Dini Ayu Imawan (1), Choirun Nisak Aulina (2)
General Background: Early childhood education provides a critical foundation for stimulating cognitive growth and instilling fundamental character principles. Specific Background: Educators frequently utilize daily spiritual practices to build character and counteract societal ethical degradation among young learners. Knowledge Gap: While religious education is common, previous research has not thoroughly explored how the daily verbalization of the 99 Beautiful Names of Allah specifically translates into practical religious and humanistic behaviors in kindergarten settings. Aims: This qualitative descriptive study examines the outcomes of habituating these divine names on character building at RA Al-Hidayah Karangtinggil Lamongan. Results: Observations and interviews reveal three primary outcomes: improved memorization of the divine names, the demonstration of cleanliness behaviors such as proper trash disposal linked to the meaning of Al-Quddus, and the practice of mutual forgiveness connected to the concept of Al-Afuw. Novelty: The research highlights a direct pedagogical bridge between theological memorization and the concrete application of specific ethical actions in daily social interactions. Implications: Integrating consistent spiritual routines, supported by interactive teacher guidance and parental involvement, offers schools a practical framework for shaping robust religious and social character in young learners.
Daily spiritual memorization significantly builds social character and religious awareness among young learners.
Understanding the concept of Al-Quddus translates directly into practical cleanliness behaviors like proper waste disposal.
Internalizing the meaning of Al-Afuw fosters mutual reconciliation and empathy during peer conflicts.
Keywords: Character Building, Religious Education, Habituation Strategy, Social Behavior, Islamic Pedagogy
Pendidikan anak usia dini merupakan suatu proses yang mencakup pertumbuhan dan perkembangan anak sejak lahir hingga usia enam tahun secara menyeluruh, baik dari aspek fisik maupun nonfisik. Proses ini dilakukan melalui pemberian stimulasi yang tepat terhadap perkembangan jasmani, rohani, motorik, kognitif, emosional, serta sosial guna mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal [1]. Masa usia dini dianggap sebagai periode yang tepat untuk menyelenggarakan pendidikan, karena merupakan fase krusial dalam proses pembelajaran dan perkembangan anak. Pada tahapan ini, anak-anak mengalami percepatan pertumbuhan serta perkembangan yang signifikan, dan umumnya belum banyak dipengaruhi oleh pengaruh negatif dari lingkungan sekitar [2].
Masa kanak-kanak merupakan periode yang ideal untuk menanamkan nilai-nilai moral. Pada usia prasekolah, perkembangan emosional dan kognitif anak masih berlangsung secara signifikan [3]. Oleh karena itu, pendidikan pada tahap ini sebaiknya difokuskan pada pembentukan landasan moral yang kuat, karena hal tersebut akan berpengaruh terhadap perilaku, etika, serta kesantunan anak di masa depan. Nilai moral sendiri dapat dimaknai sebagai pemahaman mengenai hal yang baik dan buruk, yang tercermin melalui perilaku individu secara sukarela, tanpa adanya paksaan. Nilai-nilai moral dapat dikembangkan oleh pendidik melalui pendekatan yang menekankan pada kasih sayang, kerja sama, tanggung jawab, penghormatan, kejujuran, dan sikap toleran [4].
Nilai moral idealnya tumbuh dari kesadaran internal anak untuk bertindak sesuai dengan norma-norma sosial yang berlaku. Dalam hal ini, keluarga memiliki peran penting sebagai model utama, karena anak usia dini dikenal memiliki kemampuan meniru yang tinggi terhadap perilaku yang mereka lihat dan dengar [5]. Moralitas berkaitan erat dengan konsep baik dan buruk yang menjadi dasar dalam kehidupan bermasyarakat, di mana setiap individu saling berinteraksi melalui tindakan yang dapat bernilai positif maupun negatif [6]. Penanaman nilai-nilai moral bertujuan untuk membentuk akhlak mulia pada anak, terutama dalam menghadapi berbagai pengaruh lingkungan yang cenderung negatif. Harapannya, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang bermoral dan berakhlak luhur di masa mendatang. Sebaliknya, kurangnya pendidikan moral sejak dini berisiko menyebabkan dampak negatif terhadap perkembangan karakter anak sebagai generasi penerus [7]. Oleh karena itu, pendidikan anak usia dini tidak hanya berperan sebagai fondasi akademik, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter dan moralitas yang esensial untuk menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.
Nilai moral memiliki berbagai aspek yang menggambarkan kompleksitas dalam pembentukan karakter manusia. Beberapa aspek tersebut yaitu: pertama aspek moral kemanusiaan yang berkaitan dengan kemampuan menilai perilaku baik dan buruk dalam interaksi antarmanusia. Yang kedua aspek moral pergaulan, adalah gambaran hubungan sosial serta dampaknya terhadap individu, yang ke tiga aspek moral keadilan, yang menekankan pentingnya keadilan dalam setiap tindakan pengambilan keputusan. Yang ke empat adalah aspek moral keagamaan yang merujuk pada nilai-nilai yang bersumber dari ajaran agama[8]. Dari ke empat aspek nilai moral tersebut, penelitian ini hanya memfokuskan pada dua aspek saja, yaitu nilai moral keagamaan dan nilai moral kemanusiaan, yang diterapkan pada anak usia dini di RA Al Hidayah. Pemilihan kedua aspek ini didasarkan pada kesesuaiannya dengan tahap perkembangan anak usia dini serta keterkaitan dalam membentuk sikap religius dan perilaku sosial anak dalam kehidupan sehari-hari.
Penanaman nilai moral menjadi elemen fundamental dalam proses pembentukan karakter anak, dan memperoleh perhatian dari berbagai pihak seperti pendidik, orang tua, institusi pendidikan, serta masyarakat luas. Nilai-nilai moral mencakup prinsip-prinsip etis dan perilaku yang membantu anak mengenali perbedaan antara yang benar dan salah, serta mendukung tumbuhnya karakter yang positif. Proses penanaman nilai ini sebaiknya dimulai sejak dini di lingkungan keluarga, di mana orang tua berperan sentral sebagai panutan melalui pemberian contoh nyata dan pembelajaran nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati [9].
Penanaman nilai moral berperan penting dalam pembentukan karakter siswa. Beberapa nilai dasar yang perlu ditanamkan pada anak antara lain percaya adanya Allah Swt, bersyukur, rajin dalam beribadah, sabar, bersikap jujur, sikap menghormati orang yang lebih tua, menghargai teman, dan saling menyayangi. Nilai tolong-menolong pun harus diajarkan agar anak menjadi lebih peka terhadap kondisi lingkungan sekitar dan memahami pentingnya membantu sesama [10].
Peningkatan akhlak pada anak usia dini menjadi perhatian utama karena akhlak merupakan landasan dalam membentuk sikap dan perilaku anak. Moralitas sendiri umumnya berkaitan dengan penilaian terhadap perilaku manusia, apakah tergolong baik atau buruk. Faktor lingkungan turut berperan dalam proses pembentukan akhlak anak; pola pengasuhan dengan kurangnya kasih sayang dapat menimbulkan rasa rendah diri pada anak. Kondisi ini dapat menciptakan fondasi moral yang lemah dan menjadi hambatan dalam perkembangan karakter. Sebaliknya, pendekatan yang penuh kasih serta pemenuhan kebutuhan emosional dan fisik anak secara memadai akan menjadi dasar yang kuat bagi pembentukan moral yang positif [11]. Dengan bimbingan yang tepat, penanaman nilai-nilai moral sejak usia dini dapat mendukung perkembangan kecerdasan moral anak, yang mencakup kemampuan membedakan antara perilaku yang benar dan salah, serta bertindak sesuai dengan norma yang berlaku. Anak yang memiliki moral baik biasanya dapat dikenali melalui tindakan dan respons emosionalnya terhadap situasi sosial [12].
Penerapan pendidikan anak usia dini dalam menanamkan nilai-nilai agama dan moral masih menghadapi berbagai tantangan, di antaranya minimnya keterlibatan keluarga sebagai pendidik utama, serta kurangnya perhatian terhadap perilaku anak dan pentingnya penanaman nilai-nilai etika serta budi pekerti [13]. Saat ini, maraknya perilaku menyimpang di kalangan remaja, seperti tindakan kriminal berupa pembunuhan dan perampokan, menjadi fenomena yang mengkhawatirkan dan dapat berdampak pada pola pikir serta kehidupan anak-anak. Hal ini penting diperhatikan mengingat anak usia dini dikenal sebagai peniru ulung; apa pun yang mereka lihat dan alami dari lingkungan sekitar akan cepat diserap dan berpotensi menjadi kebiasaan. Oleh karena itu, sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang menyenangkan bagi anak, yang berfokus pada pengembangan diri melalui aktivitas belajar sambil bermain, sehingga proses tumbuh kembangnya berjalan secara optimal [14].
Pembiasaan membaca Asmaul Husna sebagai upaya penanaman nilai-nilai akhlakul karimah merupakan langkah yang sangat penting, khususnya di era saat ini. Di Indonesia, permasalahan etika di kalangan peserta didik masih menjadi perhatian serius, seperti rendahnya penerapan nilai-nilai moral, pelanggaran terhadap peraturan sekolah, hingga perilaku perundungan. Meskipun para pendidik telah berupaya memberikan arahan dan nasihat agar siswa bertindak sesuai norma yang berlaku, perubahan perilaku secara signifikan masih sulit dicapai, dan banyak siswa tetap melakukan pelanggaran terhadap tata tertib sekolah [15]. Hal ini tidak lepas dari lingkungan masyarakat yang mengalami degradasi nilai. Kondisi ini mempengaruhi sikap anak, karena mereka cenderung meniru apa yang mereka lihat. Termasuk perilaku yang menyimpang dalam masyarakat [16].
Observasi yang dilakukan di RA Al-Hidaya Karangtinggil menunjukkan bahwa pembiasaan membaca Asmaul Husna menjadi salah satu upaya menanamkan nilai-nilai moral pada anak usia dini. Pembiasaan membaca Asmaul Husna bertujuan agar anak mencapai aspek perkembangan nilai agama dan moral sesuai dengan Capaian Pembelajaran (CP), hal ini juga dapat mendorong anak untuk mengenal nama-nama Allah yang wajib di percaya. Upaya lain dalam penanaman moral dan nilai-nilai agama yang dilakukan RA Al-Hidayah tercermin dalam kegiatan sholat dhuha bersama di masjid, praktik wudhu, mengaji, yang bertujuan untuk memberikan pengalaman kongkrit mengenai pelaksanaan ibadah.
Nilai yang ditanamkan melalui pembiasaan membaca Asmaul husna berkaitan dengan makna dari Asmaul Husna itu sendiri. Yaitu antara lain percaya adanya Allah SWT, rajin dalam beribadah, sabar, sikap jujur, kepedulian dan sikap tolong menolong. Anak dibiasakan saling membantu dalam kesulitan. Nilai kesopanan yang diajarkan melalui kebiasaan berkata “permisi” saat lewat didepan orang yang lebih tua. Sikap hormat kepada guru, kepada orang tua, terutama kepada Ibu. Dan kepada siapapun yang lebih tua. Selain itu, pembiasaan menjaga kebersihan diri dan lingkungan tercermin dalam perilaku membuang sampah pada tempatnya, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, serta merapikan mainan setelah digunakan.
Hal yang paling penting dalam kegiatan pembiasaan membaca Asmaul Husna ini adalah memberikan pemahaman makna dari setiap nama Allah dan pengaplikasian dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya adalah nama Allah “Al-Afuw” yang artinya Maha Pemaaf. Dapat ditanamkan kepada siswa untuk menumbuhkan sikap pemaaf pada diri anak. Kemudian, nama Allah “Al-Quddus” artinya Maha Suci. Makna ini dikenalkan kepada anak dalam konteks menjaga kebersihan. Pemahaman terhadap makna “Ar-Rahman” dan “Ar-Rahim” yang artinya Maha Pengasih dan Penyayang dikaitkan dengan sikap saling menyayangi sesama manusia. Pendekatan ini bertujuan agar anak tidak hanya mengenal Asmaul Husna secara tekstual, tetapi agar anak-anak mampu memahami dan menarpkan nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan sehari-hari.
Istilah Asmaul Husna berasal dari dua kata Arab, yaitu “Al-Asma” yang berarti nama-nama, dan “Al-Husna” yang berarti yang paling baik atau paling indah. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Allah memiliki 99 nama yang mulia, dan siapa pun yang mengenal serta memahami maknanya akan diberikan balasan berupa surga [17]. Pengenalan Asmaul Husna kepada anak usia dini tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari pembelajaran agama, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter. Melalui pengenalan sifat-sifat Allah yang penuh kasih, pengampun, penyayang, dan adil, anak-anak diajak untuk meneladani nilai-nilai tersebut dalam perilaku sehari-hari, sehingga tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia sesuai dengan ajaran Islam.
Pengenalan Asmaul Husna pada anak melalui kegiatan membaca Asmaul Husna secara rutin merupakan upaya dalam menanamkan nilai-nilai akhlak mulia. Upaya ini bermanfaat dalam memberikan pemahaman terhadap nama nama Allah serta diharapkan mampu meneladaninya. Sehingga dapat menjadikan pribadi yang berakhlak mulia. [18]. Metode pembiasaan menjadi pendekatan yang signifikan untuk menumbuhkan kebiasaan positif. Pembiasaan menjadi langkah pertama agar nilai-nilai yang terkandung menjadi kesadaran moral. Dengan demikian anak menjadi terbiasa melakukan tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai pada Asmaul Husna dan menjadikan itu sebuah karakter.[19].
Istilah Asmaul Husna berasal dari kata Al-Asma, bentuk jamak dari Al-Ism, yang berarti "nama". Secara etimologis, akar katanya adalah Assumu yang mengandung makna keagungan atau ketinggian, serta Assimah yang berarti tanda atau ciri. Dengan demikian, nama-nama tersebut dimaknai sebagai nama-nama yang agung dan patut dimuliakan. Adapun Al-Husna merupakan bentuk feminin dari Ahsan, yang berarti paling baik atau terbaik [20].
Di RA Al-Hidayah Karangtinggil Lamongan, pembiasaan membaca Asmaul Husna menjadi bagian dari rutinitas harian yang dilaksanakan setiap pagi sebelum anak-anak memasuki kelas. Anak-anak dikumpulkan di depan ruang kelas untuk bersama-sama melantunkan Asmaul Husna dengan bimbingan guru. Aktivitas ini dilakukan secara konsisten setiap hari, sehingga anak-anak mampu menghafalnya dalam waktu relatif singkat. Praktik ini terbukti efektif mengingat usia dini (0–6 tahun) merupakan masa keemasan (golden age) dalam perkembangan anak, di mana daya ingat dan kemampuan menyerap informasi sangat tinggi.Beberapa penelitian sebelumnya tampaknya belum mengkaji secara mendalam dampak pembiasaan membaca Asmaul Husna dalam menanamkan nilai-nilai moral dan agama pada anak usia dini. Hal ini sebagai bahan pertimbangan, dalam penelitian ini akan mencantumkan lima penelitian terdahulu yang dilakukan oleh peneliti lain dan relevan dengan penelitian ini.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pembiasaan membaca Asmaul Husna memiliki kontribusi signifikan dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan dan moral sejak usia dini. Aktivitas ini dinilai efektif terutama bagi anak-anak usia 5–6 tahun, terlebih jika dikombinasikan dengan pendekatan menyenangkan seperti bermain, mendongeng, bernyanyi, serta rutinitas harian yang konsisten [21]. Penelitian lainnya juga menggarisbawahi pentingnya keberlanjutan dan ketekunan dalam pembiasaan membaca Asmaul Husna di lingkungan sekolah sebagai bagian integral dari proses pendidikan karakter [22]. Ada pula studi yang secara khusus membahas metode bernyanyi sebagai media utama dalam pengenalan Asmaul Husna, yang terbukti mampu meningkatkan partisipasi dan pemahaman anak terhadap makna nama-nama Allah [23]. Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan dalam beberapa penelitian untuk mengamati bagaimana guru menanamkan nilai-nilai moral melalui Asmaul Husna dan strategi pembelajaran lain yang digunakan [24]. Penelitian lainnya menitikberatkan pada pentingnya pembentukan karakter religius anak melalui kegiatan rutin pelafalan Asmaul Husna sebelum pembelajaran dimulai, yang dipandu secara langsung oleh pendidik [25].
Berdasarkan berbagai temuan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak dari pembiasaan membaca Asmaul Husna terhadap penanaman nilai moral pada anak usia dini di RA Al-Hidayah Karangtinggil. Selain itu, penelitian ini juga mengkaji faktor-faktor yang mendukung dan menghambat keberhasilan pembiasaan tersebut. Melalui pendekatan ini, diharapkan anak tidak hanya menghafal nama-nama Allah, namun juga mampu menghayati dan mengimplementasikan nilai-nilai luhur seperti keadilan, kasih sayang, serta tanggung jawab dalam perilaku sehari-hari.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian deskriptif, yang bertujuan untuk memahami secara mendalam suatu oleh subjek penelitian, seperti perilaku, persepsi, motivasi, dan tindakan, yang digambarkan secara utuh dalam bentuk narasi. Pendekatan ini tidak mengutamakan angka, melainkan lebih menitikberatkan pada interpretasi makna dari data yang dikumpulkan melalui interaksi langsung dengan partisipan. Analisis data dilakukan secara kualitatif, untuk menggali makna yang tersembunyi di balik realitas yang diamati. Dengan demikian, fokus utama dari penelitian ini adalah pada pemahaman mendalam terhadap konteks dan makna yang terkandung dalam fenomena yang diteliti, bukan pada generalisasi hasil secara luas [26].
Penelitian deskriptif kulitatif adalah penelitian yang menyajikan data mengenai karakteristik subjek atau objek tertentu dari hasil observasi, wawancara mendalam dan analisis dokumen yang relevan dengan topik penelitian. Sehingga hasil yang didapat sistematis, faktual dan akurat.[27].
Subjek penelitian ini adalah anak-anak usia dini di RA Al-Hidayah Karangtinggil, Lamongan. Data dikumpulkan melalui observasi terhadap aktivitas pembiasaan membaca Asmaul Husna, wawancara dengan kepala sekolah dan guru, serta dokumentasi yang mendukung temuan lapangan. Seluruh data tersebut dianalisis untuk mengevaluasi sejauh mana pembiasaan membaca Asmaul Husna berkontribusi dalam penanaman nilai-nilai moral pada anak usia dini.
Proses analisis data dilakukan secara sistematis, dengan cara mengorganisasi transkrip wawancara, catatan observasi, dan dokumen lain yang relevan. Analisis ini bertujuan untuk menggali makna dari setiap informasi yang diperoleh, lalu menyusunnya dalam bentuk naratif atau deskriptif. Hasilnya berupa simpulan eksploratif yang memberikan pemahaman menyeluruh mengenai fenomena yang diamati [28].
Pembiasaan membaca Asmaul Husna di RA Al-Hidayah Karangtinggil adalah kegiatan yang dirancang sebagai rutinitas yang dilakukan setiap pagi sebelum anak-anak masuk kelas dengan diikuti oleh semua anak dari kelas A dan kelas B. Setiap pagi sebelum belajar, anak-anak berkumpul bersama untuk membaca beberapa doa terlebih dahulu.
Pertama anak-anak diajak melakukan ice breaking terlebih dahulu agar suasana menjadi lebih Santai dan menyenangkan, setelah itu mereka membaca surat Al-Fatihah sebagai pembukaan do’a, dilanjutkan dengan membaca do’a untuk kedua orangtua, selanjutnya membaca do’a ayat Kursi yang bertujuan untuk memohon perlindungan dari Allah SWT. Setelah do’a-do’a tersebut baru anak-anak membaca Asmaul Husna yaitu nama-nama indah Allah SWT yang memiliki arti dan makna yang baik sekali. Anak-anak yang sudah mampu menghafal Asmaul Husna diajak maju untuk membaca di depan teman-temannya dengan menggunakan mikrofon. Hal ini dilakukan agar mereka menjadi percaya diri dan semangat dalam belajar. Sehingga dengan cara tersebut anak-anak jadi terbiasa untuk membaca dan Menghafal Asmaul Husna dengan rutin setiap hari. Selain itu, guru juga akan menjelaskan arti dari beberapa nama Allah dengan bahasa yang mudah di mengerti oleh anak-anak. Seperti jika nama Allah SWT artinya “Maha Pengasih” maka guru akan menjelaskan bahwa Allah itu sangat baik dan selalu menyayangi semua makhluk-Nya, guru juga bisa menggunakan gambar ataupun cerita sederhana agar anak-anak lebih mudah untuk memahaminya.
Gambar 1. Kegiatan membaca asmaul husna
Pembiasaan membaca Asmaul Husna yang dilakukan setiap pagi secara rutin di RA Al-Hidayah Karangtinggil memberikan dampak positif yang sangat signifikan terhadap kemampuan anak-anak usia dini dalam menghafal Asmaul Husna. Rutinitas ini menjadi bagian penting dari aktivitas sehari-hari yang tidak hanya melatih daya ingat dan konsentrasi anak, tetapi juga menanamkan nilai-nilai spiritual dan karakter religius sejak dini. Melalui bimbingan guru yang sabar dan metode pembelajaran yang menarik, anak-anak diajak untuk melafalkan Asmaul Husna secara bersama-sama dengan penghayatan sehingga mereka tidak sekadar menghafal secara mekanis, tetapi juga memahami makna dari setiap nama Allah. Hal ini memperkuat motivasi anak untuk terus belajar dan mengulang hafalannya sehingga kemampuan menghafal meningkat secara bertahap.
Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar anak mampu menghafal dengan baik Asmaul Husna dalam jangka waktu relatif singkat karena dilakukan secara konsisten setiap hari. Pembiasaan ini menjadi momen spiritual yang menyenangkan dan menenangkan bagi anak, mendukung perkembangan kecerdasan emosional dan spiritual. Selain itu, pembiasaan ini juga turut membentuk karakter anak menjadi lebih sabar, disiplin, dan memiliki kesadaran akan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembiasaan membaca Asmaul Husna setiap pagi di RA Al-Hidayah tidak hanya efektif membantu anak-anak menghafal dengan lancar, tetapi juga berperan penting dalam pengembangan karakter religius dan moral yang kuat sejak usia dini.
Berdasarkan hasil dari wawancara dengan kepala sekolah dan guru RA Al-Hidayah Karangtinggil Lamongan, kegiatan pembacaan Asmaul Husna itu dilakukan setiap hari sebelum pembelajaran dimulai. Guru menyampaikan bahwa pembiasaan membaca Asmaul Husna memberi dampak positif pada sikap anak. Anak akan menjadi lebih tenang, sabar, sopan dan terbiasa untuk berperilaku baik kepada guru dan teman. Selain itu juga, anak akan mulai terbiasa untuk berdo’a, mengucapkan salam, serta menunggu giliran saat beraktivitas.
Pembacaan Asmaul Husna ini membantu anak lebih siap untuk mengikuti pembelajaran dan menciptakan suasana kelas yang nyaman. Sehingga Guru dan orang tua akan melihat adanya perubahan perilaku anak menjadi lebih santun, baik di sekolah maupun di rumah.
Kegiatan pembiasan ini tidak hanya mengajarkan anak-anak mengenal nama-nama Allah Swt, tetapi juga melatih mereka untuk berdo’a, menjaga fokus, dan juga berani untuk berbicara di depan teman-teman. Dengan seperti itu maka anak-anak bisa tumbuh menjadi anak yang tidak hanya cerdas tetapi memiliki hati yang baik dan dekat dengan Tuhannya.
Berdasarkan hasil observasi dan dokumentasi, di RA Al-Hidayah Karangtinggil, pembiasaan membaca Asmaul Husna memiliki dampak penting dalam menanamkan nilai moral khususnya pada nilai moral keagamaan dan kemanusiaan pada anak usia dini. Pembiasaan ini bukan sekedar kegiatan menghafal nama-nama Allah yang mulia, tetapi juga sebagai media untuk mengenalkan dan menerapkan dalam diri nilai-nilai luhur seperti percaya kepada allah SWT, rajin dalam beribadah, bersyukur, bersikap jujur, sabar, kemudian keadilan, kasih sayang, tanggung jawab, dan sikap tolong-menolong dalam kehidupan sehari-hari anak. Melalui pengulangan dan pendampingan guru, anak-anak berkembang dari tahap hafalan menjadi memahami dan mengimplementasikan makna nilai-nilai tersebut secara nyata. Berikut adalah penjelasan dampak pembiasaan membaca Asmaul Husna terhadap penanaman nilai moral pada anak usia dini [29].
Peneliti menjelaskan bahwasannya dari ke empat aspek nilai moral yang akan menjadi acuan dalam penelitian hanya dua aspek yang dibahas yakni aspek nilai moral keagamaan dan aspek nilai moral kemanusiaan. Kedua aspek tersebut dipilih karena memiliki keterkaitan yang kuat dengan tujuan penelitian dan pembahasan yang akan dilakukan.
a. Nilai Moral Keagamaan
Nilai moral keagamaan ialah kebiasaan baik anak yang berkaitan dengan tuhan seperti berdoa sebelum dan sesudah kegiatan, rajin untuk beribadah, selalu bersyukur, berkata dengan jujur, sabar menunggu giliran dan berbuat baik kepada teman.
1. Praktik Wudhu
Gambar 2. Siswa melakukan praktik wudhu
Praktik wudhu memiliki tujuan untuk melatih anak menjaga kebersihan diri sebelum melaksanakan ibadah. Disini anak akan belajar cara mencuci tangan, wajah dan anggota tubuh lannya secara berurutan. Disisi lain juga anak akan dilatih untuk sabar saat menunggu giliran dan tidak berebut dengan teman. Dari parktik wudhu maka anak akan memahami bahwa kebersiahan merupakan bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang sudah tercantum dalam Asmaul Husna Al-Quddus (Maha Suci) bahwa Allah SWT menyukai kebersihan dan kesucian, dengan pembiasaan ini anak akan terbiasa hidup bersih, rapi, dan menjaga kebersihan dari lingkungan di sekolah maupun di rumah.
2. Sholat Dhuha
Gambar 3. Siswa melaksanakan sholat dhuha
Kegiatan sholat dhuha dilakukan secara bersama-sama sebagai pengenalan anak pada ibadah sejak usia dini. Melalui sholat dhuha ini anak akan belajar mengenal Allah SWT sebagai Tuhannya. Anak juga akan dilatih untuk bersikap tertib tenang dan mengikuti Gerakan sholat dengan benar sesuai dengan arahan yang diberikan guru. Seperti yang sudah tercantum dalam Asmaul Husna Ar-Rahman (Maha Pengasih), al-Shakur (Maha Mensyukuri), dan Al-‘Alim (Maha Mengetahui). Sehingga anak akan mengetahui bahwa Allah SWT menyayangi hambanya yang rajin beribadah, selalu bersyukur atas nikmat yang sudah diberikannya dan selalu mengetahui setiap perbuatan manusia. Dengan demikian anak akan terdorong untuk bersikap baik, patuh dan menghormati guru, orang yang lebih tua, serta teman.
3. Mengaji
Gambar 4. Siswa melakukan kegiatan mengaji
Kegiatan mengaji ini dilakukan untuk mengenalkan anak pada huruf hijaiyah dan Al-Qur’an sejak dini. Anak diajak untuk membaca dengan perlahan dan penuh kesabaran dengan sesuai kemampuan masing-masing. Di dalam kegiatan ini anak belajar untuk fokus, duduk dengan tertib, dan membantu menumbuhkan rasa cinta anak terhadap agama islam. Seperti yang sudah tercantum dalam Asmaul Husna Al-Hadi (Maha Pemberi Petunjuk). Anak dikenalkan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk hidup yang diberikan oleh Allah agar manusia selalu berada di jalan yang baik. Dengan adanya pembiasaan mengaji ini anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak baik dan beriman.
4. Kegiatan Menyiram Tanaman
Gambar 5. Siswa menyiram tanaman
Kegiatan menyiram tanaman dilakukan untuk menanamkan sikap peduli dan tanggungjawab pada anak. Dengan cara anak diajak untuk merawat tanaman dengan cara menyiram secara rutin dan tidak merusaknya. Sehingga kegiatan ini anak belajar bahwa semua makhluk hidup itu membutuhkan perhatian dan kasih sayang agar dapat tumbuh dengan baik. Seperti yang tercantum dalam Asmaul-Husna Ar-Razzaq (Allah Maha Pemberi Rezeki) anak dikenalkan bahwa Allah SWT menumbuhkan tanaman dan memberi rezeki kepada semua makhluknya. Dengan ini, anak belajar untuk selalu bersyukur atas nikmat Allah SWT dan menjaga lingkungan sebagai bentuk rasa syukur.
b. Nilai Moral Kemanusiaan
Nilai Moral kemanusiaan ialah sikap dan perilaku anak dalam berhubungan dengan sesama seperti saling menyayangi, menolong teman, berbagi, sopan, menghargai orang lain, dan mau bekerja sama dalam kegiatan sehari-hari.
1. Anak mampu mencerminkan sikap moral terbiasa membuang sampah pada tempatnya
Gambar 6. Siswa terbiasa membuang sampah pada tempatnya
Di RA Al-Hidayah Karangtinggil, pembiasaan membaca Asmaul Husna tidak hanya membantu anak-anak dalam menghafal nama-nama Allah yang mulia, tetapi juga secara signifikan menanamkan nilai-nilai moral yang dapat mereka praktekkan sehari-hari. Salah satu contoh nyata nilai yang mulai mereka tunjukkan adalah kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Sikap ini menjadi cerminan nyata dari pemahaman anak-anak terhadap nilai kesucian yang terkandung dalam nama Allah "Al-Quddus," yang mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan dan kesucian lingkungan Anak-anak di RA Al-Hidayah didorong dan dibimbing untuk menerapkan nilai ini dengan sadar dan konsisten. Melalui pengulangan dan contoh langsung yang diberikan oleh guru, mereka diajarkan bahwa menjaga kebersihan lingkungan adalah bagian dari perilaku terpuji yang harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Kebiasaan kecil seperti membuang sampah pada tempatnya tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga membentuk karakter peduli lingkungan sejak usia dini. Hal ini tentunya sangat penting mengingat kebiasaan yang terbentuk sejak dini akan berkelanjutan hingga mereka tumbuh dewasa.
Selain itu, pembelajaran nilai moral ini didukung oleh lingkungan yang kondusif di RA Al-Hidayah, di mana anak-anak merasa nyaman dan termotivasi untuk melaksanakan ajaran tersebut. Mereka saling mengingatkan satu sama lain untuk tidak membuang sampah sembarangan dan menunjukkan perilaku yang baik di ruang kelas maupun di area bermain. Dengan demikian, pembiasaan ini tidak hanya sekadar pembelajaran teoritis, tetapi telah menjadi penerapan nyata dalam kehidupan sehari-hari anak-anak, memperkuat kesadaran mereka akan pentingnya menjaga kebersihan sebagai bentuk penghormatan kepada lingkungan dan kepada Allah.
2. Anak mampu mencerminkan sikap saling memaafkan ketika ada perselisihan
Gambar 7. Siswa mampu sikap saling memaafkan
Di RA Al-Hidayah Karangtinggil, pembiasaan membaca Asmaul Husna setiap pagi tidak hanya berfungsi sebagai sarana menghafal nama-nama Allah yang mulia, tetapi juga menjadi media efektif dalam menanamkan nilai-nilai moral, salah satunya sikap saling memaafkan. Anak-anak diajarkan untuk mengenal makna nama Allah "Al-Afuw" yang berarti Maha Pemaaf, sehingga mereka dapat meneladani sifat tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kegiatan ini guru secara konsisten dan penuh kesabaran membimbing anak-anak belajara\ bagaimana pentingnya memaafkan saat ada yang membuat kesalahan. Hal ini juga berfungsi dalam membantu anak mengelola emosi, dan menumbuhkan rasa empati. Dengan demikian, makna pemaaf bukan hanya dipahami secara konsep, tetapi juga dipraktikkan secara nyata dalam interaksi sosial di lingkungan sekolah. Selain itu, melalui pembiasaan ini, menunjukkan bahwa lingkungan belajar di RA Al-Hidayah adalah lingkungan yang mendukung dalam menciptakn suasana kondusif bagi pembentukan karakter. Konsistensi dan kesabaran guru membuat anak-anak merasa nyaman dalam belajar tanpa rasa takut. Dalam rutinitas membaca Asmaul Husna yang diwujudkan dalam pemahaman dan praktik nilai-nilai kabaikan di RA Al-Hidayah berhasil menanamkan karakter religius yang kuat sekaligus membentuk lingkungan yang harmonis dan penuh kasih sayang sejak dini.
Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan pembiasaan membaca Asmaul Husna di RA Al-Hidayah Karangtinggil meliputi beberapa hal penting. Pertama, dukungan dari guru sangat berperan karena guru selalu membimbing dan memberikan motivasi secara rutin kepada anak-anak. Kedua, strategi pembiasaan yang dilakukan dengan membaca Asmaul Husna setiap pagi sebelum belajar membuat anak-anak terbiasa dan merasa kegiatan ini sebagai bagian dari rutinitas mereka. Ketiga, lingkungan belajar yang kondusif dan menyenangkan membuat anak-anak merasa senang dan nyaman ikut serta dalam pembiasaan tersebut. Selain itu, keterlibatan orang tua juga sangat membantu karena mereka mendukung pembiasaan yang dilakukan di sekolah dengan melakukan penguatan nilai moral di rumah. Terakhir, guru menggunakan metode yang interaktif dan kreatif, seperti menjelaskan makna Asmaul Husna sambil memberi contoh perilaku sehari-hari, sehingga anak-anak mudah memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang diajarkan. Semua faktor ini bersama-sama membuat pembiasaan membaca Asmaul Husna berhasil dan berdampak positif bagi perkembangan moral anak usia dini [30].
Faktor penghambat dalam pembiasaan membaca Asmaul Husna di RA Al-Hidayah Karangtinggil cukup beragam. Salah satu masalah utama adalah perbedaan kemampuan anak dalam menghafal, karena setiap anak memiliki kecepatan dan daya ingat yang berbeda-beda. Ada anak yang cepat mengingat, tetapi ada juga yang memerlukan lebih banyak waktu dan bimbingan. Selain itu, pada saat pembiasaan berlangsung, ada anak yang kurang fokus karena mengobrol atau bermain dengan teman-temannya, sehingga tidak sepenuhnya mengikuti kegiatan tersebut. Kurangnya konsentrasi ini juga bisa disebabkan oleh kelelahan atau suasana hati anak yang tidak baik, misalnya ketika mereka merasa mengantuk atau tidak nyaman. Terakhir, dukungan dari orang tua yang kurang maksimal di rumah juga mempengaruhi proses pembiasaan, karena anak tidak mendapatkan penguatan nilai moral secara konsisten di lingkungan keluarga. Semua faktor ini perlu diperhatikan agar pembiasaan membaca Asmaul Husna bisa berjalan dengan lebih baik dan memberi hasil yang optimal bagi perkembangan anak [31].
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pembiasaan membaca Asmaul Husna setiap pagi di RA Al-Hidayah Karangtinggil memberikan dampak positif yang besar dalam menanamkan nilai moral pada anak usia dini. Anak-anak tidak hanya mampu menghafal nama-nama Allah dengan baik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan yang tercermin dalam perilaku sehari-hari anak. Pembiasaan membaca Asmaul husna yang dilakukan secara rutin setiap pagi mampu membentuk sikap religius pada anak seperti rajin berdo’a, disiplin dalam beribadah, sabar, jujur dan bersyukur. Nilai-nilai moral tersebut diperkuat dengan adanya kegiatan pendukung seperti parktik wudhu, sholat dhuha, mengaji, serta kegiatan menyiram tanaman. Di dalam kegiatan-kegiatan tersebut maka anak mendapatkan pengalaman nyata dalam menerapkan ajaran agama dan meneladani sifat-sifat Allah SWT yang tercantum dalam Asmaul Husna.
Selain dalam nilai moral keagamaan pembiasaan membaca Asmaul Husna juga berdampak pada perkembangan nilai moral kemanusiaan anak. Anak dapat menunjukkan perilaku positif seperti membuang sampah pada tempatnya, saling memaafkan saat terjadi perselisihan, saling tolong menolong. Menunjukkan bahwa nilai-nilai yang ditanamkan tidak sekedar dipahami secara lisan saja tetapi juga diterapkan dalam interaksi sosial anak sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa pembiasaan membaca Asmaul Husna tidak hanya membantu dalam aspek hafalan, tetapi juga efektif dalam membentuk karakter anak menjadi lebih baik, bertanggung jawab, dan peduli dengan lingkungan serta sesama.
Pembiasaan ini didukung oleh peran aktif guru, lingkungan belajar yang kondusif, serta keterlibatan orang tua, yang bersama-sama menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna bagi anak-anak. Meskipun terdapat beberapa hambatan seperti perbedaan kemampuan menghafal dan kurangnya konsentrasi pada sebagian anak, secara keseluruhan kegiatan ini memberikan kontribusi penting bagi perkembangan moral dan karakter anak usia dini.
Kami mengucapkan terimahkasih kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya penelitian ini, khususnya kepada dosen pembimbing yang selalu sabar memberikan masukan, bimbingan serta arahan untuk menyelesaikan penelitian ini, kemudian peneliti juga sangat berterimakasih kepada pihak dari RA Al-Hidayah Karangtinggil terutama pada kepala sekolah yang telah berkenan memberikan kesempatan dan dukungan penuh selama proses pengumpulan data. Selanjutnya kami juga terimahkasih kepada para guru, anak-anak yang telah berpartisipasi dan kerjasamanya. Selain itu, kami ucapkan terimaksih kepada keluarga terutama adik, suami dan teman-teman RPL seperjuangan. Yang selalu memberikan dukungan moral, motivasi tanpa henti.
D. Pertiwi, U. Syafrudin, and R. Drupadi, “Persepsi orang tua terhadap pentingnya baca tulis hitung untuk anak usia 5–6 tahun,” Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 4, no. 2, pp. 63–69, 2021.
R. Junita, “Peran guru dalam menanamkan nilai-nilai moral agama kepada anak usia 3–4 tahun melalui metode cerita Islami di RA Plus Ja-Alhaq Kota Bengkulu,” Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu, Bengkulu, 2021.
Aisya, “Pendidikan karakter untuk perkembangan moral anak usia dini,” Jurnal Warna: Pendidikan dan Pembelajaran Anak Usia Dini, vol. 5, no. 2, pp. 77–84, 2020.
H. and I. W. Windasari, “Upaya meningkatkan nilai moral anak usia 4–5 tahun melalui metode bercerita di RA Nurul Hikma Pondok Wuluh Leces Probolinggo tahun ajaran 2023/2024,” Jurnal Pendidikan Anak, vol. 5, no. 1, pp. 110–127, 2024.
Zahra, “Research and thought elementary school of Islam,” Journal Konsep Penguatan Nilai Moral Anak, vol. 1, no. 2, pp. 58–67.
D. A. S. Putri, “Penanaman nilai moral dalam kegiatan keagamaan siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Labuhan Ratu,” Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro, Metro, 2020.
F. Aini and Z. H. Ramadan, “Peran guru dalam mengembangkan nilai etika dan moral peserta didik sekolah dasar,” ELSE (Elementary School Education Journal), vol. 8, no. 2, pp. 331–339, 2024.
S. M. Ayu and J., “Pengembangan akhlak pada pendidikan anak usia dini,” Al-Idarah: Jurnal Kependidikan Islam, vol. 8, no. 2, pp. 211–221, 2018.
J. Ita, D. Rakhmawati, and H. Arri, “Penanaman nilai-nilai moral spiritual pada siswa sekolah dasar melalui metode pembiasaan,” Jurnal Ilmiah PGSD FKIP Universitas Mandiri, vol. 10, no. 2, pp. 1362–1367, 2024.
M. C. S. Anggreini, “Pengaruh dan pentingnya pendidikan moral sejak dini 2023,” Ejournal Universitas Kristen Satya Wacana, vol. 4, no. 2, 2021.
H. and I. W. Windasari, “Upaya meningkatkan nilai moral anak usia 4–5 tahun melalui metode bercerita di RA Nurul Hikmah Pondok Wuluh Leces,” Al-Athfal: Jurnal Pendidikan Anak, vol. 5, no. 1, pp. 110–127, 2024.
D. Oktariani, “Penanaman nilai moral pada anak usia dini melalui tari tradisional di Sanggar Flamingo,” Jurnal Golden Age, Universitas Hamzanwadi, vol. 7, no. 1, pp. 125–131, 2023.
R. Sari and S. Rozana, “Pentingnya pengembangan literasi moral dalam pendidikan anak usia dini: Suatu pendekatan integratif antara nilai agama dan moralitas,” Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 6, no. 1, pp. 16–22, 2024.
D. Meilasari and I. Ichsan, “Metode penanaman nilai agama dan moral pada anak usia dini,” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 8, no. 4, pp. 789–795, 2024.
M. Nawawi, R. Mansur, and K. Santoso, “Implementasi pembiasaan membaca Asmaul Husna dalam menanamkan nilai-nilai akhlakul karimah siswa di MAN I Kota Malang,” Jurnal Pendidikan Islam, vol. 9, no. 1, pp. 81–86, 2024.
M. Siti, “Pentingnya pendidikan moral pada anak usia dini di masa pandemi,” At-Thufuly: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 1, no. 1, pp. 80–89, 2020.
C. Ramdani and B. Zaman, “Penerapan bank sampah di lingkungan keluarga dalam menumbuhkan ecoliteracy anak usia dini,” Jurnal Pemikiran dan Penelitian Islam Anak Usia Dini, vol. 4, no. 1, pp. 1–8, 2022.
M. C. Anam, W. and N. Fauziah, “Menanamkan pengetahuan keagamaan pada anak melalui pembiasaan membaca Asmaul Husna di TK Masyithoh II Sanansari,” Journal Ashil: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 3, no. 2, pp. 63–76, 2023.
M. S. Dewi, “Proses pembiasaan dan peran orang terdekat anak sebagai upaya penanaman nilai agama dan moral pada anak usia dini,” Jurnal Program Studi PGRA, vol. 3, no. 1, pp. 84–98, 2017.
I. and I. Nurhayati, “Penanaman nilai-nilai Asmaul Husna dalam pembentukan akhlak di Taman Kanak-Kanak Dharma Wanita Persatuan 2,” Jurnal Risalah, vol. 8, no. 2, pp. 720–735, 2022.
Y. Sari, “Pengembangan nilai agama dan moral anak usia dini 5–6 tahun di RA Asmaul Husna Palangka Raya,” Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya, Palangka Raya, 2022.
I. Rahmadani, “Pengembangan nilai agama moral melalui metode pembiasaan kelas B di RA Al Hidayah III Grogol Sukoharjo tahun ajaran 2022/2023,” Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta, Surakarta, 2023.
D. Sari, “Analisis penerapan bernyanyi Asmaul Husna dalam menstimulasi perkembangan moral anak usia dini pada kelompok B TK FKIP USK Banda Aceh,” Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh, Banda Aceh, 2023.
N. Safitri, “Penanaman nilai-nilai moral dan agama anak usia dini di TK Goemerlang Bandar Lampung,” Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, Lampung, 2019.
K. Syahla, “Pembentukan karakter religius pada anak usia dini melalui kegiatan pembiasaan Asmaul Husna di TK Roudlatush Sholihin Jemur Kebumen,” Universitas Islam Negeri Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto, Purwokerto, 2024.
F. R. Fiantika, Metodologi Penelitian Kualitatif. Padang, Indonesia: PT Global Eksekutif Teknologi, 2022.
P., “Analisis marketing mix terhadap pendapatan ekonomi dalam etika bisnis Islam di barbershop Lampung Tengah,” Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro, Metro, 2024.
K. D., Teknik Analisa. Bandung, Indonesia: Alfabeta CV, 2021.
F. R. Sari and S. Yekti, “Penanaman nilai Islam dalam pembentukan adab anak usia dini melalui pembiasaan Asmaul Husna dan surat pendek di Bustanul Athfal Aisyiyah Gembuk I,” Al Athfal STAI Muhammadiyah Probolinggo, vol. 6, no. 2, pp. 225–233, 2025.
Y. S. Hartati, P. A. Dewi, and L. Ifadah, “Penanaman karakter Asmaul Husna pada anak usia dini di PAUD ELPIST Temanggung,” Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 2, no. 2, pp. 2716–1641, 2021.
S. Qomariyah, “Pengenalan Asmaul Husna anak usia dini melalui model pembelajaran sentra Imtaq di RA Ar Rafif Kalasan Sleman Yogyakarta,” Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2019.