Login
Section Islamic Education Method

Private Tutoring as a Solution to Learning Motivation Problems: An Analysis of Supporting and Inhibiting Factors in Learning Motivation in 9-10 Year Old Children

Les Privat Sebagai Pemecahan Masalah Motivasi Belajar: Analisis Faktor Pendukung dan Penghambat Motivasi belajar Anak Usia 9-10 Tahun
Vol. 21 No. 1 (2026): February:

Yosinda Aulia Putri (1), Moch. Bahak Udin By Arifin (2)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Learning motivation is an important aspect of children’s participation and engagement in educational activities, particularly during the elementary school years. Specific Background: Children aged 9–10 years require learning support that considers their learning needs, emotional conditions, and learning environment. Private tutoring provides additional assistance through individualized guidance and varied learning activities. Knowledge Gap: Previous discussions of learning motivation have examined teaching methods, family support, and learning environments, while the role of private tutoring in addressing supporting and inhibiting factors among children aged 9–10 years requires further contextual description. Aims: This study aimed to identify factors that support and hinder learning motivation and to describe the role of private tutoring as an alternative learning support for children aged 9–10 years. Results: Using a qualitative case study approach, data were collected through observation, structured interviews, and documentation at a private tutoring institution in Kwadengan Village, Sidoarjo. The findings indicate that learning motivation is supported by tutor approaches that are patient and adaptive, interactive learning activities, technology-based media, games, ice breaking, rewards, rest periods, and communication between tutors and parents. In contrast, boredom, divided attention, fatigue, and an unconducive learning environment were identified as inhibiting factors. Novelty: The study presents the role of private tutoring through the combination of adaptive tutoring, technology-based learning media, varied activities, and parental communication within a specific learning context. Implications: The findings suggest that private tutoring can serve as an alternative learning support when accompanied by professional tutors, varied learning methods, and collaboration with parents.


Key Findings Highlights


Tutor approaches were adapted to children’s learning needs and conditions.


Technology-based media, games, ice breaking, rewards, and rest periods supported learning participation.


Boredom, divided attention, fatigue, and an unconducive environment hindered learning motivation.


Keywords : Private Tutoring, Learning Motivation, Supporting Factors, Inhibiting Factors, Elementary Education

Pendahuluan

Les Privat merupakan bantuan yang diberikan oleh pembimbing kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar. Les privat biasanya dilakukan oleh guru atau tentor atau bisa juga dilakukan oleh suatu lembaga yang memberi jasa les [1]. Les privat merupakan salah satu alternatif solusi dalam mengatasi rendahnya motivasi belajar pada anak usia 9–10 tahun, yang berada dalam fase perkembangan kognitif konkret. Pada usia ini, anak mulai mampu berpikir logis namun masih sangat membutuhkan bimbingan dan dukungan dari lingkungan sekitar [2]. Rendahnya motivasi belajar dalam kegiatan pembelajaran juga akan menyebabkan perasaan frustasi, tidak puas, kebosanan dan konsentrasi buruk yang dapat membebani siswa dalam pencapaian prestasi belajar.

Motivasi adalah dorongan yang timbul baik dari dalam maupun dari luar yang dapat mengakibatkan siswa dapat belajar dengan baik dan seseorang yang memiliki motivasi belajar yang baik sejalan dengan keinginannya untuk mendapatkan prestasi belajar yang terbaik juga [3]. Motivasi dibagi menjadi dua jenis, yaitu: 1) Motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang berasal dari dalam diri siswa dan muncul saat belajar untuk memenuhi kebutuhan dan tujuan mereka sendiri,2) Motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang datang dari luar, seperti dorongan dari orang lain atau lingkungan sekitar [4].Oleh karena itu, motivasi dalam diri seseorang sangat dipengaruhi oleh faktor ekternal (lingkungan), dan faktor internal yang melekat pada setiap orang (pembawaan), tingkat pendidikan,pengalaman masa lalu,keinginan dan harapan masa depan. Dalam motivasi berisi keinginan, harapan, kebutuhan, tujuan, dan dorongan. Motivasi belajar bisa datang dari dalam diri siswa atau dari luar, dan berfungsi mendorong siswa untuk belajar demi mencapai tujuan sesuai keinginannya [5].

Motivasi belajar siswa sangat berperan dalam meningkatkan prestasi belajar, terutama dalam mata pelajaran tertentu. Siswa yang memiliki motivasi tinggi cenderung memperoleh hasil belajar yang lebih baik,

karena semakin tinggi motivasinya, semakin besar pula usaha yang dilakukan [6]. Motivasi sebagai faktor. psikologis berperan dalam memunculkan, mendasari, dan mengarahkan kegiatan belajar. Siswa yang memiliki motivasi tinggi akan rajin, gigih, tidak mudah menyerah, dan bersemangat belajar untuk meraih prestasi dan menyelesaikan masalah. Sebaliknya, siswa yang kurang termotivasi cenderung cuek, mudah menyerah, dan kurang fokus pada pelajaran, sehingga mengalami kesulitan dalam belajar[7]. Hubungan motivasi belajar dengan hasil belajar pada dasarnya ‘motivasi berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi siswa’.Jadi,motivasi belajar sangat penting, terutama bagi siswa yang sedang menempuh pendidikan di sekolah. Tinggi rendahnya motivasi akan memengaruhi bagaimana siswa bersikap saat mengerjakan tugas. Siswa yang termotivasi biasanya menunjukkan sikap sungguh-sungguh, tekun, perhatian, dan sabar. Dengan motivasi, siswa akan lebih semangat belajar dan mengerjakan tugas dari guru, sehingga minat belajar meningkat dan proses belajar di kelas menjadi lebih aktif [8].

Salah satu murid di lembaga les privat, menceritakan bahwa yang menyebabkan menurunnya motivasi belajarnya yaitu disebabkan oleh faktor keluarga, lingkungan sekitar dan juga penggunaan teknologi seperti gadget yang membuat dia masih belum bisa fokus dan konsisten dalam belajar.Dengan demikian, guru les dan orang tua harus saling berkomunikasi baik untuk saling bekerja sama dalam memberikan informasi terkait perkembangan siswa tersebut agar masalah seperti itu cepat tertangani[9]. Lokasi les privat tersebut berada pada salah satu Desa Kwadengan di Sidoarjo.Peneliti memilih lokasi tersebut karena didasarkan pada pertimbangan bahwa Desa Kwadengan memiliki masyarakat dengan lingkungan sosial yang beragam,sehingga dapat memberikan data yang lebih bervariasi terkait motivasi belajar anak.Selain itu, les privat di desa ini satu-satunya les privat yang sudah mengikuti perkembangan teknologi seperti penggunaan media pembelajaran yang bervariasi,pemanfaatan wordwall sebagai bahan evaluasi pembelajaran dan lain sebagainya.Sedangkan subjek dalam penelitian ini adalah anak usia 9-10 tahun karena pada les privat di desa kwadengan,hanya terdapat anak usia 9-10 tahun yang sebagian mengalami kesulitan belajar,turunnya motivasi belajar dan mulai menghadapi peningkatan beban akademik di sekolah dasar.Contohnya saja,anak-anak disekolah hanya mendapatkan materi saja namun sekolah belum memfasilitasi kebutuhan belajar seperti buku paket yang dapat membantu mereka untuk lebih mudah memahami pelajaran.Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat motivasi belajar anak usia 9–10 tahun dalam mengikuti les privat dan untuk mendeskripsikan peran les privat sebagai salah satu alternatif solusi dalam meningkatkan motivasi belajar anak usia 9–10 tahun.

Adapun berbagai faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya motivasi belajar salah satunya yaitu dukungan sosial dari lingkungan sekitar terutama dari lingkungan keluarga. Dukungan sosial yang diberikan oleh keluarga kepada anak ditunjukkan dari berbagai bentuk dukungan yang meliputi dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental dan dukungan informasi. Keluarga berfungsi sebagai tempat belajar anak sejak anak lahir dan sebagai bekal untuk kehidupan anak pada nantinya serta untuk membangun kepercayaan antara sesama. Fungsi utama keluarga adalah sebagai wahana, tempat tinggal, tempat belajar untuk hidup, untuk mengembangkan kemampuan dalam berbagai hal, berlatih dan menghasilkan kasih sayang, berlatih membangun kepercayaan antara sesama [10]. Latar belakang tingkat pendidikan orang tua juga berkorelasi positif dengan cara mereka mengasuh anak, sementara pengasuhan anak berhubungan dengan perkembangan anak. Dapat disimpulkan, makin tinggi pendidikan terakhir orangtua akan makin baik pula cara pengasuhan anak dan akibatnya perkembangan anak terpengaruh berjalan secara positif. Sebaliknya makin rendah tingkat pendidikan orangtua akan kurang baik dalam mengasuh anak, sehingga perkembangan anak berjalan kurang menguntungkan. Orang tua punya peran penting dalam pendidikan anak. Karena itu, mereka sebaiknya menjadi pendukung utama yang membuat anak merasa dicintai, dihargai, dan diperhatikan. Hubungan yang hangat dan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak dapat membantu anak menyelesaikan masalahnya, terutama yang berkaitan dengan pelajaran di sekolah [11]. Selain itu, adapun faktor penghambat motivasi belajar adalah kemampuan siswa. Faktor kemampuan siswa di antaranya yaitu kemampuan dalam belajar mandiri atau kemandirian belajar [12]. Kemandirian belajar adalah belajar yang dilakukan dengan sedikit atau sama sekali tanpa bantuan dari pihak luar.

Guru les tidak hanya berperan membantu proses belajar tetapi membantu murid-murid yang memiliki kendala belajar dan harus mengupayakan keterlibatan orang tua secara aktif agar dapat mengetahui perkembangan anaknya tersebut [13]. Les privat muncul sebagai alternatif pembelajaran karena mampu memberikan solusi atas keterbatasan yang sering ditemukan dalam pembelajaran di sekolah. Les privat adalah pembelajaran di luar sekolah atau jam belajar resmi yang tetap mengikuti kurikulum sekolah. Jumlah siswanya maksimal empat orang, dan durasi belajar hanya beberapa jam. Setiap siswa dibimbing oleh satu guru, sehingga metode pengajaran bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan karakter masing-masing siswa [14].Anak yang menerima bantuan dari tutor les privat akan menunjukkan kinerja yang lebih. baik dalam proses belajarnya. Les privat juga dapat membantu anak dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan.

Keuntungan lain dari mengikuti les privat yaitu suasana belajar lebih santai dan fokus sehingga dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar yang lebih optimal.

Penelitian mengenai les privat dan motivasi belajar anak sering dibahas dalam beberapa artikel terdahulu.Beberapa diantaranya membahas motivasi belajar dengan metode pembelajaran kooperatif make a mach,pembelajaran dengan metode berdiferensiasi,serta pembelajaran yang berbasis masalah yang relevan hingga tahin 2024. Namun pada penelitian ini terdapat pembaharuan, yaitu dengan menekankan bahwa pada era sekarang, peningkatan motivasi belajar siswa melalui les privat tidak hanya bergantung pada metode atau model pembelajaran saja melainkan dengan pemanfaatan teknologi seperti penggunaan power point interaktif,evaluasi melalui wordwall dan media digital lainnya yang dapat membuat siswa lebih tertarik dan termotivasi untuk belajar.Dengan begitu, fokus Penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana motivasi belajar anak usia 9-10 tahun dalam kegiatan pembelajaran di lembaga les privat. Selain itu peneliti juga membahas bagaimana faktor pendukung dan penghambat motivasi belajar anak pada rentang usia tersebut. Maka penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi motivasi belajar anak dan faktor yang mempengaruhi motivasi belajar anak usia 9-10 Tahun.

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus yang bertujuan agar peneliti dapat mengetahui bagaimana motivasi belajar anak usia 9-10 tahun dalam kegiatan pembelajaran di lembaga les privat dan bagaimana faktor pendukung dan penghambat motivasi belajar tersebut. Lokasi penelitian berada di lembaga les privat yang ada di salah satu desa yang bernama desa Kwadengan di Sidoarjo.Lokasi tersebut dipilih sebagai objek penelitian karena lembaga les tersebut mempunyai murid les berusia 9-10 Tahun dan yang memiliki masalah terkait motivasi belajar. Adapun waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Juni. Jenis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu berupa data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang dihasilkan langsung melalui hasil survei, observasi dan wawancara sehingga lebih relevan dengan pertanyaan penelitian [15], sedangkan data sekunder berupa data dokumentasi.

Teknik pengumpulan data didapatkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Observasi dilakukan secara langsung agar dapat mengetahui dan merasakan suasana belajar murid yang ada di lembaga tersebut. Subjek penelitian ini adalah murid les yang berusia 9-10 Tahun. Penelitian ini menggunakan teknik wawancara terstruktur dengan menyiapkan pertanyaan kepada guru les privat untuk mengetahui informasi lebih mendalam. Sedangkan dokumentasi merupakan pengumpulan data dalam bentuk foto, Lembar kerja Peserta Didik (LKPD) atau catatan lain yang mendukung penelitian.

Figure 1.

Gambar 1 Model Analisis Data Miles & Huberman

Analisis data pada penelitian ini menggunakan prosedur analisis data Miles & Huberman.Pada gambar diatas dapat dijelaskan secara rinci sebagai berikut; pertama dengan melakukan observasi langsung ke tempat lembaga les privat,kedua melakukan wawancara untuk mengumpulkan data dengan beberapa pertanyaan sesuai dengan fokus penelitian dan mencatat perilaku guru dan murid ber usia 9-10 Tahun dalam proses pembelajaran,ketiga dokumentasi yang bisa berupa bahan ajar,foto kegiatan,catatan dan hasil evaluasi sesuai fokus penelitian,ke empat kesimpulan dengan menarik makna dari data yang telah disajikan.

Hasil dan Pembahasan

A. Motivasi belajar anak usia 9-10 tahun dalam kegiatan pembelajaran di lembaga les privat

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan bahwa diketahui anak berusia 9-10 tahun bisa merespon dengan pandangan positif mengenai gaya mengajar tutor. Mereka mengatakan bahwa dalam pembelajaran, peserta didik dapat memahami apa yang diajarkan dengan tutor. Karena tutor menjelaskan dengan pelan-pelan dan memberikan contoh nyata sehingga bisa dipahami oleh peserta didik.Dalam sebuah pembelajaran, materi yang kontekstual lebih mudah dipahami daripada materi yang bersifat abstrak dan konseptual[16]. Salah satu peserta didik mengatakan bahwa jika mereka tidak dapat memahami materi dengan benar, tutor tidak memarahi dan bahkan mengajari sampai peserta didik tersebut paham. Tutor juga menggunakan berbagai metode atau alat bantu pembelajaran untuk memudahkan peserta didik dalam memahami materi.

Respon ini menunjukkan bahwa dalam hal emosional, anak bisa dikatakan aman dan nyaman dalam lingkungan pembelajaran. Dengan begitu hal yang berhubungan dengan emosional menjadi hal paling penting dalam pembelajaran[17]. Karena jika emosional tidak terkontrol, maka pembelajaran yang dilakukan tidak akan efektif dan bermakna. Suasana belajar ini menjadikan peserta didik termotivasi dalam belajar serta menciptakan hubungan yang baik anatara tutor dan peserta didik.

Sedangkan secara pengetahuan, peserta didik mampu menunjukkan bahwa mereka memahami materi dengan baik karena metode yang digunakan oleh tutor sesuai dengan gaya belajar mereka.

Figure 2.

Gambar 2 Kegiatan Pembelajaran

Gambar 2 menunjukkan suasana kegiatan pembelajaran di lembaga les privat, di mana seorang tutor sedang mendampingi peserta didik usia 9–10 tahun dalam proses belajar. Interaksi yang terjalin menunjukkan adanya pendampingan yang intens, suasana belajar yang kondusif, serta komunikasi dua arah antara tutor dan peserta didik. Kondisi ini mencerminkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, sehingga dapat mendukung tumbuhnya motivasi belajar anak.Dengan begitu peserta didik akan terlihat lebih aktif dan antusias dalam mengikuti pembelajaran.Suasana pembelajaran seperti ini membantu peserta didik memahami materi dengan lebih baik.Dan hal apa saja yang dapat membuat peserta didik termotivasi belajarnya,dapat dilihat pada hasil analisis motivasi belajar anak usia 9-10 tahun pada gambar 3.

Figure 3.

Gambar 3 Hasil Analisis Motivasi Belajar Anak usia 9-10 Tahun

Dari hasil analisis motivasi belajar peserta didik,mereka merasa antusias mengikuti les privat karena adanya berbagai aktivitas yang membuat pembelajaran menjadi menyenangkan. Beberapa anak menyebutkan bahwa mereka sangat menyukai saat sesi les diselingi dengan game, ice breaking, dan pemberian hadiah. Ice breaking merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam pembelajaran di lembaga les privat, khususnya bagi peserta didik usia 9–10 tahun. Ice breaking dilakukan di awal atau di sela-sela pembelajaran untuk mencairkan suasana dan mengurangi rasa jenuh anak. Melalui kegiatan sederhana seperti permainan singkat, tanya jawab ringan, atau gerakan tubuh, peserta didik menjadi lebih rileks dan siap mengikuti pembelajaran[18]. Tutor juga memberi waktu istirahat ketika anak terlihat lelah, misalnya dengan memberikan waktu untuk makan dan minum sebelum melanjutkan belajar.Aktivitas seperti hal tersebut dapat disebut dengan dinamika pembelajaran yang adaptif yaitu pembelajaran yang mampu menyesuaikan kondisi fisik, emosi, dan minat peserta didik[19]. Variasi dalam pembelajaran tersebut terbukti mampu meningkatkan keterlibatan anak dalam pembelajaran.

Pemberian reward seperti hadiah kecil atau pujian juga menjadi pemicu motivasi belajar. Anak merasa dihargai atas usaha mereka menyelesaikan tugas. Pemberian reward seperti ini merupakan bentuk penguatan positif (positive reinforcement) yang terbukti efektif dalam menumbuhkan motivasi belajar, terutama bagi anak-anak yang cenderung membutuhkan dorongan eksternal di awal proses belajar.Selain itu, tutor juga menunjukkan kemampuan fleksibilitas dalam menghadapi tantangan belajar. Jika anak mengalami kesulitan dalam memahami suatu materi, tutor tidak segan mengubah pendekatan, baik dengan memberi contoh baru, menggunakan alat bantu visual, atau mengaitkan materi dengan pengalaman sehari-hari[20]. Hal ini menunjukkan bahwa tutor memiliki kemampuan untuk membaca kebutuhan peserta didik dan memberikan respon yang sesuai.Sebagaimana diungkapkan dalam hasil wawancara bahwa tutor terkadang menggunakan media bantu berupa gambar atau video yang dimana merupakan gaya belajar yang diminati oleh peserta didik. Karena mengingat bahwa usia 9-10 tahun termasuk dalam tahap operasional konkret menurut teori perkembangan Piaget.Dinamika pembelajaran yang adaptif dan menyenangkan ini menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik dalam les privat, terutama pada usia yang masih membutuhkan pendekatan belajar yang konkret, bervariasi, dan interaktif[21].

B. Faktor pendukung dan penghambat motivasi belajar anak usia 9-10 tahun

Figure 4.

Gambar 4 Hasil Analisis Faktor pendukung dan penghambat motivasi belajar

Faktor Pendukung Motivasi Belajar Peserta Didik

Faktor pendukung adalah faktor yang menunjukkan adanya perkembangan yang terjadi dalam proses belajarnya peserta didik.Faktor yang dapat mendukung motivasi belajar peserta didik di les privat tersebut dapat terlihat dari kemampuan tutor dalam mengelola les.Dari observasi yang sudah dilakukan,tutor mampu membangun pendekatan terhadap peserta didik sebelum memulai pembelajaran.Hal itu dilakukan agar peserta didik lebih merasa nyaman dan percaya diri untuk belajar.Tidak hanya itu,tutor juga dapat menyesuaikan gaya pembelajaran sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik.

Temuan ini sangat sesuai dengan teori belajar humanistik terutama gagasan dari Carl Rogers bahwasannya proses belajar akan lebih efektif apabila peserta didik merasa dihargai dan dapat belajar tanpa adanya tekanan serta mereka harus nyaman secara emosional dan tentunya memiliki hubungan yang baik dengan pengajarnya[22]. Dalam hal ini tutor les bertindak sebagai fasilitator yang tidak hanya menyampaikan materi dan memberikan soal-soal saja melainkan juga membangun suasana belajar yang suportif dan pribadi. Hal ini juga sesuai dengan teori kebutuhan Abraham Maslow, di mana terciptanya rasa aman, merasa dihargai, dan rasa nyaman menjadi dasar penting sebelum peserta didik mempunyai motivasi belajar yang lebih tinggi[23]. Dalam hal ini pendekatan yang dilakukan antara tutor les dengan peserta didik merupakan sebuah pendekatan yang berbasis humanistik. Tentunya humanistik merupakan bagian dari pembelajaran dan hal tersebut sangat penting dalam kesejahteraan pembelajaran.

Berdasarkan pernyataan tutor les privat terkait faktor pendukung berupa pemberian feedback kepada peserta didik bahwasannya tutor tersebut akan memberikan umpan balik yang membangun. Dimana tutor les tersebut menerapkan tahap apresiasi-perbaiki-motivasi. Apresiasi yang dimaksud adalah menghargai usaha peserta didik dalam mengerjakan tugas. Selanjutnya perbaiki dimana mengevaluasi bagian mana yang perlu diperbaiki.Terakhir memotivasi yaitu dengan memberikan semangat kepada peserta didik agar lebih bersemangat dalam mengevaluasi perbaikan tersebut. Hal ini dibuktikan dengan observasi yang dilakukan peneliti dimana ketiga tahap tersebut dilakukan secara runtut dengan mengedepankan pendekatan tanpa adanya paksaan.

Kemudian faktor pendukung lainnya adalah berkaitan dengan penggunaan media pembelajaran interaktif berbasis teknologi. Karena di zaman sekarang, teknologi menjadi hal yang sangat utama dalam kehidupan manusia[24]. Dengan adanya kecanggihan teknologi maka harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Seperti yang dikatakan oleh tutor les bahwasannya dengan penggunaan media berbasis teknologi mampu membuat peserta didik menjadi lebih paham, teratrik dengan pembelajaran dan meningkatkan motivasi belajar. Dalam hal ini tutor les menggunakan media pembelajaran berbasis PPT interaktif, Quiziz dan

Wordwall. PPT digunakan untuk menjelaskan materi yang dibahas kemudian implementasi asesmen menggunakan berbasis game quiziz dan wordwall. Sehingga mereka bisa diibaratkan bermain sambil belajar. Media pembelajaran ini dirancang oleh tutor untuk meningkatkan keterlibatan siswa melalui interaksi langsung dengan materi, sehingga siswa dapat belajar dengan lebih aktif dan efektif[25]. Hal ini bisa dibuktikan dengan observasi yang peneliti lakukan yakni dalam pembelajaran yang dilakukan tutor menggunakan media tersebut dalam mengajar dan media tersebut digunakan untuk sekali pertemuan dan dengan mata pelajaran yang berbeda. Dikarenakan tutor tersebut mengajar anak didik sd kelas atas.

Faktor pendukung lainnya, tutor menggunakan metode yang membuat peserta didik tidak bosan dengan pembelajaran. Contohnya seperti yang dikatakan oleh tutor bahwa metode yang digunakan relatif lebih ke diskusi interaktif dan roleplay yang memungkinkan mereka belajar dengan pendekatan kontekstual dimana mereka tidak hanya belajar konsep, melainkan juga bisa mengimplementasikan atau menghubungkan di dunia nyata mereka[26]. Oleh karena itu, metode ini banyak digunakan karena mampu membuat peserta didik menjadi lebih bersemangat dan memahami konsep materi yang tidak bentuk konsep melainkan ditafsirkan sehingga mereka memahami. Hal ini dibuktikan dengan observasi yang dilakukan peneliti yakni pada saat itu tutor melakukan metode roleplay dimana mereka menampilkan sebuah peran yang sesuai dengan materi.

Selain itu,tutor juga melakukan komunikasi secara rutin dengan orang tua peserta didik untuk membantu tutor dalam membangun motivasi belajar peserta didik. Komunikasi rutin antara tutor dan orang tua memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan belajar peserta didik.Komunikasi rutin dilakukan supaya tutor dan orang tua peserta didik mengetahui perkembangan peserta didik,memahami kendala yang dihadapi, serta ikut berkontribusi dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif di rumah.Terakhir hal yang menjadi faktor pendukung yaitu tutor memberikan waktu istirahat disela sela waktu belajar agar peserta didik lebih rileks dalam mengikuti pembelajaran.

Faktor Penghambat Motivasi Belajar Peserta Didik

Adapun beberapa faktor penghambat motivasi belajar peserta didik yang ada dalam les privat yang disampaikan oleh tutor.

1. Peserta didik terlihat mudah bosan atau kehilangan fokus selama proses les privat.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa selama proses les privat berlangsung, peserta didik cenderung mengalami kesulitan dalam mempertahankan perhatian dan minat terhadap materi yang sedang dipelajari. Menurut pengamatan tutor, hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor seperti durasi belajar yang terlalu lama, metode pembelajaran yang kurang variatif, kondisi fisik atau mental peserta didik yang sedang lelah, serta minimnya motivasi dari dalam diri anak. Akibatnya, peserta didik menjadi cepat merasa bosan, tidak responsif, dan sulit menyelesaikan tugas dengan maksimal[27]. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi tutor untuk menciptakan suasana belajar yang lebih menarik dan interaktif.

2. Fokus peserta didik terpecah karena hal di luar pembelajaran

Faktor penghambat selanjutnya yang dihadapi tutor saat kegiatan pembelajaran berlangsung adalah peserta didik sulit berkonsentrasi saat belajar bersama tutor.Hal tersebut diungkapkan oleh tutor bahwasannya peserta didik fokusnya mudah terpecah dengan hal diluar pembelajaran seperti mudah tergoda dengan suara dan aktivitas di sekitarnya.Suara dan aktivitas disekitarnya yang dimaksud yaitu menghentikan kegiatan belajar karena tertarik dengan suara orang tua atau anggota keluarga lain yang sedang berbicara atau bercanda di dekat ruang belajar.Akibatnya kegiatan les menjadi kurang baik dan waktu les juga menjadi lebih lama.Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan belajar berpengaruh terhadap tingkat konsentrasi belajar dan ke efektivan proses belajar peserta didik[28].

3. Suasana les privat tidak kondusif dan terganggu

Untuk membuat peserta didik nyaman dan senang belajar di les privat, pemilihan metode pembelajaran yang tepat juga belum tentu membuat peserta didik tertib dalam mengikuti kegiatan pembelajaran[29].Tidak kondusifnya kelas dapat dilihat dari apa yang dilakukan peserta didik saat kegiatan berlangsung. Salah satu contohnya yaitu kehilangan fokus karena lelah atau mengantuk.Hal tersebut sering terjadi saat di les privat. Peserta didik menjelaskan yang menyebabkan mereka lelah atau mengantuk adalah kurang perhatiannya orang tua untuk mengingatkan mereka agar tidur siang terlebih dahulu dan tidak adanya batas jam bermain dengan temannya sehingga saat les mereka merasa mudah lelah dan mengantuk.

Tidak hanya itu, terkadang saat jam pelajaran dimulai, ada salah satu anak yang mengusili temannya dengan perkataan yang tidak baik sampai temannya merasa tidak nyaman lalu membalas dengan perkataan

yang tidak baik juga. Jika hal seperti itu dibiarkan,kelas menjadi tidak kondusif dan peserta didik yang lain tidak dapat belajar dengan maksimal[30].

Figure 5.

Gambar 5 wawancara dengan tutor

Dari Kesimpulan hasil observasi dan wawancara dengan tutor terkait Les Privat Sebagai Pemecahan Masalah Motivasi Belajar: Analisis Faktor Pendukung dan Penghambat Motivasi belajar Anak Usia 9-10 Tahun,tutor sudah memberikan yang terbaik agar peserta didik dapat belajar dengan maksimal dan motivasi belajar mereka terus meningkat. Penggunaan media pembelajaran,pemanfaaatan teknologi dan pemilihan model pembelajaran juga sangat berpengaruh dalam membantu peserta didik memahami pelajaran dan kemampuan setiap individu menjadi meningkat[31].

Simpulan

Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan analisis data yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa les privat memiliki peran yang penting dalam meningkatkan motivasi belajar anak usia 9–10 tahun. Les privat mampu menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman, aman, dan kondusif melalui pendekatan tutor yang sabar, ramah, serta mampu menyesuaikan metode pembelajaran dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik. Motivasi belajar anak meningkat karena adanya variasi kegiatan pembelajaran, seperti penggunaan media pembelajaran interaktif berbasis teknologi, pemberian ice breaking, game, reward, serta pendampingan tutor yang intens ketika peserta didik mengalami kesulitan belajar. Selain faktor pendukung tersebut, penelitian ini juga menemukan adanya faktor penghambat motivasi belajar, antara lain mudah bosan, kurang fokus, kondisi fisik yang lelah, serta lingkungan belajar yang kurang kondusif. Dengan demikian, les privat dapat menjadi salah satu alternatif solusi dalam mengatasi permasalahan motivasi belajar anak usia 9–10 tahun, asalkan didukung oleh tutor yang profesional, metode pembelajaran yang variatif, serta kerja sama yang baik antara tutor dan orang tua peserta didik.

Ucapan Terima Kasih

Peneliti mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan, serta masukan yang sangat berarti selama proses penyusunan dan penyelesaian artikel ini. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada pihak lembaga les privat di Desa Kwadengan yang telah memberikan izin dan kesempatan untuk melakukan penelitian, serta kepada tutor dan peserta didik yang telah bersedia menjadi subjek penelitian. Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi bagi pengembangan ilmu pendidikan, khususnya dalam upaya meningkatkan motivasi belajar anak melalui kegiatan les privat.

References

E. A. Rohmianti, D. S. Rusdianto, and F. Amalia, “Pengembangan Sistem Manajemen Guru Les Privat,” J. Pengemb. Teknol. Inf. dan Ilmu Komput., vol. 4, no. 11, pp. 4164–4170, 2020.

S. Setiawan and Iwan, “Rancang Bangun Aplikasi Les Privat Amy Edu Berbasis Web,” J. Tek. Inform., vol. 15, no. 2, pp. 57–64, 2023.

W. N. Ramadhani and S. Ulfah, “Analisis Kecemasan Matematika dan Motivasi Belajar Siswa Berdasarkan Keikutsertaan Les Privat pada Pembelajaran Daring,” J. Cendekia J. Pendidik. Mat., vol. 5, no. 3, pp. 2471–2483, 2021, doi: 10.31004/cendekia.v5i3.876.

W. Andeka, Y. Darniyanti, and A. Saputra, “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Belajar Siswa SDN 04 Sitiung,” Cons. Educ. Couns. J., vol. 1, no. 2, p. 193, 2021, doi: 10.36841/consilium.v1i2.1179.

Ayu Desy N., Endah Lulup T. P., and Suharsono Naswan, “Pengaruh Motivasi Belajar dan Aktivitas Belajar Spiritual Hasil Belajar Akuntansi,” J. Ekon., vol. 4, p. 4, 2014.

Y. Fernando, P. Andriani, and H. Syam, “Pentingnya Motivasi Belajar Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa,” ALFIHRIS J. Inspirasi Pendidik., vol. 2, no. 3, pp. 61–68, 2024, doi: 10.59246/alfihris.v2i3.843.

E. Pramono, A. Nur Budiono, and A. Aziz, “Bimbingan Belajar Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Ekstrinsik Siswa Kelas X A Di SMK Madinatul Ulum,” J. Consulenza J. Bimbing. Konseling dan Psikol., vol. 3, no. 1, pp. 1–6, 2020.

L. Mora, “Hubungan Antara Dukungan Sosial Keluarga Dengan Kesulitan Belajar,” Psychopedia J. Psikol. Univ. Buana Perjuangan Karawang, vol. 1, no. 1, pp. 52–57, 2016, doi: 10.36805/psikologi.v1i1.688.

T. N. Cholifah, I. N. S. Degeng, and S. Utaya, “Pengaruh Latar Belakang Tingkat Pendidikan,” J. Pendidik., vol. 1, pp. 486–491, 2016.

E. Mulyaningsih, “Pengaruh Interaksi Sosial Keluarga, Motivasi Belajar, dan Kemandirian Belajar terhadap Prestasi Belajar,” J. Pendidik. dan Kebud., vol. 20, no. 4, pp. 441–451, 2014, doi: 10.24832/jpnk.v20i4.156.

Perdana, A. P., and T. Valentina, D., “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar,” J. Ilm. Indones., vol. 7, no. 12, pp. 1–23, 2022.

J. H. Tan, A. Y. Ismanto, and A. Babakal, “Hubungan Antara Dukungan Orang Tua Dengan Motivasi Belajar Pada Anak Usia Sekolah Kelas IV dan V di SD Negeri Kawangkoan Kalawat,” Bimbing. dan Konseling FKIP UNIPA, vol. 1, no. 35, pp. 10–27, 2018.

N. T. Sinaga, R. S. S. Simbolon, M. Y. Manik, D. H. Sinaga, M. H. Sihaloho, and B. Elshaday, “Peran Mahasiswa Dalam Memotivasi Belajar Siswa/i Melalui Les Private Gratis di UPT. SD Negeri 09 Pematang Panjang Kab. Batubara,” J. Abdimas, vol. 3, no. 2, pp. 77–82, 2022.

S. W. Aji, R. A. F. Izzuddin, F. D. Suminar, and A. T. Wijayanti, “Les Privat Sebagai Alternatif Pembelajaran Yang Fleksibel dan Efektif Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Terhadap Mata Pelajaran IPS,” vol. 3, no. 1, pp. 76–86, 2025.

R. Handayani, Metode Penelitian Sosial, 2020.

T. Rukhmana, “Jurnal Edu Research Indonesian Institute for Corporate Learning and Studies (IICLS),” J. Edu Res. Indones. Inst. Corp. Learn. Stud., vol. 2, no. 2, pp. 28–33, 2021.

L. Suhermi, N. Barokah, and R. Kamal, “Pembelajaran Kontekstual sebagai Inovasi Kreatif dalam Menjadikan,” JISPENDIORA J. Ilmu Sos. Pendidik. dan Hum., vol. 4, pp. 94–103, 2025.

S. H. Syamsul Hadi, “Pembelajaran Sosial Emosional Sebagai Dasar Pendidikan Karakter Anak Usia Dini,” J. Teknodik, pp. 227–240, 2013, doi: 10.32550/teknodik.v0i0.104.

D. H. Husnah, D. Anggeraini, and K. Nisa, “Efektivitas Penerapan Ice Breaking terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas VI MIN 9 Langkat,” SEWAGATI J. Pengabd. Masy. Indones., vol. 3, no. 2, 2024.

M. N. Y. Yaqin and N. A. Yasin, “Psikologi Pembelajaran dan Dinamika Tiga Variabel Kunci dalam Pendidikan,” JPD J. Pendidik. Dasar, vol. 1, no. 1, pp. 20–27, 2025.

F. Farida Payon, D. Andrian, and S. Mardikarini, “Faktor yang Mempengaruhi Keaktifan Belajar Peserta Didik Kelas III SD,” J. Ilm. Kontekst., vol. 2, no. 2, pp. 53–60, 2021, doi: 10.46772/kontekstual.v2i02.397.

S. Nur, F. Riyanto, M. Bahak, and U. By, “The Effect of Learning Methods and Motivation of Learn of Students to Student’s Level of Understanding at Tulungagung Elementary School Students,” [incomplete bibliographic information].

N. Ma’rifah and S. Putrianingsih, “Implementasi Teori Belajar Humanistik pada Mata Kuliah Konsep Dasar Sains Materi Bagian Tumbuhan dan Fungsinya Mahasiswa PGMI IAIH Pare Tahun Ajaran 2021/2022,” Inov. J. Penelit. Pendidikan, Agama, dan Kebud., vol. 8, no. 1, pp. 49–66, 2022, doi: 10.55148/inovatif.v8i1.259.

M. Rizal, “Global Journal Sport and Education,” Rizal Muh, vol. 2, no. November, pp. 131–135, 2025.

H. Amaliyah, M. Bahak, and U. By, “Peran Guru Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran pada Kurikulum Merdeka di Madrasah Ibtidaiyah,” UMSIDA Prepr. Serv., pp. 1–8, 2022.

D. Matematika, S. Kelas, I. I. I. Mis, and M. Kedungsolo, “The Effectiveness of Using Interactive Learning Media Wordwall Type ‘Matching Pairs’ in Improving Understanding of Area of Plane Figures in Mathematics for Third Grade Students of MIS Ma’arif Kedungsolo,” pp. 1–11.

J. Pendidikan, “Analisis Efektivitas Metode Role Playing pada Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dalam Analysis of the Effectiveness of the Role Playing Method in Learning the History of Islamic Culture in Improving Students’ Learning Motivation,” pp. 26–35.

D. Maesaroh, N. E. Harsiwi, U. T. Madura, and P. T. Indah, “Startegi Guru dalam Menangani Peserta Didik Slow Learner Melalui Les Privat,” J. Media Akad., vol. 3, no. 6, 2025.

E. Prayitno and A. P. Astutik, “Pengaruh Lingkungan Belajar terhadap Tingkat Konsentrasi Belajar Santri,” Tadrib J. Pendidik. Agama Islam, vol. 3, no. 1, p. 52, 2024.

H. Sa’diyah and M. B. U. B. Arifin, “Learner Worksheets as a Learning Evaluation for Students: An Analysis of a Study of Slow Learner Students in Primary School,” Educ. J. Teknol. Pendidik., vol. 10, no. 1, pp. 28–40, 2025.

S. M. Ariyani and N. Nurdyansyah, “Effectiveness of Technology-Based Interactive Learning Media to Improve the Cognitive Ability of Learners in Madrasah Ibtidaiyah,” pp. 1–13, 2024.