Zuni Yepti (1), Ahmad Nurefendi Fradana (2)
General Background Literacy is a primary foundation for third-grade students to decode increasingly complex educational materials and process textual information. Specific Background Despite its importance, young learners frequently demonstrate low literacy interest and poor conceptual grasp due to monotonous, teacher-centered methodologies in classrooms. Knowledge Gap While decoding is traditionally treated as a solitary and abstract task, there is limited application of hands-on frameworks that convert textual data into tangible social interactions. Aims This implementation study integrates a structured pedagogical model to cultivate literacy activity, fluency, and motivation among third-grade learners through physical creation tasks. Results Following structured pedagogical stages, participants actively processed textual narratives into physical outputs such as mini pop-up storybooks and story magazines. This collaborative environment triggered natural peer tutoring, elevating decoding fluency and main idea identification from moderate or low levels to high proficiency. Furthermore, constructing visual representations directly facilitated the mastery of unfamiliar terms. Novelty Transforming passive decoding tasks into concrete physical construction processes fundamentally shifts primary literacy education into a dynamic, socially interactive experience. Implications Educators must adopt constructivist methodologies with structured time management and differentiated group roles to secure active participation and literacy mastery in early childhood settings.
Highlights:
Constructing physical pop-up storybooks successfully motivates third-grade learners to decode complex texts.
Collaborative group tasks trigger natural peer tutoring among students with diverse literacy levels.
Tangible learning models convert solitary abstract study into highly interactive social activities.
Keywords: Pop-Up Storybooks, Peer Tutoring, Literacy Development, Collaborative Tasks, Third Grade Learners
Keterampilan membaca merupakan fondasi utama bagi siswa kelas III SD untuk memahami materi pelajaran yang semakin kompleks [1], [2]. Pada fase ini, siswa dituntut bukan hanya bisa membaca lancar secara teknis, tetapi juga memahami isi bacaan (membaca pemahaman) [3]. Namun, fakta di lapangan sering kali menunjukkan rendahnya minat baca siswa akibat metode pembelajaran yang monoton dan berpusat pada guru (teacher-centered) [4], [5].
Model pembelajaran Project-Based Learning (PjBL) dipilih sebagai solusi inovatif untuk mengatasi kendala tersebut [6], [7]. Melalui PjBL, siswa tidak hanya membaca teks secara pasif, melainkan terlibat aktif dalam proyek nyata seperti membuat buku cerita mini (Pop-Up Book), mading kelas, atau kartu kata bergambar yang mengharuskan mereka membaca, memahami, dan mengolah informasi untuk menyelesaikan proyek tersebut [8], [9].
Tujuan dari implementasi pembelajaran ini meliputi:
1. Meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa kelas III SD.
2. Meningkatkan aktivitas, keterlibatan, dan motivasi belajar siswa melalui kerja kelompok.
3. Mendeskripsikan langkah-langkah penerapan PjBL yang efektif untuk materi membaca di kelas III SD.
Pelaksanaan pembelajaran dirancang menggunakan sintaks Project-Based Learning (PjBL) yang dibagi ke dalam dua pertemuan (masing-masing 70 menit) dengan mengintegrasikan diferensiasi proses dan proyek pembuatan Pop-Up Book cerita atau mading cerita [6], [8].
Langkah-Langkah Pembelajaran (Sintaks PjBL):
1. Pertanyaan Pemantik (Essential Question): Guru mengajukan pertanyaan pemantik seperti "Siapa pahlawan dalam cerita yang kalian baca kemarin? Bagaimana jika kita menghidupkan pahlawan itu dalam sebuah buku timbul (Pop-Up)?".
2. Mendesain Perencanaan Proyek: Siswa dibagi menjadi kelompok berdasarkan level kemampuan membaca (diferensiasi proses) [10]. Guru membagikan teks dongeng, lalu kelompok mendiskusikan bagian-bagian penting meliputi Awal, Tengah (Masalah), dan Akhir (Solusi).
3. Menyusun Jadwal: Guru dan siswa menyepakati target waktu, di mana pertemuan pertama berfokus pada pemahaman teks dan pembuatan draf gambar, sedangkan pertemuan berikutnya untuk perakitan dan presentasi.
1. Memonitor Keaktifan dan Perkembangan Proyek: Siswa bekerja membuat Pop-Up Book cerita. Guru membimbing siswa membaca kembali teks (literasi fokus) untuk memastikan teks yang ditulis di dalam buku Pop-Up akurat sesuai isi dongeng.
2. Menguji Hasil (Presentasi): Melalui kegiatan Gallery Walk, siswa memajang karya di meja masing-masing dan kelompok lain berkeliling membaca karya temannya [11]. Setiap kelompok menceritakan kembali isi dongeng secara lisan menggunakan media proyek yang telah dibuat.
3. Evaluasi Pengalaman Belajar: Siswa melakukan refleksi ("Apakah membuat gambar timbul membantumu membayangkan jalan ceritanya?"), diikuti pemberian apresiasi dan umpan balik oleh guru terhadap kemampuan membaca dan presentasi siswa [12].
Etika dan Privasi :
Penerapan model PjBL dan penyusunan laporan ini dilaksanakan dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip etika pendidikan dan perlindungan privasi siswa [13]:
1. Kerahasiaan Identitas (Anonimitas): Identitas asli siswa disamarkan menggunakan inisial atau kode (misalnya: Siswa A-01, Siswa B-02) agar data kemajuan belajar tidak disalahgunakan atau memberi label negatif pada siswa.
2. Perlindungan Dokumentasi Visual: Foto yang menampilkan wajah siswa secara jelas hanya digunakan untuk evaluasi internal guru. Untuk publikasi luas, wajah siswa disamarkan (blurred) atau diambil dari sudut belakang/samping kecuali telah mendapat izin tertulis (informed consent) dari orang tua/wali.
3. Keamanan Hasil Karya: Karya proyek siswa (Pop-Up Book atau mading) tidak digunakan untuk kepentingan komersial pribadi, melainkan dikembalikan atau dipajang di kelas sebagai apresiasi.
4. Integritas Data dan Objektivitas: Penilaian dilakukan secara objektif berdasarkan rubrik yang jelas tanpa manipulasi data keberhasilan proyek.
5. Lingkungan Belajar yang Inklusif dan Aman: Guru memastikan tidak terjadi perundungan (bullying) terhadap siswa yang belum lancar membaca dan menjaga etika komunikasi saat tutor sebaya berlangsung [14].
Implementasi PjBL dilaksanakan dengan memodifikasi langkah-langkah standar agar sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia kelas III SD:
1. Pertanyaan Mendasar (Start with the Essential Question): Guru memantik ketertarikan siswa dengan menunjukkan buku cerita menarik dan menanyakan cara membuat teman di kelas lain mengetahui cerita dongeng nusantara tersebut, sehingga siswa diarahkan membuat "Buku Cerita Pop-Up Mini" atau "Mading Cerita".
2. Desain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project): Siswa dibagi menjadi kelompok heterogen (3–4 siswa) dengan teks dongeng yang berbeda tiap kelompok, lalu membagi tugas siapa yang membaca teks, menulis rangkuman, dan menggambar/menghias.
3. Menyusun Jadwal (Create a Schedule): Guru dan siswa menyepakati alokasi waktu penyelesaian proyek selama 2 pertemuan untuk memahami isi, membuat draf, merakit proyek, hingga presentasi.
4. Memonitor Keaktifan dan Perkembangan Proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project): Saat siswa membaca teks kelompok, guru berkeliling melakukan bimbingan membaca (guided reading), membantu siswa yang kesulitan mengeja atau memahami kosakata baru, serta memastikan kontribusi setiap anggota [15].
5. Menguji Hasil (Assess the Outcome): Setiap kelompok mempresentasikan proyek di depan kelas dan menceritakan kembali isi bacaan secara lisan, sementara guru menilai kualitas proyek dan ketepatan pemahaman isi bacaan menggunakan rubrik penilaian.
6. Evaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience): Guru dan siswa melakukan refleksi bersama mengenai kesulitan saat membaca teks dan membuat proyek, disertai penguatan materi dan apresiasi.
Berdasarkan hasil observasi dan tes lisan/tertulis sebelum dan sesudah implementasi, terdapat peningkatan yang signifikan pada kemampuan membaca siswa.
Tabel 1. Ringkasan Peningkatan Keterampilan Membaca Siswa
Penerapan PjBL mengubah aktivitas membaca dari kegiatan yang individual dan abstrak menjadi kegiatan sosial yang konkret. Siswa kelas III SD yang secara kognitif masih berada pada tahap operasional konkret menjadi lebih mudah memahami isi bacaan karena teks tersebut diwujudkan ke dalam bentuk karya fisik berupa proyek [8], [9]. Kerja sama kelompok juga memicu terjadinya peer tutoring (tutor sebaya), di mana siswa yang sudah lancar membaca membantu temannya yang masih terbata-bata [14].
Implementasi model Project-Based Learning (PjBL) terbukti berhasil meningkatkan keterampilan membaca pemahaman, kelancaran membaca, serta penguasaan kosakata siswa kelas III SD. Keberhasilan model ini terlihat dari peningkatan keterlibatan siswa yang semula pasif menjadi antusias, penguatan pemahaman kontekstual terhadap alur dan watak tokoh melalui visualisasi proyek, serta tumbuhnya interaksi positif melalui tutor sebaya. Meskipun demikian, terdapat beberapa kendala selama pelaksanaan, yaitu manajemen waktu di mana siswa terlalu fokus pada aktivitas artistik (mewarnai/menghias) sehingga waktu diskusi isi teks terdesak, serta ketimpangan partisipasi akibat adanya siswa dominan yang mengambil alih tugas kelompok.
Untuk mengoptimalkan kualitas pembelajaran pada siklus atau implementasi berikutnya, rencana perbaikan yang disiapkan meliputi:
1. Restrukturisasi Alokasi Waktu: Menerapkan sistem "Alarm Tahapan" sebagai batas waktu tegas antara membaca, pengerjaan fisik, dan presentasi, serta menyiapkan bahan proyek setengah jadi (semi-finished) agar siswa fokus pada pemahaman materi.
2. Diferensiasi Peran dalam Kelompok: Menetapkan peran spesifik dan bergilir bagi setiap anggota kelompok (Sang Pembaca, Sang Penulis, Sang Peneliti, dan Sang Juru Bicara) agar seluruh siswa berinteraksi dengan teks sesuai kemampuannya [10].
3. Optimalisasi Bimbingan (Scaffolding): Mendampingi kelompok dengan level membaca paling rendah secara lebih intensif menggunakan pertanyaan pemantik sederhana saat membedah teks.
4. Penggunaan Teks yang Lebih Variatif: Menyesuaikan tingkat kesulitan teks (panjang kalimat dan kosakata) dengan minat siswa kelas III, seperti fenomena alam sekitar atau hobi anak-anak.
Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Implementasi Pembelajaran berjudul “Penggunaan Model Pembelajaran PjBL (Project-Based Learning) untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca Siswa Kelas III SD” tepat pada waktunya. Penyusunan laporan ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Presiden Republik Indonesia selaku Pemberi Bantuan Kuliah, Bapak Menteri Pendidikan Republik Indonesia selaku Perantara Kebijakan Bantuan Kuliah, Bapak Rektor Pimpinan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) Jawa Timur selaku Pelaksana Pembelajaran, seluruh Bapak/Ibu Dosen dan Staf Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang telah memberikan bekal ilmu dan kemudahan administrasi selama perkuliahan, Dosen Pembimbing yang telah sabar memberikan arahan, ilmu, dan waktu dalam membimbing penulis hingga selesainya laporan ini, serta sahabat dan rekan seperjuangan angkatan 2026 yang telah memberikan semangat selama proses pengerjaan. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi kebermanfaatan bagi pembaca. .
Dalman, Keterampilan Membaca, ed. revisi. Jakarta, Indonesia: RajaGrafindo Persada, 2021.
F. U. Chasanah, M. Ibrahim, M. T. Hidayat, and D. W. Rahayu, “Upaya peningkatan kemampuan membaca melalui media buku cerita di sekolah dasar,” J. Basicedu, vol. 5, no. 5, pp. 3644–3650, 2021, doi: 10.31004/basicedu.v5i5.1397.
I. Magdalena, D. Fadhillah, and L. Gusmawati, “Pengaruh media buku cerita bergambar terhadap kemampuan membaca pemahaman siswa pada pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar,” Pendas: J. Ilm. Pendidik. Dasar, vol. 8, no. 2, pp. 2560–2563, 2023, doi: 10.23969/jp.v8i2.9490.
N. D. D. Lestari, M. Ibrahim, S. M. Amin, and S. Kasiyun, “Analisis faktor-faktor yang menghambat belajar membaca pada siswa sekolah dasar,” J. Basicedu, vol. 5, no. 4, pp. 2611–2616, 2021.
R. Z. Nurani, F. Nugraha, and H. H. Mahendra, “Analisis kesulitan membaca pada anak usia sekolah dasar,” J. Basicedu, vol. 5, no. 3, pp. 1462–1470, 2021.
M. Huda, Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-Isu Metodis dan Paradigmatis. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar, 2021.
P. Lestari and S. Handayani, “Penerapan model Project Based Learning (PjBL) untuk meningkatkan pemahaman materi dan keaktifan belajar siswa SD,” J. Pendidik. Dasar, vol. 10, no. 2, pp. 88–97, 2022.
A. Arsyad, Media Pembelajaran, ed. revisi. Jakarta, Indonesia: Rajawali Pers, 2022.
R. Mulfajril, Hadiyanto, and H. Sofyan, “Penggunaan media visual dan buku cerita dalam pembelajaran sekolah dasar,” J. Pendidik. Dasar, vol. 8, no. 1, pp. 40–45, 2023.
Kemendikbudristek, Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka. Jakarta, Indonesia: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2022.
D. Kurniawan, Pengembangan Media Proyek dan Strategi Pembelajaran Aktif di Sekolah Dasar. Bandung, Indonesia: Remaja Rosdakarya, 2023.
J. Hattie and H. Timperley, “The power of feedback in elementary reading instruction,” Rev. Educ. Res., vol. 93, no. 1, pp. 81–112, 2023.
J. W. Creswell and J. D. Creswell, Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches, 6th ed. Thousand Oaks, CA, USA: SAGE Publications, 2023.
R. E. Slavin, Educational Psychology: Theory and Practice, 13th ed. Boston, MA, USA: Pearson, 2024.
I. C. Fountas and G. S. Pinnell, Guided Reading: Responsive Teaching Across the Grades, 3rd ed. Portsmouth, NH, USA: Heinemann, 2021.