Lisa Putri Yulianita (1), Muhlasin Amrullah (2)
General Background: Religious character education is an important part of elementary education because character development involves students’ daily attitudes, behaviors, and social interactions. Specific Background: At the elementary school level, religious values can be integrated into classroom activities through habituation, teacher modeling, social interaction, and routine religious practices. Knowledge Gap: Previous studies have discussed religious character education through school culture and classroom management, but the present study focuses specifically on the practical implementation of class-based religious character education in daily classroom activities at a public elementary school. Aims: This study aimed to explore the implementation of class-based religious character education and describe the practices used to develop religious values among elementary school students. Results: A qualitative descriptive approach was conducted at SDN Trompoasri 2 with second-grade students. Data were collected through observation, interviews, and documentation involving the principal, classroom teacher, and students. The findings show that religious character education was practiced through daily prayer, Qur’an recitation, congregational prayer, greetings, politeness, tolerance, gratitude, cleanliness, and other routine activities. Teacher modeling and consistent habituation were central features of classroom practice, while direct social interaction provided opportunities for students to experience and practice religious values. Novelty: The study presents a contextual description of how religious values are integrated into everyday classroom routines through a class-based approach. Implications: The findings provide a practical reference for understanding classroom practices that integrate religious values into elementary education.
Key Findings Highlights
Daily religious routines supported consistent value internalization.
Teacher modeling shaped students’ observable behavioral practices.
Direct social interaction provided opportunities for practicing tolerance and respect.
Keywords : Religious Character, Classroom Habituation, Elementary Education, Teacher Modeling, Social Interaction
Pendidikan dapat diselenggarakan dalam berbagai bentuk, termasuk formal seperti sekolah dan universitas, non- formal seperti kursus dan pelatihan, dan informal seperti pembelajaran mandiri dan pengalaman sehari-hari[1]. Pendidikan harus sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 3 yang berbunyi Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan dengan Undang – undang No.20 tahun 2003 pada pasal 3 menyatakan bahwa watak atau moral dapat terbentuk melalui pendidikan. Watak yang terbentuk disebut dengan karakter[2].
Menurut[3]mengatakan bahwa Karakter adalah suatu kombinasi dari sifat-sifat, kepribadian, dan moralitas yang membentuk identitas atau kepribadian siswa. Karakter mencakup perilaku, nilai-nilai, dan tindakan yang mendefinisikan siswa tersebut. Penanaman karakter dapat dilakukan melalui pendidikan karakter. Dasar nilai- nilai yang dapat ditanamkan dalam pendidikan karakter di sekolah dasar mencakup unsur-unsur seperti Pancasila, budaya, tujuan pendidikan nasional, dan religius. Pendidikan yang tidak memasukkan dimensi kereligiusan mungkin meninggalkan aspek-aspek esensial seperti etika, empati, dan tanggung jawab sosial yang menjadi urgensi penting dalam karakter religius. Urgensi karakter religius menciptakan kebutuhan untuk mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan ke dalam penguatan pendidikan, serta untuk mengembangkan hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan atau prinsip-prinsip Spiritual [4]. Ini menjadi landasan bagi siswa untuk menjalani hidup mereka dengan tujuan dan makna yang lebih dalam sesuai dengan penanaman nilai religius. Penanaman nilai religius selaras dengan pendapat yang dikemukakan Ki Hajar Dewantara “Menyokong perkembangan hidup anak-anak secara lahir dan batin sebagai bekal menuju ke arah peradaban yang lebih maju”[5]. Fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan adanya penurunan karakter religius pada siswa sekolah dasar, yang ditandai dengan kurangnya kedisiplinan dalam beribadah, menurunnya sikap sopan santun, serta lemahnya internalisasi nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, lingkungan sosial, serta kurang optimalnya integrasi pendidikan karakter dalam proses pembelajaran di kelas. Selain itu, implementasi pendidikan karakter religius di sekolah dasar masih cenderung bersifat seremonial dan belum terintegrasi secara sistematis dalam aktivitas pembelajaran di kelas, sehingga dampaknya belum maksimal terhadap pembentukan karakter siswa secara berkelanjutan.
Berdasarkan pola penguatan religius bila dilakukan sesuai tujuan maka akan mewujudkan siswa yang bertakwa, beriman, berprestasi, mandiri, berakhlak mulia, disiplin, kreatif dan sopan maka terbentuklah karakter religious [6]. Siswa dengan karakter religius sendiri merupakan sebuah investasi jangka panjang bagi indonesia, dimana Siswa tidak hanya dituntut untuk memiliki kecerdasan yang tinggi, melainkan juga diharapkan memupuk dan menunjukkan akhlak dan akidah yang kokoh sebagai pondasi bagi pertumbuhan pribadi religius[7]. Yang salah satunya adalah senyum, salam, sapa. Karena senyum, salam, dan sapa adalah ajaran berharga dalam agama yang mengajarkan bahwa kebaikan dimulai dari terkecil. Dengan senyuman, salam, dan sapa, kita membangun jembatan kebaikan di antara sesama, menciptakan lingkungan yang penuh dengan kedamaian dan kasih sayang, sehingga penerapanya dalam kehidupan sehari - hari bukan hanya di lingkungan sekolah[8].
Sekolah menjadi wadah utama dalam membentuk karakter, misalnya karakter religius pada siswa yang juga diimbangi dengan kegiatan berbasis penguatan karakter. Sehingga nilai karakter religius yang diterapkan dalam lingkungan sekolah bertujuan pada penguatan pendidikan karakter religius. Karena kurangnya pembentukan karakter religius pada siswa di sekolah dasar, sehingga mengakibatkan permasalahan di masa mendatang seperti meninggalkan sholat, pergaulan bebas, dan tidak memiliki rasa sopan santun [9]. Pada permasalahan tersebut menunjukkan bahwa berkurangnya nilai karakter religius pada siswa di Indonesia [10]. Penguatan karakter religius menjadi strategi dalam membangun perilaku pada siswa, dimana hal itu menjadi landasan awal terhadap pendidikan karakter religius sehingga menciptakan generasi yang emas yang memiliki moral serta akhlak mulia [11]. Dalam Penguatan karakter religius bisa dilakukan melalui kegiatan-kegiatan dengan materi kereligiusan.
Kegiatan-kegiatan dengan materi kereligiusan yaitu dengan senyum setiap bertemu dengan guru, mengucapkan salam bila masuk kedalam kelas, dan sapa jika bertemu dengan teman, namun perlu dikembangkan lebih baik lagi melalui kegiatan rutin dan konsisten terhadap program religius di sekolah[12]. Kegiatan rutin ini dapat dilakukan oleh siswa di lingkungan sekolah, yaitu sholat dhuha setiap hari, membaca alquran setiap jumat pagi sebelum memulai kelas, dan melibatkan orang tua dalam proses pembentukan karakter untuk menciptakan lingkungan pendukung di luar sekolah, karena orang tua adalah pendidikan pertama untuk anaknya dan sebagai panutan oleh anak-anaknya[13]. Oleh sebab itu pentingnya cara mendidik yang tepat untuk anak di rumah, agar karakter religius pada anak mudah terbentuk dengan baik ketika bukan hanya dirumah namun juga berada di lingkungan sekolah.
Penguatan pendidikan religius lebih berfokus terhadap kegiatan - kegiatan yang ada dalam keseharian selama di kelas melalui beberapa kegiatan yang diadakan oleh lingkungan sekolah dasar. Penelitian ini membangun dan mengembangkan temuan-temuan dari penelitian terdahulu yang serupa, sebagai berikut: Penelitian mengenai Penguatan Pendidikan Karakter Religius Siswa Sekolah Dasar Berbasis Budaya Sekolah bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan penguatan karakter religius siswa melalui budaya sekolah, baik berbasis kelas maupun lingkungan sekolah, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan penguatan karakter religius dipengaruhi oleh konsistensi penerapan budaya sekolah, peran guru, serta dukungan lingkungan, sementara hambatan muncul dari kurangnya keterlibatan seluruh warga sekolah dan keterbatasan sarana[14].penelitian oleh [15]yang berjudul Penguatan Pendidikan Karakter Religius Siswa Berbasis Kelas bertujuan untuk menganalisis penguatan pendidikan karakter religius melalui manajemen kelas. Fokus penelitian ini terletak pada pelaksanaan kegiatan di dalam kelas serta kendala yang dihadapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan karakter religius dapat dilakukan melalui pengelolaan kelas yang terintegrasi dengan nilai-nilai religius, namun masih terdapat kendala seperti kurangnya variasi metode pembelajaran dan keterbatasan waktu.
Meskipun telah banyak penelitian yang membahas pendidikan karakter religius, terdapat beberapa kesenjangan penelitian, yaitu: Penelitian sebelumnya lebih banyak berfokus pada pendekatan berbasis budaya sekolah secara umum, bukan secara spesifik pada pembelajaran di dalam kelas. Kajian terkait penguatan karakter religius masih dominan membahas program sekolah secara makro, belum mendalami praktik konkret guru dalam mengintegrasikan nilai religius dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Belum banyak penelitian yang mengkaji secara mendalam bagaimana interaksi langsung antara guru dan siswa di kelas menjadi kunci dalam pembentukan karakter religius.
Oleh karena itu, penelitian ini hadir untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan menekankan pada penguatan pendidikan karakter religius berbasis kelas secara praktis dan kontekstual. Penelitian ini memiliki nilai kebaruan pada pendekatan berbasis kelas (class-based approach) dalam penguatan karakter religius, bukan hanya pada budaya sekolah secara umum. Mengkaji secara langsung strategi guru dalam mengintegrasikan nilai religius ke dalam aktivitas pembelajaran harian, seperti pembiasaan, interaksi sosial, dan kegiatan rutin kelas. Menampilkan implementasi nyata berupa kegiatan religius terstruktur di dalam kelas (doa bersama, sholat berjamaah, 5S, refleksi harian). Menghubungkan penguatan karakter religius dengan pembentukan kebiasaan (habit formation) yang dilakukan secara konsisten di lingkungan kelas.
Jenis Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif objek penelitian dilakukan di SDN Trompo Asri 2 dengan subjek kelas 2 karena menerapkan Penguatan Pendidikan Karakter Religius Berbasis Kelas Di sekolah Dasar Negeri. Teknik pengumpulan data melalui dokumetasi,wawancara,observasi.sebagai pendoman wawancara terdapat lembar wawancara dengan 3 sumber yaitu:kepala sekolah, guru kelas, peserta didik. Adapun budaya sekolah berbasis kelas. Berupa mengaji bersama sebelum memulai pelajaran dikelas, berdoa sebelum memulai & sesudah pelajaran dikelas. Uji keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Teknik analisis data menggunakan pola yang di susun oleh Miles Huberman (1986), analisis data teori tersebut meliputi pengumpulan data, mereduksi data, menyajikan data, dan penarikan Kesimpulan
Figure 1.
Gambar 1. Alur metode
Indikator budaya berbasis kelas merupakan alat penting dalam memahami bagaimana stratifikasi sosial mempengaruhi pola elig, nilai, dan perilaku individu dalam religious. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis eligious-indikator kunci yang mencerminkan perbedaan budaya di antara kelas sosial yang berbeda. Berikut indicator yang peneliti gunakan untuk melakukan penelitian
Tabel 1 Indikator Religius
Budaya berbasis kelas memainkan peran penting dalam membentuk identitas sosial dan dinamika kekuasaan dalam Masyarakat, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana nilai – nilai, norma, dan praktik budaya dipengaruhi oleh budaya kelas sosial dan bagaimana hal tersebut berdampak pada interaksi sosial dan mobilitas antar kelas. Melalui analisis mendalam terhadap fenomena ini, diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih baik tentang bagaimana kelas sosial membentuk dan dipengaruhi oleh budaya dalam konteks Masyarakat modern. Mendukung budaya kelas yang ada berikut triangulasi.
Figure 2.
Gambar 2. Wawancara dengan kepala sekolah
Melalui program berbasis kelas, para siswa tidak hanya mempelajari materi akademis, tetapi juga nilai-nilai spiritual yang penting. Berdasarkan hasil wawancara mengenai kegiatan rutin di kelas SDN Trompoasri 2, sebelum memulai aktivitas belajar, para siswa dan guru berkumpul untuk melaksanakan sholat dhuha berjamaah dan membaca ayat-ayat suci Al-Quran atau tulisan keagamaan lainnya. Selain itu, mereka berdoa sebelum memulai dan menutup kegiatan, serta melaksanakan praktik keagamaan seperti sunnah-sunnah dalam sholat, berwudhu, dan sholat dhuhur berjamaah. Dalam pelajaran agama, siswa belajar tentang ajaran moral dan etika yang terkandung dalam agama mereka. Program ini juga mencakup penerapan nilai-nilai seperti senyum, salam, sapa, sopan, santun (5S Kebaikan), menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama, dan kegiatan keagamaan lainnya. Siswa tidak merasa terpaksa untuk mengamalkan hal ini karena kegiatan tersebut rutin dilakukan dan didasarkan pada visi dan misi sekolah yang sejalan dengan ajaran agama.
SDN Trompoasri 2 menerapkan prinsip yang menjunjung tinggi slogan '5S Kebaikan'. Melalui slogan ini, siswa, guru, dan seluruh warga sekolah diajarkan untuk selalu menyapa dengan senyum, memberikan salam yang sopan, serta berinteraksi dengan ramah dan santun kepada siapa pun. Penerapan 5S Kebaikan dilakukan secara rutin setiap pagi sebelum memasuki sekolah, dengan cara guru menyambut kedatangan peserta didik di gerbang sekolah, berjabat tangan, dan mengucapkan salam dengan ramah. Guru yang datang lebih awal menyambut kedatangan peserta didik antara pukul 06.30 dan 06.45 pagi. Berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah, budaya 5S Kebaikan ini bertujuan untuk meningkatkan interaksi sosial, membangun rasa persaudaraan, dan menciptakan atmosfer yang positif, yang pada akhirnya berdampak baik pada kualitas pembelajaran dan kebersamaan di SDN Trompoasri 2.
Pembiasaan karakter untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan agama merupakan aspek penting dalam pendidikan di SDN Trompoasri 2. Siswa diajarkan untuk memahami dan mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, seperti menjalankan shalat, puasa, berdoa, dan berbuat baik kepada sesama, serta menjauhi perilaku negatif seperti berbohong, mencuri, dan berbuat zalim. Salah satu kegiatan yang menonjol adalah praktek shalat dhuha berjamaah sebelum memulai pembelajaran pada pukul 07.00 pagi, yang dilakukan secara bergiliran sesuai dengan jadwal mata pelajaran agama, didampingi oleh wali kelas masing-masing. Setelah shalat, siswa segera memasuki kelas untuk memulai pembelajaran, diawali dengan guru yang memberikan salam dan menyapa peserta didik, diikuti dengan pembacaan doa bersama. Kepala sekolah mengarahkan guru kelas dan guru agama untuk secara bergiliran memilih murid sebagai perwakilan dalam memulai pembelajaran dengan doa, guna memastikan proses berdoa berjalan tertib dan lancar.
Setiap hari saat waktu dzuhur tiba, dilaksanakan istirahat, sholat, dan makan (ishoma) serta sholat dzuhur berjamaah yang dipimpin oleh guru secara bergantian. Pelaksanaan sholat berjamaah ini wajib diikuti oleh seluruh siswa, dengan pemberian peringatan bagi yang tidak ikut serta atau mengganggu ketertiban. Melalui kegiatan sholat dhuha dan dzuhur berjamaah ini, SDN Trompoasri 2 berharap dapat membentuk karakter siswa yang lebih religius, disiplin dalam beribadah, dan menciptakan kebiasaan positif yang bermanfaat bagi perkembangan spiritual maupun akademis siswa.
seperti buang sampah pada tempatnya dan piket kelas untuk membersihkan kelas setelah kegiatan sekolah selesai. Kegiatan ini secara tidak langsung mengembangkan empati dan kedisiplinan siswa terhadap lingkungan sekitarnya.
Pembiasaan karakter untuk mensyukuri nikmat karunia Tuhan dan melestarikan semua ciptaan Tuhan Yang Maha Esa merupakan salah satu fokus pendidikan di SDN Trompoasri 2. Berdasarkan hasil wawancara, akan diadakan kegiatan infaq setiap hari Jumat sebagai bentuk rasa syukur siswa. Selain itu, di setiap akhir pembelajaran, wali kelas selalu mengingatkan siswa akan pentingnya rasa syukur dengan menanyakan, 'Kebaikan apa yang dilakukan hari ini?' dan mengajak siswa untuk menjalankan pola hidup bersih sesuai dengan hadist yang berbunyi 'النظافة من الإيمان' yang artinya “Kebersihan itu sebagian dari iman”. Melalui kegiatan ini, SDN Trompoasri 2 berharap dapat membentuk karakter siswa yang lebih religius, bersyukur, dan peduli terhadap kebersihan serta kelestarian lingkungan.
Kebiasaan karakter yang terakhir adalah toleransi dan saling menghormati. Menanamkan kepribadian toleran dan menghormati sejak dini akan memudahkan anak dalam bersosialisasi. Di SDN Trompoasri 2, siswa tidak hanya beragama Islam tetapi juga memeluk agama lain. Guru selalu menghargai perbedaan agama dan menyampaikan pentingnya toleransi beragama agar tidak mengganggu orang lain saat beribadah. Kepribadian toleran tidak hanya dimasukkan dalam materi pembelajaran saja, tetapi juga dalam modul pendidikan sekolah sebagai bagian dari penilaian kepribadian. Dengan demikian, SDN Trompoasri 2 berperan sebagai model dalam mempromosikan perdamaian dan toleransi antar umat beragama.
Sekolah memainkan peran penting dalam membantu peserta didik membentuk karakter religius, dan guru memegang tanggung jawab besar dalam menciptakan lingkungan yang mendukung hal tersebut. Untuk memperkuat pendidikan karakter religius di SDN Trompoasri 2, tersedia pelajaran agama yang efektif. Hal ini tercermin dalam upaya guru agama yang memberikan arahan tertib dalam membaca doa dan memberikan bimbingan yang konsisten. Selain itu, guru agama menunjukkan kepedulian dengan terus memantau kegiatan ibadah peserta didik di rumah. Apabila ada peserta didik yang mengganggu teman saat beribadah atau enggan beribadah, mereka diberikan sanksi berupa membaca surat-surat pendek untuk memberikan kesadaran dan memperbaiki perilaku. Penguatan pendidikan karakter religius ini berhubungan erat dengan moralitas, etika, dan perilaku baik, yang pada akhirnya menghasilkan budi pekerti yang luhur, serta menunjukkan bahwa karakter individu dapat menjadi faktor pembeda di antara orang lain.
Figure 3.
Gambar 3.Menganalisis guru pada kegiatan belajar dikelas
Pendidikan karakter religius yang bertujuan membentuk karakter religius peserta didik telah terimplementasikan secara rutin dan sejalan dengan visi SDN Trompoasri 2, yaitu terwujudnya generasi berprestasi yang berakhlak mulia. Kepala sekolah menginisiasi pendekatan karakter religius ini dengan tujuan menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik, yang diharapkan juga akan diterapkan di lingkungan rumah mereka. Berdasarkan hasil wawancara, peneliti menyimpulkan bahwa meskipun kepala sekolah memiliki sedikit interaksi langsung dengan peserta didik, hal ini tidak membuatnya melepas tanggung jawab atau sepenuhnya mengandalkan guru kelas dan guru agama untuk membentuk karakter religius pada peserta didik. Kepala sekolah berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan waktu yang tersedia untuk memberikan pesan-pesan kepada peserta didik mengenai perilaku yang baik sesuai dengan ajaran agama, serta perilaku yang sebaiknya dihindari. Selain memberikan arahan kepada peserta didik, kepala sekolah juga memberikan petunjuk kepada guru kelas dan guru agama untuk selalu memperhatikan dan membimbing peserta didik dalam praktik ibadah, mengingat banyaknya interaksi langsung yang mereka miliki dengan peserta didik.
Figure 4.
Gambar 4. foto bersama dengan guru dan siswa
Penguatan pendidikan karakter religius berbasis kelas di sekolah dasar terbukti menjadi pendekatan yang efektif dalam membentuk karakter peserta didik secara menyeluruh. Pembiasaan kegiatan religius, keteladanan guru, dan integrasi nilai-nilai keagamaan dalam aktivitas pembelajaran sehari-hari mampu mendorong internalisasi nilai religius ke dalam perilaku nyata siswa.
Yang menarik dari temuan ini adalah bahwa karakter religius tidak terbentuk hanya karena siswa menerima penjelasan tentangnya. Ia terbentuk melalui pembiasaan yang konsisten dan interaksi sosial yang terjadi di dalam kelas, hari demi hari. Guru dalam proses ini bukan sekadar penyampai informasi mereka adalah agen utama yang membangun lingkungan belajar yang kondusif dan religius. Siswa belajar dari apa yang mereka alami langsung dan dari siapa yang mereka lihat.
Pendekatan berbasis kelas yang diterapkan di SDN Trompoasri 2 memperlihatkan bahwa integrasi nilai religius dan aktivitas pembelajaran bisa berjalan secara kontekstual nilai-nilai itu tidak hanya dipahami, tetapi benar-benar dijalani. Inilah yang membedakannya dari pendekatan programatik atau seremonial yang hanya berlangsung pada momen-momen tertentu tanpa benar-benar meresap.
Secara teoretis, penelitian ini memperkuat konsep pendidikan karakter melalui pembiasaan dan pembelajaran sosial. Secara praktis, penelitian ini menawarkan model implementasi yang konkret dan bisa direplikasi oleh sekolah dasar lain. Penguatan karakter religius berbasis kelas adalah strategi yang relevan untuk menjawab tantangan degradasi moral, sekaligus mendukung lahirnya generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter keagamaan yang kuat.
R. Syaadah, M. H. Al Asy Ary, N. Silitonga, and S. F. Rangkuty, “Pendidikan Formal, Pendidikan Nonformal, dan Pendidikan Informal,” PEMA: Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Kepada Masyarakat, vol. 2, no. 2, pp. 125–131, 2022, doi: 10.56832/pema.v2i2.298.
T. Noor, “Rumusan Tujuan Pendidikan Nasional Pasal 3 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003,” Wahana Karya Ilmiah Pendidikan, 2003.
N. Fajri and A. Rivauzi, “Pembentukan Karakter Peserta Didik Melalui Pendidikan Karakter Berbasis Kelas,” Jurnal Eduscience, vol. 9, no. 1, pp. 134–142, 2022, doi: 10.36987/jes.v9i1.2548.
J. Tarbiyah and S. Pamekasan, “Berbasis Nilai-Nilai Religius,” 2003.
I. Asa, “Character Education According to Ki Hadjar Dewantara and Driyarkara,” Jurnal Pendidikan Karakter, vol. 10, no. 2, 2019, doi: 10.21831/jpk.v9i2.25361.
N. P. S. Karyani and I. G. Astawan, “Hubungan Karakter Beriman, Bertakwa kepada Tuhan, dan Berakhlak Mulia serta Mandiri dengan Prestasi Belajar Pendidikan Pancasila Siswa Sekolah Dasar,” Jurnal Basicedu, vol. 8, no. 1, pp. 815–824, 2024, doi: 10.31004/basicedu.v8i1.7199.
M. L. A. Al Azhari, D. Kumalasari, L. A. Al Ghifari, and M. Sholikhah, “Membangun Karakter Religius Siswa Melalui Pembelajaran Akidah Akhlak Kelas 1 di MI Miftahus Sa’adah,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, vol. 5, no. 1, pp. 28–34, 2025, doi: 10.37081/jipdas.v5i1.2413.
D. I. SDN and L. Sidoarjo, “1, 2, 1,2,” vol. 9, 2024.
L. U. Fauzieyah and S. Suyatno, “Pendidikan Karakter Religius di Sekolah Dasar Islam Terpadu,” Jurnal Basicedu, vol. 8, no. 1, pp. 306–318, 2024, doi: 10.31004/basicedu.v8i1.7092.
U. I. Indonesia, “Pendidikan Karakter dalam Paradigma Prophetic Parenting sebagai Upaya Mengatasi Degradasi Moral,” vol. 19, no. 1, 2022.
S. M. Wardoyo, “Pendidikan Karakter: Membangun Jatidiri Bangsa Menuju Generasi Emas 2045 yang Religius,” TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam, vol. 10, no. 1, pp. 90–103, 2015, doi: 10.19105/tjpi.v10i1.640.
S. Harmuli, V. S. Agustin, P. Ananda, N. A. Rahmawati, and M. Sofwan, “Implementasi Budaya Sekolah 3S (Senyum, Sapa, Salam) di Sekolah Dasar,” Ainara Journal (Jurnal Penelitian dan PKM Bidang Ilmu Pendidikan), vol. 6, no. 1, pp. 108–113, 2025, doi: 10.54371/ainj.v6i1.784.
History, “Volume 23 Nomor 1 April 2025,” 2025.
A. Sofannah, M. Amrullah, and M. D. K. Wardana, “Penguatan Pendidikan Karakter Religius Melalui Pembiasaan Budaya Sekolah,” JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, vol. 8, no. 2, pp. 115–125, 2023, doi: 10.24269/jpk.v8i2.7087.
F. Af’idah and M. Amrullah, “Strengthening Class-Based Religious Character Education,” Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, vol. 8, no. 1, 2023, doi: 10.23969/jp.v8i1.8685.