Jasmi Reni Putri (1), Kemil Wachidah (2)
General Background Reading comprehension constitutes a fundamental linguistic skill critical for acquiring diverse academic knowledge in primary education. Specific Background Fourth-grade students at SDN 05 Air Dingin exhibit significant difficulties in identifying main ideas, extracting essential information, and summarizing texts coherently. Knowledge Gap Many students engage in passive, rapid reading without a structured cognitive framework to actively process, retain, and review textual information. Aims This classroom action research aims to optimize active reading engagement and narrative summarization using the structured Survey, Question, Read, Recite, and Review framework. Results Conducted across two cycles involving twenty-one students, the intervention increased learner activity from 66.67 percent to 87.30 percent. Correspondingly, reading comprehension mastery surged from 61.90 percent in the initial cycle to 90.48 percent, with average evaluation scores rising from 71.41 to 87.14. Novelty Integrating student-generated questions and iterative review mechanisms within the reading process transforms learners from passive text consumers into active information processors. Implications The deployment of the SQ3R methodology provides primary educators with a highly structured, systematic pedagogical strategy to resolve comprehension deficits and maximize elementary literacy.
Highlights:
The deployment of the structured reading framework increased learner activity from 66.67 percent to 87.30 percent.
Reading comprehension mastery surged significantly from 61.90 percent to 90.48 percent across two cycles.
Generating questions and reviewing content actively transformed students from passive consumers into critical readers.
Keywords: Reading Comprehension, Language Education, Action Research, Active Reading, Elementary Literacy
Kemampuan membaca pemahaman merupakan keterampilan dasar yang sangat penting dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar [6]. Siswa tidak hanya dituntut mampu membaca teks secara lancar, tetapi juga harus memahami isi bacaan, menemukan ide pokok, menangkap informasi penting, dan menyampaikan kembali isi teks dengan bahasa sendiri [1], [4]. Penguasaan kemampuan ini menjadi fondasi bagi keberhasilan siswa dalam memahami berbagai materi pelajaran [7]. Kondisi awal di kelas IV SDN 05 Air Dingin menunjukkan bahwa kemampuan membaca pemahaman siswa masih perlu ditingkatkan [10]. Sebagian siswa belum fokus saat membaca, belum terbiasa merumuskan pertanyaan dari teks, dan masih kesulitan menjawab pertanyaan yang membutuhkan pemahaman isi bacaan. Selain itu, beberapa siswa cenderung membaca secara cepat tanpa melakukan peninjauan kembali terhadap informasi penting dalam teks. Metode SQ3R dipilih karena memberikan langkah membaca yang sistematis [14]. Melalui tahapan Survey, Question, Read, Recite, dan Review, siswa diarahkan untuk melihat gambaran umum teks, menyusun pertanyaan, membaca secara teliti, mengungkapkan kembali isi bacaan, serta meninjau ulang informasi yang telah dipelajari [2], [5]. Struktur ini membantu siswa menjadi pembaca aktif, bukan sekadar pembaca pasif yang hanya mengikuti teks tanpa memahami maknanya.
Berdasarkan konteks tersebut, tujuan implementasi pembelajaran ini adalah:
1. Mendeskripsikan proses penerapan metode SQ3R dalam pembelajaran membaca pemahaman siswa kelas IV SDN 05 Air Dingin.
2. Meningkatkan kemampuan siswa dalam menemukan ide pokok, informasi penting, dan jawaban berdasarkan isi bacaan.
3. Meningkatkan kemampuan siswa dalam menceritakan kembali dan merangkum isi bacaan dengan bahasa sendiri.
4. Meningkatkan aktivitas belajar siswa dan kualitas pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia melalui tahapan membaca yang sistematis.
Rencana pembelajaran dirancang dalam dua siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK) [8], [15]. Setiap siklus mencakup perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek implementasi adalah 21 siswa kelas IV yang terdiri atas 14 siswa laki-laki dan 7 siswa perempuan. Fokus pembelajaran adalah peningkatan kemampuan membaca pemahaman melalui tahapan SQ3R yang dilakukan secara bertahap dan terbimbing [3].
Tabel 1. Strategi dan Alur Kegiatan Pembelajaran Berbasis SQ3R
Pada akhir pembelajaran, siswa mengisi lembar refleksi singkat untuk memastikan bahwa setiap siswa mengunci pemahamannya terhadap isi bacaan [11]. Lembar ini berisi tiga pertanyaan utama: (1) Apa ide pokok dari teks yang kamu baca hari ini? (2) Informasi penting apa yang paling kamu ingat dari bacaan? (3) Bagian mana yang masih sulit dipahami dan perlu dijelaskan kembali?. Lembar refleksi ini digunakan guru sebagai data cepat untuk mengetahui siswa yang telah memahami bacaan dan siswa yang masih membutuhkan bimbingan tambahan. Seluruh data pembelajaran direkap secara agregat dan anonim tanpa mencantumkan nama, NISN, foto, atau identitas pribadi siswa. Data observasi, refleksi, dan hasil tes hanya digunakan untuk kepentingan evaluasi pembelajaran dan penyusunan laporan akademik. Publikasi praktik pembelajaran dilakukan dengan memperhatikan izin dari pihak sekolah atau atasan.
Implementasi dilakukan melalui dua siklus pembelajaran membaca pemahaman dengan menerapkan langkah SQ3R [9]. Pada siklus I, guru memulai pembelajaran dengan apersepsi dan penjelasan singkat mengenai manfaat membaca pemahaman. Guru kemudian membagikan teks bacaan dan membimbing siswa melakukan Survey dengan mengamati judul, bagian awal teks, serta kata-kata penting. Pada tahap Question, siswa mulai menyusun pertanyaan sederhana dari isi teks, tetapi beberapa siswa masih memerlukan contoh pertanyaan dari guru. Pada tahap Read, siswa membaca teks secara teliti untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang telah disusun. Guru berkeliling memberikan bimbingan kepada siswa yang masih kesulitan menemukan ide pokok. Setelah itu, pada tahap Recite, siswa diminta menjawab pertanyaan dan menyampaikan kembali isi bacaan. Pada siklus I, sebagian siswa masih ragu berbicara dan belum mampu merangkum isi bacaan dengan runtut. Guru kemudian menggunakan tahap Review untuk membahas kembali jawaban dan memperbaiki kesalahan pemahaman. Hasil refleksi siklus I menunjukkan bahwa beberapa siswa masih kurang fokus, belum terbiasa membuat pertanyaan, dan belum percaya diri saat menceritakan kembali isi bacaan. Karena itu, pada siklus II guru memperbaiki pembelajaran dengan memberi contoh pertanyaan yang lebih jelas, menyediakan kata kunci pada papan tulis, dan menggunakan diskusi berpasangan sebelum siswa menyampaikan jawaban di depan kelas. Strategi ini membantu siswa menyiapkan gagasan dengan lebih baik. Pada siklus II, keterlibatan siswa meningkat. Siswa lebih aktif menyusun pertanyaan, membaca ulang bagian teks yang penting, serta menyampaikan ringkasan dengan kalimat sendiri. Guru juga memberikan apresiasi terhadap usaha siswa sehingga suasana belajar menjadi lebih positif. Tahap Review dilakukan lebih terarah dengan mengecek ide pokok, jawaban pertanyaan, dan ringkasan siswa secara bersama-sama. Secara umum, penerapan SQ3R membuat kegiatan membaca lebih terstruktur dan membantu siswa memahami bacaan secara bertahap. Penilaian dilakukan menggunakan observasi aktivitas belajar siswa, observasi aktivitas mengajar guru, catatan refleksi, dan tes membaca pemahaman pada setiap siklus [12], [13]. Data disajikan secara agregat tanpa mencantumkan identitas siswa. Aspek yang dinilai meliputi keaktifan mengikuti tahapan SQ3R, ketepatan menemukan informasi penting, kemampuan menjawab pertanyaan, kemampuan merangkum bacaan, serta ketuntasan membaca pemahaman.
Tabel 2. Indikator Keberhasilan Pembelajaran Membaca Pemahaman
Tabel 3. Rekap Hasil Membaca Pemahaman Siklus I dan Siklus II
Hasil pada Tabel 3 menunjukkan adanya peningkatan yang jelas dari siklus I ke siklus II. Ketuntasan membaca pemahaman meningkat dari 61,90% menjadi 90,48%, atau naik sebesar 28,58%. Jumlah siswa yang tuntas meningkat dari 13 siswa menjadi 19 siswa, sedangkan siswa yang belum tuntas berkurang dari 8 siswa menjadi 2 siswa. Peningkatan ini menunjukkan bahwa tahapan SQ3R membantu siswa membaca secara lebih fokus, sistematis, dan bermakna. Selain peningkatan nilai, aktivitas belajar siswa juga meningkat dari 66,67% menjadi 87,30%. Hal ini terlihat dari siswa yang lebih aktif bertanya, mencari jawaban dalam teks, membaca ulang bagian penting, dan menyampaikan kembali isi bacaan. Aktivitas mengajar guru juga meningkat dari 68,30% menjadi 88,30% karena pada siklus II guru lebih konsisten membimbing setiap tahap SQ3R dan memberi umpan balik yang lebih spesifik.
Penerapan metode SQ3R terbukti membantu siswa memahami bacaan dengan lebih baik karena setiap tahap memberi arah yang jelas. Siswa tidak langsung membaca teks secara terburu-buru, tetapi memulai dengan melihat gambaran umum, menyusun pertanyaan, membaca untuk mencari jawaban, menceritakan kembali, dan meninjau ulang isi bacaan. Proses ini membuat kegiatan membaca menjadi lebih aktif dan terarah.
Namun demikian, terdapat beberapa catatan reflektif:
1. Pada siklus I, sebagian siswa masih kesulitan merumuskan pertanyaan dari teks bacaan.
2. Beberapa siswa kurang fokus saat membaca sehingga jawaban yang diberikan belum sesuai dengan isi teks.
3. Kemampuan merangkum bacaan dengan bahasa sendiri masih perlu dilatih secara berulang.
4. Dua siswa masih memerlukan pendampingan khusus agar dapat mencapai ketuntasan membaca pemahaman.
Berdasarkan refleksi tersebut, rencana perbaikan yang akan dilakukan pada pembelajaran berikutnya adalah:
1. Memberikan contoh pertanyaan yang lebih bervariasi sebelum siswa menyusun pertanyaan secara mandiri.
2. Menggunakan kartu kata kunci untuk membantu siswa menemukan ide pokok dan informasi penting.
3. Melakukan latihan merangkum secara bertahap, mulai dari satu paragraf hingga satu teks utuh.
4. Menerapkan diskusi berpasangan sebelum siswa menyampaikan jawaban secara lisan.
5. Memberikan bimbingan tambahan kepada siswa yang masih belum tuntas melalui latihan membaca pendek dan umpan balik individual.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan dan penyusunan laporan implementasi pembelajaran ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada pihak SDN 05 Air Dingin, guru, dan siswa kelas IV yang telah mendukung proses pembelajaran, observasi, dan refleksi sehingga laporan ini dapat diselesaikan dengan baik.
Y. Abidin, Pembelajaran Membaca Berbasis Pendidikan Karakter. Bandung, Indonesia: Refika Aditama, 2021.
W. Ambarwati, “Peningkatan keterampilan membaca pemahaman melalui metode SQ3R di SD N 01 Pajerukan,” J. Pendidik. Dasar, vol. 5, no. 1, pp. 12–20, 2022.
S. Arikunto and Supardi, Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta, Indonesia: Bumi Aksara, 2021.
F. Rahim, Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta, Indonesia: Bumi Aksara, 2023.
H. G. Tarigan, Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung, Indonesia: Angkasa, 2022.
M. Nurhadi, Teknik Membaca. Jakarta, Indonesia: Gramedia, 2021.
A. P. Sari, “Penerapan SQ3R pada literasi sekolah,” J. Literasi, vol. 4, no. 2, pp. 45–55, 2024.
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2022.
R. E. Slavin, Cooperative Learning. London, U.K.: Pearson, 2021.
D. N. Lilis, “Peningkatan minat baca siswa sekolah dasar,” J. Edukasi, vol. 8, no. 1, pp. 22–30, 2025.
K. W. Santoso, Asesmen Pembelajaran Bahasa. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar, 2023.
N. Hidayat, “Evaluasi tindakan kelas,” J. Evaluasi, vol. 7, no. 2, pp. 110–120, 2022.
B. Nurgiyantoro, Penilaian Pembelajaran Bahasa. Yogyakarta, Indonesia: BPFE, 2021.
A. Majid, Strategi Pembelajaran. Bandung, Indonesia: Remaja Rosdakarya, 2023.
J. W. Creswell, Educational Research. Boston, MA, USA: Pearson, 2021.