Nur Fadiyah Faiz (1), Supriyadi (2)
General Background: Twenty-first-century education prioritizes collaboration and mutual cooperation as fundamental competencies for elementary school students. Specific Background: Lower-grade learners frequently demonstrate passive behaviors during group activities, heavily relying on active peers rather than participating equally and sharing responsibilities. Knowledge Gap: While the Contextual Teaching and Learning (CTL) approach has been extensively researched for upper elementary grades, its specific application using tangible environmental projects to build teamwork among early-grade students remains underexplored. Aims: This research investigates the application of a CTL model based on an ecological collage project to foster cooperative attitudes in second-grade students at SDN Barengkrajan 1. Results: Utilizing a pre-experimental one-group pretest-posttest design with 21 participants, the intervention yielded a statistically significant mean score progression from 54.43 to 58.14, accompanied by a moderate Cohen’s d effect size of 0.768. Novelty: The pedagogical intervention uniquely combines contextual learning with an ecological collage activity utilizing school waste, requiring young learners to directly practice role division, active coordination, and mutual assistance. Implications: Integrating tangible, environment-based group projects into the curriculum offers lower-grade educators a practical pedagogical alternative to build essential social interactions and collaborative character aligned with the Merdeka Curriculum.
Highlights:
Contextual teaching models successfully translate abstract cooperation concepts into tangible collaborative behaviors.
Ecological collage projects facilitate active role division and peer coordination among young learners.
Group-based environmental activities produce a significant positive shift in student social interaction scores.
Keywords: Contextual Teaching And Learning, Mutual Cooperation, Ecological Collage, Project Based Learning, Elementary Education
Pendidikan abad ke-21 penting ditanamkan sejak dini untuk membentuk perilaku siswa menjadi individu yang lebih baik di masa depan melalui keterampilan kolaborasi. Keterampilan tersebut menjadi salah satu kompetensi utama siswa pada pendidikan abad ke-21, sehingga perlu untuk ditanamkan dalam konteks pembelajaran melalui penanaman sikap gotong royong. Kolaborasi juga menjadi penting dalam pilar untuk membangun lingkungan pendidikan yang adaptif dan peka terhadap perkembangan zaman dengan teknologi yang terus berkembang [1]. Namun, perkembangan tersebut juga memberikan dampak pada kurangnya kepekaan siswa terhadap situasi di lingkungan sekitarnya akibat perkembangan teknologi pada era globalisasi [2]. Maka sikap gotong royong perlu ditanamkan kepada siswa sekolah dasar agar mereka mampu menerapkan kerja sama dengan teman-temannya dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Hal ini dilakukan agar dapat membantu siswa memiliki sikap yang positif, dengan memiliki rasa peduli antar sesama dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang baik [3].
Pendidikan pada abad ke-21 memiliki peran penting dalam meningkatkan kolaborasi sebagai sebagai salah satu kompetensi untuk mencapai delapan dimensi profil lulusan pelajar Pancasila. Salah satunya adalah dimensi kolaborasi yang disesuaikan sebagai kompetensi yang harus dimiliki siswa untuk mampu bekerja sama secara baik dalam pembagian peran serta tanggung jawab melalui sikap gotong royong dalam mencapai tujuan bersama. Gotong royong merupakan suatu tindakan seseorang yang dilakukan secara bersama-sama tanpa mengharapkan balasan [4]. Dalam konteks pendidikan Indonesia guru sebagai fasilitator tidak hanya berfokus pada pembelajaran akademik saja, tetapi juga menanamkan sikap gotong royong secara nyata dan terukur melalui beberapa aspek kemampuan dalam berkoordinasi, bekerja sama, interaksi sosial, kepedulian, serta mampu berbagi peran dalam kegiatan kelompok [5].
Sikap gotong royong menjadi salah satu nilai pada dimensi profil lulusan pelajar Pancasila yang harus ditanamkan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Nilai gotong royong tercermin dalam kemampuan siswa pada Satuan Pendidikan Formal untuk memperjelas bahwa nilai-nilai yang ditanamkan pada lingkungan pendidikan juga merupakan perwujudan dari 5 nilai utama, antara lain “religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas” yang tercantum pada Pasal 2 Ayat 2 [6]. Sehingga penguatan sikap gotong royong dapat menjadi salah satu dimensi utama yang ada pada profil pelajar Pancasila dalam penerapan pendidikan karakter sebagai amanat resmi dari kebijakan pendidikan nasional di Indonesia. Penanaman nilai gotong royong dalam kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari peran guru dalam merancang proses pembelajaran yang terarah dengan pembiasaan perilaku positif dan memberikan contoh nyata kepada peserta didik sehingga nilai kolaborasi, kepedulian, dan berbagi dapat berkembang secara bertahap [7]. Dengan demikian, penguatan sikap gotong royong tidak cukup hanya disampaikan secara teoritis, tetapi perlu diwujudkan melalui pengalaman belajar yang melibatkan interaksi dan kerja sama aktif antar peserta didik dalam kehidupan sehari-hari di kelas.
Berdasarkan hasil observasi pada siswa fase A di SDN Barengkrajan 1, ditemukan terdapat beberapa siswa yang masih bergantung pada teman yang lebih aktif dalam kegiatan kelompok dengan belum adanya inisiatif membantu menyelesaikan tugas bersama. Hal ini juga dapat menjadikan kegiatan pembelajaran menjadi pasif dan menunjukkan sikap gotong royong antar siswa dalam menyelesaikan tugas belum optimal, contohnya saat melakukan presentasi di depan kelas hanya didominasi siswa yang sama, sedangkan yang lain kurang berpartisipasi aktif dan itu juga terjadi saat kegiatan diskusi berlangsung dalam pembelajaran pendidikan Pancasila. Peneliti juga mewawancarai guru kelas, beliau menyatakan bahwa terdapat siswa yang masih pasif dalam kegiatan berkelompok, sehingga mereka kurang terlibat pembagian peran dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Hal ini berdampak pada rendahnya rasa kepedulian siswa dalam membantu menyelesaikan tugas.
Salah satu upaya yang bisa dijadikan sebagai alternatif dalam mengoptimalkan sikap gotong royong adalah model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) pada siswa fase A sekolah dasar. Model CTL merupakan pendekatan pembelajaran yang mengaitakan antara meteri dengan kehidupan nyata yang sesuai dilingkungan sekitar siswa. Hal ini dapat mendorong siswa dalam menghubungkan pengetahuan yang telah dimiliki dengan pengalaman di kehidupan sehari-hari [8]. Selain itu, model CTL ini dapat mendorong siswa untuk lebih aktif dalam kegiatan mencari, menyusun, dan menemukan pengalaman belajar secara konkret karena dikaitkan dengan pengalaman siswa sehari-hari [9]. Penerapan model CTL menjadikan kegiatan belajar siswa menjadi lebih menyenangkan, sebab mereka dapat bekerja sama secara aktif dengan menerapkan sikap bergotong royong saat aktivitas pembelajaran di kelas [10].
Menurut teori Johnson (2002), menyatakan bahwa CTL membantu siswa untuk mengaitkan materi akademis dengan kehidupan nyata yang dihadapi siswa, sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Hal tersebut dapat dilihat ketika siswa secara aktif dalam menyusun proyek, menemukan permasalahan, menyelidiki, mengambil tanggung jawab, dan membuat kesimpulan. Teori Elaine B. Jahnson (2002), menyatakan bahwa CTL memiliki delapan komponen yang salah satunya adalah kerja sama. Komponen kerja sama ini menjadi relevan terkait dengan fokus penelitian terhadap sikap gotong royong melalui penerapan model CTL. Hal ini dikarenakan saat proses kegiatan belajar di kelas siswa dilatih untuk bekerja sama dalam menyelesaikan tugas berkelompok, sehingga dapat menjadi wadah nyata dalam menumbuhkan sikap gotong royong [11]. Pembelajaran secara kontekstual dapat diterapkan kepada siswa kelas rendah untuk membantu perkembangan belajarannya yang masih pada tahap operasional konkret dengan mengaitkan materi dengan pengalaman nyata sehingga menjadi lebih bermakana [12].
Hasil penelitian terdahulu oleh Safaat et al., menyatakan bahwa penggunaan model CTL cukup efektif dalam meningkatkan sikap gotong royong yang dikaitkan dengan mata pelajaran pendidikan Pancasila, sehingga siswa lebih mudah memahami materi yang dipelajari [13]. Penelitian yang telah dilakukan oleh Asmi et al., juga menunjukkan penerapan model CTL dalam menanamkan sikap gotong royong yang menjadi salah satu dimensi profil pelajar Pancasila cukup efektif dalam memberikan pemahaman secara kontekstual kepada siswa. Hal ini dapat menumbuhkan rasa peduli dan mampu bekerja sama dengan kelompoknya[14]. Menurut Syafi’aturrosyidah et al., bahwa penggunaan model CTL yang dikaitkan pada mata pelajaran pendidikan Pancasila efektif dengan menghubungkan materi dan lingkungan sebagai ruang kolaborasi untuk meningkatkan sikap gotong royong [15]. Hal ini juga didukung oleh penelitian Indriyani bahwa model CTL ini cukup efektif dalam membantu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan saat meyelesaikan tugas secara bergotong royong dengan kelompoknya [16]. Dengan demikian, pada penelitian Maulida et al., menunjukkan bahwa model CTL menjadi salah satu upaya yang terbukti efektif dalam mengoptimalkan keterlibatan siswa saat proses pembelajaran sehingga dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Selain itu, kegiatan belajar siswa menjadi lebih bermakna karena disesuaikan dengan konteks kehidupan sehari-hari siswa [17].
Penelitiahan yang dilakukan oleh Rahmi et al., juga menunjukkan bahwa penerapan model CTL menunjukkan hasil yang signifikan dalam mengoptimalkan partisipasi siswa dalam kelompok diskusi sebagai bentuk gotong royong untuk menyelesaikan tugas yang telah diberikan [18]. Hal tersebut juga sesuai dengan hasil penelitian dari Mansak, yang menunjukkan bahwa penerapan model CTL signifikan dalam mendorong keterlibatan siswa saat kegiatan pembelajaran dan memberikan pembelajaran secara kontekstual juga dapat menanamkan sikap sesuai dengan salah satu profil pelajar Pancasila yaitu sikap gotong royong [19]. Selain itu, model CTL dapat digunakan sebagai upaya alternatif dalam memberikan motivasi siswa, sehingga mereka bisa ikut terlibat dalam menyampaikan pendapatnya saat berdiskusi kelompok dan tidak bergantung kepada teman yang lebih aktif, sehingga dapat mendorong siswa untuk berkolaborasi dengan bergotong royong memecahkan suatu permasalahan. Oleh karena itu, dari beberapa penelitian terdahulu mengenai penerapan model CTL menunjukkan adanya signifikan dan efektif dalam menumbuhkan sikap gotong royong dengan mendorong partisipasi aktif siswa saat proses pembelajaran di kelas.
Model CTL ini dapat dijadikan upaya alternatif terhadap menumbuhkan sikap gotong royong, karena dapat berpengaruh terhadap kemampuan kolaborasi siswa sekolah dasar yang dapat ditunjukkan melalui kekompakan untuk bekerja sama agar kegiatan belajar tidak cenderung pasif. Hal ini juga memberikan kesempatan kepada siswa agar bisa terlibat dalam kegiatan kolaborasi bersama teman untuk saling bergotong royong menyelesaikan tugas dengan berdiskusi. Model CTL juga bisa diterapkan di jenjang sekolah dasar, karena materi pembelajaran dapat dikaitkan dengan pengalaman di kehidupan sehari-hari sehingga aktivitas belajar menjadi bermakna dan menarik [20]. Penelitian ini menggunakan proyek kolase ekologis sebagai media pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan nyata terutama di lingkungan sekolah, sehingga bisa mendukung penerapan kegitan pembelajaran secara kontekstual. Kegiatan tersebut juga dapat memberikan pengalaman secara langsung pada siswa untuk menumbuhkan sikap gotong royong dalam membuat kolase dan mendorong rasa kepedulian lingkungan sekitar. Beberapa penelitian sebelumnya telah mengkaji model CTL dalam menumbuhkan sikap gotong royong untuk siswa kelas tinggi sekolah dasar. Oleh karena itu, kebaruan penelitian yang akan diteliti yaitu mengenai pengaruh penerapan model CTL untuk menumbuhkan sikap gotong royong siswa kelas rendah pada mata pelajaran pendidikan Pancasila melalui kegiatan kerja sama dalam proyek sederhana berupa kolase dari sampah di sekitar sekolah.
Berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai sikap gotong royong pada siswa fase A sekolah dasar dengan menggunakan model CTL berbasis proyek. Hal ini dikarenakan masih banyak siswa kelas rendah yang masih pasif dalam kegiatan berelompok dan belum memiliki inisiatif mengerjakannya secara gotong royong. Beberapa siswa yang cenderung pasif masih bergantung pada temannya yang lebih aktif sehingga pembagian peran dalam kelompok masih belum optimal. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis pengaruh penerapan penerapan model CTL berbasis proyek terhadap sikap gotong royong siswa SDN Barengkrajan 1. Hasil penelitian yang akan dilakukan diharapkan dapat menjadi acuan dalam mendorong kolaborasi aktif siswa terhadap penguatan dimensi profil lulusan pelajar Pancasila di jenjang sekolah dasar.
Penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah metode kuantitatif eksperimen dengan tujuan untuk mengetahui dan menguji sejauh mana variabel bebas memberikan pengaruh terhadap peningkatan variabel terikat, sehingga hubungan kedua variabel tersebut dapat dianalisis secara objektif. Variabel dalam penelitian merupakan unsur yang diamati dan diukur, yang memiliki variasi nilai sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan sebab akibat antar fenomena yang diteliti [21]. Penelitian ini tersedia variabel bebas atau independen (X) dan variabel terikat atau dependen (Y) sebagai berikut :
Tabel 1. Variabel dalam penelitian
Jenis yang digunakan pada penelitian ini adalah Pre-Experimental design dengan tujuan untuk melihat seberapa besar pengaruh model Contextual Teaching and Learning (CTL) terhadap sikap gotong royong. Jenis One-Group Pretest-Posttest digunakan dalam penelitian ini, yaitu hanya melibatkan satu kelas tanpa adanya kelas kontrol. Desain ini untuk mengetahui pengaruh suatu treatment tanpa adanya kelas kontrol, sehingga hanya ada satu kelas yang akan diberikan pretest dan posttest. Berikut bagan dari desain penelitian :
Gambar 1. Desain One-Group Pretest-Posttest
Keterangan:
O1 : Nilai pretest (sebelum diberi perlakuan)
X Perlakuan berupa pembelajaran menggunakan model CTL
O2 : Nilai posttest (sesudah diberi perlakuan)
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas II di SDN Barengkrajan 1, karena didasarkan pada hasil observasi awal yang menunjukkan bahwa masih rendahnya sikap gotong royong siswa saat kegiatan berkelompok sehingga dinilai sesuai dengan kebutuhan penelitian. Sampel yang digunakan dalam penelitian diambil secara purposive sampling yaitu satu kelas dianggap representatif dan mampu menggambarkan kondisi secara menyeluruh. Jadi sampel yang digunakan untuk penelitian adalah seluruh siswa kelas II B SDN Barengkrajan 1 dengan jumlah 21 siswa. Instrumen penelitian yang dilakukan peneliti adalah angket atau kuesioner dengan menggunakan skala Likert untuk pengukuran pertanyaan kepada responden dalam bentuk checklist. Butir pertanyaan yang ada pada angket disusun sesuai dengan indikator sikap gotong royong. Berikut indikator yang dimuat dalam instrumen penelitian, yaitu kemampuan berkoordinasi, bekerja sama, interaksi sosial, kepedulian, serta mampu berbagi peran dalam kegiatan kelompok.
Teknik pengumpulan data yang akan dilakukan yaitu melalui angket, pengamatan dan dokumentasi. Semua tahapan ini akan tertuang pada instrumen penelitian. Tahap pertama dilakukan dengan melakukan pretest sebelum diberikan perlakuan melalui pembagian angket di kelas II B. Angket ini berfungsi untuk mengukur kondisi awal terhadap sikap gotong royong. Kemudian siswa kelas II B akan diberikan perlakuan berupa pembelajaran dengan menerapkan model CTL yang termuat dalam modul ajar sebagai pedoman saat penerapan di kelas. Setelah diberikan perlakuan, maka siswa akan melakukan posttest dengan angket untuk mengukur adanya peningkatan dalam sikap gotong royong.
Uji validitas instrumen menggunakan validitas isi (Content Validity) dengan cara berkonsultasi dengan kepala ahli (Expert Judgment) untuk memastikan setiap butir pertanyaan telah sesuai dengan penjabaran dari indikator sikap gotong royong. Setelah berkonsultasi dengan kepala ahli, maka langkah selanjutnya butir-butir instrumen akan diujicobakan kepada responden melalui teknik korelasi Product Moment Pearson, yaitu dengan mengkorelasikan skor setiap butir dan skor total. Setelah dinyatakan valid pada uji validitas pada 14 butir angket, maka dilakukan uji reliabilitas untuk mengukur sejauh mana instrumen memberikan hasil yang konsisten ketika digunakan berulang kali. Uji reliabilitas pada penelitian ini menggunakan rumus Cronbach’s Alpha dengan instrumen bisa dikatakan reliabel jika α lebih dari 0,70. Berdasarkan hasil uji reliabilitas diperoleh nilai sebesar 0.874, sehingga dapat dinyatakan reliabel.
Teknik analisis data pada penelitian terdapat beberapa tahapan. Pertama, pada penelitian ini peneliti perlu melakukan uji normalitas terlebih dahulu dengan data pretest dan posttest melalui Shapiro-Wilk. Kedua, jika data diperoleh berdistribusi normal maka dianalisis dengan uji paired sample T-Test. Akan tetapi data yang didapatkan tidak berdistribusi normal, maka menggunakan analisis uji nonparametrik Wilcoxon sebagai alternatif. Ketiga, untuk mengetahui ukuran efek pengaruh dari perlakuan atau treatment yang telah diberikan, maka dihitung menggunakan Cohen’s d. Analisis data dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 25 untuk memastikan ketepatan dan akurasi data. Hipotesis pada penelitian yaitu adanya pengaruh model Contextual Teaching and Learning CTL berbasis proyek terhadap sikap gotong royong siswa kelas II B SDN Barengkrajan 1. Hipotesis statistiknya adalah H₀ menyatakan tidak adanya perbedaan signifikan antara hasil pretest dan posttest. Sedangkan hipotesis alternatif (H₁) menyatakan terdapat perbedaan signifikan antara hasil pretest dan posttest.
Penelitian ini akan dilaksanakan di SDN Barengkrajan 1 pada kelas II dengan jumlah seluruh 21 siswa dan desain penelitian yang akan digunakan yaitu pre-eksperimental dengan One-Group Pretest-Posttest. Pembahasan pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model Contextual Teaching and Learning (CTL) berbasis Proyek terhadap sikap gotong royong siswa kelas II B SDN Barengkrajan 1. Hal ini dilakukan untuk menganalisis dalam membandingkan hasil dari sikap gotong royong siswa sebelum (pretest) dan seduah (posttest) dilakukannya melalui penerapan model CTL berbasis proyek. Angket digunakan untuk memberikan beberapa butir pertanyaan kepada siswa yang didalamnya berisiskan indikator dari sikap gotong royong. Data yang diperoleh dari angket ini akan dilanjutkan dengan bantuan SPSS versi 25 dalam menganalisis untuk mengetahui hasil uji validitas, reliabilitas, normalitas, dan uji hipotesis.
Uji validitas dilakukan untuk mengetahui valid tidaknya butir pertanyaan dalam angket yang nantinya akan disebarkan kepada responden. Uji validitas ini dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi Product Moment Pearson. Berdasarkan hasil uji validitas pada 24 butir angket, diperoleh bahwa 14 butir pertanyaan memiliki nilai r hitung lebih besar dari r table, sehingga dapat dinyatakan valid. Maka butir pertanyaan yang dinyatakan valid bisa digunakan untuk mengukur sikap gotong royong siswa kelas II B dalam penelitian ini.
Setelah dinyatakan valid pada uji validitas agar mengetahui mana saja butir pertanyaan yang layak digunakan dalam penelitian. Maka selanjutnya 14 butir angket akan diuji reliabilitas untuk mengetahui tingkat konsistensi instrument. Uji reliabilitas pada penelitian ini menggunakan metode Cronbach’s Alpha, instrument akan dinyatakan reliabel jika diperoleh nilainya > 0.70.
Tabel 2. Hasil Uji Reliabilitas
Berdasarkan hasil uji reliabilitas pada tabel 2, terhadap 14 pertanyaan angket diperoleh nilai 0.874 dimana hasil tersebut lebih besar dari 0,70. Hal ini menunjukkan bahwa angket yang digunakan memiliki tingkat konsistensi yang baik dalam mengukur sikap gotong royong siswa kelas II B.
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui data Pretest dan Posttest telah berdistribusi normal atau tidak. Pada penelitian ini uji normalitasnya menggunakan Shapiro-Wilk, sehingga berdasarkan hasil yang diperoleh nilai signifikansi (Sig.) > 0,05. Maka hasil dari data yang nilai signifikansinya lebih dari 0,05 dapat dinyatakan berdistribusi normal.
Tabel 3. Hasil Uji Normalitas
Berdasarkan hasil pada tabel 3, uji normalitas yang dilakukan terhadap data skor pretest dan posttest pada pertanyaan angket diperoleh masing-masing hasil nilai signifikansinya lebih besar dari 0,05 yaitu 0.466 dan 0.152 untuk nilai pretest dan posttestnya, sehingga menunjukkan data berdistribusi normal. Dengan demikian, tahap selanjutnya adalah uji paired sample t-test untuk menganalisis apakah data terdapat peningkatan yang signifikan atau tidak setelah diberikan perlakuan.
Analisis selanjutnya menggunakan uji parametrik yakni paired sample t-test dalam menguji hipotesis penelitian dengan bantuan SPSS versi 25. Uji hipotesis ini dilakukan agar dapat mengetahui apakah terdapat perbedaan peningkatan signifikan melalui perlakuan penerapan model CTL berbasis proyek terhadap sikap gotong royong siswa, yang dilihat dari hasil pretest dan posttest.
Tabel 4. Paired Samples Statistics
Berdasarkan hasil pada tabel 4. Uji analisis data diperoleh nilai rata-rata pretest sebesar 54,43, sedangkan nilai rata-rata posttest sebesar 58.14 dengan responden 21 siswa di kelas II B. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan masing-masing nilai rata-rata pretest dan posttest setelah diberikan perlakuan. Selanjutnya, kedua data tersebut dapat dianalisis lebih lanjut menggunakan uji paired sample t-test.
Tabel 5. Hasil Uji Paired Sample T-Test
Tabel 5. Hasil uji paired sample t-test diperoleh menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,007 yang lebih kecil dari 0,05. Oleh karena itu, menegaskan bahwa terdapat peningkatan setelah diterapkannya model CTL berbasis proyek terhadap sikap gotong royong siswa. Dengan demikian, penerapan model CTL berbasis proyek terbukti efektif digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini.
Perhitungan ukuran efek dilakukan untuk mengetahui besarnya pengaruh penerapan model pembelajaran terhadap peningkatan sikap gotong royong siswa. Perhitungan Cohen’s d pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan selisih nilai rata-rata pretest dan posttest yang dibagi dengan nilai standar deviasi gabungan dari kedua data tersebut. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh selisih rata-rata sebesar 3,71 dengan nilai standar deviasi gabungan sebesar 4,832, sehingga diperoleh nilai Cohen’s d sebesar 0,768. Nilai tersebut termasuk dalam kategori sedang mendekati besar, yang menunjukkan bahwa penerapan model Contextual Teaching and Learning (CTL) berbasis proyek memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap peningkatan sikap gotong royong siswa. Dengan demikian, hasil ukuran efek yang diperoleh semakin memperkuat bahwa penerapan model pembelajaran yang digunakan memberikan dampak yang nyata terhadap peningkatan sikap gotong royong siswa.
Gambar 2. Membuat Kolase
Berdasarkan kegiatan yang ditunjukkan pada gambar 2, siswa terlibat secara aktif dalam kegiatan kelompok yang telah dirancang melalui model CTL berbasis proyek. Selama proses berlangsung, siswa terlihat bekerja secara berkelompok dengan saling berbagi tugas, seperti menempelkan bungkus plastik ke pola, menggunting, dan ada yang membantu memberikan lem. Kegiatan ini menunjukkan adanya interaksi antar siswa yang berlangsung secara langsung melalui sikap gotong royong dalam menyelesaikan tugas kelompok yang diberikan. Aktivitas tersebut menggambarkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran yang menekankan sikap gotong royong dan partisipasi aktif selama kegiatan berlangsung.
Peningkatan sikap gotong royong siswa terlihat lebih dominan pada aspek koordinasi selama kegiatan kelompok berlangsung. Hal ini terlihat pada saat siswa mampu berdiskusi dalam pembagian peran dan berinisiatif membatu ketika menyelesaikan kolase secara bersama-sama. Peningkatan ini terjadi karena penerapan model CTL berbasis proyek kolase ekologis sehingga dapat memberikan pengalaman belajar secara langsung melalaui kegiatan yang dikaitkan dengan situasi nyata di lingkungan sekitar. Namun, peningkatan sikap gotong royong belum maksimal, karena dipengaruhi oleh keterbatasan waktu dan karakteristik siswa kelas rendah yang masih memerlukan pendampingan guru saat kegiatan kelompok secara langsung.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari penerapan model Contextual Teaching and Learning (CTL) berbasis proyek terhadap sikap gotong royong siswa. Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan ditemukan adanya peningkatan dari nilai rata-rata antara pretest dan posttest. Hasil peningkatan ini menunjukkan keterlibatan siswa secara langsung pada saat kegiatan berkelompok, sehingga dapat mendorong sikap gotong royong. Maka pembelajaran yang dilakukan memberikan dampak terhadap perkembangan sikap siswa.
Instrumen pada penelitian ini menggunakan metode Cronbach’s Alpha dan telah dinyatakan reliabel dengan hasil nilai sebesar 0.874, sehingga data yang diperoleh dapat dipercaya untuk mengukur sikap gotong royong siswa. Selain itu, hasil uji normalitas juga menunjukkan bahwa nilai signifikasinya 0.466 dan 0.152 pada data pretest serta posttest. Hasil dari nilai signifikasinya tersebut lebih besar dari 0,05 sehingga dapat dinyatakan berdistribusi normal. Maka data penelitian ini telah memenuhi syarat untuk bisa dilakukan uji parametrik menggunakan Paired Sample T-Test untuk memastikan bahwa analisis yang dilakukan dapat memberikan hasil yang akurat dalam melihat perbedaan sebelum dan sesudah dilakukannya perlakuan.
Peningkatan sikap gotong royong juga bisa dilihat melalui hasil analisis data dari Paired Sample Statistict. Hal ini didukung oleh hasil pada data penelitiann yang menunjukkan peningkatan nilai rata-rata siswa dari 54,43 saat kondisi awal sebelum diberikan perlakuan pembelajaran (pretest). Setelah diberikan perlakuan nilai rata-rata posttest meningkat menjadi sebesar 58,14 yang menunjukkan adanya sikap. Peningkatan nilai rata-rata ini menunjukkan bahwa pembeljaran yang telah dilakukan mampu memberikan dampak terhadap sikap gotong royong. Perubahan tersebut dapat dilihat bukan hanya dari hasil nilai saja tetapi pada keterlibatan siswa saat kegiatan berkelompok, sehingga model pembelajaran ini mampu membantu siswa dalam memahami pentingnya bersikap gotong royong untuk menyelesaikan tugas.
Berdasarkan hasil uji hipotesis menggunakan Paired Sample T-Test menunjukkan bahwa nilai signifikansinya sebesar 0,007 lebih kecil dari 0,05. Hasil data tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum maupun sesudah diberikan perlakuan. Dengan demikian, hipotesis alternatif (H₁) diterima, yang berarti model model CTL berbasis proyek dapat memberikan pengaruh terhadap peningkatan sikap gotong royong. Perbedaan yang signifikan menunjukkan bahwa pembelajaran dengan melibatkan aktivitas nyata dan kerja kelompok mampu meningkatkan keterlibatan siswa untuk lebih aktif selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
Nilai ukuran efek yang diperoleh melalui perhitungan Cohen’s d sebesar 0,768 menunjukkan bahwa pengaruh penerapan model pembelajaran yang digunakan berada pada kategori sedang mendekati besar. Hal ini mengindikasikan bahwa perubahan sikap gotong royong siswa setelah penerapan model pembelajaran tidak hanya terlihat dari perbedaan nilai secara statistik, tetapi juga menunjukkan adanya peningkatan yang cukup berarti dalam praktik pembelajaran di kelas. Besarnya nilai ukuran efek tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran berbasis proyek yang dilaksanakan mampu memberikan pengalaman belajar yang mendukung terbentuknya interaksi sosial antar siswa. Dengan demikian, hasil ukuran efek yang diperoleh memperkuat bahwa penerapan model Contextual Teaching and Learning (CTL) berbasis proyek memberikan kontribusi yang nyata terhadap peningkatan sikap gotong royong siswa.
Perbedaan yang signifikan ini menunjukkan bahwa penerapan model CTL berbasis proyek dapat memberikan pengaruh pada perubahan sikap gotong royong siswa. Hal tersebut dapat terlihat dari adanya peningkatan nilai rata-rata setelah diberikan perlakuan dengan menerapkan model CTL kepada siswa. Model pembelajaran yang telah diterapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang bermakna pada saat proses kegiatan belajar secara berkelompok. Temuan ini selaras dengan teori yang dikemukakan oleh Elaine B. Johnson (2002) yang menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual memungkinkan siswa menghubungkan materi akademik dengan situasi kehidupan nyata, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa. Maka sejalan dengan penjelasan dari Telaumbanua et al., bahwa model tersebut memberikan pembeljaran dengan mengaitkan materi dengan kehidupan nyata, sehingga siswa bisa menemukan makna dari pembelajaran yang dilakukan dan menekankan kegiatan belajar melalui konsep Learning Community [22]. Konsep tersebut dapat memberikan ruang kepada siswa untuk saling berinteraksi dan menyelesaikan tugas dengan menerapkan sikap gotong royong dalam berbagi peran dalam menyelesaikan tugas secara berkelompok.
Salah satu komponen penting dalam model CTL yaitu Learning Community yang menekankan sikap gotong royong dalam berkelompok. Pada penelitian ini, kegiatan yang dilakukan secara tim akan membantu siswa untuk belajar dalam pembagian peran dan berdiskusi melalui pembelajaran berbasis proyek, sehingga dapat melatih sikap saling membantu dan tanggung jawab bersama. Proses kerja dalam tim tersebut melibatkan kerja sama, diskusi, dan munculnya berbagai ide dari anggota kelompok. Hal ini didukung oleh penelitian Bektiarso et al., bahwa model CTL dapat melibatkan tugas kelompok kerja sama serta koordinasi antar siswa yang berada dalam satu tim [23]. Maka penerapan Learning Community dalam model ini dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan sikap gotong royong, sehingga lingkungan belajar menjadi kooperatif dalam membantu mengembangkan keterampilan kolaborasi secara bertahap. Indikator bekerja sama juga menunjukan dampak yang positif saat penerapan model CTL dalam menyelesaika tugas yang diberikan, sehingga setiap anggota memiliki kesempatan untuk berpartisispasi secara aktif saat kegiatan berkelompok. selain itu, siswa juga belajar menyelesaikan tugas secara bersama-sama bisa lebih efektif.
Peningkatan dari sikap gotong royong siswa juga bisa dilihat dari indikator dalam kemampuan berkoordinasi saat kegiatan berkelompok. Penerapan model CTL yang dikaitkan dengan salah satu materi pendidikan Pancasila ini memberikan kesempatan kepada siswa dalampentingnya menjaga lingkungan melalui kegiatan pembelajaran secara langsung. Pada saat melakukan pengamatan lingkungan sekolah siswa terluhat aktif dalam kegiatan berdiskusi untuk mengidentifikasi kondisi sekitar bersih atau kotor. Aktivitas ini menunjukkan kegiatan pembelajaran dengan penerapan model CTL dapat membantu dalam mengaitkan materi pelajaran dengan permasalahan yang ada dilingkuangan nyata, serta mengembangkan sikap gotong royong melalui kegiatan berkelompok. membantu siswa dalam memahami pentingnnya komunikasi antar kelompok agar bisa mencapai tujuan kelompok. Hal ini sejalan dengan penjelasan penelitian oleh Krisnawati et al., bahwa kemampuan berkoordinasi bisa dilakukan dengan menerapkan melalaui model CTL, sehingga siswa tidak hanya belajar secara teori tetapi menghubungkannya melalui koordinasi dengan kejadian nyata serta mempraktikkannya lewat kegiatan pembelajaran [24].
Sikap gotong royong siswa juga terlihat berkembang melalui penerapan pembelajaran kontekstual ketika kegiatan proyek kolase ekologis dengan memanfaatkan barang bekas yang ada di lingkungan sekitar sekolah. Kegiatan membuat kolase ini dilakukan dalam bentuk kelompok untuk bisa mendorong sikap gotong royong siswa pada saat merencanakan langkah kerja sama agar dapat menyelesaikan tugas yang diberikan melalui apa yang telah dicontohkan guru sebelum mereka mengerjakan tugas tersebut. Hal ini dapat dilihat saat siswa di setiap kelompok saling berbagi peran dalam menyelesaikan tugas dan melatih kemampuan sikap gotong royong selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini menjadikan kegiatan berkoordinasi dapat memberikan ruang kepada siswa untuk interaksi antar teman saat menyusun kegiatan berkelompok.
Penelitian ini juga selaras dengan prinsip pembelajaran dalam model CTL yang menekankan pentingnya keterlibatan siswa saat kegiatan pembelajaran secara langsung dan bermakna. Penerapan model CTL berbasis proyek kolase ekologis dapat memberikan kesempatan pada siswa dalam memperoleh pengalaman belajar melalui kegiatan nyata yang dilakukan secara bersama-sama, sehingga pembelajaran tidak hanya berfokus dipenguasaan materi tapi juga pengembangan sikap sosial siswa. Kegiatan pembelajaran yang dikaitkan dengan pengalaman langsung memudahkan siswa dalam memahami pentingnya gotong royong saat menyelesaikan tugas kelompok. Maka sikap gotong royong bisa berkembang melalui interaksi yang terjadi selama proses pembelajaran di kelas. Dengan demikian, penerapan model CTL dapat berperan dalam mendukung terbentuknya sikap sosial siswa dengan mendorong interaksi sesama pada kegiatan pembelajaran.
Intersksi sosial siswa dengan teman juga sesuai dengan indikator kepedulian terhadap kelompok. Kepedulian ini menunjukkan siswa belajar membantu teman yang mengalami kesuliatan dalam menyelesaikan tugas kelompok, sehingga bisa juga menumbuhkan sikap gotong royong. Pada penelitian juga menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis proyek dapat mendorong siswa untuk berbicara satu sama lain dan berbagi sudut pandang, hal tersebut dapat terlihat saat aktivitas berdiskusi [25]. Sikap gotong royong juga memiliki indikator dalam berbagi peran di kegiatan secara berkelompok. Tugas yang diberikan dalam bentuk kelompok juga membantu siswa untuk pembagian peran sehingga setiap anggota memiliki tanggung jawab yang telah disepakati bersama.
Peningkatan sikap gotong royong ini tidak terlepas dari karakteristik model CTL yang mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata. Menurut Damayanti et al., pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dikaitkan dengan situasi nyata dan memotivasi siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan permaslahan yang timbul di lingkungan sekitarnya, sehingga dapat membantu siswa dalam melakukan pemecahan masalah. Pembelajaran kontekstual ini membuat siswa menjadi lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran di kelas dan mampu meningkatkan interaksi sosial antar siswa [26]. Kesamaan tersebut juga sejalan dengan penjelasan astuti et al., bahwa penerapan model CTL dapat meningkatkan keaktifan siswa, karena kegiatan pembelajaran tidak hanya berpusat pada guru, tetapi siswa juga dapat ikut berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran antara materi dengan kehidupan nyata[27]. Maka dalam penelitian ini, siswa menunjukkan peningkatan partisipasi dalam kegiatan belajar secara berkelompok setelah diterapkannya model CTL berbasis proyek.
Peningkatan sikap gotong royong siswa dalam penelitian ini diduga berkaitan dengan penerapan model CTL yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif dalam kegiatan kelompok melalui pengalaman belajar secara langsung. Pada kegiatan pembuatan kolase, siswa tidak hanya menyelesaikan tugas secara individu, tetapi juga berinteraksi melalui proses komunikasi, pembagian peran, serta saling membantu dalam menyusun hasil karya bersama. Interaksi yang terjadi selama kegiatan tersebut memungkinkan siswa untuk mengembangkan sikap kerja sama dan tanggung jawab secara bertahap melalui pengalaman belajar yang dialami secara langsung. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian yang menunjukkan bahwa keterlibatan siswa dalam kegiatan proyek dapat menumbuhkan sikap saling membantu dan rasa tanggung jawab sosial dalam lingkungan pembelajaran [28]. Dengan demikian, keterlibatan siswa dalam kegiatan proyek dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung terbentuknya sikap gotong royong selama proses pembelajaran berlangsung.
Penggunaan pembelajaran berbasis proyek juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan sikap gotong royong siswa. Hal ini dapat meberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dalam menyelesaikan tugas yang telah diberikan secara bersama-sama. Menurut Putri et al., pembelajaran berbasis proyek dapat meltih berpikir kreatif siswa, memecahkan masalah, serta bisa menghasilkan produk nyata melalui kegiatan kerja sama [29]. Hal ini juga diperkuat oleh penjelasan dari L. A. Putri & Fajar, bahwa kerja sama dapat mengembangkan kemampuan sosial dan mampu bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas dengan membagi peran yang telah di tentukan. Maka pada penelitian ini, siswa mulai menunjukkan perubahan perilaku dalam berbagi tanggung jawab dan tidak terlalu bergantung pada teman tertentu [30]. Pengalaman belajar dengan menggunakan kegiatan proyek juga bisa berdampak positif selain terhadap hubungan sosial dengan teman, tetapi juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan penerapan secara langsung dalam proses bekerja sama secara berkelompok.
Hasil penelitian ini memberikan rekomendasi bahwa guru dapat menggunakan model CTL dalam kegiatan belajar di kelas sebagai alternatif pembelajaran. Kegiatan kelompok dapat membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan sosial serta pembiasaan sikap gotong royong saat menyelesaikan tugas. Guru juga bisa menerapkan kegiatan belajar berbasis proyek untuk siswa agar mereka dapat mengasah kreatifitas dan menciptakan ruang belajar yang lebih aktif serta bermakna, karena disesuaikan dengan permasalahan yang ada di kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa model CTL berbasis proyek efektif dalam meningkatkan sikap gotong royong siswa sekolah dasar. Peningkatan tersebut terlihat pada aspek kerja sama, kepedulian, serta pembagian peran dalam kelompok. Oleh karena itu, model CTL berbasis proyek dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran yang efektif untuk mengembangkan sikap gotong royong siswa dalam proses pembelajaran. kesamaan ini juga dijelaskan oleh Nur et al., bahwa kegitan pembelajaran yang dikaitkan dengan kerja sama dapat berpengaruh penting terhadap dalam pembentukan sikap gotong royong, sehingga siswa juga memiliki kesadaran akan peran sebagai bentuk tanggung jawab dalam kelompok [31]. Maka dalam penelitian ini siswa terlihat lebih antusias dan terlibat aktif dalam menyelesaikan tugas bersama-sama, terutama dalam pembuatan kolase yang dilakukan secara berkelompok. Dengan demikian, model CTL berbasis proyek dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran yang efektif dalam mengembangkan sikap gotong royong siswa saat proses kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan model Contextual Teaching and Learning (CTL) berbasis proyek berpengaruh signifikan terhadap peningkatan sikap gotong royong siswa kelas II B SDN Barengkrajan 1. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan nilai rata-rata pretest dan posttest setelah diberikannya perlakuan menggunakan penerapan model CTL. Pernyataan ini juga bisa diperkuat dengan melihat dari perubahan sikap siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung, seperti saling membantu dalam menyelesaikan tugas dan adanya pembagian peran, serta koordinasi yang lebih baik antara siswa di masing-masing kelompok. Penerapan model CTL yang akan mengaitkan lingkungan yang ada di sekitar sekolah dengan kegiatan proyek kelompok, siswa menjadi lebih aktif dalam berinteraksi dan terlibat aktivitas pembelajaran secara bersama-sama. oleh karena itu, model CTL berbasis proyek efektif dalam membantu meningkatkan sikap gotong royong siswa melalui kegiatan pembelajaran secara kontekstual, kolaboratif, dan bermakna.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi guru dalam memilih pembelajaran yang mampu melibatkan siswa secara aktif melalui kegiatan kerja kelompok. Penerapan model CTL berbasis proyek kolase ekologis dapat digunakan untuk membantu membangun sikap gotong royong siswa melalui aktivitas yang menekankan kerja sama dan interaksi antarsiswa selama proses pembelajaran berlangsung. Dalam pelaksanaannya, guru perlu memberikan arahan dan pendampingan agar setiap anggota kelompok memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat dalam kegiatan proyek. Penelitian selanjutnya disarankan untuk dilakukan dalam waktu yang lebih lama dan pada lingkup subjek yang lebih beragam sehingga perkembangan sikap gotong royong siswa dapat dikaji secara lebih mendalam.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kepala Sekolah, guru, dan seluruh siswa kelas II B SDN Barengkrajan 1 yang telah memberikan izin serta membantu dalam pelaksanaan penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan selama proses penyusunan penelitian.
R. Missouri, S. Jamilah, A. Sahid, and P. Safira, “Tinjauan sistematis terhadap inovasi, kolaborasi, dan teknologi dalam manajemen pendidikan abad 21,” vol. 2, pp. 65–73, 2025.
D. Arpianti, J. Jusmawati, A. M. Iskandar, and R. Supardi, “Profil Pelajar Pancasila berbasis Kurikulum Merdeka untuk membentuk karakter gotong royong peserta didik,” J. Ilm. Profesi Pendidik., vol. 8, no. 4, pp. 2566–2572, 2023, doi: 10.29303/jipp.v8i4.1403.
D. Hanafiah, B. Martati, and L. B. Mirnawati, “Nilai karakter gotong royong dalam pendidikan Pancasila kelas IV di sekolah implementasi dasar,” Al-Madrasah: J. Pendidik. Madrasah Ibtidaiyah, vol. 7, no. 2, p. 539, 2023, doi: 10.35931/am.v7i2.1862.
N. P. A. Emalasari and I. G. A. A. Wulandari, “Penerapan pembiasaan Tri Hita Karana untuk meningkatkan pendidikan karakter gotong royong siswa SD,” J. Ilm. Univ. Batanghari Jambi, vol. 22, no. 3, p. 1560, 2022, doi: 10.33087/jiubj.v22i3.2578.
U. N. Sholikah and N. Oktaviarini, “Analisis karakter gotong royong pada pembelajaran Pendidikan Pancasila kelas IV SD Negeri 1 Rejotangan,” vol. 4, no. 3, 2025.
Permendikbud, “Permendikbud RI No. 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal,” Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal, pp. 8–12, 2018. [Online]. Available: https://jdih.kemdikbud.go.id/arsip/Permendikbud_Tahun2018_Nomor20.pdf
S. Ikromah, U. Jamaludin, P. Guru, S. Dasar, U. Sultan, and A. Tirtayasa, “Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti,” vol. 11, pp. 1201–1211, 2024.
H. M. Maryanto, M. Farid, and N. Anwar, “Implementasi model CTL untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran PKn materi HAM di kelas V MI Al-Ikhlas Banjargondang 1,” vol. 8, no. 1, pp. 153–163, 2025.
M. P. Sihombing, E. Sirait, and S. Sitohang, “Pengaruh model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas III di SD Negeri 124385 Jl. Sawi,” vol. 1, no. 1, pp. 43–52, 2024.
I. Arisandi, L. Hakim, and M. Prasrihamni, “Pengembangan video pembelajaran PKn model Contextual Teaching Learning di kelas IV SD Negeri 3 Sembawa,” Indones. Res. J. Educ., vol. 2, no. 2, pp. 645–659, 2022, doi: 10.31004/irje.v2i2.305.
H. Mashudi, Contextual Learning and Teaching. 2024, doi: 10.1007/978-3-031-23161-2_300273.
A. Ilhami, “Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget pada anak usia sekolah dasar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia,” Pendas: J. Ilm. Pendidik. Dasar, vol. 7, no. 2, pp. 605–619, 2022.
S. Safaat, Y. U. Witak, and S. Alibowo, “Pengaruh metode Contextual Teaching and Learning (CTL) terhadap hasil belajar PKn materi pola hidup gotong royong pada siswa kelas IV SDN Sunter Jaya 07,” J. Inov. Pendidik. MH Thamrin, vol. 7, no. 2, pp. 158–168, 2023, doi: 10.37012/jipmht.v7i2.2038.
A. M. Asmi, C. Utama, and E. Fithriyanasari, “Implementasi pembelajaran kontekstual dengan penguatan Profil Pelajar Pancasila dimensi gotong royong di kelas VB SD Negeri Kauman 1,” J. Pembelajaran, Bimbingan, dan Pengelolaan Pendidik., vol. 4, no. 4, p. 18, 2024, doi: 10.17977/um065.v4.i4.2024.18.
M. Syafi’aturrosyidah, T. R. Z. Ningtyas, and Z. Zumaroh, “Implementasi model pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) dalam pembelajaran PKn jenjang pendidikan dasar,” J. Prim.: Kajian Ilmu Pendidik. Dasar dan Humaniora, vol. 3, no. 2, pp. 42–53, 2022.
R. Indriyani, “Peningkatan kemampuan membaca siswa kelas II melalui Contextual Learning Teaching berbantu video pembelajaran SD Negeri Linggapura 01 Brebes,” JGuruku: J. Penelit. Guru, vol. 2, no. 1, pp. 422–433, 2024.
A. A. Maulida, A. Suriansyah, and W. R. Rafianti, “Studi literatur: Penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) pada pembelajaran di sekolah dasar dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa,” MARAS: J. Penelit. Multidisiplin, vol. 2, no. 4, pp. 2335–2345, 2024, doi: 10.60126/maras.v2i4.572.
G. Rahmi, A. Abuddin, and S. Khadijah, “Meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran melalui model CTL di SDN Cireundeu 01,” J. Educ. Dev., vol. 12, no. 3, pp. 445–450, 2024.
M. Mansak, “Penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas 4 SDN 6 Pakak pada materi Bhinneka Tunggal Ika,” J. Ilm. Mandalika Educ., vol. 1, no. 2, pp. 192–198, 2023.
Z. Maharani, N. Anas, and N. A., “Pengaruh model pembelajaran Contextual Teaching and Learning terhadap kemampuan kolaborasi peserta didik pada mata pelajaran IPA,” J. Edukatif, vol. 2, no. 2, pp. 383–390, 2024. [Online]. Available: https://ejournal.edutechjaya.com/index.php/edukatif
N. M. Haifa, I. Nabilla, V. Rahmatika, and R. Hidayatullah, “Identifikasi variabel penelitian, jenis sumber data dalam penelitian pendidikan,” 2025.
M. R. Telaumbanua, “Pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan model Contextual Teaching and Learning (CTL),” vol. 1, pp. 18–32, 2025.
S. Bektiarso, A. F. Walukow, E. Narulita, U. C. Jayapura, and U. Jember, “Building inclusive learning communities in multicultural classrooms: The role of the CTL model in learning interpersonal skills,” vol. 5, no. 4, pp. 568–583, 2024.
A. Krisnawati, I. Cintamulya, and B. Kritis, “Validitas LKPD sistem koordinasi terintegrasi pembelajaran CTL untuk meningkatkan berpikir kritis peserta didik,” Bioma, pp. 63–74, doi: 10.32528/bioma.v10i1.2978.
A. N. Zahra, D. Rahmadani, and A. Fuad, “Analisis implementasi model Contextual Teaching and Learning dalam pembelajaran PKn untuk meningkatkan hasil belajar siswa,” Jurnal Penelitian Nusantara, vol. 1, pp. 513–518, 2025.
“Pediaqu: Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora,” Pediaqu: Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora, vol. 2, no. 2, pp. 825–837, 2023.
R. Astuti, N. Najuba, and U. M. Surakarta, “Penggunaan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) untuk meningkatkan,” J. Ilm. Kependidikan, vol. 5, pp. 1–7, 2024.
U. Garut, “Fakultas Pendidikan Islam dan Keguruan: Implementasi program ekoliterasi melalui kegiatan pengelolaan sampah berbasis project (P5) untuk membangun sikap gotong royong pada siswa.”
M. Putri, N. Azzahra, and W. D. Lestari, “Inovasi sumber belajar berbasis proyek (Project Based Learning) dalam meningkatkan keterampilan kreatif dan kolaboratif di salah satu SDN Kabupaten Bogor,” vol. 3, pp. 1466–1478, 2024.
L. A. Putri and A. Fajar, “Melalui pembelajaran kolaboratif dan kerjasama,” vol. 4, no. 2, 2023.
D. Nur, P. Putri, and U. M. Sidoarjo, “Peran kinerja guru dalam membentuk karakter,” vol. 5, no. 2, pp. 176–189, 2022.