Lili Suryani (1), Kemil Wachidah (2)
General Background Mathematics education requires visual and kinesthetic experiences to facilitate the comprehensive recognition of spatial object structures. Specific Background Students frequently experience cognitive barriers in identifying the components of three-dimensional figures due to theoretical, textbook-centered instructional methods. Knowledge Gap The application of low-cost manipulative media integrated with structured observation sheets to resolve curved surface misconceptions remains rarely explored in depth. Aims This teaching implementation report describes the utilization of physical models made from recycled materials to bridge spatial abstraction for fifth-grade learners. Results The exploration of concrete objects enabled students to calculate vertices and edges precisely, allowing them to compare characteristics among figures with high accuracy. Observations also indicated that angular objects were mastered faster than curved shapes like cylinders and cones, which required further instructional demonstration. Novelty The integration of simple physical manipulation and group discussion offers an inclusive learning route that directly resolves geometric abstraction barriers. Implications These findings recommend educators to construct instructional scenarios involving manipulative activities to establish meaningful spatial concept retention.
Highlights:
The utilization of recycled materials facilitated direct spatial structure visualization for learners.
Vertex and edge identification became highly accurate through manipulative classroom activities.
Curved shapes necessitated additional instructional guidance compared to angular objects.
Keywords: Recycled Materials, Three Dimensional Figures, Observation Worksheets, Spatial Visualization, Manipulative Activities
Konteks pelaksanaan pembelajaran ini adalah materi Matematika kelas V sekolah dasar tentang bentuk dan sifat bangun ruang, terutama pengenalan kubus, balok, tabung, kerucut, dan bola [6]. Materi bangun ruang menuntut siswa memahami objek geometri tiga dimensi yang memiliki ukuran, bagian, dan ciri khusus. Pada tahap sekolah dasar, konsep tersebut perlu dijembatani melalui pengalaman konkret agar siswa tidak hanya menghafal nama bangun, tetapi juga memahami sifat-sifatnya [1], [3].
Berdasarkan observasi awal, pembelajaran sebelumnya masih banyak menggunakan penjelasan verbal, gambar pada buku, dan latihan tertulis. Cara ini belum sepenuhnya membantu siswa memvisualisasikan bangun ruang secara utuh. Sebagian siswa masih mengalami kesulitan membedakan sisi, rusuk, dan titik sudut, serta belum tepat ketika membandingkan kubus, balok, tabung, kerucut, dan bola. Keterbatasan media juga membuat pembelajaran kurang menarik dan partisipasi siswa belum merata.
Penerapan alat peraga konkret dipilih karena sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar yang membutuhkan pengalaman visual, auditori, dan kinestetik [7]. Dengan memegang, mengamati, menghitung, membandingkan, dan menggambar bangun ruang, siswa dapat membangun pemahaman melalui aktivitas langsung. Media konkret membantu siswa menghubungkan konsep matematika dengan benda-benda yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari [2], [4].
Tujuan pembelajaran dalam implementasi ini adalah:
1. Siswa mampu menyebutkan minimal lima jenis bangun ruang berdasarkan hasil pengamatan alat peraga konkret.
2. Siswa mampu mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang, meliputi jumlah sisi, rusuk, titik sudut, serta bentuk permukaan dengan benar.
3. Siswa mampu membedakan beberapa bangun ruang berdasarkan ciri-cirinya melalui diskusi kelompok.
4. Siswa mampu mengomunikasikan hasil temuan tentang bentuk dan sifat bangun ruang dengan percaya diri melalui presentasi singkat.
Rencana pembelajaran dirancang sebagai satu siklus pembelajaran aktif selama 2 × 35 menit [8]. Media utama yang digunakan adalah alat peraga konkret berupa kubus, balok, tabung, kerucut, dan bola dari kardus, karton, plastik, atau bahan daur ulang. Pembelajaran juga didukung oleh gambar bangun ruang, proyektor, alat tulis, penggaris, alat gambar, dan LKPD terstruktur. Kegiatan disusun agar siswa memperoleh pengalaman langsung dalam mengamati bagian-bagian bangun ruang dan mencatat hasil pengamatannya secara sistematis.
Desain media menggunakan dua komponen utama, yaitu alat peraga konkret dan lembar kerja peserta didik [9]. Alat peraga konkret digunakan sebagai sarana pengalaman langsung, sedangkan LKPD digunakan untuk mengarahkan siswa mencatat hasil pengamatan secara runtut. Kombinasi keduanya membantu siswa belajar dari benda nyata menuju representasi gambar dan penjelasan tertulis.
Alat peraga konkret berupa model kubus, balok, tabung, kerucut, dan bola. Model dapat dibuat dari karton, kardus, plastik, kayu, atau benda sederhana lain yang mudah ditemukan di sekitar sekolah. Untuk kubus dan balok, guru dapat menggunakan model transparan atau rangka agar siswa dapat melihat bagian sisi, rusuk, dan titik sudut. Untuk tabung, kerucut, dan bola, guru menekankan perbedaan antara bidang datar dan bidang lengkung.
LKPD berisi identitas kelompok, petunjuk penggunaan alat peraga, tabel pengamatan jumlah sisi, rusuk, dan titik sudut, kolom sketsa bangun ruang, serta pertanyaan reflektif [10]. Penggunaan media dianggap berhasil apabila siswa dapat menjelaskan pengertian bangun ruang, membedakan kubus dan balok, menyebutkan contoh bangun ruang di rumah, serta menunjukkan keterlibatan aktif dalam diskusi dan praktik kelompok.
Tabel 1. Strategi dan Alur Kegiatan Pembelajaran Berbasis Alat Peraga Konkret
Seluruh data pembelajaran direkap secara agregat dan anonim tanpa mencantumkan nama, NISN, foto, atau identitas pribadi siswa (Etika dan Privasi). Dokumentasi dan hasil kerja siswa digunakan hanya untuk kepentingan evaluasi pembelajaran dan penyusunan laporan akademik. Publikasi praktik pembelajaran ini memperhatikan izin dari pihak sekolah atau atasan.
Implementasi pembelajaran dilaksanakan dalam satu pertemuan 2 × 35 menit dengan menerapkan alat peraga konkret untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap bentuk dan sifat bangun ruang. Pembelajaran diawali dengan apersepsi melalui benda nyata yang dekat dengan kehidupan siswa, seperti kotak makanan, kardus, kaleng, dan bola. Guru mengajukan pertanyaan pemantik untuk menggali pengetahuan awal siswa mengenai nama dan bentuk benda tersebut.
Pada kegiatan inti, siswa dibagi ke dalam kelompok kecil. Setiap kelompok memperoleh beberapa model bangun ruang dan LKPD. Siswa mengamati model secara langsung, memegangnya, menghitung jumlah sisi, rusuk, dan titik sudut, lalu menggambar sketsa sederhana. Guru berkeliling memberikan bimbingan, terutama kepada kelompok yang masih keliru membedakan sisi datar dan sisi lengkung atau masih bingung menghitung rusuk pada bangun tertentu.
Selama diskusi, siswa membandingkan persamaan dan perbedaan antarbangun ruang. Misalnya, siswa membandingkan kubus dan balok dari jumlah sisi, bentuk sisi, dan panjang rusuk; serta membandingkan tabung, kerucut, dan bola dari keberadaan bidang lengkung. Kegiatan ini membantu siswa memahami bahwa setiap bangun ruang memiliki ciri khas yang dapat diamati secara konkret, bukan hanya dihafalkan dari buku [11].
Pada sesi presentasi, perwakilan kelompok menyampaikan hasil temuan sambil menunjukkan model bangun ruang. Guru memberikan penguatan positif terhadap jawaban siswa dan meluruskan miskonsepsi yang muncul. Kegiatan ditutup dengan refleksi singkat, kesimpulan bersama, dan evaluasi mandiri berupa beberapa soal identifikasi bangun ruang serta sifat-sifatnya. Secara umum, penggunaan alat peraga konkret membuat siswa lebih aktif, percaya diri, dan mudah memahami konsep geometri yang sebelumnya bersifat abstrak [12].
Penilaian dalam implementasi ini dilakukan melalui asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif [5], [13]. Asesmen diagnostik dilakukan melalui tanya jawab lisan pada awal pembelajaran untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang bangun datar dan bangun ruang. Asesmen formatif dilakukan melalui observasi eksplorasi alat peraga, penilaian kerja kelompok, serta pemeriksaan LKPD. Asesmen sumatif dilakukan melalui soal evaluasi tertulis di akhir pembelajaran yang berisi identifikasi bangun ruang dan sifat-sifatnya.
Tabel 2. Rubrik Penilaian LKPD dan Presentasi
Tabel 3. Ringkasan Bukti Belajar pada Implementasi Alat Peraga Konkret
Ringkasan hasil menunjukkan bahwa alat peraga konkret membantu siswa membangun pemahaman secara bertahap. Siswa tidak hanya mendengar penjelasan guru, tetapi juga mengamati, memegang, menghitung, membandingkan, menggambar, dan mempresentasikan hasil pengamatan. Kegiatan tersebut membuat konsep bangun ruang lebih mudah dipahami karena siswa berhadapan langsung dengan bentuk tiga dimensi yang nyata.
Temuan penting dari pelaksanaan adalah perlunya penguatan pada bagian bangun ruang yang memiliki bidang lengkung. Siswa relatif lebih mudah memahami kubus dan balok karena sisi, rusuk, dan titik sudutnya dapat dihitung secara jelas, sedangkan tabung, kerucut, dan bola memerlukan demonstrasi tambahan agar perbedaan sisi datar dan sisi lengkung lebih dipahami [14].
Pelaksanaan pembelajaran dengan alat peraga konkret menunjukkan bahwa siswa lebih aktif dan lebih mudah memahami sifat bangun ruang ketika mereka memperoleh pengalaman langsung. Pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa dapat menghubungkan materi dengan benda-benda yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Namun demikian, terdapat beberapa catatan reflektif:
1. Tidak semua siswa langsung aktif menggunakan alat peraga sehingga guru perlu membagi peran kelompok secara lebih jelas.
2. Beberapa siswa masih keliru membedakan sisi datar dan sisi lengkung pada tabung, kerucut, dan bola.
3. Alokasi waktu presentasi perlu diatur lebih ketat agar semua kelompok mendapat kesempatan yang seimbang.
4. LKPD perlu dibuat lebih ringkas dan visual agar siswa berkemampuan rendah dapat mengikuti kegiatan dengan lebih mudah.
Berdasarkan refleksi tersebut, rencana perbaikan dan diferensiasi pada pembelajaran berikutnya adalah:
1. Menetapkan peran kelompok seperti pengamat, pencatat, penghitung, dan penyaji agar setiap siswa terlibat aktif.
2. Menambahkan contoh benda nyata yang memiliki sisi lengkung, seperti kaleng, topi ulang tahun, dan bola, untuk memperjelas konsep.
3. Memberikan panduan presentasi sederhana agar siswa lebih percaya diri saat menjelaskan hasil temuan.
4. Menyediakan LKPD bergambar dengan petunjuk bertahap untuk siswa yang masih memerlukan pendampingan.
5. Memberikan pengayaan kepada siswa berkemampuan tinggi melalui pembuatan jaring-jaring dan soal cerita sederhana tentang bangun ruang [15].
Penulis menyampaikan terima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang telah memberikan dukungan terhadap penyusunan laporan implementasi pembelajaran ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada pihak sekolah, guru, dan peserta didik yang telah mendukung pelaksanaan pembelajaran menggunakan alat peraga konkret pada materi bentuk dan sifat bangun ruang.
Kemendikbudristek, Capaian Pembelajaran Matematika Fase C. Jakarta, Indonesia: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2022.
R. E. Reys, M. N. Lindquist, D. V. Lambdin, and N. L. Smith, Helping Children Learn Mathematics, 12th ed. Hoboken, NJ, USA: John Wiley & Sons, 2021.
J. A. Van de Walle, K. S. Karp, and J. M. Bay-Williams, Elementary and Middle School Mathematics: Teaching Developmentally, 11th ed. Boston, MA, USA: Pearson, 2023.
R. Soedjadi, Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia, rev. ed. Jakarta, Indonesia: RajaGrafindo Persada, 2022.
Kemendikbudristek, Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka. Jakarta, Indonesia: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2022.
S. Arikunto, Penelitian Tindakan Kelas, rev. ed. Jakarta, Indonesia: Bumi Aksara, 2021.
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2022.
M. Huda, Model-Model Pembelajaran Interaktif. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar, 2021.
A. Arsyad, Media Pembelajaran. Jakarta, Indonesia: Rajawali Pers, 2023.
D. Kurniawan, Asesmen Kompetensi di Sekolah Dasar. Bandung, Indonesia: Remaja Rosdakarya, 2024.
B. Nurgiyantoro, Penilaian Autentik dalam Kurikulum Merdeka. Yogyakarta, Indonesia: BPFE, 2022.
R. E. Slavin, Educational Psychology: Theory and Practice. Boston, MA, USA: Pearson, 2021.
H. D. Brown, Teaching by Principles. New York, NY, USA: Pearson, 2022.
J. W. Creswell, Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating. London, U.K.: Pearson, 2023.
R. Marzano, The New Art and Science of Teaching Mathematics. Bloomington, IN, USA: Solution Tree Press, 2021.