Login
Section Early Childhood Education Method

Analysis of the Impact of Teacher Readiness in Optimizing Children's Learning at KB Ahmad Yani

Analisis Dampak Kesiapan Guru dalam Optimalisasi Pembelajaran Anak Di KB Ahmad Yani
Vol. 21 No. 3 (2026): August:

Sri Winarsih (1), Arifin Mado (2)

(1) Program Studi Pendidikan Guru PAUD, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru PAUD, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

Abstract: General Background: Fine motor skills are an important aspect of early childhood development and require appropriate stimulation through learning activities. Specific Background: Observations at Al-Ikhsan Islamic Kindergarten showed that several 4–5-year-old children experienced difficulties in activities such as holding pencils and opening bottle caps, indicating that their fine motor abilities were not yet optimal. Knowledge Gap: Previous studies have reported the use of various artistic and learning activities to support fine motor skills, while the present study focuses on collage activities using simple materials for children aged 4–5 years in the observed classroom context. Aims: This study aims to examine the implementation of collage activities and the improvement of fine motor skills among 4–5-year-old children. Results: Classroom action research was conducted in two cycles with 16 children through observation and documentation. Fine motor achievement increased from 12.50% in the pre-cycle to 37.50% in Cycle I and 87.50% in Cycle II. The activities involved picking, arranging, and attaching simple materials, including paper scraps, corn kernels, and Dacron, onto prepared picture patterns. Improvements in the second cycle followed adjustments to the picture size, materials, and activity instructions. Novelty: The study applies simple-material collage activities as a classroom action to support fine motor skills in the specific context of 4–5-year-old children at Al-Ikhsan Islamic Kindergarten. Implications: The findings indicate that structured collage activities using accessible materials can provide stimulation for eye-hand coordination, finger strength, and controlled hand movements in early childhood learning.


Key Findings


Achievement increased from 12.50% before the intervention to 87.50% after two cycles.


Fourteen of 16 participants reached the completion criterion in the second cycle.


Larger patterns and more manageable materials supported improved task performance.


Keywords: Fine Motor Skills, Collage Activities, Early Childhood, Eye-Hand Coordination, Classroom Action Research

Pendahuluan

Lembaga Pedidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan pondasi penting dalam pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas [1].Tujuan adanya lembaga pendidikan usia dini untuk mengoptimalkan perkembangan anak secara fisik maupun psikologis, sehingga dapat membangun karakter baik pada anak dimulai sejak usia dini. Untuk mengoptimalkan tujuannya, di lembaga PAUD guru harus memiliki kesiapan yang sungguh-sungguh agar dapat memberikan pengaruh dari hasil pendidikan usia dini [2]. Pendidikan berkualitas akan menjamin kualitas pendidikan yang inklusif dan merata sehingga dapat meningkatkan kesempatan belajar sepanjang hayat. Hal ini juga dapat menjadi pembentukan jati diri pada anak untuk memiliki akhlak yang terpuji. Selain itu tenaga pendidik juga akan mampu mengembangkan diri dalam pengelolaan pendidikan yang berdaya saing dengan PAUD lainnya, baik dari segi kualitas pendidikan maupun prestasi pada anak didik. Lembaga PAUD harus mengelola sesuai tujuan yang relevan dan jelas seperti kegiatan belajar mengajar, serta menyusun kalender pendidikan dan pembuatan jadwal yang relevan. Hal itu saling berkaitan satu sama lain dengan manajemen pendidikan. proses utama yang perlu ditata di suatu lembaga PAUD adalah sarana prasarananya dulu, dengan tertatanya sarana dan prasarana, tujuan, visi dan misi suatu lembaga akan berjalan sesuai yang direncanakan. Pendidik yang akan melaksanakan program pada lembaga PAUD harus memiliki strategi yang tepat agar dapat memberikan stimulasi yang mempengaruhi pertumbuhan anak dan perkembangan anak [3].

Stimulasi yang diberikan pendidik sangat mempengaruhi perkembangan fisik motorik, kognitif, emosional, sosial, dan sensorik. Waktu yang tepat untuk memberikan stimulasi yaitu pada saat anak masa golden age usia (0-6) tahun. Pada usia (0-6) tahun merupakan masa anak mengeksplorasi berbagai macam hal baru yang dapat membentuk karakter anak [4]. Pada pembentukan karakter anak juga membutuhkan peran penting orang tua atau guru. Pentingnya

peran orang tua dan guru yaitu membantu memberikan stimulus sederhana. Stimulus bisa dengan cara memberikan permainan berunsur edukasi yang menarik bagi anak. Meskipun peran orang tua sangat penting, guru juga tidak kalah penting dalam pemberian stimulus pada anak [5]. Guru berperan penting agar perkembangan anak lebih optimal melalui lembaga pendidikan. Lembaga PAUD menjadi tujuan orang tua untuk mengembangkan atau menstimulasi beberapa aspek pada anak. Aspek-aspek perkembangan itu antara lain aspek agama dan moral, fisik motorik, bahasa, sosial emosional serta seni [6]. Dalam lembaga PAUD aspek – aspek tersebut jadi acuan utama guru dalam menyusun perangkat pembelajaran untuk menjadi tolak ukur penilaian dalam mengobservasi tumbuh kembang anak. Dalam Permendikbud 146 tahun 2014 tentang Kurikulum PAUD, juga dinyatakan bahwa anak dapat berkembang secara optimal perlu diperhatikan aspek-aspek tersebut, dalam mengembangkan aspek ini harus menggunakan kurikulum untuk anak usia dini yaitu belajar dengan konteks bermain. Pembelajaran di lembaga PAUD menggunakan konteks bermain yaitu pendekatan pendidikan menggunakan kegiatan bermain untuk mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri [7].

Perangkat pembelajaran di lembaga PAUD menjadi acuan dalam mengajar di kelas. Penerapan yang tepat dari perangkat pembelajaran itu sendiri akan bisa mengoptimalkan seluruh pembelajaran dikelas. Kualitas pendidikan anak usia dini sangat di pengaruhi oleh proses pembelajaran serta kurikulum yang diterapkan oleh lembaga PAUD [8]. Kesiapan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran yang menarik berunsur edukatif sangat mempengaruhi kualitas perkembangan pada anak. Perangkat pembelajaran di suatu lembaga disusun dalam jangka waktu 1 tahun selanjutnya dikembangkan lagi menjadi program semester serta di lanjutkan menjadi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mingguan (RPPM) setelah itu diimplementasikan pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) [9].

Penelitian terdahulu seperti Penelitian di lakukan oleh yuel yuel dan oktani haloho yang berjudul optimalisasi kompetensi tenaga pendidikan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran pada anak usia dini, menerangkan kopetensi guru dalam menyusun perangkat pembelajaraan yang kurang menarik menjadi penyebab yang sering dihadapi di lembaga PAUD, terlebih guru kurang mengikuti pelatihan terkait kurikulum dan minimnya ketersediaan alat peraga juga menjadi tantangan tersendiri bagi guru pada lembaga PAUD saat ini. Keberhasilan di layanan lembaga PAUD dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah kesiapan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran yang menarik [10]. Untuk mendukung kesiapan guru yang bagus, guru PAUD harus mempunyai soft skill dalam penyusunan perangkat pembelajaran yang menyenangkan bagi anak. Guru yang mengajar pada sekolah PAUD haruslah guru yang berkompeten, karena pada PAUD merupakan awal mulanya diterapkan pendidikan karakter dan pengembangan potensi anak. Penelitian yang di lakukan oleh Eka Saptaning dan Ahmad Farid yang berjudul perencanaan pembelajaran dalam pendidikan anak usia dini, juga menerangkan bahwa perencanaan pembelajaran sangat berperan penting bagi guru sebagai acuan untuk melaksanakan proses pembelajaran di kelas [11]. Perencanaan pembelajaran atau perangkat pembelajaran yang di susun secara menarik akan menjadi daya tarik tersendiri bagi anak PAUD dalam mengikuti pembelajaran. Penyusunan perangkat pembelajaran untuk pendidikan anak usia dini lebih menekankan pada proses pengembangan aspek-aspek perkembangan.

Kemampuan guru menyusun perangkat pembelajaran mempengaruhi daya tarik anak pada saat kegiatan belajar mengajar. Kurangnya kreatifitas guru dalam menyusun perangkat pembelajaran sangat mempengaruhi proses perkembangan anak [12]. Jadi sangat di perlukan kesiapan guru PAUD dalam menyusun kegiatan pembelajaran di kelas secara menarik dan edukatif berbasis bermain untuk mencapai hasil yang di inginkan yaitu berkembangnya aspek-aspek perkembangan pada anak usia dini. Namun kenyataan banyak di lapangan penerapan perangkat pembelajaran di lembaga PAUD seringkali menghadapi berbagai kedala dalam menyusunnya. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya kesiapan guru dalam penyusunan perangkat pembelajaran yaitu guru kurang mengikuti pelatihan tentang penyusunan perangkat pembelajaran dan kurangnya pemahaman pendidik tentang pentingnya perangkat pembelajaran di lembaga [13]. Akibat dari kurangnya kesiapan guru dalam penyusunan perangkat pembelajaran yang tidak terstuktur dengan baik dapat menjadi hambatan dalam mencapai hasil yang optimal. Perubahan kurikulum dan tuntutan perkembangan zaman yang terus berubah juga menuntut lembaga PAUD untuk terus beradaptasi dan menyempurnakan perangkat pembelajaran [14]. Untuk meningkatkan kemampuan dan kesiapan guru dalam penyusunan perangkat pembelajaran yang baik, pendidik bisa mengikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh dinas maupun kombel di suatu organisasi yang di ikuti untuk menambah wawasan dalam penyusunan perangkat pembelajaran dan penerapan di lembaga [15]. Diharapkan setelah adanya pelatihan yang diadakan dinas dapat membantu guru PAUD lebih cakap dalam kegiatan belajar mengajar.

Dari hasil obvservasi awal di lembaga KB Ahmad Yani peniliti menemukan bahwa lembaga ini adalah satu – satunya lembaga kelompok bermain di desa tersebut yang seharusnya peminat untuk bersekolah di lembaga ini sangat banyak karena tidak ada daya saing dari lembaga lain. Namun selama ini setiap tahunnya dalam penerimaan peserta didik baru lembaga tersebut selalu mengalami penurunan. Setelah peneliti observasi awal menemukan bahwa ternyata guru di KB Ahmad Yani kurang kesiapan dalam penyusunan perangkat pembelajaran di dalam kelas yang

mengakibatkan kegiatan yang ada selama ini tidak menarik untuk anak – anak, terkesan monoton. Sehingga daya tarik dari masyarakat sangat rendah untuk bergabung di lembaga tersebut. Dengan itu Penelitian ini dibuat dengan bertujuan untuk menggali informasi lebih dalam ke lembaga KB Ahmad Yani tentang bagaimana kesiapan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran dalam mengoptimalkan pembelajaran di kelas, Serta faktor apa yang menjadi hambatan dalam penyusunan perangkat pembelajaran itu sendiri, serta dampak dari kurangnya terstruktur pembuatan perangkat pembelajaran di lembaga Ahmad Yani. Penelitian ini berfokus terhadap kesiapan guru dalam penyusunan perangkat pembelajaran (Prosem, RPPM, RPPH) lembaga KB Ahmad Yani dan pengalaman guru yang berperan penting dalam penyusunan pembelajaran di lembaga.

Metode

Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pendekatan kualitatif yaitu suatu proses penelitian untuk memahami fenomena-fenomena yang ada dengan gambaran yang menyeluruh dan kompleks yang dapat di uraikan dengan kata-kata, melaporkan dari sumber informan, serta dilakukan dalam latar setting yang alamiah [16]. Penelitian kualitatif juga jenis penelitian yang menghasilkan temuan-temuan yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau pengukuran. Adanya fenomena dan permasalahan dalam proses pengamatan yang dilakukan bertujuan menggali pemahaman lebih rinci terkait penelitian. Pendekatan kualitatif penelitian ini menggunakan pengumpulan data dengan analisis naratif atau menggunakan penjelasan melalui kata. Penelitian naratif merupakan laporan penelitian yang bersifat narasi dengan bertujuan untuk menceritakan urutan peristiwa secara terperinci [17]. Salah satu ciri khas penelitian kualitatif berfokus pada studi individu tunggal yang memberikan arti terhadap pengalaman yang dilalui melalui cerita-cerita yang disampaikan oleh subjek penelitian, Dimana penelitian ini akan mendiskripsikan semua fenomena yang terjadi di KB Ahmad Yani, khususnya diperangkat pembelajaran. Subjek penelitian ini adalah kepala sekolah, 1 guru lembaga KB Ahmad Yani dan 1 wali murid.

Pengumpulan data penelitian ini yang digunakan adalah metode observasi dimana peneliti mencatat seluruh kejadian secara langsung di lembaga untuk mendapatkan hasil secara mendalam dari dampak kurangnya kesiapan guru dalam optimalisasi pembelajaran di lembaga KB Ahmad Yani. Sehingga data yang didapatkan merupakan data yang sesuai dengan yang ada di lapangan [18]. Tujuan lain menggunakan metode observasi yaitu data yang di kumpulkan dapat di amati secara jelas. Metode yang kedua menggunakan metode wawancara yaitu teknik pengumpulan data melalui percakapan secara terstrukur dengan pendidik atau kepala sekolah KB Ahmad Yani untuk mendapatkan informasi terkait perangkat pembelajaran yang telah disusun. Peneliti menggunakan metode wawancara peneliti dapat memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenai sudut pandang, pengalaman, terkait dengan topik pelitian. Wawancara merupakan metode pengumpulan data yang sangat efektif dalam menggali informasi mendalam dari responden. Selain tu juga penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data dengan dokumentasi, metode pengumpulan dokumentasi adalah jenis pengumpulan data yang meneliti berbagai macam dokumen yang berguna untuk bahan analisis pendukung dari penelitian ini [19]. Dokumentasi tersebut berupa susunan perangkat pembelajaran yang disusun guru di lembaga KB AhmadYani.

Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis data kualitatif yang dikemukakan oleh Miles, Huberman, dan Saldana, yang dilakukan secara interaktif dan berlangsung terus-menerus hingga data yang diperoleh mencapai titik jenuh (data saturation). Tahapan analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Reduksi data dilakukan dengan cara memilih, memfokuskan, menyederhanakan, serta mengelompokkan data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi sesuai dengan fokus penelitian, yaitu dampak kurangnya kesiapan guru dalam optimalisasi pembelajaran di KB Ahmad Yani. Selanjutnya data yang telah direduksi disajikan dalam bentuk uraian naratif sehingga memudahkan peneliti dalam memahami hubungan antar data dan menemukan pola-pola yang muncul selama penelitian berlangsung. Tahap terakhir yaitu penarikan kesimpulan dan verifikasi dilakukan dengan menafsirkan seluruh data yang telah dianalisis, kemudian membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi melalui teknik triangulasi agar data yang diperoleh memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi. Proses analisis data dilakukan sejak awal penelitian, selama proses pengumpulan data berlangsung, hingga penelitian selesai sehingga hasil penelitian yang diperoleh benar-benar menggambarkan kondisi yang terjadi di KB Ahmad Yani secara objektif dan mendalam.

Hasil dan Pembahasan

A. Hasil

Lembaga KB Ahmad Yani secara geografis terletak di Desa Mlancu, dengan lokasi KB Ahmad Yani di daerah pegunungan, namun lembaga KB Ahmad Yani adalah satu-satunya lembaga yang berijin operasional kelompok bermain di desa tersebut. Lembaga KB Ahmad Yani sebagai lembaga pendidikan anak usia dini memiliki sumber daya manusia, yakni pendidik PAUD yang berjumlah 2 orang. Masing-masingnya berlatar belakang pendidikan tamatan

SMA. Berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan di KB Ahmad Yani melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi, mulai bulan maret sampai april diperoleh temuan bahwa tentang:

1. Kesiapan Guru dalam Menyusun Perangkat Pembelajaran

Hasil observasi menunjukkan bahwa guru belum secara konsisten menyusun perangkat pembelajaran berupa Program Semester (Prosem), RPPM, dan RPPH sebagai pedoman utama dalam kegiatan pembelajaran. Pada awal semester guru menyusun Program Semester, namun penyusunan RPPM dan RPPH belum dilakukan secara rutin. Selama proses pembelajaran berlangsung guru lebih banyak mengajar berdasarkan kebiasaan tanpa mengacu secara penuh pada perangkat pembelajaran yang telah direncanakan. Akibatnya pelaksanaan pembelajaran belum berjalan secara sistematis sesuai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Kegiatan kelas sangat monoton menggunakan buku. APE yang di miliki lembaga KB Ahmad Yani juga sangat sedikit jumlahnya dan jenisnya. APE yang ada disana hanya ada balok berjumlah tidak lebih dari 30 biji, serta ada bola – bola kecil dengan jumlah 10.

Temuan ini juga diperkuat oleh hasil wawancara dengan guru sebagai responden penelitian. Respondensi pertama menyampaikan bahwa beliau belum sepenuhnya memahami cara menyusun perangkat pembelajaran PAUD dengan benar. Korespodensi pertama juga menyatakan bahwa selama ini penyusunan perangkat pembelajaran hanya dilakukan dengan meniru contoh yang sudah ada tanpa memahami secara mendalam komponen-komponen yang harus disusun. Hasil wawancara dari Repondensi kedua selaku kepala sekolah dan guru juga mengungkapkan bahwa dirinya merasa kesulitan dalam menentukan indikator perkembangan anak serta merancang kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan prinsip pembelajaran anak usia dini. Sehingga beliau Selaku kepala sekolah juga belum bisa melakukan pendampingan secara intensif kepada guru untuk mengerjakan perangkat pembelajaran dengan benar sesuai indikator-indikator yang ada di PAUD dikarenakan kepala sekolah juga belum menguasai tentang penyusunan perangkat pembelajaran, sehingga guru belum mendapatkan arahan yang jelas dalam menyusun perangkat pembelajaran yang berkualitas.

Sedangkan Berdasarkan hasil dokumentasi, ditemukan bahwa perangkat pembelajaran yang disusun guru masih belum lengkap dan belum memuat komponen secara rinci, seperti indikator pencapaian perkembangan anak, metode pembelajaran yang bervariasi, serta teknik penilaian yang sistematis. RPPH yang disusun masih bersifat umum dan belum menunjukkan keterkaitan yang kuat antara tujuan, kegiatan, dan evaluasi pembelajaran. Media – media pembelajaran yang digunakan juga masih minim belum inovatif akhirnya mengakibatkan membuat anak tidak tertarik dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

2. Faktor Penghambat Kesiapan Guru

Hasil data menunjukkan bahwa faktor penghambat secara konsisten pada ketiga sumber data. Hasil observasi menunjukan terbatasnya penggunaan media pembelajaran serta kurang bervariasinya kegiatan bermain yang diberikan kepada anak. Guru belum bisa membuat media main untuk anak – anak sesuai tema yang ada. Sehingga setiap harinya anak – anak waktu pembelajaran hanya berbasis buku. APE yang dimiliki di lembaga jumlahnya sangat minim. Dalam pemanfaatannya guru juga belum secara maksimal dalam pembelajaran untuk menstimulus perkembangan anak setiap harinya. Guru juga belum men

Data tersebut diperkuat dengan hasil wawancara dari korespondensi pertama yaitu kepada guru yang menyatakan bahwa penyebab dari tidak pahamnya dalam menyusun perangkat pembelajaran PAUD di karenakan beliau mengakui belum pernah sama sekali mengikuti diklat tetang penyusunan perangkat pembelajaran. sehingga pengetahuan yang dimiliki beliau masih sangat terbatas dalam memahaminya. Dari hasil wawancara dengan korespondensi pertama alasan mengapa tidak mengikuti pelatihan dikarenakan faktornya terkendala dari keluarga yang tidak mengijinkan untuk mengikuti kegiatan yang jauh dari rumah. Sedangkan hasil wawancara kepada korespondensi kedua yaitu kepada kepala sekolah juga merangkap menjadi guru kelas Beliau menyatakan pernah mengikuti hanya beberapa kali pelatihan khusus tentang penyusunan perangkat pembelajaran dan beliau juga pernah mengikuti diklat berjenjang namun masih ada keterbatasan pemahaman beliau tentang penyusunan perangkat pembelajaran itu sendiri sehingga pengetahuan yang dimiliki beliau masih sangat terbatas. Sehingga tidak bisa mendampingi guru dalam penyusunan perangkat pembalajaran dan menyiapkan APE sesuai tema yang ada.

Sementara itu hasil dokumentasi memperlihatkan bahwa perangkat pembelajaran belum disusun secara lengkap dan belum mengitegrasikan berbagai aspek perkembangan anak usia dini yaitu perkembangan nilai agama dan moral, fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional. Guru setiap harinya belum secara rutin membuat RPPH. Waktu membuat RPPH juga tidak jadi acuan dalam pembelajaran itu sendiri. APE yang menunjang perkembangan anak pun belum banyak di miliki di KB Ahmad Yani. Akhirnya menyebabkan anak- anak cepat bosan dalam kegiatan kelas dan interaktif sendiri tidak sesuai arahan guru atau tidak sesuai dengan RPPH yang ada. Jumlah APE jadi yang ada di lembaga juga tidak beragam serta jumlahnya sangat minim.

3. Dampak terhadap Optimalisasi Pembelajaran Anak

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan selama proses pembelajaran, diketahui bahwa kegiatan belajar masih didominasi oleh penggunaan buku sebagai media utama. Guru lebih sering menyampaikan materi melalui aktivitas mengerjakan lembar kerja, atau penugasan yang berpusat pada buku, sehingga variasi metode pembelajaran belum terlihat secara optimal. Kondisi tersebut mengakibatkan anak cenderung cepat merasa bosan. Kehilangan minat belajar, serta kurang menunjukkan keterlibatan aktif selama mengikuti kegiatan pembelajaran. Padahal, pada jenjang pendidikan anak usia dini, proses belajar seharusnya dirancang melalui kegiatan yang menyenangkan, interaktif, dan berpusat pada pengalaman langsung agar mempu merangsang rasa ingin tahu serta meningkatkan partisipasi anak dalam aktivitas pembelajaran.

Temuan tersebut dipekuat oleh hasil wawancara dengan wali murid murid yang menyatakan bahwa ana sering mengungkapkan rasa bosan ketika mengikuti pembelajaran di sekolah. Menuriut wali murid, kegiatan belajar yang dilaksanakan masih lebih banyak dilakukan di dalam kelas dengan aktivitas yang relatif monoton dan belum memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber balajar. Akibatnya, anak memperoleh pengalaman belajar yang terbatas dan kurang memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi objek – objek nyata yang terdapat di lingkungan sekitarnya. Padahal, anak – anak sangat suka bila diajak belajar yang berhuban dengan alam atau benda konkret. Selain hasil observasi dan wawancara, data dokumentasijuga menunjukkan bahwa lembaga masih memiliki keterbatasan dalam penyediaan media pembelajaran maupun alat permainan edukatif (APE). Jumlah media yang tersedia masih terbatas dan belum mampu mendukung pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang beragam. Kondisi tersebut menyebabkan guru memiliki pilihan yang terbatas dalam merancang aktivitas belajar yang kretaif, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Keterbatasan media pembelajaran juga berpotensi mengurangi kesempatan anak untuk belajar melalui pengalaman konkret, manipulatif dan eksploratif yang sangat penting dalam pembelajaran anak usia dini.

Dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi diperoleh kesimpulan bahwa ketiga sumber data tersebut saling mendukung dan menunjukan adanya keterkaitan yang kuat. Kurangnya kesiapan guru dalam merancang, mengembangkan dan melaksanakan pembelajaran yang inovatif berdampak pada belum optimalnya proses pembelajaran yang diberikab kepada anak. Pembelajaran yang kurang bervariasi menyebabkan kegiatan belajar menjadi kurang menarik, sehingga anak tidak memperoleh pengalaman belajar yang beragam sesuai dengan karakteristik perkembangan mereka. Di samping itu, keterbatasan pemanfaatan media dan linggkungan belajar mengakibatkan stimulasi terhadap aspek perkembangan anak belum dapat dilakukan secara menyeluruh.

Dampak dari kondisi tersebut terlihat pada menurunnya motivasi belajar peserta didik. Anak menjadi kurang antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, kurang aktif berpartisipasi, serta menunjukan keterlibatan yang rendah selama proses belajar berlangsung. Apabila kondisi ini terus berlajut, maka tujuan pembelajaran anak usia dini untuk mengembangkan selurug aspek perkembangan anak usia dini skan sulit tercapai secara optimal. Serta dampak yang terlihat setiap tahunnya dalam penerimaan peserta didik baru selalu sedikit untuk peminatnya Oleh karena itu diperlukan peingkatan kesiapan guru melalui pengembangan kompetensi profesional, kreativitas dalam memanfaakan media pembelajaran, serta optimalisai penggunaan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar agar proses pembelajaranmenjadi lebih menarik, bemakna, dan mampu meningkatkan motivasi serta perkembangan anak secara menyeluruh.

Pembahasan

1. Kesiapan Guru dalam Menyusun Perangkat Pembelajaran

Kesiapan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran merupakan faktor penting dalam optimalisasi pembelajaran anak usia dini [20]. Perangkat pembelajaran yang disusun secara sistematis dan sesuai dengan kebutuhan anak akan membantu guru dalam merancang kegiatan pembelajaran yang efektif dan bermakna. Perencanaan pembelajaran menjadikan guru dapat mempersiapkan dan menentukan tindakan apa yang akan dilakukan saat proses pembelajaran berlangsung. Perencanaan pembelajaran merupakan pedoman utama dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas [21]. Namun hasil penelitian melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, diketahui bahwa kesiapan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran di KB Ahmad Yani masih belum optimal. Ketiga teknik pengumpulan data tersebut menunjukkan hasil yang saling menguatkan sehingga memberikan gambaran yang utuh mengenai kondisi nyata di lapangan. Hasil observasi memperlihatkan bahwa guru belum secara konsisten menyusun dan menggunakan perangkat pembelajaran seperti Program Semester (Prosem), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mingguan (RPPM), dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) sebagai pedoman utama dalam melaksanakan proses pembelajaran. Meskipun pada awal semester guru telah menyusun Program Semester, namun penyusunan RPPM dan RPPH belum dilakukan secara rutin sehingga kegiatan belajar lebih banyak berlangsung berdasarkan pengalaman dan kebiasaan guru daripada berdasarkan perencanaan yang sistematis. Kondisi tersebut menyebabkan proses pembelajaran belum berjalan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan serta kurang mampu memberikan pengalaman belajar yang bervariasi bagi anak. Guru yang belum memiliki kesiapan

yang baik akan mengalami kesulitan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini waktu di kelas. Karakteristik anak usia dini itu sendiri yaitu aktif, egosentris, penuh rasa ingin tahu, berimajinasi tinggi, dan senang meniru [22]. Mereka belajar melalui bermain dan pengalaman langsung. Sedangkan kegiatan yang ada di KB Ahmad Yani belum memenuhi kebutuhan anak usia dini. Kondisi ini sejalan dengan penelitian Asmawulan dan Wardhani pada tahun 2025 yang menyatakan bahwa kompetensi guru dalam mengimplementasikan kurikulum sangat berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran [23]. Guru yang memiliki kompetensi kurang dalam menyusun perangkat pembelajaran cenderung menghasilkan pembelajaran yang kurang variatif dan kurang menarik bagi anak.

Hasil wawancara dengan guru memperkuat temuan observasi tersebut. Guru mengungkapkan bahwa dirinya belum memahami secara menyeluruh cara menyusun perangkat pembelajaran PAUD sesuai ketentuan yang berlaku. Selama ini penyusunan perangkat pembelajaran lebih banyak dilakukan dengan mencontoh dokumen yang telah ada tanpa memahami secara mendalam setiap komponen yang harus disusun. Kepala sekolah juga menyampaikan bahwa dirinya masih mengalami kesulitan dalam menentukan indikator perkembangan anak serta merancang kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini. Kondisi tersebut menyebabkan kepala sekolah belum mampu memberikan pendampingan secara maksimal kepada guru dalam penyusunan perangkat pembelajaran. Dari hasil wawancara terlihat bahwa keterbatasan pemahaman tidak hanya dialami oleh guru, tetapi juga oleh kepala sekolah sehingga proses pembinaan belum dapat berjalan secara optimal. Sedangkan kepala sekolah adalah penilai dari kinerja guru dan sebagai pendamping guru dalam proses pembelaran.

Data dokumentasi semakin memperkuat hasil observasi dan wawancara. Dokumen perangkat pembelajaran yang dimiliki lembaga menunjukkan bahwa RPPH yang disusun masih bersifat umum, belum memuat indikator perkembangan anak secara rinci, belum menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi, serta belum dilengkapi teknik penilaian yang sistematis. Selain itu, media pembelajaran yang digunakan juga masih sangat terbatas sehingga kegiatan belajar kurang menarik bagi anak. Dengan demikian, hasil triangulasi dari ketiga sumber data menunjukkan bahwa kesiapan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran belum memenuhi kebutuhan pembelajaran anak usia dini yang menekankan pembelajaran aktif, menyenangkan, dan berpusat pada anak. Kondisi tersebut berdampak pada pelaksanaan pembelajaran yang kurang terarah dan kurang optimal dalam menstimulasi seluruh aspek perkembangan anak.

2. Faktor-Faktor yang Menghambat Kesiapan Guru dalam Menyusun Perangkat Pembelajaran

Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang menjadi penghambat kesiapan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran di KB Ahmad Yani. Berdasarkan hasil observasi, terlihat bahwa media pembelajaran yang tersedia di lembaga masih sangat terbatas dan kegiatan bermain yang diberikan kepada anak kurang bervariasi. Guru belum mampu mengembangkan media pembelajaran maupun Alat Permainan Edukatif (APE) sesuai tema pembelajaran sehingga aktivitas belajar lebih banyak menggunakan buku sebagai media utama. Keterbatasan tersebut menyebabkan anak memperoleh pengalaman belajar yang monoton dan kurang mendapatkan stimulasi melalui aktivitas bermain yang menjadi karakteristik utama pembelajaran anak usia dini.

Dalam konteks pembelajaran anak usia dini, pendekatan yang digunakan seharusnya berbasis bermain. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa guru belum sepenuhnya mampu mengintegrasikan konsep bermain dalam kegiatan pembelajaran. Seperti penelitian dari Mawardah dan Safira yang menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis bermain merupakan pendekatan yang efektif dalam meningkatkan keterlibatan anak dan mengoptimalkan perkembangan berbagai aspek secara menyeluruh [24]. Oleh karena itu, ketidakmampuan guru dalam merancang kegiatan bermain yang edukatif akan berdampak pada kurang optimalnya perkembangan anak. Keterbatasan media pembelajaran juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pembelajaran. Media pembelajaran yang menarik dan variatif dapat meningkatkan minat belajar anak serta membantu guru dalam menyampaikan materi pembelajaran secara lebih efektif [25]. Namun, dalam penelitian ini ditemukan bahwa penggunaan media pembelajaran masih sangat terbatas, sehingga pembelajaran menjadi kurang menarik dan monoton.

Temuan observasi tersebut diperkuat oleh hasil wawancara dengan guru dan kepala sekolah. Guru menyampaikan bahwa dirinya belum pernah mengikuti pelatihan atau pendidikan dan pelatihan mengenai penyusunan perangkat pembelajaran PAUD sehingga pengetahuan yang dimiliki masih sangat terbatas. Guru juga menjelaskan bahwa terdapat kendala keluarga yang menyebabkan dirinya tidak dapat mengikuti pelatihan yang dilaksanakan di luar daerah. Di sisi lain, kepala sekolah mengungkapkan bahwa dirinya memang pernah mengikuti beberapa pelatihan, namun frekuensinya masih sangat sedikit sehingga pemahaman mengenai penyusunan perangkat pembelajaran belum sepenuhnya dikuasai. Akibatnya, kepala sekolah belum mampu memberikan bimbingan dan pendampingan secara intensif kepada guru dalam menyusun perangkat pembelajaran maupun mengembangkan media pembelajaran sesuai tema. Hasil wawancara ini menunjukkan bahwa keterbatasan kompetensi guru dipengaruhi oleh minimnya kesempatan mengikuti pelatihan serta kurangnya pendampingan profesional di lingkungan lembaga.

Sementara itu, hasil dokumentasi menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran yang tersedia belum mengintegrasikan seluruh aspek perkembangan anak usia dini secara menyeluruh. Guru juga belum secara rutin menyusun RPPH sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran harian. Selain itu, jumlah APE yang dimiliki lembaga sangat terbatas sehingga guru mengalami kesulitan dalam memberikan variasi kegiatan bermain yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Berdasarkan hasil triangulasi dari observasi, wawancara, dan dokumentasi dapat disimpulkan bahwa faktor penghambat kesiapan guru tidak hanya berasal dari keterbatasan kompetensi guru, tetapi juga dipengaruhi oleh minimnya pelatihan, kurangnya pendampingan dari kepala sekolah, serta keterbatasan sarana dan media pembelajaran yang tersedia di lembaga. Kondisi tersebut menyebabkan penyusunan perangkat pembelajaran belum dapat dilakukan secara optimal.

3. Dampak Kesiapan Guru terhadap Optimalisasi Pembelajaran Anak

Lembaga PAUD harus mempunyai kesiapan yang matang sebelum pembelajaran. Dampak dari kurangnya kesiapan guru, hal ini bisa terlihat pada rendahnya kualitas pembelajaran pada proses dan hasil yang berlangsung di kelas [26]. Seperti yang ada di KB Ahmad Yani guru menunjukan belum siap dalam kegiatan pembelajaran setiap harinya, itu menyebabkan Anak-anak kurang termotivasi untuk berpartisipasi aktif karena kegiatan yang disajikan kurang menarik dan tidak sesuai dengan tahap perkembangannya anak usia dini. Sedangkan seharusnya Perkembangan aspek kognitif, sosial-emosional, bahasa, dan motorik anak terstimulus dengan baik pada pendidikan PAUD. Semua aspek perkembangan tersebut harus menjadi acuan utama dalam penyusunan perangkat pembelajaran di PAUD. Ketika guru gagal mengintegrasikan semua aspek ini ke dalam RPPH-nya, maka observasi tumbuh kembang anak sebagai tolak ukur keberhasilan juga menjadi tidak akurat. Hal ini sejalan dengan penelitian kharisma yang menyatakan bahwa kurangnya kreativitas guru dalam menyusun perangkat pembelajaran dapat menghambat perkembangan anak secara optimal [27].

Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa kurangnya kesiapan guru dalam menyusun dan melaksanakan perangkat pembelajaran memberikan dampak langsung terhadap optimalisasi pembelajaran anak di KB Ahmad Yani. Hasil observasi menunjukkan bahwa proses pembelajaran masih didominasi oleh penggunaan buku sebagai media utama. Guru lebih banyak memberikan aktivitas berupa mengerjakan lembar kerja dibandingkan kegiatan bermain yang bersifat eksploratif. Akibatnya, anak terlihat cepat merasa bosan, kurang antusias mengikuti pembelajaran, serta belum menunjukkan keterlibatan aktif selama kegiatan berlangsung. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran belum sepenuhnya menerapkan prinsip pembelajaran anak usia dini yang seharusnya berpusat pada pengalaman langsung, kegiatan bermain, dan aktivitas yang menyenangkan. Guru seharusnya menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan benda konkret, permainan edukatif, kegiatan eksplorasi, dan interaksi dengan lingkungan agar konsep yang dipelajari lebih mudah dipahami oleh anak. Ketika pembelajaran hanya berlangsung di dalam kelas dengan aktivitas yang monoton, kesempatan anak untuk membangun pengetahuan melalui interaksi sosial dan pengalaman langsung menjadi terbatas. Kondisi tersebut sesuai dengan hasil wawancara wali murid yang menyatakan bahwa anak lebih senang apabila belajar menggunakan benda-benda nyata atau belajar di luar kelas.

Dampak Lain dari kurangnya kesiapan guru dalam proses pembelajaran juga terlihat pada berkembangnya lembaga KB Ahmad Yani tentang penerimaan peserta didik baru. Setiap tahunnya anak yang mendaftar di KB Ahmad Yani tidak banyak, padahal lembaga Kelompok bermain ( KB) di desa tersebut hanya Ahmad Yani saja. Seharusnya peluang untuk mendapatkan peserta didik sangat besar. Dengan kegiatan – kegiatan pembalajaran yang menarik akan menjadi daya tarik tersendiri untuk masyarakat mendaftakan anaknya ke lembaga pendidikan tersebut [28].

Dengan demikian, hasil penelitian ini menegaskan bahwa kesiapan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan pembelajaran anak usia dini. Hasil penelitian tersebut di dukung dengan penelitian dari Ika dan Anggraeny yang menyatakan bahwa Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran sangat menentukan untuk keberhasilan anak didik dalam mencapai tujuan pembelajaran [29]. Upaya peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan, pendampingan, dan evaluasi secara berkelanjutan sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di lembaga PAUD. Melalui pelatihan – pelatihan guru lebih memperbanyak wawasan terkait menyiapkan pembelajaran di dalam kelas, terkhusus pelatihan terkait tentang penyusunan perangkat pembalajaran. Hasil penelitian ini juga diperkuat dari penelitian Maria dan Yusmaniar penelitian yang menyatakan Dengan pengetahuan dan wawasan pada pelatihan, maka guru mampu menciptakan pembelajaran yang menarik yang dapat memotivasi dan memfasilitasi pembelajaran bagi peserta didiknya [30].

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kesiapan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran di KB Ahmad Yani masih belum optimal, baik dari segi perencanaan maupun implementasi.

APE yang diiliki lembaga juga belum beragam sehingga menjadi kendala dalam kesiapan dalam pembelajaran. Meskipun guru telah memiliki perangkat pembelajaran seperti Prosem, RPPM, dan RPPH, namun penyusunannya belum sistematis, kurang variatif, dan belum sepenuhnya mengacu pada kebutuhan perkembangan anak usia dini. Faktor-faktor yang menjadi penghambat kesiapan guru meliputi kurangnya pelatihan dan pengembangan profesional, minimnya pemahaman tentang pentingnya perangkat pembelajaran, keterbatasan media pembelajaran, serta rendahnya kreativitas guru dalam merancang kegiatan pembelajaran berbasis bermain.

Dampak pada kurang optimalnya proses pembelajaran di kelas terlihat dari kurangnya kesiapan guru pada pembelajaran yang kurang terstruktur, kurang menarik, dan kurang mampu menstimulasi seluruh aspek perkembangan anak secara optimal. Oleh karena itu, kesiapan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran menjadi faktor kunci dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di lembaga PAUD. Serta setiap tahunnya dalam penerimaan peserta didik baru selalu sedikit. Dengan demikian, diperlukan upaya yang berkelanjutan dalam meningkatkan kompetensi guru melalui pelatihan, pendampingan, serta dukungan dari lembaga dan yayasan agar pembelajaran yang dilaksanakan dapat berjalan secara optimal dan sesuai dengan tujuan pendidikan anak usia dini.

Ucapan Terima Kasih

Alhamdulillah, Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya telah memberikan pertolongan dan mempermudah dalam penulis artikel ini. Tak lupa pula Penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada keluarga yang mendukung dan mendoakan yang terbaik untuk penulis dan dukungan sepanjang proses penyusunan artikel ini. Serta ucapan terima kasih penulis kepada dosen pembimbing yang telah sabar dalam memberikan bimbingan, arahan dan juga masukan positif bagi penulis dalam proses penyusunan artikel. Dan terima kasih juga untuk kepala sekolah dan para guru KB Ahmad Yani yang sudah memberikan kesempatan bagi penulis untuk pelaksanaan penelitian ini, serta teman-teman seperjuangan terima kasih atas segala bantuan yang diberika dalam Keberhasilan penyusunan Artikel ini semua berkat doa, ketekunan, konsisten, komitmen serta dorongan dari semua pihak. Harapan saya semoga penelitian ini dapat memberikan manfaat dan tambahan ilmu bagi semua pihak yang membacanya.

References

R. Yoseptry and E. Nuryati, “Manajemen Sumber Daya Guru Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Anak Usia Dini Di TK Al-Hidayah Pesanggrahan,” Journal for Islamic Studies, vol. 6, 2023.

Tri and D. Junita, “Kesiapan Guru Dalam Menghadapi Transformasi Kurikulum Merdeka Di PAUD,” Mutiara Pendidikan, vol. 5, p. 1, 2025.

Dian and N. Miyono, “Strategi Peningkatan Kualitas Layanan Pendidikan Anak Usia Dini Di TK Dewi Sartika Kecamatan Bergas,” Didaktik, vol. 9, 2023.

N. Baiti, Perkembangan Anak Melejitkan Potensi Anak Sejak Dini, 2021.

Muhammad and L. Novita, “Peran Penting Orang Tua Dalam Meningkatkan Kognitif Anak Melalui Kegiatan Bermain Edukatif,” Bunayya, vol. 5, 2025.

K. Dhiu and L. Dek Ngurah, Aspek Perkembangan Anak Usia Dini, 2021.

M. Mutia and D. Safira, “Metode Pembelajaran Berbasis Bermain Pada Anak Usia Dini Di TK/MI YASPA Palembang,” Ilmiah Edukatif, vol. 5, no. 2, pp. 297–304, 2025.

U. Umi and S. Dadan, “Kompetensi Guru PAUD Mengimplementasikan Kurikulum 2013,” Obsesi, vol. 6, 2022.

K. Utami and T. David, “Komperasi Perangkat Pembelajaran Kurikulum (2013 Dan Merdeka) Anak Usia Dini,” Golden Age, vol. 8, no. 1, pp. 53–68, 2024.

Y. Yuel and H. Oktani, “Optimalisasi Kompetensi Tenaga Pendidikan Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Pada Anak Usia Dini,” Khirani, vol. 2, 2024.

S. Eka and F. Ahmad, “Perencanaan Pembelajaran Dalam Pendidikan Anak Usia Dini,” Abata, vol. 2, pp. 234–240, 2022.

L. Nihayutul, “Pendampingan Pembuatan Perangkat Pembelajaran Terhadap Kompetensi Guru PAUD,” Eduabdimas, vol. 4, no. 1, 2025.

Nurahillah, Munawar, and Muhammad, “Tantangan Dan Solusi Kepemimpinan Di Lembaga PAUD: Menjawab Kebutuhan Pendidikan Modern,” Profesi Pendidikan, vol. 10, no. 1, 2025.

P. Sapta and F. Fiaz, “Tantangan Guru Dalam Mengadaptasi Kurikulum Yang Terus Menerus Berubah Di Indonesia,” Manajerial, vol. 5, no. 1, 2025.

R. Ahmad and D. Muflih, “Program Manajemen Pendidikan Dan Penelitian (Diklat) Dalam Upaya Meningkatkan Kinerja Guru,” JPDSK, vol. 2, 2024.

R. F. Muhammad, “Memahami Desain Metode Penelitian Kualitatif,” Humanika, vol. 21, 2021.

N. Fahriana and H. Dina, “Pendekatan Kualitatif Dalam Penelitian: Strategi, Tahapan, Dan Analisis Data,” JTPP, vol. 2, 2025.

J. Heni and M. Sri, “Metode Pengumpulan Data Kualitatif,” Tambusai, vol. 9, 2025.

D. Gagah and S. Pia, “Pengumpulan Data Penelitian,” J-CEKI, vol. 3, no. 5, 2024.

L. Anik, Perencanaan Pembelajaran Kreatif Anak Usia Dini. Bandung, Indonesia, 2022.

Ergawati and A. Ibnu, “Perencanaan Pengajaran Dalam Kegiatan Pembelajaran,” Guru Kita, vol. 7, p. 2, 2023.

Darain and Ari Susanto, “Perkembangan Nilai Moral Dan Agama Dalam Meningkatkan Belajar Anak Usia Dini Di PAUD Nurussa’adah Kelurahan Bram Itam Kiri,” Tarbiyatul Athfal, vol. 1, 2026.

Tri and D. Junita, “Kesiapan Guru Dalam Menghadapi Tranformasi Kurikulum Merdeka PAUD,” Homepage, vol. 5, 2025.

M. Mutia and D. Safira, “Metode Pembelajaran Berbasis Bermain Pada Anak Usia Dini Di TK/MI YASPA Palembang,” Ajad, vol. 5, pp. 297–304, 2025.

D. Nila and P. Alwahyuni, “Analisis Media Pembelajaran Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Melalui Pembelajaran Berbasis Teknologi,” Multidisiplin Ilmu Akademik, vol. 2, pp. 397–408, 2025.

Ramandhani and W. Aan, “Kendala Pelaksanaan Metode Pembelajaran Kurikulum Merdeka Pada Proses Pembelajaran Di Sekolah Dasar Negeri,” SITTAH, vol. 2, pp. 167–178, 2024.

Irfan and R. Kharisma, “Analisis Kompetensi Guru Terhadap Penyusunan Perangkat Pembelajaran Pada Kurikulum Merdeka Di Sekolah Dasar,” Scolaria, vol. 15, 2025.

M. Syafi’i and S. Mochammad, “Terobosan Strategi Untuk Meningkatkan Jumlah Siswa Di Lembaga Pendidikan,” JAMED, vol. 1, 2025.

P. Ika and U. Anggraeny, “Pelatihan Penyusunan Perangkat Pembelajaran Berbasis STEAM Bagi Guru PAUD,” Dedication, vol. 6, 2022.

Yusmaniar and P. Maria, “Pelatihan Model Pembelajaran Daring Untuk Meningkatkan Kompetensi Guru Di Kabupaten Bekasi,” ABSYARA, vol. 3, 2022.