Sri Astuty S (1), Muhlasin Amrullah (2)
General Background Early reading proficiency serves as a fundamental literacy skill necessary for comprehending various academic subjects in elementary education. Specific Background First-grade students at SDN 02 Bumi Ratu encounter significant difficulties in recognizing letter forms, pronouncing letter sounds, and combining alphabets into simple syllables. Knowledge Gap Many early learners lack a systematic instructional approach that connects abstract alphabetic symbols with their corresponding phonetic sounds, leading to reading hesitancy and low self-confidence. Aims This study intends to optimize early reading capabilities by applying a structured phonics approach focused on grapheme-phoneme correspondence. Results Implemented among six first-grade learners focusing on the letter B and its phonetic sound, the intervention yielded substantial diagnostic improvements. Post-test evaluations revealed that participant reading scores surged, with all subjects achieving mastery levels between 75 percent and 100 percent, compared to initial pre-test scores as low as 25 percent. Novelty Utilizing a step-by-step grapheme-to-phoneme decoding process specifically tailored for early learners uniquely bridges the cognitive gap between symbol recognition and word pronunciation. Implications Deploying the phonics strategy provides educators with an actionable and systematic pedagogical framework to successfully accelerate foundational literacy and build reading confidence among lower-grade elementary students.
Highlights:
The systematic phonetic intervention raised participant evaluation scores from a minimum of 25 percent to full mastery.
Learners successfully transitioned from struggling with alphabet recognition to fluently pronouncing simple syllables and contextual vocabulary.
Structured grapheme-to-phoneme instruction significantly elevated student confidence and participation during individual oral assessments.
Keywords: Early Reading, Phonics Method, First Grade, Elementary School, Foundational Literacy
Kemampuan membaca permulaan merupakan salah satu keterampilan dasar yang sangat penting untuk dikuasai oleh peserta didik pada jenjang sekolah dasar, khususnya kelas awal [1], [2]. Membaca permulaan menjadi fondasi utama dalam memahami materi pembelajaran pada berbagai mata pelajaran. Peserta didik yang memiliki kemampuan membaca yang baik cenderung lebih mudah menerima informasi, memahami instruksi pembelajaran, serta mengembangkan kemampuan literasi pada tahap berikutnya [3]. Namun demikian, tidak semua peserta didik memiliki kemampuan membaca permulaan yang optimal. Berdasarkan hasil pengamatan pada siswa kelas I SDN 02 Bumi Ratu, ditemukan bahwa beberapa peserta didik masih mengalami kesulitan dalam mengenali bentuk huruf, membedakan huruf kapital dan huruf kecil, serta melafalkan bunyi huruf dengan benar [4], [6]. Selain itu, peserta didik juga masih mengalami kesulitan dalam menggabungkan huruf menjadi suku kata sederhana. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penerapan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik sekolah dasar kelas awal. Salah satu metode yang dapat diterapkan adalah metode fonik [5]. Metode fonik merupakan metode pembelajaran membaca yang menekankan hubungan antara bentuk huruf dengan bunyinya. Peserta didik dikenalkan pada bunyi huruf terlebih dahulu sebelum membaca suku kata maupun kata sederhana. Dengan metode ini, peserta didik diharapkan lebih mudah memahami proses membaca secara bertahap. Metode fonik (phonics) dikemukakan oleh Suari, Syarif, dan Pamela pada tahun 2026 sebagai salah satu pendekatan dalam pembelajaran membaca permulaan yang menekankan hubungan sistematis antara huruf (grafem) dan bunyi (fonem) [7]. Metode ini berangkat dari pandangan bahwa kemampuan membaca tidak hanya sebatas mengenali bentuk huruf, tetapi merupakan proses menghubungkan simbol tulisan dengan bunyi bahasa yang diwakilinya. Dalam proses pembelajaran membaca, metode ini menempatkan penguasaan hubungan huruf dan bunyi sebagai dasar utama dalam membangun kemampuan decoding, yaitu kemampuan mengubah rangkaian huruf menjadi bunyi yang dapat membentuk kata bermakna. Dengan demikian, metode fonik membantu peserta didik dalam memahami proses membaca secara lebih terarah dan bertahap. Pada pelaksanaan pembelajaran ini, materi difokuskan pada pengenalan huruf B/b beserta bunyi /b/ sebagai bagian dari pembelajaran membaca permulaan. Peserta didik dilatih mengenali bentuk huruf, melafalkan bunyi, membaca suku kata sederhana seperti ba, bi, bu, be, bo, serta mengenali kata-kata yang diawali huruf B, seperti bola, buku, batu, dan bakso. Adapun tujuan pelaksanaan pembelajaran ini adalah meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas I SDN 02 Bumi Ratu melalui metode fonik, membantu peserta didik mengenali bentuk huruf kapital B dan huruf kecil b. Membantu peserta didik melafalkan bunyi huruf /b/ dengan tepat, melatih peserta didik membaca suku kata sederhana seperti ba, bi, bu, be, bo, membantu peserta didik membaca kata sederhana yang diawali huruf B [8], [9].
Pelaksanaan pembelajaran dirancang dengan menggunakan metode fonik sebagai upaya meningkatkan kemampuan membaca permulaan peserta didik kelas I SDN 02 Bumi Ratu [10]. Pembelajaran difokuskan pada pengenalan huruf B/b, pelafalan bunyi /b/, penggabungan bunyi menjadi suku kata sederhana, serta membaca kata yang diawali dengan huruf B. Secara umum, tujuan penggunaan metode fonik dalam pembelajaran membaca permulaan adalah untuk memberikan dasar pemahaman kepada peserta didik mengenai hubungan antara huruf dan bunyinya secara terstruktur, sehingga peserta didik dapat mengembangkan kemampuan membaca secara bertahap dari pengenalan huruf, pelafalan bunyi, hingga penggabungan bunyi menjadi suku kata dan kata [11]. Dalam perencanaan pembelajaran, guru menyusun kegiatan secara bertahap agar peserta didik dapat belajar membaca sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Guru merencanakan kegiatan pengenalan huruf B/b, pelafalan bunyi /b/, membaca suku kata sederhana, dan membaca kata yang diawali huruf B. Selain itu, guru juga menyiapkan kegiatan tanya jawab, latihan membaca bersama, membaca secara individu, serta pengerjaan LKPD sebagai sarana untuk mengetahui perkembangan kemampuan membaca peserta didik selama pembelajaran berlangsung. Dalam penelitian ini, metode fonik digunakan sebagai pendekatan utama untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan peserta didik kelas I SDN 02 Bumi Ratu melalui pengenalan huruf B/b dan bunyinya /b/. Dengan demikian, penerapan metode fonik diharapkan dapat mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, khususnya dalam meningkatkan kemampuan membaca dasar peserta didik. Sebelum pembelajaran dilaksanakan, guru menyiapkan perangkat pembelajaran berupa modul ajar, media pembelajaran, kartu huruf, lembar kerja peserta didik (LKPD), serta instrumen penilaian sederhana yang digunakan untuk mengamati perkembangan kemampuan membaca peserta didik [15]. Kegiatan pembelajaran disusun secara bertahap agar peserta didik dapat memahami hubungan antara huruf dan bunyinya dengan lebih mudah. Tahapan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam kegiatan ini adalah agar peserta didik mampu mengenali bentuk huruf kapital B dan huruf kecil b dengan baik serta mampu melafalkan bunyi huruf /b/ secara benar. Selain itu, peserta didik diharapkan dapat membaca suku kata sederhana seperti ba, bi, bu, be, dan bo sebagai dasar dalam kemampuan membaca permulaan. Pembelajaran ini juga bertujuan untuk membantu peserta didik membaca kata-kata sederhana yang diawali dengan huruf B. Di samping peningkatan kemampuan membaca, kegiatan pembelajaran diharapkan dapat menumbuhkan keberanian dan rasa percaya diri peserta didik saat membaca maupun menyampaikan hasil bacaannya di depan kelas. Media pembelajaran yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan ini disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik kelas I sekolah dasar agar mempermudah proses pembelajaran membaca permulaan [12], [13]. Media yang digunakan meliputi kartu huruf B/b sebagai alat bantu pengenalan bentuk huruf, gambar benda yang diawali huruf B untuk membantu peserta didik menghubungkan bunyi huruf dengan benda di lingkungan sekitar, serta Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) sebagai sarana latihan membaca dan mengenali huruf secara mandiri. Selain itu, guru juga memanfaatkan papan tulis dan spidol sebagai media demonstrasi dalam menuliskan huruf, suku kata, dan kata sederhana, serta buku Bahasa Indonesia kelas I SD sebagai pendukung materi pembelajaran.
Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan pada peserta didik kelas I SDN 02 Bumi Ratu, ditemukan bahwa kemampuan membaca permulaan peserta didik masih beragam [14]. Beberapa peserta didik telah mampu mengenali huruf dan membaca suku kata sederhana, namun sebagian lainnya masih mengalami kesulitan dalam membedakan bentuk huruf, melafalkan bunyi huruf dengan tepat, serta membaca suku kata dan kata sederhana. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian peserta didik kurang percaya diri ketika diminta membaca di depan kelas. Oleh karena itu, diperlukan suatu metode pembelajaran yang dapat membantu peserta didik memahami hubungan antara huruf dan bunyi secara lebih mudah dan menyenangkan, yaitu melalui penerapan metode fonik. Pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan melalui metode fonik diawali dengan kegiatan pendahuluan. Pada tahap ini, guru membuka pembelajaran dengan salam, doa bersama, dan pengecekan kehadiran peserta didik untuk menciptakan suasana belajar yang tertib dan kondusif. Selanjutnya, guru melakukan apersepsi dengan memberikan pertanyaan sederhana mengenai benda-benda yang sering dijumpai peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan apersepsi ini bertujuan untuk menghubungkan pengalaman peserta didik dengan materi yang akan dipelajari. Guru kemudian memperlihatkan huruf kapital B dan huruf kecil b di depan kelas sambil menanyakan apakah peserta didik pernah melihat atau mengenal huruf tersebut sebelumnya. Pada saat guru menunjukkan huruf B dan b, beberapa peserta didik sudah dapat menyebutkan nama huruf dengan benar, sedangkan beberapa peserta didik lainnya masih terlihat ragu-ragu. Guru meminta peserta didik mengamati bentuk kedua huruf tersebut kemudian menjelaskan perbedaan antara huruf kapital dan huruf kecil. Selanjutnya, peserta didik diminta menyebutkan kembali nama huruf yang ditunjukkan guru secara bergantian. Kegiatan ini dilakukan secara berulang untuk membantu peserta didik mengenali bentuk huruf dengan lebih baik serta membangun pengetahuan awal mereka terhadap materi membaca permulaan. Pada kegiatan inti, guru menerapkan metode fonik dengan memperkenalkan bunyi huruf /b/ terlebih dahulu. Guru melafalkan bunyi huruf secara jelas dan perlahan agar peserta didik dapat mendengar dan menirukan dengan tepat. Peserta didik diminta mengucapkan bunyi huruf secara bersama-sama, kemudian secara individu untuk melatih kemampuan pelafalan. Setelah itu, guru menunjuk beberapa peserta didik secara bergantian untuk melafalkan bunyi huruf di depan kelas. Dari kegiatan tersebut terlihat bahwa sebagian peserta didik sudah mampu melafalkan bunyi huruf dengan baik, sedangkan beberapa peserta didik lainnya masih memerlukan arahan dan latihan lebih lanjut. Guru memberikan bimbingan secara langsung kepada peserta didik yang mengalami kesulitan agar mereka tetap dapat mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik. Setelah peserta didik mulai mengenali bunyi huruf, guru mengajarkan penggabungan huruf b dengan huruf vokal sehingga membentuk suku kata sederhana seperti ba, bi, bu, be, dan bo. Guru memberikan contoh pelafalan suku kata secara berulang, kemudian peserta didik menirukan pelafalan tersebut secara bersama-sama. Selanjutnya, peserta didik diminta membaca suku kata secara mandiri dengan bimbingan guru. Kegiatan ini dilakukan untuk membantu peserta didik memahami hubungan antara bentuk huruf dan bunyinya sehingga mereka dapat membaca suku kata sederhana dengan lebih lancar. Selanjutnya, peserta didik dikenalkan pada kata-kata sederhana yang diawali huruf B, seperti bola, buku, batu, bakso, dan burung. Untuk membantu peserta didik memahami makna kata yang dibaca, guru menunjukkan gambar benda yang sesuai dengan kata yang dipelajari. Peserta didik diminta menyebutkan nama benda pada gambar, kemudian membaca kata tersebut secara bersama-sama dan secara individu. Guru membimbing peserta didik membaca kata-kata tersebut secara bertahap, mulai dari mengeja suku kata hingga membaca kata secara utuh. Peserta didik yang masih mengalami kesulitan diberikan pendampingan secara langsung agar tetap mampu mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Melalui kegiatan ini, peserta didik dilatih untuk menghubungkan bunyi huruf menjadi suku kata dan kata sederhana yang bermakna. Untuk memperkuat pemahaman peserta didik terhadap materi yang dipelajari, guru membagikan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang berisi latihan mengenali huruf, mencocokkan gambar benda dengan huruf awalnya, serta membaca kata sederhana yang diawali huruf B. Selama kegiatan berlangsung, guru berkeliling mengamati dan membantu peserta didik yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas. Melalui kegiatan ini, peserta didik diberikan kesempatan untuk mempraktikkan kemampuan membaca secara mandiri sekaligus memperkuat hasil pembelajaran yang telah diperoleh di kelas. Secara umum, peserta didik menunjukkan antusiasme yang baik selama proses pembelajaran berlangsung. Pada awal kegiatan masih terdapat beberapa peserta didik yang kesulitan mengenali huruf dan membaca suku kata sederhana. Namun setelah diberikan latihan secara bertahap melalui metode fonik, peserta didik mulai menunjukkan perkembangan yang positif. Mereka lebih cepat mengenali huruf, mampu melafalkan bunyi huruf dengan lebih tepat, serta lebih percaya diri ketika diminta membaca di depan kelas. Pada tahap penutup, guru melakukan refleksi sederhana dengan memberikan pertanyaan mengenai materi yang telah dipelajari selama pembelajaran berlangsung. Guru meminta peserta didik menyebutkan kembali huruf B/b, bunyi /b/, suku kata ba, bi, bu, be, dan bo, serta contoh benda-benda yang diawali huruf B untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta didik. Sebagai penguatan, guru memberikan motivasi kepada peserta didik agar terus berlatih membaca di rumah bersama orang tua. Kegiatan pembelajaran kemudian diakhiri dengan doa bersama dan salam penutup. Penilaian dalam pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Guru menggunakan teknik observasi, latihan membaca, serta hasil pengerjaan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) untuk mengetahui perkembangan kemampuan peserta didik. Penilaian difokuskan pada beberapa aspek utama, yaitu kemampuan peserta didik dalam mengenali bentuk huruf kapital B dan huruf kecil b, melafalkan bunyi huruf /b/ dengan benar, membaca suku kata sederhana seperti ba, bi, bu, be, dan bo, serta membaca kata sederhana yang diawali huruf B. Selama proses pembelajaran, guru mengamati kemampuan peserta didik secara langsung melalui kegiatan pengenalan huruf, latihan pelafalan bunyi, membaca suku kata, dan membaca kata sederhana. Selain itu, hasil pengerjaan LKPD juga digunakan sebagai pendukung untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik terhadap materi membaca permulaan yang telah dipelajari. Berdasarkan hasil pembelajaran yang dilaksanakan pada 6 siswa kelas I SDN 02 Bumi Ratu, terlihat adanya perkembangan kemampuan membaca permulaan peserta didik setelah diterapkannya metode fonik dalam pembelajaran. Peserta didik menunjukkan peningkatan dalam mengenali bentuk huruf, memahami hubungan antara huruf dan bunyinya, serta membaca suku kata sederhana. Sebagian besar peserta didik telah mampu mengenali bentuk huruf kapital B dan huruf kecil b dengan baik. Selain itu, peserta didik juga menunjukkan perkembangan dalam melafalkan bunyi huruf /b/ secara lebih jelas dan tepat dibandingkan sebelum pembelajaran dilakukan. Kemampuan peserta didik dalam membedakan bunyi huruf juga mulai terlihat melalui kegiatan membaca bersama maupun secara individu. Hasil observasi selama pembelajaran menunjukkan bahwa peserta didik yang pada awalnya masih kesulitan mengenali huruf dan membaca suku kata mulai menunjukkan perkembangan yang positif setelah diberikan latihan melalui metode fonik. Peserta didik terlihat lebih berani membaca di depan kelas, lebih aktif menjawab pertanyaan guru, dan lebih cepat mengenali hubungan antara huruf dan bunyinya dibandingkan sebelum pembelajaran dilaksanakan. Pada tahap membaca suku kata, sebagian besar peserta didik telah mampu membaca suku kata sederhana seperti ba, bi, bu, be, dan bo secara mandiri. Peserta didik juga mulai mampu membaca beberapa kata sederhana yang diawali huruf B, seperti bola, buku, dan burung, meskipun masih terdapat beberapa peserta didik yang memerlukan pendampingan lebih lanjut dalam membaca secara lancar. Secara keseluruhan, hasil pembelajaran menunjukkan bahwa penerapan metode fonik dapat membantu meningkatkan kemampuan membaca permulaan peserta didik kelas I SDN 02 Bumi Ratu, khususnya dalam mengenali huruf, melafalkan bunyi huruf, serta membaca suku kata dan kata sederhana. Untuk mengetahui perkembangan kemampuan membaca permulaan peserta didik, peneliti menggunakan instrumen penilaian yang disusun berdasarkan indikator kemampuan membaca permulaan dalam metode fonik. Indikator yang digunakan meliputi kemampuan mengenal huruf, melafalkan bunyi huruf, membaca suku kata sederhana, dan mengenal kata-kata sederhana. Keempat indikator tersebut digunakan sebagai dasar dalam melakukan penilaian sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test) penerapan metode fonik.
Tabel 1. Skala Penilaian
Tabel 2. Indikator Penilaian Kemampuan Membaca Permulaan (Pre-test)
Tabel 3. Indikator Penilaian Kemampuan Membaca Permulaan (Post-test)
Rumus Persentase:
Tabel 4. Hasil Penilaian Kemampuan Membaca Permulaan Peserta Didik Sebelum dan Sesudah Penerapan Metode Fonik
Berdasarkan hasil instrumen penilaian yang dilakukan terhadap 6 peserta didik kelas I SDN 02 Bumi Ratu, diperoleh data bahwa kemampuan membaca permulaan peserta didik sebelum penerapan metode fonik masih bervariasi. Dari 6 peserta didik, terdapat 1 peserta didik yang memperoleh skor 1 dengan nilai persentase 25%, 3 peserta didik memperoleh skor 2 dengan nilai persentase 50%, dan 2 peserta didik memperoleh skor 3 dengan nilai persentase 75%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian peserta didik masih mengalami kesulitan dalam mengenali huruf, melafalkan bunyi huruf, membaca suku kata sederhana, dan mengenal kata-kata sederhana yang diawali huruf B. Setelah diterapkan metode fonik dalam pembelajaran membaca permulaan, terjadi peningkatan kemampuan membaca pada seluruh peserta didik. Hasil post-test menunjukkan bahwa 3 peserta didik memperoleh skor 3 dengan nilai persentase 75%, sedangkan 3 peserta didik lainnya memperoleh skor 4 dengan nilai persentase 100%. Peningkatan ini menunjukkan bahwa peserta didik mulai mampu mengenali bentuk huruf B/b, melafalkan bunyi /b/ dengan tepat, membaca suku kata sederhana seperti ba, bi, bu, be, dan bo, serta membaca kata sederhana yang diawali huruf B, seperti bola, buku, batu, dan burung. Temuan ini sejalan dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dalam penelitian, yaitu meningkatkan kemampuan membaca permulaan melalui metode fonik. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kemampuan membaca permulaan peserta didik mengalami peningkatan yang signifikan setelah penerapan metode fonik. Berdasarkan hasil penilaian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode fonik memberikan dampak positif terhadap kemampuan membaca permulaan peserta didik kelas I SDN 02 Bumi Ratu.
Pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan melalui metode fonik memberikan pengalaman belajar yang positif bagi peserta didik kelas I SDN 02 Bumi Ratu. Selama proses pembelajaran berlangsung, peserta didik terlihat lebih antusias dan aktif dalam mengikuti kegiatan membaca. Peningkatan tersebut terlihat dari kemampuan peserta didik dalam mengenal huruf, melafalkan bunyi huruf, membaca suku kata sederhana, serta mengenal kata-kata yang diawali huruf B. Pengenalan bunyi huruf yang dilakukan secara bertahap membantu peserta didik memahami hubungan antara bentuk huruf dan bunyinya dengan lebih baik. Selain itu, kegiatan membaca yang dilakukan secara berulang membantu peserta didik menjadi lebih lancar dalam membaca. Peserta didik juga menunjukkan keberanian yang lebih baik ketika diminta membaca secara individu dibandingkan pada saat observasi awal. Meskipun pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan baik, masih ditemukan beberapa kendala selama proses pembelajaran berlangsung. Berdasarkan hasil penilaian, terdapat perbedaan kemampuan membaca antar peserta didik. Beberapa peserta didik telah mampu mengenali huruf, melafalkan bunyi, serta membaca suku kata dan kata sederhana dengan baik, sedangkan sebagian peserta didik lainnya masih memerlukan bimbingan dalam melafalkan bunyi huruf dan menggabungkan huruf menjadi suku kata. Selain itu, beberapa peserta didik masih menunjukkan rasa kurang percaya diri ketika diminta membaca secara individu di depan guru maupun teman-temannya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peserta didik masih memerlukan latihan dan pendampingan secara bertahap agar kemampuan membaca mereka dapat berkembang secara optimal. Sebagai tindak lanjut dari hasil pembelajaran yang telah dilakukan, guru merencanakan beberapa upaya perbaikan untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan peserta didik. Upaya tersebut dilakukan dengan memberikan latihan membaca secara rutin dan bertahap agar peserta didik semakin terbiasa mengenali huruf, bunyi, dan suku kata sederhana. Selain itu, guru juga berencana menggunakan media pembelajaran yang lebih menarik, seperti kartu gambar, permainan huruf, dan media visual lainnya guna meningkatkan minat belajar peserta didik. Guru juga akan memberikan pendampingan individual kepada peserta didik yang masih mengalami kesulitan membaca agar mereka memperoleh perhatian dan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhannya. Di samping itu, keterlibatan orang tua dalam proses pembelajaran di rumah juga menjadi bagian penting dari rencana perbaikan, yaitu dengan mendampingi peserta didik berlatih membaca secara sederhana di rumah sehingga kemampuan membaca permulaan dapat berkembang dengan lebih baik dan berkelanjutan. Pelaksanaan pembelajaran dilakukan dengan tetap memperhatikan aspek etika dan privasi peserta didik. Seluruh kegiatan dilaksanakan dalam suasana belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan peserta didik. Identitas peserta didik dijaga kerahasiaannya dan data pembelajaran hanya digunakan untuk kepentingan akademik. Selain itu, guru memberikan kesempatan belajar yang sama kepada seluruh peserta didik tanpa adanya perlakuan diskriminatif sehingga semua peserta didik dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kepala SDN 02 Bumi Ratu yang telah memberikan izin pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada peserta didik kelas I SDN 02 Bumi Ratu, serta semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam penyusunan jurnal skripsi ini sehingga dapat diselesaikan dengan baik.
S. Aisyah and R. Wahyuni, “Pengaruh metode fonik terhadap kemampuan membaca permulaan peserta didik tingkat dasar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia,” J. Pendidik. Tambusai, vol. 8, no. 2, pp. 11234–11242, 2024.
D. Sembiring and E. Tarigan, “Pengaruh metode fonik terhadap kemampuan membaca permulaan siswa kelas I SDN 101820 Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang,” J. Ilmu Pendidik., vol. 3, no. 1, pp. 45–53, 2025.
M. Rahayu and D. Fitriani, “Penerapan metode fonik terhadap kemampuan membaca permulaan siswa sekolah dasar,” J. Ilm. Aquinas, vol. 6, no. 2, pp. 156–167, 2023.
N. Putri and L. Hasanah, “Peningkatan kemampuan membaca permulaan melalui metode fonetik pada siswa kelas I sekolah dasar,” Global J. Educ. Learn., vol. 2, no. 1, pp. 88–97, 2024.
A. Maulana and P. Sari, “Implementasi metode phonic dalam pembelajaran membaca permulaan di kelas I Madrasah Ibtidaiyah,” Asatidzuna: J. Pendidik. Guru MI, vol. 4, no. 1, pp. 20–31, 2025.
R. Suryani and A. Lestari, “Analisis kemampuan membaca permulaan pada siswa kelas I sekolah dasar,” J. Pendidik. dan Konseling, vol. 5, no. 2, pp. 2234–2241, 2023.
S. D. Suari, A. Syarif, and I. S. Pamela, “Pengaruh metode fonik terhadap kemampuan membaca permulaan siswa kelas I sekolah dasar,” Pedagogik J. Islamic Elem. Sch., vol. 9, no. 1, pp. 164–175, 2026.
N. Hidayah and F. Ramadhani, “Penggunaan metode fonik dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa sekolah dasar,” J. Basicedu, vol. 6, no. 4, pp. 7210–7218, 2022.
K. Dewi and T. Amalia, “Upaya meningkatkan kemampuan membaca permulaan melalui pembelajaran fonik di sekolah dasar,” J. Cakrawala Pendas, vol. 9, no. 3, pp. 451–460, 2023.
I. Rahmadani and M. Yusuf, “Penerapan metode fonik dalam pembelajaran membaca permulaan siswa kelas rendah sekolah dasar,” Pendas: J. Ilm. Pendidik. Dasar, vol. 9, no. 1, pp. 210–221, 2024.
Y. Fitria and A. Kurniawan, “Peningkatan kemampuan membaca permulaan melalui strategi pembelajaran berbasis bunyi huruf pada siswa kelas awal,” J. Obsesi: J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 7, no. 5, pp. 5890–5891, 2023.
A. Susanti and R. Ibrahim, “Pengaruh media visual dalam membaca permulaan,” J. Pendidik. Dasar, vol. 5, no. 2, pp. 102–110, 2022.
B. Prasetyo, Metode Pembelajaran Inovatif Anak Usia Dini. Jakarta, Indonesia: RajaGrafindo, 2021.
C. Wulandari and H. Yanto, “Efektivitas metode fonik terhadap literasi,” J. Ilm. Sekol. Dasar, vol. 4, no. 1, pp. 33–40, 2023.
D. Kurnia, Asesmen Pembelajaran di Sekolah Dasar. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2024.