Login
Section Elementary Education Method

Spelling Method Application For Basic Reading Literacy In First Grade Students

Aplikasi Metode Eja Untuk Literasi Membaca Dasar Pada Siswa Kelas Satu
Vol. 21 No. 4 (2026): November:

Susmiati (1), Muhlasin Amrullah (2)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Basic reading skills, including phoneme recognition and syllable blending, are fundamental for early literacy acquisition in primary education. Specific Background First-grade students frequently experience difficulties in distinguishing letters and blending phonemes, which severely delays their overall learning progress. Knowledge Gap While traditional reading approaches exist, the specific pedagogical adjustments required to prevent monotonous memorization and hesitant reading in early education remain under-explored. Aims This study describes the application of the spelling method, combined with interactive visual tools, to develop basic reading literacy in first-grade elementary school students. Results Through classroom action research, the structured implementation of letter recognition, syllable blending, and word formation resulted in high reading accuracy and fluency. The utilization of brightly colored flashcards and interactive guessing games fostered high student engagement, although some learners still experienced challenges with diphthongs and multi-syllabic words. Novelty The research introduces "MEJA" (Media Eja) alongside game-based learning as critical adaptations to transform traditional rote spelling into an engaging, interactive literacy experience. Implications These pedagogical findings suggest that educators should integrate phonetic approaches and interactive visual media into early literacy curricula to prevent hesitant reading and sustain student motivation.


Highlights:




  • The structured spelling method successfully developed phoneme recognition and simple word fluency in first-grade students.




  • Interactive visual tools and game-based adaptations prevented student boredom during daily reading exercises.




  • Integrating phonetic approaches with spelling exercises is recommended to resolve student difficulties with complex syllables and diphthongs.




Keywords: Spelling Method, Early Reading, Primary Education, Basic Literacy, Visual Media

I. Pendahuluan

Hasil observasi penulis kelas 1 di suatu Sekolah Dasar Negeri 02 Karya Sakti terdapat siswa yang masih mengalami kesulitan mengenal huruf (sering tertukar fonem), belum mampu merangkai huruf menjadi suku kata dan suku kata menjadi kata sehingga kegiatan pembelajaran sering tertinggal [1]. Menurut Abdurrahman (2021: 163) siswa yang berkesulitan membaca adalah siswa yang membacanya sering mengalami kekeliruan dalam pengenalan kata [2].

Tujuan Pembelajaran metode eja penting sekali diutamakan terutama pada permulaan siswa kelas 1 SD yaitu (1) Kognitif, siswa mampu mengenal, mengingat, dan melafalkan huruf serta bunyi fonem dengan benar, (2) Keterampilan, siswa mampu mengeja suku kata dan merangkainya menjadi kata-kata sederhana, (3) Sikap/ Motivasi, meningkatkan minat, motivasi, dan rasa semangat belajar membaca melalui pendekatan yang sistematis dan (4) Dampak, memperbaiki hasil belajar membaca siswa dan mengatasi kesulitan membaca di kelas rendah [3], [4]. Hasil penelian sebelumnya oleh Kurniah (2022), dimana metode eja mengalami peningkatan kemampuan membaca permulaan setelah menerapkan Metode Eja pada kelas awal khususnya kelas 1 [5].

II. Metode

Pembelajaran dilakukan melalui tahapan konvensional, terdapat Kegiatan Pendahuluan dilakukan selama 15 Menit diawali dengan Guru menyapa kepada seluruh siswa, kemudian berdoa dipimpin ketua kelas dan melakukan absensi [6]. Kemudian dilanjutkan kegitan apersepsi, dengan bernyanyi lagu alfabet “A-B-C-D” bersama-sama untuk memotivasi siswa. Selanjutnya menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini "Membaca kata 'BOLA'".

Kegiatan Inti dilakukan selama 60 Menit, yang terdiri dari tiga tahapan [7]. Tahap pertama Pengenalan Huruf selama 20 Menit, Guru menunjukkan kartu huruf “B, O, L, A” dengan menggunakan media kartu huruf kemudian mencontohkan pelafalan bunyi huruf/fonem “B = be, O = o, L = el, A = a”. Menurut Rasto, dalam Hadiana (2021) membaca permulaan didefinisikan sebagai aktivitas visual yang merupakan proses menerjemahkan symbol tulis ke dalam bunyi [8]. Siswa diminta menirukan pelafalan huruf secara bersama-sama dan individu. Kemudian tahap kedua mengeja suku kata selama 20 Menit, Guru merangkai huruf menjadi suku kata B-O dibaca “BO”, L-A dibaca LA. Selanjutnya siswa mengeja suku kata satu per satu dengan bimbingan. Sedangkan Tahap ketiga Membaca Kata selama 20 Menit, Guru merangkai suku kata BO + LA (BOLA) dan siswa membaca kata utuh "BOLA". Kemudian dilakukan Permainan tebak kata, dimana siswa diminta mengambil kartu huruf di meja dan merangkainya menjadi kata "BOLA" di papan tulis (menggunakan media "MEJA" - Media Eja).

Kegiatan Penutup dilakukan 15 Menit, Guru dan siswa mengulang kembali cara mengeja kata "BOLA". Selanjutnya memberikan apresiasi (memberi pujian) kepada siswa yang aktif dan diakhiri dengan doa penutup. Media dan Bahan yang Digunakan yaitu (1) Kartu Huruf (Flashcards), Kartu abjad “A” sampai dengan “Z” berukuran besar dengan warna menarik (2) Kartu Kata Bergambar, Kartu yang menggabungkan kata dengan gambar misal tulisan BOLA dengan gambar bola (3) Papan Flanel/Papan Tulis: Untuk menempelkan kartu huruf (4) Buku Membaca Permulaan/Buku Ajar [9]. Menurut penelitian (Rismawati: 2021) Penerapan metode pembelajaran yang tidak bervariasi akan menyebabkan kurangnya semangat dan minat membaca siswa [10].

Indikator Keberhasilan siswa dianggap berhasil jika telah mencapai kriteria berikut (1) Ketepatan Lafal, disini siswa harus dapat menyebutkan bunyi huruf vokal a,i,u,e,o dan konsonan b,c,d, dst dengan tepat (2) Ketepatan Mengeja, siswa mampu mengeja rangkaian suku kata misal “B-U, K-U” tanpa terbatabata (3) Membaca Kata, dimana Siswa dapat merangkai suku kata menjadi kata bermakna misal “B-U-KU = Buku” (4) Minat Belajar, siswa aktif berpartisipasi dalam permainan kartu huruf [11].

Pelaksanaan penelitian dan penyusunan laporan ini menjunjung tinggi prinsip etika akademis serta perlindungan hak privasi subjek penelitian, khususnya peserta didik yang berada dalam kategori kelompok rentan (anak-anak) (Etika dan Privasi). Seluruh data yang dihimpun selama pembelajaran membaca permulaan ditangani dengan langkah-langkah seperti anonimitas identitas siswa, penyamaran data dokumentasi, kerahasiaan skor dan lembar kerja dan penggunaan data yang bertanggung Jawab. Anonimitas Identitas Siswa, untuk melindungi privasi peserta didik, seluruh data pribadi siswa disamarkan. Penulis menggunakan kode atau inisial contoh Siswa 1, Siswa B untuk menggantikan nama lengkap siswa dalam setiap kutipan jawaban, penyajian skor, maupun deskripsi aktivitas kelas.

Dalam penyajian dokumentasi kelas (foto maupun video kegiatan pembelajaran), penulis melakukan penyuntingan dengan memburamkan (blur) atau menutupi bagian wajah siswa. Visual yang ditampilkan hanya berfokus pada aktivitas penggunaan metode eja dan media pembelajaran. Pemerolehan skor membaca permulaan, catatan observasi, serta kutipan jawaban siswa disajikan secara agregat (kelompok) atau menggunakan kode anonim. Data mentah nilai yang memuat identitas asli siswa disimpan secara aman oleh peneliti dan tidak dipublikasikan dalam laporan. Penulis memastikan bahwa seluruh data kelas digunakan secara objektif, jujur, dan murni untuk kepentingan evaluasi peningkatan kemampuan membaca permulaan melalui metode eja. Data tidak akan disalahgunakan di luar konteks pelaporan akademik.

III. Hasil dan Pembahasan

Jalannya Kegiatan Pembelajaran (Langkah-langkah), pembelajaran dilakukan secara sistematis, biasanya melalui tahapan yang terdiri dari (1) Guru mengenalkan huruf a-z dan bunyi hurufnya. Fokus pada vokal (a,i,u,e,o) dan konsonan. (2) Siswa mengeja huruf satu per satu, contoh b-u-k-u. (3) Merangkai Suku Kata dimana huruf yang dieja dirangkai menjadi suku kata, contoh b-u = bu, k-u = ku. (4) Merangkai suku kata dirangkai menjadi kata utuh, contoh bu-ku = buku. (5) Siswa membaca kata atau kalimat pendek yang telah disusun. (6) Melakukan Evaluasi, Guru melakukan penilaian terhadap kelancaran bacaan siswa [12].

Penyesuaian yang dilakukan untuk membuat metode eja lebih menarik dan efektif bagi siswa kelas 1, guru melakukan beberapa penyesuaian (adaptasi) seperti penggunaan media MEJA (Media Eja) menggunakan kartu huruf, kartu suku kata, atau kartu bergambar untuk memvisualisasikan huruf dan kata. Kemudian dilakukan pendekatan bermain dengan cara menggunakan permainan seperti "memancing suku kata" atau tebak gambar untuk mengurangi kebosanan. Kemudian bisa juga dibuat lagu huruf, mengawali pembelajaran dengan bernyanyi untuk membangkitkan minat siswa.

Respons siswa terdapat positif karena siswa merasa senang saat menggunakan media kartu huruf yang berwarna-warni. Mereka lebih aktif mencari dan merangkai huruf. Sebagian siswa merasa bingung pada tahap awal penggabungan huruf (mengeja), terutama pada konsonan yang mirip (b, d, p, q). Kemudian dilakukan sitem tubian (latihan berulang), melalui sistem ini siswa secara bertahap mampu mengenal huruf dan membaca kata sederhana. Menurut (Tarigan, 2021: 1) Bahwa keterampilan bahasa ada empat yaitu menyimak, membaca, berbicara dan menulis [13].

Di dalam pembelajaran sering terdapat hambatan yang muncul dimana Siswa kesulitan menggabungkan 3 huruf atau lebih, atau sering menghilangkan huruf konsonan saat mengeja misalnya "contoh" terbaca "coto". Ada juga siswa cepat bosan karena metode eja yang monoton (mengeja saja) membuat sebagian siswa kurang fokus. Terdapat perbedaan kecepatan pemahaman membaca antara siswa satu dengan lainnya [14]. Solusi cara mengatasi hambatan, pertama diadakan pendampingan Individual, dimana guru memberikan pendampingan khusus dan bimbingan lebih intensif bagi siswa yang lambat. Kemudian munculkan variasi media dimana guru mengganti kartu huruf dengan media yang lebih interaktif (puzzle kata, roda putar huruf) untuk meningkatkan minat. Selanjutnya ulangi secara rutin penerapan latihan membaca harian secara singkat namun konsisten, dan sering memberikan apresiasi (pujian atau hadiah kecil) kepada siswa yang berhasil mengeja dengan benar untuk meningkatkan motivasi.

Instrumen yang digunakan umumnya berbentuk non-tes (pengamatan) dan tes lisan, yaitu Lembar Observasi/ Checklist yang digunakan guru untuk menilai kemampuan siswa secara langsung saat proses mengeja [15]. Tes Lisan (Membaca Huruf/ Suku Kata/ Kata) disini siswa diminta melafalkan huruf-huruf abjad, merangkai huruf (misal: b-u-k-u), dan membaca kata sederhana. Rubrik penilaian membaca terdapat pedoman skor untuk aspek ketepatan, kelancaran, dan kejelasan suara. Indikator kemampuan yang diukur meliputi kemampuan menyebutkan lambang huruf vokal dan konsonan dengan tepat (Pengenalan Huruf). Kemampuan merangkai huruf vokal dan konsonan menjadi suku kata misal b-a = ba (Mengeja Suku Kata). Kelancaran membaca kata dan kalimat yang terdiri dari suku kata terbuka atau tertutup (Membaca Kata). Ketepatan membunyikan huruf dan suku kata (intonasi dan kejelasan).

Hasil penilaian dibaca berdasarkan kriteria ketuntasan (skor/ persentase) yang ditetapkan, jika Skor tinggi terdapat persentase 80-100 %, siswa sangat lancar mengeja dan membaca kata. Skor sedang 60-79 %, siswa mampu mengeja dengan sedikit bimbingan. Skor rendah < 60 %, siswa masih kesulitan mengenal huruf atau merangkai bunyi. Kemudian untuk analisis per siswa guru meninjau huruf/ suku kata spesifik yang belum dikuasai siswa. Temuan singkat pelaksanaan dan perbandingan pada metode eja menunjukkan pengaruh positif dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan, namun memiliki tantangan pada kelancaran membaca kata yang panjang.

Tabel 1. Skala Penilaian

Tabel 2. Indikator Pengukuran Berdasarkan Teori

Rumus Persentase:

Temuan utama pada metode eja efektif untuk pengenalan dasar huruf dan pelafalan fonem, terdapat proses belajar mengeja secara bertahap meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam membaca kata. Selanjutnya diperlukan variasi media (seperti kartu huruf) agar siswa tidak jenuh dalam proses mengeja.

IV. Simpulan

Berdasarkan praktik pendidikan umum dan hasil penelitian tindakan kelas. (1) Evaluasi refleksi yang sudah efektif. Implementasi metode eja (mengeja huruf/fonem) menunjukkan beberapa keberhasilan, terutama dalam membangun fondasi teknis membaca. a) Penguasaan lambang huruf, siswa menjadi lebih cepat hafal dan mengenali bentuk huruf A-Z karena difokuskan pada pengenalan abjad (b) Struktur Pembelajaran Jelas, dimana metode eja memberikan langkah-langkah prosedural yang terstruktur, mulai dari mengenalkan huruf, mengeja suku kata, hingga membentuk kata (c) Tepat untuk Pemula, hal ini sangat membantu siswa yang sama sekali belum mengenal huruf (d) Penggunaan Media Kartu Huruf (media visual) yang dikombinasikan dengan metode eja terbukti meningkatkan hasil belajar membaca secara signifikan.

Evaluasi refleksi yang belum optimal, meskipun belum efektif untuk pengenalan, metode eja memiliki kelemahan yang sering muncul pada pembelajaran kelas 1 yaitu (a) Proses Membaca Terbata-bata, dimana siswa sering mengalami kesulitan merangkai huruf demi huruf menjadi suku kata, lalu menjadi kata, sehingga membaca terasa lamban (b) Kesulitan Fonem Rangkaian, siswa kesulitan mengeja diftong atau fonem ganda seperti 'ng', 'ny', 'au', 'oi' (c) Kurang Fokus pada Makna, dikarenakan terlalu fokus pada pengejaan, siswa seringkali tidak memahami makna kata yang mereka eja (d) Motivasi/ Kebosanan, terdapat metode eja yang monoton (hafalan) berisiko membuat siswa bosan atau kurang fokus.

Jika implementasi serupa dilakukan kembali, rencana perbaikan yang dirancang untuk mengatasi kelemahan tersebut adalah (1) Integrasi Metode Eja dengan Fonik, tidak hanya mengajarkan nama huruf (a, be, ce), tetapi lebih menekankan pada bunyi huruf (fonem) untuk mempercepat perangkaian suku kata. (2) Peningkatan Media Interaktif, dengan menggunakan media Big kartu huruf berwarna-warni yang dikombinasikan dengan permainan misal "mencari huruf hilang" untuk meningkatkan minat. (3) Pendekatan Individual: Melakukan pendekatan bimbingan lebih intensif bagi siswa yang masih kesulitan mengenal huruf atau membaca suku kata. (4) Variasi Aktivitas, menyelingi kegiatan mengeja dengan bernyanyi lagu huruf atau permainan tebak kata di awal pembelajaran untuk menjaga fokus siswa. (5) Penekanan pada Kecepatan dan Suku Kata, dimana setelah pengenalan huruf segera beralih ke metode eja suku kata contoh b-u -> bu, k-u -> ku daripada satu per satu huruf (b-u-k-u) untuk meminimalisir terbata-bata.

Ucapan Terima Kasih

Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Implementasi Pembelajaran berjudul “Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan melalui Penerapan Metode Eja pada Siswa Kelas I Sekolah Dasar” tepat pada waktunya. Penyusun Laporan Implementasi Pembelajaran ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Terutama penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kepala Sekolah SDN 02 Karya Sakti yang telah memberi dukungan dan ijin untuk dijadikan bahan penulis. Penulis menyadari bahwa Laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis menerima kritik dan saran yang membangun. Semoga Laporan ini bermanfaat bagi pembaca.

References

E. S. Wahyuni, “Penerapan metode eja untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa sekolah dasar,” J. Pendidik. Dasar, vol. 5, no. 1, pp. 22–30, 2022.

M. Abdurrahman, Anak Berkesulitan Belajar: Teori, Diagnosis dan Remediasinya. Jakarta, Indonesia: Rineka Cipta, 2021.

D. Lestari, Membaca Permulaan di Kelas Awal. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2023.

H. Sutanto, Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar, 2021.

Kurniah, “Pengaruh metode eja terhadap kemampuan membaca permulaan siswa kelas I,” J. Pendidik. Dasar Inovatif, vol. 4, no. 2, pp. 45–52, 2022.

S. Arikunto, Manajemen Pembelajaran Kelas. Jakarta, Indonesia: Bumi Aksara, 2021.

M. Kholilah, S. Sapri, and R. N. Rambe, “Pengaruh metode eja dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada siswa sekolah dasar,” J. Ilm. Profesi Pendidik., vol. 8, no. 4, pp. 2787–2794, 2023.

L. H. Hadiana, S. M. Hadad, and I. Marlina, “Penggunaan media Big Book untuk meningkatkan keterampilan membaca kalimat sederhana,” J. Pendidik. Guru Sekolah Dasar, vol. 4, no. 2, 2021.

A. Arsyad, Media Pembelajaran. Jakarta, Indonesia: Rajawali Pers, 2022.

R. Rismawati, K. D. W. Andari, and K. Kartini, “Perbandingan kemampuan membaca permulaan antara metode suku kata dengan metode eja berbantuan media kartu kata,” Pendas Mahakam: J. Pendidik. dan Pembelajaran Sekolah Dasar, vol. 5, no. 1, pp. 41–46, 2021.

D. Kurniawan, Asesmen Pembelajaran Bahasa SD. Bandung, Indonesia: Remaja Rosdakarya, 2024.

H. D. Brown, Teaching by Principles in Early Childhood. New York, NY, USA: Pearson, 2022.

H. G. Tarigan, Berbicara sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung, Indonesia: Angkasa, 2021.

R. E. Slavin, Educational Psychology: Theory and Practice, 13th ed. Boston, MA, USA: Pearson, 2024.

J. W. Creswell, Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating. London, U.K.: Pearson, 2023.