Login
Section Elementary Education Method

Analysis of Elementary School Students’ Speaking Ability in Indonesian Language Learning: A Study Based on John Bowlby’s Attachment Theory

Analisis Kemampuan Berbicara Siswa Sekolah Dasar dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia: Kajian Teori Kelekatan John Bowlby
Vol. 21 No. 1 (2026): February:

Devina Aulia Aribah (1), Ahmad Nurefendi Fradana (2)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Speaking ability is a fundamental skill in Indonesian language learning at the elementary school level because it supports communication, participation, and the expression of ideas. Specific Background: Students show varied speaking performance, and their participation may be related not only to linguistic competence but also to emotional conditions and classroom interactions. Knowledge Gap: Previous studies have examined speaking ability in relation to learning strategies, family environments, and communication factors, while research specifically describing elementary school students’ speaking ability in Indonesian language learning through John Bowlby’s attachment theory remains limited. Aims: This study aimed to describe elementary school students’ speaking ability and identify factors related to their speaking performance from the perspective of attachment theory. Results: Using a qualitative case study design, the research involved 13 fourth-grade students at SDN Ketimang. Data were collected through observation, interviews, and documentation and analyzed through data reduction, data presentation, and conclusion drawing, supported by source and technique triangulation. Most students demonstrated good speaking ability across confidence, pronunciation, vocabulary selection, relevance of spoken content, and nonverbal expression. Students categorized as having secure attachment tended to demonstrate greater confidence, fluency, and oral participation, while students with insecure attachment showed hesitation and more limited participation. Novelty: The study connects the profile of elementary students’ speaking ability with emotional security and attachment relationships within Indonesian language learning. Implications: The findings suggest that supportive teacher-student interactions and emotionally secure classroom environments should be considered when developing speaking activities for elementary school students.


Key Findings Highlights


Most observed students demonstrated good performance across five speaking indicators.


Secure attachment was associated with greater confidence and oral participation.


Supportive teacher interactions encouraged students to speak without excessive fear of mistakes.


Keywords: Speaking Ability, Attachment Theory, Elementary School Students, Indonesian Language Learning, Emotional Security

I. Pendahuluan

Kemampuan berbicara merupakan hubungan sosial yang terdiri dari dua aspek yaitu kelancaran dalam berbicara dan pengucapan dalam pemilihan kata, meliputi tindakan untuk menghasilkan ujaran yang bertujuan untuk mengungkapkan pendapat, ide-ide atau keinginan dalam mmpertahankan hubungan sosial . Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan suatu proses pengajaran yang dapat meningkatkan keterampilan berbahasa siswa.Sarana utama dalam melakukan interaksi dengan sesama manusia ialah cara berkomunikasi yang baik dengan bahasa yang tepat, terutama untuk menyalurkan sebuah ide, emosi, dan nilai-nilai budaya yang ada di sekitar lingkungan .

Dalam konteks pendidikan, Bahasa Indonesia memiliki hubungan yang sangat erat dengan kemampuan berbicara. Kemampuan penguasaan bahasa Indonesia dapat mendorong kemampuan menyampaikan gagasan dan informasi secara jelas dan terstuktur. Terdapat penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas V SD mencapai kemampuan berbicara dalam kategori baik, dengan aspel pelafalan (79%), paralinguistik (72%), kebahasaan (66%), isi pembicaraan (63%) dan bahasa tubuh (57%) . Sementara itu, ada penelitian lain yang menyimpulkan bahwa kemampuan berbicara tergolong cukup, namun berpotensi meningkat menjadi baik dengan intervensi pembelajaran bahasa yang konsisten dan terarah

Keterampilan berbahasa merupakan model untuk mengembangkan intelektual, sosial, dan karakter siswa, hal ini menyebebakan keterampilan berbahasa sangat dibutuhkan bagi semua individu . Menurut standart isi ruang lingkup mata pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar meliputi: 1) Menulis (writting), 2) Membaca (reading), 3) Berbicara (speaking), 4) Mendengarkan (listening). Untuk meningkatkan kompetensi berbahasa Indonesia yang baik dan benar, siswa harus memiliki masing-masing keterampilan tersebut. Dengan latihan dan membiasakan kegiatan berbahasa yang baik dan diulang secara terus menerus akan meningkatkan keterampilan berbahasa anak .

Kemampuan berbicara dan mendengarkan yang baik adalah indikator penting dari keberhasilan berkomunikasi. Keterampilan ini sangat sering dibaikan dalam proses pembelajaran, dengan beberapa strategi diskusi kelompok, debat terbimbing, bermain peran, dan presentasi terbukti sangat efektif dalam melatih siswa untuk berbicara secara aktif dalam konteks nyata. Jika kemampuan ini rendah, siswa akan kesulitan memahami materi, mengemukakan ide, dan berpartisipasi secara aktif . Berbagai penelitian menujukkan bahwa strategi pemebelajaran memiliki pengaruh signifikan terhadap kemampuan komunikasi siswa sekolah dasar.

Pembelajaran debat aktif memiliki pengaruh terhadap keterampilan berbicara peserta didik, khususnya siswa kelas 5 di SDN Tanah Kalikediding 1 Surabaya . Temuan ini menguatkan hasil studi sebelumnya bahwa pembelajaran yang memberikan ruang interaksi dan argumentasi dapat membentuk keberanian serta kelancaran berbicara siswa, hasil pra survei sebelum diterapkan strategi debat aktif hanya di peroleh 36,3% sedangkan setelah diterapkan strategi debat aktif diperoleh rata-rata nilai 88,15 . Pendekatan ini dinilai mampu menyesuaikan pembelajaran dengan gaya belajar yang beragam, sehingga siswa lebih aktif menyampaikan ide. Model pembelajaran kooperatif memberikan pengaruh terhadap keterampilan berbicara siswa, peningkatan keterampilan berbahasa pada hasil nilai preteset yaitu 44,55 sedangkan nilai postest ini adalah 56,50, terdapat peningkatan sebanyak 11,95 .

Kesenjangan dengan penelitian sebelumnya adalah banyak penelitian fokus pada faktor-faktor penyebab (misalnya dari lingkungan keluarga, pola asuh). Lingkungan keluarga merupakan penunjang dalam tumbuh kembang anak. Lingkungan keluarga adalah tempat dimana anak mendapatkan pendidikan pertama kali, tumbuh kembang anak dimulai bagaimana cara anak berbicara, menulis, hingga belajar membaca , salah satu faktor yang sangat berpengaruh merupakan dorongan secara langsung berupa semangat, nasihat untuk anak, sebagai contoh orang yang mendapatkan cinta dan yang memberikan kasih sayang untuk tempat yang paling nyaman bertanya . Penelitian yang serupa menekankan faktor utama dalam berkembangnya kosakata dan keterampilan membaca anak adalah lingkungan keluarga, terutama dengan interaksi verbal yang dilakukan dirumah .

Dengan beberapa penelitian sebelumnya tetapi sedikit yang murni menganalisis profil kemampuan berbicara siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar. Oleh karena itu, analisis seperti ini penting untuk menjadi dasar strategi peningkatan pembelajaran. Sebagian besar penelitian hanya menyinggung kemampuan berkomunikasi siswa secara umum atau mengaitkan dengan variabel lain, sehingga hanya sedikit yang secara murni menganalisis keampuan berkomuikasi siswa dalam konteks pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar. Analisis yang berfokus pada profil kemampuan ini sangat penting karena temuan ini dapat dijadikan dasar penyusunan strategi pembelajaran yang lebih tepat sasaran, efektif, dan sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar.

Kerangka kerja teori kelekatan (Attachment Theory) yang diinisiasi oleh John Bowlby menekankan signifikasi fundamntal dari relasi emosional yang stabil antara anak dan figur pegasuh utama mereka. Interaksi tersebut menjadi fondasi utama bagi pertumbuhan idividu dalam aspek sosial, afektif, maupun intelektual. Siswa yangmengambangkan pola kelekatanaman umumnya memiliki kecenderungan untuk lebih adaptif dalam mengartikulasikan pemikiran, meregulasi kondisi emosional, serta membangun keterlibatan antar ;probadi yang konstruktif. Di sisi lain, manifestasi dari kelekatan tidak aman sering kali berkolerasi dengan rendahnya efikasi diri hambatan dalam proses komunikasi, atau kecenderungan untuk bersikap lebih pasif serta restisense dalam dinamika soisal. Meskipun fokus awal teori ini adalah hubungan anak dengan keluarga, tetapi pengaruhnya meluas.

Teori kelekatan ini mempunyai hubungan tentang interaksi sosial anak di luar rumah, termasuk di lingkungan sekolah. Pola kelekatan yang aman membuat anak lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat, menanggapi pertanyaan guru, dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar. Anak dengan kelekatan aman cenderung lebih mudah membentuk hubungan positif dengan teman sebaya dan guru, sehingga kemampuan komunikasi mereka berkembang lebih optimal dibandingkan anak dengan kelekatan tidak aman. Hal ini relevan untuk pembelajaran bahasa Indonesia, di mana kemampuan komunikasi meliputi; 1) Berbicara, 2) Mendengarkan, 3) Membaca, 4) Menulis. Keterampilan tersebut merupakan kompetensi inti.

Kerangka konseptual Attachment Theory yang dikembangkan oleh John Bowlby menegaskan pentingnya keberadaan hubungan emosional yang konsisten antara anak dan figur pengasuh sebagai landasan utama bagi perkembangan psikologis individu. Bowlby mengemukakan bahwa kualitas relasi kelekatan yang terbentuk sejak usia dini akan membangun internal working model, yaitu reprentasi mental yang memengaruhi cara anak memandang dirinya, orang lain, serta lingkungan sosial di sekitarnya. Representasi mental tersebut berkontribusi terhadap pembentukan kepercayaan diri, kemampuan regulasi emosi, serta kesiapan anak dalam menjalin interkasi sosial di berbagai konteks kehidupan, termasuk dalam lingkungan pendidikan formal.

Dalam proses perkembangan, kelekatan aman (secure attachment) memungkinkan anak memiliki rasa aman secara emosional yang berfungsi sebagai secure base. Konsep ini mengacu pada kondisi psikologis yang memberikan keberanian kepada anak untuk mengeksplorasi lingkungan sosialnya tanpa disertai kecemasan berlebihan. Rasa aman tersebut mendorong anak untuk berinisiatif dalam berinteraksi, mengemukakan pendapat, serta berpartisipasi dalam aktivitas komunikasi secara lebih terbuka. Sebaliknya, anak dengan pola kelekatan tidak aman (insecure attachment) cenderung memperlihatkan keraguan, kecemasan sosial, serta kecenderungan menghindari situasi yang menuntut partisipasi verbl sehingga berdampak pada keterbatasan keterlibatan dalam komunikasi.

Lebih lanjut, John Bowlby menekankan bahwa kelekatan tidak hanya terbentukmelalui relasi anak dengan keluarga, tetapi juga dapat berkembangan melalui hubungan dengan figur signifikan lain di luar lingkungan rumah, seperti guru di sekolah. Dalam konteks pembelajaran, guru berpotensi berperan sebagai figur kelekatan sekunder yang memberikan dukungan emosional melalui interaksi yang bersifat suportif tersebut berkontribusi dalam menciptakan iklim psikologis yang aman, sehingga siswa merasa diterima dan dihargai dalam proses pemebelajaran.

Keberadaan rasa aman emosional di lingkungan kelas turut memengaruhi kesiapan siswa dalam mengemukakan gagasan secara lisan, menjawab pertanyaan, maupun berpartisipasi dalam diskusi pembelajaran. Siswa dengan kelekatan aman umumnya menunjukkan tingkat keterlibatan komunikasi yang lebih tinggi, mampu menyampaikan ide secara runtut, serta menjalin hubugan interpersonal yang positif dengan guru maupun teman sebaya. Sebaliknya, keterbatasan dalam relasi kelekatan dapat menimbulkan hambatan dalam proses komunikasi, seperti rendahnya kepercayaan diri, kecenderungan bersikap pasif, maupun resistensi terhadap aktivitas berbicaradi depan kelas.

Indikator kemampuan berbicara yang diterapkan dalam penelitian ini mencakup: 1)keberanian dalam berbicara, 2) ketepatan pelafalan, 3) pemilihan kosakata, 4) relevansi isi tuturan 5) serta ekspresi nonverbal. Kelima indikator tersebut dipilih karena mencerminkan keterlibatan emosional dan sosial siswa dalam komunikasi lisan yang, dalam perspektif teori kelekatan John Bowlby, berkaitan dengan rasa aman secara emosional sebagai landasan bagi keberanian anak dalam berinteraksi dan menyampaikan gagasan. Hal ini menunjukkan, indikator-indikator tersebut tidak hanya mempresentasikan aspek kebahaan semata, tetpi juga menggambarkan kondisi psikologis siswa yang memengaruhi kesiapan mereka untuk terlibat secara aktif dalam proses komunikasi di lingkungan pembelajaran.

Dengan demikian, teori kelekatan menjadi kerangka yang tepat untuk menganalisis kemampuan berbicara siswa, karena membantu memahami, berdasrkan fokus penelitian yang telah di rumuskan meliputi: 1) Bagaimana kemampuan berbicara siswa sekolah dasar dalam pembelajaran bahasa Indonesia?, 2) Faktor- faktor apa saja yang memengaruhi kemampuan bebicara siswa sekolah dasar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia?. fokus utama dari penelitian ini adalah untuk mengeksploriasi secara deskriptif kecakapan orasi siswa pada jenjang sekolah dasar dalam konteks pembelajaran bahasa Indonesia, sekaligus melakukan identifikasi terhadap berbagai daterminan yang memengaruhi kompetensi verbal tersebut. Melalui hasil studi ini, diharaan tersedia rumusan komprehensif yang dapat diimplementasikan oleh tenaga pendidik dalam menyelaraskan strategi instruksional. Selain itu penelitian ini diproyeksikan mampu memberikan kontribusi praktis dalam upaya mengonstruksi atmosfer pembelajaran yang supportif, guna menstimulasikan peningkatan interaksi serta partisipasi aktif siswa secara lebih optimal dalam kelas.

Urgensi peneitian ini terletak pada pentingnya analisis kemampuan berkomunikasi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan komunikasi siswa, seperti strategi komunikasi guru dan lingkungan pembelajaran. Analisis kemampuan berkomunikasi siswa tingkat sekolah dasar memiliki peran yang sangat penting karena dapat memberikan gambaran objektif mengenai kondisi komunikasi siswa selama proses pembelajran. Sebagai contoh, pentingnya analisis kemampuan komunikasi siswa dalam pembelajaran daring di SDN Karangrejo, yang dapat memberikan wawasan tentang faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan komunikasi siswa .

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi guru dalam memilih metode dan media pembelajara yang tepat, sehingga proes pembelajaran menjadi lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Ada pun penelitian yang menunjukkan bahwa metode pembelajaran role playing dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa dan hasil belajar mereka . Selain itu, penelitian ini juga mendukung upaya sekolah dalam menumbuhkan keterampilan berbicara sebagai bagian dari kompetensi abad 21. Keterampilan berbicara merupakan salah satu dari empat keterampilan utama dalam kompetensi abad 21, bersama dengan kolaborasi, kreativitas, dan berpikir kritis. Implementasi Kurikulum Merdeka di Indonesia bertujuan untuk memperkuat keterampilan abad 21 siswa sekolah dasar, termasuk keterampilan komunikasi.

Berdasarkan kegiatan pra-observasi yang telah dilakukan peneliti pada salah satu sekolah dasar, ditemukan bahwa sebagian siswa masih menujukkan keterbatasan dalam keterampilan berbicara menggunakan Bahasa Indonesia. hal ini tercermin dari rendahnya tingkat kepercayaan diri siswa saat menyampaikan pendapat di depan kelas, kecenderungan menggunakan campuran bahasa daerah dan bahasa Indonesia, serta artikulasi yang belum jelas sehingga gagasan yang disampaikan tidak tersusun secara sistematis. Temuan tersebut mengindikasi bahwa kompetensi berbicara siswa dalam konteks pembelajaran bahasa Indonesia masih memerlukan upaya pengembangan dan peningkatan berkelajutan. Padahal, berbicara merupakan keterampilan penting untuk berkomunikasi, menyampaikan gagasan, sekaligus membangun interaksi sosial di lingkungan sekolah.

Jika dibandingkan dengan penelitian-penelitian sebelumnya, sebagian besar masih menekankan pada faktor luar, seperti lingkungan keluarga atau strategi pembelajaran yang digunakan guru. Sementara itu, penelitian yang secara khusus mengkaji profil kemampuan berbicara siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar masih terbatas. Berdasarkan landasan tersebut, peelitian ini difokuskan untuk mengkaji dua pokok permasalahan, yaitu; (1) Gambaran tingkat kemampuan berbicara siswa sekolah dasar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, serta (2) Berbagai faktor yang berperan dalam memengaruhi kemampuan berbicara siswa sekolah dasar pada embelajaran Bahasa Indonesia..

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berbicara siswa sekolah dasar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat teoretis, yakni memperkaya kajian mengenai keterampilan berbahasa, khususnya berbicara. Secara praktis, temuan penelitian ini juga diharapkan menjadi masukan bagi guru dalam memilih strategi pembelajaran yang lebih tepat guna meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Dengan demikian, penelitian ini dipandang penting karena mampu memberikan gambaran nyata tentang kondisi komunikasi siswa sekolah dasar sekaligus mendukung upaya peningkatan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia yang sejalan dengan kebutuhan kompetensi abad 21 serta pelaksanaan Kurikulum Merdeka.

II. metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatifdengan jenis studi kasus. Penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami makna yang muncul dari pengalaman individu atau kelompok dalam konteks sosial yang nyata . Jenis studi kasus dipilih karena penelitian ini difokuskan pada satu kelompok tertentu, yakni siswa kelas IV sekolah dasar, sehingga memungkinkan peneliti untuk menggali fenomena kemampuan berbicara siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia secara lebih mendalam melalui berbagai sumber data.

Ladasan awal penelitian ini bersumber dari pengalaman penelti selama melaksanakan kegiatan magang di sekolah. Pada proses pembelajaran Bahasa Indonesia, teramati bahwa kemampuan berbicara siswabelum berkembang secara meata. Sejumlah siswa masih mengalami hambatan dalam mengemukakan gagsan secara sistematis dan menujukkan kecenderungan untuk pasif ketika diminta menyampaikan pendapat. Di sisi lain, sebagian siswa justru mampu berbicara dengan lancar, percaya diri, dan lebih aktif dalam diskusi kelas. Variasi kemampuan inilah yang mendorong peneliti untuk menelaah lebih jauh bagaimana kemampuan berbicara siswa kelas IV serta faktor-faktor yang memengaruhinya.

Penelitian akan dilakukan di SDN Ketimang dengan subjek penelitian yaitu seluruh siswa kelas IV yang aktif mengikuti kegiatan belajar mengajar. Pemilihan kelas IV dilakukan dengan pertimbangan bahwa pada jenjang ini siswa sudah mulai diarahkan untuk berani mengemukakan pendapat, berdiskusi, dan menyampaikan ide dengan runtut. Variasi kemampuan berbicara yang tampak pada jenjang ini juga memudahkan peneliti untuk melakukan analisis secara komprehensif. Selain siswa, guru kelas IV turut dijadikan informan tambahan guna memperkuat data yang diperoleh.

Penetapan subjek penelitian dalam studi ini dilakukan melalui teknik purposive sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan pertimbangan tertentu yang selaras dengan fokus penelitian. Dari keseluruhan 21 siswa kelas IV, sebanyak 13 siswa dilibatkan sebagi subjek utama penelitian. Penentuan jumlah tersebut didasarkan pada hasil pra-observasi yang mengindikasikan adanya variasi kemampuan berbicara siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, baik pada siswa yang cenderung aktif maupun siswa yang masih menunjukkan keraguan dalam komunikasi lisan. Selain itu, jumlah subjek yang dipilih dinilai telah memenuhi kebutuhan data penelitian, di mana informasi yang diperoleh menunjukkan pola yang berulang atau telah mencapai kejenuhan data (data saturation), sehingga penambahan subjek tidak memberikan temuan baru yang berarti. Dengan demikian 13 siswa dipandang sudah menggambarkan fenomena kemampuan berbicara siswa dalam konteks pembelajaran secara mendalam.

Data penelitian ini diperoleh dari dua sumber, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer berasal dari hasil observasi dan wawancara terhadap siswa kelas IV serta guru kelas, sedangkan data sekunder berupa dokumen pendukung seperti catatan guru, hasil pekerjaan siswa, serta foto dan rekaman aktivitas pembelajaran. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakuan melaui taga teknik, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kegiatan obsevasi diarahkan untuk menelaah keterampilan berbicara siswa selama erlangsung proses pembelajaran. Wawancara dilaksanakan guna memperoleh informasi mendalam terkait pengalaman serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kemampuan berbicara siswa. Sementara itu, dokumentasi digunakan sebagai sumber data pendukung untuk memperkuat temuan penelitian.

Analisis data dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan cara memilih dan memfokuskan data yang relevan dengan fokus penelitian, kemudian disajikan dalam bentuk narasi deskriptif, tabel, maupun kutipan hasil wawancara agar mudah dipahami. Dari penyajian data tersebut kemudian ditarik kesimpulan untuk menjawab rumusan masalah penelitian.

Untuk menjaga keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi yang diperoleh dari siswa dan guru, sedangkan triangulasi teknik dilakukan dengan menggabungkan hasil observasi, wawancara, serta dokumentasi. Penerapan triangulasi merupakan salah satu strategi penting dalam penelitian kualitatif karena dapat meningkatkan validitas serta kredibilitas temuan penelitian.

III. Hasil dan Pembahasan

A. Hasil Penelitian

Kemampuan berbicara adalah konteks yang paling penting baik dalam lingkungan kelas maupun di sekolah. Pembahasan hasil penelitian pada pembelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas IV di SDN Ketimang dengan tujuan untuk menggambarkan profil kemampuan berbicara siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. dari total 25 siswa yang terdapat di kelas, peneliti menetapkan 13 siswa sebagai sampel penelitian melalui teknik random sampling. Teknik ini dipilih agar setiap siswa memiliki peluang yang sama untuk dijadikan sampel berdasarkan hasil observasi, diketahui bahwa sebanyak 10 siswa menunjukkan kemampuan berbicara dalam kategori baik, sedangkan 3 siswa lainnya masih berada pada kategori kurang baik.

Hasil tersebut di peroleh melalui pengamatan langsung selama proses pembelejaran dengan mengacu pada indikator keberanian berbicara, kejelasan pelafalan, pemilihan kosakata, kesesuaian isi pembicaraan dengan topik, serta penggunaan ekspresi dan bahasa tubuh. Temuan tersebut mengidikasikan bahwa proses pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas telah memberikan ruang yang cukup bagi siswa untuk melatih kemampuan berbicara meskipun masih diperlukan upaya lanjutan. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa kemampuan berbicara siswa sekolah dasar umumnya berada pada kategori cukup hingga baik, meskipun masih ditemukan perbedaan kemampuan antar siswa [17]

Figure 1.

Gambar 1. Siswa menyampaikan pendapat dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

Siswa yang tergolong memiliki kemampuan berbicara baik umumnya mampu menyampaikan pendapat secara lisan dengan percaya diri dan lancar. Mereka dapat melafalkan kata dengan jelas, menggunakan kosakata yang sesuai dengan konteks pembelajaran, selain itu siswa mampu menjaga isi pembicaran tetap sesuai dengan topik dan menujukkan ekspresi serta bahasa tubuh yang mendukung penyampaian pesan. Sebaliknya, siswa dengan kemampuan berbicara kurang baik cenderung masih ragu-ragu saat berbicara, berbicara dengan suara pelan, dan mengalami kesulitan dalam mengembangkan isi pembicaraan secara runtut. Kondisi ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa aspek isi pembicaraan dan bahsa tubuh siswa sekolah dasar sering kali masih berada pada kategori cukup[18]

Figure 2.

Gambar 2. Siswa mampu menyampaikan pendapat secara lisan dengan percaya diri.

Selain faktor individual, strategi pembelajaran yang diterapkan guru juga berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbicara siswa. Model pembelajaran yang bersifat komunikatif dan melibatkan siswa secara langsung, seperti bermain peran, terbukti mampu meningkatkan keberanian dan kelancaran siswa dalam berbicara. Penerapan metode bermain peran dalam pembelajaran Bahasa Indonesia mampu membantu siswa mengembangkan kemampuan berbicara secara lebih optimal. Dengan demikian, hasil penelitian di SDN Ketimang didukung oleh penelitian terdahulu yang menegaskan pentingnya pendekatan pembelajaran aktif untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa[19].

Figure 3.

Diagram 1. Kategori Kemampuan Berbicara (John Bowlby and Attachment Theory. 2014)

Tren variabel kemampuan berbicara siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada penelitian ini menunjukkan kecenderungan berada pada kategori baik. Hal ini terlihat dari hasil observasi terhadap 13 siswa sampel, di mana sebagian besar siswa mampu memenuhi indikator kemampuan berbicara yang telah ditetapkan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas telah memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan keterampilan berbicara siswa, terutama melalui kegiatan yang melibatkan siswa secara aktif dalam penggunaan bahasa lisan.

Kondisi kemampuan berbicara yang tergolong baik tersebut berkaitan erat dengan tingkat partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran serta kedalaman pemahaman mereka terhadap materi yang dipelajari. Siswa dengan pemahaman yang memadai umumnya menunjukkan kepercayaan diri lebih tinggi dalam mengemukakan pendapat, mampu memilih kosakata secara tepat, serta menyampaikan gagasan yang tetap selaras dengan topik pembahasan.tetapi masi diumpai sejumlah kecil siswa dengan kemampuan berbicara yang belum optimal. Oleh karena itu, meskipun tren variabel kemampuan berbicara siswa cenderung baik, diperlukan upaya lanjutan agar kemampuan berbicara seluruh siswa dapat berkembang secara lebih merata.

Variasi kemampuan berbicara siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tidak terlepas dari pola interaksi emosional yang terbangun di kelas. Siswa yang memiliki hubungan emosional positif dengan guru dan teman sebaya cenderung menunjukkan keberanian lebih tinggi untuk berbicara, mengemukakan pendapat, serta merespons pertanyaan secara lisan. Pola interaksi yang terjalin secara hangat, mendukung, dan bebas sri sikap menghakimi mencip0takan rasa aman secara emosinal bagi siswa, sehingga mendorong peningkatan kepercayaan diri dalam mengungkapkan ide. Situasi tersebut memberikan kontribusi terhadap capaian kemampuan berbicara siswa yang tergolong dalam kategori baik.

Figure 4.

Gambar 3. Interaksi guru dan siswa yang menunjukkan dukungan emosional saat kegiatan berbicara

Sebaliknya, siswa yang menunjukkan tingkat parrisipasi lisan rendah umumtya memperlihatkan pola interaksi emosional yang cenderung tertutup, seperti munculnya rasa takutmelakukan kesalahan, perasaan malu, atau minimnya kepercayaan diri ketika dihadapkan pada kegiatan berbicara di depankelas. Keterbatasan dukungan emosional maupun pengalaman kurang menyenangkan saat berkomunikasi dapat menyebabkan siswa enggan terlibat secara verbal, sehingga perkembangan keterampilan berbicarannya berlangsung lebih lambat. Oleh sebab itu, perbedaan kemampuan berbicara antar siswa tidak semata-mata di pengaruhi ooleh aspek kognitif dan kebahasaan, melainkan juga oleh kualitas interaksiemosional yang dialami selama proses pembelajaran. Dengan demikian, peran guru menjadi krusia dalam membangu ikim eosiona yang kodusif agar setiap siswa memiliki peluang yan setara untuk mengembagkan kemampuan berbicara.

Hasil wawancara yang dilakukan dengan siswa mengindikasi bahwa keberanian dalam berbicara berkaitan erat dengan presepsi siswa terhadap suasana pembelajaran di kelas. Secara umum. Siswa menyampaikan bahwa tingkat kepercayaan diri mereka meningkat ketika proses interkasi dalam pembelajaran berlangsung secara suportif serta tidak menimbulkan tekanan psikologis. Salah satu siswa menyatakan “Saya lebih berani menjawab kalau Bu Guru tidak langsung bilang salah, biasanya dikasih kesempatan untuk mencoba lagi.” (Siswa A). Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa respons guru yang tidak bersifat menghakimi berperan dalam meminimalkan kecemasan siswa saat berbicara. Hal serupa juga diungkapkan oleh siswa lain yang menyatakan “Kalau ditanya pelan-pelan sama Bu Guru, saya jadi tidak terlalu takut untuk berbicara di depan kelas.” (Siswa B). Temuan ini mengidikasikan bahwa pendekatan kmunikasi yang diterapkan guru dalam proses pembelajaran berkontribusi terhadap terciptanya rasa aman secara emosional yang mendorong ketrlibatan siswa dalam komunikasi lisan di kelas.

Figure 5.

Gambar 4. Wawancara dengan siswa kelas IV

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas IV, diperoleh informasi bahwa guru secara sadar mengimplementasikan strategi pembelajaran yang bertujuan unruk menumbuhkan keberanian berbicara siswa secara bertahap. Upaya tersebut diwujudkan melalui pemberian kesempatan kepada suluruh siswa untuk terlibat dalam komunikasi lisan, termasuk siswa yang masih menunjukkan keraguan dalam menyampaikan pendapa. Guru menyatakan, “Biasanya saya tunjuk siswa yang jarang berbicara, tetapi petanyaannya saya sesuaikan agar mereka tetap bisa menjawab.” (Guru Kelas IV). Lebih lanjut, guru juga menjelaskan bahwa, “kalau ada jawaban yang kurang tepat, saya tidak langsung menyalahan tetapi, tetapi mencoba mengarahkan supaya siswa tetap percaya diri untuk berbicara.” Pernyataan tersebut mencerminkan adanya upaya guru dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung partisipasi lisan siswa secara berkelanjutan melalui pemberian kesempatan serta penguatan positif terhadap setiap respons yang di sampaikan oleh siswa.

Figure 6.

Gambar 5. Wawancara dengan guru kelas IV terkait strategi pengembangan kemampuan berbicara.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian, kemampuan berbicara siswa menunjukkan keterkaitan dengan aspek emosional yang berkembang melalui hubungan kelekatan anak dengan lingkungan terdekatnya, hal ini sejalan dengan teori kelekatan yang dikemukakan oleh John Bowlby, yang menekankan bahwa kualitas hubungan antara emosional anak dan figuran siginifikan, seperti orang tua maupun guru, memiliki pengaruh terhadap perkembangan sosial dan komunikasi anak. Dalam perspektif neuropsikologis, hubungan kelekatan awal turut berperan dalam membentuk komponen kognitif, emosional yang menjadi landasan bagi komunikasi sosial dan penggunaan bahasa dalam konteks sosial.keterkaitan antara hubungan kelekatan awal dan perkembangan aspek berbicara diidentifikasi sebagai bagian dari sistem yang berkembang bersama fungsi komunikasi anak

Dalam konteks pembelajaran di sekolah dasar, siswa yang memperoleh dukungan emosional serta merasakan adanya penerimaan dari lingkungan sekitarnya umumnya menunjukkan keberanian yang lebih tinggi untuk berbicara, mampu mengemukakan gagasan secara jelas, dan bersedia terlibat aktif dalam diskusi kelas. Hasil penelitian ini sejalan dengan pandangan Bowlby yang menegaskan bahwa rasa aman secara emosional merupakan fondasi penting bagi anak dalam mengeksplorasi lingkungan sosialnya. Sebaliknya keterbatasan dalam relasi klekatan berpotensi meimbulkan sikap pasif maupun rendahnya kepercayaan diri, yang pada akhirnya berdampak pada kelancaran serta keberanian siswa dalam mengungkapkan pendapat secara lisan. Hubungan kelekatan yang kuat antara anak dan orang tua berkaitan dengan kemampuan bicara anak, sehingga semakin tinggi kelekatan emosional anak, semakin optimal kemampuan berbicaranya.

Dalam konteks pembelajaran di sekolah dasar, siswa yang memiliki kelekatan aman cenderung menunjukkan rasa percaya diri yang lebih tinggi saat berbicara, berani mengemukakan pendapat, serta mampu mengekspresikan ide dan perasaannya secara verbal dengan lebih jelas. Hasil penelitian ini konsisten dengan pemikiran Bowlby yang mengaskan bahwa rasa aman secara emosional berperan sebagai landasan psikologis bagi anak untuk berani mengeksplorasi lingkungan sosialnya, termasuk dalam berinteraksi dan berbicara di hadapan orang lain. Sebaliknya, siswayang memiliki pola kelekatan tidak aman (insecure attachment) cenderung manampilkan sikap pasif, keraguan, atau ketakutan melakukan kesalahan ketika diminta berbicara, sehingga keterampilan berbicara yang ditunjukan belum berkembang secara optimal.

Relasi kelekatan yang terbangun antara siswa dan guru di lingkungan kelas turut memberikan kontribusi terhadap perkembangan keterampian berbicara siswa. Guru yang mampu meghadirkan iklim pembelajaran yang hangat, tanggap, dan mendukung berfungsi sebagai figur kelekatan sekunder, sehingga siswa merasa diterima dan dihargai. Situasi tersebut mendorong peningkatan ketrlibatan siswa dalam komunikasi lisan, baik melalui kegiatan tanya jawab, diskusi, maupun prestasi. Dengan demikian, temuan penelitian ini menegaskan kembali pandangan Bowlby bahwa kelekatan yang bersifat positif tidak hanya memengaruhi aspek emosinal, tetapi jga memberikan dampak nyata terhadap kemampuan berbicara siswa dalam konteks pembelajara formal. Konsep ini sejalan dengan fundamen kelekatan Bowlbly bahwa rasa aman pada figur signifikan memfasilitasi keterampilan sosial dan komunikasi anak.

Data observasi menunjukkan bahwa mayoritas siswa berada dalam kategori kelekatan aman, yaitu sebanyak 10 siswa, sementara 3 siswa berada dalam kategori tidak aman. Dalam konteks pembelajaran membaca di kelas, siswa yang termasuk dalam kategori kelekatan aman umumnya memperlihatkan keberanian membaca lebih tinggi, mereka tidak ragu untuk membaca di depan teman sekelas, mampu mempertahankan intonasi yang lebih stabil dan menunjukkan ketenangan saaat melafalkan teks. Hal ini sesuai dengan anggapan bahwa hubungan emosional yang aman dengan figur pendamping pembelajaran, baik orang tua maupun guru, memberikan rasa percaya diri yang olebih kuat bagi siswa untuk terlibat dalam aktivitas literasi secara verbal dan tebuka.

Temuan ini juga didukung oleh wawancara mendalam terhadap kelompok siswa yang dikategorikan kelekatan aman. Dari 4 siswa aman yang diwawancari, banyak yang menyatakan bahwa mereka merasa lebih percaya diri ketika membaca di depan teman sekelas karena merasa didukung secara emosional, tidak takut melakukan kesalahan, dan mendapat respons positif dari guru serta teman sekelas. Temuan tersebut menunjukkan bahwa rasa aman secara psikologis berfungsi sebagai fondasi utama yang mendorong ketrlibatan aktif siswa dalam pengembangan keterampilan berbicara.

Secara konseptual, teori kelekatan aman yang dikemukakan Bowlby menegaskan bahwa anak yang menjalin relasi interpersonal secara konsisten dan responsif cenderung mengembangkan kepercayaan diri serta kemampuan untuk mengeksplorasi lingkungan sosialnya tanpa disertai rasa takut yang berlebihan. Rasa aman yang diperoleh dari figur kelekatan berfungsi sebagai secure base yang memungkinkan siswa berani mengambil risiko dalam situasi pembelajaran, termasuk menunjukkan keberanian untuk berbicara di dalam kelas. Hal ini konsisten dengan studi yang menunjukkan bahwa anak-anak dengan kelekatan yang aman menunjukkan keterampilan berbicara, karena mereka memiliki perhatian, motivasi, dan keterlibatan yang lebih baik secara kognitif dan emosional.

Berdasarkan temuan wawancara dengan guru kelas, pengembangan kemampuan berbicara siswa sangat di pengaruhi oleh strategi interaksi yang di terapkan guru selama proses pembelajaran. Guru memandang bahwa keterampilan berbicara tidak cukup dikembangkan memalui penugasan semata, tetapi perlu ditumbuhkan melalui pola komunikasi dua arah yang konsisten. Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru secara sadar menyediakan ruang dialog, mengajukan pertanyaan bersifat terbuka, serta memotivasi siswa untuk menyampaikan respons menggunakan kalimat yang utuh. Pendekatan tersebut mencerminkan peran guru sebagai fasiliator komunikasi yang menempatkan aktivitas berbicara sebagai bagian integral dari rutinitas pembelajaran, bukan sekedar kegiatan bersifat insidental.

Temuan wawancara menugkapkan bahwa guru menerapkan strategi bertahap dalam mengembangkan keberanian siswa untuk berbicara. Guru tidak semata-mata berfokus pada siswa yang telah aktif, melainkan juga melibatkan siswa yang masih menunjukkan keraguan melalui penunjukkan yang terarah dengan penyesuaian tingkat kesulitan pertanyaan. Berdasarkan keterangan guru, pendekatan tersebut berperan dalam menumbuhka rasa percaya diri siswa secara bertahap. Selain itu, umpan balik yang diberikan terhadap jawaban siswa cenderung bersifat konstruktif dan menguatkan, sehingga kesalahan tidak langsung disikapi dengan penilaian negatif. Pola respons semacam ini berfungsi mempertahankan keberanian siswa agar tetap terjaga ketika berlatih berbicara di depan kelas.

Pada ranah teknis keterampilan berbicara, guru memberikan penekanan pada pembimbing pelafalan, pemilihan kosakata, serta keterpaduan penyampaian gagasan. Berdasarkan penjelasan guru, upaya perbaikan pengucapan dilakukan melalui pemberian contoh secara langsung dan latihan berulang, bukan hanya berupa koreksi singkat. Selain itu, guru mendukung kesiapan berbahasa siswa sebelum berbicara dengan menyediakan kata kunci serta contoh pola jawaban. Langakah-langkah tersebut berkontribusi dalam mengurangi keraguan siswa ketika menyusun kalimat secara lisan. Dengan demikian, dukungan guru tidak hanya terjadi setelah siswa berbicara, tetapi juga diberikan pada tahap persiapan berbicara.

Selain unsur verbal, guru turut memperhatikan komponen nonverbal sebagai bagian dari kemampuan berbicara, seperti kontak mata, ekspresi wajah, dan sikap tubuh. Guru menyampaikan bahwa aspek tersebut ikut dinilai karena mempengaruhi kejelasan pesan yang disampaikan siswa. Jika pembicaraan mulai keluar dari topik, guru mengarahkan kembali melalui pertanyaan penuntun agar alur komunikasi tetap terjaga tanpa memutus keberanian siswa memiliki contoh konkret. Temuan tersebut mengidikasi bahwa pera guru tidak hanya berfokus pada evaluasi performa lisan siswa, tetapi juga mencakup fungsi sebagai pembimbing dalam proses komunikasi yang secara komprehensif membentuk kualitas kemampuan berbicara siswa.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keterampilan berbicara siswa tidak dapat dimaknai semata-mata sebagai kemampuan kebahasaan yang bersifat teknis, melainkan merupakan luaran dari proses pembelajaran yang secara simultan melibatkan aspek pengalaman, emosional, sosial, dan pedagogis. Keberanian siswa dalam berbicara tumbuh melalui interaksi yang berlangsung secara konsisten di ruang kelas, terutama ketika siswa mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi tanpa tekanan dan kekhawatiran berlebihan terhadap kesalahan. Dengan demikian pembelajaran berbicara perlu dipandang sebagai proses jangka panjang yang menuntut kesinambungan praktik, bukan sekadar pencapaian indikator kemampuan pada satu waktu tertentu.

Bagi siswa, hasil penelitian ini menujukkan bahwa keterlibatan dalam aktivitas berbicara sangat dipengaruhi oleh suasana belajar yang memberi rasa aman dan penghargaan terhadap usaha mereka. Ketika siswa merasa bahwa pendapatanya didengarkan dan kesalahan tidak langsung diberi label negatif, mereka cenderung lebih berani mengemukakan gagasan secara lisan. Pengalaman tersebut tidak hanya berdampak pada peningkatan kemampuan berbicara, tetapi juga membentuk kepercayaan diri, kemampuan mengolola emosi, serta kesiapan berinteraksi dengan lingkungan sosial yang lebih luas. Oleh karena itu, kemampuan berbicara memiliki implikasi penting bagi perkembangan akademik dan sosial siswa secara bersamaan.

Hal ini berkaitan dengan praktik pembelajaran dan pengelolaan lingkungan sekolah. Penelitian ini juga mengisyaratakan bahwa pengembangan kemampuan berbicara akan lebih efektif apabila didukung oleh budaya kelas dan sekolah yang mendorong komunikasi terbuka. Sekolah memiliki peran strategis dalam menciptakan iklim belajar yang memungkinkan terjadinya dialog, diskusi, dan pertukaran gagasan secara lisan sebagai dari kegiatan pembelajaran sehari-hari. Tanpa adanya dukungan tersebut, upaya pengembangan kemampuan berbicara beresiko berlangsung secara terpisah-pisah dan hanya bergantung pada inisiatif individu, sehingga keberlanjutan menjadi sulit untuk di pertahankan.

Artikel ini turut memberikan sumbangan pemikiran dengan kualitas pengalaman belajar serta relasi yang terbangun di dalam kelas, dan tidak semata-mata ditentukan oleh penguasaan kosakata maupun struktur bahasa. Oleh karena itu, temuan ini dapat menjadi pinjakan bagi penelitian selanjtnya untuk mengkaji kemampuan berbicara melalui praktik pembelajaran Bahasa Indonesia yang lebih responsif terhadap kebutuhan siswa.

Simpulan

Berdasarkan tujuan penelitian yang telah di rumuskan pada bagian pendahuluan dapat di simpulkan bahwa kemampuan berbicara siswa sekolah dasar berkaitan erat dengan kualitas pengalaman belajar yang mereka peroleh di kelas. Penelitian ini menunjukkan bahwa siswa yang berada dalam kondisi emosional yang lebih aman cenderung memiliki keberanian lebih tinggi untuk mengungkapkan pendapat secara lisan. Hal tersebut mengindikasi bahwa keberanian berbicara tidak muncul semata-mata karena penguasaan bahasa, tetapi berkembang seiring dengan rasa aman, penerimaan dan dukungan yang dirasakan siswa dalam proses pembelajaran.

hasil penelitian ini secara simultan menjawab tujuan peneltian dengan menunjukkan bahwa perbedaan kategori kelekatan siswa berimplikasi pada keragaman kemampuan berbicara yang ditampilkan. Siswa berimplikasi pada keragaman kemampuan berbicara yang ditampilkan. Siswa dengan kelekatan aman cenderung lebih siap dan terbuka untuk terlibat dalam interaksi lisan, sedangkan siswa dengan kelekatan tidak aman memerlukan pendampingan serta rentang waktu yang lebih panjang untuk membangun keberanian berbicara. Temuan ini menegaskan bahwa pengembangan keterampilan berbicara perlu dipahami sebagai suatu proses yang dipengaruhi oleh dimensi emosional dan relasional, bukan semata-mata sebagai kemampuan akademik yang berdiri sendiri.

Selain itu, penelitian ini menegaskan bahwa lingkungan pembelajaran yang mendukung terbangunnya interaksi positif merupakan faktor krusial dalam mengoptimalkan kemampuan berbicara siswa. Keberanian untuk berbicara berkembang ketika siswa memperoleh kesempatan berpartisipasi secara adil, merasa dihargai, dan temuan mengenai kemampuan berbicara dipahami dalam konteks yang bermakna. Hasil penelitian ini juga membuka ruang bagi pengembangan kajian selanjutnya yang dapat mengeksplorasi kemampuan berbicara siswa melalui pendekatan yang lebih luas, seperti dengan melibatkan konteks keluarga, pola interaksi sosial, maupun penerapan strategi pembelajaran tertentu yang berorientasi pada penguatan rasa aman dalam belajar.

Lebih lanjut, temuan penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi pengembangan pembelajaran di sekolah dasar, khususnya dalam perancangan kegiatan belajar yang lebih responsif terhadap kebutuhan emosional komunikasi siswa. Penguatan kemampuan berbicara dapat diupayakan mulai penerapan strategi pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses komunikasi, antara lain mulai kegiatan diskusi terstruktur, presentasi,sederhana, serta pembelajaran berbasis pengalaman Dengan demikian, temuan penelitian ini diharapkan tidak hanya memperkaya kajian akademik tetapi juga dapat menjadi dasar pertimbangan dalam merancang praktik pembelajaran Bahasa Indonesia yang lebih adaptif dan berkelanjutan sesuai dengan karakteristik siswa.

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengawali dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat serta pertolongan-Nya, sehingga karya ini dapat diselesaikan dengan baik. Dengan setulus hati, penulis menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada orang tua tercinta yang senantiasa memberikan doa, dukungan, dan kekuatan sepanjang setiap tahapan yang di lalui. Penghargaan yang setinggi-tingginya juga penulis sampaikan kepada dosen pembimbing atas bimbingan, kesabaran, serta masukan konstruktif yang diberikan selama proses penyusunan karya ini. Tidak lupa, penulis mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah menghadirkan dukungan, bantuan, dan kebersamaan, sehingga proses penyelesaian karya ini dapat dijalani dengan lebih lancar dan bermakna

References

R. Setyo Jadmiko and E. Sri Wahyuningsih, “Analisis Kemampuan Berbicara Melalui Kegiatan Presentasi Dengan Memanfaatkan Aplikasi Canva Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VI SDN 1 Wajakiddul,” 2023.

H. Rohmah, R. Rismawati, and I. R. Julianto, “Strategi Guru Sekolah Dasar dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbantuan Teknologi,” Jurnal Cahaya Edukasia, vol. 3, no. 1, pp. 49–60, 2025.

S. Rohana Hariana Intiana, “Kemampuan Berbicara Siswa Kelas V SD Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia,” J. Educatio, vol. 9, no. 4, pp. 2164–2170, 2023, doi: 10.31949/educatio.v9i4.6250.

R. Khusnul Fitria et al., “Analisis Kemampuan Berbicara Anak dalam Penggunaan Bahasa Indonesia dengan Baik dan Benar: Studi Kasus pada Siswa Kelas 3 Sekolah Dasar Negeri Sidoluhur 01 Kecamatan Jaken.”

D. A. Y. Munthe, T. P. Hasibuan, D. P. Sukma, S. Y. Irfani, and Y. Deliyanti, “Analisis Kemampuan Menyimak Siswa Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar,” Jurnal Riset Rumpun Ilmu Bahasa, vol. 2, no. 2, pp. 48–56, Jun. 2023, doi: 10.55606/jurribah.v2i2.1405.

Tasya Jadidah et al., “Analisis Pentingnya Menggunakan Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar Dalam Berkomunikasi Dikalangan Anak Usia Sekolah Dasar,” 2023.

S. Sahara and D. Satria, “Keterampilan Berbicara Sebagai Kunci Utama dalam Kemampuan Berbahasa Peserta Didik di Sekolah,” Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, vol. 1, no. 3, p. 9, Jun. 2025, doi: 10.47134/jpbsi.v1i3.1750.

Saiyida Alifia Rachmad, “Pengaruh Model Pembelajaran Debat Aktif Terhadap Keterampilan Berbicara Pada Kelas 5 SDN Tanah Kalikediding I Surabaya.”

N. R. Amalia, “Pengaruh Lingkungan Keluarga terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Sekolah Dasar,” Skripsi, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, 2024.

P. Harianti, O. Satibi Hidayat, and U. Hasanah, “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Round Robin Terhadap Keterampilan Berbicara Siswa Kelas V Sekolah Dasar,” 2023.

N. Anggraini, “Peranan Orang Tua Dalam Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini,” 2020.

U. Azmah, D. M. Putri, A. Adrias, and F. Suciana, “Literatur Review: Pengaruh Lingkungan Keluarga Terhadap Kemampuan Berbahasa Siswa di Sekolah Dasar (SD),” Pragmatik: Jurnal Rumpun Ilmu Bahasa dan Pendidikan, vol. 3, no. 2, pp. 125–131, Apr. 2025, doi: 10.61132/pragmatik.v3i2.1582.

J. Holmes, John Bowlby and Attachment Theory. New York, NY, USA: Routledge, 2014.

S. Handayani, S. Masfuah, and L. Kironoratri, “Analisis Kemampuan Komunikasi Siswa dalam Pembelajaran Daring Siswa Sekolah Dasar,” Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 3, no. 5, pp. 2240–2246, Jul. 2021, doi: 10.31004/edukatif.v3i5.770.

N. Azzahra, “Pengaruh Strategi Role Playing Terhadap Keterampilan Komunikasi Siswa Pada Mata Pelajaran PKn di Kelas III MIN 4 Medan,” Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, vol. 2, no. 9, pp. 427–433, 2024, doi: 10.5281/zenodo.13852302.

J. W. Creswell, Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches, 4th ed. Thousand Oaks, CA, USA: SAGE Publications, 2014.

N. Anjelina and W. Tarmini, “Keterampilan Berbicara Siswa Sekolah Dasar pada Pembelajaran Bahasa Indonesia,” Jurnal Basicedu, vol. 6, no. 4, pp. 7327–7333, Jun. 2022, doi: 10.31004/basicedu.v6i4.3495.

S. Rohana Hariana Intiana, “Kemampuan Berbicara Siswa Kelas V SD Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia,” J. Educatio, vol. 9, no. 4, pp. 2164–2170, 2023, doi: 10.31949/educatio.v9i4.6250.

“Improving Students’ Speaking Skills in Indonesian Language Learning through the Role-Playing Method in Grade IV of SDN 2 Benda: Peningkatan Keterampilan Berbicara Siswa pada Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Menggunakan Metode Bermain Peran di Kelas IV SDN 2 Benda,” [Online]. Available: journal.al-matani.com/index.php/jkip/index

V. Jethava, J. Kadish, L. Kakonge, and C. Wiseman-Hakes, “Early Attachment and the Development of Social Communication: A Neuropsychological Approach,” Frontiers in Psychiatry, Apr. 2022, doi: 10.3389/fpsyt.2022.838950.

J. Sukma Novitasari, N. Kusuma Dewi, and A. Fitrianingtyas, “Hubungan Antara Kelekatan Anak Dan Orang Tua Dengan Kemampuan Bicara Anak,” Early Childhood Education and Development Journal, [Online]. Available: jurnal.uns.ac.id/ecedj

H. Munawaroh, “Pendidikan Anak Usia Dini Perspektif Teori Kelekatan John Bowlby,” Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial, vol. 12, no. 1, pp. 74–83, Apr. 2025.

X. Lyu, “A Literature Review of How Children Secure Attachment Predict Better Academic Performance,” 2023.