Login
Section Elementary Education Method

Illustrated Storybooks For Overcoming Reading Comprehension Difficulties In Primary Education

Buku Cerita Bergambar Untuk Mengatasi Kesulitan Membaca Pemahaman Pada Pendidikan Dasar
Vol. 21 No. 4 (2026): November:

Siti Maryam (1), Muhlasin\ Amrullah (2)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Reading comprehension serves as a foundational skill for acquiring broad knowledge and facilitating personal development. Specific Background Third-grade students at Way Perancang Elementary School encounter significant challenges with text analysis, often struggling to answer questions, summarize plots, and maintain focus due to rapid boredom with dense texts. Knowledge Gap Although conventional reading causes fatigue, there is a lack of interactive, visual-based approaches utilized to simplify abstract information and maintain student engagement. Aims This study intends to optimize narrative understanding and foster a highly interactive learning atmosphere using image-based story media. Results Implemented through a cyclical Classroom Action Research framework, the intervention raised the average student score from 62.08 to 81.25. Furthermore, learner mastery reached 100 percent, accompanied by heightened enthusiasm and active participation in arranging and retelling narratives. Novelty Integrating visual media with direct instructional scaffolding acts as a cognitive bridge, uniquely transforming abstract textual data into easily processable information for young learners. Implications The deployment of graphic-based narratives offers an engaging pedagogical alternative that prevents cognitive overload and successfully optimizes basic literacy within elementary settings.


Highlights:




  • The implementation of sequential visual media increased the average test score from 62.08 to 81.25 across evaluation cycles.




  • Interactive discussions based on character graphics successfully eliminated learner boredom and restored focus during text analysis.




  • A 100 percent mastery rate was attained as learners successfully summarized narratives and arranged disordered plots.




Keywords: Reading Comprehension, Illustrated Story Media, Elementary Students, Action Research, Cognitive Bridge

I. Pendahuluan

Berdasarkan observasi mengajar peserta didik yang terdapat di kelas III Sekolah Dasar Negeri Way Perancang, kemampuan membaca pemahaman siswa masih tergolong rendah [14]. Menurut teori (Halimah, 2015:201) [1] Kemampuan membaca tidak hanya penting dalam pembelajaran bahasa, tetapi juga penting dalam mempelajarai ilmu dan berbagai macam pengetahuan serta perkembangan diri pribadi seorang melalui penambahan wawasan. Siswa kesulitan menjawab pertanyaan terkait isi teks bacaan singkat dan kesulitan menyimpulkan pesan atau alur cerita dari teks yang dibaca. Terkadang siswa cepat merasa bosan dan lelah saat dihadapkan pada teks bacaan yang padat. Menurut teori (Tarigan, 2018: 7) [2] Membaca secara umum adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. Tujuan utama pada Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman melalui Media Cerita Bergambar (1) Membantu siswa kelas III menangkap, memahami, dan menganalisis isi cerita dengan lebih mudah melalui bantuan visual [7]. Menurut (Abidin, 2018:60) [3] Seseorang yang yang melakukan kegiatan membaca pemahaman harus menguasai bahasa atau tulisan yang digunakan dalam bacaan yang dibacanya dan mampu menangkap informasi atau isi bacaan tersebut (2) Menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif dan menyenangkan agar siswa lebih antusias terhadap aktivitas literasi (3) Memastikan siswa mampu mencapai indikator membaca pemahaman sesuai dengan kurikulum yang berlaku di tingkat SD [5].

II. Metode

Model Pembelajaran dilakukan Kooperatif [6] atau Direct Instruction (Pembelajaran Langsung) [10] yang berpusat pada siswa. Model ini lebih cenderung pendekatan langsung mengamati, menanya, mencoba, menalar, mengomunikasikan sehingga siswa mampu menyebutkan tokoh, menentukan urutan peristiwa, dan menceritakan kembali isi cerita menggunakan bahasa sendiri. Urutan Aktivitas dan Pembagian Waktu pembelajaran yang diawali kegiatan pendahuluan dilakukan selama 15 Menit, Guru memberikan salam, mengabsen, dan mengajak siswa berdoa. Kemudian dilanjutkan kegiatan Apersepsi dimana Guru memberikan pertanyaan pemantik (misal "Siapa yang suka mendengarkan dongeng sebelum tidur?"). Selanjutnya penyampaian tujuan dimana Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan manfaat memahami isi bacaan. Kegiatan Inti dilakukan selama 45 Menit yang terdiri dari mengamati (Cerita bergambar) dimana guru membagikan media cerita bergambar dan meminta siswa mengamati gambar yang ada di setiap halaman. Kemudian dilanjutkan dengan guru membacakan teks dengan intonasi yang baik, siswa menyimak (atau membaca nyaring bersama-sama). Selanjutnya Guru memberikan pertanyaan panduan terkait cerita, misalnya: "Apa yang dilakukan tokoh utama pada gambar ini?" dan "Menurut kalian, apa yang terjadi selanjutnya?". Setelah memberi pertanyaan Guru membagikan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang terdapat gambar terpotong dan Siswa diminta mengurutkan potongan gambar seri sesuai alur cerita dan menuliskan kembali ringkasannya. Kegiatan Penutup dilakukan selama 10 Menit, Guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan inti cerita yang telah dibahas. Selanjutnya diadakan umpan balik dan guru memberikan apresiasi atas partisipasi siswa. Kemudian dilanjutkan kegiatan tindak lanjut dimana guru memberikan pesan moral dari cerita dan menutup pembelajaran dengan doa bersama. Media dan Bahan yang Digunakan yaitu Buku fisik atau cetak bergambar (sebaiknya memuat tema cerita rakyat atau fabel yang sesuai dengan usia kelas III). Kemudian gambar seri yang terdapat Potongan-potongan adegan dari cerita untuk kegiatan mengurutkan alur. Lembaran berisi pertanyaan uraian untuk menguji kemampuan membaca pemahaman siswa. Papan Tulis & Alat Tulis, untuk menuliskan kata-kata kunci. Indikator Keberhasilan dikatakan berhasil apabila memenuhi indikator ketercapaian berikut (1) Siswa terlihat aktif, antusias, dan fokus mengamati media cerita bergambar selama proses pembelajaran. (2) Keberhasilan Kognitif (Pemahaman) Minimal 75 % dari jumlah siswa kelas III mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada tes evaluasi membaca pemahaman (mampu menjawab pertanyaan literal, interpretatif, dan menyimpulkan isi cerita). (3) Keterampilan Psikomotorik, siswa mampu mengurutkan gambar acak sesuai alur cerita dan menceritakan kembali isi cerita secara runtut. Semua bentuk publikasi data yang melibatkan siswa Kelas III SD Way Perancang wajib disamarkan atau dianonimkan untuk melindungi privasi dan dampak psikologis anak [15]. Seperti Nama Siswa: Ganti nama asli siswa menggunakan kode inisial atau nomor acak (contoh Siswa A, Siswa B, atau S-01, S-02). Jika melampirkan transkrip wawancara atau kutipan lembar kerja siswa, gunakan kode anonim sebagai pengganti nama. Untuk Dokumentasi Foto pastikan wajah siswa disamarkan (blur), ditutup dengan stiker penyensoran, atau mengambil sudut pengambilan gambar yang hanya fokus pada aktivitas pembelajaran tanpa memperlihatkan wajah secara jelas. Selanjutnya Informasi Geografis, Cukup cantumkan nama sekolah "SD Way Perancang" dan wilayah yang relevan tanpa menyertakan alamat detail tempat tinggal siswa. Penggunaan data kelas secara bertanggung jawab, penulis memiliki kewajiban moral untuk mengelola seluruh data kelas (skor membaca, hasil observasi, dan portofolio) secara profesional. Seperti pada transparansi tujuan, data kelas yang dihimpun hanya digunakan untuk kepentingan analisis peningkatan kemampuan membaca pemahaman dan tidak akan disalahgunakan untuk tujuan lain. Kemudian data mentah seperti lembar jawaban asli dan daftar nilai siswa harus disimpan secara aman oleh penulis. Data tidak boleh dipublikasikan atau dibagikan kepada pihak yang tidak berkepentingan tanpa izin. Penulis dilarang memanipulasi, memalsukan, atau merekayasa skor siswa dan dokumentasi kelas demi mencapai hasil penelitian yang diinginkan. Persetujuan Orang Tua (Informed Consent), Sebelum melakukan pengambilan data (terutama dokumentasi foto, perekaman audio/ video), penulis harus memastikan bahwa pihak sekolah (Kepala Sekolah dan Wali Kelas III) serta orang tua siswa telah mengetahui dan memberikan izin (persetujuan lisan maupun tertulis) atas penelitian tersebut.

III. Hasil dan Pembahasan

Rencana implementasi media cerita bergambar dilaksanakan melalui siklus pembelajaran aktif yang mencakup tahap awal, inti, dan penutup [8], [9]. Kegiatan ini berfokus pada visualisasi cerita untuk membantu siswa kelas III memahami alur, tokoh, dan pesan moral, sehingga kemampuan membaca pemahaman meningkat secara signifikan. Menurut Assosiasi Pendidikan Nasional (National Education Association/ NEA) yang dimaksud dengan media pembelajaran adalah “bentuk-bentuk komunikasi baik cetak maupun audio visual serta peralatannya yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar dan dibaca” (Arsyad, 2018:5) [4]. Berikut uraian lengkap mengenai jalannya pelaksanaan, penyesuaian, respons, hambatan, serta solusinya. Jalannya kegiatan (Siklus pembelajaran) dimulai pendahuluan dimana guru membuka kelas dengan apersepsi dan menyampaikan tujuan pembelajaran. Siswa diberikan pemantik berupa pertanyaan seputar gambar sampul buku cerita. Kemudian pada kegiatan inti guru membagikan media cerita bergambar dan meminta membaca dalam hati, lalu guru membacakan cerita dengan intonasi menarik. Siswa kemudian menjawab pertanyaan analisis dan menceritakan kembali isi cerita secara berkelompok. Kemudian pada kegiatan penutup guru bersama siswa menyimpulkan isi cerita dan memberikan lembar evaluasi untuk mengukur tingkat pemahaman membaca. Penyesuaian yang dilakukan dalam pembelajaran seperti penyesuaian media yang terdapat di awal siklus, teks cerita disesuaikan agar tidak terlalu panjang, disisipi kosakata yang mudah dipahami anak. Gambar juga dibuat lebih berwarna dan kontras agar menarik perhatian siswa secara visual. Sedangkan penyesuaian waktu membaca dibagi menjadi segmen lebih kecil agar siswa tidak mudah bosan dan memiliki waktu cukup untuk diskusi kelompok. Respons siswa terlihat sangat antusias dan lebih fokus memperhatikan buku. Gambar yang menarik membuat suasana belajar menjadi lebih hidup dibandingkan membaca teks biasa. Selanjutnya siswa menjadi lebih aktif bertanya mengenai alur cerita dan berani menceritakan kembali isi bacaan di depan kelas menggunakan bahasa mereka sendiri. Terdapat hambatan yang muncul seperti kapasitas membaca belum merata karena masih ada beberapa siswa yang kesulitan mengeja kata dengan lancar, sehingga mereka tertinggal dalam menangkap inti cerita. Kondisi Gaduh saat berkelompok, saat proses diskusi kelompok berlangsung, kelas menjadi terlalu bising dan fokus siswa terpecah. Untuk mengatasi hambatan diadakan suatu bimbingan personal (Scaffolding) [11] dimana guru akan memberikan bimbingan membaca secara khusus di luar jam istirahat atau memberikan tugas membaca tambahan di rumah bagi siswa yang masih tertinggal. Selanjutnya pengelolaan kelas yang tegas diterapkan aturan tata tertib diskusi yang jelas, memberikan ice breaking untuk mengembalikan fokus siswa, dan lebih aktif berkeliling membimbing tiap kelompok agar diskusi tetap kondusif. Pelaksanaan pembelajaran dengan media cerita bergambar pada siswa Kelas III SD menggunakan tes tertulis (soal pemahaman) dan lembar observasi instrumen penilaian untuk mengukur daya tangkap, pemahaman ide pokok, dan keaktifan siswa [13]. Hasilnya dievaluasi melalui peningkatan skor rata-rata ketuntasan belajar secara klasikal. Instrumen penilaian yang digunakan dengan diadakan tes objektif dan uraian yang berupa lembar soal yang diberikan pada setiap akhir siklus pembelajaran untuk menguji sejauh mana siswa memahami cerita yang telah dibaca. Kemudian lembar observasi aktivitas siswa digunakan untuk menilai sikap, minat, dan keterlibatan siswa secara psikomotorik selama proses membaca dengan media cerita bergambar. Penilain yang diukur yaitu penilaian secara spesifik berfokus pada kemampuan membaca pemahaman, yang dijabarkan dalam beberapa indikator berikut, (1) Kemampuan siswa memahami informasi tersurat maupun tersirat dari cerita. (2) Kemampuan mengidentifikasi gagasan utama pada setiap paragraf atau bagian alur cerita. (3) Ketepatan menjawab pertanyaan (Apa, Siapa, Di mana, Kapan, Mengapa, dan Bagaimana) terkait isi cerita. (4) Kemampuan siswa menyusun ulang dan menyampaikan inti cerita dengan bahasa mereka sendiri. Hasil membaca dinilai berdasarkan skor perolehan siswa. Skor ini dihitung menggunakan rumus persentase ketuntasan individu dan klasikal:

Kategori penilaian, skor dibaca berdasarkan pedoman kriteria ketuntasan minimal (KKM). Jika siswa mencapai nilai ≥ KKM yang ditetapkan sekolah, maka siswa tersebut dinyatakan "Tuntas". Selanjutnya keaktifan siswa dibaca melalui rubrik pengamatan misalnya Sangat Baik, Baik, Cukup, Kurang untuk melihat sejauh mana media cerita bergambar membantu memotivasi belajar mereka. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan cerita bergambar terbukti mengatasi kejenuhan dan kesulitan siswa dalam memahami teks panjang. Berikut adalah perbandingan sederhana gambaran hasil antara sebelum tindakan (kondisi awal) dan sesudah tindakan:

Tabel 1. Hasil Belajar Membaca Pemahaman Siswa Kelas III

Tabel 2. Rekapitulasi Penilaian

Penggunaan ilustrasi dan visual dalam cerita bergambar berfungsi sebagai jembatan kognitif yang sangat efektif bagi siswa kelas III sekolah dasar [12]. Hal ini membuat informasi abstrak dalam teks lebih mudah diproses dan diingat.

IV. Kesimpulan

Refleksi dan rencana perbaikan ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas III menggunakan media cerita bergambar di SD Way Perancang. Evaluasi ini mencakup identifikasi aspek yang sudah berjalan efektif, area yang masih belum optimal, serta langkah perbaikan untuk implementasi di masa mendatang. Hal yang sudah efektif seperti antusiasme dan keterlibatan siswa, penggunaan media cerita bergambar sangat disukai siswa. Visual yang menarik mampu memusatkan perhatian mereka dan meningkatkan motivasi awal untuk membaca. Kemudian peningkatan pemahaman konteks, dimana siswa lebih mudah memahami alur cerita dan karakter karena terbantu oleh adanya ilustrasi visual yang mendukung teks. Selanjutnya pada kondisi kelas, proses pembelajaran berjalan lebih hidup dan interaktif, mengurangi kebosanan siswa dibandingkan dengan metode membaca teks konvensional (tanpa gambar). Hal yang belum optimal terutama pengalokasian waktu untuk membaca, tanya jawab, dan pengerjaan lembar kerja siswa (LKS) sering kali tidak seimbang, sehingga beberapa siswa tidak menyelesaikan tugas tepat waktu. Kemudian masih terdapat siswa yang pasif atau hanya fokus melihat gambar tanpa membaca atau memahami teks secara mendalam. Selanjutnya instrumen evaluasi atau pertanyaan pemahaman yang diberikan kadang terlalu sulit bagi siswa yang kemampuan dasarnya masih rendah. Jika implementasi serupa dilakukan kembali, langkah perbaikan yang akan diterapkan meliputi (1) Memberikan bimbingan bertahap. Sebelum membaca mandiri, guru dapat melakukan kegiatan membaca bersama (shared reading) untuk memancing pemahaman awal siswa. (2) Menggunakan cerita bergambar dengan tingkat kesulitan teks yang bervariasi (berjenjang) agar sesuai dengan tingkat kemampuan membaca masing-masing siswa. (3) Membuat jadwal yang lebih terperinci dengan batasan waktu yang jelas untuk setiap tahapan aktivitas (membaca, diskusi kelompok, dan presentasi) serta menyiapkan ice breaking agar siswa tetap fokus. (4) Memberikan pertanyaan pemandu sebelum, saat, dan setelah membaca cerita untuk menjaga fokus siswa. Misalnya, meminta siswa menebak kelanjutan cerita berdasarkan gambar. (5) Membagi siswa dalam kelompok kecil dan memberikan peran tertentu (misalnya: pembaca, penemu kata sulit, atau penjelajah gambar) untuk memastikan semua siswa terlibat aktif dalam kelompok.

Ucapan Terima Kasih

Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Implementasi Pembelajaran berjudul “Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman melalui Media Cerita Bergambar pada Siswa Kelas III SD Way

Perancang” tepat pada waktunya. Penyusun Laporan Implementasi Pembelajaran ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Terutama penulis menyampaikan terima kasih Kepala Sekolah SDN Way Perancang yang telah memberi dukungan dan ijin untuk dijadikan bahan penulis. Penulis menyadari bahwa Laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis menerima kritik dan saran yang membangun. Semoga Laporan ini bermanfaat bagi pembaca.

References

A. Halimah, “Pengaruh metode SQ3R terhadap kemampuan membaca pemahaman,” Auladuna, vol. 8, no. 2, pp. 201–210, 2021.

H. G. Tarigan, Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung, Indonesia: Angkasa Bandung, 2022.

Y. Abidin, Pembelajaran Membaca Berbasis Pendidikan Karakter. Bandung, Indonesia: PT Refika Aditama, 2021.

A. Arsyad, Media Pembelajaran. Jakarta, Indonesia: PT Raja Grafindo Persada, 2023.

A. Nana, “Pengembangan media cerita bergambar untuk meningkatkan membaca pemahaman siswa kelas III pada mata pembelajaran Bahasa Indonesia di SDN 23 Menyumbung,” Ph.D. dissertation, STKIP Persada Khatulistiwa, 2025.

R. E. Slavin, Cooperative Learning: Teori, Riset dan Praktik. Bandung, Indonesia: Nusa Media, 2022.

B. Nurgiyantoro, Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta, Indonesia: Gadjah Mada University Press, 2021.

S. Arikunto, Penelitian Tindakan Kelas: Edisi Revisi. Jakarta, Indonesia: Bumi Aksara, 2021.

S. Kemmis and R. McTaggart, The Action Research Planner. Singapore: Springer, 2023.

M. Huda, Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar, 2022.

A. Kozulin, Vygotsky's Educational Theory in Cultural Context. Cambridge, U.K.: Cambridge University Press, 2021.

R. E. Mayer, Multimedia Learning. Cambridge, U.K.: Cambridge University Press, 2024.

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2022.

Dalman, Keterampilan Membaca. Jakarta, Indonesia: Rajawali Pers, 2021.

J. W. Creswell, Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating. London, U.K.: Pearson, 2021.