Maulidin (1), Ermawati Zulikhatin Nuroh (2)
General Background Initial literacy is a fundamental skill essential for students as a foundation for understanding various learning materials. Specific Background In first grade, learning involves introducing alphabets and basic spelling, yet many pupils face trouble recognizing these characters. Knowledge Gap While academic challenges are common, specific obstacles like confusing similar shapes such as b, d, and p require targeted instructional interventions. Aims This qualitative descriptive study aims to analyze initial literacy obstacles among first-grade learners and identify contributing factors while deploying illustrated vocabulary tools. Results Data collected through observation, interviews, and documentation reveal that learners struggle to distinguish characters, blend sounds into syllables, and comprehend simple texts. These obstacles stem from internal variables like low motivation and external variables including limited learning materials, unvaried teaching methods, and lacking family support. Deploying illustrated vocabulary tools, combined with individualized mentoring and repetitive practice, helped most learners recognize characters correctly, read simple syllables, and build self-assurance. Novelty The study highlights the targeted application of visual tools in concurrently diagnosing specific alphabet confusion and facilitating decoding progression within classroom settings. Implications Instructors and parents must collaborate to create engaging learning experiences, utilizing concrete visual tools and specialized mentoring to support literacy development.
Highlights:
First-grade learners frequently experience trouble distinguishing similar alphabets and blending syllables.
Low motivation combined with limited family support heavily constrains initial decoding skills.
Illustrated vocabulary media successfully builds self-assurance and independent spelling capabilities for children.
Keywords: Initial Literacy, Learning Obstacles, Illustrated Vocabulary Media, Elementary Education, Decoding Skills
Kesulitan belajar merupakan persoalan umum dan lumrah yang terjadi pada siswa dalam hal akademis. Namun, masalah kesulitan belajar pada siswa tidak boleh dipandang remeh. Masalah tersebut hendaknya segera mungkin dilakukan tindakan atau penanganan khusus, agar siswa mampu menyelesaikan studinya di sekolah [1]. Pembelajaran membaca di sekolah dasar terdiri dari dua bagian, yakni membaca permulaan dan membaca lanjut. Membaca permulaan berada di kelas 1 dan 2, membaca lanjut mulai dari kelas 3 dan seterusnya [2].
Membaca permulaan dilakukan melalui pengenalan bahasa tulis, mengenal huruf, serta mengeja secara sederhana. Pada kegiatan tersebut, siswa melakukan kegiatan menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa [3]. Tahap awal membaca permulaan pada siswa dikenalkan dengan bentuk huruf abjad dari A/a sampai Z/z dan huruf-huruf tersebut perlu dilafalkan sesuai dengan bunyinya. Setelah siswa diperkenalkan dengan bentuk huruf abjad dan melafalkannya, langkah selanjutnya siswa diperkenalkan dengan mengeja suku kata, membaca kata, dan membaca kalimat pendek [4]. Oleh karena itu, penulis ingin mengimplementasikan beberapa metode seperti media kartu kata bergambar yang membantu siswa menghubungkan gambar dengan kata sehingga mempermudah membaca permulaan, serta metode permainan edukatif literasi seperti permainan mencocokkan huruf, puzzle kata, atau menyusun suku kata [5], [6].
Rencana pembelajaran ini dirancang menggunakan pendekatan aktif dan menyenangkan agar siswa lebih mudah memahami materi [7]. Guru memanfaatkan media kartu kata bergambar sebagai alat bantu utama dalam menjelaskan materi membaca permulaan pada siswa kelas 1 sekolah dasar.
Urutan aktivitas diawali dengan kegiatan pendahuluan (10 menit), di mana guru membuka pembelajaran dengan salam dan doa, mengecek kehadiran siswa, memberikan apersepsi tentang membaca misalnya dengan menunjukkan gambar benda yang familiar, serta menyampaikan tujuan pembelajaran [3]. Kegiatan inti (50 menit) meliputi pengenalan huruf di mana guru menunjukkan huruf vokal dan konsonan lalu siswa menirukan bunyi huruf (10 menit) serta menyebutkan huruf secara bersama-sama. Selanjutnya, guru membimbing siswa membaca suku kata sederhana (ba-bi-bu, da-di-du) secara bersama-sama (15 menit). Guru mengamati dan membimbing siswa membaca suku kata sederhana melalui kartu kata bergambar, lalu siswa membaca secara klasikal dan bergiliran (20 menit), disertai pemberian bantuan pada siswa yang mengalami kesulitan mengenali huruf atau mengeja (5 menit). Pada kegiatan penutup (10 menit), guru bersama siswa menyimpulkan pembelajaran, memberikan penguatan dan motivasi membaca, serta memberi tugas membaca sederhana di rumah.
Media dan bahan pembelajaran terdiri dari kartu huruf, kartu suku kata bergambar, papan tulis, dan buku bacaan awal [8]. Indikator keberhasilan meliputi: siswa mampu mengenali minimal 80% huruf vokal dan konsonan; siswa mampu membaca minimal 5 suku kata sederhana dengan benar; siswa mampu membaca kata sederhana dengan bantuan minimal; serta guru mampu mengidentifikasi bentuk kesulitan membaca permulaan pada siswa melalui observasi. Teknik penilaian dilakukan melalui observasi dan praktik membaca [9].
Tabel 1. Rencana Aspek dan Kriteria Penilaian
Penelitian mengenai analisis kesulitan belajar membaca permulaan pada siswa kelas I sekolah dasar ini dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip-prinsip etika penelitian serta perlindungan terhadap privasi subjek penelitian, khususnya anak usia dini. Adapun aspek etika yang diterapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Implementasi pembelajaran dilakukan pada siswa kelas I sekolah dasar dengan tujuan menganalisis kesulitan membaca permulaan yang dialami peserta didik. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun, meliputi tahap pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup.
Pada tahap pendahuluan, guru membuka pembelajaran dengan salam, doa, dan pengecekan kehadiran siswa. Selanjutnya, guru memberikan apersepsi dengan menunjukkan gambar benda-benda yang familiar bagi siswa seperti buku, bola, dan baju untuk menarik perhatian serta membangun minat belajar membaca. Guru kemudian menjelaskan tujuan pembelajaran, yaitu mengenal huruf, membaca suku kata, dan membaca kata sederhana.
Pada kegiatan inti, guru mulai mengenalkan huruf vokal dan konsonan menggunakan kartu huruf. Siswa diminta menyebutkan huruf secara bersama-sama dan bergantian. Selama proses berlangsung, penulis melakukan observasi terhadap kemampuan membaca siswa. Beberapa siswa terlihat mampu mengenali huruf dengan baik, sedangkan sebagian lainnya masih mengalami kesulitan membedakan bentuk huruf tertentu seperti b, d, dan p [10].
Selanjutnya, siswa diarahkan untuk membaca suku kata sederhana seperti ba, bi, bu, da, di, dan du secara klasikal dan individu. Pada tahap ini ditemukan beberapa siswa masih membaca dengan mengeja secara lambat dan belum mampu menggabungkan bunyi huruf menjadi suku kata dengan lancar. Untuk mengatasi hal tersebut, guru melakukan pengulangan pengucapan dan memberikan contoh membaca secara perlahan agar siswa dapat mengikuti.
Kegiatan berikutnya adalah membaca kata sederhana seperti ibu, bola, buku, dan baju secara bergiliran di depan kelas, sedangkan guru mencatat kesulitan yang muncul pada lembar observasi. Penulis menemukan bahwa terdapat siswa yang kurang percaya diri saat diminta membaca sehingga memerlukan pendampingan lebih lanjut. Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru memberikan waktu tambahan kepada siswa yang mengalami kesulitan membaca, menggunakan media gambar agar siswa lebih mudah memahami kata yang dibaca, serta menerapkan pendampingan individual [11].
Respon siswa selama pembelajaran cukup beragam; sebagian siswa terlihat antusias dan aktif menjawab pertanyaan guru terutama saat menggunakan kartu bergambar, namun terdapat beberapa siswa yang kurang fokus, mudah terdistraksi, atau malu saat diminta membaca di depan kelas. Untuk meningkatkan motivasi, guru memberikan pujian dan penguatan positif kepada siswa yang mencoba membaca meskipun belum lancar [12].
Hambatan yang muncul selama pembelajaran antara lain perbedaan kemampuan membaca antar siswa, kurangnya konsentrasi pada beberapa peserta didik, keterbatasan waktu untuk memberikan pendampingan secara maksimal, serta kesulitan mengenali huruf tertentu yang sering tertukar saat membaca. Cara mengatasi hambatan tersebut dilakukan dengan memberikan latihan membaca secara bertahap, pengulangan materi, penggunaan media kartu huruf dan gambar yang menarik, serta pendampingan individual. Guru juga membagi siswa dalam kelompok kecil agar siswa yang sudah mampu membaca dapat membantu temannya melalui kegiatan membaca bersama [4]. Pada akhir pembelajaran, guru melakukan refleksi bersama siswa, memberikan motivasi untuk terus berlatih membaca di rumah, dan menyimpulkan hasil pembelajaran.
Penilaian dilakukan melalui observasi, praktik membaca, dan dokumentasi hasil belajar siswa [13]. Instrumen penilaian yang digunakan meliputi Lembar Observasi Kemampuan Membaca (mencatat kemampuan mengenal huruf, membaca suku kata, membaca kata sederhana, dan kelancaran membaca), tes praktik membaca langsung di hadapan guru, serta Catatan Lapangan Guru/Peneliti untuk mencatat respons dan hambatan yang muncul.
Tabel 2. Instrumen Indikator dan Kriteria Penilaian
Hasil penilaian dibaca berdasarkan tingkat pencapaian siswa pada setiap indikator: siswa yang mampu membaca dengan lancar dan benar dikategorikan sebagai Baik; siswa yang masih memerlukan sedikit bantuan dikategorikan sebagai Cukup; sedangkan siswa yang mengalami kesulitan signifikan dikategorikan sebagai Perlu Bimbingan. Berdasarkan hasil implementasi pembelajaran, ditemukan adanya peningkatan kemampuan membaca permulaan pada sebagian siswa kelas I setelah dilakukan latihan membaca menggunakan kartu huruf dan pendampingan guru.
Tabel 3. Ringkasan Hasil Sebelum dan Sesudah Pembelajaran
Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa penggunaan media kartu huruf dan kartu bergambar membantu siswa lebih mudah memahami bacaan awal, didukung oleh pendampingan individual dan latihan berulang. Namun demikian, masih terdapat beberapa siswa yang mengalami kesulitan membedakan huruf tertentu, membaca dengan lambat, serta kurang percaya diri saat membaca di depan kelas. Secara umum, latihan membaca bertahap, penggunaan media konkret, dan pemberian motivasi dapat membantu mengurangi kesulitan membaca permulaan pada siswa kelas I sekolah dasar.
Berdasarkan pelaksanaan pembelajaran, kegiatan berlangsung dengan baik karena siswa menunjukkan antusiasme dalam mengikuti kegiatan membaca menggunakan kartu huruf dan kartu bergambar. Penggunaan media pembelajaran yang konkret membantu siswa lebih mudah mengenali huruf, membaca suku kata, dan memahami kata sederhana. Pendampingan individual serta pemberian motivasi dan pujian sederhana juga dinilai efektif membuat siswa lebih percaya diri mencoba membaca meskipun masih terbata-bata.
Namun, pelaksanaan pembelajaran belum sepenuhnya optimal karena beberapa siswa masih kesulitan membedakan bentuk huruf seperti b, d, dan p, serta masih mengeja secara lambat. Perbedaan kemampuan membaca antarsiswa dan keterbatasan waktu pembelajaran juga menyebabkan pendampingan individual belum dapat dilakukan secara maksimal kepada seluruh siswa [14].
Jika implementasi pembelajaran serupa dilakukan kembali, rencana perbaikan yang dapat diterapkan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran yaitu:
1. Menambah variasi media pembelajaran: Guru dapat menggunakan media yang lebih menarik seperti permainan huruf, video pembelajaran membaca, atau kartu bergambar berwarna agar siswa lebih fokus dan termotivasi.
2. Membagi siswa ke dalam kelompok kecil: Siswa dapat dikelompokkan berdasarkan kemampuan membaca sehingga guru lebih mudah memberikan bimbingan sesuai kebutuhan masing-masing siswa.
3. Menambah waktu latihan membaca: Guru dapat memberikan sesi latihan membaca tambahan secara bertahap dan berulang untuk membantu siswa meningkatkan kelancaran membaca.
4. Meningkatkan pendampingan individual: Siswa yang mengalami kesulitan membaca lebih serius perlu mendapatkan perhatian khusus melalui latihan membaca sederhana yang dilakukan secara rutin.
5. Melibatkan orang tua dalam latihan membaca di rumah: Guru dapat memberikan arahan sederhana kepada orang tua agar siswa tetap berlatih mengenal huruf dan membaca kata sederhana di rumah [15].
Dengan mengucap puji syukur Alhamdulillah diucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan dan kelancaran bagi penulis untuk menyelesaikan tugas Laporan Implementasi Pembelajaran: Analisis kesulitan belajar membaca permulaan pada siswa kelas I sekolah dasar dengan tepat waktu, sekaligus penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang terlibat. Terima kasih disampaikan kepada Bapak Presiden serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang telah memberikan Program Pemenuhan Kualifikasi Akademik S1/D4 untuk menyetarakan pendidikan para guru yang ada di Republik Indonesia. Terima kasih kepada Rektor pimpinan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) yang telah memberikan wadah belajar untuk kami para penerima Program Pemenuhan Kualifikasi Akademik S1/D4 yang terpilih di UMSIDA, serta para dosen dan dosen pembimbing yang telah memberikan ilmu, informasi, dan pengalaman baru. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada teman-teman RPL PGSD Kelas 2 yang sudah menjadi teman seperjuangan, serta Keluarga Besar dan rekan kerja yang telah ikut andil menjadi bagian penyemangat serta banyak membantu dalam berbagai hal.
M. Rahma and F. Dafit, “Analisis kesulitan membaca permulaan siswa kelas 1 sekolah dasar,” QALAMUNA: J. Pendidik., Sos., dan Agama, vol. 13, no. 2, pp. 397–410, 2021, doi: 10.37680/qalamuna.v13i2.979.
A. Kamilah, S. Ruqoyyah, and K. Mandiri, “Keterampilan membaca permulaan siswa kelas 1 SD menggunakan Contextual Teaching and Learning berbantuan kartu kata,” J. Pendidik. Dasar, vol. 1, no. 1, pp. 25–33, 2022, doi: 10.22460/jpp.v1i1.10495.
S. Asmonah, “Meningkatkan kemampuan membaca permulaan menggunakan model direct instruction berbantuan media kartu kata bergambar,” J. Pendidik. Anak, vol. 8, no. 1, pp. 29–37, 2021.
P. R. Hakim, “Upaya meningkatkan keterampilan membaca permulaan pada anak usia dini melalui media kartu kata bergambar,” J. Literasi Dasar, vol. 1, no. 1, pp. 51–61, 2021.
R. S. A. Badawi, “Pengembangan media kartu kata untuk melatih keterampilan membaca permulaan pada siswa kelas 1 SD,” J. Inov. Sekolah Dasar, vol. 4, no. 2, pp. 62–68, 2022.
R. Z. Nurani, F. Nugraha, and H. H. Mahendra, “Analisis kesulitan membaca permulaan pada anak usia sekolah dasar,” J. Basicedu, vol. 5, no. 3, pp. 1462–1470, 2021.
I. Oktaviyanti, D. A. Amanatulah, and S. Novitasari, “Analisis pengaruh media gambar terhadap kemampuan membaca permulaan siswa sekolah dasar,” J. Basicedu, vol. 6, no. 4, pp. 5589–5597, 2022.
A. Arsyad, Media Pembelajaran, rev. ed. Jakarta, Indonesia: Rajawali Pers, 2022.
S. Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta, Indonesia: Bumi Aksara, 2021.
N. D. D. Lestari, M. Ibrahim, S. M. Amin, and S. Kasiyun, “Analisis faktor-faktor yang menghambat belajar membaca permulaan pada siswa sekolah dasar,” J. Basicedu, vol. 5, no. 4, pp. 2611–2616, 2021.
Dalman, Keterampilan Membaca. Jakarta, Indonesia: RajaGrafindo Persada, 2021.
S. B. Djamarah and A. Zain, Strategi Belajar Mengajar. Jakarta, Indonesia: Rineka Cipta, 2022.
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2022.
M. Huda, Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar, 2021.
S. Walimah, “Pengaruh komunikasi guru dan orang tua terhadap kemampuan membaca permulaan siswa di sekolah dasar,” J. Basicedu, vol. 5, no. 6, pp. 6349–6356, 2021.