Login
Section Elementary Education Method

Make a Match Cooperative Pedagogy Facilitates Reading Comprehension In Elementary Students

Pedagogi Kooperatif Make a Match Memfasilitasi Pemahaman Membaca Pada Siswa SD
Vol. 21 No. 2 (2026): May:

Ika Puspita Sari (1), Mahardika Darmawan Kusuma Wardana (2)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Reading comprehension serves as a fundamental literacy skill essential for knowledge acquisition and overall academic success in early education. Specific Background: Fourth-grade learners frequently struggle to identify main ideas, differentiate factual from fictional information, and grasp implicit meanings within narrative texts. Knowledge Gap: While interactive models are widely recognized, the systematic integration of card-pairing strategies specifically grounded in Tarigan’s literary reading theory remains underexplored for primary education. Aims: This research investigates the application of Tarigan-based collaborative card-pairing on the narrative text mastery of fourth-grade students at SDN Krembung 1. Results: Utilizing a quantitative one-group pretest-posttest design with 20 participants, the statistical analysis demonstrated a significant mean score progression from an initial 55.00 to 84.75, supported by a paired sample t-test significance value of 0.000. Novelty: The intervention uniquely merges active pairing mechanics with structured fiction analysis, prompting learners to collaboratively evaluate characters, plots, and implicit narrative messages. Implications: Incorporating this student-centered approach provides educators with a practical framework to transform passive text deciphering into a dynamic, peer-driven process that solidifies deeper literary analysis.


Highlights:




  • Active card-pairing exercises significantly raise narrative text evaluation scores among young learners.




  • Integrating Tarigan’s literary theory bridges the gap between literal decoding and implicit meaning identification.




  • Interactive instructional frameworks transform passive literary deciphering into dynamic peer-driven knowledge construction.




Keywords: Literacy Development, , Tarigan Theory, Student Centered Learning, Educational Interventions

I. Pendahuluan

Kemampuan membaca pemahaman merupakan keterampilan dasar yang esensial bagi siswa sekolah dasar karena berperan penting dalam mendukung akuisisi pengetahuan dan perkembangan literasi peserta didik [1]. Keterampilan membaca pemahaman dalam penelitian ini didefinisikan sebagai kemampuan membaca untuk memahami isi bacaan secara utuh, menemukan ide pokok, serta menyampaikan kembali informasi isi bacaan menggunakan kata-kata sendiri. Membaca pemahaman tidak hanya menekankan kemampuan memahami isi bacaan secara literal, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap struktur, makna, dan unsur-unsur kesastraan dalam teks. [2] menjelaskan bahwa membaca pemahaman (reading for understanding) merupakan kegiatan membaca yang bertujuan untuk memahami standar-standar kesastraan, resensi kritis, drama tulis, serta pola-pola fiksi, sehingga pembaca dituntut untuk mampu menginterpretasikan makna tersurat dan tersirat serta memahami keterkaitan antar unsur dalam teks secara menyeluruh [3]. Proses pembelajaran membaca yang efektif di sekolah dasar mencakup pengembangan kosakata, pemahaman isi bacaan, kemampuan memahami isi bacaan, serta kefasihan membaca yang dilaksanakan secara terpadu guna membentuk kompetensi literasi yang komprehensif. Kompetensi tersebut menjadi landasan penting dalam mendukung pencapaian hasil belajar peserta didik [4]. Oleh karena itu, keterampilan membaca perlu dikembangkan sejak dini karena memiliki peran strategis dalam menunjang keberhasilan peserta didik dalam mengikuti keseluruhan proses pendidikan. Pada jenjang awal sekolah dasar, masih banyak peserta didik mengalami kesulitan dalam membaca pemahaman. Siswa sekolah dasar masih mengalami kesulitan dalam memahami isi bacaan serta menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan teks [5]. Kesulitan dasar tersebut dapat berpotensi mengakibatkan rendahnya kemampuan membaca pemahaman pada peserta didik di jenjang kelas tinggi. Oleh sebab itu, keterampilan membaca pemahaman memiliki peranan yang sangat penting dalam mendukung keberhasilan proses belajar peserta didik [6]. Kesulitan membaca pemahaman pada siswa sekolah dasar tidak hanya pada memahami informasi tersurat, tetapi juga pada kemampuan memahami makna tersirat dan tersurat [7].

Aktivitas membaca pada jenjang sekolah dasar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pembelajaran Bahasa Indonesia mencakup empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Namun, dalam praktik pembelajaran sering ditemukan peserta didik yang mampu membaca secara teknis, tetapi mengalami kesulitan dalam menemukan informasi penting dan ide pokok dalam paragraf bacaan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan membaca pemahaman peserta didik masih belum berkembang secara optimal. Berdasarkan hasil dari observasi awal, diperoleh informasi bahwa nilai rata-rata keterampilan membaca pemahaman siswa masih berada di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), hal tersebut sejalan dengan penelitian [8], [9]. Dari 20 siswa, sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam menemukan ide pokok dan memahami makna tersirat dalam teks bacaan. Hal ini perlu ditingkatkan melalui penerapan metode pembelajaran yang tepat.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, permasalahan yang dihadapi oleh guru kelas IV SD Negeri Krembung 1 pada pembelajaran Bahasa Indonesia menunjukkan masih rendahnya kemampuan peserta didik dalam proses pembelajaran, terutama pada pembelajaran teks cerita [10], [11]. Hal ini ditandai dengan siswa belum mampu memahami makna tersurat dan tersirat dalam bacaan secara optimal. Peserta didik belum menunjukkan kemampuan memahami isi bacaan secara komprehensif, terutama dalam menafsirkan makna tersirat yang terkandung di dalam teks. Selain itu, peserta didik juga masih mengalami kesulitan dalam menginterpretasikan maksud yang disampaikan pengarang, khususnya dalam membedakan informasi yang bersifat faktual dan fiktif. Kemampuan membaca kritis peerta didik juga masih tergolong rendah, yang ditunjukkan oleh kurangnya partisipasi aktif dalam mengemukakan kembali isi bacaan yang telah dibaca. Di sisi lain, kemampuan membaca kreatif belum berkembang secara optimal karena peserta didik masih mengalami hambatan dalam menemukan ide-ide yang terdapat dalam teks.

Metode pembelajaran sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran, dengan penggunaan model pembelajaran dapat menunjang keberhasilan suatu pembelajaran. Salah satu metode pembelajaran yang sesuai yakni Metode pembelajaran Kooperatif tipe Make a Match. Make a Match adalah model yang dikembangkan oleh [12] bertujuan untuk membantu peserta didik memahami materi melalui aktivitas mencocokkan kartu soal dan jawaban dalam suasana belajar yang menyenangkan. Metode ini memiliki kelebihan dalam menciptakan proses pembelajaran yang aktif, partisipatif, dan kondusif sehingga mampu meningkatkan motivasi serta antusiasme peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Namun demikian, penerapan metode Make a Match memerlukan persiapan media pembelajaran yang matang serta kemampuan pengelolaan kelas yang efektif agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara optimal tanpa menimbulkan kondisi kelas yang kurang kondusif.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Make a Match efektif dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik sekolah dasar. Penerapan Make a Match mampu meningkatkan keterlibatan siswa dan pemahaman konsep pada berbagai mata pelajaran karena menekankan aktivitas mencocokkan konsep secara kolaboratif [13]. Sejalan dengan itu, penggunaan Make a Match berbantuan buku digital literacy cloud dapat meningkatkan keterampilan membaca pemahaman teks narasi siswa sekolah dasar [14]. Penelitian lain menunjukkan adanya peningkatan prestasi belajar siswa pada pembelajaran tematik melalui penerapan model Make a Match [15]. Sementara itu, [16] menegaskan bahwa model ini mampu menciptakan suasana belajar yang aktif, menyenangkan, serta meningkatkan kerja sama dan interaksi sosial antar peserta didik [17] .

Efektivitas model Make a Match telah dibuktikan melalui berbagai penelitian terdahulu. Namun demikian, sebagian besar penelitian masih berfokus pada peningkatan hasil belajar secara umum belum secara spesifik mengaitkan penerapan Make a Match dengan teori membaca pemahaman tertentu, terutama teori membaca menurut [3] yang menekankan pemahaman terhadap struktur dan unsur teks fiksi secara mendalam. Lebih lanjut, [3] menekankan bahwa pemahaman terhadap pola-pola fiksi mencakup kemampuan memahami unsur-unsur pembangun cerita, seperti tema, alur (plot), penokohan, konflik, latar, dan pusat cerita.

Pemahaman terhadap unsur-unsur tersebut penting agar peserta didik tidak hanya mampu membaca teks cerita secara mekanis, tetapi juga dapat memangkap makna, nilai, serta pesan yang disampaikan pengarang. Oleh karena itu, pembelajaran membaca pemahaman perlu dirancang secara sistematis agar mampu membantu peserta didik memahami pola-pola fiksi secara utuh. Berdasarkan kajian terhadap penelitian-penelitian terdahulu, dapat disimpulkan bahwa masih terdapat celah penelitian (research gap), yaitu belum adanya penelitian yang secara sistematis mengintegrasikan model pembelajaran Make a Match dengan teori membaca pemahaman menurut Tarigan, khususnya pada pembelajaran teks cerita di kelas IV sekolah dasar. Padahal teori Tarigan menekankan pentingnya pemahaman struktur, makna tersurat dan tersirat, serta unsur fiksi dalam meningkatkan keterampilan membaca pemahaman peserta didik.

Berdasarkan latar belakang dan celah penelitian tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk Mengetahui Pengaruh Metode Make a Match berbasis teori Tarigan terhadap keterampilan membaca pemahaman siswa. Penelitian ini diharapkan memiliki implikasi baik secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian pembelajaran membaca pemahaman dengan mengintegrasikan model pembelajaraan kooperatif tipe Make a Match dan teori membaca menurut Tarigan. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif bagi guru sekolah dasar dalam merancang pembelajaran membaca pemahaman teks cerita lebih aktif, menarik, dan bermakna, sehingga mampu meningkatkan keterampilan membaca peserta didik.

II. Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen, dan jenis penelitian pre-experimental design. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu one group pretest-posttest. Desain ini cocok untuk penelitian yang hanya melibatkan satu kelompok kelas yang diberikan perlakuan tanpa kelompok kontrol, sehingga memungkinkan pengukuran perubahan sebelum dan sesudah perlakuan. Prosedur penelitian terdiri dari tiga tahap utama, yaitu pelaksanaan pretest untuk mengukur kondisi awal, pemberian treatment sebagai perlakuan, dan posttest untuk menilai pengaruh perlakuan tersebut. Rancangan prosedur penelitian ini dapat divisualisasikan dalam tabel 2.1 sebagai representasi sistematis dari tahapan [18].

Tabel 1. Desain Penelitian One Group Pretest Posttest

Keterangan:

O1: Nilai pretest (sebelum diberi perlakuan)

x: Perlakuan (penerapan metode Make a Match)

O2: Nilai posttest (setelah diberi perlakuan)

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SD Negeri Krembung 1 yang terdiri atas kelas IV A dan IV B dengan jumlah keseluruhan 53 siswa. Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang memiliki karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya[19]. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu sesuai dengan kebutuhan penelitian. Berdasarkan teknik tersebut, sampel penelitian ditetapkan pada siswa kelas IV A yang berjumlah 20 siswa. Pemilihan kelas IV A dilakukan berdasarkan pertimbangan kebutuhan penelitian, yaitu pada kelas IV B sedang mengikuti kegiatan evaluasi pembelajaran sehigga tidak memungkinkan untuk terlibat dalam seluruh rangkaian penelitian. Selain itu, siswa kelas IV A memenuhi kriteria penelitian karena dapat mengikuti kegiatan pretest, penerapan metode Make a Match, dan posttest secara lengkap dan sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Dengan demikian, pemilihan sampel dilakukan agar proses pengumpulan data dapat berjalan secara efektif tanpa menganggu kegiatan akademik di sekolah.

Instrumen dalam penelitian ini berupa tes pilihan ganda yang disusun berdasarkan indikator membaca pemahaman u Penilaian hasil belajar kognitif dalam penelitian ini dikembangkan berdasarkan [20]. Tingkat pemahaman siswa terhadap isi bacaan atau cerita yang diberikan sealama proses pembelajaran berlangsung. Adapun aspek yang dinilai mencakup beberapa indikator kemampuan memahami, yaitu kemampuan siswa dalam mengidentifikasi tokoh dalam cerita, menentukan latar cerita, menentukan alur cerita, memahami informasi faktual yang terdapat pada teks cerita, menentukan hubungan sebab-akibat dalam cerita., dan menyimpulkan cerita Keenam indikator tersebut dipilih karena dianggap mampu menggambarkan Tingkat pemahaman membaca siswa secara menyeluruh.

Proses penilaian, setiap indikator diberikan ketepatanjawaban siswa. Skor yang digunakan terdirri atas dua kategori, yaitu skor 0 dan skor 1. Skor 0 diberikan apabila siswa memberikan jawaban salah atau tidak menjawab, sedangkan skor 1 diberikan apabila siswa mampu menjawab soal dengan benar sesuai dengan indikator yang dinilai. Melalui sistem penilai tersebut, peneliti dapat mengetahui tingkat kemampuan memahami siswa pada setiap indikator pembelajaran yang telah diterapkan. Hasil penilaian kemudian digunakan sebagai dasar untuk menganalisis peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran dalam penelitian ini. Sebelum instrumen digunakan dalam penelitian instrumen terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya untuk memastikan kelayakan instrumen sebagai alat pengumpulan data diberikan dua kali yaitu saat pretest dan posttest.

Instrumen penelitian yang telah disusun selanjutnya diuji terlebih dahulu untuk mengetahui tingkat kelayakan instrumen sebelum digunakan dalam proses pengambilan data penelitian. Pengujian instrumen dilakukan melalui uji validitas isi dan validitas empiris. Uji validitas isi (content validity) bertujuan untuk mengetahui keseusaian antara butir soal dengan indikator pembelajaran, tujuan penelitian, materi serta aspek keterampilan membaca pemahaman yang akan diukur. Validitas isi ini dilakukan melalui penilaian oleh validator ahli, yaitu dosen dan guru kelas, dengan mempertimbangkan ketepatan penggunaan bahasa, kesesuaian tingkat kesulitan soal dengan karakteristik siswa sekolah dasar, serta keterkaitan soal dengan indikator kemampuan membaca pemahaman. Melalui proses validasi tersebut, peneliti memperoleh masukkan dan saran perbaikan terhadap instrumen agar soal yang digunakan benar-benar mampu mengukur kemampuan yang ingin diteliti secara tepat dan sesuai dengan tujuan penelitian.

Setelah melalui tahap validitas isi dan dilakukan revisi sesuai saran validator, instrumen kemudian diuji menggunakan validitas empiris atau validitas butir soal. Uji validitas empiris dilakukan untuk mengetahui tingkat kevalidan masing-masing butir menggunakan korelasi Product Moment Pearson dengan bantuan software SPSS versi 26. Setiap butir soal dianalisis dengan membandingkan nilai r hitung lebih besar daripada r tabel pada taraf signifikansi 0,05. Butir soal dinyatakan valid apabila nilai r hitung lebih besar daripada r tabel, sedangkan butir soal dinyatakan tidak valid apabila nilai r hitung lebih kecil atau sama dengan r tabel. Melalui pengujian tersebut, peneliti dapat mengetahui butir soal yang layak digunakan maupun yang perlu diperbaiki atau dibuang sehingga instrumen yang digunakan dalam penelitian memiliki tingkat ketepatan pengukuran yang baik.

Berdasarkan uji validitas tersebut, diperoleh 20 butir soal yang valid dan kemudian digunakan sebagai instrumen pretest dan posttest. Untuk menilai kesesuaian antara indikator dan butir soal dengan menggunakan kriteria bahwa butir soal dinyatakan valid jika r hitung lebih besar dari r tabel pada tingkat signifikansi 0,05 dan tidak valid jika nilai r hitung sama atau kurang dari r tabel. Selanjutnya, uji reliabilitas dengan Cronbach’s Alpha yang dilakukan untuk mengukur konsistensi instrumen, dan hasilnya menunjukkan bahwa instrumen berada pada kategori reliabel. Butir soal yang telah dinyatakan valid dan reliabel tersebut kemudian digunakan dalam pelaksaan pretest dan posttest.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan lembar soal pretest dan posttest. Instrumen yang digunakan berupa tes objektif berbentuk pilihan ganda sebanyak 20 butir soal yang disusun berdasarkan indikator membaca pemahaman. Indikator tersebut yaitu, mengidentifikasi tokoh, menentukan latar cerita, memahami alur cerita, memahami informasi faktual yang terdapat pada teks cerita, menentukan hubungan sebab-akibat dalam cerita dan menyimpulkan isi cerita. Pretest diberikan sebelum perlakuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa, sedangkan posttest diberikan setelah penerapan metode Make a Match untuk mengetahui pengaruh keterampilan membaca pemahaman.

Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial. Statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan data hasil penelitian yang diperoleh dari nilai pretest dan posttest siswa. Data tersebut disajikan melalui nilai rata-rata (mean), nilai minimum, nilai maximum, dan standar deviasi sehingga dapat memberikan gambaran umum mengenai kemampuan membaca pemahaman siswa sebelum dan sesudah perlakuan diberikan. Nilai rata-rata digunakan untuk mengetahui kecenderungan hasil belajar siswa secara umum, sedangkan standar deviasi digunakan untuk mengetahui tingkat penyebaran data atau variasi niali siswa. Dengan menggunakan statistik deskriptif, peneliti dapat melihat perbedaan hasil belajar siswa secara sederhana sebelum dilakukan pengujian lebih lanjut.

Selain statistik deskriptif, penelitian ini juga menggunakan statistik inferensial. Statistik inferensial merupakan teknik analisis statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian dan menarik kesimpulan berdasarkan data sampel terhadap populasi penelitian. Dalam penelitian ini, statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh penerapan metode Make a Match terhadap keterampilan membaca pemahaman siswa kelas IV SDN Krembung 1. Analisis statistik inferensial dilakukan melalui uji prasyarat analisis dan uji hipotesis dengan software SPSS versi 26 agar proses perhitungan data menjadi lebih akurat dan sistematis.

Sebelum dilakukan uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis berupa uji normalitas menggunakan uji Shapiro-Wilk karena jumlah sampel penelitian kurang dari 50 siswa. Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data penelitian berdistribusi normal atau tidak. Kriteria pengujian yang digunakan yaitu apabilanilai signifikansi (Sig.) > 0,05, maka data dinyatakan berdistribusi normal., sedangkan apabila nilai signifikansi (Sig.) < 0,05 maka data dinyatakan tidak berdistribusi normal. Setelah data dinyatakan berdistribusi normal, selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis menggunakan uji paired sample t-test.

Pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan hasil belajar membaca pemahaman siswa sebelum dan sesudah penerapan metode Make a Match. Hipotesis nol (H₀) dalam penelitian ini menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh atau tidak terdapat perbedaan hasil keterampilan membaca pemahaman siswa sebelum dan sesudah penerapan metode Make a Match. Sementara itu, hipotesis alternatif (Hₐ) menyatakan bahwa terdapat pengaruh atau terdapat perbedaan hasil keterampilan membaca pemahaman siswa sebelum dan sesudah penerapan metode Make a Match. Dasar pengambilan keputusan dilakukan dengan melihat nilai signifikansi (Sig.) pada hasil uji paired sample t-test. Jika nilai Sig. < 0,05 maka H₀ ditolak dan Hₐ diterima, yang berarti terdapat pengaruh penerapan metode Make a Match terhadap keterampilan membaca pemahaman siswa. Sebaliknya, jika nilai Sig. > 0,05 maka H₀ diterima dan Hₐ ditolak, yang berarti tidak terdapat pengaruh penerapan metode Make a Match terhadap keterampilan membaca pemahaman siswa.

III. Hasil dan Pembahasan

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Krembung 1 dengan melibatkan 20 siswa kelas IV sebagai subjek penelitian. Seluruh rangkaian kegiatan penelitian mulai dari persiapan, pelaksanaan pengumpulan data, hingga penutupan dilakukan dalam konteks pembelajaran di lingkungan sekolah dasar tersebut sehingga mampu menggambarkan kondisi nyata proses belajar siswa kelas IV pada saat itu. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari lembar soal pretest dan posttest berupa 20 butir pilihan ganda yang mengukur keterampilan membaca pemahaman berdasarkan indikator teori Tarigan. Sebelum digunakan dalam proses pengumpulan data, instrumen tersebut terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya melalui uji coba yang dilakukan di Bimbel Cendekia Ganting.

Uji coba instrumen di Bimbel Cendekia Ganting dengan melibatkan 16 siswa sebagai responden uji coba. Pemilihan Bimbel Cendekia Ganting sebagai tempat uji coba didasarkan pada pertimbangan bahwa siswa yang menjadi responden berada pada jenjang kelas dan karakteristik yang setara dengan subjek penelitian di SD Negeri Krembung 1, sehingga hasil uji validitas dan reliabilitas dapat merepresentasikan kualitas instrumen untuk populasi siswa yang serupa. Uji validitas dilakukan untuk mengevaluasi sejauh mana instrumen dapat mengukur hal yang diinginkan, sedangkan uji reliabilitas bertujuan untuk menilai konsistensi instrumen apabila digunakan secara berulang.

Hasil uji validitas menggunakan korelasi Pearson Product Moment menunjukkan bahwa seluruh butir soal dinyatakan valid dengan nilai r hitung berkisar antara 0,507 hingga 0,762, seluruhnya lebih besar dari nilai r tabel 0,497 pada taraf signifikansi α = 0,05. Sementara itu, hasil uji reliabilitas dengan metode Cronbach’s Alpha memperoleh nilai sebesar 0,917, sehingga instrumen penelitian dinyatakan reliabel dan layak digunakan untuk mengambil data keterampilan membaca pemahaman siswa kelas IV SDN Krembung 1.

Tabel 2. Uji Validitas (Korelasi Pearson Product Moment)

Berdasarkan Tabel 2, diatas diketahui bahwa seluruh butir soal memperoleh nilai r hitung lebih besar daripada r tabel sebesar 0,497 dengan taraf signifikansi 5% selain itu, nilai signifikansi masing-masing butir soal menunjukkan kurang dari 0,05. Dengan demikian, seluruh butir soal P1 samapi P20 dinyatakan valid dan layak digunakan sebagai instrumen peneitian untuk mengukur keterampilan membaca pemahaman siswa.

Tabel 3. Uji Realibilitas

Berdasarkan Tabel 3, uji reliabilitas, diperoleh nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,917 pada 20 butir soal. Nilai tersebut menunjukkan bahwa instrumen penelitian memiliki tingkat reliabilitas sangat tinggi karena nilai Cronbach’s Alpha > 0,70. Dengan demikian, instrumen penelitian dinyatakan reliabel dan layak digunakan sebagai alat pengumpulan data dalam penelitian. Setelah instrumen dinyatakan valid dan reliabel tahap selanjutnya adalah pelaksanaan pretest dan posttest untuk memperoleh data hasil belajar siswa sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Berikut data nilai pretest dan posttest siswa disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Nilai Pretest dan Posttest

Berdasarkan data diatas, terlihat bahwa terdapat kecenderungan peningkatan nilai dari pretest ke posttest. Terdapat peningkatan keterampilan membaca pemahaman siswa sebesar 29,75 poin. Peningkatan ini menunjukkan pola yang relatif merata pada seluruh 20 siswa kelas IV SD Negeri Krembung I tanpa terkecuali, yang menunjukkan bahwa penerapan metode Make a Match memberikan dampak positif secara konsisten terhadap keterampilan membaca pemahaman setiap individu siswa. Data hasil pretest dan posttest yang telah diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk mengetahui gambaran umum hasil belajar siswa sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil analisis statistik tersebut tersaji pada tabel 5.

Tabel 5. Statistik Deskriptif

Berdasarkan hasil statistik dekriptif di atas, diketahui bahwa jumlah siswa sebanyak 20 siswa. Nilai rata-rata pretest siswa sebesar 55,00 dengan nilai minimum 40,00 dan nilai maksimum 65,00. Setelah diberikan perlakuan menggunakan metode pembelajaran Make a Match, nilai rata-rata posttest meningkat menjadi 84,75 dengan nilai minimum 75,00 dan nilai maksimum 95,00. Selain itu, standar deviasi pada pretest sebesar 6,07 dan posttest sebesar 5,25 menunjukkan bahwa sebaran nilai peserta didik pada posttest lebih merata dibandingkan pretest. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan keterampilan membaca pemahaman siswa setelah diterapkan model pembelajaran metode Make a Match. Sebelum dilakukan uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat berupa uji normalitas yang tersaji pada Tabel 6.

Tabel 6. Hasil Uji Normalitas

Uji prasyarat yaitu dengan uji normalitas terlebih dahulu untuk mengetahui apakah data tersebut berdistribusi normal. Berdasarkan hasil data dari uji normalitas termasuk dalam kategori Shapiro-Wilk dikarenakan jumlah sampel kurang dari 50. Nilai Shapiro-Wilk berdasarkan nilai pretest adalah 0,82 dengan Sig. = 0,101 dan nilai Shapiro-Wilk berdasarkan nilai posttest adalah 0,906 dengan Sig. =0,054. Karena nilai Sig. Dari data pretest dan posttest > 0,05 dapat dinyatakan berdistribusi normal. Berdasarkan hasil uji normalitas, data pada kedua kelompok penelitian berdistribusi normal. Setelah data dinyatakan berdistribusi normal melalui uji normalitas.

Analisis dilanjutkan ke tahap uji hipotesis ini menggunakan uji paired sample t-test dengan membandingkan nilai pretest dan posttest pada subjek yang sama. Tujuan uji paired sample t-test ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan nilai yang signifikansi antara hasil perlakuan (pretest) dan sesudah perlakuan (posttest) untuk uji paired sample t-test dapat dilihat pada tabel 7 berikut.

Tabel 7. Hasil Paired Sample t-Test

Berdasarkan hasil uji paired sample t-test pada Tabel 7, diperoleh nilai t hitung sebesar -13,397 dengan derajat kebebasan df = 19 dan nilai signifikansi (Sig. 2-tailed) sebesar 0,000. Nilai signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05), sehingga H₀ ditolak dan H₁ diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest siswa setelah diterapkannya metode pembelajaran Make a Match. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penerapan metode Make a Match berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan keterampilan membaca pemahaman siswa kelas IV SD Negeri Krembung 1. Peningkatan tersebut juga terlihat dari rata-rata nilai siswa yang megalami kenaikan dari 55,00 pada saat pretest menjadi 84,75 pada saat posttest, sehigga terjadi peningkatan sebesar 29,75 poin setelah diberikan perlakuan.

Peningkatan keterampilan membaca pemahaman siswa setelah diterapkannya metode pembelajaran Make a Match dapat diinterpretasikan melalui beberapa aspek proses pembelajaran yang berlangsung selama penelitian. Metode Make a Match tidak hanya menempatkan siswa sebagai penerima informasi secara pasif tetapi juga melibatkan siswa secara aktif dalam proses menemukan pasangan kartu yang sesuai berdasarkan isi bacaan yang telah dipelajari. Aktivitas tersebut mendorong siswa untuk membaca buku teks dengan lebih teliti, memahami isi cerita secara menyeluruh, serta menghubungkan informasi yang diperoleh dengan pasangan kartu yang dimiliki. Dalam proses tersebut, siswa tidsk hanya menghafal isi bacaan tetapi juga berlatih memahami hubungan antar unsur cerita seperti tokoh, alur, sebab-akibat, dan amanat cerita. Kondisi ini menunjukkan bahwa metode Make a Match mampu menciptakan proses belajar yang berpusat pada siswa (student centered learning), sehingga siswa menjadi lebih aktif dalam membangun pemahamannya sendiri terhadap teks bacaan.

Interaksi sosial antar siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung turut memberikan konstribusi terhadap peningkatan keterampilan membaca pemahaman. Pada saat siswa mencari pasangan kartu, terjadi proses diskusi, tanya jawab, serta pertukaran pendapat antarsiswa mengenai isi teks yang dibaca. Aktivitas tersebut secara tidak langsung membantu siswa memperkuat pemahamannya melalui proses berpikir bersama dan klarifikasi informasi. Suasana belajar yang interaktif dan menyenangkan juga membuat siswa lebih antusias mengikuti pembelajaran dibandingkan pembelajaran konvensional yang cenderung monoton. Ketika siswa nyaman dan termotivasi dalam belajar kemampuan mereka dalam memahami isi bacaan menjadi lebih optimal. Hal ini terlihat dari meningkatnya rata-rata hasil posttest siswa yang menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mampu memahami isi teks dengan lebih baik setelah diberikan perlakuan menggunakan metode Make a Match.

Peningkatan tersebut juga menunjukkan bahwa metode Make a Match mampu melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dalam membaca pemahaman. Siswa tidak hanya diminta membaca teks secara literal tetapi juga memahami makna tersirat, menentukan hubungan sebab-akibat, mengidentifikasi unsur instrinsik cerita, serta menarik kesimpulan berdasarkan isi bacaan. Kemampuan tersebut sejalan dengan teori membaca pemahaman [3] yang menyatakan bahwa membaca pemahaman merupakan proses memperoleh makna dari bacaan melalui kegiatan memahami, menafsirkan, dan mengubungkan informasi dalam teks. Dengan demikian, penerapan metode Make a Match terbukti mampu membantu siswa meningkatkan keterampilan membaca pemahaman secara lebih efektif karena melibatkan aspek kognitif, sosial, dan emosional siswa dalam proses pembelajaran.

Hasil penelitian ini juga diperkuat oleh beberapa penelitian terdahulu yang menujukkan bahwa metode pembelajaran Make a Match efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa sekolah dasar. Penelitian yang dilakukan oleh [21] membuktikan bahwa model Make a Match mampu meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas IV karena siswa menjadi lebih aktif dan termotivasi sealama proses pembelajaran berlangsung. Penelitian yang dilakukan oleh [22] juga menunjukkan bahwa penerapan metode Make a Match memberikan peningkatan hasil belajar yang signifikan karena siswa dilibatkan secara langsung dalam aktivitas pembelajaran yang bersifat kooperatif dan interaktif. Selain itu, penelitian membuktikan bahwa metode Make a Match memberikan pengaruh positif terhadap hasil belajar kognitif siswa, terutama dalam meningkatkan pemahaman materi pembelajaran melalui aktivitas mencocokkan kartu secara berpasangan [23].

Temuan penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian [8] yang menemukan adanya pengaruh signifikan metode Make a Match terhadap peningkatan hasil belajar siswa sekolah dasar. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa kegiatan belajar yang melibatkan permainan edukatif dapat meningkatkan perhatian dan konsentrasi siswa selama proses pembelajaran. Selanjutnya, penelitian [24] juga membuktikan bahwa metode Make a Match efektif dalam meningkatkan keterampilan membaca siswa sekolah dasar karena siswa lebih mudah memahami isi bacaan melalui aktivitas belajar yang menyenangkan dan tidak membosankan. Hasil penelitian yang sejalan tersebut mengindikasikan bahwa metode pembelajaran Make a Match memiliki tingkat efektivitas yang relatif konsisten dalam meningkatkan kemampuan belajar peserta didik pada berbagai materi pembelajaran.

Berdasarkan temuan penelitian serta dukungan dari penelitian terdahulu, dapat dipahami bahwa peningkatan keterampilan membaca pemahaman peserta didik tidak hanya tercermin dari kenaikan hasil belajar secara kuantitatif, tetapi juga terlihat pada perubahan perilaku belajar selama proses pembelajaran berlangsung. Peserta didik menunjukkan keterlibatan yang lebih aktif dalam kegiatan membaca, memiliki rasa percaya diri yang lebih baik dalam menyampaikan pendapat, lebih berani berpartisipasi dalam diskusi, serta lebih mudah memahami unsur-unsur yang terdapat dalam teks cerita. Selain itu, kegiatan mencocokkan kartu dalam metode Make a Match turut melatih kemampuan analisis dan interpretasi peserta didik terhadap isi bacaan, karena peserta didik dituntut untuk memahami informasi dalam teks sebelum menentukan pasangan kartu yang tepat. Oleh karena itu, penerapan metode Make a Match tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan hasil belajar, tetapi juga mampu menciptakan proses pembelajaran yang aktif, kolaboratif, dan bermakna bagi peserta didik sekolah dasar [25].

Penggunaan metode Make a Match dapat meningkatkan motivasi belajar siswa karena proses pembelajaran dikemas dalam bentuk permainan edukatif yang menarik dan tidak monoton [26]. Meskipun metode Make a Match terbukti mampu meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa, penerapannya masih memiliki beberapa kendala dalam proses pembelajaran. Aktivitas siswa yang tinggi selama kegiatan mencocokkan kartu dapat menyebabkan suasana kelas menjadi kurang kondusif apabila guru tidak mampu mengelola kelas dengan baik [27]. Selain itu, metode ini memerlukan persiapan yang cukup matang, terutama dalam penyusunan media pembelajaran seperti kartu pertanyaan dan jawaban yang harus disesuaikan dengan materi pembelajaran. Penerapan metode Make a Match juga membutuhkan wakru pembelajaran yang relatif lebih panjang dibandingkan metode konvensional karena siswa harus melakukan aktivitas mencari pasangan kartu dan berdiskusi dengan teman. Di samping itu, tidak semua siswa memiliki kemampuan membaca dan kecepatan belajar yang sama sehingga beberapa siswa masih memerlukan bimbingan guru agar dapat mengikuti kegiatan pembelajaran secara optimal [28]. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa model Make a Match memerlukan pengelolaan kelas yang baik, kesiapan media pembelajaran, serta kemampuan guru dalam mengkondisikan kelas agar pembelajaran berjalan efektif dan terarah [29].

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, metode Make a Match direkomendasikan sebagai salah satu alternatif pembelajaran membaca pemahaman di sekolah dasar karena terbukti mampu meningkatkan keterampilan membaca pemahaman, keaktifan, dan motivasi belajar siswa. Melalui aktivitas mencocokkan kartu, siswa menjadi lebih aktif dalam membaca, berdiskusi, serta memahami isi bacaan secara mendalam. Selain itu, suasana pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan dapat membantu siswa lebih fokus selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nanda yang menyatakan bahwa metode Make a Match efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca pemhaman siswa sekolah dasar [29]. Penelitian fauziah juga menunjukkan hasil belajar dan keaktifan siswa secara signifikan. Namun demikian, dalam penerapannya guru perlu mempersiapkan media pembelajaran secara matang dan mengelola kelas dengan baik agar aktivitas siswa tetap kondusif selama proses pembelajaran berlangsung. Selain itu, guru juga perlu memperhatikan kondisi kelas dan kemampuan siswa karena tidak semua siswa memiliki kemampuan membaca dan kecepatan belajar yang sama. Pada kelas dengan jumlah siswa yang besar, metode ini memerlukan pengawasan yang lebih intensif agar seluruh siswa dapat terlibat secara optimal. Hal tersebut sejalan dengan Fitri yang menjelaskan bahwa model Make a Match membutuhkan kemampuan guru dalam mengkondisikan kelas agar pembelajaran tetap efektif [30]. Penelitian Maria juga menyatakan metode Make a Match memerlukan waktu pembelajaran yang lebih panjang serta persiapan media yang lebih kompleks dibandingkan pembelajaran konvensional [31]. Oleh karena itu, penerapan metode Make a Match perlu disesuikan dengan kondisi kelas, ketersediaan waktu, serta kesiapan guru dalam mengelola pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.

IV. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran Make a Match berbasis teori Henry Guntur Tarigan berpengaruh terhadap keterampilan membaca pemahaman siswa kelas IV SD Negeri Krembung 1yang dibuktikan melalui uji paired sample t-test dengan nilai t hitung sebesar -13,397 dan nilai signifikansi 0,000 (< 0,05), serta peningkatan nilai rata-rata siswa dari 55,00 pada pretest menjadi 84,75 pada posttest dengan selisih 29,75 poin secara merata pada seluruh 20 siswa. Pengaruh tersebut terjadi karena Metode Make a Match mampu menciptakan pembelajaran yang aktif, interaktif, dan menyenangkan sehingga siswa lebih mudah memahami isi bacaan, lebih aktif berdiskusi, serta lebih terlibat dalam proses pembelajaran. Meskipun demikian, penelitian ini masih memiliki keterbatasan karena hanya menggunakan satu kelompok penelitian dengan jumlah sampel yang terbatas dan dilaksanakan dalam waktu yang relatif singkat. Oleh karena itu, peneliti selanjutnya disarankan untuk menggunakan desain eksperimen yang lebih kuat dengan melibatkan kelompok kontrol, jumlah sampel yang lebih besar, serta mengembangkan penerapan metode Make a Match pada materi maupun jenjang pendidikan yang berbeda agar hasil penelitian dapat lebih luas dan mendalam. Agar hasil penelitian dapat lebih luas dan mendalam, secara teoritis penelitian ini memperkuat membaca Tarigan dalam konteks pembelajaran kooperatif. Secara praktis, metode Make a Match dapat dijadikan alternatif metode pembelajaran yang efektif bagi guru dalam meningkatkan keterampilan siswa sekolah dasar.mpulan menggambarkan jawaban dari hipotesis dan/atau tujuan penelitian atau temuan ilmiah yang diperoleh. simpulan bukan berisi perulangan dari hasil dan pembahasan, tetapi lebih kepada ringkasan hasil temuan seperti yang diharapkan di tujuan atau hipotesis. Bila perlu, di bagian akhir simpulan dapat juga dituliskan hal-hal yang akan/perlu dilakukan terkait dengan gagasan selanjutnya dari penelitian tersebut

Ucapan Terima Kasih

Peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, bantuan, dan kontribusi dalam penyelesaian penelitian ini. Terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah memberikan arahan, dan masukan yang sangat berharga selama proses penelitian berlangsung. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Kepala Sekolah dan seluruh guru SDN Krembung 1 yang telah memberikan izin dan kemudahan kepada peneliti dalam melaksanakan penelitian di sekolah tersebut. Terima kasih kepada siswa kelas IV SD Negeri Krembung 1 yang telah berpartisipasi aktif selama proses penelitian. Tidak lupa, ucapan terima kasih disampaikan kepada pengelola Bimbel Cendekia yang telah bersedia menjadi tempat uji coba Instrumen penelitian. Semua penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi pengembang pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya dalam meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa sekolah dasar.

.

References

H. N. Fadhilah, S. Ratyasha, T. Donda, and S. F. Giwangsa, “Analisis Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa dengan Menggunakan Soal HOTS di Sekolah Dasar,” vol. 2, no. 4, pp. 868–876, 2024.

E. Septiarsih, “Spectrum: Journal of Child Education The Application of Clay Media-Based Scientific Learning in Improving Children’s Collaboration Skills,” Spectr. J. Child Educ., vol. 01, no. 1, pp. 8–19, 2025.

H. G. Tarigan, Membaca: Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Angkasa, 1986.

J. I. Pendidikan, J. Juhanaini, A. J. Rizqita, and L. A. Putri, “Cakrawala Pendidikan Improving reading comprehension learning for students with learning disabilities through know-want-learned strategy,” vol. 44, no. 1, pp. 169–176, 2025.

D. A. Saputri and W. Sukartiningsih, “Analisis keterampilan membaca pemahaman siswa kelas III sekolah dasar dalam konteks implementasi program literasi sekolah,” pp. 29–39.

E. I. Sari, C. Wiarsih, and D. Bramasta, “Strategi Guru Dalam Meningkatkan Keterampilan Membaca Pemahaman Pada Peserta Didik di Kelas IV Sekolah Dasar,” vol. 7, no. 1, pp. 74–82, 2021, doi: 10.31949/educatio.v7i1.847.

A. Siti, K. Sapari, and M. Darmayanti, “Analisis Kesulitan Membaca Pemahaman Siswa Sekolah Dasar: Systematic Literature Review and Bibliometric Analysis,” vol. 6, no. 1, pp. 55–75, 2026.

A. Yasifa, R. Lubis, and E. Yusnaldi, “Pengaruh Model Make a Match Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas IV Di SDN 2 Rantau Dior,” J. Sains Student Res., vol. 3, no. 2, pp. 156–165, 2025, doi: 10.61722/jssr.v3i2.4014.

W. Viergiawati, A. Gunawan, and G. Kripsiyadi, “Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match Terhadap Hasil Belajar Siswa (Studi Quasi Eksperimen Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Kelas IV SD Negeri Cijoho Tahun Ajaran 2024/2025),” J. Siliwangi, vol. 11, pp. 1–9, 2024.

D. Ardiyanto, I. Sulistyawati, and V. Yustitia, “Problematika Pemahaman Teks Narasi Pada Siswa Kelas 4 SD Negeri Margorejo 1/403 Surabaya,” Inventa: J. Pendidik. Guru Sekol. Dasar, vol. V, no. 1, 2021, doi: 10.36456/inventa.5.1.a3606.

L. Maknun, A. Darmuki, and I. Fathurrohman, “Analysis of Students’ Reading Skills in Indonesian Language Learning at Elementary School,” J. Disastri Pendidik. Bhs. dan Sastra Indones., vol. 7, pp. 26–35, 2025, doi: 10.33752/disastri.v7i2.8992.

B. Ajar, Buku Ajar Strategi Pembelajaran.

A. Dewi, P. Damayanti, S. P. Ritiauw, and E. Mahananingtyas, “Indonesian Journal of Educational Development (IJED) Make a Match Learning Model to Improve Social Studies Learning Outcomes of Class V Students of SD Kartika XIII-1 Ambon,” vol. 5, no. 2, pp. 173–182, 2024.

P. S. R. Ninda Waslihatul, Hasanah, Indah Nurmaharani, “Pengaruh model kooperatif tipe Make a Match berbantuan Media Buku Digital Literacy Cloud terhadap Kemampuan membaca teks pemahaman narasi siswa,” Pedas: J. Ilm. Pendidik. Dasar, vol. 09, no. September, pp. 1319–1330, 2024.

P. Sukerni, “Penerapan Model Pembelajaran Make-A Match untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa pada Tema Pengalamanku,” vol. 4, no. 1, pp. 1–9, 2022.

F. B. Maulidina and D. M. Darmawati, “Inovasi Kurikulum,” vol. 22, no. 1, pp. 1447–1458, 2025.

S. Muchildvi, M. P., Dr. Hj. Sasmi Nelwati, and Habib Khalilur Rahman, “Penerapan Model Make a Match Berbantuan Kartu Huruf Untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca Permulaan Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SDN 16 Air Tawar Timur,” 2023.

C. Mukramah, F. Mustafa, and D. F. Sari, “The Effect of Picture and Text Prompts on Idea Formulation and Organization of Descriptive Text,” IJELTAL (Indonesian J. English Lang. Teach. Appl. Linguist.), vol. 7, no. 2, p. 325, 2023, doi: 10.21093/ijeltal.v7i2.1386.

Prof. Dr. Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta, CV, Bandung.

D. A. Nafiati, “Revisi taksonomi Bloom: Kognitif, afektif, dan psikomotorik,” vol. 21, no. 2, pp. 151–172, 2021, doi: 10.21831/hum.v21i2.29252.

D. A. Kusumaningtyas, “Enhancing Elementary Students’ Learning Interest in Science with the ‘Make-a-Match’ Cooperative Learning Model,” vol. 3, no. 02, pp. 80–89, doi: 10.56741/ijlree.v3i02.552.

D. H. Toni Hidayat, Amaano Fau, “Pengaruh Model Pembelajaran Index Card Match Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Terpadu,” vol. 4, no. 1, pp. 61–72, 2023.

R. A. B. K. Alfian Nurdin, Satinem, “Penerapan Model Pembelajaran Make a Match berbantuan Media Kartu Bergambar Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V SD Negeri Nawangsasi,” vol. 7, pp. 28–34, 2024, doi: 10.31539/joes.v7i1.7521.

Fisul, “Meningkatkan Minat Belajar Siswa Dengan Penerapan Model Make A Match Di Sekolah Dasar,” vol. 3, no. 1, pp. 197–202, 2024.

N. I. M. Agustina, E. A. Ismaya, and I. A. Pratiwi, “Dampak Penggunaan Gadget Terhadap Karakter Peduli Sosial Anak,” J. Basicedu, vol. 6, no. 2, pp. 2547–2555, 2022, doi: 10.31004/basicedu.v6i2.2465.

Ermita, “Make a Match: Sebuah Metode untuk Meningkatkan Keaktifan Siswa,” vol. 4, no. 2, pp. 429–436, 2021.

N. P. F. Yuliawati and K. Suranata, “Make a Match Learning Model Assisted with Picture Media Improve Students’ Reading Skills,” vol. 4, pp. 285–295, 2020.

H. Rohmah, Khamdun, and W. S. Rondli, “Penerapan Model Pembelajaran Make a Match Berbantuan Media Flash Card Untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca dan Menulis Huruf Jawa di SD,” vol. 09, pp. 178–188, 2023.

Y. Pahrul, Nanda Sari, and Nurhaswinda, “Implementation of the Make a Match Learning Model to Improve Students’ Reading Comprehension Skills in Elementary Schools,” vol. 2, pp. 133–140, 2023.

S. J. Fitria Ismi Annur and Meri Vancito, “Improving Students’ Reading Comprehension Ability by Using Make a Match Assisted by Flashcard on the Class of IV SD Madani in Academic,” vol. 2, no. 1, pp. 152–161, 2023.

Maria Ulfah, “Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match Berbantuan Media WordWall Terhadap Hasil Belajar,” vol. 15, no. November, pp. 223–230, 2024.