Marhidaya (1), Ermawati Zulikhatin Nuroh (2)
General Background Fundamental reading and writing proficiencies constitute the main educational foundation for students in early elementary grades. Specific Background Conventional teaching sessions frequently cause second-grade students to become bored, resulting in low enthusiasm and difficulties in understanding simple story plots. Knowledge Gap Despite the recognized value of non-formal school facilities, maintaining continuous student engagement and overcoming limited book varieties within the classroom remains a significant pedagogical challenge. Aims This study investigates the application of reading corners to stimulate the foundational text comprehension and writing skills of second-grade students. Results The descriptive qualitative implementation revealed that utilizing comfortable spaces equipped with age-appropriate illustrated books successfully transformed student attitudes from passive to highly enthusiastic. Furthermore, students demonstrated notable progress in text fluency, vocabulary enrichment, and the ability to compose three to five simple sentences with correct spelling in their journals. Novelty This research demonstrates that integrating a structured fifteen-minute habituation routine with interactive reflection trees and routine book rotations successfully sustains early childhood scholastic engagement. Implications Schools should actively establish and creatively manage non-formal learning spaces, supported by parental involvement and varied book collections, to ensure continuous foundational skill development.
Highlights:
Implementing daily fifteen-minute book exploration routines fostered enthusiastic student participation.
Students successfully formulated simple sentences and grasped new vocabulary through interactive journal assignments.
Routine material rotation and reward systems resolved boredom and sustained long-term engagement.
Keywords: Reading Habituation, Vocabulary Enrichment, Second Grade, Writing Skills, Nonformal Facility
Dari hasil observasi belajar pada siswa kelas 2 Sekolah Dasar Negeri Sekipi, terdapat kurangnya minat baca dan tulisan yang masih belum sesuai dengan huruf abjad, di mana siswa terlihat tidak fokus dan kesulitan memahami alur cerita [9]. Terkadang siswa terlihat kurang antusias, cepat bosan, dan cenderung bermain sendiri saat sesi membaca konvensional, yang berdampak pada literasi dan baca tulis siswa [10].
Tujuan pembelajaran penggunaan pojok baca di Kelas 2 SD berfokus pada pembiasaan dan penguasaan dasar literasi yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik [11]. Minat membaca pada peserta didik menunjukkan rasa ingin tahu dengan antusias memilih dan membaca buku cerita secara mandiri di pojok baca minimal 15 menit setiap hari. Idealnya, Pojok Baca harus menjadi sebuah ruang yang menarik di kelas atau sekolah dengan koleksi buku yang beragam dan ditata dengan baik untuk mendorong minat siswa dalam membaca [1], [2]. Terkait pemahaman baca, peserta didik diharapkan mampu menyebutkan tokoh utama, latar, dan alur sederhana dari buku yang telah dibaca [12]. Pada keterampilan menulis, peserta didik dapat menuliskan kembali ringkasan cerita atau 3–5 kalimat sederhana berdasarkan isi buku yang dibaca dengan ejaan yang benar [13]. Untuk pengayaan kosakata, peserta didik mampu menemukan dan mengartikan kosakata baru dari bacaan dengan bimbingan guru [14].
Rencana pembelajaran ini memanfaatkan pojok baca kelas untuk melatih keterampilan literasi baca-tulis siswa kelas 2 SD melalui pendekatan diferensiasi dan bermain sambil belajar [15]. Urutan aktivitas dan pembagian waktu dilakukan selama 60 menit, yang diawali dengan kegiatan pendahuluan (10 menit) meliputi penyambutan, doa, dan apersepsi. Guru menunjukkan sampul sebuah buku cerita menarik (misalnya Kancil dan Buaya) dan memberikan teka-teki singkat terkait isinya. Kolaborasi yang efektif dengan guru dapat menjadi kunci kesuksesan dalam meningkatkan literasi membaca di sekolah atau komunitas [3].
Kegiatan inti (40 menit) dilakukan dengan eksplorasi mandiri (15 menit), di mana siswa mengambil buku di pojok baca secara tertib dan bebas memilih tempat duduk yang nyaman (di karpet atau kursi). Selanjutnya, dilakukan diskusi singkat (10 menit) dengan menunjuk 2-3 siswa secara acak untuk menceritakan kembali inti cerita secara lisan. Kemudian dilanjutkan dengan aktivitas baca-tulis (15 menit), di mana siswa kembali ke meja masing-masing dan menuliskan 1-3 kalimat sederhana mengenai tokoh favorit atau pesan moral ke dalam buku jurnal literasi.
Kegiatan penutup (10 menit) diisi dengan menuliskan judul buku pada selembar kertas berbentuk daun untuk ditempelkan di "Pohon Literasi", diakhiri dengan kesimpulan dan pemberian stiker bintang bagi siswa yang paling aktif. Media dan bahan pembelajaran terdiri dari buku cerita fiksi bergambar, komik edukasi, majalah anak, buku jurnal literasi, pohon literasi, dan kartu kata. Indikator keberhasilan desain pembelajaran ini diukur melalui keaktifan dan antusiasme siswa dalam memilih buku, karena individu yang memiliki minat baca akan merasa tertarik dan terlibat secara emosional dalam proses membaca [4], [5].
Implementasi pojok baca di kelas 2 SD dilaksanakan melalui tiga tahapan utama: perencanaan, pelaksanaan berupa pembiasaan membaca 15 menit sebelum pembelajaran, dan evaluasi berkala. Salah satu ciri khas minat baca adalah adanya perasaan senang atau kesenangan terhadap kegiatan membaca [6]. Penyesuaian implementasi dilakukan dengan menggunakan buku cerita bergambar berteks pendek dan huruf besar agar sesuai dengan tahap membaca kelas rendah, serta mengatur jadwal gilir kunjung agar tidak terjadi penumpukan siswa. S
ebagian besar siswa merasa senang dan penasaran dengan buku-buku bergambar, serta mulai terbiasa menuliskan kalimat sederhana dan mencari arti kosakata baru. Namun, hambatan yang muncul meliputi terbatasnya jumlah dan variasi buku bacaan, kurangnya ketertiban siswa saat mengembalikan buku, serta masih adanya siswa yang belum lancar membaca. Hambatan ini diatasi melalui rotasi buku, penerapan program One Child One Book, penyepakatan aturan kelas, serta pendampingan membaca secara personal. Evaluasi dilakukan menggunakan tes unjuk kerja (membaca nyaring dan menulis) serta observasi sikap.
Tabel 1. Indikator observasi
Secara umum, pojok baca memberikan dampak positif terhadap keterampilan literasi. Kelancaran membaca, intonasi, dan kemampuan menjawab pertanyaan dasar mengalami kemajuan. Pada keterampilan menulis, siswa mampu menyusun kalimat sederhana dengan ejaan yang lebih rapi dan kosakata yang lebih bervariasi. Minat membaca juga menjadi tinggi, di mana siswa antusias memanfaatkan waktu istirahat untuk membaca di kelas. Berdasarkan penelitian terdahulu, pojok baca memiliki dampak yang signifikan pada peningkatan minat baca siswa [7].
Efektivitas pembelajaran pojok baca di kelas 2 SD terlihat dari daya tarik visual desain fasilitas dan keberhasilan membentuk rutinitas membaca mandiri 15 menit sebelum pelajaran. Namun, beberapa hal masih belum optimal, seperti keterbatasan variasi buku yang membuat siswa cepat bosan. Pernyataan ini sejalan dengan penelitian Zulaikhoh (2022) yang menyatakan bahwa kurangnya koleksi buku dapat mengurangi minat baca [8]. Tantangan lainnya mencakup rendahnya kemampuan menceritakan kembali isi bacaan, keengganan siswa yang belum lancar membaca untuk bergabung, serta waktu yang sempit sehingga rawan menyebabkan kegaduhan jika tidak didampingi dengan ketat. Rencana perbaikan yang akan dilakukan meliputi rotasi buku dari perpustakaan pusat setiap minggu, penerapan metode membaca berpasangan dengan guru, penggantian tugas resensi tulisan dengan tugas mewarnai atau menggambar sampul buku bagi kelas rendah, dan penerapan sistem reward (pohon bintang literasi) untuk apresiasi aktivitas membaca. Seluruh data pengamatan dan hasil karya siswa tetap dianonimkan dan digunakan secara bertanggung jawab demi menjaga privasi siswa sesuai etika pembelajaran yang berlaku.
Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Implementasi Pembelajaran berjudul “Penggunaan Pojok Baca untuk Meningkatkan Keterampilan Literasi Baca Tulis di Kelas 2 Sekolah Dasar” tepat pada waktunya. Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kepala Sekolah Dasar Negeri Sekipi Kabupaten Lampung Utara yang telah memberi dukungan dan izin untuk dijadikan bahan penulis. Penulis menerima kritik dan saran yang membangun agar laporan ini bermanfaat bagi para pembaca.
W. D. Anugrah, A. F. Saufa, and H. Irnadianis, “Peran pojok baca dalam menumbuhkan minat baca masyarakat Dusun Ngrancah,” J. Pustaka Budaya, vol. 9, no. 2, pp. 93–98, 2022.
Seniani, “Pemanfaatan pojok baca untuk meningkatkan minat baca siswa di SD Negeri 1 Menanga,” J. Pendidik. Dasar Rare Pustaka, vol. 5, no. 1, pp. 17–23, 2023.
Kisyani and Laksono, Guru sebagai Teladan Literasi. Jakarta, Indonesia: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2021.
H. Wijaya, M. Lisda, I. T. J. Weismann, T. Supartini, and E. Tari, “Persepsi mahasiswa mengenai beban tugas membaca terhadap minat baca mahasiswa,” PEADA’: J. Pendidik. Kristen, vol. 2, no. 1, pp. 31–55, 2021.
Y. B. Mulyadi, “Pendekatan motivasional orang tua dalam menumbuhkan minat baca anak,” Dunia Anak: J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 5, no. 2, pp. 1–14, 2022.
R. G. T. Ama, “Minat baca siswa ditinjau dari persepsi keterlibatan orang tua dalam pendidikan,” Edunesia: J. Ilm. Pendidik., vol. 2, no. 1, pp. 219–229, 2021.
M. Rofi’uddin and Hermintoyo, “Pengaruh pojok baca terhadap peningkatan minat baca siswa di SMP,” J. Ilmu Perpustakaan, vol. 6, no. 1, pp. 281–290, 2021.
S. A. Zulaikhoh, “Siswa literat melalui pemanfaatan pojok baca,” in Pros. Konf. Nas. PD-PGMI Se-Indonesia, Yogyakarta, Indonesia, 2022.
A. Rahman and S. Yuliani, “Pentingnya literasi dasar pada anak kelas rendah,” J. Pendidik. Anak, vol. 10, no. 2, pp. 115–125, 2022.
B. S. Nugroho, “Manajemen pojok baca di sekolah dasar,” J. Pendidik. Dasar, vol. 4, no. 1, pp. 30–41, 2021.
C. Wulandari and M. Yusuf, “Peningkatan keterampilan membaca permulaan melalui media cerita,” J. Ilm. Pendidik., vol. 7, no. 3, pp. 210–222, 2023.
D. Haryanto, “Peran guru dalam pembiasaan literasi anak di sekolah,” J. Guru Dasar, vol. 18, no. 1, pp. 45–55, 2022.
E. Mulyana, “Lingkungan kaya teks di kelas awal sekolah dasar,” J. Pedagogi, vol. 5, no. 2, pp. 100–112, 2023.
F. Akbar and T. Hidayat, “Evaluasi pembelajaran literasi baca tulis,” J. Evaluasi Pendidik., vol. 9, no. 1, pp. 67–78, 2021.
G. Pratiwi, “Keterlibatan orang tua dan guru dalam pengembangan literasi anak,” J. Inov. Pembelajaran, vol. 6, no. 4, pp. 320–335, 2024.