Login
Section Elementary Education Method

Malang Mask Puppet Dance Cultivates Social Emotional Competence In Elementary Education

Tari Wayang Topeng Malangan Menumbuhkan Kompetensi Sosial Emosional Pada Pendidikan Dasar
Vol. 21 No. 2 (2026): May:

Haidar Amalia (1), Kemil Wachidah (2)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: The period of middle childhood represents a critical developmental stage for shaping interpersonal interactions and behavioral regulation. Specific Background: Non-cognitive skills significantly determine long-term individual success, requiring structured pedagogical interventions to address apathy, egoism, and aggressive tendencies in school environments. Knowledge Gap: Although indigenous arts exist within extracurricular programs, they are typically reserved for competitive events involving select individuals rather than systematically integrated as inclusive character-building modules for all learners. Aims: This quantitative research investigates the application of a local traditional performance to cultivate psychological and interpersonal skills among fifth-grade students at SDN Kebakalan. Results: Following a pre-experimental one-group pretest-posttest design involving 29 participants, the analytical data demonstrated an average score progression from 67.03 to 76.10, marking a significant 9.07-point advancement. Novelty: This study directly translates the indigenous M5 philosophical framework—comprising physical readiness, courage, self-control, stability, and mastery—into the modern Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning (CASEL) parameters. Implications: Integrating regional cultural heritage into mainstream curricula provides educators with a practical, highly engaging strategy to build student empathy, teamwork, and responsible decision-making within inclusive classroom settings.


Highlights:




  • Traditional performance arts seamlessly translate into self-regulation and peer collaboration.




  • Group choreography practices successfully resolve interpersonal conflicts and build empathy.




  • Inclusive cultural modules advance behavioral assessment scores across student populations.




Keywords: Character Building, Cultural Heritage, Collaborative Learning, Self Regulation, Traditional Pedagogy

I. Pendahuluan

Anak usia sekolah dasar 6-12 tahun sedang mengalami perkembangan pada berbagai aspek mulai dari fisik, motoric, kepribadian,social, emosi, kognitif dan bahasa, dan moral keagamaan [1]. Pada tahap masa kanak-kanak akhir inilah sikap sosial mulai terbentuk, karena secara psikis kondisi anak dipengaruhi oleh penyesuaian pribadi dan sosial. Masa usia sekolah ini sebagai masa yang sangat pentik, mereka dihadapkan pada suasana baru yang dituntut agar bisa menyesuaikan diri dalam bersosialisasi dengan masyarakat mesti dalam lingkup kecil. Padahal, lingkungan sekolah dasar merupakan panggung utama bagi mereka untuk belajar berinteraksi, memahami diri sendiri, dan mengembangkan fondasi penting untuk kehidupan sosial yang sehat di masa depan. Oleh karena itu, diperlukan strategi pendidikan yang kreatif untuk mendukung perkembangan mereka. Salah satu media yang potensial adalah seni tari.

Pentingnya penguatan kecerdasan sosial emosional (KSE) didasarkan pada realitas bahwa keberhasilan siswa tidak hanya ditentukan oleh aspek intelektual semata. Merujuk pada hasil riset fundamental oleh Daniel Goleman, ditemukan sebuah fakta bahwa kecerdasan intelektual (IQ) hanya berkontribusi sekitar 20% terhadap kesuksesan hidup, sementara 80% sisanya ditentukan oleh kecerdasan emosional [2]. Siswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi mampu mengenali perasaan diri sendiri dan orang lain, serta memiliki motivasi yang kuat dalam proses belajar. Tanpa pondasi emosional yang baik, potensi intelektual siswa tidak akan berkembang secara optimal di lingkungan sekolah.

Rendahnya kemampuan sosial emosional pada anak sekolah dasar sering kali berdampak pada munculnya hambatan perilaku dalam interaksi sosial. Secara teoretis, anak yang gagal mengelola emosinya cenderung mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan pertemanan dan memiliki kontrol diri yang lemah. Riset menunjukkan bahwa kurangnya stimulasi kecerdasan emosional di sekolah dapat memicu sikap apatis, kecemasan, hingga perilaku agresif yang mengganggu iklim pembelajaran di kelas [3]. Fenomena ini menegaskan bahwa pendidikan karakter melalui pengembangan kompetensi sosial emosional sangat mendesak untuk diimplementasikan secara sistematis.

Kecerdasan sosial emosional diukur melalui lima indikator utama menurut teori CASEL (Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning), yaitu kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab [4].Namun, berdasarkan observasi nyata pada siswa kelas V SDN Kebakalan, kondisi di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan (gap) yang cukup signifikan. Pertama, masih ditemukan siswa yang cenderung acuh pada lingkungan sekitar dan lebih memilih menyendiri daripada berinteraksi dengan teman sebaya. Kedua, terdapat beberapa anak yang kurang sabar dalam menghadapi instruksi, yang berakibat pada munculnya ledakan emosi secara spontan seperti berteriak di dalam kelas. Ketiga, sering muncul sikap egois saat melakukan kegiatan berkelompok yang mengakibatkan rendahnya kekompakan tim. Problematika ini menunjukkan bahwa penanaman pendidikan karakter sosial emosional di SDN Kebakalan belum berjalan optimal sehingga membutuhkan intervensi yang kreatif.

Sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut, peneliti mendiagnosis bahwa kegiatan seni tari dapat menjadi media efektif dalam meningkatkan kompetensi sosial emosional siswa. Tari Wayang Topeng Malangan, dengan struktur gerak yang teratur dan filosofi kemanusiaan yang dalam, menuntut siswa untuk melatih fokus, kedisiplinan, serta keselarasan gerak antar anggota kelompok. Integrasi seni tari dalam pembelajaran terbukti mampu mereduksi ego pribadi dan membangun empati melalui koordinasi kolektif yang dilakukan siswa secara terus-menerus. Sejalan dengan hal tersebut, hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran seni tari secara signifikan berkontribusi pada peningkatan keterampilan sosial dan manajemen diri anak di sekolah dasar [5].Oleh karena itu, penerapan Tari Wayang Topeng Malangan dipandang sebagai solusi strategis untuk memperbaiki perilaku dan meningkatkan kecerdasan sosial emosional siswa di SDN Kebakalan.

Pada pernyataannya tentang tari:“ingkang kawastanan djoged inggih poenika, ebahing sadaja sarandhuning badhan, kasarêngan oengêling gangsa, katata pikantoek wiramaning gêndhing djoemboehing pasêmon kalijan pikadjênging djoged”[6]Artinya: yang dinamakan tari adalah gerakan seluruh anggota tubuh yang bersamaan dengan bunyi-bunyian musik, diatur dan selaras dengan irama lagu serta mendapat ekspresi sesuai dengan maksud dan tujuan tari. Dari pernyataan tersebut, kemudian berkembang teori tari yang populer yaitu wiraga, wirama, dan wirasa. Terdapat tiga unsur utama: wiraga, wirasa, dan wirama Wiraga (raga/gerak) → penekanan pada keterampilan fisik dan kejelasan gerakan. Wirasa (rasa/ekspresi) → kemampuan mengekspresikan emosi, perasaan, dan suasana hati melalui tari. Wirama (irama/ritme) → keterpaduan gerakan dengan irama musik, yang melatih konsentrasi dan koordinasi . Wiraga membantu menyalurkan energi berlebih secara positif, wirasa mendukung pengelolaan emosi, dan wirama melatih fokus serta regulasi diri. Dengan demikian, tari dapat berfungsi bukan hanya sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai media pembelajaran sosial-emosional.

Wayang topeng malangan adalah seni pertunjukan yang dikemas dengan tarian juga sebagai media pembelajaran sosial-emosional, tari topeng malangan diperkirakan muncul pada awal abad 20-an dan berkembang luas semasa perang kemedekaan. Tari topeng malangan merupakan perlambangan bagi sifat manusia sehingga banyak model topeng yang menggambarkan situasi menangis, tertawa, sedih, malu, dan marah. Konsep filosofi, tari malangan memiliki pegangan atau paugeran yang diungkap oleh chattam disebut M 5, atau malima yang terdiri dari; Majeg, Mapag, Mageng, Mapan dan Mengku [7].

Majek (M1) maknanya kokoh dalam bahasa Jawa jatuh, dalam kaitannya dengan teknik gerak wayang topeng Malangan adalah dirinya yang sudah benar-benar siap tidak ada sedikit keraguan di dalam melakukan gerak baik kesiapan otot fisik maupun kesiapan rohani berkaitan dengan penghayatan. Mapag (M2) adalah menghadap atau ngadep, bukan dalam posisi miring atau serong. Artinya ngadhep adalah benar-benar berani (wani) berani karena sudah memiliki kesiapan, kemantapan hati, tidak ada lagi rasa was-was atau keraguan. Adegan perang dalam pergelaran wayang topeng Malangan adalah salah satu contoh visual dari konsep mapag ini. Megeng (M3) yaitu mengendalikan, dalam kaitannya dengan teknik gerak adalah kemampuan untuk mengendalikan diri baik sebagai kontrol emosi maupun kontrol tenaga agar tidak berlebihan (over) atau sebaliknya terlalu lemah. Tari topeng Malangan berjalan secara wajar secukupnya sesuai kebutuhan. Mapan (M4) yaitu menempati tempat yang semestinya, dalam kondisi yang tepat, benar, tidak ragu, tidak kacau. Mapan adalah posisi sempurna sebelum dan sesudah melakukan berbagai macam gerak dapat dikatakan bahwa berbagai macam ragam gerak apa pun pada tari topeng Malangan akan menuju gerak sikap mapan [8]. Mengku (M5) adalah menguasai dari segala aspek baik lahir maupun batin.

Kaitannya dengan teknik tari topeng malang, gerak dan karakter sudah hafal bukan karena menghafal, tepat dinamis bukan karena dipikir, ekspresi bukan karena dipaksakan. Sehingga semuanya berjalan mengalir bagai air sungai yang tidak lagi diperintah dan diarahkan. dengan kata lain jika segalanya sudah kawengku maka sudah tidak ada lagi "beban" perasaan mudah dan sukar, berat dan ringan, salah dan benar, karena mudah dan sukar, berat dan ringan, salah dan benar, sudah melebur menjadi satu dengan yang memiliki, menunggal klawan ingkang Kagungan [9]

Sejalan dengan itu, diketahui dari Pendapat CASEL (Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning) bahwa pengembangan Social and Emotional Learning (SEL) mencakup lima kompetensi inti, yaitu self-awareness, self-management, social awareness, relationship skills, dan responsible decision-making (CASEL, 2020). Dapat dihubungkan dalam proses pembelajaran dan pengembangan karakter anak, terdapat nilai-nilai penting yang dapat ditanamkan melalui tahapan Majeg, Mapag, Mageng, Mapan, dan Mengku.

Tahap Majeg (M1) menekankan pada kokoh dan kesiapan fisik serta rohani, sehingga siswa belajar menyiapkan diri sebelum beraktivitas dan membangun rasa percaya diri, sejalan dengan aspek self-awareness. Selanjutnya, Mapag (M2) mengajarkan siswa untuk berani menghadapi situasi sosial baru dengan baik dan tanpa keraguan, mencerminkan keterampilan responsible decision-making. Tahap Mageng (M3) mengarahkan siswa agar mampu mengendalikan diri dan tenaga secukupnya, melatih kontrol emosi serta mengurangi amarah berlebihan, yang erat kaitannya dengan self-management. Kemudian, Mapan (M4) menekankan pada sikap stabil, baik secara emosi maupun perilaku sebelum dan sesudah berinteraksi, sehingga mendukung keterampilan dalam membangun ikatan atau relationship skills. Terakhir, Mengku (M5) mengajarkan pengendalian diri secara lahir dan batin melalui ekspresi yang alami, membantu keterpaduan emosi, gerak, dan ekspresi tanpa paksaan, serta memperkuat social awareness dan relationship skills.

Dari kegiatan tari, anak sekolah dasar dapat berlatih mengekspresikan diri, mengelola emosi, memahami orang lain, membangun interaksi positif, serta mengambil keputusan yang lebih terarah. keterampilan sosial emosional dapat ditumbuhkan melalui aktivitas kolaboratif yang menstimulasi empati, komunikasi, serta kesadaran diri, yang semuanya dapat difasilitasi melalui seni pertunjukan seperti tari. Dengan demikian, tari tradisional tidak hanya menjadi warisan budaya tetapi juga berfungsi sebagai media inklusif untuk pembentukan karakter sosial emosional.

Tantangan besar bagi sekolah adalah bagaimana menjadikan anak-anak ini memiliki kemampuan kecerdasan emosional yang matang, salah satunya dengan menempatkan mereka dalam sebuah kegiatan yang dapat memfasilitasi kelima komponen SEL tersebut [10]. Tari wayang topeng malangan sebagai salah satu bentuk ekspresi seni, yang memiliki potensi besar untuk membantu anak sekolah dasar mengekspresikan diri dan pengembangan kemampuan emosional mereka. Seni tari menyediakan saluran kreatif yang terstruktur bagi mereka untuk melepaskan energi fisik yang berlebih. Melalui seni tari mereka dapat pembelajaran emosional melalui pengalaman yang menyenangkan dan tidak menekan.

Dari hasil observasi awal di SDN Kebakalan, kegiatan seni tari sebenarnya sudah menjadi kegiatan sekolah, namun penerapanya masih terbatas pada pelatihan untuk siswa-siswa terpilih yang dipersiapkan khusus untuk acara perlombaan. Hal ini menyebabkan potensi seni tari sebagai media pengembangan karakter dan kecerdasan sosial emosional belum dirasakan oleh semua siswa secara merata. Padahal, pendidikan seni diera transformasi kurikulum pada saat ini menekankan bahwa pembelajaran seni bukan sekedar pencapaian estetika pementasan, melainkan sarana inklusif untuk mengembangkan kesejahteraan psikologis (well-being) dan karakter seluruh peserta didik [11]

Selama ini, penerapan tari di sekolah tersebut belum pernah di realisasikan secara sistematis ke dalam modul ajar yang berfokus pada penguatan kompetensi sosial emosional untuk seluruh siswa. Terdapat perbedaan antara praktek lapangan yang berfokus hanya untuk perlombaan dengan kebutuhan mendesak akan penguatan profil pelajar pancasila melalui Sosial Emosional Learning (SEL). Penelitian terbaru menunjukkan bahwa aktivitas seni yang dilakukan secara kolaboratif dan menyeluruh mampu meningkatkan empati serta kemampuan manajemen diri siswa secara lebih efektif dibandingkan metode konvensional [12] Oleh karena itu, penelitian ini hadir untuk mengisi celah tersebut dengan menerapkan Tari Wayang Topeng Malangan sebagai instrumen pengembangan sosial emosional yang dapat dirasakan oleh semua siswa tanpa terkecuali.

Menanggapi hal mendesak untuk pengembangan karakter yang berbasis pada kearifan lokal, diperlukan sebuah strategi pembelajaran yang mampu memfasilitasi perkembangan emosional siswa dari pendekatan seni tradisi yang terstruktur. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan Tari Wayang Topeng Malangan terhadap peningkatan kompetensi sosial emosional siswa kelas V SDN Kebakalan . Melalui metode eksperimen, penelitian ini menguji efektifitas penggunaan modul ajar seni tari yang dibuat khusus untuk menstimulasi aspek kesadaran diri dan keterampilan relasi siswa [13]. Hasil penelitian ini diharapkan memberi bantuan praktis bagi para pendidik dalam memfungsikan seni tari tidak hanya sebagai media hiburan, tetapi sebagai metode pembelajaran efektif yang mampu meningkatkan kecerdasan emosional siswa di tingkat sekolah dasar secara signifikan [14].

II. Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Menurut Sugiyono (2013), metode kuantitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu, dengan analisis data bersifat statistik untuk menguji hipotesis. Hal ini sejalan dengan tujuan penelitian untuk menganalisis data angka hasil perlakuan yang diolah secara statistika. Jenis penelitian yang digunakan adalah pre-eksperimen dengan desain One-Group Pretest-Posttest. untuk menggali pengaruh Tari Wayang Topeng Malangan dalam meningkatkan kemampuan kompetensi sosial emosional siswa di sekolah dasar khususnya di SDN Kebakalan. Prosedur penelitian ini digunakan untuk mengidentifikasi dampak dari suatu perlakuan khusus terhadap objek penelitian, di mana faktor-faktor luar lainnya dikendalikan agar hasil yang diperoleh lebih akurat [15]. Pendekatan ini digunakan, guna mengetahui dan menguji sejauh mana variable terikat dapat memberikan dampak pada variable bebas, sehingga dapat dilihat secara objektif dampak antar keduanya.

Penetapan variabel merupakan langkah krusial dalam penelitian kuantitatif karena variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Menurut Sugiyono (2013) [16], variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Dalam rancangan eksperimen ini, variabel penelitian diklasifikasikan menjadi dua jenis variabel yang menjadi fokus utama, yaitu variabel bebas (independent variable) dan variabel terikat (dependent variable). Dimana variable dari penelitian ini yaitu :

Tabel 1. Variable dalam penelitian

Dari jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pre Eksperimental yang di gunakan untuk melihat seberapa besar dampak Tari Wayang Topeng Malangan terhadap peningkatan kompetensi Sosial Emosioanl terhadap siswa kelas V. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah One-Group Pretest-Posttest Design. Pemilihan desain ini didasarkan pada tujuan penelitian untuk mengamati perubahan kompetensi sosial emosional pada satu kelompok subjek yang sama. Menurut Sugiyono (2013), dalam desain One-Group Pretest-Posttest, yaitu desain yang hanya menggunakan satu kelompok kelas tanpa adanya kelompok kelas kontrol. terdapat tes awal (pretest) sebelum diberikan perlakuan (treatment), sehingga hasil perlakuan dapat diketahui secara lebih akurat karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan. Secara skematis, desain ini dapat digambarkan sebagai berikut:

One Group Pretest-Posttest

Tabel 2. Desain penelitian

Keterangan:

O1 : Pretest (Sebelum Diberikan Perlakuan)

X : Perlakuan berupa praktek Tari Wayang Topeng Malangan

O2 : Posttest (Sesudah Diberikan Perlakuan)

Penggunaan rancangan satu kelompok ini juga didukung oleh Arikunto [17]Penerapan desain ini sejalan dengan pendapat dalam jurnal pendidikan seni, Lestari [18] Melalui integrasi teori tersebut, penelitian ini membandingkan skor kompetensi siswa melalui uji statistik untuk membuktikan pengaruh signifikan dari Tari Wayang Topeng Malangan. Menjawab hipotesis penelitian ini, maka penulis menggunakan hipotesis statistik. Adapun hipotetis statistiknya yaitu:

Tabel 3. Hipotesis Statistik

Keteranagan:

H0: Tidak ada Pengaruh Tari Wayang Topeng Malangan Terhadap Peningkatan Kompetensi Sosial Emosional Siswa

Ha: Ada Pengaruh Tari Wayang Topeng Malangan Terhadap Peningkatan Kompetensi Sosial Emosional Siswa Subjek dari penelitian adalah siswa kelas V SDN Kebakalan Di desa Kebakalan, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Objek yang digunakan pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SDN Kebakalan yang berjumblah 29 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampling jenuh. Menurut Sugiyono, sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan dalam pemilihan sampel ini didasarkan pada karakteristik siswa di kelas V SDN Kebakalan yang sedang dalam masa perkembangan kompetensi sosial emosional. Sampel yang terpilih berjumlah 29 siswa yang akan diberikan perlakuan berupa Tari Wayang Topeng Malangan.

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan tes. Keseluruhan tahapan ini akan terangkum pada sebuah instrumen penelitian. Untuk tahap yang pertama akan diberikan perlakuan pretest yakni 10 butir soal pilihan ganda dan 5 soal urain, pemilihan soal soal ini menggunakan indikator indikator dati kompetensi sosial emosional (CASEL). Berbeda dengan test kognitif konvensional, soal pilihan ganda dalam penelitian ini menggunakan teknik gradasi skor (1-4). Setiap pilihan jawaban (A, B, C, D) mencerminkan level kematangan kompetensi sosial emosional siswa, sehingga tidak ada jawaban yang dianggap salah mutlak, melainkan dinilai berdasarkan kualitas responya [19]. Juga diberikan perlakuan berupa pembelajaran yang termuat dalam modul ajar yang sudah buat, mencakup materi,metode,model, dan assesmen yang disesuaikan dengan mata Pelajaran Seni Budaya kelas V bab 1 seni tari Fase C, yang difungsikan sebagai pedoman dalam menerapkan tari wayang topeng malangan. Setelah itu siswa kelas V diberikan perilaku sebuah test posttest dengan soal dan tingkat kesulitan yang sama seperti pretest untuk mengukur peningkatan kompetensi sosial emosional siswa sekolah dasar.

Instrumen yang akan digunakan untuk penilaian pada penelitian ini adalah sebuah soal pretest-posttest yang terdiri dari pilihan ganda dan soal uraian singkat yang sudah teruji validitas dan reabilitasnya, tes ini memuat lima indikator Sosial Emosional (SEL) CASEL) yaitu: 1). Self-Awareness (Kesadaran Diri), untuk mengenali emosi diri juga memahami kekuatan dan keterbatasan diri, 2). Self-Management (Manajemen Diri), untuk mengenali regulasi emosi dan impuls juga kedisiplinan dan motivasi diri, 3). Social awareness (kesadaran sosial), untuk mengenali Empati terhadap orang lain juga mengenal cara menghargai perbedaan/budaya, 4). Relationship Skills (Keterampilan Berelasi), untuk mengenal kerja sama tim juga mengenal resolusi konflik di lingkungan mereka, 5). Responsible Decision-Making (Pengambilan Keputusan), untuk mengenal tanggung jawab etis dan cara menganalisis masalah juga mencari solusinya. Gambar 1. Kisi–kisi Pretest dan Posttest

Uji validitas dan uji reliabilitas merupakan tahapan penting untuk menjamin bahwa data yang dikumpulkan memiliki tingkat akurasi dan objektivitas yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Sebelum dilakukan pengambilan data eksperimen di SDN Kebakalan, instrumen yang merupakan lembaran asesmen kompetensi sosial emosional dan modul ajar terlebih dahulu melalui dua tahap pengujian utama. Uji validitas dilakukan untuk mengukur ketepatan setiap butir pernyataan dalam instrumen untuk menangkap variabel kompetensi sosial emosioanl yang diteliti [20]. Dalam konteks pendidikan seni tradisional, validitas instrumen sangat menentukan sejauh mana alat ukur mampu merekam perubahan perilaku dan efektif siswa yang distimulasi melalui gerakan Tari Wayang Topeng Malangan [21].

Setelah butir instrumen dinyatakan valid, tahap selanjutnya adalah uji reliabilitas menggunakan teknik Cronbach’s Alpha. Teknik ini digunakan untuk mengukur konsisitensi internal instrumen, sehingga instrumen tersebut tetap memberikan hasil yang stabil jika digunakan dalam waktu yang berbeda. Merujuk pada pendapat sugiyono, suatu instrumen penelitian dikatakan reliabel apabila memiliki koefisien reliabilitas atau alpha lebih besat dari 0,60. Pengguna teknik Cronbach’s Alpha dalam penelitian sekolah dasar dinilai sebagai parameter yang paling stabil dan efektif untuk mengukur skala sikap serta perkembangan psikososial peserta didik [22]. Hal ini diperkuat oleh fakta bahwa instrumen yang memiliki reliabilitas tinggi akan meminimalkan kesalahan pengukuran, sehingga hasil peningkatan skor kompetensi siswa dapat dipastikan murni berasal dari pengaruh perlakuan yang diberikan, bukan karena faktor kebetulan [23]. Dengan demikian, penggunaan instrumen yang telah teruji validitas reabilitasnya menjadi syarat mutlak dalam penelitian berbasis kearifan lokal untuk mendukuk penguatan profil pelajar pancasila secara empiris [24].

Seluruh data yang diperoleh dari hasil pretest dan posttest selanjutnya diolah menggunakan teknik statistika inferensial untuk menguji hipotesis pendidikan. Tahap awal analisis dimulai dengan uji prasyarat, yakni uji normalitas untuk memastikan bahwa data berdistribusi normal sebagai syarat penggunaan statistik parametrik [25]. Setelah persyaratan terpenuhi, pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji-t berpasangan dibantu dengan perangkat lunak SPSS. Uji ini bertujuan untuk menentukan apakah terdapat perbedaan rata-rata yang signifikan pada kompetensi sosial emosional siswa sebelum dan sesudah diberi perlakuan Tari Wayang Topeng Malangan.

Analisis ini penting untuk memberikan gambaran kuantitatif yang lebih mendalam mengenai sejauh mana modul ajar berbasis seni tradisional mampu mengintervensi perkembangan emosional siswa kelas V di SDN Kebakalan. Dengan rangkain analisi ini. Diharapkan kesimpulan yang diambil memiliki tingkat validasi internal yang kuat dan mampu memberikan rekomendasi praktis bagi pengembangan kurikulum seni di sekolah dasar.

III. Hasil dan Pembahasan

A. Hasil

Tabel 4. Paired Samples Statistics

Berdasarkan hasil analisis statistik pada desain one-group pretest-posttest, diperoleh nilai rata-rata (mean) kompetensi sosial emosional siswa sebelum perlakuan (pre-test) sebesar 67,03 dengan jumlah subjek 29 siswa. Nilai simpangan baku sebesar 9,771 menunjukkan bahwa skor awal siswa memiliki variasi yang relatif lebih besar. Setelah diberikan perlakuan berupa pembelajaran melalui Tari Wayang Topeng Malangan, nilai rata-rata (post-test) meningkat menjadi 76,10 dengan simpangan baku 7,148. Peningkatan rerata sebesar 9,07 poin tersebut mengindikasikan adanya perubahan positif pada kompetensi sosial emosional siswa setelah intervensi diberikan. Selain itu, penurunan nilai simpangan baku pada tahap post-test menunjukkan bahwa sebaran skor siswa menjadi lebih homogen, yang berarti kemampuan sosial emosional siswa tidak hanya meningkat secara umum, tetapi juga lebih merata.

Nilai standard error mean pada pre-test sebesar 1,814 dan pada post-test sebesar 1,327 memperlihatkan bahwa estimasi rata-rata setelah perlakuan memiliki tingkat ketelitian yang lebih baik dibandingkan sebelum perlakuan. Temuan ini memberikan indikasi bahwa implementasi Tari Wayang Topeng Malangan dalam pembelajaran berkontribusi terhadap peningkatan kompetensi sosial emosional siswa sekolah dasar. Perbedaan rerata skor sebelum dan sesudah perlakuan menunjukkan kecenderungan bahwa intervensi yang diberikan memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan kompetensi sosial emosional peserta didik.

Tabel 5. Paired Samples Correlations

Berdasarkan hasil uji Paired Samples Correlations, diperoleh jumlah sampel sebanyak 29 siswa dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,694 dan tingkat signifikansi (Sig.) sebesar 0,000. Nilai korelasi tersebut menunjukkan adanya hubungan yang kuat dan positif antara skor pretest dan posttest. Artinya, siswa yang memiliki skor awal relatif tinggi cenderung tetap memperoleh skor yang tinggi pada pengukuran akhir, dan demikian pula sebaliknya. Hubungan positif ini mengindikasikan adanya konsistensi pola skor antar pengukuran sebelum dan sesudah perlakuan diberikan.

Nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05) menunjukkan bahwa hubungan antara skor pretest dan posttest tersebut bersifat signifikan secara statistik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat keterkaitan yang bermakna antara kondisi awal kompetensi sosial emosional siswa dengan kondisi setelah mengikuti pembelajaran melalui Tari Wayang Topeng Malangan. Temuan ini memperkuat asumsi bahwa perubahan skor yang terjadi setelah perlakuan tidak berlangsung secara acak, melainkan memiliki pola hubungan yang jelas dengan kemampuan awal siswa.

Secara substantif, hasil korelasi ini memberikan gambaran bahwa intervensi pembelajaran berbasis Tari Wayang Topeng Malangan dilaksanakan pada kelompok yang memiliki karakteristik skor awal yang terukur dan konsisten, sehingga memungkinkan analisis lebih lanjut mengenai perbedaan rata-rata atau peningkatan skor kompetensi sosial emosional. Oleh karena itu, hasil uji korelasi berpasangan ini mendukung validitas internal pengukuran dalam penelitian serta menjadi dasar untuk menginterpretasikan efektivitas perlakuan yang diberikan kepada siswa sekolah dasar.

Tabel 6. Paired Samples Test

Berdasarkan hasil uji Paired Samples Test, diperoleh nilai selisih rata-rata (mean difference) antara skor pretest dan posttest sebesar -9,069. Tanda negatif menunjukkan bahwa skor posttest lebih tinggi dibandingkan skor pretest. Nilai t hitung sebesar -6,932 dengan derajat kebebasan (df) 28 dan nilai signifikansi (Sig. 2-tailed) sebesar 0,000. Interval kepercayaan 95% terhadap selisih rata-rata berada pada rentang -11,749 sampai dengan -6,389. Rentang tersebut tidak melintasi angka nol, sehingga secara statistik terdapat perbedaan yang signifikan antara skor sebelum dan sesudah perlakuan.

Nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari taraf signifikansi yang ditetapkan (α = 0,05). Dengan demikian, secara statistik terdapat peningkatan kompetensi sosial emosional siswa setelah diberikan perlakuan berupa pembelajaran Tari Wayang Topeng Malangan. Hasil ini menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan dalam desain penelitian One-Group Pretest-Posttest memberikan pengaruh yang bermakna terhadap perubahan skor kompetensi siswa.

Apabila dikaitkan dengan rumusan hipotesis penelitian, yaitu H₀: μ ≤ 75 (rata-rata kompetensi siswa kurang dari atau sama dengan 75) dan Hₐ: μ > 75 (rata-rata kompetensi siswa lebih dari 75), maka hasil pengujian menunjukkan bahwa peningkatan skor setelah perlakuan signifikan secara statistik. Dengan mempertimbangkan nilai rata-rata posttest yang telah melampaui kriteria ketuntasan 75 (sebagaimana ditetapkan dalam hipotesis), maka H₀ ditolak dan Hₐ diterima. Artinya, rata-rata kompetensi sosial emosional siswa setelah mengikuti pembelajaran Tari Wayang Topeng Malangan berada pada kategori tuntas.

B. Pembahasan

Pembahasan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi Tari Wayang Topeng Malangan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kompetensi sosial emosional siswa sekolah dasar. Kenaikan rerata skor dari 67,03 pada pre-test menjadi 76,10 pada post-test dengan selisih sebesar 9,07 poin. Peningkatan rata-rata sebesar 9,07 poin menunjukkan adanya perubahan positif pada kompetensi sosial emosional siswa. Hal ini mengindikasikan bahwa keterlibatan siswa dalam Tari Wayang Topeng Malangan memberikan ruang bagi siswa untuk mempraktikkan keterampilan sosial secara nyata dan terkendali. Penurunan nilai simpangan baku dari 9,771 menjadi 7,148 juga menunjukkan bahwa peningkatan tersebut tidak hanya terjadi pada sebagian siswa, tetapi berlangsung secara lebih merata. . Temuan ini sejalan dengan penelitian Durlak et al. (2011) yang menyatakan bahwa program Social Emotional Learning (SEL) berbasis aktivitas interaktif mampu meningkatkan keterampilan sosial emosional secara signifikan dan konsisten pada peserta didik

Secara inferensial, hasil uji Paired Samples Test menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan yang bermakna antara kondisi sebelum dan sesudah perlakuan. Hal ini memperkuat bahwa Tari Wayang Topeng Malangan berperan sebagai intervensi yang efektif dalam meningkatkan kompetensi sosial emosional siswa. Dalam perspektif pembelajaran berbasis seni (arts-based learning), aktivitas seni seperti tari memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan aspek kognitif, emosional, dan sosial secara bersamaan. Farrington et al. (2019) menjelaskan bahwa pengalaman estetis dalam seni dapat memperkaya cara berpikir dan merasakan individu, sehingga berdampak pada perkembangan kepribadian secara menyeluruh. Dengan demikian, peningkatan yang signifikan dalam penelitian ini dapat dipahami sebagai hasil dari keterlibatan siswa dalam pengalaman belajar yang holistik.

Lebih lanjut, hasil uji korelasi sebesar 0,694 dengan signifikansi 0,000 menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara skor awal dan akhir. Hal ini mengindikasikan bahwa intervensi yang diberikan mampu memperkuat potensi awal siswa secara konsisten. Temuan ini sejalan dengan teori konstruktivisme yang menyatakan bahwa pembelajaran efektif terjadi antar individu membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman sebelumnya. Dalam konteks ini [28], Tari Wayang Topeng Malangan memberikan pengalaman belajar yang kontekstual dan bermakna, sehingga siswa dapat mengembangkan kompetensi sosial emosional secara berkelanjutan.

Dari sudut pandang Social Emotional Learning (SEL), peningkatan kompetensi sosial emosional dalam penelitian ini dapat dijelaskan melalui lima aspek utama. Pertama, kesadaran diri (self-awareness) berkembang melalui aktivitas ekspresi gerak dan penghayatan karakter dalam tari. Kedua, pengelolaan diri (self-management) terbentuk melalui latihan disiplin dan pengendalian emosi selama proses pembelajaran. Ketiga, kesadaran sosial (social awareness) meningkat melalui pemahaman karakter dalam topeng yang merepresentasikan nilai-nilai tertentu, sehingga mendorong empati siswa. Keempat, keterampilan berelasi (relationship skills) berkembang melalui interaksi dan kerja sama dalam kelompok tari. Kelima, pengambilan keputusan yang bertanggung jawab (responsible decision-making) terbentuk melalui keterlibatan siswa dalam mengikuti aturan dan peran dalam pembelajaran. Hal ini selaras dengan kerangka yang dikemukakan oleh Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning yang menekankan pentingnya integrasi kelima kompetensi tersebut dalam proses pendidikan [29].

Berdasarkan hasil temuan di lapangan, ditemukan perkembangan keterampilan relasi dan kesadaran sosial siswa yang signifikan selama proses intervensi. Pada tahap awal, muncul hambatan berupa ego perasaan keberatan jika harus berkelompok dengan yang bukan teman akrabnya. ketika siswa harus bekerja sama dengan rekan di luar kelompok bermain mereka, yang memicu konflik interpersonal dan menghambat kekompakan tarian. Namun, pemberian tantangan kolektif yang menuntut performa terbaik bertindak sebagai pendorong bagi siswa untuk mulai berdiskusi dan membangun kerja sama tim. Hal ini membuktikan bahwa Tari Wayang Topeng Malangan menjadi media praktis bagi siswa untuk mengimplementasikan keterampilan relasi dalam kerangka kerja CASEL, khususnya dalam aspek penyelesaian konflik secara baik-baik dan komunikasi yang efektif untuk mencapai tujuan bersama.

Selain itu, penelitian ini menemukan kemajuan pada aspek kesadaran diri dan inklusivitas, terutama pada siswa dengan karakteristik introvert yang awalnya enggan berinteraksi karena rasa malu. Melalui latihan yang berkelanjutan, siswa tersebut mulai menunjukkan keberanian untuk membuka komunikasi interpersonal sederhana demi menyempurnakan koordinasi gerak kelompoknya. Proses ini tidak hanya mengubah perilaku individu, tetapi juga memicu pertumbuhan kesadaran sosial bagi anggota kelompok lainnya untuk saling menghargai perbedaan karakter dan keterbatasan setiap anggota. keselarasan yang tercipta dalam tarian kelompok tersebut menjadi bukti nyata bahwa kegiatan seni budaya ini mampu menciptakan lingkungan belajar yang empatik, meningkatkan rasa saling menghormati, dan memperkuat ikatan sosial antar siswa di sekolah dasar.

Selain itu, keterlibatan siswa dalam Tari Wayang Topeng Malangan juga dapat dijelaskan melalui teori embodied cognition yang menyatakan bahwa proses kognitif dan emosional sangat dipengaruhi oleh aktivitas fisik dan pengalaman tubuh [28]. Gerakan tari yang terstruktur dan ekspresif memungkinkan siswa untuk menginternalisasi nilai-nilai sosial emosional melalui pengalaman langsung. Penelitian oleh Khoirani & Pamungkas (2025) juga menunjukkan bahwa aktivitas tari pada anak usia sekolah dasar dapat meningkatkan regulasi emosi, kemampuan sosial, serta perilaku prososial. Hal ini memperkuat temuan bahwa pembelajaran berbasis tari tradisional memiliki relevansi yang tinggi dalam pengembangan kompetensi sosial emosional.

Secara kultural, Tari Wayang Topeng Malangan tidak hanya berfungsi sebagai media pembelajaran, tetapi juga sebagai sarana internalisasi nilai-nilai budaya lokal. Nilai-nilai seperti kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, serta penghargaan terhadap budaya menjadi bagian dari proses pembelajaran yang dialami siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Nasution et al. (2025) yang menyatakan bahwa pendidikan berbasis budaya dapat memperkuat identitas sosial sekaligus meningkatkan kompetensi sosial peserta didik. Dengan demikian, peningkatan skor yang melampaui kriteria ketuntasan tidak hanya menunjukkan keberhasilan akademik, tetapi juga keberhasilan dalam pembentukan karakter siswa.

I V. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa implementasi Tari Wayang Topeng Malangan terbukti memberikan pengaruh positif dalam meningkatkan kompetensi sosial emosional siswa kelas V di SDN Kebakalan. Peningkatan ini dibuktikan dengan adanya kenaikan rata-rata skor kompetensi siswa dari 67,03 pada saat pretest menjadi 76,10 pada saat posttest, dengan selisih peningkatan sebesar 9,07 poin. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis kearifan lokal melalui seni tari mampu memfasilitasi pengembangan lima indikator utama sosial emosional, yakni kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab secara lebih efektif. Dengan demikian, penggunaan Tari Wayang Topeng Malangan dapat dijadikan sebagai alternatif strategi pedagogis dalam mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam mata pelajaran seni budaya. Mengingat penelitian ini terbatas pada satu kelompok subjek dengan desain pre-experimental, peneliti selanjutnya disarankan untuk mengembangkan penelitian serupa dengan cakupan sampel yang lebih luas serta menambahkan kelompok kontrol untuk mendapatkan gambaran perbandingan yang lebih komprehensif terkait efektivitas metode ini dalam jangka panjang.

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penelitian dan penulisan artikel ini dapat diselesaikan dengan baik. Penulis juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua tercinta, ayah dan ibu, atas doa, dukungan, kasih sayang, serta motivasi yang selalu diberikan selama proses penelitian dan penyusunan artikel ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Ibu Kemil Wachidah selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan, serta masukan yang sangat berarti selama proses penyusunan penelitian ini.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak SDN Kebakalan yang telah memberikan izin dan dukungan sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. Selain itu, penulis menyampaikan apresiasi kepada teman-teman tercinta yang telah memberikan dukungan, semangat, dan bantuan selama proses penelitian. Terakhir, penulis juga mengapresiasi diri sendiri atas usaha, ketekunan, dan kerja keras dalam menyelesaikan penelitian dan penulisan artikel ini hingga dapat tersusun dengan baik.

References

Henri, Perkembangan Peserta Didik. Angewandte Chemie International Edition, vol. 6, no. 11, 2018.

D. Goleman, Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York, NY, USA: Bantam Books, 1995.

Fatah, “Kementerian Agama RI Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu.” [Online]. Available: www.uinfasbengkulu.ac.id

K. E. Frye, D. L. Boss, C. J. Anthony, H. Du, and W. Xing, “Content analysis of the CASEL framework using K–12 state SEL standards,” School Psychology Review, vol. 53, no. 3, pp. 208–222, 2024, doi: 10.1080/2372966X.2022.2030193.

N. Wulan, H. Wakhyudin, and I. Rahmawati, “Ekstrakurikuler seni tari dalam membentuk nilai karakter bersahabat,” IVCEJ, vol. 2, no. 1, 2019.

B. P. A. Soerjodiningrat, Babad lan Mekaring Djoged Djawi. Yogyakarta, Indonesia: Kolf Buning, 1934.

R. H. Staf Pengajar Program, S. Pendidikan, S. Tari, D. Musik, J. Seni, and D. Desain, “Karakteristik tari etnik dalam perkembangan budaya di Indonesia.”

Wido, “Karakter lokal dalam konstruksi seni pertunjukan wayang topeng Malangan.”

D. Jati, Damar Jati: Kalawarti Umum Basa Jawa, issues 35–46. Gria Media Prima, 2007.

E. Amri, “Implementasi pembelajaran sosial emosional berdasarkan kerangka CASEL di sekolah dasar,” Jurnal Pendidikan Tuntas, vol. 3, no. 2, pp. 55–60, 2025.

Putri, “Pengembangan karakter siswa melalui ekstrakurikuler seni tari di sekolah dasar,” Jurnal Basicedu, vol. 6, 2022.

Saputra, “Integrasi social emotional learning dalam pembelajaran seni budaya untuk meningkatkan keterampilan sosial,” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 7, pp. 455–468, 2023.

Maulana, “Nilai-nilai filosofis tari wayang topeng Malangan sebagai media pendidikan karakter di sekolah dasar,” Jurnal Pendidikan dan Konseling, vol. 5, pp. 1245–1255, 2023.

Pratama, “Analisis dampak pembelajaran tari tradisional terhadap kecerdasan emosional siswa fase C,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti, vol. 1, pp. 88–102, 2024.

S. R. Wahyuningrum, “Pre-experimental design bimbingan kelompok dengan teknik assertive training dalam peningkatan keterampilan komunikasi siswa di SMK Kesehatan Nusantara,” Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam, 2021.

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2013.

S. Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta, Indonesia: Rineka Cipta, 2010.

I. Lestari, “Pengembangan instrumen kompetensi sosial emosional siswa sekolah dasar atau efektivitas desain pretest-posttest dalam penelitian pendidikan,” Jurnal Pendidikan Dasar atau Jurnal Obsesi, 2020.

Andriani, “Analisis rubrik penilaian berbasis education for sustainable development dan konteks berpikir sistem di sekolah dasar,” Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 3, no. 4, pp. 1326–1336, Jun. 2021, doi: 10.31004/edukatif.v3i4.514.

Rahman, “Analisis validitas dan reliabilitas instrumen pengukuran karakter siswa sekolah dasar,” Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 10, pp. 22–34, 2022.

W. Sari, “Pengembangan asesmen kompetensi sosial emosional berbasis aktivitas seni di sekolah dasar,” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 7, pp. 1205–1218, 2023.

Pratama, “Metodologi penelitian kuantitatif dalam pendidikan seni tari: Tantangan dan implementasi,” Jurnal Ilmiah Pendidikan, vol. 11, pp. 88–102, 2024.

Maulana, “Evaluasi instrumen pembelajaran budaya lokal untuk meningkatkan karakter siswa,” Jurnal Konseling dan Pendidikan, vol. 11, pp. 1245–1255, 2023.

Putri, “Standarisasi instrumen karakter melalui ekstrakurikuler tari tradisional di sekolah dasar,” Jurnal Basicedu, vol. 6, pp. 6052–6061, 2022.

Nugraha, “Penerapan uji statistik parametrik dalam penelitian eksperimen pendidikan dasar,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Terapan, vol. 5, pp. 12–25, 2023.

J. A. Durlak, R. P. Weissberg, A. B. Dymnicki, and R. D. Taylor, “The impact of enhancing students’ social and emotional learning: A meta-analysis of school-based universal interventions,” Child Development, vol. 82, no. 1, pp. 405–432, 2011, doi: 10.1111/j.1467-8624.2010.01564.x.

C. A. Farrington et al., Arts Education and Social-Emotional Learning Outcomes Among K–12 Students: Developing a Theory of Action, 2019.

C. Cipriano et al., “The state of evidence for social and emotional learning: A contemporary meta-analysis of universal school-based SEL interventions,” Child Development, pp. 1–24, 2023, doi: 10.1111/cdev.13968.

R. P. Weissberg, K. A. Durlak, C. E. Domitrovich, and T. P. Gullotta, Social and Emotional Learning: Past, Present, and Future, 2015.

A. N. Khoirani and J. Pamungkas, “Membangun kecerdasan emosional melalui kegiatan seni tari pada anak usia dini,” Murhum: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 6, no. 2, pp. 427–436, 2025, doi: 10.37985/murhum.v6i2.1455.

A. Z. Nasution, J. Sembiring, R. Hayati, and H. Zahra, “Tari membantu anak mengekspresikan perasaan,” 2025.