Login
Section Elementary Education Method

Problem Based Learning Strengthens Tolerance And Moral Values In Elementary Students

Pembelajaran Berbasis Masalah Memperkuat Toleransi Dan Nilai Moral Siswa Sekolah Dasar
Vol. 21 No. 4 (2026): November:

Miril Eryadi (1), Ahmad Nurefendi Fradana (2)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Character education emphasizes both moral knowledge and the direct application of these principles in everyday life. Specific Background In Civics and Religious Education, fifth-grade pupils often struggle with inclusivity and tend to socialize exclusively based on similar backgrounds. Knowledge Gap Previous classroom discussions were dominated by a few active learners, leaving others passive and hesitant to express their perspectives on diversity. Aims This study implements a contextual problem-solving model to cultivate respect and character comprehension among young learners. Results Observation and exit ticket assessments demonstrated that active participation surged from 46% to 73% after analyzing contextual social cases. Furthermore, participants achieving a passing score in inclusivity comprehension increased from 60% to 83% by the second meeting. Novelty Integrating contextual social case studies with exit ticket rubrics provides a measurable and participatory collaborative character evaluation approach. Implications Collaborative instruction based on real-world scenarios is fundamental for character education success, suggesting educators utilize group dynamics in classroom settings.


Highlights:




  • Contextual social case discussions significantly stimulate active participation among young learners.




  • Analyzing real-world scenarios builds respect for diverse backgrounds among classmates.




  • Exit ticket instruments and group reflections accurately evaluate character education progress.




Keywords: Contextual Instruction, Civic Education, Religious Studies, Character Development, Social Diversity

I. Pendahuluan

Konteks pelaksanaan penelitian ini adalah pembelajaran PKn dan Pendidikan Agama pada siswa kelas V sekolah dasar dengan tema “Toleransi dan Sikap Saling Menghargai dalam Kehidupan Sehari-hari”. Kondisi kelas menunjukkan bahwa sebagian siswa masih kurang memahami pentingnya toleransi serta cenderung memilih teman berdasarkan kesamaan latar belakang agama/suku maupun kebiasaan sosial [4], [5]. Pada proses pembelajaran sebelumnya, diskusi kelas masih didominasi oleh beberapa siswa aktif sementara siswa lain cenderung pasif dan kurang berani menyampaikan pendapat.

Karakter pendidikan tidak hanya menekankan aspek pengetahuan moral, tetapi juga bagaimana peserta didik mampu memahami, merasakan, dan menerapkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari [1], [6]. Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang lebih kontekstual dan partisipatif agar siswa mampu memahami nilai toleransi melalui pengalaman belajar langsung [7].

Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) dipilih karena mampu mendorong siswa untuk aktif memecahkan masalah sosial nyata melalui diskusi dan kerja sama kelompok [8], [9]. Penelitian terbaru oleh Earlysia Dearisky Nilam Kusumahati dkk. (2024) menunjukkan bahwa penerapan PBL mampu meningkatkan partisipasi belajar siswa secara signifikan, karena siswa lebih aktif menyampaikan pendapat dan terlibat dalam proses diskusi pembelajaran [2]. Selain itu, penelitian Ira Restu Kurnia dan Septian Mukhlis (2023) juga menemukan bahwa model PBL efektif dalam meningkatkan karakter toleransi siswa melalui pembelajaran yang kontekstual dan berbasis masalah sosial di lingkungan sekolah [3]. Implementasi ini bertujuan untuk:

1. Meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam diskusi kelas.

2. Meningkatkan pemahaman siswa mengenai toleransi dan nilai moral.

3. Membantu siswa menerapkan sikap saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari.

II. Metode

Pembelajaran dirancang menggunakan model Problem-Based Learning (PBL) dengan pendekatan diskusi kelompok berbasis masalah sosial sederhana [8], [10].

Strategi dan Alur Kegiatan:

  • Pendahuluan (10 menit): Guru memberikan apersepsi tentang keberagaman teman di sekolah dan menyampaikan tujuan pembelajaran.
  • Orientasi Masalah (10 menit): Guru memberikan kasus “Beberapa siswa mengejek temannya karena berbeda agama dan cara beribadah”.
  • Diskusi Kelompok (20 menit): Siswa dibagi menjadi kelompok kecil dan mendiskusikan penyebab masalah, dampak perilaku tersebut, serta solusi yang tepat.
  • Presentasi Kelompok (15 menit): Setiap kelompok menyampaikan hasil diskusi dan pendapatnya.
  • Refleksi dan Exit Ticket (10 menit): Siswa menulis pemahaman dan refleksi singkat terkait toleransi.
  • Penutup (5 menit): Guru memberikan penguatan materi dan kesimpulan pembelajaran.

Penilaian dilakukan menggunakan tiga sumber data yaitu daftar periksa partisipasi lisan, rubrik mini exit ticket, dan catatan refleksi siswa [11], [12]. Seluruh data penelitian direkap secara anonim tanpa menyebutkan nama siswa maupun identitas sekolah (Etika dan Privasi) [13]. Pelaksanaan pembelajaran telah mendapat izin dari pihak sekolah dan guru kelas.

III. Hasil dan Pembahasan

Implementasi dilakukan dalam dua kali pertemuan pembelajaran (2×35 menit). Pada pertemuan pertama, guru menekankan pentingnya kerja sama dan menghargai pendapat teman selama diskusi berlangsung. Guru juga memberikan contoh perilaku toleransi sederhana di lingkungan sekolah. Saat kegiatan diskusi berlangsung, sebagian siswa awalnya masih malu untuk menyampaikan pendapat. Untuk mengatasi hal tersebut, guru memberikan pertanyaan pemantik sederhana dan menunjuk kelompok secara bergantian agar seluruh siswa terlibat aktif [14].

Pada pertemuan kedua, siswa mulai menunjukkan peningkatan partisipasi. Siswa lebih berani memberikan pendapat dan mampu menjelaskan contoh perilaku toleransi di sekolah maupun di lingkungan rumah. Guru juga menggunakan pendekatan refleksi untuk membantu siswa memahami bahwa toleransi bukan berarti harus memiliki pendapat yang sama, tetapi menghargai perbedaan yang ada.

Penilaian dilakukan secara agregat tanpa mencantumkan identitas siswa. Data diperoleh dari checklist partisipasi, rubrik exit ticket, dan refleksi siswa.

Tabel 1. Indikator Keberhasilan

Tabel 2. Hasil Implementasi Pembelajaran

Hasil implementasi menunjukkan bahwa partisipasi siswa meningkat secara signifikan pada pertemuan kedua. Siswa juga mulai mampu memahami bahwa toleransi berarti menghargai perbedaan tanpa harus memaksakan pendapat kepada orang lain [15].

IV. Simpulan

Penerapan PBL membantu siswa memahami materi secara lebih kontekstual melalui pengalaman diskusi dan pemecahan masalah nyata. Penggunaan refleksi dan exit ticket juga membantu guru menggambarkan pemahaman siswa secara cepat. Perbaikan yang direncanakan pada pembelajaran berikutnya meliputi:

1. Menambahkan media video interaktif tentang toleransi.

2. Menggunakan permainan edukatif berbasis kelompok.

3. Memberikan contoh kasus yang lebih dekat dengan kehidupan siswa.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada pihak sekolah dasar yang telah memberikan izin pelaksanaan pembelajaran, serta kepada dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dalam penyusunan artikel ini.

References

T. Lickona, Mendidik untuk Karakter: Bagaimana Sekolah Kita Dapat Mengajarkan Rasa Hormat dan Tanggung Jawab, ed. revisi. Jakarta, Indonesia: Bumi Aksara, 2021.

E. D. N. Kusumahati et al., “Pengaruh model pembelajaran berbasis masalah terhadap partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan,” J. Pendidik. PPKn, vol. 12, no. 1, pp. 55–64, 2024.

I. R. Kurnia and S. Mukhlis, “Implementasi model pembelajaran berbasis masalah dalam meningkatkan karakter toleransi siswa di sekolah dasar,” J. Educatio, vol. 9, no. 3, pp. 1452–1460, 2023.

A. Rahman, “Pembelajaran pendidikan agama berbasis multikultural dalam membangun karakter toleransi siswa,” J. Pendidik. Islam, vol. 5, no. 1, pp. 33–41, 2022.

R. Sari and D. Putra, “Pendidikan kewarganegaraan dalam menanamkan sikap toleransi siswa sekolah dasar,” J. Pendidik. Dasar, vol. 8, no. 2, pp. 45–53, 2023.

L. Nucci and D. Narvaez, Handbook of Moral and Character Education, 3rd ed. New York, NY, USA: Routledge, 2021.

M. M. Adha, D. R. Perdana, and Supriyanto, “Nilai pluralistik: Eksistensi jatidiri bangsa Indonesia,” J. Civic Hukum, vol. 6, no. 1, pp. 10–20, 2021.

C. E. Hmelo-Silver, “Problem-based learning: What and how do students learn in modern classrooms?,” Educ. Psychol. Rev., vol. 33, no. 3, pp. 235–266, 2021.

J. R. Savery, “Overview of problem-based learning: Definitions and distinctions in contemporary education,” Interdiscip. J. Problem-Based Learn., vol. 15, no. 1, pp. 9–20, 2021.

M. Huda, Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar, 2021.

D. Kurniawan, Asesmen Formatif dalam Pembelajaran Sekolah Dasar. Bandung, Indonesia: Remaja Rosdakarya, 2024.

S. Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta, Indonesia: Bumi Aksara, 2021.

M. B. Miles, A. M. Huberman, and J. Saldaña, Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook, 4th ed. Thousand Oaks, CA, USA: Sage Publications, 2021.

R. E. Slavin, Educational Psychology: Theory and Practice, 13th ed. Boston, MA, USA: Pearson, 2024.

M. R. Effendi, Y. D. Alfauzan, and M. H. Nurinda, “Menjaga toleransi melalui pendidikan multikulturalisme,” Al-Mutharahah, vol. 18, no. 1, pp. 43–51, 2021.