Login
Section Early Childhood Education Method

Interactive Reading Box Media Facilitates Early Literacy Acquisition In Young Children

Media Kotak Baca Interaktif Memfasilitasi Penguasaan Literasi Awal Pada Anak Usia Dini
Vol. 21 No. 2 (2026): May:

Siti Maimona (1), Luluk Iffatur Rocmah (2)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Early childhood education requires engaging, play-based pedagogical strategies to stimulate foundational language development and cognitive potential. Specific Background: Developing phonemic awareness and letter recognition is a critical prerequisite for learners aged five to six years before progressing to fluent text comprehension. Knowledge Gap: Despite the importance of this developmental stage, conventional instructional methods relying on whiteboards often cause boredom and fail to address difficulties in distinguishing similar alphabetical symbols. Aims: This classroom action research investigates the application of a visual and tactile medium to support initial phonetic proficiency at RA Ar Rochmah. Results: Across two collaborative learning cycles involving 18 participants, student mastery progressed from a baseline of 1 percent to 33.34 percent, eventually reaching 77.78 percent as learners successfully identified letters and constructed simple syllables. Novelty: The intervention shifts passive instruction into a hands-on challenge where learners actively manipulate physical cards to match visual objects and corresponding initial sounds. Implications: Integrating such value-based, experiential learning tools provides educators with a highly engaging pedagogical framework to foster foundational literacy within inclusive classroom environments.


Highlights:




  • Tactile pedagogical tools successfully convert passive instruction into engaging multisensory learning experiences.




  • Physical alphabet arrangement tasks resolve common student difficulties in distinguishing similar phonemes and alphabetical symbols.




  • Classroom action cycles demonstrate a rapid progression in fundamental phonetic mastery from baseline measurements.




Keywords: Foundational Literacy, Phonemic Awareness, Action Research, Visual Learning, Multisensory Pedagogy

I. Pendahuluan

Paling utama dalam masa pendidikan adalah masa PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), hal demikian dikarenakan menjadi waktu yang paling krusial untuk menentukan arah tumbuh anak dimasa mendatang [1], menurut National Association for The education mengatakan bahwa anak usia dini adalah anak yang usianya antara 0 sampai 8 tahun. Dalam umur tersebut, seorang anak masuk pada proses perkembangan dan pertumbuhan yang sangat signifikan, sehingga proses pembelajaran perlu diperhatikan demi menyongsong perkembangan anak [2]. Berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Subdirektorat Pendidikan Anak Dini Usia (PADU) yang mengatakan bahwa anak usia dini antara usia 0 sampai 6 tahun [3]. Batasan tersebut sampai pada anak-anak selesai masa taman kanak-kanak dimana masa tersebut diidentikan dengan masa keemasan untuk memberikan rangsangan pembelajaran [4], hal demikian dilakukan karena anak akan mudah menerima untuk dibina, diberi arahan untuk menumbuhkan perkembangan serta menggali potensi agar supaya mempunyai kesiapan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi [5]

Itu sebabnya mengapa dalam mendidik anak seorang guru dituntut untuk berprilaku lemah lembut dan dianjurkan untuk menerapkan pembelajaran sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh anak usia dini agar tercipta pembelajaran yang baik dalam lingkungan sekolah [6]. Dalam ruang lingkup pendidikan, seorang guru diharuskan menciptakan rasa aman, nyaman dan tentram bagi para murid-murid yang diajarinya. Peran guru sangat dibutuhkan dalam masa pembelajaran, terutama pada masa anak usia dini. Guru tidak hanya dituntut untuk mengajar, namun juga dituntut untuk mengatur strategi agar anak-anak suka dalam belajar [7]

Dalam pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas, seringkali ditemukan berbagai permasalahan dalam pembelajaran. Permasalahan pembelajaran di kelas anak usia dini seringkali muncul karena karakteristik anak yang masih berada pada tahap bermain, sehingga mereka mudah bosan, sulit berkonsentrasi dalam waktu lama, dan cenderung aktif bergerak. Guru juga menghadapi tantangan dalam mengelola kelas, di mana setiap anak memiliki kemampuan, minat, serta kebutuhan belajar yang berbeda-beda [8]. Selain itu, keterbatasan media pembelajaran, kurangnya keterlibatan orang tua, dan lingkungan belajar yang kurang mendukung dapat memperlambat pencapaian perkembangan anak [9]. Kondisi tersebut menuntut guru untuk lebih kreatif, sabar, dan mampu menggunakan metode pembelajaran yang variatif agar anak tetap termotivasi dan pembelajaran dapat berlangsung secara efektif [10].

Di sisi lain, kesulitan berbahasa yang dialami anak-anak juga menjadi persoalan penting yang perlu mendapatkan perhatian serius, sebagaimana terjadi di TK 'Aisyiyah Bustanul Athfal. Realitas yang ada di TK 'Aisyiyah Bustanul Athfal masih banyak ditemukan para siswa sulit untuk belajar, itu dikarenakan kebanyakan siswa malas untuk diajak belajar secara tatap muka dalam pembelajaran literasi, selain itu, para siswam lebih suka bermain daripada diajak belajar terutama jika diajari baca tulis, hal demikan akan berdampak pada lemahnya bahasa anak ke depan. Sedangkan Bahasa merupakan dasar utama dalam proses komunikasi manusia, apabila anak mengalami hambatan dalam kemampuan berbahasa, maka mereka juga akan mengalami kesulitan dalam memahami konsep, mengekspresikan perasaan, dan menyampaikan pikiran mereka [11]. Bahasa juga menjadi alat utama dalam proses belajar membaca. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran di kelas, peran guru sangat vital. Penggunaan media berupa buku cerita bergambar dinilai sangat sesuai untuk anak usia 4–5 tahun, karena selain menarik, juga dapat merangsang kemampuan bahasa anak secara efektif [12].

Anak-anak berusia antara lima dan enam tahun memiliki indikator minat membaca yang menunjukkan kondisi ini, seperti kesenangan mereka terhadap buku bergambar, kesediaan mereka untuk duduk tenang dan mendengarkan cerita, dan buku-buku yang mereka pilih. Meskipun mereka hanya melihat gambar, anak-anak sering membalik halaman dengan antusias, meminta untuk dibacakan, dan meniru orang dewasa yang membaca. Mereka meniru kata-kata dan kalimat dari cerita dan bahkan menceritakan kembali isi bacaan kepada orang lain, memberikan kesan bahwa mereka gembira dan ingin tahu. Selain itu, anak mulai mengenali huruf sederhana, menghubungkan gambar dengan kata, dan mengajukan pertanyaan tentang isi cerita, yang menunjukkan tumbuhnya kebiasaan serta ketertarikan pada kegiatan membaca.

Zilfa Assya Tristanti1 dan Ade Hikmat, Dkk dalam penelitiannya yang menjelaskan bahwa pembelajaran melalui media buku bergambar mempunyai nilai positif untuk digunakan, hal demikian dikarenakan beberapa aspek yang diantaranya buku bergambar memberikan tambahan minat baca siswa, terutama pada saat proses pembelajaran literasi berlangsung [13].

Penelitian yang ditulis oleh Ahmad Tarmidzi Hasibuan [14] juga mengatakan bahwa penggunaan media buku bergambar dalam pembelajaran dapat meningkatkan minat baca siswa sampai 52,8%. Bukan hanya itu saja, para siswa sangat antusias dalam belajar dan juga mempunyai kemajuan dalam kemampuan membaca dan memahami apa yang telah dibaca, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan belajar mengajar di sekolah menggunakan media buku bergambar sangat membantu dalam meningkatkan minat baca siswa.

Sekarang, yang menjadi persoalan adalah bagaimana mekanisme pembelajaran menggunakan media buku bergambar dapat diterapkan di TK 'Aisyiyah Bustanul Athfal Pamekasan, mengingat tidak semua siswa memiliki karakter yang sama dalam tahap pembelajaran. Juga bagaimana peran guru dalam mengedukasi siswa agar mau belajar membaca melalui media buku bergambar pada siswa di TK 'Aisyiyah Bustanul Athfal Pamekasan.

II. Metode

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian tindakan kelas (PTK). PTK adalah suatu suatu penelitian yang dilaksanakan oleh guru guru itu sendiri dengan merancanag, melaksanakan dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif serta partisipasif yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran di kelasnya melalui satu tindakan tertentu dalam satu siklus [15]. Setidaknya dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas terdapat empat manfaat yang diperoleh oleh seorang guru yang diantaranya Pertama adalah membantu memperbaiki mutu pembelajaran, Kedua adalah meningkatkan profesionalitas seorang guru, Ketiga adalah meningkatkan rasa percaya diri guru dan yang Kelima adalah memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya [16]

Pada penelitian ini, peneliti dalam penggunaannya melalui pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menyajikan data dalam bentuk deskriptif atau verbal, tanpa menggunakan angka maupun pengolahan data secara statistik. Berdasarkan berbagai pandangan mengenai definisi penelitian kualitatif, dapat disimpulkan bahwa pendekatan ini menekankan pada pemahaman makna, gejala, dan proses yang terjadi dalam suatu konteks tertentu melalui data non-numerik [17]

Dalam hal ini ang menjadi sasaran penelitian adalah siswa TK yang beranggotakan 20 siswa terbagi 13 siswa laki-laki dan 7 siswa perempuan dan juga kepada yang dilakukan dari bulan April hingga Juni 2025 di Tk „Aisyiyah Bustanul Athfal Pamekasan

Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data melalui tiga tahapan yaitu melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data merupakan hal yang paling penting dalam melakukan penelitian dengan tujuan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan [18] sementara sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh melalui wawancara dengan keterlibatan secara langsung antara peneliti dengan informen, sementara data sekunder adalah data yang digunakan melalui beberapa literatur penelitian. Agar perencanaan penelitian tindakan kelas berjalan dengan lancar, maka dibutuhkan tahapan-tahapan penelitian tindakan kelas yaitu Pertama adalah perencanaan, Kedua adalah pelaksanaan, Ketiga adalah pengamatan dan yang Keempat adalah refleksi [19]

Analisis data merupakan upaya yang dilakukan melalui cara mengorganisasikan data, memulih dan memilah hingga menjadi satuan data yang adapat dikelola. Analisa yang dilakukan terhadap data kualitatif dilaksanakan sebelum masuk lapangan, saat dilapangan dan setelah dari lapangan hingga penelitian tersebut selesai [20]

Terget keberhasilan dari penelitian ini minimal 75% anak menunjukkan peningkatan dalam kemampuan berbahasa Indonesia (berbicara, mendengarkan, kosa kata, dan menyusun kalimat sederhana) setelah penerapan metode storytelling selama dua siklus tindakan. Maka dengan demikian, untuk mengukur tingkat keberhasilan yang diinginkan, penulis menggunakan rumus sebagai berikut:

III. Hasil dan Pembahasan

Penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilaksanakan pada tahun ajaran 2024–2025 di TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal Pamekasan dengan judul “Meningkatkan Minat Membaca Melalui Buku Cerita Bergambar pada Anak Usia 4–5 Tahun di TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal Pamekasan”. Kegiatan penelitian berlangsung selama tiga bulan, yaitu mulai April hingga Juni 2025.

Subjek penelitian adalah peserta didik TK yang berjumlah 20 anak, terdiri atas 13 siswa laki-laki dan 7 siswa perempuan. Sebelum tindakan diberikan, peneliti terlebih dahulu melakukan observasi awal untuk mengetahui tingkat minat membaca anak usia 4–5 tahun. Observasi ini bertujuan memperoleh gambaran kondisi awal peserta didik sebagai dasar perencanaan tindakan.

Pelaksanaan PTK ini mengikuti empat tahapan utama, yaitu:

1. Tahap Perencanaan (Planning) Pada tahap ini, peneliti menyusun rancangan kegiatan pembelajaran yang berfokus pada peningkatan minat membaca melalui penggunaan buku cerita bergambar. Perencanaan meliputi penyusunan RPPH, pemilihan media, serta penyiapan instrumen observasi.

2. Tahap Tindakan (Acting) Tahap ini merupakan pelaksanaan kegiatan pembelajaran sesuai dengan rancangan yang telah disusun. Guru menerapkan pembelajaran menggunakan buku cerita bergambar untuk menumbuhkan ketertarikan dan antusiasme anak terhadap kegiatan membaca.

3. Tahap Pengamatan (Observing) Pada tahap ini, peneliti melakukan pengamatan terhadap aktivitas guru dan peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung. Data dikumpulkan melalui lembar observasi untuk mengetahui perkembangan minat membaca anak.

4. Tahap Refleksi (Reflecting) Tahap terakhir dilakukan dengan mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan. Peneliti menganalisis kelebihan dan kekurangan selama proses pembelajaran untuk menentukan perbaikan pada siklus berikutnya.

Dengan tahapan tersebut, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang jelas mengenai upaya peningkatan minat membaca anak usia 4–5 tahun melalui pemanfaatan buku cerita bergambar di TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal Pamekasan.

A. Pra Siklus

Tahap pra siklus merupakan langkah awal yang dilakukan peneliti untuk mengetahui kondisi awal minat membaca anak usia 4–5 tahun sebelum diberikan tindakan melalui buku cerita bergambar. Pada tahap ini, peneliti melakukan pengamatan secara langsung terhadap kegiatan pembelajaran sehari-hari guna memperoleh gambaran nyata mengenai ketertarikan anak terhadap aktivitas membaca.

Kegiatan diawali dengan peserta didik berbaris di depan sekolah, kemudian masuk ke kelas dan melaksanakan rutinitas pagi seperti sarapan bersama. Selanjutnya dilakukan kegiatan pembuka berupa doa sebelum belajar, muroja’ah, serta absensi. Guru kemudian menjelaskan kegiatan pembelajaran hari itu, yaitu anak diminta melihat dan membaca buku paket sederhana serta menirukan beberapa kata yang ditunjukkan oleh pendidik. Pada tahap ini, peneliti mengamati respons anak saat kegiatan membaca berlangsung, termasuk perhatian, partisipasi, serta antusiasme mereka terhadap buku.

Setelah kegiatan inti selesai, anak melaksanakan makan siang bersama. Setelah makan, para siswa diminta untuk membaca buku teks mereka dan bergabung dengan guru dalam melafalkan Al-Quran. Para siswa diminta untuk menceritakan kembali kegiatan pembelajaran hari itu sambil duduk melingkar untuk latihan terakhir. Setelah memberikan informasi tentang kegiatan untuk hari berikutnya, instruktur mengakhiri dengan doa.

Terlihat jelas dari pengamatan pra-siklus bahwa setiap anak masih kurang tertarik membaca. Hal ini ditunjukkan oleh ketidakmampuan mereka untuk memperhatikan ketika guru membaca dengan lantang, fakta bahwa beberapa anak mudah teralihkan perhatiannya, dan fakta bahwa mereka belum menunjukkan minat untuk melihat atau memegang buku secara mandiri. Sebagian anak juga masih enggan menyebutkan huruf atau kata yang ditunjukkan oleh guru dan hanya mengikuti secara pasif. Oleh karena itu, penelitian dilanjutkan ke tahap siklus I dengan menerapkan pembelajaran menggunakan buku cerita bergambar sebagai media untuk meningkatkan minat membaca anak di TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal Pamekasan.

Tabel 1. Hasil pengamatan Pra siklus

Keterangan:

TT = Tidak Tuntas

Kriteria ketuntasan ≥ 75%

Dengan demikian, nilai yang dibutuhkan adalah 75% dan karena seluruh persentase masih di bawah 75%, maka pada tahap pra siklus dinyatakan 0% ketuntasan klasikal dan masih berada dalam tahapan awal.

B. Siklus I

Pada siklus I, peneliti melaksanakan tindakan lanjutan setelah tahap pra siklus. Tindakan dilakukan sebanyak dua kali pertemuan dalam satu minggu, dengan durasi kurang lebih 60 menit pada setiap pertemuan. Pada siklus ini, pembelajaran difokuskan pada peningkatan minat membaca melalui penggunaan buku cerita bergambar sebagai media utama.

Sebelum pelaksanaan tindakan, peneliti menyiapkan beberapa perangkat pendukung, yaitu:

1. Menyusun RPPH (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian) sebagai pedoman dalam kegiatan pembelajaran.

2. Menyediakan buku cerita bergambar yang menarik dan sesuai dengan usia anak.

3. Menyusun serta menyiapkan lembar observasi untuk mengamati peningkatan minat membaca anak usia 4–5 tahun.

Pertemuan Pertama Siklus I

Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Selasa, 27 Mei 2025 pukul 08.00–09.00 WIB. Kegiatan diawali dengan pembukaan sesuai rutinitas kelas, yaitu berdoa sebelum belajar, menanyakan kabar anak, dan menyampaikan tujuan pembelajaran hari itu.

Peneliti kemudian memperlihatkan sebuah buku bergambar kepada para siswa. Anak-anak diminta untuk melihat gambar di sampul dan membuat tebakan tentang alur cerita berdasarkan gambar yang mereka lihat. Untuk menjaga perhatian dan minat anak-anak, peneliti kemudian membacakan cerita dengan lantang dengan nada yang menarik dan ekspresif sambil menunjuk gambar di setiap halaman. Peneliti terus mengamati partisipasi, fokus, dan antusiasme anak-anak saat mereka mendengarkan narasi tersebut. Beberapa anak mulai menunjukkan ketertarikan dengan mengajukan pertanyaan sederhana dan menunjuk gambar yang mereka sukai.

Pertemuan Kedua Siklus I

Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Rabu, 28 Mei 2025 pukul 08.00–09.00 WIB. Kegiatan diawali dengan doa, apersepsi, dan diskusi ringan mengenai cerita yang telah dibacakan sebelumnya. Pada pertemuan ini, anak-anak diajak lebih aktif dalam kegiatan membaca. Peneliti membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 3–4 anak. Sebuah buku bergambar dibagikan kepada setiap kelompok untuk analisis kelompok. Anak-anak diinstruksikan untuk mengidentifikasi huruf pertama dari setiap objek dalam gambar, menunjuk gambar, dan mencoba menceritakan kembali cerita tersebut dengan cara yang lugas.

Anak-anak kemudian diminta untuk berpartisipasi dalam "rantai cerita," di mana setiap anak menceritakan sebagian dari cerita berdasarkan gambar yang mereka lihat. Melalui pengalaman yang menyenangkan, aktivitas ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri anak-anak dalam berbicara sekaligus mendorong minat membaca. Kegiatan diakhiri dengan refleksi bersama. Anak-anak diajak menceritakan kembali keseruan pembelajaran hari itu, kemudian ditutup dengan doa dan salam.

Hasil Observasi Siklus I

Berdasarkan hasil pengamatan selama dua kali pertemuan pada siklus I, terlihat adanya peningkatan minat membaca pada sebagian peserta didik. Anak mulai menunjukkan perhatian lebih lama saat guru membacakan cerita, beberapa anak sudah berani menyebutkan huruf awal pada gambar, serta mulai aktif bertanya dan berpartisipasi dalam diskusi sederhana.

Meskipun demikian, peningkatan tersebut belum merata pada seluruh peserta didik. Oleh karena itu, hasil observasi pada siklus I akan dianalisis lebih lanjut untuk menentukan perbaikan pada siklus berikutnya.

Tabel 2. Hasil observasi pada siklus I

Tabel 3. Hasil rekapitulasi pada siklus I

Hasil tersebut kemudian dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:

Pada siklus I terjadi peningkatan dari pra siklus (0%) menjadi 25% ketuntasan klasikal. Meskipun telah menunjukkan adanya peningkatan minat membaca melalui buku cerita bergambar, hasil ini belum mencapai indikator keberhasilan (≥ 75%). Oleh karena itu, perlu dilanjutkan ke siklus II untuk memperoleh hasil yang lebih optimal.

C. Siklus II

Pelaksanaan siklus II tidak jauh berbeda dengan siklus I, yaitu dilakukan dalam dua kali pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Kamis, 12 Juni 2025 dan pertemuan kedua pada hari Jumat, 13 Juni 2025. Pada siklus ini, peneliti melakukan perbaikan berdasarkan hasil refleksi pada siklus I dengan tujuan meningkatkan minat membaca anak melalui buku cerita bergambar.

Sebelum pelaksanaan tindakan, peneliti terlebih dahulu menyusun RPPH sebagai pedoman pembelajaran, menyiapkan buku cerita bergambar yang lebih menarik dan variatif, bekerja sama dengan guru kelas selama proses pembelajaran, serta mendokumentasikan seluruh kegiatan.

Pertemuan Pertama Siklus II

Pada pertemuan pertama, peneliti mempersiapkan sudut baca yang lebih menarik dengan menata buku cerita bergambar di beberapa titik kelas. Kegiatan diawali dengan pembukaan seperti biasa, yaitu berdoa, menanyakan kabar anak, serta menyampaikan kegiatan yang akan dilakukan. Untuk meningkatkan semangat dan fokus anak, peneliti mengajak peserta didik bernyanyi lagu A–Z sebelum kegiatan inti dimulai. Setelah itu, anak-anak dibagi menjadi 5 kelompok dan diminta menuju sudut baca yang telah disiapkan. Setiap kelompok membaca dan mengamati buku cerita bergambar bersama teman kelompoknya.

Selanjutnya, setiap anak diminta menceritakan kembali isi cerita berdasarkan gambar yang diamati. Untuk memperkuat pengalaman belajar, anak juga diminta menirukan bentuk huruf awal dari nama benda yang terdapat pada cerita dengan cara mentracing huruf menggunakan pensil pada kertas yang telah disediakan. Kegiatan ini terbukti membuat anak lebih fokus, antusias, dan mudah mengingat huruf maupun kata sederhana yang terdapat dalam cerita.

Pertemuan Kedua Siklus II

Pada pertemuan kedua, peneliti kembali melakukan pendampingan penuh dari kegiatan pembuka hingga penutup. Anak berbaris di depan sekolah, kemudian masuk kelas dan melaksanakan doa sebelum belajar. Peneliti menyampaikan kegiatan hari itu dan memperlihatkan kembali buku cerita bergambar.

Untuk menciptakan suasana yang menyenangkan, anak-anak diminta untuk menyanyikan lagu A-Z. Latihan membaca kemudian menjadi lebih partisipatif. Anak-anak diminta untuk memilih buku favorit mereka, melihat ilustrasi, mengidentifikasi huruf pertama, dan mencoba menceritakan kembali kisah tersebut dengan cara yang mudah dipahami.

Secara keseluruhan, proses pembelajaran Siklus II lebih baik, dan anak-anak tampak lebih percaya diri, terlibat, dan tertarik pada buku bergambar.

Tabel 4. Hasil observasi pada tahap siklus II

Tabel 5. Tabel rekapitulasi hasil siklus II

Pada siklus II, ketuntasan klasikal mencapai 75%, di mana 15 dari 20 siswa telah mencapai kriteria ketuntasan yang telah ditetapkan (≥ 75%). Capaian ini menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan siklus sebelumnya, baik dari segi hasil belajar maupun keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Peningkatan tersebut tidak terlepas dari penerapan media buku cerita bergambar yang mampu menarik perhatian siswa secara lebih optimal [21]. Melalui penggunaan buku cerita bergambar, minat baca siswa mengalami perkembangan yang cukup baik. Hal ini terlihat dari meningkatnya antusiasme siswa saat kegiatan membaca berlangsung, seperti keaktifan dalam memperhatikan gambar, keberanian untuk menceritakan kembali isi cerita, serta kemampuan menghubungkan gambar dengan teks sederhana.

Visualisasi yang menarik dalam buku cerita bergambar membantu siswa memahami isi bacaan dengan lebih mudah, sehingga proses membaca tidak lagi dianggap sebagai aktivitas yang membosankan, melainkan menjadi kegiatan yang menyenangkan. Selain itu, buku cerita bergambar juga memberikan stimulus kognitif dan afektif secara bersamaan. Dari sisi kognitif, siswa lebih mudah mengenali kata, memahami alur cerita, dan mengembangkan kosakata. Sementara dari sisi afektif, muncul rasa senang, ketertarikan, dan motivasi untuk terus membaca. Dengan demikian, peningkatan ketuntasan belajar pada siklus II tidak hanya dipengaruhi oleh aspek akademik semata, tetapi juga didukung oleh meningkatnya minat baca siswa melalui pemanfaatan media buku cerita bergambar secara efektif dalam pembelajaran.

Dibandingkan dengan tingkat membaca pra-siklus sebesar 0% dan tingkat membaca siklus pertama hanya 25%, hasil ini menunjukkan peningkatan yang signifikan. Peningkatan ini menunjukkan bahwa anak-anak berusia 4 hingga 5 tahun lebih tertarik membaca ketika menggunakan buku cerita bergambar.

Siswa tampak lebih terlibat dan antusias dalam kegiatan membaca selama siklus kedua. Selama kegiatan tersebut, anak-anak mulai menunjukkan rentang perhatian yang lebih panjang, lebih nyaman menyebutkan huruf atau kata-kata sederhana dalam gambar, dan dapat menceritakan kembali cerita secara singkat. Anak-anak merasa lebih nyaman dan terinspirasi untuk berpartisipasi dalam kegiatan membaca sebagai hasil dari lingkungan belajar yang menjadi lebih interaktif dan suportif.

Keberhasilan ini tidak terlepas dari perbaikan strategi pembelajaran berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, seperti penggunaan buku cerita yang lebih variatif, penguatan kegiatan bernyanyi untuk membangun semangat, serta pemberian kesempatan kepada anak untuk terlibat secara langsung melalui aktivitas yang menyenangkan. Pendekatan yang lebih interaktif dan partisipatif tersebut terbukti mampu meningkatkan ketertarikan anak terhadap kegiatan literasi.

Dengan tercapainya ketuntasan klasikal sebesar 75%, indikator keberhasilan penelitian telah terpenuhi. Oleh karena itu, tindakan pada penelitian ini dinyatakan berhasil dan tidak perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan buku cerita bergambar efektif sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan minat membaca anak usia 4–5 tahun di TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal Pamekasan.

I V. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan dalam dua siklus, dapat disimpulkan bahwa penggunaan buku cerita bergambar efektif dalam meningkatkan minat membaca anak usia 4–5 tahun di TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal Pamekasan.

Pada tahap pra siklus, minat membaca anak masih tergolong rendah dengan ketuntasan klasikal sebesar 0%. Anak belum menunjukkan perhatian, ketertarikan, maupun partisipasi aktif dalam kegiatan membaca. Pada siklus I, setelah diterapkan pembelajaran menggunakan buku cerita bergambar, terjadi peningkatan ketuntasan klasikal menjadi 25%. Meskipun sudah menunjukkan perkembangan, hasil tersebut belum memenuhi indikator keberhasilan yang ditetapkan.

Perbaikan pembelajaran pada siklus II, seperti penggunaan buku yang lebih variatif, kegiatan yang lebih interaktif, serta pelibatan aktif peserta didik dalam menceritakan kembali isi cerita, memberikan dampak yang lebih optimal. Ketuntasan klasikal pada siklus II mencapai 75%, di mana 15 dari 20 siswa telah memenuhi kriteria ketuntasan. Hal ini menunjukkan bahwa indikator keberhasilan penelitian telah tercapai.

Ucapan Terima Kasih

Pada kesempatan ini, peneliti ingin menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam penyusunan penelitian ini. Ucapan terima kasih secara khusus peneliti sampaikan kepada dosen pembimbing yang dengan penuh kesabaran telah memberikan bimbingan, arahan, serta saran konstruktif selama proses penelitian berlangsung. Penghargaan yang tulus juga peneliti sampaikan kepada pihak TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal Pamekasan yang telah memberikan kesempatan serta fasilitas bagi peneliti untuk melaksanakan kegiatan penelitian mulai dari tahap awal hingga akhir pengumpulan data.

Peneliti juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada kedua orang tua dan keluarga atas doa, motivasi, serta dukungan moril dan materil yang tiada henti selama menempuh pendidikan. Tidak lupa, ucapan terima kasih ditujukan kepada rekan-rekan seperjuangan yang senantiasa memberikan dorongan, ide, serta masukan berharga selama proses studi di lingkungan kampus tercinta. Semua bentuk bantuan, perhatian, dan dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam terselesaikannya penelitian ini.

References

Junita Sinamo and Julita Herawati P, “Meningkatkan minat baca anak usia dini menggunakan buku cerita bergambar,” Pediaqu: Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora, p. 11484, 2023.

A. Susanto, Pendidikan Anak Usia Dini: Konsep dan Teori. Jakarta, Indonesia: PT. Bumi Aksara, 2017.

W. Safitri et al., Menilik Lebih Dalam Pendidikan Anak Usia Dini, Peran Orang Tua, Guru dan Institusi. Yogyakarta, Indonesia: PT. Kanisius, 2022.

N. Faraz et al., “Human tendencies pada anak usia 0–6 tahun dengan metode Montessori: Studi literatur,” Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, vol. 9, no. 2, p. 7896, 2024.

S. Maghfiroh and D. Suryana, “Media pembelajaran untuk anak usia dini di pendidikan anak usia dini,” Jurnal Pendidikan Tambusai, vol. 5, no. 1, p. 1560, 2021.

G. Z. Shofa, S. Nurlaila, and C. Atikah, “Inovasi dan permasalahan pendidikan (kualifikasi guru belum optimal),” Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini, p. 121, 2023.

W. Firman and L. O. Anhusadar, “Peran guru dalam menstimulasi kemampuan kognitif anak usia dini,” KIDDO: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, vol. 3, no. 2, p. 28, 2022.

A. M. Firdaus et al., “Strategi pembelajaran berdiferensiasi untuk mengatasi keberagaman tingkat ketanggapan siswa-siswi di UPT SDN 25 Gresik,” Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD FKIP Universitas Mandiri, vol. 8, no. 2, p. 2136, 2022.

F. A. Mawaddah et al., “Peran orangtua dalam mendukung proses pembelajaran anak dengan kesulitan belajar,” Psikoanalitika: Jurnal Kajian dan Penelitian Psikologi, vol. 2, no. 1, 2025.

K. Husna et al., “Eksplorasi peran guru dalam pemilihan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa,” Realisasi: Ilmu Pendidikan, Seni Rupa dan Desain, vol. 2, no. 3, p. 110, 2025.

A. P. Nirmala and R. Hartono, “Keterlibatan orangtua dalam menstimulasi perkembangan bahasa anak usia dini di Kabupaten Batang,” Jurnal PSIMAWA: Diskursus Ilmu Psikologi & Pendidikan, vol. 6, no. 1, p. 33, 2023.

N. D. Simatupang et al., “Pengembangan buku cerita Big Book kalender meja dalam meningkatkan kemampuan literasi anak usia dini,” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 7, no. 1, p. 1131, 2023.

Z. A. Tristanti and A. Hikmat, “Pengembangan media buku cerita bergambar terhadap minat membaca siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia,” Jurnal Basicedu, vol. 5, no. 6, pp. 6022–6023, 2021.

A. T. Hasibuan et al., “Pengaruh buku cerita bergambar dalam meningkatkan minat membaca siswa di Desa Silokidir,” Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN), p. 4111, 2024.

Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta, Indonesia: PT. Rajawali, 2010.

M. Rustam, Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta, Indonesia: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Keguruan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, 2004.

F. R. Viantika et al., Metodologi Penelitian Kualitatif. Padang, Indonesia: PT. Global Eksekutif Teknologi, 2022.

Nurbaeti, A. Mayasari, and O. Arifudin, “Penerapan metode bercerita dalam meningkatkan literasi anak terhadap mata pelajaran Bahasa Indonesia,” Jurnal Tahsinia, vol. 3, no. 2, p. 101, 2022.

Mu'allim, Penelitian Tindakan Kelas: Teori dan Praktik. Pasuruan, Indonesia: Ganding Pustaka, 2014.

Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2013.