Login
Section Elementary Education Method

Role Playing Application For Concrete Civic Mutual Cooperation Comprehension In Primary Education

Aplikasi Bermain Peran Untuk Pemahaman Gotong Royong Kewarganegaraan Konkret Pada Pendidikan Dasar
Vol. 21 No. 4 (2026): November:

Maneria Dakhi (1), Kemil Wachidah (2)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Civic education in elementary schools aims to instill fundamental social values, including solidarity and mutual cooperation, into young learners. Specific Background Fifth-grade students in disadvantaged areas frequently perceive mutual cooperation strictly as a memorized theoretical concept, severely lacking active participation and direct practice. Knowledge Gap Although civic education emphasizes character building, practical pedagogical approaches that transition abstract social values into concrete, participatory experiences remain insufficiently applied in primary classrooms. Aims This teaching implementation report evaluates the role-playing method's application in enhancing fifth-grade students' comprehension and affective awareness of mutual cooperation. Results A 70-minute classroom implementation involving twenty-one students divided into heterogeneous groups demonstrated significant improvements in active engagement. Assigning specific roles—such as group coordinators, cleaners, and reporters—enabled students to conduct school cleaning simulations using safe tools effectively. The observation results indicated average scores of 85 for both active participation and teamwork, while conceptual understanding through structured reflection achieved an average score of 75. Novelty Integrating explicit role cards and safe physical tools transforms traditional rote civic learning into an experiential, egalitarian, and highly participatory civic exercise. Implications Primary educators should consistently embed structured role-playing simulations within civic curricula to actualize abstract social values and foster authentic collaborative skills among students.


Highlights:




  • The role-playing application shifted civic learning from rote memorization to active student participation.




  • Students demonstrated strong teamwork capabilities by executing specific assigned roles during the simulation.




  • Explicit role cards and structured reflection significantly improved cognitive understanding of mutual cooperation.




Keywords: Civic Education, Role Playing, Mutual Cooperation, Active Participation, Experiential Learning

I. Pendahuluan

Konteks pelaksanaan pembelajaran ini adalah Pendidikan Pancasila kelas V di SD Negeri 077793 Hoso, sebuah sekolah dasar di wilayah daerah tertinggal [10]. Peserta didik berasal dari latar belakang yang majemuk dan hidup dalam lingkungan sosial yang memiliki kearifan lokal berupa solidaritas, saling membantu, dan kerja bersama [11]. Namun, dalam pembelajaran di kelas, nilai gotong royong masih sering dipahami sebagai hafalan, bukan sebagai perilaku yang dapat dipraktikkan secara langsung dalam kehidupan sekolah [4].

Berdasarkan kondisi awal tersebut, guru perlu menggunakan strategi yang membuat peserta didik terlibat secara aktif, mengalami peran sosial, dan merefleksikan makna gotong royong melalui kegiatan nyata. Metode bermain peran dipilih karena memberi ruang bagi peserta didik untuk memahami nilai, menjalankan tugas, berkomunikasi, dan mengambil tanggung jawab dalam situasi yang dekat dengan pengalaman sehari-hari [1], [2].

Tujuan implementasi pembelajaran ini adalah:

1. Meningkatkan pemahaman kognitif peserta didik mengenai hakikat gotong royong.

2. Membangun kesadaran afektif peserta didik mengenai pentingnya saling membantu, empati, dan tanggung jawab.

3. Mengembangkan keterampilan psikomotorik dan sosial melalui simulasi gotong royong di lingkungan sekolah.

4. Mengurangi kejenuhan pembelajaran ceramah dengan kegiatan yang berpusat pada peserta didik.

5. Mendorong seluruh peserta didik memperoleh peran yang setara dalam kelompok.

II. Metode

Rencana pembelajaran dirancang sebagai implementasi kelas berbasis metode bermain peran [5], [6]. Kegiatan dilakukan dalam satu pertemuan 2 x 35 menit dengan simulasi gotong royong membersihkan lingkungan sekolah. Pembelajaran mengutamakan keselamatan, pembagian peran yang jelas, kerja sama kelompok, dan refleksi nilai setelah kegiatan [7].

Strategi dan Alur Kegiatan

  • Pembuka dan apersepsi (10 menit): guru membuka pembelajaran, mengaitkan materi gotong royong dengan pengalaman peserta didik di rumah, sekolah, dan masyarakat, serta menyampaikan tujuan pembelajaran.
  • Pembagian kelompok dan peran (10 menit): 21 peserta didik dibagi menjadi tiga kelompok heterogen. Setiap kelompok mendapatkan peran koordinator, petugas kebersihan, penjaga alat, dan pelapor.
  • Pengenalan alat dan aturan keselamatan (5 menit): guru menjelaskan penggunaan alat kebersihan sederhana seperti sapu, kemoceng, serok sampah, dan tempat sampah. Peralatan berisiko dibatasi dan hanya digunakan dengan pengawasan guru.
  • Simulasi bermain peran (30 menit): peserta didik melakukan aksi gotong royong sesuai peran masing-masing di area sekolah yang telah ditentukan. Diskusi dan evaluasi (10 menit): kelompok menyampaikan pengalaman, hambatan, dan manfaat gotong royong yang mereka rasakan.
  • Refleksi dan penutup (5 menit): peserta didik menjawab pertanyaan refleksi singkat mengenai hal positif yang diperoleh saat bekerja sama.

Desain Media, Peran, dan Exit Ticket

Media yang digunakan berupa kartu peran yang berisi tugas singkat untuk koordinator, anggota kebersihan, penjaga alat, dan pelapor, serta peralatan kebersihan seperti sapu, kemoceng, serok sampah, tempat sampah, dan alat bantu lain yang aman digunakan oleh peserta didik kelas V [8]. Guru menggunakan lembar observasi untuk mencatat keaktifan, kerja sama, kedisiplinan, dan pemahaman peserta didik selama simulasi. Exit ticket 3 menit digunakan agar peserta didik menuliskan satu contoh gotong royong, satu manfaat gotong royong, dan satu perasaan yang muncul setelah bekerja bersama [15]. Indikator keberhasilan yaitu peserta didik aktif menjalankan peran, menunjukkan kerja sama, dan mampu menjelaskan alasan mengapa gotong royong penting.

Implementasi pembelajaran mematuhi prinsip etika pendidikan dan perlindungan anak (Etika dan Privasi). Seluruh data direkap secara agregat dan anonim tanpa mencantumkan nama, NISN, atau identitas pribadi peserta didik. Dokumentasi kegiatan hanya digunakan untuk kepentingan evaluasi pembelajaran dan tidak dipublikasikan tanpa izin sekolah atau wali peserta didik. Aspek keselamatan juga menjadi perhatian utama. Guru memberikan pengarahan penggunaan alat sebelum simulasi, membatasi alat yang berpotensi berisiko, serta memastikan seluruh peserta didik memperoleh peran yang setara tanpa diskriminasi latar belakang sosial, kemampuan, maupun kondisi daerah tempat tinggal.

III. Hasil dan Pembahasan

Implementasi pembelajaran dilaksanakan dalam satu pertemuan. Pada tahap awal, guru memulai pembelajaran dengan mengajak peserta didik menceritakan pengalaman membantu keluarga atau teman. Pertanyaan pemantik seperti "Apa yang terjadi jika pekerjaan berat dilakukan sendiri?" digunakan untuk mengarahkan peserta didik pada makna gotong royong sebagai kerja bersama untuk kepentingan umum.

Setelah apersepsi, guru membagi 21 peserta didik ke dalam tiga kelompok secara heterogen. Pembagian ini dilakukan agar peserta didik dengan kemampuan dan karakter yang berbeda dapat saling membantu. Setiap kelompok kemudian menerima kartu peran. Koordinator bertugas mengatur alur kerja, anggota kebersihan menjalankan kegiatan, penjaga alat memastikan alat digunakan dengan aman, dan pelapor mencatat hasil kegiatan kelompok.

Pada saat simulasi, peserta didik melakukan kegiatan membersihkan area sekolah sesuai pembagian tugas. Guru berkeliling mengamati proses kerja sama, memberi penguatan, dan memastikan seluruh peserta didik memperoleh kesempatan yang sama untuk berpartisipasi. Kegiatan bermain peran membuat peserta didik tidak hanya mendengar penjelasan tentang gotong royong, tetapi mengalami langsung bagaimana kerja sama, komunikasi, dan tanggung jawab dibutuhkan dalam menyelesaikan pekerjaan bersama [9].

Hambatan yang muncul selama implementasi adalah keterbatasan waktu dan kebutuhan pengawasan keselamatan saat alat kebersihan digunakan. Untuk mengatasi hal tersebut, guru memperjelas batas area kerja, menyederhanakan alat yang digunakan, dan memberikan arahan keselamatan sebelum simulasi. Setelah kegiatan, peserta didik mengikuti diskusi dan refleksi. Pada tahap ini, mereka menyampaikan bahwa pekerjaan menjadi lebih ringan ketika dilakukan bersama dan setiap anggota kelompok harus menjalankan perannya dengan bertanggung jawab.

Penilaian dilakukan menggunakan rubrik observasi sikap dan pemahaman selama proses bermain peran [12], [13]. Aspek yang dinilai mencakup keaktifan, kerja sama kelompok, dan pemahaman konsep melalui refleksi. Rekap disajikan secara agregat tanpa mencantumkan identitas peserta didik [3].

Tabel 1. Indikator Keberhasilan Pembelajaran

Tabel 2. Ringkasan Hasil Observasi

Secara umum, metode bermain peran membuat peserta didik lebih antusias dan mampu bekerja sama secara merata [14]. Pemahaman terhadap materi gotong royong meningkat karena peserta didik tidak hanya menghafal teori, tetapi mengalami langsung proses bekerja sama, berbagi tugas, dan bertanggung jawab terhadap peran masing-masing.

IV. Simpulan

Pelaksanaan metode bermain peran terbukti membantu peserta didik memahami nilai gotong royong secara lebih konkret. Kegiatan simulasi membuat suasana kelas lebih aktif, meningkatkan keberanian peserta didik, dan memperkuat hubungan antaranggota kelompok. Namun, keterbatasan waktu menjadi tantangan utama sehingga pembahasan teori secara klasikal belum dapat dilakukan secara mendalam. Selain itu, penggunaan peralatan kebersihan membutuhkan pengawasan ketat. Guru perlu memastikan bahwa alat yang digunakan aman, sesuai usia peserta didik, dan tidak menimbulkan risiko selama kegiatan berlangsung [2].

Rencana Perbaikan:

1. Menambah alokasi diskusi dan refleksi pada pertemuan terpisah agar pemahaman konsep gotong royong lebih mendalam.

2. Menggunakan alat kebersihan yang lebih aman dan membatasi alat berisiko hanya untuk demonstrasi guru.

3. Menyediakan kartu peran yang lebih rinci agar peserta didik memahami tugas masing-masing sebelum simulasi dimulai.

4. Menerapkan peer feedback sederhana supaya setiap kelompok dapat saling memberi masukan secara positif.

5. Membuat dokumentasi observasi per kelompok agar data agregat lebih jelas dan mudah dianalisis.

Ucapan Terima Kasih

Penulis menyampaikan terima kasih kepada Kemendikbudristek atas dukungan program RPL yang memberikan kesempatan peningkatan kualifikasi profesional guru. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, dan dosen pembimbing Kemil Wachidah, M.Pd., atas arahan dan dukungan akademik. Terima kasih juga disampaikan kepada kepala sekolah, rekan guru, dan peserta didik SD Negeri 077793 Hoso yang telah memberikan izin, fasilitas, dan dukungan selama pelaksanaan implementasi pembelajaran ini.

References

A. Kurniawan, Karakteristik Model Pembelajaran Interaktif. Malang, Indonesia: Program Pascasarjana UM, 2021.

U. S. Winataputra, Metode Bermain Peran dalam Pembelajaran PKn di SD. Jakarta, Indonesia: Widya Humaniora, 2021.

D. T. Utami, ESPS Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas V Kurikulum Merdeka. Jakarta, Indonesia: Erlangga, 2022.

Kemendikbudristek, Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Jakarta, Indonesia: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, 2021.

S. Arikunto, Penelitian Tindakan Kelas: Edisi Revisi. Jakarta, Indonesia: Bumi Aksara, 2021.

B. Nurgiyantoro, Penilaian Autentik dalam Kurikulum Merdeka. Yogyakarta, Indonesia: BPFE, 2022.

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2022.

A. Arsyad, Media Pembelajaran. Jakarta, Indonesia: Rajawali Pers, 2021.

R. E. Slavin, Educational Psychology: Theory and Practice, 13th ed. Boston, MA, USA: Pearson, 2024.

M. Huda, Model-Model Pembelajaran Interaktif. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar, 2021.

L. L. Smith, “Role-playing and civic engagement in elementary school,” J. Civic Educ., vol. 5, no. 2, pp. 45–56, 2023.

D. Kurniawan, Asesmen Kompetensi Dasar di SD. Bandung, Indonesia: Remaja Rosdakarya, 2024.

H. D. Brown, Teaching by Principles. New York, NY, USA: Pearson, 2022.

J. W. Creswell, Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating. London, U.K.: Pearson, 2023.

R. Marzano, The New Art and Science of Teaching. Bloomington, IN, USA: Solution Tree Press, 2021.