Login
Section Elementary Education Method

Rotating Class Routines Foster Mutual Cooperation In Early Childhood Civic Education

Rutinitas Kelas Bergilir Menumbuhkan Sikap Gotong Royong Pada Pendidikan Kewarganegaraan Anak
Vol. 21 No. 4 (2026): November:

Sumarmi (1), Muhlasin Amrullah (2)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Civic instruction serves a fundamental function in shaping foundational character traits and social habits among young children. Specific Background The second-grade demographic at SDN Sinar Jaya consists of only three individuals, presenting a unique classroom dynamic that requires specific pedagogical adaptation. Knowledge Gap Moral theories taught in schools frequently remain abstract, lacking direct habituation mechanisms that convert theoretical citizenship concepts into tangible, daily collective actions. Aims This implementation seeks to instill shared responsibility and mutual assistance through the execution of a daily scheduled task rotation. Results Observational evaluations indicated that participants successfully completed assigned physical chores, such as sweeping and arranging chairs, achieving high assessment scores between 12 and 13. Additionally, participants demonstrated spontaneous initiative by voluntarily aiding peers who encountered difficulties during their respective assignments. Novelty Leveraging a micro-group environment enables highly intensive teacher mentoring, converting basic classroom maintenance into a deeply personalized pedagogical instrument for character formation. Implications Embedding scheduled practical activities within daily educational schedules offers teachers an actionable strategy to ensure abstract social values materialize as permanent behavioral traits.


Highlights:




  • Scheduled physical chores successfully transformed abstract moral theories into concrete daily actions.




  • Observational assessments revealed high participant compliance and excellent micro-group performance metrics.




  • Personalized teacher guidance triggered spontaneous peer assistance and shared responsibility among learners.




Keywords: Character Building, Habituation Method, Social Learning, Shared Responsibility, Micro Cohort

I. Pendahuluan

Pendidikan nilai gotong-royong merupakan bagian penting dalam mata pelajaran PPKn untuk siswa Sekolah Dasar terutama kelas 2 yang sedang dalam tahap pembentukan kebiasaan dan sikap [1]. Kegiatan didasarkan pada teori pembelajaran sosial dari Albert Bandura yang menyatakan bahwa anak usia sekolah belajar memahami nilai dan bentuk sikap melalui pengalaman langsung, interaksi, dan kerjasama dengan teman sebaya [2]. Selain itu diterapkan pula teori pembiasaan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara dan Al-Ghazali yang menjelaskan bahwa sikap luhur akan tumbuh menjadi kebiasaan jika dilatih secara terus-menerus dan teratur [3], [4]. Di SDN Sinar Jaya kelas 2 tidak memiliki siswa yang banyak, jumlah siswa hanya 3 orang. Kondisi ini dimanfaatkan secara optimal untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih akrab dan memudahkan dalam penanaman nilai kebersamaan. Kegiatan piket tidak hanya bertujuan menjaga kebersihan kelas, tetapi dijadikan media nyata agar siswa memahami bahwa setiap orang memiliki peran dan tanggung jawab dalam kehidupan bersama [5].

Berdasarkan landasan teori pembelajaran sosial dan teori pembiasaan yang digunakan, kegiatan ini disusun bertujuan untuk menguatkan sikap gotong-royong dan tanggung jawab siswa kelas 2 SDN Sinar Jaya melalui kegiatan piket kelompok bergilir, sehingga nilai-nilai tersebut tidak hanya dipahami secara teori tetapi menjadi kebiasaan sesuai dengan prinsip pembelajaran yang berkelanjutan [6]. Dengan demikian siswa dibiasakan melaksanakan tugas piket secara teratur, melatih saling membantu dan bekerja sama, menumbuhkan rasa memiliki dan kepedulian terhadap kebersihan serta kenyamanan kelas, serta memahami makna gotong-royong dalam kehidupan sehari-hari sebagai penerapan nyata [7].

II. Metode

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan kegiatan piket kelas untuk meningkatkan sikap gotong royong pada siswa kelas 2 SDN Sinar Jaya diawali dengan tahap pendahuluan yaitu guru membuka pelajaran diawali dengan salam dan berdoa bersama, guru menanyakan kabar siswa [8]. Untuk menciptakan suasana akrab dan nyaman, guru kemudian mengajak siswa mengamati keadaan kelas, menanyakan apa yang perlu dilakukan agar kelas menjadi bersih dan nyaman untuk belajar.

Guru melakukan tanya jawab sederhana, memperkenalkan topik kegiatan piket bergilir serta mengaitkan dengan nilai gotong-royong. Kemudian guru menyampaikan tujuan kegiatan pembelajaran agar siswa mampu memahami pembagian tugas piket secara bergilir dan tanggung jawab, menunjukan sikap saling membantu teman saat bekerja, serta memahami kebersihan dan kenyamanan kelas adalah tanggung jawab bersama sebagai wujud nyata dari sikap gotong-royong di dalam kehidupan sehari-hari [9].

Pada kegiatan inti guru menjelaskan pembagian tugas secara sederhana dan adil yang dilakukan secara bergilir setiap hari: satu orang menyapu lantai, satu orang mengelap meja, satu orang membereskan kursi dan membuang sampah [10]. Kemudian ketiga siswa melaksanakan tugas masing-masing didampingi oleh guru yang memberikan arahan dan contoh yang benar. Selama kegiatan itu guru mengamati dan memotivasi siswa untuk saling membantu teman yang mengalami kesulitan, serta mengajak berdiskusi singkat bagaimana pekerjaan akan lebih ringan bila dikerjakan bersama-sama, sesuai dengan pengalaman yang mereka alami secara langsung [11].

Pada tahap penutup guru mengajak siswa berkumpul setelah melaksanakan dan kelas menjadi rapi, untuk berbagi perasaan dan pengalaman setelah melaksanakan piket bersama. Guru memberikan apresiasi dengan pujian atas usaha dan kerjasama. Kemudian menyimpulkan bersama bahwa kegiatan piket bergilir mengajarkan mereka untuk bertanggung jawab dan saling menolong. Sebagai penutup guru mengingatkan agar kebiasaan baik terus dilaksanakan setiap hari dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian guru menutup pembelajaran dengan doa dan salam penutup.

Dalam pelaksanaan kegiatan ini, diterapkan prinsip kesetaraan dan keadilan bagi seluruh siswa (Etika dan Privasi). Setiap anak mendapatkan giliran tugas yang sama tanpa ada perlakuan istimewa, serta dihargai usahanya meskipun hasilnya belum sempurna. Guru memberikan arahan dengan bahasa yang sopan, sabar, memotivasi, dan tidak memarahi atau membandingkan kemampuan siswa satu dengan siswa yang lain. Siswa pun diajarkan untuk bersikap santun, menghargai pendapat teman, dan saling menghormati sehingga tercipta suasana nyaman dan menyenangkan. Seluruh data dan informasi yang terkait dengan siswa termasuk nama, hasil pengamatan, dan catatan perkembangan dijaga kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk keperluan pembelajaran serta penilaian kegiatan ini. Dokumentasi berupa foto atau catatan kegiatan tidak disebarluaskan tanpa seizin pihak terkait dan fokus pelaporan hanya pada proses pembelajaran serta pembentukan sikap, bukan pada penilaian pribadi yang dapat mempengaruhi siswa. Semua informasi disusun dengan tujuan pengembangan pendidikan, bukan untuk kepentingan lain di luar sekolah.

III. Hasil dan Pembahasan

Implementasi kegiatan piket kelompok bergilir dilaksanakan secara teratur setiap hari sebelum dan sesudah pelajaran di kelas 2 SDN Sinar Jaya dengan 3 orang siswa [12]. Pelaksanaannya mulai dengan pembagian tugas, dimana setiap siswa mendapat giliran yang berbeda setiap harinya: ada yang menyapu lantai, mengelap meja, merapikan kursi dan membuang sampah pada tempatnya. Guru berperan mendampingi untuk memberikan arahan cara mengerjakan tugas dengan benar, sekaligus memastikan setiap siswa memahami perannya tanpa ada yang merasa terbebani atau didahulukan.

Selama kegiatan siswa tidak hanya bekerja sendiri-sendiri sesuai dengan tugasnya, melainkan saling membantu ketika ada teman yang mengalami kesulitan atau memperhatikan teman yang pekerjaannya lebih tepat. Setiap hari giliran tugas diubah secara bergilir sehingga semua siswa dapat merasakan dan memahami jenis pekerjaannya, yang secara langsung menumbuhkan kesadaran bahwa kebersihan dan kenyamanan kelas adalah tanggung jawab bersama [13]. Melalui kegiatan yang diulang secara teratur siswa mulai terbiasa menunjukan sikap saling peduli, tolong menolong dan bekerja sama yang menjadi wujud nyata penerapan nilai gotong royong yang dipelajari di mata pelajaran PPKn.

Penilaian dalam implementasi kegiatan piket bergilir dilakukan secara menyeluruh melalui pengamatan langsung selama kegiatan dengan memperhatikan aspek tanggung jawab, kerjasama, dan sikap gotong royong yang ditunjukan oleh ketiga siswa [14]. Penilaian tidak hanya melihat hasil kebersihan kelas, tetapi lebih menekankan pada proses pelaksanaan, seperti keteraturan mengikuti jadwal giliran, kesediaan melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh, kepekaan membantu teman yang membutuhkan, serta kesadaran bahwa pekerjaan dilakukan untuk kepentingan bersama. Hasil pengamatan menunjukan seluruh siswa mampu memahami pembagian tugas, melaksanakan kewajiban dengan baik dan mulai terbiasa menawarkan bantuan secara sukarela yang mencerminkan pemahaman awal terhadap nilai kebersamaan.

Tabel 1. Penilaian Piket Bergilir

Keterangan skor: -3 = sangat baik > selalu melakukan dengan sempurna, -2 = baik > cukup melakukan dengan baik, -1 = cukup > kadang perlu diingatka/dibantu. Rentang nilai: 13 – 15 = sangat baik, 10 - 12 = baik, 6 - 9 = cukup, <6 = perlu bimbingan.

Dari hasil kegiatan piket kelompok bergilir yang dilaksanakan di kelas 2 SDN Sinar Jaya berhasil menjadi media efektif untuk menanamkan sikap gotong-royong kepada ketiga siswa [15]. Melalui pembiasaan teratur dan pembagian tugas yang adil, siswa tidak hanya terbiasa menjaga kebersihan kelas tetapi juga memahami makna tanggung jawab dan manfaat bekerja sama. Nilai-nilai yang tidak lagi sekedar teori dalam mata pelajaran PPKn, melainkan sudah terwujud dalam tindakan nyata sehari-hari. Kegiatan ini membuktikan bahwa dengan jumlah siswa yang sedikit, penanaman nilai dapat berjalan lebih dekat dan terarah, sehingga terbentuk kebiasaan positif yang diharapkan terus berlanjut dalam kehidupan siswa di sekolah maupun di lingkungan rumah.

IV. Simpulan

Kegiatan piket kelompok bergilir berjalan lancar dan sesuai harapan, didukung jumlah siswa yang sedikit sehingga pendampingan guru lebih maksimal. Siswa terlihat lebih antusias, mulai memahami tugas masing-masing, dan tumbuh kesadaran untuk saling membantu. Namun masih ditemukan beberapa hal seperti kecepatan bekerja yang berbeda antar siswa dan sesekali ada yang masih perlu diingatkan untuk mengerjakan tugas secara tertib. Secara keseluruhan terbukti efektif menjadikan nilai gotong-royong bukan sekedar teori, melainkan kebiasaan yang terlihat dalam tindakan nyata. Kedepannya kegiatan akan dilaksanakan secara rutin dengan beberapa penyesuaian: memberikan contoh cara mengerjakan dengan lebih detail dan sabar, memvariasikan tugas secara bertahap agar siswa semakin terampil, serta memberikan apresiasi berupa pujian atau catatan kecil untuk memotivasi agar semakin disiplin. Guru juga akan lebih sering mengajak siswa bercerita tentang pengalaman bekerja sama agar makna gotong royong semakin melekat dan dapat diterapkan tidak hanya saat piket, tetapi juga dalam kegiatan lain di sekolah maupun di rumah.

Ucapan Terima Kasih

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkah dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan kegiatan implementasi pembelajaran dengan judul "Kegiatan piket bergilir untuk menguatkan sikap gotong royong pada siswa kelas 2" SDN Sinar Jaya berjalan dengan lancar dan baik. Ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada Kepala Sekolah SDN Sinar Jaya yang telah memberikan izin sehingga terlaksana kegiatan ini, kepada rekan dewan guru dan siswa kelas 2 yang telah antusias dan bersemangat mengikuti rangkaian kegiatan. Terima kasih penulis ucapkan kepada bapak dosen pembimbing yang telah dengan sabar memberikan ilmu, arahan, dan waktunya dalam membimbing hingga selesai. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada orang tua siswa yang telah memotivasi anak-anak untuk menerapkan kebiasaan yang baik di rumah. Semoga laporan ini dapat bermanfaat dan menjadi bahan pertimbangan serta pengembangan kegiatan serupa di masa depan.

References

Kemendikbudristek, Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD Kelas 2. Jakarta, Indonesia: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2021.

N. Hidayat, “Teori pembelajaran sosial Bandura dalam pendidikan karakter di sekolah dasar,” J. Pendidik. Dasar Terpadu, vol. 5, no. 1, pp. 22–35, 2022.

S. M. Dewi, “Relevansi pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara pada Kurikulum Merdeka,” J. Ilm. Pendidik. Citra, vol. 8, no. 2, pp. 115–125, 2023.

A. Kurniawan, Pendidikan Akhlak Al-Ghazali di Era Modern. Surabaya, Indonesia: Bina Ilmu Baru, 2021.

Kemendikbudristek, Pedoman Penanaman Nilai-Nilai Kebangsaan dan Karakter di Sekolah Dasar. Jakarta, Indonesia: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2022.

M. F. Amin, “Implementasi nilai gotong royong pada siswa SD melalui pembiasaan harian,” J. Pendidik. Kewarganegaraan, vol. 9, no. 1, pp. 40–52, 2024.

R. E. Slavin, Cooperative Learning dalam Pendidikan Karakter. Bandung, Indonesia: Nusa Media, 2021.

B. Nurgiyantoro, Penilaian Autentik dalam Kurikulum Merdeka. Yogyakarta, Indonesia: Gadjah Mada University Press, 2022.

S. Arikunto, Manajemen Kelas dan Pembiasaan Sikap. Jakarta, Indonesia: Bumi Aksara, 2021.

D. L. Saraswati, “Pentingnya pembagian tugas kelas terhadap karakter siswa kelas rendah,” J. Pendidik. Dasar Inovatif, vol. 6, no. 2, pp. 88–97, 2023.

M. Huda, Model-Model Pembelajaran Kolaboratif. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar, 2021.

H. D. Brown, Teaching by Principles in Early Childhood. New York, NY, USA: Pearson, 2022.

Y. Abidin, Pembelajaran Berbasis Pendidikan Karakter Anak. Bandung, Indonesia: Refika Aditama, 2021.

Sugiyono, Metode Observasi dalam Pendidikan Kualitatif. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2022.

J. W. Creswell, Educational Research: Understanding Character Building. London, U.K.: Pearson, 2023.