Login
Section Elementary Education Method

Poster Media Fosters National Unity Mastery In Elementary Pancasila Education

Media Poster Menumbuhkan Penguasaan Kesatuan Nasional Pada Pendidikan Pancasila Dasar
Vol. 21 No. 4 (2026): November:

Perdaus (1), Ahmad Nurefendi Fradana (2)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Civic and moral instruction in elementary schools plays a crucial role in shaping early social character and patriotism. Specific Background Grade four Pancasila Education emphasizes the values of national togetherness, requiring learners to recognize the importance of cooperation and mutual respect in daily environments. Knowledge Gap Conventional classroom instruction heavily relies on lecture methods without engaging visual tools, leaving learners bored, unfocused, and unable to grasp concrete examples of cooperation. Aims This study implements contextual picture tools to facilitate active participation and conceptual mastery of civic values among grade four learners. Results Following a two-meeting intervention utilizing illustrated teamwork scenarios, learners' conceptual grasp and worksheet accuracy surged from 33% to 100%. Furthermore, active classroom participation and the ability to articulate concrete examples of cooperation grew from 67% to total engagement. Novelty This implementation demonstrates how converting abstract civic concepts into concrete visual narratives immediately resolves conceptual misunderstandings and passive learning in early education. Implications Educators must utilize highly visual, contextual instructional tools to transform passive lectures into interactive character-building experiences for young learners.


Highlights:




  • Conventional lecture instruction fails to engage young learners in abstract civic topics.




  • Concrete contextual imagery secures academic mastery of cooperative values at total proficiency.




  • Illustrated teamwork scenarios successfully transform passive classroom environments into active interactive discussions.




Keywords: Visual Learning Tools, Civic Character Building, Cooperative Values, Contextual Instruction, Fourth Grade Students

I. Pendahuluan

Pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah dasar memiliki peran penting dalam membentuk karakter, sikap sosial, serta rasa cinta tanah air pada siswa sejak usia dini [1], [2]. Salah satu materi penting pada kelas 4 SD adalah tentang persatuan dan kesatuan dalam kehidupan sehari-hari. Materi ini bertujuan agar siswa mampu memahami pentingnya hidup rukun, bekerja sama, dan saling menghargai perbedaan di lingkungan sekolah maupun masyarakat [5]. Namun, dalam praktik pembelajaran di kelas, siswa masih mengalami kesulitan memahami makna persatuan dan kesatuan secara nyata. Hal ini terjadi karena pembelajaran masih didominasi metode ceramah tanpa menggunakan media yang menarik dan sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar [3]. Akibatnya, siswa cepat merasa bosan, kurang fokus, dan sulit memahami materi yang disampaikan guru.

Pada hari Selasa, 21 April 2026 dilakukan pengamatan di kelas IV SDN Banjar Ratu dan ditemukan bahwa sebagian siswa kurang memperhatikan penjelasan guru selama pembelajaran berlangsung. Ketika guru memberikan pertanyaan mengenai contoh sikap persatuan di sekolah, hanya sedikit siswa yang mampu menjawab dengan benar serta sebagian siswa terlihat pasif dan kurang berani mengemukakan pendapat. Hasil evaluasi awal dari 3 siswa yang mengikuti pembelajaran menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memahami materi masih rendah:

  • Hanya 1 siswa (33%) yang mampu menjelaskan pengertian persatuan dan kesatuan dengan benar.
  • Hanya 2 siswa (67%) yang aktif selama proses pembelajaran.
  • Sebagian siswa masih kesulitan membedakan sikap yang mencerminkan persatuan dan sikap yang tidak mencerminkan persatuan.

Kurangnya penggunaan media pembelajaran menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya minat belajar siswa, sehingga diperlukan media pembelajaran yang mampu menarik perhatian siswa dan membantu mereka memahami materi secara lebih konkret [4], [6]. Media poster dipilih karena memiliki tampilan visual yang menarik, berwarna, dan mudah dipahami siswa sekolah dasar, serta dapat membantu siswa menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari melalui gambar dan contoh nyata [7].

Tujuan pelaksanaan pembelajaran ini adalah:

1. Meningkatkan pemahaman siswa tentang makna persatuan dan kesatuan.

2. Membantu siswa mengenali contoh sikap persatuan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Meningkatkan partisipasi aktif siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

4. Meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila.

5. Menciptakan suasana pembelajaran yang lebih menarik dan menyenangkan.

II. Metode

Pembelajaran dirancang menggunakan pendekatan aktif dan menyenangkan dalam dua pertemuan (2 × 35 menit) dengan memanfaatkan media poster sebagai alat bantu utama dalam menjelaskan materi persatuan dan kesatuan [8]. Media yang digunakan meliputi poster persatuan dan kesatuan, gambar kegiatan gotong royong, lembar kerja siswa (LKS), dan buku Pendidikan Pancasila kelas IV [1], [4].

Strategi dan Alur Kegiatan:

  • Kegiatan Pembuka (10 menit): Guru mengucapkan salam, memimpin doa bersama, memeriksa kehadiran siswa, serta memberikan motivasi tentang pentingnya hidup rukun dan saling membantu. Guru mengajukan pertanyaan pemantik seperti “Apa yang terjadi jika teman di kelas tidak mau bekerja sama?” dan “Mengapa kita harus hidup rukun?”, kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai untuk membangun kesiapan belajar siswa.
  • Kegiatan Inti – Mengamati dan Menanya (15 menit): Guru menunjukkan beberapa poster tentang kegiatan gotong royong, kerja bakti, membantu teman, dan musyawarah untuk diamati dengan teliti oleh siswa. Siswa diberikan kesempatan bertanya mengenai isi poster dan guru merangsang kemampuan berpikir siswa dengan pertanyaan seperti “Mengapa anak-anak pada gambar bekerja sama?” serta “Apa manfaat hidup rukun?”.
  • Kegiatan Inti – Diskusi, LKS, dan Presentasi (30 menit): Guru membimbing siswa berdiskusi mengenai contoh perilaku persatuan dan kesatuan di sekolah, rumah, dan lingkungan masyarakat secara bergantian [9]. Selanjutnya, siswa mengerjakan LKS yang berisi tugas mengelompokkan contoh sikap yang mencerminkan persatuan dan yang tidak mencerminkan persatuan, lalu membacakan hasil jawaban di depan kelas disertai penguatan dan koreksi dari guru [10].
  • Kegiatan Penutup (15 menit): Guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran, memberikan penguatan tentang pentingnya persatuan dan kesatuan, memotivasi siswa agar menerapkan sikap persatuan dalam kehidupan sehari-hari, serta menutup pembelajaran dengan doa bersama.

Penilaian dilakukan menggunakan lembar observasi partisipasi siswa, hasil pengerjaan LKS, tes evaluasi sederhana, dan hasil evaluasi akhir pembelajaran [11], [12]. Dalam pelaksanaannya, data siswa dikumpulkan secara anonim tanpa mencantumkan identitas pribadi siswa untuk menjaga etika dan privasi, serta telah mendapat izin dari pihak sekolah [13].

III. Hasil dan Pembahasan

Pelaksanaan pembelajaran dilakukan dalam dua pertemuan. Pada awal pembelajaran pertemuan pertama, siswa terlihat kurang percaya diri ketika diminta menjawab pertanyaan guru. Setelah guru menunjukkan poster bergambar kegiatan gotong royong, perhatian siswa mulai meningkat dan mereka tampak tertarik mengamati gambar-gambar yang ditampilkan. Namun, saat kegiatan diskusi berlangsung, sebagian siswa masih kesulitan menjelaskan contoh sikap persatuan dan kesatuan dengan jawaban yang masih sangat singkat dan memerlukan bimbingan guru. Dalam kegiatan mengerjakan LKS, beberapa siswa juga masih keliru membedakan sikap yang mencerminkan persatuan, sehingga guru memberikan penjelasan tambahan menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan siswa seperti bekerja sama membersihkan kelas dan membantu teman yang kesulitan belajar.

Pada pertemuan kedua, siswa mulai menunjukkan perubahan yang positif, terlihat lebih berani bertanya dan menjawab pertanyaan guru, serta mampu menjelaskan isi gambar pada poster baru dengan lebih baik [14]. Dalam kegiatan diskusi, siswa mulai aktif menyampaikan pendapat mengenai pentingnya hidup rukun dan bekerja sama serta mampu memberikan contoh sikap persatuan secara mandiri tanpa terlalu banyak bantuan dari guru. Saat mengerjakan LKS, seluruh siswa dapat menyelesaikan tugas dengan lebih baik dibandingkan pertemuan sebelumnya sehingga suasana pembelajaran menjadi lebih aktif, menyenangkan, dan kondusif.

Tabel 1. Indikator Keberhasilan Pembelajaran

Tabel 2. Ringkasan Hasil Implementasi (Agregat)

Hasil implementasi menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada pemahaman dan partisipasi siswa dari kondisi awal hingga pertemuan kedua. Penggunaan media poster mampu menarik perhatian siswa sehingga mereka lebih mudah memahami materi pembelajaran secara konkret melalui gambar dan contoh nyata yang dekat dengan kehidupan sehari-hari [7], [15].

IV. Simpulan

Berdasarkan hasil implementasi pembelajaran, penggunaan media poster memberikan dampak positif terhadap proses dan hasil belajar siswa karena membantu siswa memahami materi persatuan dan kesatuan secara lebih mudah melalui contoh visual secara langsung. Siswa terlihat lebih antusias, aktif bertanya, dan berani menyampaikan pendapat, serta suasana belajar menjadi lebih menarik dan tidak membosankan. Meskipun demikian, pada awal pembelajaran beberapa siswa masih malu berbicara dan kurang percaya diri ketika diminta menjawab pertanyaan, sehingga guru perlu memberikan motivasi dan pendampingan yang lebih intensif.

Rencana perbaikan yang akan dilakukan untuk pembelajaran selanjutnya meliputi:

1. Menggunakan poster dengan gambar yang lebih besar dan berwarna agar lebih menarik perhatian siswa.

2. Menambahkan permainan edukatif dalam pembelajaran agar siswa lebih aktif.

3. Menggunakan video pembelajaran sebagai media tambahan.

4. Memberikan lebih banyak kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi dan bekerja sama.

5. Memberikan penghargaan sederhana kepada siswa yang aktif agar motivasi belajar meningkat.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih disampaikan kepada pihak sekolah SDN Banjar Ratu, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, dosen pembimbing, serta semua pihak yang telah memberikan izin dan mendukung pelaksanaan pembelajaran ini.

References

Kemendikbudristek, Capaian Pembelajaran Pendidikan Pancasila Fase B Sekolah Dasar. Jakarta, Indonesia: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2022.

A. Susanto, Pengembangan Pembelajaran PKn di Sekolah Dasar, ed. revisi. Jakarta, Indonesia: Prenadamedia Group, 2021.

O. Hamalik, Proses Belajar Mengajar, ed. pembaruan. Jakarta, Indonesia: Bumi Aksara, 2021.

A. Arsyad, Media Pembelajaran, ed. revisi. Jakarta, Indonesia: Rajawali Pers, 2022.

M. M. Adha, D. R. Perdana, and Supriyanto, “Nilai pluralistik dan persatuan: Eksistensi jatidiri bangsa Indonesia,” J. Civic Hukum, vol. 6, no. 1, pp. 10–20, 2021.

R. Mulfajril, Hadiyanto, and H. Sofyan, “Penggunaan media visual dalam pembelajaran sekolah dasar,” J. Pendidik. Dasar, vol. 8, no. 1, pp. 40–45, 2023.

R. E. Mayer, Multimedia Learning, 3rd ed. Cambridge, U.K.: Cambridge University Press, 2021.

S. Arikunto, Penelitian Tindakan Kelas: Edisi Revisi. Jakarta, Indonesia: Bumi Aksara, 2021.

M. Huda, Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran Interaktif. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar, 2021.

D. Kurniawan, Pengembangan Lembar Kerja Siswa dan Media Visual di Sekolah Dasar. Bandung, Indonesia: Remaja Rosdakarya, 2023.

B. Nurgiyantoro, Penilaian Otentik dalam Pembelajaran. Yogyakarta, Indonesia: Gadjah Mada University Press, 2022.

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2022.

J. W. Creswell, Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating, 6th ed. London, U.K.: Pearson, 2023.

R. E. Slavin, Educational Psychology: Theory and Practice, 13th ed. Boston, MA, USA: Pearson, 2024.

G. Pratiwi, “Strategi mengatasi kejenuhan belajar siswa melalui media visual dan poster edukatif,” J. Inov. Pembelajaran, vol. 6, no. 4, pp. 320–335, 2024.