Login
Section Elementary Education Method

Project Based Learning Application For Enhancing Elementary Pancasila Education Outcomes

Aplikasi Pembelajaran Berbasis Proyek Untuk Meningkatkan Hasil Pendidikan Pancasila Dasar
Vol. 21 No. 4 (2026): November:

Sinar Dewi Rahayu (1), Mahardika Darmawan Kusuma Wardana (2)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Pancasila Education aims to cultivate foundational civic understanding, particularly regarding fundamental rights and responsibilities within familial structures. Specific Background Third-grade students frequently demonstrate passive rote memorization rather than practical comprehension of their domestic obligations, resulting in stagnant learning outcomes. Knowledge Gap Current literature lacks empirical evaluations of applying structured Project-Based Learning specifically adapted for contextual domestic rights education in third-grade settings. Aims This study investigates the application of the Project-Based Learning model to improve both conceptual understanding and learning outcomes regarding domestic rights and obligations among third-grade students. Results The intervention facilitated active collaborative projects, such as creating a "Responsibility Tree," which translated abstract civic concepts into tangible routines. Following the intervention, the class average score improved substantially from 62.5 to 81.0, and the classical completeness rate escalated from 45 percent to 85 percent. Novelty This implementation demonstrates that replacing passive lecture methods with collaborative, visually structured civic projects significantly contextualizes domestic obligations for early-stage learners. Implications Primary school educators should embed tangible project methodologies into civic education curricula to transform theoretical rights and duties into actionable, understood daily practices.


Highlights:




  • The intervention raised classical completeness rates in civic understanding from 45 percent to 85 percent.




  • Students successfully conceptualized abstract domestic obligations through collaborative visual projects like the Responsibility Tree.




  • Applying structured project methodologies effectively eliminated passive rote memorization in early civic education.




Keywords: Project Based Learning, Pancasila Education, Domestic Obligations, Elementary Education, Learning Outcomes

I. Pendahuluan

Hasil observasi penulis pada kelas 3 di Sekolah Dasar Negeri Gilih Suka Negeri Kabupaten Lampung Utara terdapat siswa cenderung bersifat monoton dan berpusat pada guru (teacher-centered) [10]. Siswa hanya menghafal teori tanpa memahami makna hak dan kewajiban mereka di rumah (seperti membantu orang tua atau merapikan tempat tidur). Hal ini menyebabkan rendahnya keaktifan, pemahaman konsep, dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila. Problem Based Learning ini adalah pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi peserta didik untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah serta memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari materi pelajaran (Eismawati, 2021) [1].

Implementasi model pembelajaran berbasis proyek ini dirancang agar siswa dapat mencapai tujuan berikut: Pemahaman konsep, siswa mampu mengidentifikasi dan membedakan antara hak dan kewajiban sebagai anggota keluarga di rumah dengan tepat [11]. Keterampilan praktis, siswa mampu merancang dan membuat karya sederhana (seperti "Pohon Kesepakatan" atau "Jadwal Kegiatanku di Rumah") secara kolaboratif bersama kelompok. Peningkatan hasil belajar, melalui keaktifan dalam menyelesaikan proyek dunia nyata, diharapkan nilai kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa meningkat dan mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah [12]. Menurut penelitian Putra dkk. (2024) menemukan bahwa ketiadaan media yang mampu menarik perhatian dan membangkitkan rasa ingin tahu siswa menjadi salah satu alasan utama mengapa proses pembelajaran berlangsung tanpa gairah [2].

II. Metode

Desain pembelajaran (Langkah-langkah model PjBL) dimulai kegiatan pendahuluan (20 Menit) dimana guru mengucapkan salam, berdoa, dan mengecek kehadiran siswa di kelas [13]. Selanjutnya dilakukan apersepsi, dimana guru menayangkan gambar kegiatan di rumah (misalnya: merapikan tempat tidur dan anak yang sedang belajar dibantu orang tua). Guru bertanya: "Apa yang kalian lakukan jika tempat tidur berantakan?" Kemudian dilanjutkan kegiatan motivasi, guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

Kegiatan Inti (120 Menit) yang terdiri dari 6 tahapan diantaranya, penentuan pertanyaan mendasar selama 15 Menit, dimana guru memberikan pertanyaan pemantik kepada siswa: "Siapa yang tahu apa saja kewajiban kita saat di rumah? Apa yang akan kita dapatkan setelah melakukannya?". Selanjutnya menyusun perencanaan proyek selama 20 Menit, dimana guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok. Siswa dan guru merancang jadwal pembuatan proyek Pohon Tanggung Jawabku (sebuah bagan/pohon kreatif dari kertas karton yang berisi daun-daun catatan kewajiban dan hak). Kemudian dilanjutkan menyusun jadwal pembuatan selama 10 Menit, dimana guru dan siswa menyepakati alokasi waktu penyelesaian proyek (misal: pengerjaan selesai dalam waktu 45 menit dan sisa waktu untuk persiapan presentasi). Selanjutnya memantau peserta didik dan kemajuan proyek selama 45 Menit, Siswa bekerja dalam kelompok menggunting bentuk daun, menuliskan daftar kewajiban dan hak, lalu menempelkannya pada gambar pohon yang disediakan. Guru berkeliling memantau dan membimbing setiap kelompok. Kemudian dilanjutkan menguji hasil selama 15 Menit, setiap kelompok melakukan penilaian formatif antar-kelompok untuk memastikan seluruh kewajiban dan hak tertulis dengan benar. Selanjutnya mengevaluasi pengalaman selama 15 Menit, dimana setiap kelompok mempresentasikan hasil proyek Pohon Tanggung Jawabku di depan kelas. Guru memberikan tanggapan, koreksi, dan apresiasi.

Penutup (15 Menit), dilakukan kegiatan refleksi, guru dan siswa menyimpulkan materi pembelajaran dan merefleksikan perasaan selama proses membuat proyek. Kemudian dilakukan kegiatan tindak lanjut, guru memberikan penugasan individu untuk mempraktikkan satu kewajiban di rumah hari ini. Selanjutnya salam penutup, guru memimpin doa penutup dan mengucapkan salam.

Media dan bahan terdiri dari media visual, presentasi power point bergambar (contoh-contoh kewajiban dan hak di rumah). Selanjutnya bahan proyek, seperti kertas karton besar, kertas origami warna-warni (untuk bentuk daun), gunting, lem kertas, spidol warna-warni, dan selotip. Menurut Inawati & Puspasari (2021: 98) fungsi utama dari media pembelajaran adalah sebagai penunjang dalam meningkatkan minat belajar siswa [3]. Kemudian Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yakni lembar panduan penulisan kewajiban dan hak. Media pembelajaran adalah sebuah perantara yang digunakan dalam proses pembelajaran oleh seorang guru untuk memaparkan informasi dan pesan dari materi yang ingin disampaikan kepada siswa agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal (Dewi, Murtinugraha & Arthur, 2021: 29) [4].

Pembelajaran dikatakan berhasil apabila memenuhi indikator sebagai berikut: Indikator sikap, siswa menunjukkan sikap disiplin, tanggung jawab, dan percaya diri selama proses diskusi dan presentasi berlangsung. Selanjutnya indikator kognitif, siswa mampu mengidentifikasi dan membedakan minimal 3 contoh kewajiban dan 3 contoh hak di rumah dengan benar. Prasetyo, Sari, dan Haryadi (2021) menemukan bahwa kecenderungan siswa SD untuk mencampuradukkan kedua konsep tersebut bukan semata-mata karena keterbatasan kognitif usia mereka, melainkan lebih banyak disebabkan oleh ketiadaan contoh konkret yang memadai dalam proses pembelajaran [5]. Kemudian indikator psikomotorik/keterampilan, dimana siswa mampu menyajikan karya kreatif Pohon Tanggung Jawabku dengan rapi, terstruktur, dan mempresentasikannya dengan bahasa yang santun.

Jika memuat dokumentasi kelas, skor siswa, kutipan jawaban siswa, atau data lain yang sensitif, identitas siswa harus dianonimkan (Etika dan Privasi). Penulis juga harus memastikan bahwa penggunaan data kelas dilakukan secara bertanggung jawab.

III. Hasil dan Pembahasan

Implementasi Project Based Learning (PjBL) pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila kelas III menekankan pembelajaran bermakna dengan memberikan tugas proyek nyata, seperti menyusun "Bagan kesepakatan hak dan kewajiban di rumah". Menurut Sanjaya, Dewantara, dan Kartini (2022) membuktikan bahwa penerapan Problem Based Learning (PBL) secara konsisten mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam menganalisis permasalahan hak dan kewajiban berbasis nilai Pancasila [6].

Jalannya kegiatan (sintaks PjBL) diawali pertanyaan mendasar, dimana guru memulai dengan mengajukan pertanyaan esensial, "Apa yang terjadi jika di rumah tidak ada pembagian tugas dan aturan?". Selanjutnya perencanaan proyek, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, lalu merancang jadwal dan bahan pembuatan bagan hak dan kewajiban. Kemudian penyusunan jadwal, dimana guru dan siswa menyepakati tenggat waktu pengerjaan proyek (misalnya penyelesaian di kelas selama 2 x 35 menit). Pada pelaksanaan proyek, siswa bekerja sama menggunting, menempel gambar/foto kegiatan, dan menuliskan daftar hak dan kewajibannya. Dilanjutkan presentasi, dimana setiap kelompok mempresentasikan hasil bagan di depan kelas. Selanjutnya evaluasi, guru dan siswa merefleksikan proses pengerjaan proyek dan pemahaman materi.

Penyesuaian yang dilakukan dalam pembelajaran diantaranya tentang waktu dimana alokasi waktu pengerjaan proyek seringkali lebih lama dari rencana awal, sehingga guru memberikan tambahan waktu di luar jam pelajaran atau membaginya ke dalam beberapa pertemuan. Kemudian diferensiasi, dimana guru memberikan kebebasan dalam bentuk proyek. Siswa yang kesulitan menulis dapat menggunakan lebih banyak gambar/simbol, sementara siswa yang lebih mahir didorong membuat rincian kalimat yang lebih kompleks.

Didalam pembelajaran bisa terlihat respons siswa yang menunjukkan antusiasme dan keterlibatan aktif. Mereka lebih mudah memahami konsep abstrak (hak dan kewajiban) ketika dikaitkan langsung dengan rutinitas harian mereka di rumah. Kemudian kerja sama tim pada awalnya kurang merata, namun tumbuh secara bertahap selama proses pengerjaan.

Adapun hambatan yang sering kali muncul masih terdapat anggota kelompok yang pasif dan membiarkan satu atau dua siswa pintar mengerjakan seluruh tugas. Selanjutnya manajemen kelas, suasana kelas menjadi cenderung gaduh dan kurang kondusif saat proses diskusi dan pembuatan proyek berlangsung. Kemudian sering juga beberapa siswa kesulitan membedakan antara hak dan kewajiban, misalnya tertukar antara apa yang harus dilakukan dan apa yang harus diterima. Wahyu Azim Utomo dkk. (2023) berhasil menunjukkan adanya keterkaitan antara rendahnya pemahaman hak-kewajiban dengan lemahnya karakter disiplin yang terbentuk pada diri siswa [7].

Berikut cara mengatasi hambatan dalam pembelajaran, guru menerapkan penilaian keaktifan individu dan membagi peran spesifik untuk masing-masing anggota kelompok (misalnya ketua, penulis, dan pemapar). Kemudian pada Pembagian Lembar Kerja (LKPD), guru menyebarkan LKPD panduan pra-proyek untuk memastikan setiap siswa telah memahami perbedaan hak dan kewajiban sebelum menyusun proyek. Selanjutnya mengatasi manajemen waktu dan ruang, dimana guru menetapkan aturan tegas terkait batas waktu dan suara, serta bergerak aktif membimbing kelompok yang terlihat pasif atau mengalami kesulitan.

Evaluasi pelaksanaan PjBL pada materi Kewajiban dan Hak di Rumah ini menggunakan tiga instrumen utama: tes tertulis untuk pengetahuan, lembar observasi untuk sikap, dan rubrik kinerja/proyek untuk keterampilan. Model pembelajaran berbasis proyek ini terbukti efektif meningkatkan pemahaman konseptual dan kesadaran praktis siswa terhadap nilai-nilai Pancasila. Hal tersebut sesuai dengan penelitian Puspitarini & Hanif (2021: 59) yang menyatakan bahwa penggunaan media pembelajaran interaktif memiliki pengaruh positif bagi siswa dalam meningkatkan motivasi belajarnya sehingga siswa menjadi lebih tertarik untuk memperhatikan apa yang sedang guru sampaikan [8].

Instrumen penilaian yang diukur terdapat Tes Tertulis (Aspek Kognitif) yang diukur yaitu pemahaman konsep siswa mengenai perbedaan dan pelaksanaan kewajiban dan hak di lingkungan rumah. Kemudian Lembar Observasi / Jurnal Sikap (Aspek Afektif) yang diukur, pada karakter dan profil pelajar pancasila, seperti tanggung jawab, gotong royong saat mengerjakan proyek bersama, dan sikap disiplin. Menurut Arikunto (2021) yang memiliki empat tahapan yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaaan, (3) pengamatan, (4) refleksi [9]. Selanjutnya pada rubrik penilaian proyek (aspek psikomotorik / keterampilan) yang diukur yaitu kreativitas dan kualitas hasil karya proyek (misal "Pohon Tanggung Jawabku" atau "Jadwal Harian Kewajiban dan Hak"), kerapian, dan kemampuan mempresentasikan hasil di depan kelas.

Hasil penilaian dibaca terdapat dua aspek diantaranya aspek kognitif, dimana skor tes dievaluasi menggunakan skala 0 hingga 100. Keberhasilan klasikal dibaca dari beberapa siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) atau standar kelulusan yang telah ditetapkan sekolah. Kemudian yang kedua aspek sikap dan keterampilan, dinilai menggunakan skala rubrik tertentu (misalnya rentang skor 1 sampai 4). Nilai akhir merupakan akumulasi perolehan skor yang dikategorikan menjadi Sangat Baik, Baik, Cukup, atau Kurang.

Tabel 1. perbandingan hasil belajar siswa kelas III sebelum dan sesudah menggunakan model Project Based Learning (PjBL)

Temuan singkat pelaksanaan yang berdasarkan pelaksanaan Project Based Learning (PjBL) pada materi hak dan kewajiban di rumah, ditemukan bahwa siswa Kelas III SD lebih antusias dan mudah memahami materi. Belajar sambil membuat proyek secara langsung (kontekstual) membantu siswa mempraktikkan konsep hak dan kewajiban nyata di rumah, sekaligus menumbuhkan kerjasama dan tanggung jawab sosial.

IV. Simpulan

Berikut adalah evaluasi dan refleksi pembelajaran yang berfokus pada efektivitas, hambatan, serta rencana perbaikan untuk materi Kewajiban dan Hak di Rumah dengan model Project Based Learning (PjBL) di kelas III diantaranya.

Efektifitas dalam pembelajaran antara lain keaktifan dan antusiasme siswa, pada pembuatan proyek sederhana (seperti "Pohon Disiplin" atau "Jadwal Kegiatanku") berhasil memicu partisipasi aktif dan kreativitas siswa kelas III dibandingkan metode ceramah. Menurut Hamzah, Sukardi, dan Surmilasari (2022) melaporkan bahwa proses pembelajaran yang berlangsung secara searah dari guru ke siswa menempatkan peserta didik sebagai penerima pasif tanpa ruang untuk mengeksplorasi, bertanya, atau mengaitkan materi dengan pengalaman mereka sendiri [10]. Kemudian pembuatan konsep kontekstual, dimana siswa lebih mudah memahami nilai-nilai Pancasila karena mereka langsung mengaitkan materi hak dan kewajiban dengan rutinitas kehidupan nyata mereka di rumah. Selanjutnya kolaborasi kelompok, diskusi dalam kelompok kecil melatih sikap saling menghargai dan tanggung jawab antar anggota kelompok selama proses pengerjaan proyek.

Adapun hal yang belum optimal yaitu manajemen waktu, sintak PjBL seringkali memakan waktu lebih lama dari alokasi yang direncanakan. Akibatnya, sesi presentasi hasil proyek dan penyimpulan materi menjadi terburu-buru. Selanjutnya keterlibatan individu yang tidak merata, masih ada siswa pasif yang hanya mengandalkan teman sekelompoknya selama pengerjaan proyek. Kemudian pemahaman konsep esensial, fokus siswa terkadang terlalu tertuju pada aspek estetika (menghias proyek) dan mengesampingkan pemahaman inti terkait substansi hak dan kewajiban moral mereka.

Rencana perbaikan untuk implementasi selanjutnya yaitu Pada penyusunan timeline yang jelas, membuat panduan jadwal kerja (rencana aksi) bertahap yang lebih terperinci untuk setiap fase pembuatan proyek dengan batasan waktu yang tegas [14]. Selanjutnya optimalisasi peran (scaffolding), memberikan rubrik penilaian khusus untuk keaktifan individu dan menetapkan peran khusus bagi setiap anggota kelompok (misalnya: ketua, pencatat, dan presentator) untuk memastikan semua siswa terlibat [15]. Kemudian yang terakhir fokus pada refleksi konsep, menambahkan rubrik untuk penilaian keterampilan sosial dan mengalokasikan waktu yang cukup untuk sesi presentasi, di mana kelompok lain wajib memberikan tanggapan. Guru harus lebih membimbing siswa untuk merefleksikan kembali esensi materi setelah proyek selesai.

Ucapan Terima Kasih

Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Implementasi Pembelajaran berjudul “Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila Materi Kewajiban dan Hak di Rumah Melalui Model Project Based Learning pada Siswa Kelas III Sekolah Dasar” tepat pada waktunya. Penyusun Laporan Implementasi Pembelajaran ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kepala Sekolah SDN Gilih Suka Negeri Kabupaten Lampung Utara yang telah memberi dukungan dan ijin untuk dijadikan bahan penulis. Penulis menyadari bahwa Laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis menerima kritik dan saran yang membangun. Semoga Laporan ini bermanfaat bagi pembaca.

References

E. Eismawati, H. D. Koeswanti, and E. H. Radia, “Peningkatan hasil belajar matematika melalui model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) siswa kelas 4 SD,” J. Mercumatika: J. Penelitian Matematika dan Pendidikan Matematika, vol. 3, no. 2, pp. 71–78, 2021.

N. L. J. Putra, D. L. Putri, K. Wahyuningsih, and H. S. Iriansyah, “Analisis pemahaman hak dan kewajiban pada pelajaran PKN kelas IV di SDIT Al Kautsar,” J. Ilm. PGSD, vol. 6, no. 1, 2024.

A. Inawati and D. Puspasari, “Pengembangan media pembelajaran interaktif game ular tangga berbasis Unity 3D pada mata pelajaran kearsipan kelas X OTKP di SMKN 4 Surabaya,” J. Pendidik. Adm. Perkantoran (JPAP), vol. 9, no. 1, pp. 96–108, 2021.

N. Dewi, R. E. Murtinugraha, and R. Arthur, “Pengembangan media pembelajaran interaktif pada mata kuliah teori dan praktik plambing di program studi S1 PVKB UNJ,” J. Pensil: Pendidik. Tek. Sipil, vol. 7, no. 2, pp. 95–104, 2021.

A. W. Prasetyo, M. N. Sari, and T. Haryadi, “Analisis kesalahan konsep siswa dalam memahami hak dan kewajiban warga negara,” J. Pendidik. Pancasila, vol. 5, no. 2, 2021.

I. M. Sanjaya, J. A. Dewantara, and S. Kartini, “Pengaruh pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada materi hak dan kewajiban,” J. Berpikir Kritis, vol. 4, no. 1, 2022.

W. A. Utomo, F. Refiane, A. A. Nugroho, and Maryati, “Pemahaman hak dan kewajiban untuk meningkatkan kedisiplinan siswa sekolah dasar,” J. Karakter Bangsa, vol. 7, no. 2, 2023.

Y. D. Puspitarini and M. Hanif, “Using learning media to increase learning motivation in elementary school,” Anatolian J. Educ., vol. 4, no. 2, pp. 53–60, 2021.

S. Arikunto, Pengembangan Instrumen Penelitian dan Penilaian Program. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar, 2021.

H. Hamzah, S. Sukardi, and N. Surmilasari, “Analisis hasil belajar siswa pada pembelajaran PKn materi hak dan kewajiban kelas V SD Negeri 35 Palembang,” J. Pendidik. Dasar, vol. 8, no. 1, 2022.

D. Kurniawan, Asesmen Kompetensi Dasar di SD. Bandung, Indonesia: Remaja Rosdakarya, 2024.

H. D. Brown, Teaching by Principles. New York, NY, USA: Pearson, 2022.

J. W. Creswell, Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating. London, U.K.: Pearson, 2023.

R. Marzano, The New Art and Science of Teaching. Bloomington, IN, USA: Solution Tree Press, 2021.

R. E. Slavin, Educational Psychology: Theory and Practice. Boston, MA, USA: Pearson, 2024.