Mulyadi (1), Kemil Wachidah (2)
General Background Indonesia possesses vast cultural and religious variations requiring early integration within school curricula to foster societal harmony. Specific Background Sixth-grade lessons frequently rely heavily on conventional teacher explanations, causing students to become passive and hesitant to express personal opinions regarding tolerance. Knowledge Gap Although modern schools provide digital facilities like touch-screen technology, their optimization as collaborative media to build civic norms remains severely underutilized. Aims This study describes the integration of digital display panels with a cooperative thought-sharing model to foster respect for diverse backgrounds among twenty students. Results The implementation transformed passive listening into active visual collaboration, raising student participation rates from 38 percent to approximately 92 percent. Furthermore, conceptual understanding of tolerance and daily cultural awareness escalated from an initial 38 percent to 85 percent following the intervention. Novelty Combining structured paired discussions with large-scale digital screens bridges the gap between abstract civic concepts and tangible, participatory collaboration. Implications Educators should maximize available visual technologies paired with cooperative frameworks to make civic learning more inclusive and engaging.
Highlights:
The integration of an Interactive Flat Panel and Think-Pair-Share models raised active participation to 92 percent.
Students' conceptual grasp of cultural and religious differences escalated to 85 percent post-intervention.
Combining visual technology with collaborative stages resolved student hesitancy in expressing personal opinions.
Keywords: Interactive Flat Panel, Think Pair Share, Civic Education, Cultural Tolerance, Cooperative Learning
Konteks pelaksanaan pembelajaran ini adalah mata pelajaran Pendidikan Pancasila/PKN kelas VI sekolah dasar pada materi menghormati perbedaan budaya dan agama dalam kehidupan sehari-hari [10]. Indonesia memiliki keberagaman budaya, agama, bahasa, dan kebiasaan sosial yang perlu dipahami sejak sekolah dasar agar peserta didik mampu hidup rukun dalam masyarakat yang majemuk [1], [2].
Berdasarkan observasi awal, pembelajaran masih didominasi metode ceramah sehingga peserta didik cenderung pasif, kurang berani menyampaikan pendapat, dan belum sepenuhnya mampu menghubungkan konsep toleransi dengan perilaku sehari-hari [11]. Sekolah telah memiliki fasilitas pembelajaran digital seperti Interactive Flat Panel (IFP), tetapi pemanfaatannya belum optimal sebagai media interaktif yang melibatkan peserta didik secara langsung [3], [4].
Dengan jumlah peserta didik 20 orang, pembelajaran kooperatif dinilai sesuai karena memungkinkan setiap peserta didik memperoleh kesempatan berpikir, berdiskusi, dan menyampaikan gagasan. Model Think-Pair-Share (TPS) dipilih untuk menata interaksi kelas secara bertahap: peserta didik berpikir mandiri, mendiskusikan jawaban dengan pasangan, lalu membagikan hasilnya di depan kelas menggunakan IFP [5], [6].
Tujuan implementasi pembelajaran ini adalah:
1. Mendeskripsikan penerapan IFP sebagai media pembelajaran interaktif pada materi menghormati perbedaan budaya dan agama [12].
2. Menjelaskan strategi penerapan TPS pada kelas VI dengan 20 peserta didik [13].
3. Meningkatkan partisipasi aktif peserta didik melalui tahap think, pair, dan share [14].
4. Meningkatkan pemahaman konsep peserta didik tentang toleransi, sikap saling menghormati, dan penghargaan terhadap keberagaman [15].
5. Mendeskripsikan respons peserta didik terhadap penggunaan IFP dalam pembelajaran PKN.
Rencana pembelajaran dirancang dalam satu siklus diskusi Think-Pair-Share (TPS) dengan memanfaatkan Interactive Flat Panel (IFP) sebagai pusat visualisasi dan interaksi. Pembelajaran ditutup dengan exit ticket singkat untuk memperoleh data formatif mengenai pemahaman dan pengalaman belajar peserta didik.
Strategi dan Alur Kegiatan
Media IFP berisi gambar keragaman budaya Indonesia, contoh tempat ibadah, potongan video pendek, dan kolom digital untuk menulis jawaban peserta didik. Pertanyaan pemantik disusun sederhana agar peserta didik dapat mengaitkan pengalaman pribadi dengan nilai toleransi dan penghormatan terhadap perbedaan [7]. Exit ticket disusun ringkas untuk mengetahui pemahaman konsep, pengalaman belajar, dan pertanyaan yang masih tersisa [8]. Indikator keberhasilan ditetapkan apabila minimal 75% peserta didik aktif bertanya atau menjawab, memahami konsep dasar toleransi, dan dapat memberi contoh sikap menghormati perbedaan. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengatur giliran, menjaga suasana diskusi, dan memastikan semua peserta didik memperoleh kesempatan berpartisipasi [9].
Seluruh data pembelajaran direkap secara agregat dan anonim tanpa mencantumkan nama, NISN, foto wajah, atau identitas pribadi peserta didik (Etika dan Privasi). Publikasi praktik pembelajaran dilakukan dengan izin pihak sekolah/atasan dan digunakan untuk kepentingan pengembangan pembelajaran. Pembelajaran juga memperhatikan etika keberagaman. Guru memastikan bahwa pembahasan budaya dan agama dilakukan dengan bahasa yang menghormati semua kelompok, tidak membandingkan secara merendahkan, dan mendorong peserta didik untuk menunjukkan sikap toleran dalam diskusi.
Implementasi diawali dengan persiapan materi visual mengenai keragaman budaya dan agama di Indonesia pada IFP. Guru membuka pembelajaran dengan menampilkan video singkat dan gambar budaya daerah untuk memancing rasa ingin tahu peserta didik. Pada tahap ini, peserta didik mulai menyebutkan contoh keragaman yang mereka kenal dari lingkungan sekitar.
Pada tahap Think, peserta didik diminta menulis jawaban secara mandiri terhadap pertanyaan pemantik yang ditampilkan di IFP. Tahap ini membantu peserta didik menyiapkan gagasan sebelum berdiskusi. Pada tahap Pair, peserta didik berdiskusi berpasangan. Guru berkeliling memberi bimbingan, terutama kepada pasangan yang masih menuliskan contoh tanpa alasan yang jelas.
Pada tahap Share, setiap pasangan atau kelompok kecil bergiliran maju ke depan kelas dan menuliskan jawabannya langsung di layar IFP. Aktivitas ini membuat peserta didik lebih antusias karena mereka dapat menulis, menunjuk gambar, dan menjelaskan gagasan secara visual. Beberapa jawaban masih perlu diluruskan, khususnya ketika peserta didik belum membedakan antara contoh budaya dan contoh agama. Guru kemudian melakukan klarifikasi melalui diskusi kelas.
Setelah kegiatan berbagi, peserta didik mengisi exit ticket. Mereka menuliskan contoh keragaman, hal yang paling menarik dari pembelajaran, serta pertanyaan yang masih membuat penasaran. Hasil exit ticket menunjukkan bahwa peserta didik lebih mudah memahami konsep keberagaman ketika materi ditampilkan secara visual dan dibahas melalui kerja sama. Kendala yang muncul adalah waktu Think yang terasa singkat bagi beberapa peserta didik dan antusiasme berlebih saat berebut giliran maju ke IFP, sehingga guru perlu mengatur giliran secara lebih tertib.
Penilaian menggunakan tiga sumber data, yaitu checklist partisipasi lisan, rubrik mini exit ticket, dan catatan miskonsepsi dari refleksi peserta didik. Rekap penilaian dibuat secara agregat tanpa menampilkan identitas peserta didik [7], [8].
Tabel 1. Indikator Keberhasilan
Tabel 2. Hasil Implementasi (Agregat)
Secara umum, integrasi IFP dengan TPS meningkatkan perhatian, partisipasi, dan pemahaman peserta didik terhadap materi menghormati perbedaan budaya dan agama. Peserta didik lebih percaya diri menyampaikan pendapat karena memperoleh waktu berpikir mandiri, dukungan pasangan, dan media visual yang membantu menjelaskan contoh konkret.
Refleksi menunjukkan bahwa penggunaan IFP dengan model TPS efektif membuat pembelajaran PKN lebih hidup dan interaktif. Peserta didik tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga berpikir, berdiskusi, menulis jawaban, dan mempresentasikan gagasan. Kegiatan ini membantu peserta didik memahami bahwa menghormati perbedaan bukan sekadar konsep, melainkan perilaku yang dapat dilakukan di sekolah, rumah, dan masyarakat [9].
Namun, terdapat beberapa kendala. Waktu tahap Think perlu ditambah karena sebagian peserta didik membutuhkan waktu lebih lama untuk menuliskan alasan. Selain itu, antusiasme siswa yang tinggi menyebabkan mereka berebut ingin maju ke IFP, sehingga guru perlu mengatur giliran secara lebih tertib.
Rencana Perbaikan:
1. Menambah waktu tahap Think dari 3 menit menjadi 4-5 menit agar peserta didik memiliki waktu berpikir yang lebih cukup.
2. Membuat jadwal giliran presentasi di IFP menggunakan nomor undian atau kartu kelompok agar suasana lebih tertib.
3. Memberikan penguatan remedial singkat bagi peserta didik yang masih bingung membedakan contoh budaya dan agama.
4. Menambahkan video pendek tentang suku bangsa, rumah adat, bahasa daerah, dan tempat ibadah untuk memperkaya contoh visual.
5. Menyediakan bank kalimat refleksi agar peserta didik lebih mudah menulis alasan sikap toleransi dalam exit ticket.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi atas dukungan melalui program Beasiswa Guru RPL. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, dan dosen pembimbing Kemil Wachidah, M.Pd., atas arahan dan dukungan akademik. Terima kasih kepada kepala sekolah, rekan guru, dan peserta didik yang telah memberikan izin, fasilitas, dan dukungan selama implementasi pembelajaran ini.
M. M. Adha, D. R. Perdana, and Supriyanto, “Nilai pluralistik: Eksistensi jatidiri bangsa Indonesia,” J. Civic Hukum, vol. 6, no. 1, pp. 10–20, 2021.
E. Digdoyo, “Kajian isu toleransi beragama, budaya, dan tanggung jawab sosial media,” J. Pancasila dan Kewarganegaraan, vol. 3, no. 1, pp. 42–59, 2021.
E. Djuniasih and A. Kosasih, “Penerapan karakter toleransi beragama pada masyarakat pluralis,” J. Pendidik. Karakter, vol. 10, no. 1, pp. 1–11, 2021.
M. R. Effendi, Y. D. Alfauzan, and M. H. Nurinda, “Menjaga toleransi melalui pendidikan multikulturalisme,” Al-Mutharahah, vol. 18, no. 1, pp. 43–51, 2021.
A. I. Fadli and Warsono, “Batasan toleransi antarumat agama dalam kehidupan sehari-hari,” J. Civics Moral Stud., vol. 4, no. 1, pp. 21–28, 2021.
A. Akhmadi, “Moderasi beragama dalam keberagaman Indonesia,” J. Diklat Keagamaan, vol. 13, no. 2, pp. 45–55, 2022.
S. Arikunto, Penelitian Tindakan Kelas: Edisi Revisi. Jakarta, Indonesia: Bumi Aksara, 2021.
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2022.
A. Arsyad, Media Pembelajaran. Jakarta, Indonesia: Rajawali Pers, 2021.
M. Huda, Model-Model Pembelajaran Interaktif. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar, 2021.
R. E. Slavin, Educational Psychology: Theory and Practice. Boston, MA, USA: Pearson, 2024.
D. Kurniawan, Asesmen Kompetensi Dasar di SD. Bandung, Indonesia: Remaja Rosdakarya, 2024.
H. D. Brown, Teaching by Principles. New York, NY, USA: Pearson, 2022.
J. W. Creswell, Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating. London, U.K.: Pearson, 2023.
R. Marzano, The New Art and Science of Teaching. Bloomington, IN, USA: Solution Tree Press, 2021.