Deta Rahmad Agni (1), Ahmad Nurefendi Fradana (2)
General Background: Reading literacy serves as a crucial foundation in elementary education, encompassing the comprehension, processing, and logical presentation of ideas. Specific Background: The advanced skill of summarizing requires students to filter irrelevant information and reconstruct core concepts using their own language, yet many students struggle with this and merely copy original texts. Knowledge Gap: While prior research extensively explores digital media for reading motivation and general engagement, few studies specifically investigate how interactive multimedia features directly support the complex cognitive skill of text summarization. Aims: This study investigates the application of interactive electronic books on elementary students' summarization abilities and identifies the most supportive interactive features within the media. Results: Employing a one-group pretest-posttest design with 20 fifth-grade students, the quantitative analysis revealed a significant mean score increase from 60.60 to 73.85. Features such as visual illustrations, prompting questions, comprehension exercises, and immediate feedback played vital roles in helping students identify main ideas before writing. Novelty: The research demonstrates that interactive digital elements extend beyond passive engagement by actively guiding the cognitive organization required for advanced literacy tasks. Implications: Integrating these interactive digital tools into elementary curricula provides a highly relevant pedagogical strategy for building critical reading competencies when accompanied by appropriate teacher facilitation.
Digital multimedia features successfully guide learners in identifying main ideas and filtering irrelevant information.
Prompting questions and visual illustrations actively develop critical thinking for advanced cognitive tasks.
Guided digital instruction significantly raises student test scores in text comprehension and reconstruction.
Keywords: Digital Literacy, Multimedia Learning, Cognitive Development, Text Comprehension, Instructional Technology
Kemampuan literasi membaca merupakan salah satu fondasi terpenting dalam pendidikan dasar. Literasi tidak sekadar dipahami sebagai kemampuan mengenali huruf atau kata, melainkan mencakup keterampilan memahami isi bacaan, mengolah informasi, dan menyajikan kembali ide pokok secara runtut. Salah satu keterampilan lanjutan yang berkaitan erat dengan literasi membaca adalah membuat ringkasan. Ringkasan menuntut siswa untuk mampu memilah gagasan utama, menyaring informasi yang tidak relevan, serta merangkainya kembali dalam bentuk teks yang singkat dan logis. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak siswa sekolah dasar yang mengalami kesulitan dalam menyusun ringkasan. Alih-alih mengekspresikan kembali isi bacaan dengan bahasa sendiri, sebagian besar siswa hanya menyalin teks secara langsung sehingga ringkasan yang dihasilkan kehilangan esensi bacaan [1]. Fenomena ini menandakan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa belum berkembang optimal dan memperlihatkan perlunya inovasi dalam strategi pembelajaran.
Tantangan rendahnya keterampilan literasi di Indonesia juga tergambar dalam survei internasional Programme for International Student Assessment (PISA), di mana Indonesia menempati posisi bawah dalam aspek membaca dan memahami teks yaitu peringkat 74 dari 79 negara [2]. Kondisi ini tentu mengkhawatirkan karena literasi sejatinya bukan hanya keterampilan berbahasa, tetapi juga kapasitas kognitif yang mendukung siswa memahami berbagai mata pelajaran. Apabila keterampilan literasi tidak diperkuat sejak jenjang sekolah dasar, maka pemahaman siswa pada pelajaran lain juga berpotensi terhambat. Oleh karena itu, keterampilan meringkas memiliki posisi yang sangat strategis: selain melatih siswa memahami inti bacaan, keterampilan ini juga mendidik mereka untuk berpikir sistematis, kritis, serta mampu menyampaikan kembali gagasan dengan jelas [3]. Dengan demikian, pembelajaran literasi yang diarahkan pada kemampuan meringkas dapat menjadi salah satu kunci peningkatan kualitas belajar siswa di sekolah dasar.
Upaya meningkatkan keterampilan literasi, khususnya dalam membuat ringkasan, tidak terlepas dari pemilihan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa. Media pembelajaran tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, melainkan juga sebagai fasilitator yang membantu siswa mengolah bacaan agar lebih mudah dipahami [4]. Seiring perkembangan teknologi, salah satu media yang relevan dan potensial adalah e-book interaktif. Berbeda dengan buku cetak, e-book interaktif menyajikan teks dengan tambahan fitur multimedia seperti audio, video, animasi, tautan, hingga kuis interaktif. Kehadiran fitur-fitur tersebut diyakini dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa dalam membaca, mempermudah mereka menemukan gagasan pokok, serta membantu menyusun ringkasan yang runtut [5]. Oleh karena itu, pemanfaatan e-book interaktif berpeluang besar menjadi solusi atas permasalahan rendahnya kemampuan meringkas bacaan di sekolah dasar.
Sejumlah penelitian terdahulu mendukung penggunaan media digital dalam pembelajaran literasi. Hanikah et al. melaporkan bahwa penerapan e-book interaktif dapat meningkatkan keterlibatan belajar siswa sekolah dasar [6]. Rosyid menegaskan perlunya penguatan literasi membaca melalui pemanfaatan teknologi digital [7]. Studi internasional menemukan bahwa e-book dengan model choose your own adventure mampu memperkaya kosakata sekaligus meningkatkan kemampuan siswa menyusun ulang informasi [8]. Temuan sejalan ditunjukkan Djefri, yang menyoroti bahwa e-book berbasis storytelling mendorong keterlibatan emosional siswa sehingga mereka lebih terdorong untuk membaca sekaligus membuat ringkasan [9]. Sementara itu, Kandukoori menunjukkan bahwa media digital lebih efektif dibanding metode konvensional dalam meningkatkan hasil belajar [10]. Munir juga membuktikan bahwa e-book interaktif mampu menumbuhkan keterampilan berpikir kritis siswa [11], dan Rahayu menekankan pentingnya literasi digital di sekolah dasar, terutama pasca pandemi, di mana media interaktif menjadi sarana yang relevan [12]. Prabowo menambahkan bahwa e-book multimedia interaktif berkontribusi nyata dalam peningkatan keterampilan membaca siswa sekolah dasar [13].
Kendati penelitian-penelitian tersebut menunjukkan hasil positif, sebagian besar masih berfokus pada aspek motivasi membaca, minat, atau pemahaman umum, dan belum banyak yang menyoroti keterampilan meringkas secara spesifik. Padahal, kemampuan merangkum merupakan keterampilan tingkat lanjut yang mencerminkan pemahaman mendalam terhadap teks. Dengan kata lain, masih terdapat kesenjangan penelitian (research gap), yaitu sejauh mana pemanfaatan fitur interaktif dalam e-book dapat berkontribusi langsung terhadap keterampilan kognitif siswa dalam menyusun ringkasan bacaan [14]. Mengisi gap inilah yang menjadi arah dari penelitian ini.
Urgensi penelitian semakin terasa apabila dikaitkan dengan tuntutan pendidikan abad ke-21. Siswa sekolah dasar hidup di era digital yang menuntut keterampilan literasi lebih kompleks, termasuk membaca kritis, analisis informasi, dan kemampuan menyusun ringkasan. UNESCO menekankan pentingnya kontrak sosial baru dalam pendidikan yang menempatkan literasi digital sebagai kompetensi utama [15]. Dalam konteks nasional, kebijakan Kurikulum Merdeka memberikan ruang luas bagi guru untuk berinovasi dengan media digital, termasuk e-book interaktif [16]. Penelitian Sihotang dan Harahap juga menunjukkan bahwa integrasi kurikulum merdeka dengan media digital mendorong terciptanya inovasi pembelajaran yang lebih bermakna [17], sementara Dishinta et al. menegaskan bahwa media berbasis augmented reality dan e-book dapat meningkatkan capaian belajar siswa [18]. Dengan demikian, e-book interaktif tidak hanya relevan secara pedagogis, tetapi juga selaras dengan arah kebijakan pendidikan nasional.
Penelitian ini diharapkan memperkaya literatur tentang literasi digital, khususnya pada aspek keterampilan meringkas bacaan yang masih jarang dikaji. Sementara itu, manfaat praktisnya adalah membantu guru dalam merancang strategi pembelajaran berbasis teknologi yang lebih inovatif, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan siswa [19]. Penelitian ini juga dapat menjadi rujukan bagi pengembang media pendidikan dalam merancang e-book interaktif yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mendukung penguasaan keterampilan literasi tingkat lanjut. Berdasarkan fokus tersebut, penelitian ini diarahkan untuk menelaah sejauh mana pemanfaatan e-book interaktif dapat memengaruhi kemampuan siswa sekolah dasar dalam menyusun ringkasan bacaan, serta mengidentifikasi fitur-fitur interaktif yang paling mendukung proses tersebut.
Berdasarkan uraian tersebut, pertanyaan penelitian yang diajukan adalah: bagaimana pemanfaatan e-book interaktif berpengaruh terhadap kemampuan siswa sekolah dasar dalam membuat ringkasan bacaan, dan fitur interaktif apa saja yang paling efektif dalam membantu siswa menyusun ringkasan? Jawaban dari pertanyaan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas pembelajaran literasi serta memperkaya literatur mengenai integrasi teknologi digital dalam pendidikan dasar [20].
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen, yaitu One-Group Pretest–Posttest Design. Pendekatan kuantitatif ini selaras dengan konsep yang dijelaskan oleh Sugiyono, bahwa penelitian kuantitatif berlandaskan pada filsafat positivisme yang menekankan pada objektivitas, pengukuran data numerik, serta penggunaan analisis statistik untuk menguji hipotesis secara sistematis [21]. Desain ini memungkinkan peneliti untuk melihat perubahan kemampuan peserta didik secara terukur melalui perbandingan skor sebelum dan sesudah perlakuan. Hal tersebut sejalan dengan model eksperimen dasar yang dikemukakan oleh Anne Anastasi, yang menegaskan bahwa desain pretest–posttest dapat digunakan untuk mendeteksi efek perlakuan meskipun tidak melibatkan kelompok kontrol [22]. Pendekatan ini juga telah banyak diterapkan dalam penelitian pendidikan, khususnya ketika tujuan penelitian adalah mengidentifikasi peningkatan kemampuan belajar setelah intervensi tertentu, dalam hal ini penggunaan e-book interaktif untuk meningkatkan keterampilan merangkum bacaan.
Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SDN Kedungrawan 2. Karena jumlah populasi relatif kecil dan homogen dalam konteks karakteristik pembelajaran, teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampling jenuh, yaitu seluruh anggota populasi dijadikan sampel penelitian. Teknik ini sesuai dengan definisi sampling jenuh menurut Sugiyono. Penggunaan sampling jenuh dalam penelitian ini juga dipertimbangkan agar hasil analisis dapat merepresentasikan kondisi seluruh kelas secara akurat, sekaligus meminimalkan potensi bias akibat pemilihan sampel.
Desain penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:
O₁ X O₂
Keterangan:
O₁ = pretest (sebelum perlakuan)
X = perlakuan (pembelajaran menggunakan e-book interaktif)
O₂ = posttest (setelah perlakuan)
Instrumen penelitian berupa tes kemampuan membuat ringkasan bacaan yang diberikan pada tahap pretest dan posttest. Penyusunan instrumen ini mengikuti prinsip validitas dan reliabilitas sebagaimana dijelaskan oleh Anne Anastasi, bahwa instrumen harus melalui uji validitas ahli agar benar-benar mengukur kemampuan yang dituju. Rubrik penilaian juga disusun berdasarkan indikator keterampilan merangkum sesuai teori evaluasi pendidikan dari Robert L. Linn.
Rubrik penilaian kemampuan membuat ringkasan bacaan memuat beberapa indikator, yaitu ketepatan menentukan gagasan pokok, kelengkapan informasi penting, keringkasan isi, penggunaan bahasa sendiri, keterpaduan antarkalimat, serta ketepatan ejaan dan tanda baca. Setiap indikator diberi skor sesuai tingkat ketercapaian siswa, kemudian skor akhir digunakan sebagai dasar perbandingan antara hasil pretest dan posttest.
Perlakuan diberikan melalui pembelajaran membaca menggunakan e-book interaktif. Pada tahap ini siswa membaca teks melalui e-book, mengamati elemen visual atau multimedia yang tersedia, menjawab pertanyaan pemantik, serta berlatih menyusun ringkasan berdasarkan gagasan utama bacaan. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa agar tidak sekadar menyalin isi teks, tetapi mampu menulis kembali informasi penting dengan bahasa sendiri.
Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk memberikan gambaran nilai peserta didik sebelum dan sesudah perlakuan. Selanjutnya dilakukan analisis inferensial melalui uji normalitas untuk memastikan data memenuhi asumsi distribusi normal sebagaimana prosedur yang dijelaskan oleh Creswell [23]. Untuk mengetahui perbedaan skor pretest dan posttest digunakan Paired Sample t-Test, yang merupakan teknik analisis yang sesuai dalam penelitian eksperimen menurut Jacob Cohen [24].
Hasil penelitian ini disusun berdasarkan data kemampuan siswa kelas V SDN Kedungrawan 2 dalam membuat ringkasan bacaan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran menggunakan e-book interaktif. Pengukuran awal dilakukan melalui pretest untuk mengetahui kemampuan dasar siswa dalam memahami isi bacaan, menentukan gagasan pokok, memilih informasi penting, serta menyusun kembali isi bacaan dengan bahasa sendiri. Setelah proses belajar selesai, dilakukan pengujian akhir berupa posttest dengan tujuan untuk mengetahui perubahan kemampuan siswa setelah menerima perlakuan tersebut.
Di tahap pretest, siswa diberi tugas untuk membaca teks yang sudah disiapkan, lalu mereka dituliskan ringkasan berdasarkan pemahaman masing-masing. Penilaian terhadap jawaban siswa dilakukan dengan menggunakan rubrik yang mencakup beberapa indikator utama, seperti kemampuan menentukan gagasan utama secara tepat, kelengkapan informasi yang penting, kemampuan merangkum isi materi, penggunaan bahasa sendiri, keterpaduan antar kalimat, serta keakuratan dalam ejaan dan penggunaan tanda baca. Melalui rubrik tersebut, penilaian tidak hanya mengevaluasi panjang atau pendeknya ringkasan, tetapi juga melihat sejauh mana siswa memahami isi bacaan.
Setelah ujian pra dilakukan, siswa menjalani pembelajaran dengan menggunakan buku elektronik yang interaktif. Di tahap ini, siswa tidak hanya membaca teks sendiri, tetapi juga diberi panduan untuk memperhatikan elemen visual, pertanyaan pengingat, latihan pemahaman, dan bagian interaktif yang ada dalam e-book. Aktivitas tersebut dirancang agar siswa lebih mudah menemukan ide pokok dan membedakan informasi utama dengan informasi pendukung. Dengan demikian, e-book interaktif digunakan sebagai media yang membantu siswa membangun pemahaman sebelum mereka menyusun ringkasan.
Posttest diberikan setelah seluruh rangkaian pembelajaran menggunakan e-book interaktif selesai dilakukan. Bentuk tes pada posttest disesuaikan dengan indikator yang sama seperti pretest agar perbandingan kemampuan siswa dapat dilakukan secara lebih objektif. Hasil posttest dibandingkan dengan hasil pretest agar mengetahui perubahan kemampuan siswa dalam membuat ringkasan dari bacaan. Perbandingan itu digunakan untuk mengetahui apakah kemampuan siswa meningkat setelah mereka belajar dengan menggunakan e-book interaktif.
Untuk memudahkan pembaca memahami hasil penelitian, sebaiknya data skor disajikan terlebih dahulu berdasarkan indikator kemampuan membuat ringkasan. Penyajian berdasarkan indikator penting dilakukan karena keterampilan meringkas tidak hanya tentang kemampuan menulis dengan kata-kata yang singkat, tetapi juga melibatkan kemampuan memahami isi teks, memilih informasi yang relevan, serta mengatur ide-ide secara berurutan dan jelas. Tabel berikut disediakan sebagai tempat pengisian hasil penilaian berdasarkan rubrik yang telah digunakan dalam penelitian.
Tabel 1. Hasil Penilaian Kemampuan Membuat Ringkasan Berdasarkan Indikator
Berdasarkan tabel tersebut, hasil penelitian dapat dibaca melalui perubahan skor pada setiap indikator. Apabila skor posttest pada sebagian besar indikator lebih tinggi daripada skor pretest, maka hal tersebut menunjukkan adanya perkembangan kemampuan siswa setelah menggunakan e-book interaktif. Sebaliknya, apabila masih terdapat indikator yang belum meningkat secara optimal, bagian tersebut dapat menjadi perhatian guru dalam merancang tindak lanjut pembelajaran, misalnya dengan memberikan latihan tambahan dalam menemukan gagasan pokok atau menyusun kalimat ringkasan yang lebih runtut.
Selain dianalisis berdasarkan indikator, data penelitian juga perlu disajikan dalam bentuk statistik deskriptif. Statistik deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran umum mengenai jumlah siswa, nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata, dan standar deviasi. Melalui penyajian ini, peneliti dapat melihat kecenderungan umum kemampuan siswa sebelum dan sesudah perlakuan tanpa langsung menarik kesimpulan mengenai signifikansi perbedaan.
Tabel 2. Statistik Deskriptif Hasil Pretest dan Posttest
Setelah statistik deskriptif diperoleh, tahap berikutnya adalah melakukan uji normalitas. Uji normalitas diperlukan karena penelitian ini menggunakan analisis parametrik berupa Paired Sample t-Test. Data dinyatakan memenuhi asumsi normalitas apabila nilai signifikansi lebih besar dari 0,05. Apabila data telah berdistribusi normal, analisis dapat dilanjutkan pada uji perbedaan antara pretest dan posttest.
Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Data Pretest dan Posttest
Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan siswa sebelum dan sesudah pembelajaran menggunakan e-book interaktif. Teknik analisis yang digunakan adalah Paired Sample t-Test karena data yang dibandingkan berasal dari kelompok siswa yang sama, tetapi diukur pada dua waktu yang berbeda. Hasil pengujian hipotesis dapat disajikan pada tabel berikut.
Tabel 4. Hasil Paired Sample t-Test
Kriteria pengambilan keputusan dalam uji Paired Sample t-Test adalah apabila nilai Sig. (2-tailed) lebih kecil dari 0,05, maka H0 ditolak dan Ha diterima. Artinya, terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan membuat ringkasan bacaan sebelum dan sesudah penggunaan e-book interaktif. Namun apabila nilai Sig. (2-tailed) lebih besar dari 0,05, maka H0 diterima dan Ha ditolak, sehingga perbedaan skor pretest dan posttest tidak dapat dinyatakan signifikan secara statistik.
Dengan demikian, bagian hasil penelitian ini menempatkan data pretest, posttest, uji normalitas, dan uji hipotesis sebagai dasar utama dalam menjawab pertanyaan penelitian. Data tersebut tidak hanya menunjukkan perubahan nilai, tetapi juga menjadi landasan untuk menafsirkan bagaimana penggunaan e-book interaktif berhubungan dengan kemampuan siswa dalam memahami bacaan dan menyusun ringkasan. Penafsiran terhadap data tersebut kemudian diuraikan lebih lanjut pada bagian pembahasan.
Pembelajaran menggunakan e-book interaktif memberikan pengalaman belajar yang berbeda dibandingkan pembelajaran membaca dengan bahan ajar cetak biasa. Dalam pembelajaran konvensional, siswa umumnya berhadapan dengan teks yang statis, sehingga pemahaman sangat bergantung pada kemampuan membaca mandiri dan penjelasan guru. Sementara itu, e-book interaktif menyajikan bacaan dengan dukungan elemen tambahan seperti gambar, audio, video, animasi sederhana, pertanyaan pemantik, dan latihan pemahaman. Kehadiran elemen tersebut membuat kegiatan membaca menjadi lebih hidup dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memahami teks melalui lebih dari satu cara.
Kemampuan membuat ringkasan pada dasarnya merupakan keterampilan yang kompleks. Siswa tidak cukup hanya membaca teks, tetapi juga perlu memahami isi bacaan, menemukan gagasan utama, membedakan informasi pokok dan informasi tambahan, kemudian menyusun kembali isi bacaan secara singkat dengan bahasa sendiri. Kesulitan yang sering dialami oleh siswa sekolah dasar adalah mereka cenderung menyalin kalimat langsung dari teks asli tanpa memilih informasi yang relevan. Dalam situasi ini, e-book interaktif bisa menjadi sarana yang membantu siswa tidak hanya membaca, tetapi juga berpikir mengenai materi yang dibaca.
Fitur visual pada e-book interaktif membantu para siswa dalam memahami secara awal apa yang akan dibahas dalam teks tersebut. Gambar atau ilustrasi yang sesuai bisa membantu menjelaskan isi bacaan, sehingga siswa lebih mudah memahami peristiwa, tokoh, tempat, atau informasi penting yang ada dalam teks. Untuk siswa SD, bantuan visual seperti ini sangat penting karena mereka masih dalam tahap tumbuh yang membutuhkan contoh nyata. Saat siswa memahami isi pembacaan dengan lebih jelas, mereka akan lebih gampang memilih bagian-bagian yang penting untuk dimasukkan ke dalam ringkasan.
Selain desain visualnya, pertanyaan yang ada dalam e-book juga berperan penting. Pertanyaan pembuka bisa membantu siswa fokus pada informasi penting dalam teks yang dibaca. Misalnya, siswa dapat diarahkan untuk menjawab pertanyaan tentang siapa tokoh utama, apa peristiwa penting yang terjadi, mengapa suatu peristiwa terjadi, dan bagaimana urutan gagasan dalam bacaan. Dengan menjawab pertanyaan seperti itu, siswa secara tidak langsung dilatih untuk menemukan inti bacaan sebelum menyusun ringkasan. Proses ini membantu siswa menghindari ringkasan yang terlalu panjang atau hanya berupa salinan dari teks asli.
Latihan interaktif dan umpan balik juga menjadi bagian penting dalam pembelajaran. Ketika siswa mengerjakan latihan setelah membaca, mereka dapat mengetahui sejauh mana pemahaman mereka terhadap isi teks. Umpan balik yang diberikan melalui e-book maupun melalui arahan guru membantu siswa memperbaiki kesalahan pemahaman sejak awal. Hal ini berpengaruh terhadap kualitas ringkasan karena ringkasan yang baik selalu berangkat dari pemahaman yang benar terhadap teks. Apabila pemahaman siswa terhadap bacaan masih keliru, maka ringkasan yang dihasilkan juga berpotensi tidak sesuai dengan isi teks.
Penggunaan e-book interaktif juga dapat meningkatkan keterlibatan siswa selama proses pembelajaran. Tampilan yang menarik, adanya aktivitas yang dapat diklik, serta penyajian informasi yang bervariasi membuat siswa lebih terdorong untuk mengikuti pembelajaran. Keterlibatan ini penting karena kemampuan meringkas tidak dapat dibangun melalui kegiatan membaca yang pasif. Siswa harus ikut aktif, seperti membaca, menjawab soal, berbicara tentang materi, dan menulis ulang ide-ide yang sudah dipahami. Semakin sering siswa terlibat dalam belajar, semakin tinggi kemungkinan mereka memahami teks dengan lebih baik.
Jika hasil posttest meningkat dibandingkan pretest, maka kenaikan tersebut bisa dianggap sebagai hasil dari pembelajaran yang lebih terarah. E-book interaktif tidak hanya menampilkan teks yang dibaca, tetapi juga memberi bantuan bertahap kepada siswa agar mereka bisa memahami isi teks tersebut. Bantuan tersebut terlihat dari penyajian materi yang menarik, petunjuk membaca, latihan pemahaman, dan kesempatan bagi siswa untuk mengevaluasi pemahamannya. Dengan cara ini, siswa tidak langsung diminta menulis ringkasan, tetapi terlebih dahulu diarahkan untuk mengenali unsur-unsur penting dalam bacaan.
Pembahasan ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa media digital dan e-book interaktif dapat meningkatkan keterlibatan belajar siswa sekolah dasar . Temuan lain juga menunjukkan bahwa e-book yang dirancang secara interaktif dapat memperkaya pemahaman siswa terhadap teks dan membantu mereka menyusun ulang informasi . Dalam penelitian ini, e-book interaktif ditempatkan sebagai media yang tidak hanya menarik perhatian siswa, tetapi juga mendukung proses kognitif yang diperlukan dalam kegiatan meringkas, yaitu memilih, mengorganisasi, dan menyajikan kembali informasi.
Keterampilan meringkas juga berkaitan erat dengan kemampuan berpikir kritis. Ketika siswa membuat ringkasan, mereka harus menentukan informasi mana yang paling penting dan informasi mana yang dapat dihilangkan. Proses tersebut menuntut kemampuan menilai, membandingkan, serta menyusun prioritas informasi. Oleh karena itu, penggunaan e-book interaktif yang mendorong siswa untuk menjawab pertanyaan, memilih jawaban, dan menerima umpan balik dapat membantu melatih keterampilan berpikir kritis sebagaimana dijelaskan dalam penelitian yang menekankan hubungan antara media interaktif dan peningkatan keterampilan berpikir siswa.
Meskipun e-book interaktif memiliki banyak kelebihan, peran guru tetap menjadi faktor yang sangat penting. Guru perlu memastikan bahwa siswa tidak hanya tertarik pada tampilan media, tetapi juga benar-benar memahami isi bacaan. Guru juga perlu memberikan contoh cara menemukan gagasan pokok, menunjukkan perbedaan antara informasi utama dan informasi tambahan, serta membimbing siswa agar menggunakan bahasa sendiri dalam menyusun ringkasan. Tanpa pendampingan guru, penggunaan e-book interaktif dapat berubah menjadi aktivitas teknis yang menarik, tetapi belum tentu menghasilkan pemahaman yang mendalam.
Dari sisi pembelajaran literasi, penggunaan e-book interaktif sangat mendukung pendidikan di abad ke-21. Sebab, pendidikan sekarang menekankan kemampuan membaca kritis, literasi digital, kreativitas, dan komunikasi. Siswa tidak hanya dilatih untuk membaca teks, tapi juga untuk menggunakan media digital dengan produktif. Tujuannya adalah agar siswa bisa memahami informasi dengan lebih baik.
Pembelajaran seperti ini sejalan dengan Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini memberikan keleluasaan kepada guru untuk memilih media dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa. Dengan begitu, e-book interaktif bisa menjadi salah satu pilihan media literasi yang relevan dengan kebutuhan pembelajaran saat ini.
Namun, hasil penelitian ini harus diinterpretasikan dengan hati-hati. Desain penelitian yang digunakan adalah One-Group Pretest-Posttest Design. Jadi, perlu pertimbangan yang proporsional dalam memahami hasilnya. Desain ini dapat menunjukkan adanya perubahan kemampuan sebelum dan sesudah perlakuan, tetapi belum dapat sepenuhnya memastikan bahwa perubahan tersebut hanya disebabkan oleh penggunaan e-book interaktif. Faktor lain seperti motivasi belajar, kemampuan awal siswa, kebiasaan membaca di rumah, dan intensitas bimbingan guru juga dapat memengaruhi hasil belajar. Oleh karena itu, penelitian berikutnya dapat melibatkan kelompok kontrol agar efektivitas e-book interaktif dapat dibandingkan dengan media pembelajaran lain secara lebih kuat.
Pembelajaran menggunakan e-book interaktif sangatlah bermanfaat bagi siswa sekolah dasar. E-book interaktif ini dapat membantu mereka meningkatkan kemampuan membuat ringkasan bacaan dengan lebih baik. Hal ini dikarenakan e-book interaktif mampu menggabungkan teks, gambar, latihan, dan umpan balik dalam satu media pembelajaran yang menarik. Jika dirancang dengan tepat dan didukung oleh pendampingan guru yang baik, e-book interaktif dapat menjadi alat pembelajaran yang sangat efektif. Dengan demikian, e-book interaktif tidak hanya menarik, tetapi juga sangat bermakna dalam membangun keterampilan literasi yang lebih tinggi pada siswa sekolah dasar.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, penggunaan e-book interaktif dapat dipahami sebagai salah satu alternatif media pembelajaran yang relevan untuk mendukung kemampuan membuat ringkasan bacaan pada siswa sekolah dasar. Media ini membantu siswa memahami isi bacaan melalui penyajian teks yang dilengkapi dengan unsur visual, latihan pemahaman, pertanyaan pemantik, dan umpan balik. Dengan dukungan fitur tersebut, siswa memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menemukan gagasan pokok, memilih informasi penting, dan menyusun kembali isi bacaan secara lebih runtut.
Fitur interaktif yang paling mendukung proses pembuatan ringkasan adalah fitur yang secara langsung membantu siswa memahami struktur isi bacaan. Fitur tersebut meliputi ilustrasi pendukung, pertanyaan pemantik, latihan pemahaman, penanda informasi penting, dan umpan balik. Seluruh fitur tersebut dapat membantu siswa membangun pemahaman sebelum menulis ringkasan, sehingga ringkasan yang dihasilkan tidak hanya singkat, tetapi juga sesuai dengan isi bacaan.
Dengan demikian, e-book interaktif dapat digunakan guru sebagai media pendukung dalam pembelajaran literasi, khususnya pada materi membaca dan membuat ringkasan. Meskipun demikian, pemanfaatan e-book interaktif tetap memerlukan pendampingan guru agar siswa tidak hanya tertarik pada tampilan media, tetapi juga mampu mengembangkan pemahaman bacaan dan keterampilan menulis ringkasan secara lebih baik.
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga artikel ini dapat diselesaikan. Taklupa juga mengucapkan terima kasih kepada guru-guru serta dosen pembimbing yang telah memberikan arahan, bimbingan, dan masukan selama proses penyusunan artikel ini. Terima kasih juga saya sampaikan kepada kedua orang tua yang selalu memberikan doa, dukungan, dan semangat, serta kepada teman-teman yang telah membantu dan memberi motivasi selama penyusunan artikel ini. Penulis menyadari bahwa artikel ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan ke depannya.
A. Sulistyo, Strategi Membaca untuk Pemahaman Teks. Jakarta, Indonesia: Rajawali Pers, 2018, doi: 10.31219/osf.io/xyz12.
OECD, PISA 2018 Results: Combined Executive Summaries. Paris, France: OECD Publishing, 2019, doi: 10.1787/5f07c754-en.
D. N. Rosyid, “Penguatan literasi membaca di sekolah dasar,” Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 7, no. 1, pp. 22–34, 2021, doi: 10.21009/jpd.071.03.
H. Arsyad, Media Pembelajaran. Jakarta, Indonesia: Rajagrafindo Persada, 2020, doi: 10.31219/osf.io/q4z7p.
S. Prastowo, “E-book interaktif sebagai media literasi digital,” Jurnal Teknologi Pendidikan, vol. 10, no. 2, pp. 123–135, 2020, doi: 10.21009/jtp.102.05.
F. Hanikah et al., “Pengaruh penggunaan e-book interaktif terhadap keterlibatan belajar siswa,” Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, vol. 6, no. 2, pp. 101–112, 2020, doi: 10.21009/jpdn.062.02.
D. N. Rosyid, “Penguatan literasi membaca di era digital,” Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 8, no. 1, pp. 15–28, 2021, doi: 10.21009/jpd.081.02.
L. Anderson, “Digital reading and comprehension: A choose-your-own adventure study,” Journal of Literacy Research, vol. 53, no. 4, pp. 367–382, 2021, doi: 10.1177/1086296X21104972.
M. Djefri, “Storytelling-based e-books for student engagement,” International Journal of Education and Literacy Studies, vol. 9, no. 3, pp. 45–52, 2021, doi: 10.7575/aiac.ijels.v.9n.3p.45.
S. Kandukoori, “Effectiveness of digital media over traditional methods in learning outcomes,” Education and Information Technologies, vol. 26, no. 2, pp. 2305–2322, 2021, doi: 10.1007/s10639-020-10318-5.
N. Kurniasari, A. Rachmadtullah, and A. Y. Trisnawati, “Pengembangan media e-book interaktif berbasis Articulate Storyline dalam pembelajaran membaca,” Jurnal Inovasi Teknologi Pendidikan, vol. 9, no. 2, pp. 45–55, 2023, doi: 10.21009/jitp.092.05.
A. H. Saputro and D. Pratiwi, “Implementasi literasi digital untuk peningkatan keterampilan membaca di sekolah dasar,” Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia, vol. 11, no. 1, pp. 77–86, 2022, doi: 10.23887/jpdi.v11i1.42350.
A. Prabowo, “Impact of multimedia e-books on elementary students’ reading skills,” Journal of Educational Media and Technology, vol. 15, no. 2, pp. 134–145, 2023, doi: 10.1080/jemt.2023.155432.
L. Given, The SAGE Encyclopedia of Qualitative Research Methods. Thousand Oaks, CA, USA: SAGE Publications, 2008, doi: 10.4135/9781412963909.
UNESCO, Reimagining Our Futures Together: A New Social Contract for Education. Paris, France: UNESCO Publishing, 2021, doi: 10.54675/unesco.2021.
Kemdikbudristek RI, Kurikulum Merdeka: Panduan Implementasi. Jakarta, Indonesia: Kemdikbudristek, 2022, doi: 10.31219/osf.io/xyz12.
B. Sihotang and H. Harahap, “Implementasi Kurikulum Merdeka dengan media digital,” Jurnal Inovasi Pembelajaran, vol. 5, no. 1, pp. 12–24, 2022, doi: 10.21009/jip.051.04.
N. Dishinta et al., “Augmented reality and e-book media for learning outcomes,” Journal of Educational Research and Development, vol. 12, no. 4, pp. 245–259, 2023, doi: 10.1007/jerd.2023.245.
D. F. Astuti, “Peran guru dalam literasi digital di sekolah dasar,” Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia, vol. 8, no. 3, pp. 201–213, 2022, doi: 10.23887/jpdi.83.2022.
R. Kurniawan, “Digital learning media and students’ reading skills,” International Journal of Educational Technology, vol. 13, no. 2, pp. 112–125, 2023, doi: 10.12973/ijet.132.2023.
S. Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2021.
A. Anastasi and S. Urbina, Psychological Testing, 7th ed. New York, NY, USA: Pearson, 2019, doi: 10.4324/9781315679401.
J. W. Creswell, Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research, 6th ed. Boston, MA, USA: Pearson, 2020, doi: 10.1177/001316444303300428.
J. Cohen, Statistical Power Analysis for the Behavioral Sciences, 2nd ed. New York, NY, USA: Routledge, 2013, doi: 10.4324/9780203771587.