Login
Section Elementary Education Method

Teaching Note:The Use of Behavior Trees to Enhance Compliance with School Regulations Among Grade 1 Learners

Teaching Note: Penggunaan Media Pohon Perilaku Untuk Meningkatkan Kepatuhan Terhadap Aturan Sekolah Pada Siswa Kelas 1
Vol. 21 No. 3 (2026): August:

Suparmi (1), Mahardika Darmawan Kusuma Wardana (2)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Classroom discipline is an important part of character development in early primary education, particularly in helping Grade 1 learners follow instructions, participate appropriately, and manage their behavior. Specific Background: Teachers may face difficulties maintaining consistent classroom behavior, making clear routines, visual guidance, and positive reinforcement relevant to early-grade learning. Knowledge Gap: Practical classroom guidance that combines visual behavior reinforcement with immediate student reflection remains important for supporting consistent rule-following among young learners. Aims: This teaching note presents the use of Behavior Tree media combined with positive reinforcement, observation checklists, and visual exit tickets to support compliance with school and classroom rules. Results: The implementation used a Behavior Tree with stars or leaves as visual rewards, daily behavioral observation, and a three-minute visual exit ticket. The aggregate results showed that 85% of students reached a score of at least 2 for rule understanding, while 65% reached the criterion for the reflection component and 55% demonstrated independent action in attaching behavior leaves. The main difficulties included students interpreting rules differently across learning and break times and attaching rewards because they expected additional leaves. Novelty: The teaching note combines a visible behavior tree, positive reinforcement, and visual reflection within a practical early-grade classroom routine. Implications: The practice provides teachers with a structured classroom strategy that can be adapted through visual prompts, guided verbal instructions, and alternative reflection activities according to students’ literacy levels and classroom conditions.


Key Findings Highlights


85% of students achieved the specified criterion for rule understanding.


65% achieved the criterion in the visual reflection component.


55% demonstrated independent behavior when attaching the leaves.


Keywords : Behavior Reinforcement, Classroom Discipline, Positive Reinforcement, Visual Reflection, Elementary Education

I. Konteks dan Tujuan

Tidak gampang mengajar murid kelas satu sekolah dasar, meskipun jumlahnya cuma lima sampai sepuluh anak. Biasanya mereka masih canggung berada di tempat baru, lalu ada juga yang belum tahu cara bersikap rapi di dalam kelas atau malas patuh pada petunjuk. Guru sering menjumpai hal kecil tapi terus muncul: siswa cuek saat diajak dengar penjelasan, cepat bosan, sibuk ngobrol sendiri ketika pelajaran berlangsung, bahkan menolak mengerjakan latihan yang diberikan. Pernahkah kamu lihat anak yang selalu tenang, sementara lainnya justru butuh diperhatikan tiap saat? Di ruang kelas, kondisi seperti itu lumrah terjadi. Guru tak bisa hanya mengandalkan nasihat biasa. Butuh pendekatan yang dirancang dengan pertimbangan matang agar perilaku positif tumbuh tanpa tekanan. Cara-cara tertentu harus dicoba, lama kelamaan menjadi rutinitas yang melekat. Pada dasarnya, belajar lewat perilaku jadi fokus utama. Anak merespons sesuatu karena ada rangsangan sebelumnya. Bila mereka mendapat tanggapan baik setelah berbuat tepat, kecenderungan mengulangi makin besar. Penghargaan yang datang terus-menerus membuat pola itu bertahan lama. Bukan cuma soal disiplin, anak juga mulai paham cara mengikuti panduan saat berada di lingkungan kelas. Tapi yang lebih pokok, mereka diajak merespons petunjuk seperti bagaimana seharusnya bertindak di ruang belajar [1], [2], [3], [11].

II. Desain Skenario Pembelajaran

Bagan Perilaku terletak di depan kelas supaya murid bisa lihat sewaktu-waktu. Di dalamnya ada gambar sederhana yang mudah dicerna. Tidak heran kalau banyak anak mulai mengikuti aturan secara alami [7], [8].

A. Alur Kegiatan

Pembukaan (10 menit): Guru menyederhanakan aturan kelas dan memberikan contoh perilaku positif serta perilaku negatif. Guru juga menjelaskan cara kerja “pohon perilaku” [9], [10].

Kegiatan utama (40 menit): Perilaku baik siswa dinilai dengan bintang atau daun, diamati oleh guru selama 40 menit pembelajaran. Setelah pelajaran, guru dan siswa diskusi tentang momen tersebut untuk mempertahankan sikap positif di sesi berikutnya [4], [5], [12].

Penutupan (10 menit): Kegiatan kecil ini memberikan umpan balik langsung kepada gaya belajar siswa. Dalam waktu singkat, kesadaran akan perilaku menjadi lebih tinggi. Keberlanjutan positif dimulai karena pengakuan ringan namun konstan. Tanpa tekanan besar, anak-anak mulai merasa lebih percaya diri saat beraktivitas kelas [1], [6]

B. Media dan Alat

  1. Gambar pohon perilaku
  2. Stiker bintang
  3. Papan tulis

Asesmen formatif menggunakan lembar refleksi visual (exit ticket 3 menit) dan checklist observasi kepatuhan. Exit ticket ditulis dengan nama atau nomor absen untuk memantau perkembangan perilaku individu siswa pada Media Pohon Perilaku [6], [7], [13].

A. Format exit ticket (3 menit)

  1. Satu aturan kelas/sekolah yang saya ingat hari ini (bisa ditulis satu kata sederhana atau digambar).
    • Satu aturan kelas/sekolah yang saya ingat hari ini (bisa ditulis satu kata sederhana atau digambar).
    • Satu tindakan baik yang saya lakukan hari ini (sebagai syarat menempelkan "bintang" pada Pohon Perilaku).
    • Satu aturan yang masih sulit saya ikuti hari ini (melingkari emoticon sedih/bingung/senang).

B. Rubrik mini exit ticket (skor 0–3)

Tabel 1. Kriteria Skor

Kriteria Skor 0 Skor 1 Skor 2 Skor 3
Pemahaman Aturan Keliru / Tidak tahu Sebagian benar (dengan bantuan/petunjuk guru) Benar secara mandiri Benar + bisa menyebutkan contoh dengan jelas
Tindakan (Pohon Perilaku) Tidak ada tindakan baik / melanggar aturan Relevan tetapi pasif (menempel daun karena disuruh) Relevan (menempel daun atas tindakan baik secara mandiri) Relevan + konsisten sepanjang hari
Refleksi ( Emoticon ) Tidak mengisi Asal melingkari emoticon tanpa alasan yang sesuai Masuk akal (memilih emoticon sesuai dengan tindakannya) Kuat + bisa memberikan alasan lisan secara singkat
Table 1.
  1. Kriteria keberhasilan
    • Minimal 80% siswa memperoleh skor ≥2 (dari 3) pada exit ticket (baik dalam pemahaman maupun tindakan) [6].
    • Minimal 60% siswa tercatat berhasil menempelkan minimal 1 "daun perilaku baik" di Pohon Perilaku secara mandiri (checklist harian) [5], [8].
    • Guru mengidentifikasi ≥2 aturan yang paling sulit dipatuhi

(berdasarkan respons emoticon atau observasi) untuk dijadikan fokus cerita/umpan balik pada pertemuan berikutnya [2], [6].

III. Catatan Implementasi

  1. Manajemen Waktu: Penggunaan timer sangat direkomendasikan. Alokasikan waktu spesifik (misalnya 5–10 menit sebelum jam pulang) dan hentikan aktivitas pembelajaran utama tepat waktu agar rutinitas refleksi (menempelkan "daun" pada Pohon Perilaku atau mengisi exit ticket visual) tidak tergerus dan dilakukan dengan terburu-buru [1], [2].
  2. Mengatasi Kelas Heterogen (Kapasitas Literasi Awal): Mengingat siswa Kelas 1 SD masih dalam tahap awal membaca dan menulis, siapkan petunjuk visual (seperti emoticon atau piktogram) serta berikan instruksi verbal terpimpin (contoh kalimat pemantik: "Hari ini saya hebat karena...", "Hari ini saya masih lupa untuk..."). Hal ini dirancang untuk memfasilitasi siswa yang pasif atau belum mampu menulis secara mandiri [7], [15].
  3. Reduksi Beban Evaluasi: Evaluasi formatif tidak memerlukan koreksi dokumen yang berat. Guru cukup melakukan observasi visual terhadap Pohon Perilaku (distribusi daun) dan sampling lembar refleksi emoticon (mis. 10–15 siswa secara acak) untuk mengidentifikasi tren perilaku dominan. Rekapitulasi agregat cukup berupa persentase siswa yang mencapai indikator kepatuhan (skor ≥2) dan identifikasi 2–3 pelanggaran aturan kelas yang paling sering terjadi pada hari tersebut [2], [6].
  4. Modifikasi Logistik: Apabila terdapat keterbatasan ketersediaan perangkat visual (seperti stiker daun atau lembar cetak exit ticket individual), metode ini dapat diadaptasi menjadi aktivitas observasi komunal. Siswa dapat melakukan refleksi secara lisan (sebagai password keluar kelas) atau menggunakan isyarat fisik (misalnya gestur tangan), dengan tetap menjaga prinsip akuntabilitas perilaku masing-masing siswa [13].

V. Refleksi

Menggabungkan Media Pohon Perilaku (Behavior Tree) dengan exit ticket visual benar-benar membantu sebagai “penutup wajib” dalam manajemen kelas awal. Modul ini menata cara berpikir siswa sejak dini. Setiap anak tidak bisa hanya diam mereka harus bicara tentang seberapa taat mereka pada aturan kelas, dan itu harus jelas, saat itu juga. Di sisi lain, guru mendapat gambaran langsung tentang respons afektif siswa, dan bisa menilai hasilnya dengan cepat. Tapi ada satu hal penting:

kualitas pertanyaan yang guru lontarkan benar-benar menentukan seberapa tepat refleksi siswa Kelas 1 terhadap perilaku mereka sendiri [6], [8], [13].

VII. ETIKA DAN PRIVASI

Data siswa dihitung secara grup, bukan dengan rincian nama, NISN, atau foto. Semua aktivitas penelitian, pembelajaran, dan pemilihan publikasi sudah disetujui sekolah. Izin itu ada dalam dokumen lampiran TA-AIP. Rinciannya cukup jelas di sana, and aturan ini berlaku untuk seluruh pelaksanaan kegiatan.

Ucapan Terima Kasih

Menteri Pendidikan Dasar serta Menengah dan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo diberi rasa terima kasih atas dukungan mereka. Sekolah-sekolah yang terbuka memberikan izin memungkinkan penelitian ini berlangsung untuk sekarang. Atas kesediaan itu, kami merasa lebih yakin dalam melanjutkan prosesnya.

REFERENSI

Behavior dalam Meningkatkan Kedisiplinan Mematuhi Tata Tertib Siswa Sekolah Menengah Kejuruan,” AKADEMIKA: Jurnal Ilmiah Kependidikan, vol. 24, no. 2, pp. 200–204, 2025.

Kanak-Kanak IT Az Zahra Kecamatan Jati Agung Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2016/2017,” undergraduate thesis, Institut Agama Islam Negeri Raden Intan Lampung, Lampung, Indonesia, 2016.

  1. J. W. Santrock, Educational Psychology. New York, NY, USA: McGraw-Hill Education, 2018.
  2. R. J. Marzano, Classroom Management That Works: Research-Based Strategies for Every Teacher. Alexandria, VA, USA: ASCD, 2003.
  3. D. Kurniawan, “Strategi Guru dalam Mengatasi Perilaku Tidak Disiplin Siswa di Kelas Awal,” Jurnal Pendidikan Karakter, vol. 9, no. 2, pp. 201–210, 2019.
  4. B. F. Skinner, Science and Human Behavior. New York, NY, USA: Simon and Schuster, 1953.
  5. S. Rahayu and K. Wardani, “Implementasi Positive Reinforcement Melalui Reward Chart pada Siswa Kelas 1 SD,” Jurnal Observasi Psikologi, vol. 4, no. 3, pp. 88–95, 2022.
  6. A. S. Nugraha, “Penggunaan Exit Ticket sebagai Instrumen Refleksi Pembelajaran di Sekolah Dasar,” Jurnal Inovasi Pendidikan, vol. 6, no. 2, pp. 145–152, 2022.
  7. M. R. Pratama, “Media Visual dalam Pembentukan Karakter Siswa Kelas Rendah,” Jurnal Ilmiah Guru, vol. 5, no. 2, pp. 112–120, 2021.
  8. A. Hidayat, “Pengaruh Media Pohon Prestasi terhadap Motivasi Belajar dan Disiplin Siswa,” Elementary School Journal, vol. 7, no. 1, pp. 34–42, 2023.
  9. A. Bandura, Social Learning Theory. Englewood Cliffs, NJ, USA: Prentice-Hall, 1977.
  10. N. P. Sari, “Pentingnya Konsistensi Pemberian Reward dan Punishment dalam Kedisiplinan Siswa,” Jurnal Cakrawala Pendas, vol. 6, no. 1, pp. 12–21, 2020.
  11. R. Y. Aisyah, M. Jumarin, and E. C. Saputra, “Layanan Konseling Individu Pendekatan
  12. A. Sugianto, “Penggunaan Token Economy untuk Meningkatkan Kedisiplinan Siswa di Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 11, no. 1, pp. 45–56, 2020.
  13. R. Widiyanto, “Pendekatan Behavioristik dalam Membentuk Kemandirian Siswa Sekolah Dasar,” Jurnal Konseling dan Pendidikan, vol. 9, no. 4, pp. 312–320, 2021.
  14. R. S. Lestari, “Upaya guru dalam meningkatkan kedisiplinan anak usia dini di Taman
  15. I. L. Hey Devi, Y. F. Susetyo, and Haryanta, “Intervensi perilaku dan multisensori untuk anak dengan ADHD yang mengalami gangguan sensorik,” Gadjah Mada Journal of Professional Psychology (GamaJPP), vol. 10, no. 2, pp. 122–133, 2024, doi:

10.22146/gamajpp.93750.

LAMPIRAN I

MODUL AJAR

MEDIA POHON PERILAKU UNTUK KEPATUHAN ATURAN SEKOLAH

I. INFORMASI UMUM

Instansi: SD Negeri 2 Bandar Jaya

Tahun: 2025/2026

Fase/Kelas: A / 1

Mata Pelajaran: PPKn / Pendidikan Karakter

Alokasi Waktu: 2 x 30 Menit

Profil Pelajar Pancasila: Beriman & Bertakwa, Mandiri, Bergotong-royong.

II. KOMPONEN INTI

Tujuan Pembelajaran:

  1. Mengenal aturan kelas
  2. Menunjukkan perilaku patuh secara konsisten
  3. Mengontrol perilaku mandiri via media visual
  4. Merefleksikan tindakan positif secara jujur

Pertanyaan Pemantik: "Apa jadinya jika kelas berisik?" & "Hal baik apa yang kamu lakukan hari ini?"

Media & Sumber: Poster "Pohon Perilaku", Stiker Daun/Bintang, Exit Ticket Visual, Alat Tulis [6],

[7], [8].

III. KEGIATAN PEMBELAJARAN

○ Siswa mengikuti KBM rutin; Guru mengobservasi perilaku spesifik siswa.

○ Reinforcement: Guru memberi penguatan verbal dan stiker daun pada siswa yang tertib [4],

[5].

○ Aksi Mandiri: Siswa menempelkan daun pada poster Pohon Perilaku secara mandiri.

○ Bimbingan: Guru memotivasi siswa yang belum mendapat daun melalui pendekatan personal.

  1. Pendahuluan (10 Menit): Salam, doa, presensi, apersepsi (poster pohon kosong), dan penjelasan aturan main: "Satu perilaku baik = Satu daun kebaikan" [9], [10].
  2. Inti (40 Menit):
  3. Penutup (10 Menit): Pengisian Exit Ticket visual, refleksi bersama melihat "lebatnya" pohon kebaikan kelas, motivasi penutup, dan doa [6].

IV. ASESMEN (PENILAIAN)

Tabel 1: Instrumen Observasi Perilaku (Proses)

No Nama Siswa Kepatuhan (1-3) Kemandirian (1-3) Catatan Perilaku Dominan
1 adz 3 3 kemandirian
2 snh 3 2 kemandirian
Skor: 3 (Mahir), 2 (Layak), 1 (Perlu Bimbingan)
Table 2.

Tabel 2: Rubrik Penilaian Exit Ticket (Hasil Refleksi)

Kriteria Skor 3 (Sangat Baik) Skor 2 (Cukup) Skor 1 (Kurang)
Refleksi Gambar tindakan spesifik/relevan Gambar tindakan kurang jelas Belum mampu menggambarkan
Emosi Emoticon sesuai perasaan asli Emoticon tampak ragu/asal Tidak mengisi
Table 3.

Tabel 3: Evaluasi Ketercapaian Kelas

Indikator Target Target Capaian Hasil Realita (%) Tindak Lanjut
Skor Refleksi Siswa ≥ 2 80% Siswa 60% siswa memberikan penguatan
Kemandirian Menempel Daun 60% Siswa
Table 4.

Refleksi Guru: Evaluasi konsistensi reinforcement dan identifikasi aturan yang paling sulit dipatuhi [5], [10]. Catatan Implementasi: Gunakan timer; sediakan piktogram bagi siswa yang belum lancar menulis [2], [7].

Mengetahui,

Figure 1.

( MAI LUSIYA,S.Pd) ( SUPARMI )

Figure 2.

LAMPIRAN II

LEMBAR EXIT TICKET DAN RUBRIK MINI

Figure 3.

Gambar 1. Lembar exit ticket siswa/siswi Gambar 1. Lembar rubrik mini

Gambar A. Gambar B. Gambar C.

Figure 4.

Gambar 1. Implementasi Media Pohon Perilaku: (a) Pohon Sebelum Intervensi; (b) Siswa Menempelkan Bintang; (c) Pohon Setelah Penuh Atribut.

LAMPIRAN III REKAP AGREGAT HASIL IMPLEMENTASI MEDIA POHON PERILAKU

Komponen Penilaian Persentase Skor ≥2 Status Capaian Miskonsepsi / Kendala Dominan
Pemahaman Aturan 85% Tercapai ✅ Siswa menganggap aturan "Berbicara Bergantian" hanya berlaku saat pelajaran, bukan saat istirahat.
Tindakan (Pohon Perilaku) 55% Belum Tercapai ❌ Miskonsepsi Transaksional: Siswa hanya mau membantu teman jika guru berjanji akan memberikan daun untuk ditempel.
Table 5.

Analisis Berdasarkan Kriteria Baru

1. Analisis Refleksi Stiker Bintang :

  1. Hasil (65%): Meskipun sudah menggunakan media bintang yang lebih menarik bagi anak-anak, target 80% belum tercapai [6], [8].
  2. Miskonsepsi Dominan: Ada kecenderungan siswa kelas 1 melakukan "klaim sepihak". Mereka mewarnai/mengambil 3 bintang (Skor 3) bukan karena merasa sudah bertindak sangat baik dan konsisten, melainkan karena ingin memiliki bintang yang banyak. Mereka belum sepenuhnya membedakan antara hadiah dan refleksi jujur [4], [5], [10].

2. Analisis Tindakan Mandiri:

Skor 55% menunjukkan bahwa media Pohon Perilaku masih berfungsi sebagai alat "instruksi" (Siswa menempel karena disuruh/Skor 1) daripada alat kesadaran internal (Skor 2) [13].

LAMPIRAN IV

SURAT IZIN KEPALA SEKOLAH/ATASAN PUBLIKASI PRAKTIK

Figure 5.

Gambar 1. Surat izin kepala sekolah/atasan publikasi praktik.

References

J. W. Santrock, Educational Psychology. New York, NY, USA: McGraw-Hill Education, 2018.

R. J. Marzano, Classroom Management That Works: Research-Based Strategies for Every Teacher. Alexandria, VA, USA: ASCD, 2003.

D. Kurniawan, “Strategi Guru dalam Mengatasi Perilaku Tidak Disiplin Siswa di Kelas Awal,” Jurnal Pendidikan Karakter, vol. 9, no. 2, pp. 201–210, 2019.

B. F. Skinner, Science and Human Behavior. New York, NY, USA: Simon and Schuster, 1953.

S. Rahayu and K. Wardani, “Implementasi Positive Reinforcement Melalui Reward Chart pada Siswa Kelas 1 SD,” Jurnal Observasi Psikologi, vol. 4, no. 3, pp. 88–95, 2022.

S. Nugraha, “Penggunaan Exit Ticket sebagai Instrumen Refleksi Pembelajaran di Sekolah Dasar,” Jurnal Inovasi Pendidikan, vol. 6, no. 2, pp. 145–152, 2022.

M. R. Pratama, “Media Visual dalam Pembentukan Karakter Siswa Kelas Rendah,” Jurnal Ilmiah Guru, vol. 5, no. 2, pp. 112–120, 2021.

Hidayat, “Pengaruh Media Pohon Prestasi terhadap Motivasi Belajar dan Disiplin Siswa,” Elementary School Journal, vol. 7, no. 1, pp. 34–42, 2023.

Bandura, Social Learning Theory. Englewood Cliffs, NJ, USA: Prentice-Hall, 1977.

N. P. Sari, “Pentingnya Konsistensi Pemberian Reward dan Punishment dalam Kedisiplinan Siswa,” Jurnal Cakrawala Pendas, vol. 6, no. 1, pp. 12–21, 2020.

R. Y. Aisyah, M. Jumarin, and E. C. Saputra, “Layanan Konseling Individu Pendekatan Behavior dalam Meningkatkan Kedisiplinan Mematuhi Tata Tertib Siswa Sekolah Menengah Kejuruan,” AKADEMIKA: Jurnal Ilmiah Kependidikan, vol. 24, no. 2, pp. 200–204, 2025.

Sugianto, “Penggunaan Token Economy untuk Meningkatkan Kedisiplinan Siswa di Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 11, no. 1, pp. 45–56, 2020.

R. Widiyanto, “Pendekatan Behavioristik dalam Membentuk Kemandirian Siswa Sekolah Dasar,” Jurnal Konseling dan Pendidikan, vol. 9, no. 4, pp. 312–320, 2021.

R. S. Lestari, “Upaya Guru dalam Meningkatkan Kedisiplinan Anak Usia Dini di Taman Kanak-Kanak IT Az Zahra Kecamatan Jati Agung Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2016/2017,” undergraduate thesis, Institut Agama Islam Negeri Raden Intan Lampung, Lampung, Indonesia, 2016.

L. Hey Devi, Y. F. Susetyo, and Haryanta, “Intervensi Perilaku dan Multisensori untuk Anak dengan ADHD yang Mengalami Gangguan Sensorik,” Gadjah Mada Journal of Professional Psychology (GamaJPP), vol. 10, no. 2, pp. 122–133, 2024, doi: 10.22146/gamajpp.93750.