Login
Section Elementary Education Method

Structured Metacognitive Frameworks Facilitate Academic Progression Among Lower Primary Students

Kerangka Metakognitif Terstruktur Memfasilitasi Kemajuan Akademik Pada Siswa Sekolah Dasar Kelas Rendah
Vol. 21 No. 2 (2026): May:

Amalia Qurrotul A’yun (1), Mahardika Darmawan Kusuma Wardana (2)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Reading literacy constitutes a fundamental educational priority for human resource development, yet national assessment scores frequently indicate suboptimal scholastic achievement on global scales. Specific Background: Third-grade learners specifically struggle to grasp core information, identify main ideas, and answer analytical questions regarding expository texts despite possessing basic reading fluency. Knowledge Gap: Although the Know, Want to Know, Learned (KWL) strategy is a proven metacognitive tool, previous implementations predominantly target upper elementary or secondary classes, leaving its viability for early-grade learners in the concrete operational stage largely underexplored. Aims: This quasi-experimental research analyzes the application of the KWL instructional model on third-grade reading comprehension regarding expository materials at SDN Jerukgamping. Results: Utilizing a pretest-posttest control group design with 32 participants, the experimental group demonstrated a notable progression from an initial mean score of 70 to 84, significantly outperforming the control group. Statistical testing confirmed a significance value of 0.000, validating the intervention's success. Novelty: The study uniquely adapts this active learning framework for nine-year-old learners, bridging abstract questioning with concrete expository facts to stimulate targeted curiosity. Implications: Deploying this student-centered pedagogy provides educators with an engaging mechanism to build foundational literacy, though it requires intensive instructor facilitation and extended instructional time to accommodate younger developmental needs.


Highlights:






  • The Know Want Learn model successfully guides third-grade learners through decoding factual narratives.




  • Integrating curiosity-driven questioning significantly advances reading assessment scores compared to conventional teacher-centered methodologies.




  • Intensive instructor facilitation ensures nine-year-olds systematically organize new information within concrete operational stages.






Keywords: Expository Reading, Know Want Learn, Cognitive Development, Quasi Experimental Design, Student Centered Pedagogy

I. Pendahuluan

Hasil belajar adalah sesuatu yang telah dicapai siswa setelah mendapat pengajaran dalam kurun waku tertentu. Hasil belajar dapat diartikan sebagai sebuah cerminan dari usaha belajar yang telah diraih. Oleh karenanya, hasil belajar menjadi acuan dalam menilai keberhasilan pembelajaran yang dilakukan oleh siswa[1]. Hasil belajar siswa dapat dilihat dari perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik penyangkut ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor sebagai hasil kegiatan belajar yang telah dilakukan. Akan tetapi, setiap murid memiliki kapabilitas yang bervariasi. Variasi ini berdampak pada cara murid dalam menangani informasi. Perbedaan dalam cara memproses dan menggabungkan informasi yang dimiliki dan informasi yang baru dapat mempengaruhi cara berpikir mereka[2].

Hal ini sesuai dengan taksonomi bloom yang diperkenalkan oleh Benjamin S. Bloom yang digunakan sebagai kerangka konseptual, dirancang untuk mengkategorikan tujuan pendidikan. Salah satunya adalah ranah kognitif yang mengarahkan terkait dengan kapasitas berpikir dan intelektual siswa, mencakup aktivitas mental dalam pembelajaran seperti mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, menilai, dan menciptakan. Dalam ranah ini, kemampuan berpikir dikelompokkan secara berjenjang, dimana setiap tingkat menjadi dasar bagi tingkat berikutnya sesuai dengan jenjang mendatang[3]. Teori kognitif mengedepankan pengetahuan awal yang telah dimiliki. Hal itulah yang sebaiknya menjadi kesempatan bagi guru untuk proses belajar yang dapat lebih bermakna[4]

Adapun hasil observasi yang dilakukan peneliti pada siswa kelas III di SD Negeri Jerukgamping, Krian Sidoarjo. Ditemukannya permasalahan dalam memahami informasi pada teks yang disajikan yang berdampak pada hasil belajar siswa. Pada saat proses pembelajaran berlangsung, terlihat sebagian siswa terlihat mampu membaca teks dengan lancar, namun nyatanya siswa masih belum memahami apa informasi penting dalam isi bacaan tersebut. Tidak hanya itu, siswa adapun beberapa kesulitan siswa dalam menentukan ide pokok, memahami makna dan menganalisis pertanyaan berdasarkan teks yang terkandung dalam bacaan. Hal ini menjadi penyebab jawaban yang diberikan sering kali kurang tepat, tidak sesuai dengan konteks atau bahkan siswa tidak mampu menjawab pertanyaan yang diberikan. Permasalahan ini diperkuat degan rendahnya minat baca siswa, yang terlihat kurang semangat saat membaca karena mereka belum memahami tujuan dari teks yang mereka baca.

Hal tersebut sejalan dengann studi Internasional untuk mengukur kemampuan literasi siswa pada tahun 2023 yakni PIRLS yang memperjelas gambaran skor rata-rata membaca siswa Indonesia sebesar 428 dengan skor rata-rata Internasional sebesar 500[5]. Sementara itu untuk menjadi bangsa yang maju, diperlunya sumber daya manusia yang handal dan bermutu. Dalam melahirkan sumber daya ini, diperlunya upaya-upaya yang serius dan hanya dapat diwujudkan dengan pendidikan yang bermutu. Oleh karena itu, upaya peningkatan mutu pendidikan merupakan hal yang penting dan tidak dapat ditawarkan lagi demi meningkatkan mutu sumber daya manusia untuk bangsa Indonesia[6]

Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukannya suatu cara untuk sebagai pedoman untuk merencanakan pelaksanaan kegiatan pembelajaran, salah satunya adalah model Know Want to Know Learning (KWL) yang dikemukakan oleh Ogle dan mengutarakan bahwa model KWL dipandang sebagai strategi yang metakognitif dengan mendorong pembaca untuk berpikir lebih dalam dan kritis saat berinteraksi dengan bacaan[7]. Model ini bertujuan untuk mengaktifkan pengetahuan latar belakang dan minat siswa terhadao topik tertentu. Model KWL mencakup tiga langkah yang mencakup tiga langkah dasar yang membantu siswa untuk mengenali pengetahuan yang telah mereka miliki, menetapkan informasi yang ingin mereka pelajari, dan merefleksikan apa yang telah mereka dapatkan dari kegiatan membaca. model ini membantu siswa untuk memahami keseluruhan isi materi serta merumuskan serta menjawab pertanyaan agar tetap terlibat dalam proses belajar[8].

Manfaat dari penggunaan model KWL sejalan dengan penelitian yang berjudul “Pengaruh Model KWL (Know, Want and Learned) Terhadap Kemampuan Literasi Peserta didik Kelas IV di SDN 1 Telagawaru”yang mengungkapkan adanya keefektifan dalam mengasah kemampuan literasi siswa dalam menggali informasi dengan model KWL dan membandingkan antara kelas yang menggunakan model KWL dengan kelas yang tidak menggunakan model KWL[9]. Adapun perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yang terletak pada subjek penelitian yang digunakan. Penelitian ini mengimplementasikan model pembelajaran KWL (Know-Want to Learn) pada siswa kelas III sekolah dasar, sedangkan sebagian besar penelitian terdahulu lebih banyak diterapkan pada siswa kelas tinggi, seperti kelas IV, V dan VI sekolah dasar[10] sampai jenjang SMP. Penggunaan model KWL pada kelas rendah khususnya kelas III, masih cukup relatif terbatas sehingga penelitian ini memiliki kebaharuan dalam penerapannya. Penerapan model KWL selaras pada pembelajaran teks eksposisi dengan karakteristik usia 9 tahun yang berada pada tahap operasional konret yang dimana pada tahap tersebut, anak lebih mudah dalam memahami materi yang berkaitan dengan objek nyata.

Perkembangan kognitif anak usia dasar memang tidak dapat disamakan dengan kemampuan kognitif pada usia remaja. Umumnya, kemampuan anak usia dasar masih terbatas dan bersifat konkret yang nyata. Selain dari materi ajar, pemahaman perkembangan kognitif juga menjadi pedoman dalam menentukan strategi, mode, metode dan teknik evaluasi dalam pembelajaran[11]. Dengan mempertimbangkan pada usia ini anak sudah mampu menggunakan operasi dan logikanya, akan tetapi pada objek yang nyata dan sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dalam menyesuaikan permasalahan logika, anak tahap operasional konkret anak mengalami kesulitan jika tidak menggunakan objek secara langsung[12]. Teks eksposisi merupakan teks yang memberikan informasi yang kuat, diperkuat oleh adanya fakta ata data yang disajikan oleh penulis. Fakta ini disampaikan oleh penulis guna memperkuat argumen yang disajikan[13]. Dengan penggunaan cara pembelajaran yang tepat, maka penyampaian topik pembelajaran akan tersampaikan dengan baik dan menghasilkan hasil belajar yang sesuai dengan tujuan ranah kognitif yang ditentukan.

II. Metode

Penelitian ini dilaksanakan di SDN Jerukgamping yang berlokasi di daerah Krian Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif menggunakan metode eksperimen yang bertujuan untuk menjelskan hubungan sebab akibat antara satu variabel dengan variabel yang lain (variabel X dan variabel Y)[13]. Adapun bentuk eksperimen yang digunakan adalah kuasi-ekperiemen dengan desain Pre-test and Post-Test with Non-Equivalent Control-Group Design yang dimana penelitian ini menggunakan dua kelas sampel, yakni kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas ekspermen adalah kelas yang akan diberikan perlakukan dan kelas kontrol adalah kelas yang tidak diberikan perlakuan. Selanjutnya, kedua kelas tersebut nantinya akan diberikan tes sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran.

Gambar 1. Bentuk rancangan jenis desain

Sumber: Buku Kuasi Eksperimen[14]

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas III SDN Jerukgamping yang berjumlah 32 siswa, 16 siswa kelas kontrol dan 15 siswa kelas eksperimen. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampling jenuh karena dilakukan dengan menjadikan seluruh anggota populasi menjadi sampel[15]. Penentuan kelas III A sebagai kelas eksperimen dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan kelas dalam penerapan model pembelajaran KWL, seperti kondisi kelas yang kondusif dan keterlibatan siswa selama observasi awal. Adapun kelas III B digunakan sebagai kelas kontrol karena memiliki karakteristik yang relatif setara dengan kelas eksperimen, baik dari segi kemampuan awal, jenjang kelas, maupun materi pembelajaran yang diterima. Selisih jumlah siswa antara kedua kelas tidak terlalu jauh sehingga masih memenuhi kriteria homogenitas dalam penelitian. Selain itu, hasil pretest menunjukkan kemampuan awal siswa pada kedya kelas yang diperkuat melalui uji normalitas yang menunjukkan signifikansi > 0,05 sehingga data berdistribusi normal, serta uji homogenitas dengan nilai signifikansi SEBESAR 0,355 > 0,05 yan menunjukkan variansi kedua kelas homogen. Dengan begitu, kedua kelas layak untuk dinyatakan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalam penelitian quasi eksperimen [16], [17]. Instrumen penelitian menjadi komponen penting dalam sebuah penelitian, baik kualitatif maupun kuantitatif. Dalam penelitian kuantitatif, instrumen penelitian meliputi angket, kuesioner, daftar periksa observasi terstruktur dan instrumenpengukuran yang digunakan untuk mengumpulkan data yang diukur dan dianalisis secara statistik[18].

Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data melalui tes tertulis yang diambil dari teks eksposisi untuk mengukur kemampuan siswa. Instrumen terdiri dari tes objektif berupa pilihan ganda berjumlah 10 soal dan tes subjektif berupa essai berjumlah 5 soal untuk mengukur pemahaman siswa terhadap teks eksposisi dalam meningkatkan hasil belajar siswa dalam ranah kognitif. Pelaksanaan tes untuk mengukur pemahaman siswa terhadap teks eksposisi dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pretest yang bertujuan mengukur kemampuan siswa sebelum diberikan treatment dan posttest untuk mengetahui apakah ada pemahaman terhadap teks eksposisi setelah menggunakan model KWL yang mengacu pada hasil belajar siswa. Adapun kegiatan yang dilakukan saat mengimplementasikan model KWL yakni dengan memberikan tabel KWL dengan kolom: Know (Apa yang kamu ketahui), Want (Apa yang ingin kamu ketahui) dan To Know (Apa yang sudah diketahui) sebagai implementasi model KWL[19].

Tabel 1. Instrumen hasil belajar siswa ranah kognitif

Teknik analisis data dalam penelitian ini, dilakukan dengan bertahap guna mengetahui pengaruh model pembelajaran KWL terhadap hasil belajar siswa melalui teks eksposisi. Tahap awal dilakukan dengan mengumpulkan data hasil pretest-posttest pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol, kemudian data yang diperoleh dianalisis secara statistik desskriptif untuk memberikan gambaran kemampuan awal siswa yang meliputi hasil belajar, nilai rata-rata, nilai tertinggi dan terendah yang bertujuan untuk melihat perbedaan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah perlakuan diberikan [20].

Adapun uji analisis data yang digunakan dalam penelitian meliputi uji validitas dan reliabilitas untuk mengukur kevalidan instrumen dan tingkat konsistensi instrumen[21], dan dalam penelitian kuantitatif, kriteria utama terdapat data hasil penelitian adalah valid, reliabel dan objektif. Dan untuk mendapatkan data yang valid dan reliabel, dilakukannya sampel yang mendekati jumlah populasi dan pengumpulan, serta analisis data yang benar pada instrumen penelitiannya[22]. Pengujian validitas pada penelitan ini dilakukan menggunakan korelasi Product Moment Pearson dengan bantuan aplikasi IBM SPSS Statistict. Suatu butir soal dinyatakan valid apbila nilai r hitung lebih besar daripada r tabel pada taraf signifikansi. Selanjutnya pengujian reliabilits dalam peneltian in mengggunakan metode Cronbach’s Alpha dengan bantuan Spss untuk memenuhi kriteria reliabilitas yang telah ditentukan.

Setelah dilakukannya uji validitas dan reliablitas instrumen, tahap selanjutnya adalah melakukan uji prasyarat analisis data untuk mengetahui apakah data penelitian memenuhi syarat penggunaan statistik parametrik sebelum dilakukan pengujian hipotesis. Uji prasyarat uang digunakan meliputi uji normalitas dan homogenitas. Uji normalitas digunakan untuk menilai dan memastikan kelayakan analisis parametrik. Kriteria yang diguakan jika signifikan yaitu ketika data lebih besar dari 0,05 maka data tersebut berdistribusi normal, dan jika kurang dari 0,05 maka data tidak berdistribusi normal, namun jika data tidak berdistribusi normal dan tetap dilakukan uji parametrik, maka data tidak valid dalam mengambil kesimpulan[23].

Uji normalitas adalah prosedur yang digunakan untuk menentukan apakah data berasal dari populasi dengan distribusi normal yang memiliki karakteristk simetris, dimana nilai modus, mean dan median berada pada pusat distribusi. Uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk karena jumlah sampel penelitian yang kurang dari 50 siswa. Pengujian ini dilakukan dengan bantuan aplikasi SPSS dan data akan dinyatakan berdistribusi normal jikan nilai (Sig) > 0,05, dan uji selanjutnya dapat dilakukan. Pada penelitian ini, uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah varians datapada kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki kesamaan dengan menggunakan Levene’s Test menggunakan bantuan aplikasi SPSS. Hasil dari Levene’s Test akan memberikan nilai p yang menunjukkan apakag ada data signifikan dalam variasi antar kelompok. Jika nilai p lebih kecil dari tingkat signifikansi yang ditetapkan (misalnya, 0,05), maka hipotesis nol yang menyatakan bahwa variasi antar kelompok adalah sama ditolak[24].

Setelah dinyatakan memenuhi uji prasyarat analisis, yaitu berdistribusi normal dan homogen, selanjutnya dilakukan uji hipotesis. Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh model pembelajaran KWL terhadap hasil belajar siswa. Analisis uji hipotesis pada penelitian ini menggunakan uji paired sample t-test dan independent t-test dengan bantuan IBM SPSS.

Uji paired sample t-test digunakan untuk mengetahui perbedaan rata-rata hasil pretest dan posttest pada kelompok yang sama, yaitu sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Paired sample t-test digunakan untuk menganalisis perbedaan dua data yang saling berpasangan, seperti nilai sebelum dan sesudah perlakuan pada subjek yang sama[25]. Sementara itu, uji independent sample t-test digunakan untuk mengetahui perbedaan rata-rata hasil belajar antara dua kelompok yang berbeda, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. uji ini digunakan karena kedua kelompok sampel bersifat independent atau tidak saling berhubungan. Apabila nilai signifikansi (Sig. 2-tailed) < 0,05, maka terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok[26].

III. Hasil dan Pembahasan

Penelitian ini dilaksanakan di SDN Jerukgamping pada tanggal 2 Maret 2026 dengan total sampel 32 siswa yang terdiri dari 2 kelas, yakni 16 kelas kontrol dan 16 kelas eksperimen. Kegiatan pembelajaran pada kelas eksperimen yang menerapkan model KWL. Pada tahap awal, guru membagi siswa kedalam beberapa kelompok belajar agar proses diskusidapat berlangsung secara aktif dan kolaboratif. Setelah itu, guru menuliskan judul teks eksposisi yang akan dipelajari di papan tulis sebagai stimulus awal untuk membangun fokus siswa terhadap materi pembelajaran. Selanjutnya, guru membagiakn lembar kerja berupa tabel KWL kepada siswa dalam kelompok. Tabel tersebut terdiri dari tiga kolom, yiatu kolom Know (apa yang sudah diketahui) Want to Know (Apa yang ingin dipelajari) da Learning (Apa yang telah dipelajari).

Pada tahap pertama, guru memberikan pertanyaan pemantik yang berkaitan dengan judul teks eksposisi untuk membantu siswa mengingnat pengetahuan awal yang telah mereka miliki. Melalui pertanyaan tersebut, siswa diarahkan untuk menuliskan berbagai informasi atau hal-hal yang telah mereka ketahui tentang topik bacaan pada kolom Know.

Tahap selanjutnya, guru mengajak siswa untuk mengidentifikasi hal-hal yang belum mereka ketahui terkait topik bacaan. siswa diminta menyusun pertanyaan-pertanyaan sederhana berdasarkan rasa ingin tahu mereka terhadap isi teks eksposisi. Pertanyaan tersebut kemudian dituliskan pada kolom Want to Know sebagai bentuk tujuan belajar yang ingin dicapai setelah membaca teks.

Setelah seluruh siswa mengisi dua kolom awal guru membagikan teks eksposisi kepada siswa untuk dibaca secara cermat.siswa membaca teks tersebut secara mandiri dengan memperhatikan informasi yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah mereka susun sebelumnya. Setelah kegiatan membaca selesai, guru mengarahkan siswa untuk mendiskusikan isi bacaan dan menanyakan kembali informasi baru yang mereka peroleh dari teks. Hasil pemahaman tersebut kemudian dituliskan pada kolom Learning sebagai bagian dari refleksi terhadap pengetahuan yang diperoleh setelah membaca teks eksposisi.

Setelah proses dengan penerapan model KWL selesai dilaksanakan, selanjutnya siswa diberikan tes akhir (posttest) sebagai tahap evaluasi. Pemberian posttest bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pemhaman siswa terhadap teks eksposisi setelah mengikuti pemeblajaran menggnakan model KWL. Soal posttest disusun berdasarkan materi bacaan yang telah dipelajari, sehingga hasil yang diperoleh dapat menunjukkan sejauh mana model KWL berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa dalam memahami isi teks eksposisi.

Selanjutnya, hasil posttets yang telah dikerjakan siswa, dianalisis oleh peneliti untuk mengetahui gambaran umum pencapaian belajar setelah perlakuan diberikan. Tahap analisis diawali dengan menghitung statistik deskriptif dari nilai yang diperoleh siswa, meliputi nilai rata-rata, nilai tertinggi dan terendah. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes tertulis pilihan ganda yang bersifat objektif dan uraian yang sifatnya subjektif karena pada soal tersebut siswa menjawab dengan kalimatnya sendiri dan nantinyaskor hasil setiap soal dipengaruhi oleh jawaban dan respom peserta tes [27]. Hasil posttest yang telah dikerjakan siswa, dianalisis untuk mengetahui capaian belajar setelah diberikan dan meliputi nilai rata-rata, nilai tertinggi dan terendah dengan menggunakan bantuan Ms. Excel. Diketahui nilai posttest pada masing-masing siswa sebagai berikut:

Tabel 2. Statistik umum soal pre-post

Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif, diperoleh gambaran nilai pretest dan posttest pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pada kelas eksperien, nilai pretest menunjukkan rata-rata sebesar 70, dengan nilai tertinggi 88 dan nlai terendah mencapai 54. Setelah dierikan perlakukan menggunakan model KWL, nilai posttest mengalami peningkatan dengan rata-rata sebesar 84, dengan nilai tertinggi sebesar 98 dan nilai terendah 60. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa setelah penerapan model KWL pada pembelajaran teks eksposisi. Sementara itu, pada kelas kontrol diperoleh rata-rata pretest sebesar 62, dengan nilai tertinggi 82 dan nilai terendah 44. Pada hasil posttest, nilai rata-rata siswa menjadi 76, dengan nilai tertinggi 96 dan nilai terendah adalah 56. Peningkatan nilai pada kelas kontrol juga terjadi, namun tdak sebesa peningkatan yang diperoleh kelas eksperimen.

Secara umum, hasil statistik deskriptif menunjukkan adanya peningkatan nilai kedua kelas setelah pembelajaran. Namun, kelas eksperimen yang menggunakan model KWL menunjukkan rata-rata peningkatan hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Selanjutnya, setelah dilakukan analisis statistik deskriptif, tahap yang dilakukan berikutnya adalah pengujian kualitas instrumen penelitian. Pengujian instrumen dilakukan dengan melalui uji validitas dan uji reliabilitas untuk memastikan bahwa soal yang digunakan layak sebagai alat pengumpul data. Uji validitas pada soal pilihan ganda yang sifatnya objektif, uji dilakukan dengan bantuan aplikasi SPSS untuk melihat ketepatan setiap butir soal dalam mengukur hasil belajar siswa. Sementara itu, uji validitas pada soal uraian dilakukan melalui penilaian dosen ahli. Validasi tersebut bertujuan untuk menilai kesesuaian soal uraianengan indikator pembelajaran.

Uji validitas dilakukan terhadap 10 butir soal yang diujicobakan kepada 25 siswa diluar sampel penelitian menggunakan korelsi Pearson. Berdasarkan hasil pengujian, dengan nilai r tabel sebesar 0,396 pada taraf signifikansi 5%, dperoleh 9 butir soal yang memiliki nilai r hitung lebih besar dari r tabel sehingga dinyatakan valid, sedangkan 1 butir soal dinyatakan tidak valid. Oleh karena itu, butir soal yang tidak valid tidak akan digunakan dalam penelitian, sehingga 9 butir soal yang dinyatakan valid tetap dipertahankan. Adapun uji reliabilitas terhadap 9 soal yang dinyatakan valid. Pengujian reliabilitas menggunakan Crobach’s Alpha dengan bantuan SPSS Statistics. Berdasarkan hasil pengujian, diperoleh nilai Crobach’s Alpha sebesar 0,866. Nilai tersebut dinyatakan > 0,70 sehingga dinyatakan reliabel dan layak digunakan sebagai alat pengumpulan data dalam penelitian karena memiliki tingkat konsistensi yang tinggi.

Setelah instrumen dinyatakan valid dan reliabel, maka 9 soal pilihan ganda tersebut digunakan sebagai soal pretest dan posttest dalam penelitian. Untuk mengetahui pengaruh model KWL terhadap hasil belajar siswa, adapun uji aalisis yang dilakukan yakni uji hipotests menggunakan paired sample t-test sample dan Independent sample. Sebelum menggunakan kedua analisis tersebut, adapun syarat yang harus dilakukan yakni uji normalitas yang bertujua untuk mengetahui apakah data hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol berdistribusi normal atau tidak dan uji ini menjadi langkah penting dalam analisis data karena berfungsi sebagai prasyarat untuk menentukan apakah metode statistik parametrik bisa diterapkan atau tidak. Penelitian ini menggunakan uji normalitas Shapiro wilk karena efektif karena sampel yang digunakan < 50 [28].

Tabel 3. Uji Normalitas

Berdasarkan hasil uji nomalitas pada tabel 2, diketahui bahwa data kelompok pada kelas eksperimen maupun kelompok kontro, baik pada pretest maupun posttest, memiliki nilai signifikansi (Sig.) lebih besar dari 0,05. Pada kelas eksperimen pretest diperoleh nilai sinifikansi Shapir-Wilk sebesar 0,249 dan posttest sebesar 0,169. Sementara itu, pada kelas kontrol pretest diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,070 dan posttest sebesar 0,158. Berdasarkan kriteria pengambilan keputusan dalam uji shapiro-wilk, maka data kedua soal tersebut dinyatakan berdistribusi normal karena nilai signifikansi adalah > 0,05. Selanjutnya adalah dilakukannya uji homogenitas menggunkan levenede’s test.

Tabel 4. Uji homogenitas

Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah varians data dari kelompok penelitian memiliki kesamaan atau homogen. Berdasarkan hasil uji homogenitas menggunakan Levene’s Test diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,355 pada kategori Based on Mean. Nilai tersebut lebih besar dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa varians data antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol bersifat homogen. Dengan demikian, setelah data penelitian memenuhi syarat, maka dapat dilanju tnkan untuk melakukan uji hipotesis. Penelitian ini mnggunakan uji parametrik berupa paired t-test untuk mengkasi keefektifan perlakuna, ditandai adanya perbedaan rata-rata sebelum dan sesudah diberikan perlakukan[29].

Tabel 5. Paired T-Test

Berdasarkan hasil uji Paired Sample t-Test iperoleh nilai rata-rata selisih (mean difference) sebesar -12,333 dengan nilai t hitung sebesar -8,728 dan nilai signifikansi (Sig. 2-tailed) sebesar 0,000. Nilai signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05), sehingga H0 ditolah dan H1 diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest pada kelas eksperimen. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan memiliki pengaruh terhadap hasil belajar siswa. Kemudian selanjutnya dilakukannya uji Independent sample yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan rata-rata dua kelompok data yang independent[30].

Tabel 6. Independent T-Test

Berdasarkan hasil uji Levene’s Test, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,723 (Sig. > 0,05). Hasl ini menunjukkan bahwa varians data antara kelompok yang dibandingkan adalah homogen, sehingga asumsi kesamaan varians terpenuhi. Selanjutnta, dari hasil uji statistik diperoleh t adalah -8,728 dengan df = 14 dan nilai signifikansi (2-tailed) sebsar 0,00 dan dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan yang signifikan atara hasil pretest dan posttest. Dengan demikian, H0 ditolak dan H1 diterima. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dengan demikian, model KWL berpengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas V melalui teks eksposisi. Hal tersebut menunjukkab bahwa model KWL mampu menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna dibandingkan pembelajaran konvensional karena siswa cenderung menerima informasi secara langsung dari guru, sedangkan dengan menggunakan model KWL siswa dilibatkan untuk menggali informasi secara mandiri melaluiaktifitas membaca dan diskusi yang nantinya berpengaruh pada peningkatan pemahaman sehingga hasil belajar di kelas lebih optimal.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa penerapan model pembelajaran KWL Learning Model memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa kelas III dalam memahami teks eksposisi di SDN Jerukgamping dan sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurlisa yang menyatakan bahwa Model KWL (Know, Want, learn) terhadap kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV SD efektif untuk diterapkan. Peningkatan keterampilan ini didasari oleh keterilibatan siswa dalam pelaksanaan model dan tidak berpusat pada guru saja. Adapun temuan positif yang terlihat dari peningkatan nilai rata-rata posttest pada kelas eksperimen yang mencapai 84 dan lebih tinggi dari kelas kontrol. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari penggunaan model KWL terhadap hasil belajar siswa. Kondisi ini menunjukkan bahwa model KWL mampu membantu siswa dalam mengaktifkan pengetahuan awal, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan mengarahkan siswa untuk menemukan informasi penting dalam bacaan secara lebih terstruktur. Proses tersebut membuat siswa lebih aktif selama pembelajaran, karena mereka tidak hanya membaca teks, tetapi juga terlibat dalam menuliskan apa yang telah diketahui, hal yang ingin diketahui, dan pengetahuan baru yang diperoleh setelah membaca[31].

Di sisi lain, penelitian ini juga menemukan beberapa temuan negatif atau keterbatasan dalam penerapan model KWL. Meskipun hasil belajar siswa meningkat, proses pembelajaran dengan model KWL membutuhkan waktu yang relatif lebih lama dibandingkan pembelajaran konvensional. Hal ini terjadi karena siswa perlu melalui beberapa tahapan, mulai dari mengisi kolom Know, menyusun pertanyaan pada kolom Want to Know, hingga menuliskan hasil pemahaman pada kolom Learned. Pada siswa kelas III yang masih berada pada tahap operasional konkret, beberapa siswa masih mengalami kesulitan dalam menyusun pertanyaan secara mandiri dan mengungkapkan informasi yang telah dipelajari ke dalam tulisan. Akibatnya, guru perlu memberikan pendampingan yang lebih intensif selama kegiatan berlangsung agar setiap tahapan model KWL dapat berjalan dengan baik[32].

Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa model KWL dapat dijadikan sebagai alternatif model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa khususnya dalam memahami teks eksposisi pada jenjang sekolah dasar. Penggunaan model ini mampu menciptakan pembelajaran yang lebih aktif, interaktif, dan berpusat pada siswa sehingga guru tidak hanya berperan sebagai pemberi informasi, tetapi juga sebagai fasilitator pembelajaran. Meskipun demikian, penerapan model KWL juga memiliki beberapa keterbatasan. Dari sisi positif, model ini mampu meningkatkan keaktifan, kemampuan berpikir kritis, rasa ingin tahu, dan pemahaman siswa terhadap isi bacaan[33]. Namun, dari sisi negatif, model KWL memerlukan waktu pembelajaran yang lebih panjang, kesiapan guru dalam mengelola kelas, serta kemampuan siswa dalam menyusun pertanyaan dan mengemukakan pendapat. Selain itu, pada siswa sekolah dasar kelas rendah, masih terdapat beberapa siswa yang memerlukan pendampingan lebih intensif saat mengisi tabel KWL[34]. Oleh karena itu, disarankan bagi guru untuk menyesuaikan penggunaan model KWL dengan karakteristik siswa dan materi pembelajaran, sedangkan bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian pada materi, jenjang pendidikan, maupun jumlah sampel yang lebih luas agar diperoleh hasil penelitian yang lebih mendalam dan bervariasi[35].

IV. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di SDN Jerukgamping, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran KWL (Know, Want to Know, Learned) berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa kelas III dalam memahami teks eksposisi. Hal ini dibuktikan melalui peningkatan nilai rata-rata posttest pada kelas eksperimen dibandingkan kelas kontrol serta hasil uji hipotesis yang menunjukkan nilai signifikansi kurang dari 0,05, sehingga tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh model KWL terhadap hasil belajar siswa telah tercapai. Penerapan model KWL membantu siswa mengaktifkan pengetahuan awal, meningkatkan rasa ingin tahu, serta mempermudah siswa memahami informasi penting dalam bacaan melalui proses pembelajaran yang aktif dan terarah. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa model KWL dapat dijadikan sebagai alternatif model pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan kemampuan memahami teks eksposisi dan hasil belajar siswa sekolah dasar, khususnya pada kelas rendah. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi guru dalam menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif dan bermakna. Adapun saran untuk penelitian selanjutnya yaitu diharapkan dapat mengembangkan penerapan model KWL pada materi pembelajaran lain, jenjang pendidikan yang berbeda, maupun dengan jumlah sampel yang lebih luas agar diperoleh hasil penelitian yang lebih mendalam dan bervariasi.

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, bimbingan serta bantuan dalam menyelesaikan penelitian ini. Peneliti sangat berterima kasih khususnya kepada dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dan masukan sehingga peneliti mampu menyelesaikan penelitian dengan cukup baik. Tak lupa kepada pihak sekolah khususnya SDN Jerukgamping yang telah berkenan memberikan izin, dukungan serta kesempatan kepada peneliti untuk melakukan penelitian. Serta teman-teman dan keluarga yang memberikan motivasi dan doa. Semoga bantuan yang diberikan mendapat balasan yang setimpal.

References

A. Yandi, A. Nathania, K. Putri, Y. Syaza, and K. Putri, “Faktor-Faktor Yang Mempengarui Hasil Belajar Peserta Didik (Literature Review),” vol. 1, no. 1, pp. 13–24, 2023.

A. S. W. Nur Ramadhani and Sri Wardhani, “Hubungan kemampuan awal, pemahaman konsep, dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran daring di SMAN Sumatera Selatan,” vol. 11, no. April, pp. 1–9, 2022.

T. Pendidikan, D. Pengetahuan, A. M. Huseng, and S. Auliyauddin, “Taxonomi Pendidikan Dimensi Pengetahuan, Sikap, dan Keterampilan,” vol. 2, no. April, 2025.

E. Damayanti, V. M. Azzuri, R. Ahmadi, and I. Nofitasari, “Implementasi Teori Kognitif dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia pada Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar,” vol. 9, no. 1, pp. 444–452, 2024.

H. Rohyana, I. M. Fathoni, Y. Ageng, and S. Legowo, “Implementasi Program Literasi Harian 15 Menit dan Dampaknya Terhadap Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa Kelas II SD,” vol. 13, no. 01, 2025.

M. Kharizmi, “Kesulitan siswa sekolah dasar dalam meningkatkan kemampuan literasi,” vol. 2, no. 2011, pp. 102–109, 2021.

“Model K-W-L: A teaching active that develops reading text of expository,” vol. 39, no. 6, pp. 564–570, 2011.

K. Baehaqi, “Application of the KWL (Know, Want to Know, Learned) Learning Model to Improve Students’ Reading Comprehension,” pp. 80–90.

A. Uzlatunnufus and I. Ermiana, “Pengaruh Model KWL (Know, Want and Learned) Terhadap Kemampuan Literasi Peserta Didik Kelas IV di SDN 1 Telagawaru,” vol. 10, pp. 1555–1563, 2025.

V. Nomor, “Pendas: Primary Education Journal,” vol. 3, pp. 161–167, 2022.

I. Sauqi, F. Rozie, and A. D. Koesmini, “Analisis Studi Perkembangan Kemampuan Kognitif pada Anak Usia Sekolah Dasar melalui Klinik Baca di SDN Mlajah 2,” vol. 8, pp. 46991–47004, 2024.

N. Anditiasari and N. R. Dewi, “Analisis Teori Perkembangan Kognitif Piaget Pada Anak Usia 11 Tahun Di Brebes Piaget’s Theory of Cognitive Development Analysis in 11 Year Olds in Brebes,” vol. 6, no. 1, pp. 97–108, 2021.

M. Pemahaman, P. Teks, E. Siswa, and K. IV, “3 1,2,3,” vol. 09, no. September, 2024.

M. G. Isnawan, Kuasi-Eksperimen, Cetakan I. Nashir Al-Kutub Indonesia, 2020.

D. Penelitian, I. Pendidikan, N. Suriani, and M. S. Jailani, “Konsep Populasi dan Sampling Serta Pemilihan Partisipan Ditinjau,” vol. 1, pp. 24–36, 2023.

H. Cham, H. Lee, and I. Migunov, “Quasi-experimental designs for causal inference: An overview,” Asia Pacific Educ. Rev., vol. 25, no. 3, pp. 611–627, 2024, doi: 10.1007/s12564-024-09981-2.

P. J. Wyman and S. B. Watson, “Academic achievement with cooperative learning using homogeneous and heterogeneous groups,” Sch. Sci. Math., vol. 120, no. 6, pp. 356–363, Oct. 2020, doi: 10.1111/ssm.12427.

M. S. Jailani, “Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian Ilmiah Pendidikan pada Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif,” vol. 1, pp. 1–9, 2023.

A. Yulihanita, L. Mahmudah, I. Fithriyah, R. Hidayah, and S. Pranoto, “Penerapan Model KWL (Know, Want to Know, Learned) dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa pada Pembelajaran,” vol. 3, no. 5, pp. 755–762, 2025.

A. Sholikhah, “Statistik deskriptif dalam penelitian kualitatif,” vol. 10, no. 2, pp. 342–362, 2016.

N. P. Rahmayanti, A. J. Karsudjono, and I. Hidayatullah, “Pelatihan SPSS uji validitas dan uji reliabilitas untuk data primer,” vol. 5, no. 2, pp. 21–26, 2024.

N. H. Auliya et al., Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2020.

A. P. Sari, S. Hasanah, and M. Nursalman, “Uji Normalitas dan Homogenitas dalam Analisis Statistik,” vol. 8, no. 2012, pp. 51329–51337, 2024.

R. P. Sonjaya, F. R. Aliyya, and S. Naufal, “Pengujian Prasyarat Analisis Data Nilai Kelas: Uji Normalitas dan Uji Homogenitas,” vol. 9, pp. 1627–1639, 2025.

S. L. Outcomes, “IJOTIS How to Calculate Paired Sample t-Test using SPSS Software: From Step-by-Step Processing for Users to the Practical Examples in the Analysis of the Effect of Application Anti-Fire Bamboo Teaching Materials on,” vol. 2, no. 1, pp. 81–92, 2022.

M. D. R. Elvana Damayanti and Eva Nurazizah, “Makalah Statistika Induktif Uji Paired Sample T-Test, Uji Independent Sample T-Test dan Uji Wilcoxon,” 2019.

S. M. P. N. Kalibagor, “Metafora: Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Analisis Butir Soal Tes Objektif dan Subjektif untuk Keterampilan Membaca Pemahaman pada Kelas VII SMP N 3 Kalibagor Analysis of Objective and Subjective Test Questions for Reading Understanding Skills on 7th,” vol. 8, no. 1, pp. 99–109, 2021, doi: 10.30595/mtf.v8i1.8501.

R. Sianturi, “Uji normalitas sebagai syarat pengujian hipotesis,” vol. 11, no. 1, pp. 1–14, 2025.

J. Penelitian and I. Pendidikan, “Uji T-Student Dua Sampel Saling Berpasangan/Dependent (Paired Sample t-Test),” vol. 4, pp. 568–576, 2025.

A. D. R. Wulandari, D. Mashitasari, and F. Fatimah, “Perbandingan nilai ujian madrasah aqidah akhlak antara kurikulum KTSP dan kurikulum 2013 dengan menggunakan analisis uji independent sample t-test (studi kasus siswa kelas VI MI Al-Hamidi Jember),” no. I, pp. 47–57, 2025.

I. Technology, “Journal of Vocational Education and Information Technology,” vol. 4, no. 1, pp. 11–15, 2023.

I. P. D. Rayhan, mOBIT, “Utilizing Know, Want, Learn (KWL) Strategy in Teaching Reading Comprehension of Narrative Text,” vol. 12, no. 1, pp. 13–25, 2025.

W. Y. Amin and I. Marzuki, “The Implementation of KWL Strategy (Know, Want and Learned) on Reading Comprehension Skills of Students in Grade IV Islamic Elementary School,” vol. 4, no. 1, pp. 32–41, 2023.

A. Sholeh, N. E. Rosalina, and R. Weganofa, “The Implementation of KWL to Improve Student’s Reading Comprehension,” vol. 7, pp. 22–31, 2020, doi: 10.15408/ijee.v7i1.15541.

A. Hadi, “Pemahaman Membaca Siswa Pada Pembelajaran dengan Metode KWL,” vol. 19, no. 1, pp. 1–14, 2024, doi: 10.29408/edc.v19i1.22770.