Login
Section Elementary Education Method

Digital Graphic Platforms Advance Cognitive Mastery In Elementary Solar System Education

Platform Grafis Digital Memajukan Penguasaan Kognitif Pada Pendidikan Tata Surya Dasar
Vol. 21 No. 2 (2026): May:

Shintia Dwi Puspita Sari (1), Niko Fediyanto (2)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: The twenty-first-century educational landscape necessitates integrating dynamic technological tools to support student-centered instruction within modern classrooms. Specific Background: According to Piagetian developmental theory, fifth-grade learners exist in the concrete operational stage, requiring strong visual stimulation to successfully comprehend complex scientific subjects like the solar system. Knowledge Gap: Although digital design platforms are widely recognized in higher education, empirical quantitative studies investigating their direct pedagogical utility for advancing cognitive development stages in elementary science classrooms remain severely limited. Aims: This quasi-experimental research investigates the application of Canva-based instructional materials on the cognitive capabilities of fifth-grade students during solar system lessons at SDN Candi 1. Results: Utilizing a one-group pretest-posttest design involving 92 participants, statistical analysis revealed a significant mean score progression from 67.9 to 82.4, alongside a dramatic shift in high-category cognitive mastery from 15 percent to 67 percent. Novelty: This study distinctly maps the integration of graphic design applications to concrete operational cognitive indicators within Bloom's taxonomy, transforming conventional elementary science instruction into a highly interactive visual experience. Implications: Deploying this digital visual methodology provides primary educators with an engaging pedagogical framework to modernize instruction, stimulate academic curiosity, and fulfill the student-centered mandates of the Merdeka Curriculum.


Highlights:




  • Graphic design platforms successfully translate abstract astronomical concepts into concrete interactive learning experiences.




  • Digital instructional tools significantly raise student assessment scores across multiple Bloom taxonomy indicators.




  • Active learner participation and conceptual comprehension rise notably following the implementation of modern classroom technologies.




Keywords: Digital Pedagogy, Graphic Design Platforms, Solar System Instruction, Piagetian Development, Bloom Taxonomy

I. Pendahuluan

Strategi pembelajaran merupakan kunci bagi guru untuk mencapai tujuan pendidikan, guru harus menggunakan strategi pembelajaran, yang mencakup tidak hanya metode mengajar tetapi juga pemilihan media, pengelolaan kelas, evaluasi, dan adaptasi terhadap karakteristik siswa. Dalam pendidikan inklusif, strategi yang tepat sangat penting untuk membantu siswa berkebutuhan khusus memahami materi, meningkatkan motivasi mereka, dan meningkatkan kemampuan sosial mereka sesuai kemampuan masing-masing.[1]. Karena setiap siswa memiliki kemampuan belajar yang berbeda, strategi guru untuk menangani siswa disabilitas intelektual sangat penting dalam pendidikan dasar. Agar siswa lebih memahami pelajaran, guru harus menggunakan pendekatan individual, media konkret, pengulangan materi, dan pendekatan komunikasi yang sederhana. Guru juga harus memiliki kemampuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi siswa disabilitas intelektual [2].

Disabilitas merupakan kondisi keterbatasan fungsi atau kemampuan individu yang dapat memengaruhi partisipasi dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 (SP2020) yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2022, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar17,96 juta jiwa [3]. Dalam konteks hukum, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 menjelaskan bahwa penyandang disabilitas adalah individu yang memiliki keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan sensorik dalam jangka panjang, sehingga mengalami hambatan dalam berinteraksi dengan lingkungan secara setara [4]. Siswa yang memiliki hambatan intelektual mengalami keterbatasan dalam kemampuan berpikir, yang berdampak pada cara mereka belajar. Siswa tersebut cenderung belajar dengan lebih lambat dan mengalami kesulitan dalam memahami tugas-tugas yang rumit dan abstrak. Selain itu, siswa yang memiliki hambatan intelektual sering kali juga mengalami kesulitan dalam perilaku adaptif termasuk kemampuan dalam hal konsep, interaksi sosial, dan keterampilan praktis yang seharusnya sesuai dengan usia mereka untuk menjalani kehidupan sehari-hari [5].

Disabilitas intelektual merupakan kondisi yang ditandai dengan adanya keterbatasan dalam fungsi intelektual dan perilaku adaptif yang memengaruhi kemampuan individu dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Kondisi ini umumnya ditandai dengan kemampuan berpikir, memahami, dan memecahkan masalah yang berada di bawah rata-rata. Dalam pengukurannya, tes inteligensi menghasilkan skor Intelligence Quotient (IQ) dengan rata-rata skor normal sebesar 100, sedangkan individu dengan skor IQ sekitar 70–75 ke bawah berpotensi mengalami keterbatasan fungsi intelektual. Selain itu, disabilitas intelektual juga diklasifikasikan berdasarkan tingkat keparahannya, yaitu ringan (IQ 50–55 sampai 70–75), sedang (IQ 35–40 sampai 50–55), berat (IQ 20–25 sampai 35–40), dan sangat berat (IQ di bawah 20–25). Siswa dengan disabilitas intelektual umumnya mengalami kesulitan dalam memahami konsep abstrak, mengingat informasi, berkomunikasi, serta membutuhkan dukungan dan pendampingan khusus dalam proses pembelajaran agar dapat mengikuti kegiatan akademik secara optimal [5].

Meskipun siswa dengan disabilitas intelektual memiliki karakteristik belajar yang beragam, mereka umumnya belajar dengan lambat, seringkali gagal memperhatikan fitur-fitur relevan dari apa yang diajarkan, dan tidak menunjukkan keterampilan yang dipelajari secara spontan. Siswa-siswa ini juga mengalami kesulitan mempelajari keterampilan kompleks dan konsep abstrak, kesulitan membuat generalisasi, dan secara keseluruhan belajar lebih sedikit daripada siswa lain. Banyak siswa dengan disabilitas intelektual mengalami kesulitan dengan daya ingat, baik mengingat secara salah atau tidak mengingat secara otomatis, dan kesulitan dalam berkonsentrasi pada tugas-tugas belajar [5]. Indikator siswa disabilitas dapat dilihat dari beberapa karakteristik, seperti lambat memahami instruksi, membutuhkan waktu lebih lama dalam menyelesaikan tugas, rendahnya daya ingat, kesulitan memahami konsep abstrak, mudah kehilangan fokus, serta memerlukan pengulangan materi secara terus-menerus. Selain itu, siswa disabilitas intelektual juga cenderung pasif dalam kegiatan pembelajaran dan membutuhkan pendampingan lebih intensif dibandingkan siswa lainnya [6].

Siswa disabilitas intelektual memerlukan pendekatan pembelajaran yang unik karena mengalami keterbatasan yang jelas dalam aspek intelektual serta perilaku adaptif, baik yang bersifat konseptual, sosial, maupun praktis, yang sudah muncul sebelum mereka menginjak usia 18 tahun. Kondisi ini menghambat proses belajar, pemahaman instruksi, komunikasi, pemecahan masalah, dan adaptasi lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan mereka agar dapat berkembang secara optimal [7]. Secara umum, orang dengan disabilitas intelektual menghadapi tantangan komunikasi yang cukup besar, terutama ketika berusaha memahami materi pembelajaran, mengekspresikan pencapaian belajar, dan mengungkapkan kebutuhan pribadi. Tantangan ini berkaitan dengan keterbatasan dalam kemampuan bahasa yang bersifat ekspresif, meliputi berbicara dan menulis, serta kemampuan bahasa reseptif yang meliputi mendengarkan dan membaca. Keterbatasan pada kedua aspek bahasa ini mempengaruhi seberapa efektif komunikasi dan interaksi individu, baik di lingkungan pendidikan maupun dalam kehidupan sosial sehari-hari [5]. Guru diharuskan untuk memiliki kemampuan dalam menggunakan media konkret, menerapkan berbagai cara pembelajaran, berkomunikasi secara efisien, memberikan pengulangan materi, dan memberikan perhatian ekstra kepada siswa. Selain itu, kerjasama yang solid antara guru, orang tua, dan institusi pendidikan menjadi elemen penting dalam mendukung kemajuan siswa dengan disabilitas intelektual. Dalam lingkup pendidikan inklusif, guru perlu menerapkan pembelajaran yang disesuaikan dan menggunakan media visual untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Penerapan pendekatan ini dilakukan melalui penyesuaian pada bahan ajar, teknik pembelajaran, dan pencapaian hasil belajar siswa [6].

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti di kelas V SD, terungkap bahwa para guru masih mengalami berbagai tantangan saat mengelola siswa dengan disabilitas intelektual selama kegiatan belajar mengajar. Siswa cenderung mengalami kesulitan memahami materi abstrak, lambat dalam menerima instruksi, mudah kehilangan fokus, serta membutuhkan pendampingan secara berulang. Dalam beberapa situasi, guru harus memberikan penjelasan secara individual agar siswa mampu mengikuti pembelajaran bersama teman-temannya. Hasil observasi penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Susan dkk. menjelaskan bahwa guru masih mengalami berbagai kendala dalam menghadapi siswa disabilitas intelektual di kelas inklusif, seperti kesulitan siswa dalam memahami materi pembelajaran, lambat menerima instruksi, mudah kehilangan fokus, serta membutuhkan pendampingan dan pengulangan materi secara terus-menerus. Guru juga harus memberikan perhatian dan penjelasan secara individual agar siswa mampu mengikuti proses pembelajaran bersama teman-temannya [8]. Penggunaan media dan evaluasi pembelajaran juga menjadi bagian penting dalam membantu siswa disabilitas intelektual. Nurfadhillah dkk. menyatakan bahwa siswa lamban belajar mengalami kesulitan dalam memahami materi, menyelesaikan tugas, dan mengikuti pembelajaran seperti siswa reguler, sehingga guru perlu memberikan pendampingan yang lebih intensif [9]. Penyesuaian instrumen belajar seperti LKPD, soal sederhana, dan aktivitas berbasis visual juga diperlukan agar siswa lamban belajar tetap dapat mengikuti proses evaluasi sesuai kemampuannya [10].

Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa guru menggunakan beberapa strategi seperti pendekatan individual, pengulangan materi, penggunaan media visual, pemberian motivasi, serta kerja sama dengan orang tua untuk membantu siswa disabilitas intelektual mengikuti pembelajaran. Strategi tersebut dilakukan agar siswa lebih mudah memahami materi dan mampu beradaptasi di lingkungan kelas. Hasil wawancara penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh M. Burhanudin dkk. menjelaskan bahwa guru menggunakan berbagai strategi pembelajaran untuk membantu siswa disabilitas intelektual, seperti pendekatan individual, pengulangan materi, penggunaan media visual, pemberian motivasi belajar, serta menjalin kerja sama dengan orang tua siswa. Strategi tersebut dilakukan agar siswa lebih mudah memahami materi dan mampu mengikuti pembelajaran secara optimal [11]. Tantangan yang kerap dihadapi guru di kelas reguler adalah membantu siswa disabilitas intelektual agar tetap dapat mengikuti pembelajaran bersama teman-temannya. Guru membutuhkan waktu yang lebih panjang, pendekatan personal, serta pendampingan yang konsisten agar siswa dapat memahami materi pelajaran secara bertahap [12]. Siswa disabilitas intelektual juga cenderung bergantung pada bantuan guru atau teman sebangku, menunggu arahan, atau meniru jawaban teman karena belum percaya diri untuk menyelesaikan tugas secara mandiri [13]. Kondisi tersebut menuntut guru untuk menerapkan strategi pembelajaran yang fleksibel dan adaptif, termasuk menyesuaikan tingkat capaian, bentuk tugas, dan penilaian berdasarkan kemampuan siswa [14].

Berdasarkan penerimaan dalam menangkap materi pembalajaran siswa disabilitas intelektual dapat diberikan materi dalam kurikulum sekolah reguler namun sudah dikurangi atau diturunkan tingkat kesulitannya seperlunya, atau bahkan dihilangkan bagian. Maka, dalam menunjang hal tersebut terlebih dahulu untuk memilih strategi pembelajaran yang tepat untuk siswa disabilitas intelektual, seorang guru perlu mempertimbangkan beberapa aspek. Sesuai dengan pendapat Devi dkk, bahwa pada umumnya, pemilihan strategi pembelajaran didasarkan pada: 1) rumusan tujuan pembelajaran; 2) analisis mengenai kebutuhan dan karakteristik siswa yang diperoleh; dan 3) macam-macam materi pembelajaran. Selanjutnya, ketiga komponen tersebut disesuaikan dengan media dan sumber pembelajaran yang tersedia dan dapat digunakan selama proses pembelajaran. Pendapat tersebut senada dengan penelitian yang dilakukan oleh devi,dkk, pertimbangan pemilihan strategi pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien adalah sebagai berikut: 1) kesesuaian dengan tujuan instruksional yang akan dicapai; 2) kesesuaian dengan bahan bidang studi yang terdiri dari aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai; 3) strategi pembelajaran memuat beberapa metode pembelajaran yang relevan dengan tujuan dan materi pelajaran; 4) kesesuaian dengan kemampuan profesional guru; 5) sesuai dengan alokasi waktu yang tersedia; 6) tersedianya unsur penunjang, seperti media dan alat peraga; 7) suasana lingkungan kelas dan lembaga pendidikan; dan 8) jenis-jenis kegiatan yang serasi dengan kebutuhan dan minat siswa yang berkaitan dengan motivasi belajar siswa [15].

Faktor penyebab siswa disabilitas intelektual dapat dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi kondisi psikologis dan kemampuan intelektual di bawah rata-rata, serta rendahnya daya ingat dan konsentrasi siswa [16]. Sementara itu, faktor eksternal dapat berupa kondisi lingkungan, ekonomi keluarga, kurangnnya stimulasi belajar di rumah, lingkungan belajar yang kurang mendukung serta minimnya pendampingaan belajar dari orang tua [17]. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi kemampuan siswa dalam memahami dan menangkap materi pembelajaran di sekolah. Guru mempunyai peran penting dalam menerapkan strategi pembelajaran bagi siswa disabilitas intelektual melalui pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhaan dan karakteristik siswa. Strategi pembelajaran diperlukan agar proses belajar lebih terarah dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dalam pembelajaran siswa lamban belajar, Pendidik dapat menggunakan pengulangan materi, media visual, serta pendampingan secara individual agar siswa lebih mudah untuk memahami pembelajaran [18].

Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Nostalgianti dkk. yang membahas strategi pembelajaran bagi siswa disabilitas intelektual dalam konteks pendidikan inklusif di sekolah dasar, bahwa penggunaan pendekatan individual, media visual, dan pengulangan materi dapat membantu siswa disabilitas intelektual memahami pembelajaran dengan lebih baik [19]. Sedangkan, penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Resa Yuli Wegania dan Wiwik mengungkapkan bahwa para pendidik menerapkan metode pemodelan, pembiasaan, dan pemberian penghargaan untuk membentuk perilaku sosial siswa disabilitas intelektual. Pendekatan ini dilakukan secara individual melalui aktivitas sehari-hari yang relevan agar siswa lebih mudah memahami perilaku sosial yang positif. Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa perhatian guru serta suasana belajar yang kondusif merupakan faktor krusial bagi keberhasilan pembelajaran siswa disabilitas intelektual [20]. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Aldila dan Nova, siswa lamban belajar menunjukkan ciri-ciri unik yang berdampak signifikan terhadap cara mereka belajar, seperti adanya suatu kesulitan dalam mencerna informasi dengan cepat, cenderung mudah terdiskrasi. Peran guru sangat krusial dalam memberikan bimbingan, namun masih terbatas penyesuaian spontan, karena belum dilakukannya pelatihan atau asesemen profesiaonal terhadap pembelajaran bagi anak inklusi di sekolah reguler. Selain itu, keterlibatan orang tua juga masih terbatas, baik dalam hal pemahaman maupun pengawasan aktivitas belajar anak. Akan tetapi, masih minimnya penelitian yang secara khusus mengkaji bagaimana sekolah reguler memiliki siswa disabilitas intelektual dalam kelasnya, sehingga menjadi tantangan tersendiri dan peneliti ingin mengangkat tantangan tersebut dan memperlihatkan realitas pendidikan di masyarakat [21].

Selain itu, penelitian oleh Watini dkk. menunjukkan bahwa penggunaan media audio visual dalam pembelajaran matematika bagi siswa disabilitas intelektual dapat membantu mereka memahami konsep pembelajaran dengan lebih mudah. Guru dapat memanfaatkan video dan media visual sebagai strategi untuk meningkatkan perhatian, motivasi belajar, dan pemahaman siswa selama proses pembelajaran [22]. Namun, berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi pada kelas 5 SD swasta di kabupaten sidoarjo, strategi pembelajaran yang diterapkan guru masih terbatas pada pendekatan individual sederhana, pengulangan materi, dan penggunaan gambar atau benda konkret yang tersedia di kelas. Sekolah juga belum memiliki Program Pembelajaran Individual (PPI) secara tertulis maupun media pembelajaran khusus yang dirancang secara sistematis bagi siswa disabilitas intelektual. Akan tetapi, penelitian yang secara khusus mengkaji strategi guru dalam menghadapi siswa disabilitas intelektual kelas 5 sekolah dasar berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi secara langsung masih terbatas.

Kebaruan dalam penelitian ini terletak pada fokus penelitian yang secara spesifik membahas strategi guru dalam menghadapi siswa disabilitas intelektual kelas 5 sekolah dasar melalui pendekatan kualitatif dengan data lapangan yang diperoleh secara langsung melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini tidak hanya membahas strategi pembelajaran yang digunakan guru, tetapi juga mengungkap kondisi nyata siswa, bentuk modifikasi pembelajaran, faktor penghambat, serta upaya guru dalam memberikan pendampingan secara individual selama proses pembelajaran berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik siswa disabilitas intelektual kelas 5 sekolah dasar, mendeskripsikan strategi guru dalam menghadapi siswa disabilitas intelektual, serta mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat yang dialami guru selama proses pembelajaran berlangsung. Tujuan penelitian tersebut relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kusuma yang menekankan pentingnya strategi pembelajaran adaptif bagi siswa disabilitas intelektual [6].

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan implikasi secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis, penelitian ini dapat menambah wawasan dan referensi mengenai strategi guru dalam pembelajaran bagi siswa disabilitas intelektual di sekolah dasar. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan acuan bagi guru dalam menerapkan strategi pembelajaran yang lebih efektif dan adaptif terhadap kebutuhan siswa disabilitas intelektual. Adapun penelitian ini akan menggali lebih dalam terlebih dahulu mengenai bagaimana karateristik siswa disabilitas intelektual yang ada di sekolah tersebut dan kemudian bagaimana strategi guru dalam menghadapi siswa disabilitas intelektual dalam proses pembelajaran di kelas. Sekolah yang akan menjadi tempat penelitian juga bukan termasuk sekolah yang berbasis inklusi melainkan sekolah regular. Berdasarkan temuan awal tersebut, dapat diketahui bahwa perlunya guru untuk memilah mana strategi yang tepat untuk pembelajaran siswa disabilitas intelektual dalam kelas regular agar tujuan pembelajaran tercapai secara maksimal. Setelah melihat uraian latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana strategi guru dalam menghadapi siswa disabilitas intelektual kelas 5 sekolah dasar?”. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisa perilaku belajar siswa disabilitas intelektual dan strategi guru dalam menghadapi siswa disabilitas intelektual. Sehingga, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul "Strategi Guru Dalam Menghadapi Siswa Disabilitas Intelektual Kelas 5 SD ".

II. Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis interpretatif dasar [23]. Metode kualitatif merupakan pendekatan penelitian yang digunakan untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang diberikan individu atau kelompok terhadap suatu masalah sosial maupun kemanusiaan. Penelitian kualitatif menekankan pada proses pengumpulan data secara alami di lapangan, menggunakan pertanyaan terbuka, analisis data secara induktif, serta interpretasi peneliti terhadap makna dari data yang diperoleh. Hasil penelitian biasanya disajikan secara fleksibel dan mendalam sesuai dengan kondisi yang ditemukan di lapangan [24]. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga Februari dilaksanakan pada SD Swasta di kabupaten sidoarjo. Data primer dan sekunder adalah sumber data penelitian ini. Data primer diperoleh melalui observasi nonpartisipatif dan wawancara dengan guru kelas 5 yang menangani siswa disabilitas intelektual. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai perilaku belajar siswa, pendekatan guru dalam menyampaikan materi, pemberian tugas, umpan balik, penanganan kesulitan belajar, serta interaksi sosial siswa di kelas. Wawancara dilakukan untuk menggali informasi yang lebih mendalam mengenai perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotor siswa, strategi pembelajaran yang digunakan guru, faktor pendukung dan penghambat, serta bentuk dukungan yang diberikan selama proses pembelajaran. Data sekunder diperoleh dari dokumen pendukung, seperti daftar nilai, laporan evaluasi harian, catatan perkembangan siswa, hasil belajar siswa, foto kegiatan pembelajaran, dan dokumen lain yang relevan dengan fokus penelitian.

Penelitian ini mengumpulkan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penggunaan beberapa sumber data tersebut sesuai dengan karakteristik kualitatif yang menekankan pengumpulan data dari berbagai sumber agar peneliti memperoleh pemahaman yang lebih mendalam terhadap kasus yang diteliti. Observasi dilakukan secara nonpartisipatif di kelas 5 untuk melihat perilaku belajar siswa , cara guru menyampaikan materi, strategi pemberian tugas, pemberian umpan balik, serta interaksi siswa selama proses pembelajaran. Wawancara dilakukan dengan guru kelas 5 untuk memperoleh informasi mengenai karakteristik siswa, strategi pembelajaran, faktor penghambat, faktor pendukung, serta upaya yang dilakukan guru dalam membantu siswa. Dokumentasi digunakan sebagai data pendukung berupa foto kegiatan, catatan perkembangan siswa, hasil belajar, dan dokumen pembelajaran yang berkaitan dengan fokus penelitian [24].

Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi teknik, yaitu dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Triangulasi digunakan untuk memastikan bahwa data yang diperoleh tidak hanya bergantung pada satu teknik pengumpulan data, sehingga hasil penelitian menjadi lebih akurat dan dapat dipercaya. Selain itu, peneliti juga melakukan proses menguji atau memverifikasi keabsahan data yang diperoleh peneliti langsung kepada subjek atau informan penelitian dengan mengonfirmasi hasil kepada informan untuk memastikan bahwa interpretasi peneliti sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan. Proses triangulasi dan proses menguji atau memverifikasi keabsahan data yang diperoleh peneliti langsung kepada subjek atau informan penelitian merupakan bagian dari upaya menjaga kredibilitas data dalam penelitian kualitatif [24].

Metode Triangulasi diterapkan untuk melihat adanya keakuratan validitas dan keandalan data, dan membandingkan hasil data observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai konsistens informasi. Metode ini diterapkan agar potensi bias dapat dikurangi dan meningkatkan adanya kredibilitas keseluruhan hasil penelitian ini.Setiap proses dilakukan secara sistematis dan berurutan sehingga dapat menghasilkan analisis yang mendalam serta komprehensif, analisis ini menggunakan model Miles dan Huberman yang terdiri dari tiga Langkah yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan [25]. Triangulasi teknik digunakan pada penelitian ini untuk menguji sebuah data yang dilakukan dengan cara mencari tahu dan mencari kebenaran data terhadap sumber yang sama melalui teknik yang berbeda. Maksudnya adalah untuk mendapatkan data dari sumber yang sama dengan menggunakan berbagai metode pengumpulan data. Diantaranya teknik observasi, wawancara dan dokumentasi yang kemudian digabungkan menjadi satu untuk mendapatkan sebuah kesimpulan [26].

Analisis data dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu mengorganisasi data, membaca keseluruhan data, memberi kode pada data, menyusun tema, mendeskripsikan temuan, dan menafsirkan makna data. Tahapan tersebut sejalan dengan analisis data kualitatif yang menekankan proses pengolahan data secara sistematis untuk menemukan tema-tema penting dari data penelitian. Data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi terlebih dahulu diorganisasi sesuai dengan fokus penelitian. Selanjutnya, peneliti membaca data secara menyeluruh untuk memahami pola-pola informasi yang muncul, kemudian melakukan pengodean terhadap data yang relevan. Hasil pengodean tersebut disusun ke dalam tema-tema utama yang berkaitan dengan karakteristik siswa disabilitas intelektual, strategi guru, serta faktor pendukung dan penghambat dalam proses pembelajaran. Setelah itu, temuan disajikan dalam bentuk uraian deskriptif dan ditafsirkan untuk menggambarkan strategi guru dalam menghadapi siswa disabilitas intelektual di kelas 5 sekolah dasar [24].

III. Hasil dan Pembahasan

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui tahapan yang sistematis, dimulai dari reduksi data untuk memilah dan merangkum informasi esensial dari hasil wawancara serta observasi mengenai strategi guru dalam menghadapi siswa disabilitas intelektual di kelas 5 sekolah dasar. Selanjutnya, data disajikan dalam bentuk narasi deskriptif yang terstruktur dan diakhiri dengan penarikan kesimpulan untuk menjawab fokus penelitian secara mendalam. Untuk menjamin keabsahan temuan, peneliti menerapkan uji kredibilitas melalui triangulasi teknik dan sumber guna mengonfirmasi konsistensi data antara pernyataan guru dan fakta di lapangan. Aspek transferabilitas diupayakan melalui penyajian deskripsi yang rinci dan mendalam mengenai kondisi pembelajaran siswa disabilitas intelektual di sekolah dasar inklusif, sehingga hasil penelitian ini dapat dipahami dan dijadikan referensi bagi konteks pendidikan dengan karakteristik serupa.

Dari hasil observasi dan wawancara, dilakukan reduksi data untuk mengambil beberapa poin yang sesuai dengan fokus penelitian. Hubungan operasional antara kedua proses tersebut terlihat saat peneliti menguji silang hasil wawancara guru (W) dengan kondisi pembelajaran di kelas melalui observasi langsung (O), yang kemudian dipetakan ke dalam tabel reduksi data. Pada komponen karakteristik siswa disabilitas intelektual, reduksi data memperlihatkan adanya hambatan daya ingat, konsentrasi belajar, dan kemampuan berpikir abstrak yang dialami siswa selama pembelajaran berlangsung. Sementara itu, pada komponen faktor pendukung dan penghambat, reduksi data menunjukkan adanya keterkaitan antara dukungan guru dan lingkungan belajar dengan keterbatasan kemampuan akademik siswa. Terakhir, pada aspek strategi guru, proses reduksi data memperlihatkan keselarasan antara strategi pembelajaran individual yang dirancang guru (W) dengan implementasi langsung berupa penggunaan media konkret, pengulangan materi, dan pendampingan intensif selama pembelajaran berlangsung (O).

Tabel 1. Hasil Reduksi Data

(Keterangan: W = Instrumen Wawancara, O =Instrumen Observasi)

Pengulangan materi terhadap siswa disabilitas intelektual

Berdasarkan indikator karakteristik siswa disabilitas intelektual, guru menjelaskan bahwa siswa mengalami hambatan dalam daya ingat dan konsentrasi belajar. Dalam wawancara (W), guru menyatakan bahwa siswa sering lupa terhadap materi yang sudah dijelaskan sebelumnya sehingga guru harus mengulang materi secara terus-menerus agar siswa mampu memahami pembelajaran.

Guru menyatakan:

“Hambatan utama yang dihadapi siswa berkaitan dengan fungsi daya ingat, sehingga siswa masih mengalami kesulitan dalam mengingat materi yang telah disampaikan selama proses pembelajaran.” Sumber: Wawancara

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa siswa disabilitas intelektual memiliki hambatan dalam kemampuan memori jangka pendek sehingga membutuhkan pengulangan materi secara berkala untuk mempertahankan pemahaman belajar [27]. Komparasi melalui triangulasi teknik menunjukkan bahwa hasil observasi (O) juga memperlihatkan siswa sering meminta penjelasan ulang ketika diberikan instruksi pembelajaran oleh guru. Guru secara sadar memberikan pengulangan dan pendampingan langsung agar siswa tetap mampu mengikuti proses pembelajaran sesuai kemampuan yang dimiliki. Pendampingan tersebut dilakukan secara perlahan dan berulang agar siswa tidak merasa tertekan ketika menerima materi pembelajaran [19].

Aktivitas guru saat menjelaskan materi secara berulang kepada siswa disabilitas intelektual ini dapat dicermati pada Gambar 1.

Gambar 1. Guru menjelaskan materi secara berulang

Penggunaan media konkret terhadap siswa disabilitas intelektual

Selain mengalami hambatan daya ingat, siswa juga memiliki karakteristik berpikir konkret. Dalam wawancara (W), guru menjelaskan bahwa siswa lebih mudah memahami konsep apabila diberikan benda nyata atau media visual dibandingkan penjelasan abstrak. Guru menyatakan:

“Siswa baru dapat memberikan respons atau jawaban apabila proses pembelajaran disertai dengan penggunaan benda konkret sebagai contoh.”

Sumber: Wawancara

Penggunaan media konkret bertujuan untuk membantu siswa memahami konsep pembelajaran secara lebih sederhana dan nyata [20]. Berdasarkan hasil observasi (O), guru menggunakan gambar, benda di sekitar kelas, dan demonstrasi langsung untuk membantu siswa memahami materi pembelajaran. Penggunaan media konkret tersebut menjadi bentuk penyesuaian pembelajaran berdasarkan kebutuhan belajar siswa disabilitas intelektual yang masih berada pada tahap berpikir operasional konkret. Dengan adanya bantuan visual, siswa lebih mudah memahami instruksi dan menghubungkan materi pembelajaran dengan pengalaman sehari-hari [21].

Aktivitas guru saat menjelaskan materi menggunakan benda konkret kepada siswa ini dapat dicermati pada Gambar 2.

Gambar 2. Guru menjelaskan menggunakan benda konkret

Rendahnya konsentrasi siswa disabilitas intelektual

Jika dianalisis lebih mendalam melalui triangulasi teknik, terdapat kesesuaian antara hasil wawancara guru dan kondisi pembelajaran di lapangan terkait rendahnya konsentrasi belajar siswa. Guru menjelaskan bahwa perhatian siswa mudah teralihkan oleh lingkungan sekitar sehingga proses pembelajaran sering terganggu. Dalam wawancara (W), guru menyatakan:

“Perhatian siswa sangat mudah teralihkan; sedikit gangguan atau gerakan dari teman di sekitarnya dapat segera menarik fokusnya.”

Sumber: Wawancara

Hasil observasi (O) menunjukkan bahwa siswa sering kehilangan fokus ketika terdapat aktivitas kecil dari teman sekelas. Rendahnya konsentrasi belajar tersebut menyebabkan siswa membutuhkan arahan dan pendampingan secara terus-menerus selama pembelajaran berlangsung. Kondisi ini sesuai dengan karakteristik siswa disabilitas intelektual yang cenderung mengalami hambatan dalam mempertahankan perhatian dalam waktu yang lama [22].

Aktivitas guru saat menjelaskan materi kepada semua siswa tetapi siswa disabilitas tidak mendengarkan atau fokusnya terlalihkan ini dapat dicermati pada Gambar 3.

Gambar 3. Siswa disabilitas intelektual fokusnya teralihkan ke temannya

Pendekatan individual terhadap siswa disabilitas intelektual

Guru menerapkan berbagai strategi adaptif untuk membantu siswa disabilitas intelektual mengikuti pembelajaran di kelas reguler. Berdasarkan hasil wawancara (W), guru menggunakan pendekatan individual dengan memberikan penjelasan ulang secara tatap muka kepada siswa setelah menjelaskan materi kepada seluruh peserta didik di kelas. Guru menjelaskan strateginya:

“Saya menginstruksikan siswa untuk datang ke depan kelas sehingga saya bisa melakukan bimbingan dan pendampingan secara langsung (tatap muka).”

Sumber: Wawancara

Pendekatan individual dilakukan agar siswa lebih fokus memahami pembelajaran sesuai kemampuan yang dimiliki. Melalui pendampingan langsung, guru dapat menyesuaikan cara penyampaian materi dengan kebutuhan siswa sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif [23]. Hasil observasi (O) menunjukkan bahwa guru secara aktif mendampingi siswa ketika mengerjakan tugas dan memberikan bantuan secara bertahap apabila siswa mengalami kesulitan memahami instruksi pembelajaran.

Aktivitas guru saat menjelaskan materi kepada siswa disabilitas dengan pendekatan individual ini dapat dicermati pada Gambar 4.

Gambar 4. Guru menjelaskan dengan pendekatan individual (tatap muka)

Penggunaan media visual gambar untuk siswa disabilitas intelektual

Selain pendekatan individual, guru juga menggunakan media visual sebagai strategi pembelajaran utama. Dalam wawancara (W), guru menyatakan:

“Jumlah dan bentuk penugasan yang diberikan disesuaikan dengan kemampuan siswa disabilitas intelektual, sehingga berbeda dari siswa lainnya.”

Sumber: Wawancara

Penggunaan media visual membantu siswa memahami konsep pembelajaran secara lebih konkret dan sederhana [24]. Berdasarkan hasil observasi (O), guru menggunakan gambar dan demonstrasi langsung agar siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Penggunaan media visual tersebut terbukti membantu meningkatkan perhatian dan keterlibatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

Aktivitas guru memberikan tugas menggunakan media pembelajaran visual kepada siswa disabilitas intelektual ini dapat dicermati pada Gambar 5.

Gambar 5. Siswa mengerjakan tugas menggunakan media visual berupa gambar

Guru menerapkan strategi modifikasi tugas untuk siswa disabilitas intelektual

Guru juga menerapkan modifikasi tugas sebagai bentuk pembelajaran berdiferensiasi sesuai kemampuan siswa disabilitas intelektual. Guru menyatakan:

“Hal yang paling utama adalah menciptakan suasana belajar yang aman bagi siswa, terutama dengan memastikan lingkungan sekitar bebas dari tindakan perundungan (bullying).”

Sumber: Wawancara

Strategi modifikasi tugas dilakukan dengan menyederhanakan bentuk soal dan mengurangi jumlah tugas yang diberikan kepada siswa [28]. Berdasarkan hasil observasi (O), guru memberikan soal dengan tingkat kesulitan yang lebih sederhana dibandingkan siswa reguler agar siswa tetap mampu mengikuti pembelajaran tanpa merasa terbebani. Penyesuaian tersebut menunjukkan bahwa guru berusaha menerapkan pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan dan kemampuan siswa disabilitas intelektual.

Guru memberikan tugas sesuai kemampuan siswa disabilitas ini dapat dicermati pada Gambar 6.

Gambar 6. Siswa mengerjakan tugas modifikasi dari guru

Kondisi lingkungan kelas yang nyaman

Selain strategi pembelajaran, keberhasilan proses belajar siswa juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan belajar yang mendukung. Dalam wawancara (W), guru menjelaskan bahwa lingkungan kelas yang aman dan tidak memberikan perlakuan diskriminatif membantu siswa merasa lebih nyaman selama pembelajaran berlangsung. Guru menyatakan:

“Hal yang terpenting adalah menciptakan lingkungan belajar yang aman bagi siswa, khususnya memastikan tidak adanya tindakan perundungan (bullying) dari lingkungan sekitar.”

Sumber: Wawancara

Data wawancara tersebut diperkuat melalui hasil observasi (O) yang menunjukkan bahwa teman sebaya menerima keberadaan siswa disabilitas intelektual dengan baik selama pembelajaran berlangsung. Lingkungan belajar yang suportif membantu meningkatkan rasa percaya diri siswa untuk mengikuti pembelajaran di kelas reguler [29].

Suasana lingkungan belajar yang aman dan nyaman ini dapat dicermati pada Gambar 7.

Gambar 7. Suasana kelas yang nyaman

Berdasarkan keseluruhan hasil penelitian, dapat dipahami bahwa strategi pembelajaran adaptif yang diterapkan guru mampu membantu siswa disabilitas intelektual mengikuti pembelajaran di kelas reguler. Pendekatan individual, penggunaan media konkret, pengulangan materi, modifikasi tugas, dan dukungan lingkungan belajar menjadi faktor penting dalam membantu siswa memahami pembelajaran sesuai kemampuan yang dimiliki. Kombinasi strategi tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi memiliki peran penting dalam menciptakan pembelajaran inklusif yang efektif bagi siswa disabilitas intelektual.

IV. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai strategi guru dalam menghadapi siswa disabilitas intelektual kelas 5 SD, dapat disimpulkan bahwa siswa disabilitas intelektual memiliki karakteristik belajar yang berbeda dibandingkan siswa reguler, seperti daya ingat yang rendah, kesulitan memahami konsep abstrak, mudah terdistraksi, lambat menyelesaikan tugas, serta membutuhkan pengulangan materi dan pendampingan secara intensif selama proses pembelajaran. Siswa juga lebih mudah memahami materi apabila diberikan contoh konkret, media visual, dan demonstrasi secara langsung. Dalam menghadapi kondisi tersebut, guru menerapkan berbagai strategi pembelajaran yang bersifat adaptif dan fleksibel. Strategi yang digunakan meliputi pendekatan individual, penggunaan media visual dan benda konkret, pengulangan materi secara terus-menerus, pemberian contoh langsung, serta modifikasi tugas sesuai kemampuan siswa. Guru juga memberikan pendampingan secara personal agar siswa mampu mengikuti pembelajaran bersama teman-temannya di kelas reguler. Strategi tersebut membantu siswa lebih mudah memahami materi dan meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.

Selain itu, terdapat faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan pembelajaran bagi siswa disabilitas intelektual. Faktor pendukung meliputi lingkungan belajar yang aman dan tidak diskriminatif, dukungan teman sebaya, pendampingan guru, serta kondisi emosi siswa yang cukup stabil. Sementara itu, faktor penghambat meliputi rendahnya konsentrasi dan daya ingat siswa, kesulitan membaca dan menulis, serta keterbatasan media pembelajaran yang tersedia di sekolah. Dengan demikian, pembelajaran bagi siswa disabilitas intelektual di kelas reguler membutuhkan strategi pembelajaran yang diferensiatif, adaptif, dan berpusat pada kebutuhan siswa. Guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang nyaman serta menyesuaikan metode pembelajaran agar siswa disabilitas intelektual dapat berkembang secara optimal sesuai kemampuan yang dimiliki.

Ucapan Terima Kasih

Peneliti mengucapkan rasa syukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua tercinta yang selalu memberikan doa, dukungan, kasih sayang, semangat, serta motivasi tanpa henti selama proses penyusunan skripsi ini. Terima kasih atas segala pengorbanan dan kepercayaan yang diberikan sehingga peneliti mampu menyelesaikan penelitian ini dengan baik. Peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada diri sendiri yang telah berjuang, bertahan, dan berusaha semaksimal mungkin dalam menghadapi berbagai proses dan tantangan selama penyusunan skripsi hingga dapat terselesaikan dengan baik.

References

A. N. Latifah, I. A. Pratiwi, and M. S. Kuryanto, “Peran guru dalam menghadapi siswa slow learner di sekolah dasar,” Basicedu, vol. 7, no. 4, pp. 2650–2662, 2023.

F. Husna, A. Suriansyah, and W. R. Rafianti, “Strategi guru dalam mendukung pendidikan pada siswa Down Syndrome di sekolah dasar,” pp. 19–27, 2025.

N. Afsari, Maulidiah, and I. Yusran, “Profil statistik pendidikan anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusif,” Ilm. Pendidik. Dasar, vol. 10, no. 4, pp. 791–800, 2025.

S. M. Ningrum, “Implementasi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas Perspektif Siyasah Dusturiyah (Studi pembangunan infrastruktur Masjid Raya Baitul Izzah Kota Bengkulu),” Skripsi, 2022.

S. R. Vaughn, C. S. Bos, and J. S. Schumm, Teaching Students Who Are Exceptional, Diverse, and at Risk in the General Education Classroom.

D. F. Kusuma, “Strategi pembelajaran berdiferensiasi dalam materi perubahan wujud zat pada peserta didik dengan disabilitas intelektual,” Didakt. Pendidik. Dasar, vol. 9, no. 1, pp. 271–290, 2025, doi: 10.26811/didaktika.v9i1.1599.

R. L. Schalock, R. Luckasson, and M. J. Tassé, “An overview of intellectual disability: Definition, diagnosis, classification, and systems of supports (12th ed.),” vol. 126, pp. 439–442, 2021.

S. O. R. Uspan, Haifaturrahmah, and S. Fujiaturrahman, “Strategi guru dalam mengelola kelas inklusif sekolah dasar,” Ilm. Pendidik. Dasar, vol. 10, pp. 362–378, 2025.

S. Nurfadhillah et al., “Analisis strategi guru dalam mengajar siswa lambat belajar atau slow learner,” Masal. J. Pendidik. dan Sains, vol. 2, pp. 53–63.

H. Sa’diyah and M. B. U. B. Arifin, “Learner worksheets as a learning evaluation for student: An analysis of a study of slow learner students in primary school,” Tekonologi Pendidik., vol. 10, no. 1, pp. 28–40, 2025, doi: 10.32832/educate.v10i1.18159.

M. Burhanudin, A. Mais, and R. Kismawiyati, “Strategi pembelajaran inovatif untuk meningkatkan kemampuan akademik peserta didik disabilitas intelektual di sekolah inklusif,” Cendekia Ilm., vol. 4, no. 5, pp. 1682–1687, 2025.

Ryandi, S. Ecca, and M. Hanafi, “Analisis kesulitan belajar Bahasa Indonesia pada siswa: Fokus pada slow learner di SD,” J. Ilm. Pendidik. Citra Bakti, vol. 12, no. 1, pp. 81–93, 2025, doi: 10.38048/jipcb.v12i1.4857.

F. C. Rizannah, “Peran guru dalam mengatasi kesulitan dalam belajar (slow learner) anak usia dini,” 2024.

N. Aulia and N. E. Harsiwi, “Analisis respons siswa slow learner dalam pembelajaran di kelas II SDN Banyuajuh 3 Bangkalan,” JIMU J. Ilm. Multi Disiplin, vol. 03, no. 02, pp. 1267–1277, 2025.

A. R. DeDevi, R. A. Rahayu, G. Dhani, “Strategi pembelajaran bagi siswa lamban belajar (slow learner) di SD Inpres Oeba 1 Kota Kupang,” J. Mandalanursa, vol. 4, no. 2, pp. 196–200, 2022.

I. Sauqi and N. E. Harsiwi, “Menganalisis belajar siswa berkebutuhan khusus slow learner di Sekolah Dasar Negeri Keleyan 1,” J. Ilmu Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya, vol. 2, no. 4, pp. 29–42, 2024.

N. W. Siami and R. F. R. Ana, “Analisis faktor penyebab siswa terindikasi lamban belajar di SDN 1 Bono Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung,” Pendidik. Guru Sekol. Dasar, vol. 7, no. 2, pp. 167–177, 2023.

A. Sriwidiastuty, E. Suharini, and A. Widiyatmoko, “Eksplorasi strategi guru dalam mengajarkan materi IPS kepada siswa slow learner di kelas V,” Islam. Prim. Educ., vol. 6, no. 1, pp. 86–99, 2025.

N. C. P., K. Yulinda, and B. Sukmawati, “Strategi guru dalam pengajaran reading comprehension pada siswa disabilitas intelektual di Pendidikan Luar Biasa Universitas PGRI Argopuro Jember,” vol. 6, no. 2, pp. 113–121, 2023, doi: 10.31537/speed.v6i2.804.

R. Y. Wegania and W. Widajati, “Kajian tentang strategi pembelajaran perilaku sosial pada peserta didik disabilitas intelektual (studi kasus di SLB Negeri Gedangan),” vol. 20, pp. 1–10, 2025.

A. A. Pertiwi and N. E. Harsiwi, “Identifikasi dan penanganan siswa slow learner di sekolah dasar inklusif,” J. MEDIA Akad., vol. 3, no. 6, 2025.

Watini, Sujarwanto, and A. Rifqi, “Implementasi penggunaan media audio visual dalam pembelajaran matematika bagi siswa disabilitas intelektual,” Obsesi, vol. 9, no. 5, pp. 1945–1953, 2025, doi: 10.31004/obsesi.v9i5.6997.

D. Ary, L. C. Jacobs, and C. Sorensen, Introduction to Research in Education.

J. W. Creswell and J. D. Creswell, Research Design, 5th ed., 2013.

Qomaruddin and H. Sa’diyah, “Kajian teoritis tentang teknik analisis data dalam penelitian kualitatif: Perspektif Spradley, Miles dan Huberman,” J. Manag. Account. Adm., vol. 1, no. 2, pp. 77–84, 2024. [Online]. Available: https://pub.nuris.ac.id/journal/jomaa/article/view/93

M. W. Ilhami, W. V. Nurfajriani, A. Mahendra, R. A. Sirodj, and M. W. Afghani, “Triangulasi data dalam analisis data kualitatif,” J. Ilm. Wahana Pendidik., vol. 10, no. September, pp. 826–833, 2024.

A. Sriwidiastuty, E. Suharini, and A. Widiyatmoko, “Eksplorasi strategi guru dalam mengajarkan materi IPS kepada siswa slow learner di kelas V SD,” JISPE J. Islam. Prim. Educ., vol. 6, no. 1, pp. 86–99, 2025.

C. C. Eidson, Differentiation in Practice.

M. Sintawati, H. H. Sukma, A. Mardati, and S. M. Feruzi, “Pre-service teachers’ pedagogical knowledge and attitudes towards slow learner students,” vol. 18, no. 4, pp. 1117–1124, 2024, doi: 10.11591/edulearn.v18i4.21626.