Siti Mufiah (1), Muhlasin Amrullah (2)
General Background Foundational reading proficiency represents an essential prerequisite for young learners before advancing to higher educational stages. Specific Background Second-grade students at Batu Raja State Elementary School 2 encounter severe difficulties in distinguishing similar alphabet symbols, synthesizing syllables, and maintaining focus during study sessions. Knowledge Gap Conventional teaching methods often fail to concretize abstract phonetic concepts into tangible forms, leading to low participation and boredom among early learners. Aims This classroom action research seeks to accelerate spelling, alphabet recognition, and word pronunciation through game-based visual media. Results Conducted over two evaluation cycles, the implementation of brightly colored visual media raised the average learner score from 63.75 to 85.38. Furthermore, classical learning completeness surged from 25 percent in the pre-cycle phase to a perfect 100 percent by the final assessment. Novelty Integrating visual manipulatives with a play-and-learn instructional approach uniquely transforms abstract linguistic symbols into concrete objects for young students. Implications Deploying interactive visual tools provides an engaging pedagogical strategy to resolve phonics confusion and establish strong foundational literacy in elementary settings.
Highlights:
The deployment of visual phonetic media raised the average evaluation score from 63.75 to 85.38 across two cycles.
Classical learning completeness achieved a 100 percent mastery rate by the final assessment phase.
Game-based instructional methods successfully converted monotonous study sessions into highly engaging environments.
Keywords: Early Literacy, Visual Phonetic Media, Elementary Students, Action Research, Play-Based Instruction
Di suatu Sekolah Dasar Negeri 2 Batu Raja terdapat siswa kelas II terbapat kesulitan membaca terutama membedakan huruf yang bentuknya mirip (misal: b, d, p, q), lambat dalam merangkai suku kata menjadi kata bermakna, cenderung tidak fokus saat proses belajar membaca [13]. Membaca permulaan sebagai salah satu proses belajar membaca yang diajarkan pada siswa kelas kecil. Menurut Juhaeni et al. (2022), bahwa keterampilan membaca permulaan harus dikuasasi sebelum peserta didik melanjutkan ke keterampilan membaca lebih lanjut, oleh karena itu dalam kegiatan pembelajaran guru dan orang tua diharapkan dapat berperan aktif dalam membantu peserta didik menguasai ketermpilan membaca [1]. Tujuan Pembelajaran Ketererampilan Membaca bagi Pemula Kelas II dengan menggunakan Media Kartu Huruf terdiri dari (1) Meningkatkan kemampuan siswa kelas II SD dalam mengeja, mengenali, dan membaca suku kata serta kata sederhana secara lancar. Membaca permulaan sebagai salah satu proses belajar membaca yang diajarkan pada siswa kelas kecil, hal ini merupakan keutamaan agar siswa mampu mengenal huruf (Rohman et al., 2022) [2]. (2) Mengubah suasana belajar menjadi lebih aktif, menyenangkan, dan interaktif (belajar sambil bermain) sehingga siswa lebih semangat, (3) Mengkonkretkan konsep abstrak (huruf/bunyi) menjadi nyata melalui kartu huruf agar lebih mudah diingat dan, (4) Meningkatkan persentase ketuntasan hasil tes membaca siswa kelas II. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Walidah & Sukartono (2024), menunjukan bahwa pengajaran dengan media kartu huruf dapat membantu siswa mempelajari aksar dengan lebih mudah dan cepat [3].
Rencana kegiatan pembelajaran dilaksanakan 1 Pertemuan - 2 JP / 70 Menit [11]. Dimulai Kegiatan Awal selama 10 Menit Guru menyapa siswa bertanya tentang kabar, dilanjutkan dengan berdoa yang dipimpin salah satu siswa, dan dilakukan presensi. Kemudian Guru mengajak siswa bernyanyi lagu alfabet bersama siswa. Lalu guru menjelaskan tujuan pembelajaran hari ini "Membaca kata dengan menyusun kartu huruf", dimana menurut Astuti et al. (2021) bahwa penggunaan media kartu huruf memiliki pengaruh terhadap kemampuan membaca permulaan anak sekolah dasar [4]. Kegiatan Inti selama 50 Menit, berawal dilakukan Eksplorasi 10 Menit Guru menunjukkan kartu huruf “A-Z” dan meminta siswa melafalkan huruf vokal dan konsonan secara acak. Kartu huruf adalah kartu yang di dalamnya terdapat huruf a-z (huruf kecil dan huruf besar) yang dikombinasikan dengan gambar dan kata-kata untuk membantu siswa untuk memahami dan menghafal abjad A sampai Z (Alhamid et al., 2024) [5]. Kemudian dilanjutkan Demonstrasi selama 10 Menit Guru mencontohkan cara merangkai kartu huruf menjadi suku kata misal "b-u" -> "bu" dan suku kata menjadi kata misal "bu" + "ku" -> "buku". Selanjutnya agar belajar lebih meriah dilakukan permainan kelompok 20 Menit dengan ketentuan siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, Setiap kelompok diberikan satu set kartu huruf, lalu guru menyebutkan satu kata, kelompok berlomba menyusun kartu huruf tersebut, dan siswa membaca kata yang telah disusun di meja kelompok. Setelah permainan berakhir dilakukan evaluasi individu selama 10 Menit guru memberikan kartu suku kata/kata kepada siswa secara acak untuk dibaca langsung (tes lisan) [12]. Kegiatan Penutup selama 10 Menit, dilakukan, Guru dan siswa bertanya jawab tentang kesulitan yang dihadapi (Refleksi) kemudian Guru memberikan pujian dan apresiasi atas partisipasi siswa (Penguatan) dan dilanjutkan memberikan tugas ringan membaca di rumah (Tindak Lanjut). Media dan bahan yang digunakan terdapat empat jenis yaitu kartu huruf dengan ukuran 5x5 cm atau 10x10 cm, berwarna cerah agar menarik perhatian, kartu suku kata, kombinasi konsonan-vokal (ba, bi, bu, be, bo) menurut (Alhamid et al., 2024) [5] kartu huruf adalah kartu yang di dalamnya terdapat huruf a-z (huruf kecil dan huruf besar) yang dikombinasikan dengan gambar dan kata-kata untuk membantu siswa untuk memahami dan menghafal abjad A sampai Z, kartu kata bergambar kartu yang berisi gambar benda dan kata di bawahnya misal gambar bola + Kata "bola", papan flanel/ papan selip tempat menyusun kartu huruf agar terlihat oleh semua siswa. Indikator Keberhasilan pembelajaran dianggap berhasil jika memenuhi kriteria berikut (dilihat dari peningkatan per siklus) diantaranya (1) Aktivitas Guru Mendapat kategori "Baik" dalam penggunaan media kartu huruf (2) Aktivitas Siswa menunjukkan antusiasme, aktif berpartisipasi, dan tidak takut salah dalam membaca. Hasil keterampilan membaca, a) Siswa mampu menyebutkan simbol huruf yang dikenal, b) Siswa mampu merangkai huruf menjadi suku kata dan kata, c) Minimal 85% siswa mencapai ketuntasan belajar dengan nilai ≥ 70 (atau sesuai KKM sekolah). (3) Ketuntasan Klasikal terdapat Peningkatan hasil rata-rata kemampuan membaca permulaan dari siklus I ke siklus II (misal dari 50% menjadi 90% tuntas). Panduan etika dan privasi untuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) mengenai peningkatan kemampuan membaca permulaan menggunakan media kartu huruf di kelas 2 SD [15]. Panduan ini dirancang untuk memastikan data siswa terlindungi, anonim, dan digunakan secara bertanggung jawab. Anonimisasi data siswa (anonimitas), identitas siswa harus disamarkan. Gunakan inisial, kode (misal Siswa A, Subjek 1), atau nama samaran dalam dokumentasi, laporan, kutipan jawaban, dan hasil skor. Untuk dokumentasi visual (Foto/Video) saat mengambil foto atau video penggunaan kartu huruf, pastikan wajah siswa tidak terlihat jelas atau gunakan teknik blur (kabur) pada wajah jika diperlukan. Fokuskan kamera pada tangan atau kartu huruf yang dipegang, bukan pada wajah siswa. Kemudian data Skor, data hasil tes membaca permulaan harus disajikan dalam bentuk rekapitulasi kelompok (rata-rata), bukan daftar nilai individu yang dikaitkan dengan nama asli. Etika penggunaan data dan dokumentasi, peneliti harus mendapatkan izin tertulis dari orang tua/wali siswa sebelum melakukan perekaman atau penggunaan data penelitian, terutama jika melibatkan dokumentasi visual. Kemudian penyimpanan data aman, semua data sensitif (skor, kutipan jawaban, foto/video) harus disimpan di perangkat yang dilindungi kata sandi atau dalam berkas fisik yang dikunci. Akses ke data hanya diperbolehkan untuk peneliti dan kolaborator. Selanjutnya prinsip No-Harm, disini penggunaan media kartu huruf tidak boleh membuat siswa merasa tertekan, malu jika salah membaca, atau terdiskriminasi. Fokuskan pada peningkatan keterampilan, bukan kompetisi skor. Tanggung jawab penggunaan data, seperti peneliti bertanggung jawab melaporkan hasil peningkatan membaca permulaan secara jujur berdasarkan observasi riil di lapangan, bukan memanipulasi data. Selanjutnya dalam menganalisis jawaban siswa, peneliti harus adil dan tidak memberikan pelabelan negatif terhadap siswa yang mengalami kesulitan membaca. Penghapusan data personal siswa (nama asli, foto jelas) harus dihapus atau dimusnahkan setelah penelitian selesai dan laporan dipublikasikan.
Berdasarkan hasil-hasil penelitian kegiatan pembelajaran dilakukan dengan pendekatan "bermain sambil belajar" untuk meningkatkan motivasi [14]. Pelajaran membaca dengan menggunakan flash cards yaitu suatu metode atau cara yang digunakan oleh pendidik atau guru yang memafaatkan kartu-kartu berseri atau bergambar atau kartu-kartu huruf dalam upaya peningkatan belajar membaca siswa (Sukartiningsih, 2021) [6]. Sesuai dengan hasil penelitian dari Ruhaena (2021) menyatakan bahwa Media kartu banyak membantu untuk membuat anak belajar sambil bermain dan melakukan eksplorasi dan manipulasi huruf [7]. Kelebihan flashcard Susilana (2022: 95) antara lain mudah dibawah, praktis, gampang diingat, dan menyenangkan [8]. Ada beberapa tahapan kegiatan pembelajaran yang terdiri dari (1) Tahap Pendahuluan, guru mengkondisikan siswa, melakukan apersepsi, dan menjelaskan tujuan pembelajaran. Selanjutnya guru mengenalkan kartu huruf yang akan digunakan. (2) Tahap Inti (Penggunaan Media) seperi pengenalan huruf dan suku kata. Guru menunjukkan kartu huruf (vokal/konsonan) dan kartu suku kata, lalu siswa diminta melafalkan bunyi huruf atau suku kata tersebut. Kemudian siswa dibagi menjadi kelompok kecil, dimana setiap kelompok mendapatkan satu set kartu huruf/suku kata. Selanjutnya guru menyebutkan kata, dan kelompok berlomba menyusun kata tersebut menggunakan kartu. Permainan kartu (menyusun Kata), dimana siswa membaca kata yang telah disusun di depan kelas atau di kelompoknya. (3) Tahap penutup, guru memberikan penguatan, melakukan tanya jawab untuk mengukur peningkatan kemampuan, dan memberikan refleksi bersama siswa. Penyesuaian dilakukan untuk memastikan media sesuai dengan karakteristik siswa kelas 2 SD yaitu dari desain kartu huruf yang dibuat berwarna cerah, menarik, dan berukuran cukup besar untuk dilihat dari jarak tertentu. Menurut Sadiman (2022) Flash cards merupakan suatu metode yang dapat membantu dalam upaya peningkatan belajar membaca siswa dengan cara memperlihatkan pada siswa tersebut kata dalam setiap kartu secara cepat (± 1 detik/ kata) [9]. Kemudian integrasi gambar, dimana kartu huruf dikombinasikan dengan gambar objek nyata untuk memudahkan siswa mengasosiasikan huruf dengan kata (kontekstual). Selanjutnya penyesuaian penambahan tingkat kesulitan, jika pada siklus awal hanya fokus pada huruf tunggal, pada siklus berikutnya penyesuaian dilakukan dengan menggunakan suku kata, kata utuh, bahkan kalimat pendek, terutama untuk kata yang mengandung "ng" atau "ny". Secara umum, respons siswa sangat positif karena kartu huruf mengubah pembelajaran yang monoton menjadi interaktif. Siswa menjadi lebih antusias, aktif, dan tidak mudah bosan dibandingkan metode ceramah/ papan tulis. Menurut (Asmawati et al., 2025) guru juga harus memahami perannya sebagai mentor dan motivator untuk mengoptimalkan proses pembelajaran melalui pembelajaran yang tepat, motivasi dan pembimbingan individual [10]. Siswa akan senang bermain kelompok dan berkompetisi menyusun kata, sehingga meningkatkan kerja sama (Partisipasi Aktif) serta siswa lebih percaya diri dalam melafalkan dan membaca karena media visual membantu ingatan mereka. Hambatan yang sering muncul ruang kelas cenderung menjadi ribut dan sulit dikendalikan saat permainan kelompok berlangsung (Manajemen Kelas), beberapa siswa masih kesulitan merangkai suku kata menjadi kata yang bermakna (Keterbatasan Pemahaman Fonik), jumlah kartu yang terbatas menyebabkan beberapa siswa tidak aktif maksimal jika tidak dikelola dalam kelompok kecil dan terdapat kesulitan siswa dalam membaca kata yang memiliki fonem kompleks seperti "ng" atau "ny" (Kata Kompleks). Cara mengatasi hambatan (1) Manajemen kelompok, guru membagi siswa ke dalam kelompok kecil dengan jumlah anggota yang seimbang dan memberikan aturan permainan yang jelas sebelum kartu dibagikan. (2) Bimbingan Individual, guru melakukan pendampingan intensif (bimbingan individual) bagi siswa yang masih lambat dalam mengenali huruf. (3) Optimalisasi media, menggunakan kartu huruf secara bergantian atau menyediakan lebih dari satu set kartu per kelompok untuk memastikan semua siswa terlibat. (3) Latihan ulang, melakukan siklus pembelajaran ulang (tindakan lanjutan) yang fokus pada suku kata atau kata-kata yang dirasa sulit (misal: "ng"/"ny") sampai siswa mencapai ketuntasan. Instrumen penilaian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini meliputi tes perbuatan/ Lisan, disini siswa diminta membaca kartu huruf (fonem, suku kata, atau kata) secara langsung di hadapan guru. Ini adalah instrumen utama untuk mengukur kemampuan membaca. Kemudian lembar Observasi/ Checklist, digunakan untuk mengamati aktivitas siswa (fokus, antusiasme, partisipasi) dan keterampilan guru dalam menerapkan media kartu huruf. Selanjutnya Dokumentasi, terdapat Foto atau rekaman video saat siswa menggunakan kartu huruf. Aspek yang diukur (Indikator Membaca Permulaan) meliputi keterampilan teknis membaca, yaitu Pengenalan huruf, siswa mampu menyebutkan simbol huruf abjad (a-z) secara acak. Kemudian pelafalan suku kata/ Kata terdapat ketepatan membunyikan huruf dan merangkainya menjadi suku kata atau kata bermakna (misal: b-u-k-u -> buku). Selanjutnya kelancaran membaca, ketika kecepatan dan kewajaran lafal siswa saat membaca kata dan pemahaman kata, kemampuan menghubungkan gambar pada kartu dengan tulisannya. Hasil tes lisan dibaca atau dinilai berdasarkan kriteria ketuntasan (KKM) yang ditetapkan ≥ 70. Skor Individual, dijumlahkan berdasarkan jumlah kartu yang dibaca dengan benar. Kemudian persentase ketuntasan klasikal, dengan cara jumlah siswa yang mencapai KKM dibagi total siswa dikali 100%. Selanjutnya kategori kualitas. Dimana hasil dikategorikan (Sangat Baik, Baik, Cukup, Kurang). Temuan singkat pelaksanaan (sebelum dan sesudah) terhadap penggunaan kartu huruf terbukti meningkatkan keterampilan membaca yaitu sebelum (Pre-test), siswa sering bingung membedakan huruf (b/d, p/q), membaca mengeja dengan lambat, dan kurang fokus karena media kurang menarik. Sedangkan sesudah (Post-test), siswa lebih antusias, berani tampil, dan lancar dalam merangkai huruf karena media kartu huruf memberikan visualisasi yang interaktif.
Tabel 1. Nilai Sebelum Tindakan (Pre-test) vs Setelah Tindakan Siklus I (Post-test 1)
Tabel ini menunjukkan kemampuan awal membaca permulaan siswa yang masih rendah sebelum menggunakan media kartu, serta peningkatan awal setelah diterapkan tindakan pada Siklus I.
Tabel 2: Nilai Sebelum Tindakan Siklus II (Pre-test 2) vs Setelah Tindakan Siklus II (Post-test 2)
Tabel ini menunjukkan hasil perbaikan dari Siklus I. Nilai Pre-test 2 diambil dari kondisi awal sebelum Siklus II dimulai, dan Post-test 2 menunjukkan hasil akhir di mana keterampilan membaca permulaan siswa kelas II telah mencapai target keberhasilan PTK.
Catatan Analisis untuk Laporan PTK: Sebelum Treatment (Pre-test 1): Kemampuan membaca siswa kelas II rata-rata masih di bawah KKM (63,75) dengan ketuntasan klasikal yang sangat rendah (25%). Kendala utama biasanya ada pada siswa yang masih mengeja bit demi bit kata dan artikulasi yang kurang jelas. Setelah Treatment (Siklus II): Setelah media kartu kata dioptimalkan fungsinya (misalnya menggunakan ukuran kartu yang lebih besar atau dibuat permainan kelompok), rata-rata kelas melonjak naik menjadi 85,38 dan ketuntasan klasikal berhasil menyentuh angka 100%.
Evaluasi refleksi singkat dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) mengenai peningkatan keterampilan membaca permulaan di kelas 2 SD menggunakan media kartu huruf, berdasarkan hasil pengamatan tindakan kelas, terdapat hal yang sudah efektif yaitu pada peningkatan motivasi dan partisipasi dimana penggunaan kartu huruf yang berwarna-warni berhasil menarik perhatian siswa dan membuat suasana belajar lebih menyenangkan (bermain sambil belajar). Siswa lebih cepat mengenali huruf abjad, fonem, dan merangkai suku kata sederhana dibandingkan hanya menggunakan buku paket. Kemudian partisipasi aktif (Game-Based), metode permainan seperti menyusun kartu menjadi kata di depan kelas efektif meningkatkan keberanian siswa yang sebelumnya malu-malu. Selanjutnya peningkatan nilai ratarata terdapat kenaikan signifikan pada hasil tes membaca, di mana mayoritas siswa tuntas dalam siklus tindakan. Sedangkan hal yang belum optimal fokus siswa pada kelompok besar terdapt kartu huruf cenderung berukuran kecil, sehingga sulit dilihat oleh siswa yang duduk di belakang, menyebabkan konsentrasi terpecah. Kemudian penguasaan suku kata kompleks, dimana siswa masih kesulitan membaca kata yang mengandung diftong atau konsonan ganda (seperti "ng", "ny", "nyong"). Selanjutnya manajemen waktu, untuk pembagian dan pengumpulan kembali kartu huruf memakan waktu yang cukup lama, sehingga mengurangi waktu efektif membaca dan ketuntasan individu masih terdapat beberapa siswa yang belum tuntas, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan fokus (kurang konsentrasi). Rencana perbaikan (tindak lanjut), jika implementasi serupa dilakukan kembali, rencana perbaikan yang akan diterapkan adalah (1) Modifikasi media, memperbesar ukuran kartu huruf atau menggunakan kartu huruf bergambar untuk mempermudah pemahaman kata dan pengenalan oleh siswa di baris belakang. Kemudian pendekatan individual/ kelompok kecil dilakukan bimbingan khusus (remedial) bagi siswa yang masih belum bisa merangkai huruf, agar perhatian guru lebih terarah. Sedangkan variasi permainan menerapkan metode permainan yang lebih sistematis (contoh Team Games Tournament), tidak hanya menyusun huruf, tapi juga kecepatan menyebutkan kata. Untuk penguatan fonetik difokuskan pada pengenalan bunyi huruf (metode fonetik) sebelum menggabungkan menjadi kata, untuk mengatasi kesulitan suku kata kompleks dan untuk manajemen kelas dipastikan pembagian kartu huruf dilakukan secara berkelompok dengan ketua kelompok yang bertanggung jawab, guna mengefektifkan waktu. Refleksi ini menunjukkan bahwa media kartu huruf efektif untuk membaca permulaan di kelas 2, namun memerlukan modifikasi ukuran dan manajemen yang lebih baik untuk hasil yang maksimal.
Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Implementasi Pembelajaran berjudul “Peningkatan Keterampilan Membaca Permulaan melalui Media Kartu pada Siswa Kelas II Sekolah Dasar” tepat pada waktunya. Penyusun Laporan Implementasi Pembelajaran ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Terutama penulis menyampaikan terima kasih Kepala Sekolah SDN 2 Batu Raja yang telah memberi dukungan dan ijin untuk dijadikan bahan penulis. Penulis menyadari bahwa Laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis menerima kritik dan saran yang membangun. Semoga Laporan ini bermanfaat bagi pembaca.
J. Juhaeni, A. Ifain, A. S. Kurniakova, A. Tahmidah, D. N. Arifah, S. F. Friatnawati, S. Safaruddin, and R. Nurhayati, “Strategi guru dalam mengatasi kesulitan membaca pada siswa Madrasah Ibtidaiyah,” J. Instructional Dev. Res., vol. 2, no. 3, pp. 126–134, 2022.
Y. A. Rohman, Rahman, and V. S. Damayanti, “Analisis kesulitan membaca permulaan pada siswa kelas satu di sekolah dasar,” J. Basicedu, vol. 6, no. 3, pp. 3736–3746, 2022.
A. K. Walidah and Sukartono, “Implementasi media kartu huruf dalam pembelajaran aksara Jawa kelas 3 sekolah dasar,” Didaktika: J. Kependidikan, vol. 13, no. 2, pp. 2179–2188, 2024.
A. W. Astuti, R. Drupadi, and U. Syafrudin, “Hubungan penggunaan media kartu huruf dengan kemampuan membaca permulaan anak usia 5–6 tahun,” KINDERGARTEN: J. Islamic Early Childhood Educ., vol. 4, no. 1, pp. 73–81, 2021.
A. Alhamid, N. K. Dewi, and N. S. Zuhro, “Penggunaan media kartu huruf dalam pembelajaran anak usia 5–6 tahun,” J. Kumara Cendekia, vol. 11, no. 4, p. 343, 2024.
W. Sukartiningsih, “Peningkatan kualitas pembelajaran membaca dan menulis permulaan di kelas 1 sekolah dasar melalui media kata bergambar,” Edustream: J. Pendidik. Dasar, vol. 5, no. 1, 2021.
L. Ruhaenah, “Pengaruh metode pembelajaran Jolly Phonics terhadap kemampuan baca-tulis permulaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris pada anak prasekolah,” J. Penelit. Humaniora, vol. 9, no. 2, pp. 192–206, 2021.
R. Susilana and C. Riyana, Media Pembelajaran: Hakikat, Pengembangan, Pemanfaatan, dan Penilaian. Bandung, Indonesia: CV Wacana Prima, 2022.
A. Sadiman, Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta, Indonesia: PT Raja Grafindo Persada, 2022.
Asmawati, M. Rudini, and M. K. U. BK, “Optimalisasi peran orang tua dan guru dalam mengatasi kesulitan membaca permulaan siswa kelas II,” Pendas: J. Ilm. Pendidik. Dasar, vol. 10, no. 2, 2025.
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2022.
S. Arikunto, Penelitian Tindakan Kelas: Edisi Revisi. Jakarta, Indonesia: Bumi Aksara, 2021.
Dalman, Keterampilan Membaca. Jakarta, Indonesia: Rajawali Pers, 2021.
R. E. Slavin, Cooperative Learning: Teori, Riset dan Praktik. Bandung, Indonesia: Nusa Media, 2022.
J. W. Creswell, Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating. London, U.K.: Pearson, 2021.