Login
Section Elementary Education Method

Improving Fine Motor Skills in Children Through Collage Activities Among 4- to 5-Year-Olds at Al-Ikhsan Islamic Kindergarten

Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Kolase Pada Kelompok Usia 4-5 Tahun di TK Islam Al-Ikhsan
Vol. 21 No. 3 (2026): August:

Salwa Taufiq (1), Choirun Nisak Aulina (2)

(1) Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini , Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini , Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Fine motor development is an important aspect of early childhood development, particularly for children aged 4–5 years who require stimulation involving small muscles and eye-hand coordination. Specific Background: At TK Islam Al-Ikhsan, several children experienced difficulties holding pencils, opening bottle caps, grasping objects, and performing activities requiring fine motor control. Knowledge Gap: The study addresses the need for a more varied classroom activity by applying collage with simple materials to the observed fine motor difficulties in Group A2. Aims: This study aims to examine the application of collage activities and the improvement of fine motor skills among 4- to 5-year-old children. Results: Using classroom action research conducted in two cycles, data were collected through observation and documentation. Achievement increased from 12.50% in the pre-cycle to 37.50% in Cycle I and 87.50% in Cycle II. The activities used origami paper pieces, corn kernels, and Dacron attached to prepared picture patterns, with improvements including enlarged patterns and easier-to-handle materials in Cycle II. Novelty: The study applies simple collage materials and step-by-step classroom improvements to train eye-hand coordination, grasping, and object-picking skills in the specific context of Group A2. Implications: The findings indicate that structured collage activities using accessible materials can be used as a classroom activity to provide repeated stimulation for fine motor development in early childhood.


Key Findings Highlights


Achievement increased from 12.50% before the intervention to 87.50% after two cycles.


Enlarged picture patterns and easier-to-handle materials addressed difficulties observed during the first cycle.


Children showed better coordination, grasping, object-picking, focus, and independence during the second cycle.


Keywords : Fine Motor Skills, Collage Activities, Early Childhood, Eye-Hand Coordination, Classroom Action Research

I. Pendahuluan

Anak usia dini adalah anak yang berada pada rentang usia 0-6 tahun, yaitu di dalam periode ini anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang berlangsung sangat cepat. Dimana pada tahap ini anak mampu menerima dan menerapkan pembelajaran dengan mudah dan cepat. Anak sering kali diibaratkan seperti lembaran kertas putih yang dapat dengan mudah mengukir tulisan didalamnya. Proses pemberian dan penyerapan kegiatan pada anak dalam bentuk yang paling sederhana biasanya diawali dengan “ copy and paste “, yaitu dapat di artikan sebagai pemberian suatu objek atau perilaku tertentu kemudian anak diminta untuk menirunya, baik dalam komunikasi maupun tindakan sehari-hari [1]. Pada periode ini anak seringkali disebut sebagai masa emas atau golden age yang merupakan periode penting bagi anak, dimana setiap perkembangan yang dialami akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan kemampuan yang dimilikinya di masa yang akan datang [2]. Usia 4-5 tahun merupakan masa peka bagi anak, dimana mereka mulai menunjukkan kepekaan yang tinggi dalam menerima berbagai rangsangan dalam mendukung perkembangan seluruh potensi. Masa peka ini ditandai oleh proses pematangan fisik dan psikologis sehingga anak lebih siap untuk merespon rangsangan dari lingkungan sekitar. Selain itu masa ini merupakan fondasi awal untuk membangun kemampuan fisik, kognitif, sosial dan kemandirian [3]. Oleh sebab itu sangat penting untuk memberikan perhatian khusus kepada anak usia dini. Perhatian tersebut dapat di berikan melalui pendidikan langsung oleh orang tua atau melalui lembaga pendidikan anak usia dini [4].

Pendidikan anak usia dini merujuk pada tahap pendidikan dasar yang merupakan proses pembinaan khusus bagi anak mulai dari kelahiran hingga usia enam tahun. Proses ini dilakukan dengan memberikan berbagai stimulasi yang bertujuan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal [5]. Taman kanak-kanak merupakan salah satu jenis lembaga pendidikan anak usia dini yang khusus diperuntukan bagi anak usia empat hingga enam tahun, dengan fokus pada lingkungan belajar untuk memberikan rasa aman. Pada tahap ini dasar awal diletakkan untuk membina kemampuan fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional, serta nilai-nilai agama, sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak dapat tercapai secara maksimal [6]. Lembaga pendidikan bertujuan untuk merangsang, membimbing dan mengembangkan berbagai kemampuan anak. Salah satu aspek penting dari kemampuan tersebut adalah kemampuan fisik motorik yang meliputi motorik kasar dan halus [7].

Perkembangan motorik menggunakan otot besar yang merupakan perkembangan motorik kasar sedangkan perkembangan yang menggunakan otot kecil merupakan perkembangan motorik halus. Motorik halus berkaitan erat dengan aktivitas yang menempatkan suatu objek menggunakan jari-jari tangan, dengan memerlukan koordinasi antara mata dan tangan [8]. Sundari menyatakan bahwa kemampuan motorik kasar maupun halus memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung proses tumbuh kembang anak secara optimal. Namun pada usia 4-5 tahun kemampuan motorik halus menjadi sangat perlu mendapatkan perhatian lebih. Karena apabila anak tidak memperoleh stimulasi dan pelatihan yang memadai, perkembangan motorik halusnya akan terhambat sehingga anak mengalami kesulitan dalam menguasai berbagai kemampuan yang sesuai dengan tahap usianya [9]. Kemampuan motorik halus adalah kemampuan yang dirangsang melalui aktivitas yang menggunakan otot kecil serta koordinasi antara mata dan tangan, sehingga anak dapat melakukan gerakan terarah dan menghasilkan suatu karya. Pengembangan kemampuan motorik halus sangat penting karena berkaitan erat dengan aspek perkembangan lainya. Seefeld & Wasik menyatakan bahwa anak usia 3-5 tahun dapat mengembangkan dan meningkatan kendali atas otot-otot halus pada dirinya. Menurut seefeld & Wasik menunjukan bahwa pada rentang usia tersebut kemampuan motorik halus anak sudah mencapai tingkat perkembangan yang baik [10]. Perkembangan motorik halus anak usia 4-5 tahun dapat dikatakan berkembang apabila anak telah mencapai perkembangan yang sesuai dengan tahapan usia nya: 1) melakukan gerakan manipulatif (menggengam, menjumput, menjimpit dan menjempit); 2) kelenturuan pergelangan tangan; 3) koordinasi mata dan tangan. Anak dianggap memiliki kemampuan motorik halus yang baik apabila anak mampu menyelesaikan tugas perkembangan sesuai dengan tahap usianya. Hal ini ditunjukkan ketika anak mampu menggerakan jari-jemari dan pergelangan tangan secara tepat dengan melibatkan penggunaan ibu jari dan ujung jari dalam melakukan berbagai aktivitas [11]. Dini P dan Daeng Sari menyatakan bahwa motorik halus adalah aktivitas yang melibatkan aktivitas otot-otot kecil yang menuntut koordinasi mata dan tangan serta pengendalian gerak yang memungkinkannya melakukan ketepatan dan kecermatan dalam gerak [12]. Bambang sujiono menjelaskan bahwa gerakan motorik halus merupakan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan oleh otot-otot kecil seperti jari jemari dan gerakan pergelangan tangan yang tepat. Gerakan ini tidak memerlukan banyak tenaga, tetapi membutuhkan koordinasi mata dan tangan yang tepat. Ketika kemampuan koordinasi mata dan tangan anak berkembang dengan baik, mereka akan lebih mudah mengurus diri sendiri dengan tetap berada dalam pengawasan orang dewasa [13]. Oleh karna itu orang tua dan guru perlu memahami perkembangan motorik halus anak usia dini serta berbagai permasalahan yang mungkin muncul agar dapat memberikan penanganan dan solusi yang tepat. Hurlock menjelaskan bahwa kemampuan melakukan gerakan manipulatif merupakan bagian dari perkembangan motorik halus yang melibatkan koordinasi otot-otot kecil tangan dan jari, yang berkembang melalui latihan dan stimulasi lingkungan. Serta perkembangan motorik halus dapat diartikan sebagai perkembangan dari unsur kematangan pengendalian gerak tubuh dan otak sebagai pusat gerak [14]. Menurut Toho dan Gusril bahwa fungsi utama motorik ialah mengembangkan kesanggupan dan kemampuan setiap individu yang berguna untuk mempertinggi daya kerja setiap anak. Dari berbagai pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa kemampuan motorik halus anak berkembang lebih baik apabila diberikan latihan secara konsisten dan berulang. Latihan terus menurus akan membuat anak terbiasa melakukan aktivitas yang melibatkan koordinasi dan kekuatan otot-otot halus pada dirinya.

Berdasarkan hasil observasi di Kelompok A TK Islam Al-ikhsan masih terdapat beberapa anak yang belum menunjukkan kemampuan motorik halus secara optimal, terutama dalam hal memegang pensil dan membuka tutup botol. Temuan ini terlihat dari data di lapangan, dimana dari 16 anak hanya 5 anak (31%) yang telah mencapai perkembangan sesuai harapan, sementara 11 anak lainya (69%) mengalami berbagai hambatan dalam kemampuan tersebut. Kesulitan ini terlihat saat anak ingin membuka tutup botol ketika hendak minum. Beberapa anak belum mampu melakukannya dengan benar, bahkan ada yang membuka tutup botol menggunakan gigi, serta ada yang masih memerlukan bantuan guru. Selain itu ketika diberi tugas oleh guru beberapa anak masih menggunakan alat tulis dengan cara mengepal yang menunjukkan belum optimalnya kekuatan otot jari. Hal ini dikarenakan guru masih bersifat konvensional, misalnya meremas tisu atau kertas, memegang benda dengan tekstur halus maupun kasar. Namun serangkaian kegiatan yang diberikan belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan anak. Temuan ini menunjukan perlunya penerapan pembelajaran yang lebih variatif dan menyesuaikan dengan perkembangan anak usia dini, agar motorik halus dapat berkembang secara optimal.

Pengembangan kemampuan motorik halus perlu mendapat perhatian khusus karena berperan penting dalam mendukung perkembangan anak secara menyeluruh. Terdapat berbagai bentuk kegiatan yang digunakan untuk menstimulasi motorik halus salah satu kegiatan yang dapat dilakukan ialah dengan kegiatan kolase [15]. Menurut Muharrar dan Verayanti menjelaskan kata kolase dalam bahasa inggris dikenal dengan sebutan collage, kata tersebut berasal dari bahasa Prancis yaitu coller, yang memiliki arti merekatkan atau menempelkan berbagai bahan menjadi satu kesatuan. Kegiatan kolase ini melibatkan kerja sama antara otot, saraf, otak dan jari tangan selama proses pembuatannya. Melalui aktivitas menjumput dan menempel berbagai bahan, anak dapat melatih kemampuan motorik halus sehingga dapat meningkatkan kelenturan pada jari-jari anak [16]. Kolase adalah salah satu teknik seni yang dilakukan dengan menempelkan berbagai macam bahan pada suatu bidang sehingga membentuk susunan pada permukaan datar. Kegiatan kolase ini dapat membantu mengembangkan kemampuan motorik halus anak karena melibatkan gerakan yang terkoordinasi, seperti mengambil bahan, mengoleskan lem, dan menempelkan bahan pada tempat yang sesuai [17]. Kolase dapat dikenalkan kepada anak melalui kegiatan menghias dengan menggunakan biji-bijian maupun potongan-potongan kertas. Kegiatan ini mengandung banyak unsur pembelajaran yang bermanfaat bagi perkembangan anak. Melalui kolase anak dapat mengembangkan kreativitas untuk mengenal berbagai bentuk dan warna sehingga dapat melatih kemampuan motorik halus [18]. Melalui kegiatan kolase menggunakan berbagai jenis bahan dapat membantu meningkatkan kemampuan motorik halus anak, terutama dalam melatih kekuatan dan kelenturan otot jari-jari tangan serta koordinasi penggunaan tangan. Selain itu kegiatan kolase juga dapat melatih kosentrasi pada anak ketelitian dan kesabaran saat menyelesaikan tugas yang melibatkan kemampuan motorik halus anak [19]. Dengan ini peningkatan kemampuan motorik halus yang telah di buktikan melalui berbagai penelitian sebelumnya. Dalam penelitian Fitria Ningsih dkk menunjukkan bahwa ada hasil peningkatan disetiap siklusnya. Melalui kegiatan kolase media daun ketepang menunjukkan bahwa pada data awal sebagian besar anak masih mencapai nilai 36% dengan kriteria (Belum berkembang), namum pada siklus I terdapat peningkatan sebesar 62% dengan kriteria (Berkembang sesuai harapan), kemudian peneliti melakukan tindakan pada siklus II dengan peningkatan sebesar 76%. Penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan kolase dapat meningkatkan kemampuan motorik halus pada anak [19]. Dalam penelitian Asmire Sere dkk menunjukkan bahwa ada hasil peningkatan anak mulai dari kesulitan dalam menggunakan bahan alam hingga anak mampu menggunakan bahan alam secara efektif. Terlihat dari siklus I bahwa capaian perkembangan motorik halus sebesar 72,8%, sedangkan di siklus II menunjukkan peningkatan 99,9%. Kegiatan ini memperkuat bahwa peningkatkan motorik halus anak dan juga kreativitas mereka dapat meningkatkan fokus anak menjadi lebih mandiri [20]. Dalam penelitian ini berfokus pada kegiatan kolase sebagai salah satu aktivitas yang dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak. Kegiatan ini menekankan pada penguatan koordinasi otot-otot kecil melalui kegiatan yang mudah dilakukan. Penelitian ini hanya menggunakan bahan-bahan sederhana dalam pendukung perkembangan motorik halus dan hanya memanfaatkan jari-jemari anak sebagai sarana utama dalam mendukung perkembangan kemampuan motorik halus. Berdasarkan latar belakang diatas tujuan penelitian ini untuk mengetahui penerapan kegiatan kolase dalam meningkatkan kemampuan motorik halus serta untuk melihat peningkatan motorik halus setelah diterapkan kegiatan kolase.

II. Metode

Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Muchlisin Riadi, Penelitian Tindakan Kelas atau Classroom Action Research (CAR) merupakan suatu bentuk penelitian yang dilaksanakan di dalam kelas melalui pemberian tindakan tertentu yang bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran sehingga hasil belajar dapat lebih tercapai [21]. Tindakan yang dilaksanakan dalam penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak usia dini melalui kegiatan kolase. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan secara partisipasi dan kolaboratif dengan melibatkan guru, peneliti dan anak sebagai subjek pembelajaran [22]. Model penelitian tindakan kelas ini menggunakan penelitian merujuk pada desain yang dikembangkan oleh Kemmis dan McTanggart yang meliputi empat tahapan dalam satu siklus, yaitu perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting) [23].

Penelitian ini dilaksanakan di TK Islam Al-Ikhsan yang berada di Jl. Sumatra No.11 Blok X, Lebo, Sidoarjo, Sidoarjo Regency. Penelitian ini dipilih karena ditemukan permasalahan terkait kemampuan motorik halus anak yang perlu mendapatkan perhatian dan perbaikan melalui kegiatan kolase. Subjek penelitian ini dilakukan pada anak kelompok A usia 4-5 tahun di TK Islam Al-Ikhsan, Desa Suko, Kecamatan Sidoarjo dengan jumlah siswa sebanyak 16 anak. Peneliti memilih usia 4-5 tahun di kelas A berdasarkan pada hasil observasi dan wawancara baik dengan guru maupun peserta didik bahwa kemampuan motorik halus masih belum optimal. Dengan ini peneliti memilih subjek penelitian untuk mengetahui kegiatan kolase dalam meningkatkan kemampuan motorik halus pada anak. Penelitian ini menggunakan bentuk tindakan kolaboratif yaitu penelitian yang dilakukan melalui kerja sama antara peneliti dan guru untuk mengatasi permasalahan dalam pembelajaran. Pada penelitian ini terdapat tahap perencanaan dilakukan dengan mengamati kemampuan motorik halus anak usia 4–5 tahun serta menyiapkan bahan kolase, RPPH, dan lembar penilaian. Tahap pelaksanaan dilakukan sesuai RPPH yang telah disusun, diawali dengan penjelasan mengenai cara membuat kolase menggunakan bahan-bahan sederhana. Selama kegiatan berlangsung, peneliti melakukan pengamatan terhadap kemampuan motorik halus anak melalui lembar observasi dan dokumentasi. Selanjutnya, pada tahap refleksi, peneliti menganalisis hasil observasi untuk menilai perkembangan kemampuan motorik halus anak, mengidentifikasi kendala yang muncul, serta mengevaluasi proses pembelajaran sebagai dasar perbaikan pada siklus berikutnya.

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi dan dokumentasi. Adapun instrumen yang digunakan pada penelitian ini yakni menggunakan lembar observasi, dokumen, dan catatan lapangan. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan setelah pelaksanaan tindakan pada setiap siklus. Adapun indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah dengan adanya perubahan menuju arah perbaikan. Indikator keberhasilan dapat dikatakan berhasil apabila tindakan dilihat dari kriteria pencapaian minimal sebesar 75% sebagaimana di jelaskan oleh Sugiyono [24]. Sebagai pedoman dalam pembuatan instrumen. Adapun indikator kemampuan motorik halus anak usia 4-5 tahun sebagai berikut.

Tabel 1.Indikator

No Indikator BB MB BSH BSB
1 Anak mampu mengoordinasikan mata dan tangan
2 Anak mampu melakukan gerakan menggenggam
3 Anak mampu menjumput benda
Table 1.

Adapun rumusan yang digunakan untuk mengetahui peningkatan kemampuan motorik halus anak pada setiap siklus adalah sebagai berikut :

Figure 1.

Keterangan :

P = Presentase

F = Jumlah Nilai yang diperoleh anak

N = Jumlah anak keseluruhan

III. Hasil dan Pembahasan

Hasil Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di TK Islam Al-Ikhsan, Jl. Sumatra No.11 Blok X, Lebo, Sidoarjo, Sidoarjo Regency, pada semester genap tahun ajaran 2025/2026 dengan jumlah anak sebanyak 16 siswa di kelompok A2. Penelitian ini dilakukan guna untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak melalui kegiatan kolase guna melihat peningkatan perkembangan motorik halus anak.

Pra-Siklus

Pra-Siklus diawali dengan penentuan kelas yang dijadikan tempat penelitian, yaitu pada kelompok A2 di TK Islam Al-Ikhsan Lebo. Sebelum pelaksanaan penelitian dimulai, peneliti terlebih dahulu melakukan tindakan awal berupa observasi dan wawancara terhadap guru kelas. Setelah dilaksanakan observasi dan wawancara, maka peneliti melaksanakan perencanaan yang dimulai dengan menyusun RPPH serta merancang lembar penilian dan observasi. Pelaksanaan penelitian dimulai dengan diawali kegiatan penyambutan saat anak datang, kemudian dilanjutkan dengan upacara bendera. Setelah itu anak masuk di kelas masing-masing untuk membaca doa pendek dan melaksanakan sholat dhuha. Kegiatan selanjutnya membaca buku secara bergantian. Setelah seluruh rangkaian kegiatan awal selesai, masuk ke kegiatan pembelajaran inti. Pada kegiatan ini guru membuka pembelajaran dengan menyampaikan tema “ Alat Komunikasi “ selanjutnya guru menjelaskan “apa itu alat komunikasi”, guru memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih kegiatan pada setiap densitas yang sudah disediakan. Pada masing-masing densitas terdapat berbagai kegiatan yang berbeda. Densitas pertama anak melakukan kegiatan mencapit menggunakan japitan baju untuk menyusun angka dari benda-benda kecil yang dipilih. Densitas ke dua anak diberikan lembar kertas untuk menyusun kata “ Televisi ”. Densitas ketiga anak melakukan kegiatan membuat kantor pos dengan menyusun berbagai balok. Dan densitas keempat anak diberikan selembar kertas untuk menggambar televisi. Setelah kegiatan pembelajaran selesai anak di beri waktu ±10menit untuk istirahat kemudian dilanjutkan makan bersama dikelas. Selanjutnya kegiatan di tutup dengan doa dan persiapan pulang. Pada tahap ini peneliti melaksanakan pengamatan dan menemukan indikator perkembangan yang belum mampu diselesaikan oleh anak. Untuk mengetahui indikator yang masih belum berkembang, peneliti melakukan wawancara dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada guru kelas. Berdasarkan hasil observasi pra-siklus ditemukan bahwa kemampuan motorik halus anak masih belum berkembang terlihat saat anak mengalami kesulitan dalam menekan japitan baju ketika mencapit baju serta anak kesulitan saat mengambil benda-benda kecil. Berikut data yang diperoleh dari hasil observasi.

Tabel 2. Data kemampuan awal (Pra-Siklus) Motorik Halus

No Nama Indikator Jumlah (%) Ket
Koordinasi Mata dan Tangan Gerakkan Menggenggam Menjumput Benda
1 Subjek A 1 1 1 3 25% BT
2 Subjek B 1 2 1 4 33,33% BT
3 Subjek C 2 1 2 5 41,67% BT
4 Subjek D 1 2 1 4 33,33% BT
5 Subjek E 2 3 2 7 58,33% BT
6 Subjek F 1 2 2 5 41,67% BT
7 Subjek G 1 2 2 5 41,67% BT
8 Subjek H 3 3 3 9 75% T
9 Subjek I 2 1 2 5 41,67% BT
10 Subjek J 1 2 1 4 33,33% BT
11 Subjek K 2 1 1 4 33,33% BT
12 Subjek L 2 2 1 5 41,67% BT
13 Subjek M 2 2 1 5 41,67% BT
14 Subjek N 1 1 1 3 25% BT
15 Subjek O 3 3 3 9 75% T
16 Subjek P 1 1 1 3 25% BT
TINGKAT KETERCAPAIAN 12,50%
Table 2.

Pada data pra-siklus yang melibatkan 16 anak, diketahui bahwa sebanyak 14 anak masih berada pada kriteria Belum Tuntas (BT). Hal ini terdapat kendala yang ditemukan pada kegiatan densitas pertama, yaitu mencapit menggunakan jepitan baju, sebagian anak masih mengalami kesulitan dalam menggunakannya beberapa anak bahkan menunjukkan ketidakinginan untuk melakukan kegiatan mencapit dengan japitan baju. Terlihat dari hasil observasi pra-siklus yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa kemampuan motorik halus anak belum berkembang secara optimal. Berdasarkan hasil refleksi yang dilakukan, sebagian anak masih mengalami kesulitan dalam menggunakan jepitan baju untuk mencapit dan mengambil benda-benda kecil, beberapa anak terlihat kurang antusias dan belum percaya diri saat mengikuti kegiatan. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan pembelajaran yang lebih menarik, latihan yang berulang, serta pendampingan dari guru agar kemampuan motorik halus anak dapat berkembang dengan lebih baik. Dari hasil evaluasi ini diperlukan tindakan perbaikan guna meningkatkan kemam puan motorik halus anak melalui kegiatan kolase menggunakan bahan-bahan sederhana sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak sehingga perkembangan yang dicapai dapat sesuai dengan tahap perkembangan yang diharapkan.

Siklus I

Pelaksanaan tindakan pada siklus I peneliti melakukan tindakan 2 kali yaitu pada tanggal 8 April 2026 dan 9 April 2026, sebelum melakukan penelitian, peneliti mempersiapkan perencanaaan meliputi menyusun RPPH, membuat lembar observasi, serta mempersiapkan bahan-bahan yang akan digunakan pada tindakan siklus I. Pada tindakan siklus I pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 8 April 2026 dengan tema alat komunikasi kegiatan yang dilakukan yaitu membuat kolase handphone genggam menggunakan bahan-bahan potongan origami, sebelum melakukan kegiatan kolase peneliti menjelaskan terlebih dahulu bagaimana fungsi dan manfaat handphone dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya peneliti mengajak anak untuk berdiskusi tentang alat komunikasi dengan sub tema handphone, setelah itu peneliti juga menjelaskan alat dan bahan yang akan digunakan dalam membuat kolase handphone genggam lalu peneliti memberikan contoh kegiatan yang akan dilakukan. Kegiatan yang akan dilakukan anak dalam tindakan siklus I yaitu dengan menjumput potongan origami kemudian menatanya ke dalam pola gambar handphone genggam yang telah disediakan dengan cara menempelkan dengan menggunakan lem. Pada pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 9 april 2026 dengan kegiatan yang sama yaitu membuat kolase pesawat telepon. Selama kegiatan berlangsung peneliti mengamati semua kegiatan yang dilakukan anak-anak mulai dari yang belum mampu menempelkan satu-persatu hingga anak mampu menata potongan origami secara satu persatu. Saat kegiatan berlangsung peneliti juga melakukan pengamatan observasi aktivitas anak dengan mendokumentasi kegiatan kolase. Berdasarkan hasil pengamatan kegiatan kolase pada siklus I peneliti dapat disimpulkan bahwa dalam kegiatan kolase sudah berada pada kategori Mulai Berkembang (MB). Berikut data yang diperoleh dari hasil observasi.

Tabel 3. Data Kemampuan Motorik Halus Siklus I

No Nama Indikator Jumlah (%) Ket
koordinasi mata dan tangan Gerakan menggenggam Menjumput Benda
1 Subjek A 1 1 2 4 33,33% BT
2 Subjek B 2 2 2 6 50% BT
3 Subjek C 3 3 2 8 66,67% BT
4 Subjek D 2 2 2 6 50% BT
5 Subjek E 3 3 3 9 75% T
6 Subjek F 1 2 3 6 50% BT
7 Subjek G 2 3 2 7 58,33% BT
8 Subjek H 3 4 3 10 83,33% T
9 Subjek I 3 3 3 9 75% T
10 Subjek J 2 1 2 5 41,67% BT
11 Subjek K 1 3 2 6 50% BT
12 Subjek L 2 3 3 8 66,67% BT
13 Subjek M 3 3 3 9 75% T
14 Subjek N 1 2 2 5 41,67% BT
15 Subjek O 3 3 3 9 75% T
16 Subjek P 3 3 3 9 75% T
Tingkat Ketercapaian 37,50%
Table 3.

Pada tabel 3 siklus I terlihat adanya peningkatan ketercapaian siswa sebesar 37,50% dengan jumlah anak yang mencapai kriteria tuntas (T) sebanyak 6 anak, sedangkan 10 anak lainnya masih belum tuntas (BT), namun masih terdapat anak yang mengalami kesulitan dalam menyusun potongan origami secara satu persatu sehingga proses kegiatan kolase belum berjalan secara optimal. Hal ini terlihat dari hasil refleksi bahwa kemampuan motorik halus anak mulai mengalami peningkatan, namun masih terdapat anak yang belum mencapai hasil yang optimal. Pada siklus I menunjukkan adanya peningkatan tingkat ketercapaian siswa sebesar 37,50%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kegiatan kolase dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak. Namun peningkatan yang diperoleh belum sepenuhnya maksimal karena masih terdapat anak yang belum melakukan kegiatan sesuai dengan arahan guru. Pada kegiatan siklus I terdapat beberapa kendala yang dihadapi anak seperti mengambil semua potongan origami yang seharusnya satu per satu. Untuk mengatasi kendala tersebut dilakukan perbaikan pada siklus II dengan cara yang lebih menjelaskan langkah-langkah pembuatan secara detail serta mengubah penggunaan benda agar lebih mudah di ambil anak. Dengan evaluasi ini maka diperlukan adanya perbaikan untuk mencapai indikator keberhasilan motorik halus secara optimal.

Siklus II

Tindakan pada siklus II juga dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan yakni pada tanggal 14 April 2026 dan 15 April 2026. Pada tahap ini peneliti merancang dan mempersiapkan bahan-bahan yang akan digunakan pada kolase yaitu dengan biji jagung dan dakron serta beberapa kebutuhan yang diperlukan yang akan digunakan pada saat kegiatan pembelajaran. Pada siklus II ini peneliti masih menggunakan tema yang sama yaitu alat komunikasi dengan sub tema komunikasi tradisional yaitu kantor pos. Pada siklus II ini peneliti merubah bahan yang akan di gunakan pada kegiatan hanya saja berbeda dengan siklus I pada tindakan siklus II ini peneliti menggunakan bahan biji jagung dan dakron serta memperbesar pola gambar. Pertemuan pertama kegiatan diawali dengan berdoa bersama di dalam kelas, dilanjutkan dengan sholat dhuha bersama di dalam kelas serta membaca buku secara bergantian. Selanjutnya masuk pada kegiatan inti anak diberi penjelasan mengenai alat komunikasi tradisional berupa surat pos. Peneliti menjelaskan tengtang kegunaan dan manfaat surat pos dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya peneliti menyampaikan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan yaitu membuat kolase surat pos dengan menggunakkan biji jagung dan dakron. Peneliti kemudian memperkuat pemahaman anak dengan menjelaskan langkah-langkah pembuat kolase surat pos yang rapi serta menjelaskan hal-hal yang tidak boleh dilakukan selama kegiatan berlangsung. Pada saat kegiatan berlangsung anak belum dapat menyelesaikan kegiatan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan maka kegiatan membuat kolase kantor pos ini dilanjutkan pada pertemuan ke dua. Pada kegiatan berlangsung peneliti melakukan pengamatan pada anak sebagai besar anak mengalami peningkatan dalam menata biji-bijian dengan menjumput benda dengan cara satu persatu sesuai dengan arahan yang diberikan, anak juga menunjukkan koordinasi mata dan tangan serta gerakan jari yang lebih baik dari hasil yang diperoleh pada siklus sebelumnya. Selain itu mereka tampak fokus, teliti dan mandiri dalam menyelesaikan kegiatan kolase hingga selesai. Dengan ini kegiatan pada siklus II anak-anak terlihat antusias dan semangat saat melakukan kegiatan kolase surat pos terlihat ketika anak mengambil dakron dan biji jagung. Dengan ini kegiatan di siklus II terlihat maksimal karena adanya perbaikan dari kendala pada siklus I, seperti memperbesar gambar dan mengganti bahan agar lebih mudah digunakan oleh anak. Selain itu pemberian apresiasi berupa pujian dan reward juga dilakukan untuk meningkatkan motivasi anak serta memperkuat kemampuan motorik halus melalui kolase. Dengan adanya perbaikan tersebut hasil pembelajaran pada siklus II terlihat peningkatan dan telah mencapai target indikator keberhasilan yaitu 75%. Adapun hasil yang diperoleh sebagai berikut.

Tabel 4. Data Kemampuan Motorik Halus Siklus II

No Nama Indikator Jumlah (%) Ket
Koordinasi Mata dan Tangan Gerakkan Menggenggam Menjumput Benda
1 Subjek A 2 3 3 8 66,67% BT
2 Subjek B 4 3 3 10 83% T
3 Subjek C 4 4 3 11 91,67% T
4 Subjek D 3 4 3 10 83,33% T
5 Subjek E 4 4 4 12 100% T
6 Subjek F 3 4 3 10 83,33% T
7 Subjek G 3 4 3 10 83% T
8 Subjek H 4 4 4 12 100% T
9 Subjek I 4 4 4 12 100% T
10 Subjek J 2 3 3 8 66,67% BT
11 Subjek K 4 4 4 12 100% T
12 Subjek L 4 4 4 12 100% T
13 Subjek M 4 4 4 12 100% T
14 Subjek N 3 3 4 10 83,33% T
15 Subjek O 4 4 4 12 100% T
16 Subjek P 4 4 4 12 100% T
TINGKAT KETERCAPAIAN 87,50%
Table 4.

Pada tabel 4 siklus II menunjukkan adanya peningkatan tingkat ketercapaian siswa sebesar 87,50% dengan jumlah anak yang mencapai kriteria tuntas (T) meningkat secara maksimal menjadi 14 anak, sedangkan 2 anak masih belum tuntas (BT). Hasil refleksi pengamatan pada siklus II, kegiatan kolase dengan bahan sederhana telah berhasil meningkatkan kemampuan motorik halus anak usia 4–5 tahun. Peningkatan terlihat dari sebagian besar anak yang telah mencapai kriteria ketuntasan dengan persentase keberhasilan sebesar 87,50%. Anak mampu melakukan kegiatan menjumput, menempel, dan menyusun bahan kolase dengan lebih baik dibandingkan pada siklus sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan kegiatan kolase dengan bahan sederhana efektif dalam mengembangkan kemampuan motorik halus anak. Dengan ini target keberhasilan penelitian telah tercapai, maka penelitian dihentikan pada Siklus II, dapat disimpulkan bahwa kegiatan kolase dengan bahan sederhana dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak usia 4–5 tahun di TK Islam Al-Ikhsan. Hal ini terlihat pada pra-siklus, siklus I dan siklus II. Berikut diagram rekapitulasi kemampuan motorik halus melalui kegiatan kolase dengan bahan sederhana.

Gambar 1. Diagram Ketercapaian Motorik Halus

Figure 2.

Pembahasan

Hasil penelitian yang dilaksanakan di TK Islam Al-Ikhsan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak usia 4-5 tahun melalui kegiatan kolase dengan bahan-bahan sederhana. Penelitian ini menerapkan dua siklus yang masing-masing terdiri dari dua pertemuan, sehingga anak-anak mendapat kesempatan dalam mengembangkan kemampuan motorik halus secara bertahap melalui kegiatan kolase. Pendekatan bertahap ini memberikan waktu yang memadai bagi anak untuk melatih dan mengasah kemampuan motorik halusnya secara perlahan. Capaian kemampuan motorik halus anak mengalami peningkatan secara bertahap. C. Serta kemampuan motorik halus anak masih belum ada yang mencapai target keberhasilan, diperlukannya stimulasi sebagai upaya peningkatan kemampuan motrik halus oleh karena itu memerlukan kegiatan yang tepat melalui penggunaan media pembelajaran. Salah satu bentuk kegiatan yang tepat dan dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak dengan kegiatan kolase, karena terbukti mampu mendukung perkembangan anak usia dini. Pemanfaatan berbagai macam benda-benda kecil yang dapat merangsang koordinasi mata dan tangan dalam meningkatkan ketelitian dan memberikan kesempatan kepada anak secara bebas [25]. Dengan diberikan stimulasi yang diterapkan peneliti pada anak kelompok A2 melalui kegiatan kolase. Kegiatan kolase membantu perkembangan motorik halus anak dengan melatih kelenturan otot-otot halus pada jari-jari mereka. Maka dengan kegiatan kolase ini kemampuan motorik halus mengalami peningkatan terlihat dari kemampuan anak dalam menggunakan jari-jemari secara terkooordinasi dan sangat berperan penting dalam berbagai kegiatan pembelajaran lainnya [22].

Pada siklus I setelah menerapkan tindakan melalui kegiatan kolase, pada tabel menunjukkan tingkat ketercapaiam kemampuan motorik halus anak 37,50%. Capaian ini diperoleh saat anak membuat kolase handphone dengan tema alat komunikasi. Namun demikian peningkatan pada siklus I belum sepenuhnya belum maksimal. Hal ini terlihat dari hasil pengamatan yang menunjukkan beberapa kendala, yaitu pada ukuran gambar dan bahan yang terlalu kecil akibatnya anak mengalami kesulitan, sehingga menjadikan anak ketidaksabaran dalam menempel potongan origami satu per satu akibatnya potongan origami langsung di tuangkan dengan penggunaan lem yang berlebihan juga menyebabkan tangan menjadi lengket dan kesulitan dalam menempel potongan origami. Oleh sebab itu diperlukannya perbaikan untuk memaksimalkan kegiatan menjumput melalui kolase dan peneliti ini melanjutkan pada siklus II.

Pada siklus II di tabel menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan terlihat ketika tingkat ketercapaian kemampuan motorik halus anak yaitu mencapai 87,50%. Hasil ini diperoleh saat anak membuat kolase surat pos dengan tema alat komunikasi tradisional. Peningkatan tersebut terjadi karena adanya perbaikan dari kendala yang di alami pada siklus sebelumnya, sehingga pada kegiatan kolase ini dapat terlaksana dengan baik. Dengan begitu hasil yang dicapai telah memenuhi target keberhasilan yang ditentukan yaitu sebesar 75%. Kegiatan kolase secara tidak langsung dapat membantu meningkatkan kemampuan motorik halus anak. Kemampuan ini akan sangat bermanfaat ketika anak mulai belajar menulis karena otot-otot kecil pada jari tangan mereka menjadi lebih kuat dan lentur [26]. Kegiatan ini tidak hanya melatih motorik halus akan tetapi juga dapat mengembangkan daya imajinasi, kreativitas serta kemampuan anak dalam memecahkan masalah, sehingga terciptanya proses pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermanfaat [27].

Dengan ini peningkatan kemampuan motorik halus anak dapat terlihat dari tabel tingkat ketercapaian anak pada setiap tahap penelitian. Pada tahap pra siklus presentase tingkat ketercapaian sebesar 12,50%, hanya 2 anak yang mencapai kriteria tuntas, sedangkan 14 anak lainnya belum tuntas. Pada siklus I terjadi peningkatan menjadi 37,50% dengan 7 anak berada pada kriteria tuntas. Selanjutnya pada siklus II mengalami peningkatan yang sangat signifikan yaitu mencapai 87,50% anak telah memenuhi kriteria tuntas. Dengan ini penelitian dihentikan pada siklus II karena hasil yang diperoleh telah memenuhi indikator keberhasilan yang di tentukan yaitu 75% dari keseluruhan pencapaian anak yang memenuhi kriteria tuntas. Berdasarkan temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan kolase dapat mampu meningkatkan kemampuan motorik halus anak secara signifikan, sehingga perkembangan yang dicapai berada pada kategori sangat baik.

VII. Simpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan melalui pra siklus, siklus I, dan siklus II, dapat disimpulkan bahwa penerapan kegiatan kolase dengan bahan sederhana dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak usia 4–5 tahun kelompok A2 di TK Islam Al-Ikhsan. Kegiatan kolase ini dilakukan dengan cara anak menjumput, mengambil, menata, dan menempel dari berbagai bahan sederhana seperti potongan kertas origami, dakron, dan biji jagung pada pola gambar yang telah disediakan sesuai tema pembelajaran. Melalui kegiatan tersebut, koordinasi mata dan tangan, kekuatan jari, serta ketepatan gerakan tangan anak menjadi lebih terlatih dan optimal. Peningkatan kemampuan motorik halus anak terlihat dari hasil ketercapaian anak pada setiap siklus, yaitu 12,50% pada pra siklus dengan kriteria Belum Berkembang (BB), meningkat menjadi 37,50% pada siklus I dengan kriteria Mulai Berkembang (MB), dan mencapai 87,50% pada siklus II dengan kriteria Berkembang Sangat Baik (BSB). Dengan demikian, kegiatan kolase yang melibatkan keterampilan menjumput, menempel, dan menyusun bahan secara tepat dan terarah terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan motorik halus anak usia 4–5 tahun di TK Islam Al-Ikhsan. Selain itu, penggunaan bahan sederhana yang mudah diperoleh juga membuat kegiatan pembelajaran lebih menarik, menyenangkan, dan bermakna bagi anak.

Ucapan Terima Kasih

Saya mengucapkan terima kasih kepada diri saya sendiri yang telah berjuang dan bertahan hingga sampai titik ini. Tak lupa saya mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing saya yang telah memberikan arahan dan bimbingan serta memberikan ilmu yang sangat berarti. Dan tak lupa saya berterima kasih sebesar-besarnya kepada kedua orang tua saya yang selalu memberikan doa, dukungan, dan kasih sayang tanpa henti. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada pihak TK Islam Al-Ikhsan yang telah memberikan izin serta kesempatan kepada saya untuk melaksanakan penelitian ini. Semoga dari tulisan sederhana ini dapat menambahkan wawasan dan bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

References

N. U. R. R. Idris, “Pengaruh Bermain Paper Quilling Terhadap Kemampuan Motorik Halus Anak Usia 4–5 Tahun,” vol. 8, no. 2, pp. 79–89, 2022.

G. F. F. Syawalia, T. Rahman, and R. Giyartini, “Analisis Media Montase Terhadap Perkembangan Motorik Halus Anak Usia 4–5 Tahun,” vol. 5, no. 2, pp. 229–236, 2021.

D. K. W. Tika Mardiana and Ratih Kusumawardani, “Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Usia 4–5 Tahun Melalui Kegiatan Melukis Dengan Pasir,” J. Penelit. dan Pengemb. Pendidik. Anak Usia Dini (JPPPAUD FKIP UNTIRTA), vol. 4, no. 2, p. 160, 2017.

H. Dewi Puspita and Rini Purbayani, “Pengaruh Kegiatan Melipat Kertas Terhadap Kemampuan Motorik Halus Anak Usia 4–5 Tahun di RA Sabilissalam Baregbeg Ciamis,” vol. 2, no. 1, pp. 146–161, 2024.

T. Siti Hadiyanti and Elan, “Analisis Media Loose Part Untuk Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Anak Usia Dini,” vol. 5, no. 2, pp. 237–245, 2021.

M. R. Kholbu, I. M. S. Astawa, and I. Rachmayani, “Penggunaan Media Plastisin Dalam Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Anak Usia 5–6,” vol. 5, no. 2, 2023.

Isnaningsih, “Pengaruh Kegiatan Art Craft Terhadap Kemampuan Motorik Halus Anak Usia 4–5 Tahun,” J. Early Child., vol. 5, no. 1, pp. 162–167, 2022, doi: 10.31004/aulad.v5i1.319.

M. Finadatul Wahida and Luhrina Candra, “Upaya Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Anak Usia Dini di RA Mutiara Hati,” Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 2, no. 2, 2021.

D. N. Maretiani, T. Rahman, and H. Y. Muslimin, “Analisis Keterampilan Motorik Halus Pada Anak Usia 4–5 Tahun Di TK Tunas Bangsa,” Pendidik. Anak Usia Dini, vol. V, no. 1, pp. 23–30, 2021, doi: 10.29313/ga.

N. K. Dewi and Surani, “Stimulasi Kemampuan Motorik Halus Anak Usia 4–5 Tahun Melalui Kegiatan Seni Rupa,” J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 7, no. 1, pp. 76–81, 2018.

H. Khatimah and N. K. Dewi, “Meningkatkan Motorik Halus Anak 4–5 Tahun Melalui Kegiatan Seni Rupa 2 Dimensi,” vol. 12, no. 1, pp. 101–111, 2025.

N. Aulina, Metodelogi Perkembangan Motorik Halus Anak Usia Dini, 2017.

N. Suarta and I. M. S. Astawa, “Pengembangan Kegiatan Meronce Untuk Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Anak Usia 4–5 Tahun di PAUD Mekar Sari Kota Mataram,” vol. 7, 2022.

N. Aida, N. Nurhidayah, S. Mutmainah, and M. Agustin, “Kegiatan Bermain Menggunakan Media Plastisin Untuk Mengembangkan Motorik Halus Anak Usia 4–5 Tahun Di RA Persis 38 Gandok Kota Tasikmalaya,” vol. 3, no. September, pp. 19–25, 2022.

M. Sundayana, K. Y. Aryawan, and P. C. Fransisca, “Perkembangan Motorik Halus Anak Usia Pra Sekolah 4–5 Tahun Dengan Kegiatan Montase,” vol. 3, no. 2, pp. 446–455, 2020.

R. Putri, R. Maghfiroh, R. Hafidah, and N. E. Nurjanah, “Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Anak Melalui Permainan Kolase Bahan Bekas Studi Literatur,” vol. 5, no. 02, pp. 314–322, 2021.

J. I. Multidisiplin and K. Bin, “Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Kolase Dengan Bahan Alam,” vol. 2, 2026.

S. Maryam, “Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Kolase Pada Anak Kelompok A RA Nurul Jadid,” 2018.

M. I. Daulay and P. H. Pebriana, “Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Kolase Media Daun Ketepeng,” vol. 1, no. 1, pp. 8–17, 2018.

Sere, E. T. Ngura, and K. D. Dhiu, “Aktivitas Kegiatan Menempel Menggunakan Bahan Alam Untuk Perkembangan Motorik Halus Pada Anak Usia 5–6 Tahun Di Kober Ilham Nioniba,” vol. 4, no. 2, 2025.

S. Devi, H. Simanjuntak, S. Wahyuni, and A. Atika, “Upaya Meningkatkan Kemampuan Berbicara Pada Anak Usia Dini Menggunakan Buku Cerita Bergambar,” vol. 2, no. 1, pp. 23–34, 2023.

F. Wulandari, H. Y. Muslihin, and L. Nur, “Penerapan Bermain Konstruksi Magic Sand Untuk Mengembangkan Kemampuan Motorik Halus Anak Usia Dini,” vol. 15, no. 1, pp. 63–72, 2020.

K. Dinata, “Peningkatan Kepercayaan Diri Melalui Kegiatan Menari Kreatif PAUD Bintang Besar,” J. Inov. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 1, no. 1, pp. 36–42, 2021.

N. P. Dewi, I. Nirmala, and N. Rochima, “Upaya Meningkatkan Kemampuan Keaksaraan Awal Anak Usia 4–5 Tahun Melalui Penggunaan Media Papan Pintar Huruf Di TK Lebah Madu Karawang,” J. Kaji. Ilmu Pendidik., vol. 6, no. 2, pp. 516–522, 2025.

U. Dini, “Efektivitas Media Loose Part Dalam Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Anak Usia Dini,” vol. 15, no. 4, pp. 1339–1350, 2025.

Alfiah, “Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Melalui Teknik Kolase Pada Anak Usia 5–6 Tahun RA Bina Citra Insani Gerung,” p. 17, 2016.

G. F. Putri and D. Suryana, “Pengaruh Kolase Daur Ulang Kertas Bekas Terhadap Perkembangan Motorik Halus Anak Usia Dini,” vol. 11, no. 01, pp. 96–106, 2026.