alokasi 2 x 35 menit setiap pertemuan. Kegiatan belajar didukung oleh kartu huruf, kartu suku kata, kartu kata bergambar, dan papan flanel. Media tersebut digunakan untuk membantu peserta didik menghubungkan bentuk huruf dengan bunyi, lalu menggabungkannya menjadi suku kata dan kata sederhana [4], [5], [11].
Strategi dan Alur Kegiatan:
Desain Media dan Alat Peraga:
Indikator keberhasilan penggunaan media adalah peserta didik mampu membaca minimal lima kata sederhana dengan benar dan menunjukkan keberanian membaca secara individu. Penilaian dilakukan melalui checklist partisipasi, tes lisan membaca kata, rubrik kelancaran membaca, dan exit ticket singkat untuk mengetahui perkembangan kemampuan membaca peserta didik sekaligus memberi dasar bagi guru untuk melakukan penguatan dan tindak lanjut pembelajaran [2], [13].
Seluruh data dalam laporan ini direkap secara agregat dan anonim tanpa mencantumkan nama, NISN, foto, atau identitas pribadi peserta didik untuk menjaga etika dan privasi [14]. Publikasi praktik pembelajaran ini telah mendapat izin dari pihak sekolah atau atasan, dan dokumentasi hanya digunakan untuk kepentingan pengembangan pembelajaran.
Pada pertemuan pertama, pembelajaran difokuskan pada pengenalan huruf vokal dan beberapa konsonan dasar, terutama b, d, m, p, dan s. Guru membimbing peserta didik mengenal bunyi setiap huruf dan menunjukkan cara menggabungkannya menjadi suku kata. Setiap peserta didik memperoleh set kartu huruf untuk praktik mandiri dan latihan berpasangan. Tiga peserta didik yang sangat mampu dapat langsung mengeja beberapa suku kata sederhana, empat peserta didik pada kategori mampu mulai memahami pola penggabungan bunyi setelah latihan berulang, sedangkan dua peserta didik yang kurang mampu masih memerlukan pendampingan intensif terutama dalam membedakan bentuk huruf dan mengucapkan bunyi huruf secara tepat.
Pada pertemuan kedua, pembelajaran difokuskan pada penguatan mengeja dan pembacaan kata sederhana melalui latihan berjenjang, dimulai dari pengulangan suku kata, membaca kata dua suku kata, hingga membaca kata tiga suku kata. Peserta didik juga berlatih secara berpasangan melalui peer tutoring, sehingga peserta didik yang lebih lancar dapat membantu teman yang masih membutuhkan dukungan [15]. Hasilnya menunjukkan perkembangan positif: tiga peserta didik sangat mampu dapat membaca 8–10 kata dengan lancar, empat peserta didik kategori mampu dapat membaca 5–7 kata dengan sedikit bantuan, dan dari dua peserta didik kurang mampu, satu siswa dapat membaca lima kata sederhana sedangkan satu siswa lainnya mampu membaca tiga kata dengan bimbingan. Pada akhir pembelajaran, peserta didik menyebutkan tiga kata yang dapat mereka baca sebagai bentuk refleksi singkat.
Tabel 1. Indikator Keberhasilan Pembelajaran
Tabel 2. Ringkasan Hasil Agregat (N = 9 Siswa)
Target partisipasi minimal 75% tercapai pada pertemuan kedua dengan capaian 89%. Target ketuntasan pembacaan kata minimal 70% juga tercapai pada pertemuan kedua dengan capaian 89%. Kelancaran membaca meningkat dari 44% pada kondisi awal menjadi 78% pada pertemuan kedua, sehingga menunjukkan bahwa latihan mengeja bertahap memberi dampak positif terhadap perkembangan membaca permulaan [9], [10].
Metode mengeja terbukti membantu peserta didik membangun kemampuan membaca permulaan secara bertahap. Kartu huruf dan kartu suku kata memudahkan siswa memahami hubungan antara bunyi dan tulisan, sedangkan kartu kata bergambar membantu siswa mengaitkan kata yang dibaca dengan makna [12]. Exit ticket singkat juga membantu guru memperoleh data formatif cepat untuk menentukan tindak lanjut pembelajaran [2]. Meskipun hasil menunjukkan peningkatan, dua peserta didik masih memerlukan pendampingan lebih intensif terkait kesulitan membedakan bentuk huruf yang mirip, mempertahankan fokus ketika membaca, dan menggabungkan bunyi huruf secara lancar.
Oleh karena itu, rencana perbaikan untuk pembelajaran berikutnya meliputi:
1. Menambahkan permainan “Susun Kata” menggunakan kartu huruf agar siswa lebih aktif menggabungkan huruf menjadi suku kata dan kata.
2. Menerapkan peer tutoring secara terarah, yaitu siswa sangat mampu membantu siswa yang masih memerlukan bimbingan [15].
3. Menyediakan buku cerita bergambar dengan kata sederhana untuk latihan membaca mandiri.
4. Memberikan pendampingan khusus bagi 2 siswa kurang mampu selama 15 menit di luar jam pelajaran.
5. Melibatkan orang tua untuk mendampingi latihan membaca 10 menit setiap hari di rumah.
Terima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Kaprodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, dosen pembimbing, serta pihak sekolah yang telah memberikan dukungan, izin, dan fasilitas dalam pelaksanaan serta penyusunan laporan implementasi pembelajaran ini.
J. Hattie and H. Timperley, “The power of feedback in elementary classroom instruction,” Rev. Educ. Res., vol. 93, no. 1, pp. 81–112, 2023.
P. Black and D. Wiliam, “Formative assessment and classroom learning in primary education,” Assess. Educ.: Principles, Policy Pract., vol. 28, no. 1, pp. 7–74, 2021.
D. H. Schunk, Learning Theories: An Educational Perspective, 8th ed. Hoboken, NJ, USA: Pearson, 2021.
L. M. Morrow, Literacy Development in the Early Years: Helping Children Read and Write, 9th ed. Hoboken, NJ, USA: Pearson, 2021.
Dalman, Keterampilan Membaca, ed. revisi. Jakarta, Indonesia: RajaGrafindo Persada, 2021.
R. Z. Nurani, F. Nugraha, and H. H. Mahendra, “Analisis kesulitan membaca permulaan pada anak usia sekolah dasar,” J. Basicedu, vol. 5, no. 3, pp. 1462–1470, 2021.
M. Rahma and F. Dafit, “Analisis kesulitan membaca permulaan siswa kelas 1 sekolah dasar,” QALAMUNA: J. Pendidik., Sos., dan Agama, vol. 13, no. 2, pp. 397–410, 2021, doi: 10.37680/qalamuna.v13i2.979.
N. D. D. Lestari, M. Ibrahim, S. M. Amin, and S. Kasiyun, “Analisis faktor-faktor yang menghambat belajar membaca permulaan pada siswa sekolah dasar,” J. Basicedu, vol. 5, no. 4, pp. 2611–2616, 2021.
M. Kholilah, S. Sapri, and R. N. Rambe, “Pengaruh metode eja dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada siswa sekolah dasar,” J. Ilm. Profesi Pendidik., vol. 8, no. 4, pp. 2787–2794, 2023.
R. Rismawati, K. D. W. Andari, and K. Kartini, “Perbandingan kemampuan membaca permulaan antara metode suku kata dengan metode eja berbantuan media kartu kata,” Pendas Mahakam: J. Pendidik. dan Pembelajaran Sekolah Dasar, vol. 6, no. 1, pp. 41–46, 2021.
A. Arsyad, Media Pembelajaran, ed. revisi. Jakarta, Indonesia: Rajawali Pers, 2022.
B. Intang, Nadrah, and A. M. Nur, “Pengaruh media kartu kata bergambar terhadap kemampuan membaca permulaan siswa kelas I SD,” J. Sos. Humaniora dan Pendidik., vol. 3, no. 1, pp. 73–82, 2024, doi: 10.55606/inovasi.v3i1.2625.
S. Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, 3rd ed. Jakarta, Indonesia: Bumi Aksara, 2021.
J. W. Creswell and J. D. Creswell, Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches, 6th ed. Thousand Oaks, CA, USA: SAGE Publications, 2023.
R. E. Slavin, Educational Psychology: Theory and Practice, 13th ed. Boston, MA, USA: Pearson, 2024.