Login
Section Elementary Education Method

The Effect of the Think-Pair-Share Cooperative Learning Model on Elementary School Students Social Studies Learning Outcomes

Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think-Pair-Share terhadap hasil belajar IPS siswa Sekolah Dasar
Vol. 21 No. 1 (2026): February:

Tiara Dewi (1), Zuyyina Fihayati (2)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Social Studies learning in elementary school plays an important role in developing students’ understanding of social life and values. Specific Background: Students may show limited cooperation, empathy, willingness to help, and acceptance of classmates with different backgrounds, while conventional teacher-centered instruction can restrict active participation. Knowledge Gap: Previous studies on Think Pair Share have commonly examined academic achievement, social attitudes, religious character, discipline, or general cooperation, while research addressing learning about social and cultural diversity in a heterogeneous and inclusive elementary school context remains limited. Aims: This study examines the application of the Think Pair Share cooperative learning model to Social Studies learning outcomes among fourth-grade students. Results: Using a quantitative one-group pretest-posttest design, the study involved 19 fourth-grade students at SDN Sawocangkring. Data were collected through 15-item multiple-choice pretests and posttests, supported by instrument validity and reliability testing. The instrument produced a Cronbach’s Alpha coefficient of 0.902. The Shapiro-Wilk test showed that the pretest data were not normally distributed, leading to the use of the Wilcoxon Signed Rank Test. The analysis produced an Asymp. Sig. (2-tailed) value of < 0.001 and a Z value of -3.712, indicating a significant difference between pretest and posttest scores. Novelty: The study applies Think Pair Share to learning about social and cultural diversity while emphasizing acceptance of differences, willingness to help, and empathy in a heterogeneous elementary school context. Implications: The findings provide empirical support for using structured individual thinking, paired discussion, and classroom sharing as an alternative approach to Social Studies instruction.


Key Findings Highlights


Posttest scores were significantly higher than pretest scores, with p < 0.001.


Students became more willing to collaborate with unfamiliar classmates and present their ideas.


The 15-item instrument achieved high reliability with a Cronbach’s Alpha of 0.902.


Keywords : Cooperative Learning, Think Pair Share, Social Studies, Social Diversity, Elementary Education

I. Pendahuluan

Pembelajaran IPS disekolah dasar merupakan salah satu penguat atau acuan dalam membentuk sikap siswa di sekolah dasar dan lingkungan sosialnya, oleh karena itu dibutuhkannya pembelajaran terbarukan dengan memuat model pembelajaran dari permasalahan yang rentan terjadi dilingkungan siswa sekolah dasar. IPS bukan sekadar pengantar pengetahuan tentang masyarakat, tetapi lebih dalam dari itu, berfungsi sebagai penguat nilai dan norma sosial yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di sekolah dasar mempunyai fungi sebagai sarana bagi siswa agar dapat mengenal serta memahami dinamika kehidupan sosial di sekitarnya, mulai dari lingkup keluarga, sekolah, hingga Masyarakat. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya berbagai kendala masih saja di temui. Jadi masalah sosial yang muncul dalam lingkungan siswa terkadang belum terintegrasi secara optimal karena pendekatan pembelajaran yang bersifat konvensional. Mata pelajaran IPS memiliki peran strategis dalam membentuk sikap serta perilaku sosial siswa. Masa sekolah dasar adalah periode krusial (golden age) di mana fondasi nilai-nilai kehidupan paling kuat terbentuk dan berakar. Usia sekolah dasar adalah masa keemasan (golden age) untuk pengembangan sikap karena siswa berada dalam tahap perkembangan moral dan sosial yang paling sensitif terhadap pengaruh lingkungan[1]. Dengan demikian, kualitas pembelajaran IPS sangat menentukan keberhasilan pembentukan sikap siswa untuk menjadi individu yang matang secara emosional dan sosial. Meski begitu, pelaksanaan pembelajaran IPS di sekolah sering menemui berbagai hambatan. Ketika nilai-nilai sosial mulai diperkenalkan sejak dini dengan metode yang sesuai, anak dapat berkembang menjadi pribadi yang tidak hanya kuat secara pengetahuan, tetapi juga dewasa dalam sikap emosional dan social. Alasan penulis menulis penelitian ini karena dari yang diamati awal dalam proses pembelajaran di lingkungan sekolah yang akan digunakan sebagai penelitian terdapat kesenjangan atau kurangnya penguatan sikap siswa seperti acuh atau tidak mau membantu secara sukarela maupun dengan insiatifnya sendiri pada saat temannya kesulitan atau tidak membawa sesuatu yang dibutuhkan saat dikelas, lebih dominan bekerja sama dengan teman dekatnya saja tidak bisa menerima semua teman sekelasnya, pada beberapa kegiatan terdapat kurangnya toleransi terhadap teman sebayanya yang berkebutuhan khusus, maka dari itu penulis ingin mengembangkan model pembelajaran yang membantu menigkatkan kesadar siswa disekolah dasar atas pentingnya sikap sosial agar tercipta sikap yang bagus dalam diri siswa kedepannya.

Dalam penelitian ini, difokuskan pada ranah kognitif sosial, yaitu kemampuan intelektual siswa untuk memahami, mengingat, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan pengetahuan yang berkaitan dengan fenomena sosial setelah mengikuti pembelajaran IPS. Ranah kognitif merupakan aspek hasil belajar yang berhubungan dengan fungsi mental dan kemampuan berpikir siswa, yang meliputi pengetahuan faktual, pemahaman konsep, serta kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam konteks sosial yang dipelajari di sekolah dasar. Ranah kognitif tersebut meliputi (C1) menghafal, (C2) memahami, (C3) menerapkan, (C4) menganalisis, (C5) mengevaluasi, dan (C6) mencipta [2]. Teori Taksonomi Bloom menjelaskan bahwa ranah kognitif merupakan salah satu domain utama dalam tujuan pendidikan yang berkaitan dengan kemampuan intelektual peserta didik untuk mengorganisasi dan mengolah informasi secara logis, mulai dari ingatan sederhana sampai proses berpikir yang kompleks [3]. Seorang siswa dinyatakan memiliki sebuah ketuntasan belajar apabila dapat menguasai materi secara kognitif [4]. Adapun indikator-indikator yang dapat dijadikan penilaian aspek sosial berdasarkan Kurikulum 2013 adalah jujur, disiplin, bertanggung jawab, toleransi, gotong royong, santun atau sopan, dan percaya diri[5].

Pada masa moderen saat ini generasi muda khususnya dikalangan pelajar sekolah dasar harus menghadapi tantangan yang kompleks berkaitan dengan perkembangan sikap generasi muda, faktor tantangannya pun beragam dari pengaruh globalisasi, akses informasi yang tidak terbatas, dan perubahan-perubahan sosial ikut serta muncul dalam permasalahan. Maka dari muncul tantangan penurunan sosial dikalangan siswa sekolah dasar, seperti contoh dari penurunan tersebut ialah siswa lebih memilih bekerja sendiri atau dengan teman dekatnya saja, terkadang kurangnya empati terhadap teman yang memiliki perbedaan seperti pada sekolah inklusi. Pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan yang mengutamakan kerja sama antar siswa dalam kelompok kecil untuk mencapai tujuan belajar secara lebih efektif.

Model pembelajaran Think Pair Share berbasis pendidikan karakter dirancang untuk menumbuhkan sikap sosial siswa melalui aktivitas berpikir, berpasangan, dan berbagi, sehingga siswa mampu menunjukkan perilaku positif dalam berinteraksi, bekerja sama, dan menghargai pendapat orang lain dalam proses pembelajaran[5]. Hasil Belajar pada konteks pendidikan dasar tidak hanya mencerminkan keterampilan interpersonal siswa, tetapi juga kemampuan dalam memahami, menganalisis, dan menerapkan konsep sosial di lingkungan sekolah dan masyarakat. Pembelajaran sosial-emosional telah terbukti mampu meningkatkan aspek belajar siswa secara umum, termasuk hasil belajar akademik yang terukur melalui tes serta aktivitas sosial mereka di kelas[6] .Selain itu, penelitian di sekolah dasar menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran kontekstual secara signifikan memperbaiki keterampilan sosial dan hasil belajar siswa SD dalam ranah keterampilan sosial dan pembelajaran [7].

Dengan demikian, indikator Hasil Belajar pada siswa sekolah dasar seperti pemahaman konsep sosial, analisis situasi sosial, serta kemampuan menerapkan pengetahuan sosial dalam konteks nyata pendidikan dasar. Adapun indikator social untuk tes prestest dan posttest yaitu mengidentifikasi konsep sosial sederhana yaitu siswa mampu menyebutkan contoh keberagaman sosial dan budaya di lingkungan sekitar. Pembelajaran IPS di SD dimulai dari pengenalan konsep-konsep sosial dasar yang dekat dengan kehidupan siswa, seperti keberagaman sosial dan budaya di lingkungan sekitar [8]. Menjelaskan hubungan sosial dalam kehidupan sehari-hari siswa dapat menjelaskan bentuk kerja sama dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Hasil belajar siswa dapat dilihat dari kemampuan mereka dalam memahami dan menjelaskan hubungan sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari [9]. Dari berbagai model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) inilah yang dapat di terapkan.

Sintaksmodel pembelajaran kooperatif tipe TPS terdiri dari enam fase. Fase 1, menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa; fase 2, menyajikan informasi; fase 3 mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar (berpasangan); fase 4 membimbing kelompok bekerja dan belajar; fase 5 evaluasi; fase 6 memberikan penghargaan[5] .Dengan stimulus dari proses tersebut maka siswa secara tidak langsung akan mewujudkan rasa kerja sama. Jadi pada pelaksanaannya model TPS ini bisa meningkatkan keaktifan siswa dalam berbagi ide, serta menumbuhkan rasa percaya diri. Aktivitas diskusi dalam model Think Pair Share berfungsi untuk melatih siswa dalam mengekspresikan pemahaman, mendengarkan pendapat orang lain, serta membangun sikap saling menghargai dan kerja sama, yang merupakan bagian penting dari sikap sosial [5]. Proses diskusi yang terorganisasi membantu membatasi perilaku tidak terarah dan memperkuat pemahaman terhadap materi pembelajaran. Tahapannya terdiri dari think yaitu siswa berpikir mandiri setelah guru menyampaikan tujuan pembelajaran, pair yaitu siswa berpasangan untuk mendiskusikan ide, dan share yaitu berbagi hasil diskusi dengan seluruh kelas. Model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) merupakan metode yang mengatur interaksi belajar melalui tiga tahap, yaitu think (berpikir mandiri), pair (berdiskusi dengan pasangan), dan share (menyampaikan hasil diskusi kepada seluruh kelas). Strategi ini tidak hanya berfokus pada peningkatan pemahaman akademik, tetapi juga berperan dalam mengembangkan keterampilan sosial siswa sekolah dasar, seperti komunikasi, kerja sama, dan empati terhadap pendapat orang lain. Dalam ranah sosial, TPS mendorong semua siswa untuk terlibat aktif, menghargai kontribusi pasangan, serta meminimalkan dominasi individu tertentu dalam diskusi. Hasil penelitian terkini membuktikan bahwa penerapan TPS di sekolah dasar mampu memperkuat interaksi positif, menumbuhkan rasa saling membantu, dan membangun kebersamaan di kelas[10]. Oleh karena itu, model ini relevan untuk mendukung keberhasilan kognitif sekaligus pembentukan sikap sosial yang inklusif pada siswa sekolah dasar.

Data dari hasil penelitian terdahulu di temukannya dari skor Fhitung = 14,818 > Ftabel = 3,97 dan angka signifikansi lebih kecil dari 0,05 (0,000 22,43). Berdasarkan hasil uji hipotesis pertama, mengisyaratkan bahwa model pembelajaran think pair share (TPS) berbantuan media quesion cards lebih berpengaruh dalam meningkatkan Hasil Belajar dari pada pembelajaran konvensional diterima [11]. Ada pula penelitian awal yang di lakukan Hasil analisis data tentang sosial dan penguasaan kompetensi pengetahuan IPS menunjukkan, terdapat pengaruh yang simultan antara siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share yang dipadukan dengan nilai-nilai kearifan lokal menyama braya dibandingkan dengan pembelajaran pada siswa yang tidak menggunakan model kooperatif tersebut. Memperoleh hasil analisis, nilai F sebesar 89,311 dengan nilai signifikan 0,000 dan lebih kecil dari 0,05, hal ini menunjukkan terdapat pengaruh secara silmutan sosial dan penguasaan kompetensi pengetahuan IPS anata siswa yang mengikuti mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe think pair share. Jadi untuk mengoptimalkan pembelajaran agar siswa mampu secara optimal menuangkan gagasannya di dalam pembelajaran, perlu digunakannya model pembelajaran yang inovatif[12].

Model pembelajaran yang cocok digunakan ialah model pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share. Pada konteksnya pembelajaran IPS di sekolah dasar ini jadi sangat penting, karena IPS mempunyai tujuan dalam membentuk siswa supaya memahami kehidupan sosial dan mampu berperilaku sesuai dengan nilai-nilai sosial masyarakat. Dalam penerapan model Think Pair Share (TPS), Pendidik dapat memasukkan berbagai nilai sosial, seperti kerja sama, sikap toleran, dan rasa peduli, ke dalam proses belajar. Dengan cara ini, siswa tidak hanya mempelajari konsep sosial secara teori, tetapi juga mempraktikkannya lewat interaksi nyata di kelas, misalnya dalam menghormati keberagaman dan menunjukkan perilaku positif. Secara keseluruhan, Hasil Belajar dan penerapan model TPS saling mendukung satu sama lain. Model TPS memberi kesempatan kepada siswa untuk melatih kemampuan bersosialisasi. Sebaliknya, sikap sosial yang baik turut membantu keberhasilan model TPS, sebab siswa yang mampu berempati dan bekerja sama biasanya lebih terlibat aktif serta menghargai kegiatan belajar yang bersifat kolaboratif. Dengan demikian, penerapan model Think Pair Share dalam pembelajaran IPS di sekolah dasar efektif dalam menumbuhkan sikap sosial[10].

Meskipun pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) telah terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar dan kerja sama siswa, penerapannya pada pembelajaran IPS di sekolah dasar masih menghadapi tantangan, terutama dalam membentuk sikap sosial siswa. Sebagian besar penelitian lebih berfokus pada pencapaian akademik, religiusitas, atau disiplin, namun belum secara mendalam meneliti pengaruh Think Pair Share terhadap interaksi lintas perbedaan seperti penerimaan terhadap siswa berkebutuhan khusus, membantu tanpa diminta, dan mengembangkan empati maka dari itu, diperlukan penelitian dalam konteks sosial yang lebih beragam untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh tentang efektivitas Think Pair Share dalam mengatasi menurunnya hasil belajar IPS di sekolah dasar. Penelitian ini hadir untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan menerapkan model Think Pair Share yang diintegrasikan dengan nilai-nilai sosial dan hasil belajar dalam pembelajaran IPS pada siswa sekolah dasar. Penelitian ini memiliki kebaruan yang membedakannya dari penelitian-penelitian terdahulu. Berbeda dengan penelitian yang dilaksanakan di sekolah umum tanpa penekanan pada konteks keberagaman sosial yang kompleks, penelitian ini secara khusus dilaksanakan di sekolah dengan latar sosial heterogen yang mencakup keberagaman latar belakang siswa serta kehadiran siswa berkebutuhan khusus dalam kelas inklusi[11]. Selain itu, penelitian ini berfokus pada materi keberagaman sosial dan budaya di kelas IV secara spesifik, bukan pada mata pelajaran IPS secara umum, matematika, fikih, maupun IPAS, sehingga terdapat relevansi konten yang lebih kuat terhadap pembentukan nilai-nilai sosial siswa. Kebaruan lainnya terletak pada integrasi antara hasil belajar kognitif berdasarkan Taksonomi Bloom (C1–C6) dengan muatan nilai sosial dalam instrumen pretest-posttest, sehingga pengukuran tidak hanya mencakup penguasaan konsep, tetapi juga pemahaman siswa tentang toleransi dan keberagaman. Lebih jauh, penelitian ini secara eksplisit menyasar tiga indikator sosial yang jarang dikaji secara bersamaan dalam penelitian sebelumnya, yaitu penerimaan terhadap siswa berkebutuhan khusus, kesediaan membantu tanpa diminta, dan empati lintas perbedaan.

Secara metodologis, penelitian ini berbeda dari penelitian-penelitian sebelumnya dalam beberapa hal penting. Pertama, dari sisi desain penelitian, penelitian ini menggunakan one-group pretest-posttest design dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test sebagai analisis non-parametrik, sedangkan penelitian menggunakan desain dua kelompok (eksperimen dan kontrol) dengan uji ANAVA/MANOVA. Kedua, dari sisi lokasi dan konteks, penelitian ini dilaksanakan di SDN Sawocangkring yang memiliki latar sosial heterogen dengan kehadiran siswa berkebutuhan khusus, sementara penelitian terdahulu dilaksanakan di sekolah umum tanpa penekanan konteks inklusi[13]. Ketiga, dari sisi modifikasi model, penelitian ini menerapkan TPS tanpa bantuan media tambahan seperti question cards sehingga efek murni model TPS dapat terukur lebih langsung[11]. Keempat, dari sisi fokus variabel, penelitian ini mengukur tiga indikator sosial yang sangat spesifik yaitu penerimaan terhadap siswa berkebutuhan khusus, kesediaan membantu tanpa diminta, dan empati lintas perbedaan yang belum pernah dikaji secara bersamaan dalam penelitian TPS sebelumnya di tingkat sekolah dasar. Dengan demikian, penelitian ini mengisi kesenjangan yang belum terjawab oleh kajian-kajian sebelumnya yang cenderung mengukur sikap sosial secara umum atau hanya mengombinasikan aspek akademik, religius, dan disiplin semata. Oleh karena itu, rumusan masalah penelitian ini adalah : Bagaimana pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dalam pembelajaran IPS dapat meningkatkan Hasil Belajar pada siswa sekolah dasar?. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) terhadap Hasil Belajar siswa sekolah dasar, untuk menganalisis efektivitas penerapan model Think Pair Share (TPS) dalam meningkatkan Hasil Belajar siswa pada pembelajaran IPS di sekolah dasar.

Observasi awal di sekolah menunjukkan bahwa hasil belajar IPS siswa masih tergolong rendah. Beberapa siswa hanya mau bekerja sama dengan teman yang mereka kenal dekat, kurang memiliki inisiatif untuk membantu teman yang mengalami kesulitan, dan belum sepenuhnya bisa menerima keberadaan siswa berkebutuhan khusus. Kondisi ini sejalan dengan temuan yang menyatakan bahwa arus globalisasi dan kemajuan teknologi turut memengaruhi menurunnya kualitas interaksi sosial positif pada siswa sekolah dasar[14]. Pembelajaran IPS yang selama ini diterapkan masih cenderung bersifat tradisional dan belum benar-benar memasukkan nilai-nilai sosial ke dalam kegiatan belajar. Penelitian ini difokuskan pada penggunaan model TPS dalam pembelajaran IPS untuk melihat pengaruhnya terhadap perkembangan Hasil Belajar siswa. Aspek akademik tetap diperhatikan, namun bukan menjadi tujuan utamanya. Penelitian dilakukan di sekolah dengan latar belakang sosial yang beragam agar hasilnya lebih sesuai dengan kondisi siswa yang heterogen. Variabel yang dikaji mencakup ketersediaan menerima teman yang berbeda latar belakang atau kebutuhan khusus, kesediaan membantu tanpa diminta, dan empati terhadap teman sebaya.

Mengingat pentingnya hasil belajar bagi seluruh siswa maka dari itu dibutuhkannya model pembelajaran yang dapat membantu serta meningkatkan hasil belajar dalam lingkup sosial siswa agar dapat menjadi siswa yang memiliki presetasi yang baik dan juga memahami perilaku yang baik.

II. Metode

Penelitian ini merupakan penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan eksperimen sederhana (one-group pretest-postest design). membandingkan sebelum dan sesudah penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share , penelitian ini menggunakan eksperimen kuantitatif. Penelitian ini hanya melibatkan satu kelompok siswa yang berfungsi sebagai kelompok eksperimen. Sebelum diberikan perlakuan, siswa mengikuti tes awal (pretest) untuk mengetahui kemampuan awal mereka dalam memahami materi IPAS keberagaman sosial dan budaya[15]. Setelah itu, dilakukan pembelajaran menggunakan model kooperatif think pair share sebagai perlakuan (X). Setelah kegiatan pembelajaran selesai, siswa diberikan tes akhir (posttest)untuk mengukur peningkatan Hasil Belajar setelah perlakuan[14].

Figure 1.

Keterangan:O₁ = Tes awal (pretest)X = Perlakuan (penerapan pembelajaran kooperatif tipe think pair share)O₂ = Tes akhir (posttest)

Penelitian ini dilaksanakan di SDN Sawocangkring Kecamatan Wonoayu, Sampel penelitian ini mencakup siswa kelas IV SDN Sawocangkring pada semester genap tahun ajaran 2025/2026, terdapat 19 siswa terdiri dari 8 siswa Laki-laki dan 11 siswi Perempuan. Penelitian ini melibatkan dua variabel yang terdiri dari Hasil Belajar IPS siswa sekolah dasar menjadi variable terikat (Y) dalam penelitian ini dan model Kooperatif tipe Think Pair Share menjadi variabel bebas (X). Partisipan dalam kegiatan ini melibatkan 19 siswa dari kelas IV di SDN Sawocangkring, dengan 11 siswa Perempuan dan 18 siswa laki-laki. Pengambilan sampel menggunakan sampel jenuh dimana semua siswa tersebut dilibatkan sebagai responden. Metode pengambilan sempel non-probabilitas, karena semua siswa kelas IV SDN Sawocangkring mempunyai kesempatan yang sama dan diharapkan hasil belajar mereka akan meningkat. Pengumpulan data dilakukan melalui dua teknik yaitu tes (pretest postest) dan dokumentasi[4]. Tes digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa sebelum dan sesudah penggunaan model pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share sedangkan dokumentasi dimanfaatkan untuk melengkapi serta memperkuat data hasil tes. Dalam penelitian ini, model pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share yang digunakan selama proses pembelajaran sementara LKPD menjadi alat tes (pretest postest) yang disusun berdasarkan sintaks model pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share yaitu berpikir secara individu (think), berdiskusi secara berpasangan (pair), dan berbagi hasil diskusi kepada kelompok atau kelas (share) dan Instrumen penelitian berupa soal pretest-posttest disusun berdasarkan tiga indikator utama hasil belajar kognitif yang mengacu pada Taksonomi Bloom (C1–C4) dan disesuaikan dengan Capaian Pembelajaran IPS kelas IV[5]. Setiap indikator diwakili oleh 5 butir soal pilihan ganda, sehingga total instrumen berjumlah 15 butir soal. Kisi-kisi instrumen disajikan pada Tabel 1 berikut.

Tabel 1. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian

No. Indikator Hasil Belajar IPS Level Bloom Deskrpsi Indikator Bentuk No Soal
1. Menjelaskan manfaat keberagaman sosial dan budaya di Indonesia sebagai wujud persatuan bangsa C2– Memahami Siswa mampu menguraikan manfaat keberagaman sosial dan budaya Indonesia, termasuk perannya dalam memperkuat persatuan nasional, memperkaya khasanah budaya, dan meningkatkan kerja sama antarwarga Pilihan Ganda 1-5
2. Mengidentifikasi dan mengklasifikasikan bentuk-bentuk keberagaman sosial dan budaya di Indonesia C1–C3– Mengingat, Memahami,Menerapkan Siswa mampu menyebutkan, membedakan, dan mengelompokkan contoh-contoh keberagaman sosial dan budaya (suku, agama, bahasa daerah, adat istiadat, pakaian tradisional, rumah adat) yang ada di lingkungan sekitar dan di Indonesia Pilihan Ganda 6-10
3. Menganalisis pentingnya sikap menerima perbedaan sosial dan budaya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah dan masyarakat. C4– Menganalisis Siswa mampu menelaah mengapa sikap menerima perbedaan sosial dan budaya penting dalam kehidupan sehari-hari, serta mampu menghubungkan sikap tersebut dengan contoh perilaku nyata di lingkungan sekolah (termasuk penerimaan terhadap teman yang berbeda latar belakang atau kebutuhan khusus) Pilihan Ganda 11-15
Table 1.

Meskipun demikian, penilaian terhadap validitas instrumen perlu dilakukan sebelum digunakan. Kesesuaian alat penilaian dengan konsep yang diukur sangat ditentukan oleh tingkat validitasnya. Validasi instrumen dilakukan melalui penilaian oleh ahli materi. Dalam penelitian ini, instrumen yang akan digunakan meliputi Modul ajar, bahan ajar, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), soal sebelum dan sesudah tes, LKPD serta lembar validasi . Pada penelitian ini, analisis data dilakukan beberapa tahap. Tahap pertama adalah uji validitas untuk mengetahui kelayakan butir instrumen pretest dan postest layak digunakan dalam variabel penelitian. Yang kedua yaitu uji reliabilitas untuk mengetahui konsistensi instrumen. Instrumen dikatakan reliabel apabila nilai koefisien reabilitas (Cronbach’s Alpha) lebih besar dari >0,60 sehingga dapat dipercaya menghasilkan data yang konsisten [20].

Untuk memastikan data berdistribusi normal, dilakukan uji normalitas menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk. Data dinyatakan normal apabila nilai signifikansi lebih besar dari >0,05. Dalam kondisi tersebut, analisis dapat dilakukan dengan menggunakan uji parametrik yaitu uji t (Paired t-test). Sebaliknya, apabila data menunjukkan distribusi tidak normal maka analisis yang digunakan beralih pada uji non-parametrik yaitu Wilcoxon Signed Rank Test. Jika nilai signifikansi (p-value) 0,05 maka H0 diterima artinya tidak terdapat perbedaan signifikan antara pretest dan postest [14]. Untuk mengukur besarnya pengaruh penggunaan model pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share siswa, digunakan analisis eta squared (η²). Eta-squared (η²) memberikan skor berkisar antara 0 hingga 1, dimana semakin besar nilai eta-squared maka semakin besar pengaruh variabel bebas terhadap variasi dalam variabel terikat. Berdasarkan kriteria yang digunakan, nilai eta-squared dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori pengaruh. Nilai antara 0.01 sampai kurang dari 0.06 dikategorikan sebagai efek kecil. Nilai yang berada pada rentang lebih dari 0.06 hingga kurang dari 0.14 menunjukkan efek sedang, sedangkan nilai yang melebihi 0.14 menunjukkan adanya efek besar dalam hubungan antar variabel. Semua analisis data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS versi 31.0.2.0 untuk memastikan akurasi dan validitas hasil yang diperoleh.

III. Hasil dan Pembahasan

Penelitian ini dilaksanakan di SDN Sawocangkring Kecamatan Wonoayu pada semester genap tahun ajaran 2025/2026, tepatnya pada bulan Februari 2026. Tahapan penelitian dimulai dari kegiatan observasi awal dan penyusunan instrumen pada bulan Desember dan Januari 2026, dilanjutkan dengan uji validitas dan reliabilitas instrumen kepada 19 siswa kelas IV sebagai subjek penelitian. Pelaksanaan pretest dilakukan sebelum penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS), kemudian perlakuan (treatment) berupa pembelajaran IPS materi keberagaman sosial dan budaya menggunakan model TPS dilaksanakan dalam beberapa pertemuan. Setelah seluruh sesi pembelajaran selesai, posttest diberikan untuk mengukur peningkatan hasil belajar siswa. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS versi 31.0.2.0 melalui serangkaian uji statistik meliputi uji validitas, reliabilitas, normalitas, dan Wilcoxon Signed Rank Test. Adapun hasil dari setiap tahapan analisis tersebut disajikan sebagai berikut. Hasil Belajar merupakan salah satu indikator penting dalam menilai keberhasilan proses pembelajaran, karena mencerminkan tingkat pemahaman, penguasaan materi, serta perubahan kemampuan belajar siswa.

Dalam penelitian ini berfokus pada pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe think pair share terhadap Hasil Belajar IPS siswa sekolah dasar. Berdasarkan hasil uji validitas instrumen yang dilakukan menggunakan korelasi Pearson Product Moment dengan jumlah responden sebanyak 19 siswa (df = 17), diperoleh nilai r tabel sebesar 0,455 pada taraf signifikansi 0,05. Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, uji validitas instrumen menunjukkan bahwa dari 15 butir soal yang digunakan dalam penelitian, sebanyak 13 butir soal dinyatakan valid karena memiliki nilai signifikansi kurang dari 0,05 dan nilai r hitung lebih besar dari rtabel (0,455). Sementara itu, terdapat 2 butir soal yang dinyatakan tidak valid karena nilai signifikansinya lebih besar dari 0,05, sehingga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan skor total. Dengan demikian, butir soal yang valid dapat digunakan sebagai instrumen penelitian, sedangkan butir yang tidak valid perlu direvisi atau tidak digunakan. Hasil lengkap uji validitas instrumen dapat dilihat pada Tabel 2.

Item R Tabel R Hitung Signifikansi keputusan
Soal 1 0.455 0,658 0,002 Valid
Soal 2 0.455 0,734 <0,001 Valid
Soal 3 0.455 0,759 <0,001 Valid
Soal 4 0.455 0,584 0,009 Valid
Soal 5 0.455 0,868 <0,001 Valid
Soal 6 0.455 0,542 0,017 Valid
Soal 7 0.455 0,766 <0,001 Valid
Soal 8 0.455 0,107 0.664 Tidak valid
Soal 9 0.455 0,542 0.017 Valid
Soal 10 0.455 0,068 0,782 Tidak valid
Soal 11 0.455 0,868 <0,001 Valid
Soal 12 0.455 0,636 0,003 Valid
Soal 13 0.455 0,868 <0,001 Valid
Soal 14 0.455 0,734 <0,001 Valid
Soal 15 0.455 0,502 0,029 Valid
Table 2.

Selanjutnya, hasil uji reabilitas menunjukkan bahwa koefisien cronbach’s alpha sebesar 0,902 yang lebih besar dari 0,60. Hal ini menandakan bahwa instrumen yang digunakan dalam penelitian ini memiliki tingkat reabilitas yang tinggi dan dapat dipercaya untuk menghasilkan data yang konsisiten. Hasil uji reabilitas dapat dilihat pada tabel 3 berikut.

Tabel 3. Uji Reliabilitas

Cronbach’s Alpha N of Item
.902 15
Table 3.

Pada pengujian normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk, dengan sampel penelitian sebanyak 19 orang maka digunakan uji Shapiro-Wilk. Hasilnya menunjukkan nilai signifikansi untuk pretest sebesar 0,007 dan untuk postest sebesar 0,169. Karena diperoleh nilai signifikansi (Sig.) pada data pretest sebesar 0,007 dan pada data posttest sebesar 0,169. Nilai signifikansi pretest lebih kecil dari 0,05 (0,007 < 0,05), sehingga data pretest tidak berdistribusi normal. Sedangkan nilai signifikansi posttest lebih besar dari 0,05 (0,169 > 0,05), sehingga data posttest berdistribusi normal. Karena salah satu data tidak berdistribusi normal, maka uji hipotesis selanjutnya menggunakan uji non-parametrik yaitu Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 4 berikut.

Tabel 4. Uji Normalitas

Kolmogorov- Smirnov a Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Pretest .233 19 .008 .851 19 .007
Posttest .247 19 .003 .929 19 .169
Table 4.

Karena yang diperoleh dalam pengujian normalitas tidak berdistribusi normal maka digunakan uji non-parametrik Wilcoxon Signed Rank Test. Berdasarkan hasil analisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test , diperoleh nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar < 0,001. Nilai tersebut lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest siswa. Dengan demikian, hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nol (H₀) ditolak. Nilai Z sebesar -3,712 menunjukkan bahwa skor posttest mengalami peningkatan dibandingkan skor pretest. Hal ini mengindikasikan bahwa setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share, hasil belajar siswa mengalami perubahan yang signifikan secara statistik. Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test dapat dilihat dalam tabel 5 berikut.

Tabel 5. Uji wilcoxon Signed Rank Test.

POSTTEST
-
PRETEST
Z - 3.712b
Asymp. Sig. (2-tailed) < .001
Table 5.

Hasil belajar merupakan tolok ukur penting dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan pembelajaran di sekolah dasar. Pencapaian tersebut tidak semata-mata menggambarkan penguasaan materi, tetapi juga menunjukkan kemampuan siswa dalam memahami, mengolah, serta menerapkan konsep yang telah dipelajari. Dalam pembelajaran sosial, materi tentang keberagaman sosial dan budaya menuntut partisipasi peserta aktif didik agar pemahaman yang terbentuk tidak bersifat hafalan, melainkan bersifat konseptual dan kontekstual. Oleh karena itu, pemilihan model pembelajaran yang mampu mendorong keterlibatan siswa secara aktif menjadi unsur yang sangat menentukan dalam peningkatan hasil belajar. Model pembelajaran aktif Think Pair Share mampu mendorong keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran sehingga capaian akademik siswa meningkat secara signifikan melalui kolaborasi berpikir individu, diskusi berpasangan, dan presentasi kelompok.

Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share memberikan kesempatan luas kepada siswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan belajar. Pada tahap think , siswa diarahkan untuk memikirkan dan menganalisis permasalahan secara mandiri. Tahapan ini melatih kemampuan berpikir kritis sekaligus membantu siswa membangun pemahaman awal berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki. Selanjutnya pada tahap pair , siswa berdiskusi dengan berpasangan untuk mendiskusikan gagasan dan meninjau kembali jawaban yang telah disusun. Proses interaksi ini memungkinkan terjadinya klarifikasi konsep serta perbaikan kesalahan pemahaman melalui dialog yang terarah. Tahap share memberi ruang bagi siswa untuk mendokumentasikan hasil diskusi kepada seluru teman sekelasnya selain itu juga dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada siswa. Model Think Pair Share terbukti memberikan pengaruh positif terhadap aktivitas dan hasil belajar IPS siswa, karena proses diskusi berpasangan dan presentasi kelompok membantu klarifikasi konsep dan peningkatan pemahaman melalui interaksi sosial yang terarah[16].

Terdapat temuan dalam penelitian yang telah dilakukan dalam lapangan pada saat pembelajaran berlangsung disesi pembagian kelompok yang seharusnya, apabila sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran dibagi beberapa kelompok di dalam kelas beranggotakan 2 orang atau berpasangan namun pada saat awal pretest hampir seluruh siswa tidak ada yang berkenan berbagi kelompok dengan salah satu temannya dan pada saat awal pembelajaran sebelum di terapkannya model pembelejaran siswa cenderun pasif dalam kelas, setelah para siswa menerima pembelajaran dengan model kooperatf tipe think pair share perubahan suasana terjadi dari yang awalnya memilih teman akhirnya mau dengan teman yang tidak biasa dengannya, yang awalnya malu untuk menyampaikan pendapat di depan kelas akhirnya mereka antusias untuk maju kedepan dalam sesi presentasi.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest setelah penerapan model Think Pair Share . Temuan ini menunjukkan bahwa model tersebut memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan Hasil Belajar siswa. Keterlibatan aktif dalam setiap tahapan pembelajaran membantu siswa memahami manfaat keberagaman, mengidentifikasi berbagai bentuk keberagaman sosial dan budaya, serta menyadari pentingnya sikap menerima perbedaan dalam kehidupan sehari-hari. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share efektif dalam mendukung peningkatan hasil belajar siswa sekolah dasar. Melalui kegiatan berpikir mandiri, diskusi berpasangan, dan berbagi dalam kelompok, siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih mendalam dan bermakna. Model ini dapat dijadikan alternatif strategi pembelajaran yang relevan untuk mengoptimalkan pencapaian hasil belajar, khususnya pada materi yang menekankan pemahaman konsep dan penguatan nilai-nilai sosial.

IV. Simpulan

Berdasarkan permasalahan utama yang dikaji dalam penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dalam konteks pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan Hasil Belajar IPS pada siswa tingkat sekolah dasar. Kemudian, hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai Asymp.Sig. (2-tailed) sebesar < 0,001 yang lebih kecil dari 0,05, sehingga hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nol (H₀) ditolak. Temuan ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest setelah penerapan model TPS. Nilai Z sebesar -3,712 menunjukkan bahwa skor posttest mengalami peningkatan dibandingkan skor pretest. Dengan demikian, model ini efektif dalam meningkatkan hasil belajar. Peningkatan tersebut tidak hanya terlihat dari aspek kuantitatif berupa perolehan nilai, tetapi juga dari perubahan pemahaman siswa terhadap materi keberagaman sosial dan budaya. Siswa menjadi lebih mampu menjelaskan manfaat keberagaman, menyebutkan contoh keberagaman sosial dan budaya, serta memahami pentingnya menerima perbedaan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menekankan pentingnya penerapan model pembelajaran oleh guru sekolah dasar dalam pembelajaran IPS untuk mencapai hasil belajar yang lebih optimal, sehingga tujuan pembentukan siswa yang cakap dan bertanggung jawab dapat tercapai.

V. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan masukan yang diperoleh, terdapat beberapa saran yang perlu diperhatikan untuk penelitian selanjutnya. Dari sisi instrumen, jumlah butir soal perlu diperbanyak menjadi minimal 20–30 butir agar setiap indikator terwakili secara lebih proporsional dan seleksi butir dapat dilakukan lebih ketat. Dari sisi fokus kajian, penelitian selanjutnya disarankan untuk menggeser pengukuran dari ranah kognitif yang sudah banyak dikaji ke hasil belajar sosial pada ranah afektif dan psikomotorik, seperti sikap toleransi, empati, dan perilaku kerja sama yang diukur melalui observasi langsung atau skala sikap, sehingga kontribusinya lebih orisinal. Selain itu, cakupan subjek perlu diperluas ke lebih dari satu sekolah agar hasil penelitian lebih representatif dan dapat digeneralisasikan. Peneliti berharap temuan ini menjadi pijakan bagi pengembangan kajian model Think Pair Share yang lebih komprehensif, khususnya dalam konteks pembelajaran IPS di sekolah dasar yang beragam dan inklusif.

References

M. N. Annisa, A. Wiliah, and N. Rahmawati, “Pentingnya Pendidikan Karakter pada Anak Sekolah Dasar di Zaman Serba Digital,” vol. 2, pp. 35–48, 2020.

W. Damayanti, M. Darmawan, and K. Wardana, “The Correlation Between Teacher’s Pedagogical Competence and Student’s Affective Learning Outcomes in Elementary Schools [Hubungan Kompetensi Pedagogik Guru Terhadap Hasil Belajar Afektif Siswa di Sekolah Dasar],” pp. 1–9.

T. Lickona, “W i e c e?,” 2001.

E. Novianti and F. Tirtoni, “The Effect of Digital Interactive Book Media on Learning Outcomes of Indonesian Cultural Diversity Material for Grade V Students [Pengaruh Media Buku Interaktif Digital Terhadap Hasil Belajar Materi Keberagaman Budaya Indonesia Siswa Kelas V],” pp. 1–9.

H. Wijaya, Model Pembelajaran Think Pair Share Berbasis Pendidikan Karakter. 2021.

“Pengembangan Keterampilan Sosial Siswa melalui Pendekatan Pembelajaran Kolaboratif,” vol. 6, no. 2, pp. 286–291, 2024.

P. I. Sayekti and L. E. Rahmawati, “Penerapan Literasi Finansial pada Siswa Sekolah Dasar dan Dampaknya terhadap Keterampilan Berwiraswasta,” vol. 14, no. 3, pp. 5677–5690, 2025.

“K. Dasar,” 2018, ISBN: 978-602-5610.

P. Setiawan, Nababan, and Saragih, “Nilai Sosial dalam Novel ‘Kami Lintang’ Karya Yunita R. Saragi sebagai Referensi Pendidikan Inklusif di Sekolah,” J. Basataka, vol. 6, no. 1, pp. 9–18, 2023.

N. Aini, “Efektivitas Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) dalam Meningkatkan,” J. Educ., vol. 5, no. 2, pp. 807–814, 2025.

Swandewi, K. Suarni, and W. Lasmawan, “Pengaruh Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Berbantuan Question Cards terhadap Sikap Sosial dan Hasil Belajar IPS Siswa,” PENDASI J. Pendidik. Dasar Indones., vol. 3, no. 1, pp. 1–11, 2019.

G. A. M. Ernawati, D. N. Sudana, and N. W. Rati, “Pengaruh Model TPS Bermuatan Kearifan Lokal Menyama Braya terhadap Sikap Sosial dan Penguasaan Kompetensi Pengetahuan IPS,” J. Pendidik. IPS Indones., vol. 3, no. 1, pp. 53–60, 2019, doi: 10.23887/pips.v3i1.2876.

N. P. M. Cahyani, N. Dantes, and N. W. Rati, “Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS terhadap Hasil Belajar IPS,” J. Penelit. dan Pengemb. Pendidik., vol. 4, no. 3, p. 362, 2020, doi: 10.23887/jppp.v4i3.27410.

Gunawan, “Implementasi Manajemen Pendidikan Karakter dalam Mengembangkan Minat, Sikap dan Perilaku Positif Siswa di MA Nurul Iman Kasui Kabupaten Way Kanan,” Innov. J. Soc. Sci. Res., vol. 3, no. 3, pp. 6328–6341, 2023.

Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, 2020.

“Bab III Metode Penelitian: Jenis dan Desain Penelitian,” pp. 50–64, 2012.

S. Awaliya, Muhyani, and Andestend, “Pengaruh Penerapan Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) terhadap Karakter Religius dan Disiplin Siswa Kelas V di SDN Gunung Putri 04,” Al Ibtidaiyah J. Pendidik. Guru Madrasah Ibtidaiyah, vol. 6, no. 1, pp. 38–48, 2025, doi: 10.46773/ibtidaiyah.v6i1.1939.

S. P. Purwanto and D. A. Romadlon, “Implementation of TPS (Think Pair Share) Model Cooperative Learning Strategy to Improve Student Character in Moral Beliefs Subject [Implementasi Strategi Pembelajaran Kooperatif Model TPS (Think Pair Share) untuk Meningkatkan Karakter Siswa pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak],” pp. 1–11.

Sekarwati, S. T. Widodo, W. A. Azizah, and N. Kristiyanti, “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Kerjasama Siswa Kelas V SD,” J. Ilm. PGSD FKIP Univ. Mandiri, vol. 9, pp. 1826–1836, 2023.

L. Rosalina, R. Oktarina, Rahmiati, and I. Saputra, Buku Ajar Statistika, 2023.

Sapriya, Pendidikan IPS: Konsep dan Pembelajaran. Bandung, Indonesia: PT Remaja Rosdakarya, 2017.

Trianto, Model Pembelajaran Terpadu: Konsep, Strategi, dan Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta, Indonesia: Bumi Aksara, 2015.

S. A. Arisma and Z. Fihayati, “The Effect of Learning Styles (Visual, Auditorial, and Kinesthetic/VAK) on Cognitive Learning Outcomes of Elementary School Students’ Mathematics [Pengaruh Gaya Belajar (Visual, Auditorial, dan Kinestetik/VAK) terhadap Hasil Belajar Kognitif Matematika Siswa Sekolah Dasar],” pp. 1–8, 2025.

Nazariah, “Peningkatan Hasil Belajar Siswa dengan Model Pembelajaran Think Pair Share pada Materi Jarak, Waktu dan Kecepatan,” ASIMETRIS: J. Pendidik. Mat. dan Sains, vol. 3, no. 1, pp. 13–17, 2022.

S. Awaliya, “Pengaruh Penerapan Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) terhadap Karakter Religius dan Disiplin Siswa Kelas V di SDN Gunung Putri 04,” Al Ibtidaiyah: J. Pendidik. Guru Madrasah Ibtidaiyah, vol. 6, no. 1, pp. 38–48, 2025.

B. B. Maulidiyah and M. Indrakurniawan, “The Application of the Think Pair Share Model in IPAS Learning to Improve Learning Outcomes of Elementary School Students [Penerapan Model Think Pair Share dalam Pembelajaran IPAS untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar],” pp. 1–8, 2025.

N. F. Sari, F. Fakhriyah, and Y. Ratnasari, “Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Sekolah Dasar,” Cokroaminoto J. Prim. Educ., vol. 8, no. 3, pp. 1297–1310, 2025.

P. Lestari, D. Lestari, K. Tunnisa, and Y. E. Putri, “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) untuk Meningkatkan Keterampilan Sosial Siswa Madrasah Ibtidaiyah,” JPT: J. Pendidik. Tematik, vol. 6, no. 1, pp. 79–82, 2025.

N. Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung, Indonesia: PT Remaja Rosdakarya, 2009.

H. Isnaini and R. Fanreza, “Pentingnya Pendidikan Karakter di Sekolah,” Semantik: J. Riset Ilmu Pendidik., Bahasa dan Budaya, vol. 2, no. 4, pp. 279–297, 2024.