Kharisma Putri Andini (1), Supriyadi (2)
General Background: Character education in primary schools is important for developing students who are able to participate, communicate, and cooperate with others. Specific Background: In classroom learning at SD Negeri Ketajen 2, some fourth-grade students were still passive, lacked initiative, had limited confidence in expressing opinions, and tended to work individually during group activities. Knowledge Gap: These classroom conditions indicate the need to examine how learning activities can provide direct experiences that encourage cooperation and mutual assistance among students. Aims: This study analyzes the implementation of the Project-Based Learning model in developing the mutual cooperation attitude of fourth-grade students in Pendidikan Pancasila at SD Negeri Ketajen 2. Results: Using a qualitative approach, the study involved one teacher and 25 students and collected data through observation, interviews, and documentation. The findings show that project activities encouraged students to participate more actively, divide tasks, exchange ideas, help peers, communicate, assume collective responsibility, and respect the contributions of group members. Students who were previously more passive or preferred to work individually began to participate more actively in group activities. The implementation also faced challenges related to differences in student characteristics and limited learning time. Novelty: The study presents the implementation of Project-Based Learning in Pendidikan Pancasila with specific attention to the development of mutual cooperation among fourth-grade students at SD Negeri Ketajen 2. Implications: Project-based activities provide direct collaborative experiences that can support character education, particularly the value of mutual cooperation in primary school learning.
Key Findings Highlights
Students became more active in discussions, task sharing, and group activities.
Collaborative projects encouraged responsibility, peer support, communication, and respect.
Differences in student characteristics and limited learning time remained implementation challenges.
Keywords : Project-Based Learning, Mutual Cooperation, Pendidikan Pancasila, Character Education, Primary School
Pendidikan sebagai salah satu aspek kehidupan manusia yang memegang peranan krusial dalam membentuk generasi yang cerdas, arif, dan berkarakter. Ini sejalan dengan definisi pendidikan menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1, yaitu pendidikan merupakan upaya yang direncanakan dan sadar untuk menciptakan suasana belajar serta Melalui proses tersebut, peserta didik diharapkan mampu menumbuhkan dan memperkuat kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian yang matang, kecerdasan, serta akhlak yang mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh individu, masyarakat, bangsa, dan negara [1]. Pendidikan Pancasila adalah mata pelajaran yang menggabungkan konten mengenai Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan. Tujuan dari mata pelajaran ini adalah untuk mendidik siswa agar mereka dapat menjadi warga negara yang cerdas. Selain memiliki kecerdasan, diharapkan mereka juga akan memiliki tanggung jawab, kepercayaan, dan kejujuran. Pendidikan Pancasila berperan penting dalam membentuk dan menerapkan Profil Pelajar Pancasila dengan cara mempelajari aspek kewarganegaraan berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, semangat Bhinneka Tunggal Ika, serta komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia [2].
Materi Pendidikan Pancasila berfungsi untuk meningkatkan kemampuan siswa sebagai warga negara yang baik. Kecerdasan emosional, akademik, dan spiritual merupakan hal terpenting dalam hidup, jadi semuanya harus dikembangkan sebaik mungkin dalam pendidikan. Kecerdasan akademik sangat terkait dengan otak manusia, yang adalah sistem alam paling rumit [3]. Gotong royong sangat berhubungan dengan sikap yang diperoleh saat mengikuti Pelajaran PPKn. Di sekolah dasar, pengajaran nilai kerja sama dalam pelajaran PPKn muncul saat siswa menghadapi tugas kelompok. Sebagai contoh, mereka belajar untuk menyelesaikan masalah yang diberikan oleh guru dalam pelajaran PPKn [4].
Sikap gotong royong adalah salah satu ciri khas dari masyarakat Indonesia. Nilai ini penting dan harus dijunjung oleh bangsa Indonesia. Gotong royong merujuk pada tindakan individu yang dilakukan dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan, yang bertujuan untuk bekerja sama demi kepentingan bersama atau kepentingan orang lain. Ini adalah bentuk kolaborasi di mana seseorang berpartisipasi dalam sebuah kegiatan bersama orang lain, tanpa meminta sesuatu kembali [5]. Gotong royong dapat diartikan sebagai sikap atau aktivitas yang dilakukan oleh orang-orang dalam masyarakat dengan cara bekerja sama dan saling membantu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan atau menghadapi masalah, tanpa mengharapkan ganjaran [6]. Dengan kata lain, gotong royong adalah sikap saling membantu dalam mengatasi tugas atau masalah secara kolaboratif dengan sukarela, tanpa mengharapkan imbalan dari anggota komunitas [7].
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, hasil dari observasi mengenai siswa dan suasana belajar di dalam kelas menunjukkan bahwa siswa di SD Negeri Ketajen 2 memiliki berbagai karakteristik. Sehingga dalam proses belajar, siswa memerlukan berbagai inovasi. Setelah melakukan pembelajaran terarah pada siklus satu, berdasarkan apa yang diamati, siswa menunjukkan kurangnya inisiatif dan partisipasi dalam kegiatan belajar di kelas. Contoh yang jelas terlihat adalah saat pembentukan kelompok, waktu yang digunakan siswa cukup lama. Meskipun demikian, guru telah mencoba merencanakan dan mengembangkan metode pembelajaran yang mendorong siswa untuk belajar secara kelompok. Salah satu model yang digunakan adalah Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL).
Berdasarkan hasil penelitian pembelajaran yang berbasis proyek atau PjBL merupakan suatu pendekatan belajar yang fokus pada aktivitas yang berkaitan dengan materi pelajaran melalui sebuah proyek atau kegiatan sebagai sarana dalam proses pengajaran. Dengan menggunakan metode ini, para siswa lebih aktif terlibat sepanjang proses pembelajaran. Peran guru dalam hal ini adalah sebagai fasilitator yang mengevaluasi hasil kerja proyek yang disajikan oleh siswa sebagai hasil akhir dari pembelajaran tersebut [8]. Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) merupakan metode yang menekankan pada proyek sebagai pusat kegiatan belajar. Dalam pendekatan ini, siswa diharuskan untuk menyelesaikan suatu masalah. Selanjutnya, mereka harus menggali, menyelidiki, dan menemukan solusi sendiri. Dengan cara ini, siswa mendapatkan pemahaman yang komprehensif melalui penerapan ide atau gagasan baru yang muncul dari konsep, teori, atau informasi yang telah ada sebelumnya [9].
Berdasarkan penelitian Model PjBL atau Pembelajaran Berbasis Proyek, adalah pendekatan yang sejalan dengan kebijakan pemerintah yang memanfaatkan proyek sebagai sarana untuk belajar dan menilai hasil akhir. Model pembelajaran yang menggunakan Pembelajaran Berbasis Proyek ini adalah sesuai dengan kurikulum 2013 dan juga sejalan dengan kurikulum merdeka. Kurikulum tersebut adalah yang saat ini sedang diterapkan [10]. Metode pembelajaran PJBL juga memanfaatkan media pembelajaran. Selama pelaksanaan suatu proses pembelajaran, penting untuk memiliki kerangka pengajaran yang dapat memastikan kelangsungan proses belajar mengajar. Dalam kegiatan pembelajaran, berbagai model diterapkan. Setiap program yang pernah dilaksanakan pastinya memiliki model pembelajaran yang unggul. Dalam penerapan Kurikulum Merdeka, model pembelajaran berbasis proyek diakui sebagai salah satu pilihan yang disarankan [11].
Model pembelajaran merupakan suatu pendekatan yang memiliki prosedur sistematis dan diterapkan dalam proses pembelajaran untuk menjamin agar pembelajaran berlangsung secara efisien dan mencapai indikator pembelajaran yang optimal, baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotorik [12]. Widiastutik menyatakan bahwa model pembelajaran adalah suatu perencanaan jangka panjang yang digunakan untuk mengarahkan kegiatan, menyusun rencana pembelajaran, atau merancang bahan-bahan pembelajaran. Penggunaan model pembelajaran harus memotivasi siswa untuk belajar, terutama ketika menggunakan metode pembelajaran yang beragam, yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan tantangan mereka sendiri dan mengamati apakah tindakan mereka terkait dengan pembelajaran [13]. Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran Project Based Learning, diharapkan siswa akan terlibat dalam memahami masalah yang ada di masyarakat dan secara proaktif mencari solusinya, sehingga mereka dapat memperoleh manfaat yang signifikan, baik dalam hal prestasi akademik, keterampilan sosial, dan rasa empati yang mereka tunjukkan.
Melalui kombinasi metode Pembelajaran Berbasis Proyek dengan materi dari pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, diharapkan siswa akan mendapatkan keterampilan berpikir analitis. Kemampuan ini dianggap sebagai salah satu dari berbagai kemampuan berpikir tingkat tinggi yang diperlukan oleh setiap siswa. Pembelajaran Berbasis Proyek dirancang untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menangani masalah yang berhubungan dengan proyek, mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru selama perjalanan belajar mereka, mendorong partisipasi aktif dari siswa dalam menyelesaikan proyek-proyek kompleks yang memberikan hasil yang nyata, mengembangkan kemampuan mereka dalam mengelola alat atau bahan untuk menyelesaikan proyek, dan meningkatkan kolaborasi di antara para siswa, terutama dalam konteks PjBL berbasis kelompok [14].
Dengan mempertimbangkan latar belakang tersebut, peneliti merasa tertarik untuk melaksanakan penelitian yang berjudul “Analisis Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Proyek dalam Meningkatkan Sikap Gotong Royong Siswa Sekolah Dasar” pemilihan model Pembelajaran Berbasis Proyek dilakukan oleh peneliti bertujuan untuk menganalisis model Pembelajaran Berbasis Proyek pada pembelajaran Pendidikan Pancasila untuk meningkatkan sikap bergotong royong siswa kelas IV SD Negeri Ketajen 2. Dengan model ini, guru dapat menghadirkan pengalaman belajar baru bagi siswa. Hal ini juga sangat relevan dengan kebutuhan pembelajaran pada era saat ini. Model pembelajaran berbasis proyek ini dapat diterapkan di semua mata pelajaran pada tingkat sekolah dasar. Dalam konteks ini, peneliti menerapkan model Pembelajaran Berbasis Proyek pada pelajaran Pendidikan Pancasila agar siswa terbiasa menemukan keseimbangan antara menjaga dan merawat lingkungan kita serta sikap simpati dan empati kepada sesama, yang tercermin dalam karakter bergotong royong.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif dilakukan untuk memperoleh data dan informasi yang lebih menyeluruh, mendalam, dan bermakna, sehingga tujuan penelitian dapat tercapai. Penelitian kualitatif merupakan suatu metode yang menghasilkan analisis prosedur dan tidak melibatkan analisis statistik atau cara kuantifikasi lainnya. Tujuan dari penelitian kualitatif adalah untuk meraih pemahaman yang mendalam dan menyeluruh mengenai fenomena sosial melalui pengumpulan data kualitatif, yang meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pelaksanaan penelitian ini terbagi ke dalam beberapa tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap pelaporan.
Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan tujuan untuk meningkatkan kolaborasi siswa melalui penggunaan model pembelajaran berbasis proyek. Metode kualitatif dipilih karena memberikan kesempatan bagi guru untuk langsung mengenali tantangan dalam pembelajaran, merencanakan solusi, melaksanakan tindakan, dan menilai hasilnya secara teratur [15]. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif ini, diharapkan para guru bisa menemukan cara yang efektif untuk menerapkan model pembelajaran berbasis proyek. Tujuannya adalah untuk meningkatkan sikap kerjasama di antara siswa. Selain itu, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi sekolah dalam mengembangkan metode pembelajaran yang lebih kolaboratif dan interaktif. Oleh karena itu, penelitian ini tidak hanya bermanfaat untuk kelas yang diteliti, tetapi juga dapat diterapkan di kelas-kelas lain yang memiliki kondisi serupa [16]. Subjek penelitian adalah 1 guru kelas fase B dan 25 siswa fase B di SD Negeri Ketajen 2 Sidoarjo.
Metode pengumpulan data terdiri dari tiga teknik utama, yaitu: Observasi, di mana peneliti harus melihat secara langsung proses pembelajaran, aktivitas proyek siswa, dan interaksi yang menunjukkan nilai kebersamaan. Observasi ini dilakukan secara partisipatif agar peneliti dapat memahami keseluruhan dinamika di dalam kelas. Wawancara, yang dilaksanakan dengan kepala sekolah, guru kelas, dan siswa, bertujuan untuk menggali pandangan, pengalaman, dan respons mereka terhadap penggunaan PjBL serta dampaknya pada karakter siswa. Teknik dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data tambahan yang berupa foto-foto kegiatan proyek, catatan pembelajaran, perangkat ajar, dan produk karya siswa dalam proyek yang berlandaskan kebersamaan. Metode pengumpulkan data adalah langkah yang sangat penting dalam sebuah penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah memperoleh informasi yang didapat melalui wawancara, observasi dan dokumentasi [17].
Model analisis data yang diterapkan adalah menurut Sugiyono, metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti kondisi objek alami, seperti lawannya adalah eksperimen di mana peneliti berperan sebagai instrumen utama. Teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif atau kualitatif, serta hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Selanjutnya, setelah data dikumpulkan, tahap yang perlu dilakukan adalah memeriksa keabsahan data [18].
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Ketajen 2, khususnya di kelas IV, dengan tujuan untuk meneliti bagaimana model Pembelajaran Berbasis Proyek dapat meningkatkan sikap kerjasama antar siswa. Metode yang digunakan adalah pendekatan yang menggambarkan pengalaman nyata yang dialami oleh siswa dan guru selama proses belajar mengajar. Pendekatan ini dipilih karena dapat menggali arti dari pengalaman nyata yang dirasakan oleh subjek penelitian dalam konteks pembelajaran yang berbasis pada proyek.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, siswa di kelas IV SD Negeri tersebut. Ketajen 2 menunjukkan berbagai sifat yang beragam. Keragaman ini terlihat dalam kemampuan akademik, tingkat keterlibatan dalam proses belajar dan mampu bekerja sama dalam kelompok. Sebelum model Pembelajaran Berbasis Proyek Diterapkan, kebanyakan siswa sering kali memiliki sikap yang tidak aktif. Tidak bersemangat, kurang percaya diri saat menyampaikan pendapat, dan lebih suka bekerja sendiri meskipun sedang berada dalam sebuah kelompok. Kondisi ini menunjukkan bahwa diperlukan model pembelajaran yang bisa meningkatkan partisipasi aktif siswa, membantu mereka lebih percaya diri, dan memperkuat kerja sama antar siswa.
1. Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start with the Essential Question)
Berdasarkan hasil penelitian, tahap awal penerapan pembelajaran berbasis proyek di kelas IV SD Negeri Ketajen 2 dimulai dengan menentukan pertanyaan utama yang berkaitan dengan materi pembelajaran tematik. Guru merancang pertanyaan yang sesuai dengan konteks dan kehidupan sehari-hari siswa sehingga dapat memicu rasa ingin tahu dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Soal yang diberikan tidak hanya menguji pengetahuan, tetapi kemampuan berpikir juga mendorong siswa untuk berpikir dengan cara yang lebih baik dan bekerja bersama dalam mencari jawaban. Saat pembelajaran berlangsung, para siswa mulai terlihat lebih aktif dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Beberapa siswa yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat, meskipun masih ada yang ragu-ragu. Interaksi awal ini merupakan dasar penting dalam menciptakan suasana pembelajaran yang kolaboratif. Pada tahap ini, sikap gotong royong mulai terlihat dalam bentuk sederhana, seperti saling membantu memahami pertanyaan dan berdiskusi secara santai dengan teman sebangku.
2. Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project)
Guru merencanakan pelaksanaan model Pembelajaran Berbasis Proyek di kelas IV dengan pendekatan yang terstruktur dan sistematis. Dalam menyusun modul ajar atau RPP, guru mempertimbangkan kesesuaian antara tema pembelajaran dan karakteristik siswa. Di samping itu, guru juga menyusun langkah-langkah pembelajaran.
Figure 1.
Gambar 1. Perencanaan Project Bassed Learning
3. Penyusunan Jadwal (Create a Schedule)
Pada saat membuat jadwal, guru dan siswa bersama-sama menentukan kapan proyek dilaksanakan serta batas waktu untuk menyelesaikan tugasnya. Guru memberikan petunjuk agar setiap kelompok mampu mengelola waktu secara efektif sehingga proyek dapat diselesaikan secara optimal. Siswa terlibat dalam membuat jadwal kerja kelompok, sehingga mereka bertanggung jawab atas waktu yang sudah disepakati. Dalam kegiatan sehari-hari, siswa mulai belajar mengatur waktu dan menyesuaikan kegiatan kelompok sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Sikap gotong royong pada tahap ini terlihat dari adanya kesepakatan bersama mengenai jadwal kerja, serta komitmen untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai peran masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa siswa tidak hanya belajar bekerja sama, tetapi juga belajar bertanggung jawab secara kolektif.
4. Pelaksanaan dan Pemantauan Proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project)
Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek di kelas IV SD Negeri Ketajen 2 berlangsung dengan suasana aktif yang berfokus pada siswa. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok heterogen, yang bervariasi dari segi kemampuan akademis hingga karakter. Setiap kelompok diberikan proyek yang harus mereka selesaikan bersama dalam waktu yang telah ditentukan. Selama proses pembelajaran, guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan bimbingan, memantau kegiatan siswa dan membantu mereka ketika mengalami kesulitan tanpa mengambil alih pembelajaran. Saat proyek berjalan, para siswa sangat aktif dan terlibat secara kelompok. Mereka tampak sedang berdiskusi dengan semangat untuk menggali ide dan berbagi pemikiran, membagi tugas dan menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan peran masing-masing. Interaksi antar siswa berlangsung secara alami, baik melalui kerja sama, saling membantu, serta berkomunikasi untuk menyelesaikan masalah yang timbul selama pengerjaan proyek. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan Pembelajaran Berbasis Proyek dapat menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif dan partisipatif.
Figure 2.
Gambar 2. Pelaksanaan Proyek
5. Penilaian Hasil Proyek (Assess the Outcome)
Pada tahap penilaian hasil proyek, guru mengevaluasi produk yang dibuat siswa serta cara kerja kelompok mereka. Penilaian tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada keterlibatan siswa selama proses pembelajaran. Guru memberi tanggapan atas tugas yang dikerjakan siswa, baik sendiri maupun berkelompok. Menurut hasil penelitian, siswa merasa bangga dengan hasil kerja kelompok mereka. Sikap gotong royong terlihat dari perasaan memiliki terhadap hasil kerja bersama, serta rasa hormat terhadap usaha setiap orang dalam kelompok. Siswa menyatakan bahwa keberhasilan proyek merupakan hasil kerja sama seluruh anggota kelompok, bukan hanya hasil kerja individu.
6. Evaluasi dan Refleksi Pengalaman (Evaluate the Experience)
Hasil pengamatan menunjukkan adanya perubahan yang cukup besar dalam cara siswa bekerja sama. Siswa yang dulu lebih suka bekerja sendirian mulai menyadari betapa pentingnya kerja sama. Mereka tidak hanya memperhatikan tugas sendiri, tetapi juga memikirkan bagaimana kelompok bisa berhasil secara keseluruhan. Sikap saling bantu itu semakin terasa, terutama ketika siswa secara sukarela memberikan dukungan kepada teman yang kesulitan memahami materi atau menyelesaikan tugas proyek yang diberikan.
Berdasarkan wawancara dengan guru kelas IV, metode pembelajaran berupa proyek membawa dampak positif pada perkembangan sikap sosial para siswa. Guru tersebut menyebutkan bahwa saat ini siswa menunjukkan peningkatan dalam rasa tanggung jawab, lebih menghargai pendapat orang lain, dan semakin terampil dalam hal-hal tersebut. Berkolaborasi. Selain itu, suasana kelas sekarang lebih hidup, lebih bisa berkomunikasi, dan interaksi antar siswa lebih baik dibandingkan dulu yang masih menggunakan metode lama.
Meski begitu, penerapan pembelajaran berbasis proyek tetap mengalami beberapa kesulitan. Salah satu kendala yang dihadapi adalah perbedaan sifat antara siswa, di mana ada siswa yang lebih aktif dalam saat berdiskusi, ada siswa yang suka berbicara, sedangkan ada siswa lain yang lebih suka diam dan tidak berbicara, banyak mengucapkan pendapat. Selain itu, waktu yang terbatas dalam proses pembelajaran juga menjadi tantangan. Model ini membutuhkan waktu yang lebih lama untuk merencanakan, mengerjakan, dan mengevaluasi proyek. Namun, guru berusaha untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode Pembelajaran Berbasis Proyek di SD Negeri Ketajen 2 kelas IV memberikan pengalaman belajar yang berarti untuk siswa. Dalam pendekatan kualitatif, pengalaman langsung yang didapat siswa saat bekerja dalam kelompok menjadi elemen penting dalam pembentukan sikap kerjasama. Mereka tidak hanya menerima informasi pelajaran, tetapi juga merasakan proses kerjasama, komunikasi, dan tanggung jawab bersama saat menyelesaikan proyek. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teori Pembelajaran Berbasis Proyek benar-benar mendukung cara belajar yang melibatkan pengalaman langsung dan kerja sama antar siswa. Dengan bekerja berkelompok, siswa belajar berkerjasama, membagi pekerjaan secara jujur, dan menyelesaikan masalah bersama-sama. Proses ini secara tidak langsung meningkatkan rasa kerja sama antar siswa, karena mereka mulai menyadari bahwa keberhasilan suatu proyek sangat bergantung pada partisipasi dan kontribusi setiap anggota kelompok.
Secara dasar, gotong royong adalah cara hidup dan keberadaan yang berasal dari masyarakat Indonesia yang sederhana, serta sangat berkaitan dengan Pancasila. Nilai-nilai gotong royong juga tertulis dalam dasar negara Indonesia. Nilai ini menjadi fondasi dari filosofi Pancasila, yang mencakup hal-hal seperti nilai spiritual, musyawarah dan mufakat, solidaritas, serta keadilan. Semangat kerja sama yang muncul dari gotong royong bisa dianggap sebagai salah satu nilai penting dalam Pancasila, khususnya dalam hal kemanusiaan, persatuan, musyawarah, serta keadilan sosial. Gotong royong, yang melibatkan kolaborasi antara anggota masyarakat, memperkuat partisipasi masyarakat atau partisipasi sipil, karena partisipasi ini dilakukan dengan rasa tanggung jawab dan merupakan bagian dari. Dari kemampuan individu untuk berkontribusi secara sadar dan. Bertanggung jawab dalam kerjasama komunitas. Pada dasarnya, rasa tanggung jawab mendorong masyarakat untuk aktif terlibat dalam berbagai kegiatan di lingkungan sekitar [19].
Pembelajaran berbasis proyek terbukti efektif dalam meningkatkan berbagai aspek. Beberapa orang menunjukkan hasil pembelajaran yang baik, seperti kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa meningkat karena mereka harus membuat proyek sesuai dengan instruksi guru dengan baik. Produk yang dihasilkan oleh siswa berupa barang atau jasa yang melibatkan keterampilan menganalisis, membuat, meneliti, dan mempresentasikan. Pembelajaran didasarkan pada pengalaman nyata. Siswa secara aktif membangun pengetahuannya masing-masing dengan membuat proyek khusus, kemudian menghubungkannya menjadi sebuah konsep. Siswa juga diberi kesempatan untuk menerapkan teori yang telah dipelajari dan menggunakan teori tersebut dalam lingkungan sekitar mereka. Meningkatkan semangat belajar siswa agar kemampuan mereka bisa berkembang secara menyeluruh. Melibatkan belajar langsung sehingga pengetahuan bisa dicapai dengan lebih luas, yang juga membantu meningkatkan kemampuan afektif siswa .
Secara umum, strategi pembelajaran dibagi menjadi tiga jenis, yaitu strategi induktif, yang dimulai dari hal-hal spesifik lalu berkembang ke hal-hal umum; strategi deduktif, yang fokus pada hal-hal yang sudah ditentukan; dan strategi campuran, yang menggabungkan kedua strategi tersebut. Strategi regresif, yaitu kembali ke masa lalu yang sudah lewat (mundur) sehingga menjadi dasar perkembangan masa kini. Cara, pendekatan, atau langkah-langkah yang memastikan siswa mencapai tujuan mereka disebut strategi . Banyak pengajar masih menggunakan ceramah, diskusi, dan menulis sebagai metode atau strategi, namun pendekatan ini kurang efektif dalam menyampaikan materi pembelajaran. Berikut ini beberapa strategi yang bisa dilakukan dalam pembelajaran berbasis proyek, di antaranya adalah:
1) Tetapkan tujuan pembelajaran yang dapat diukur, jelas, dan sesuai dengan proyek tersebut. Tujuan tersebut harus membantu meningkatkan kemampuan siswa dan sesuai dengan program pelajaran.
2) Mintalah siswa bekerja sama dalam kelompok atau tim untuk menyelesaikan tugas. Melalui kerja sama ini, siswa bisa belajar tentang pentingnya bekerja sama dalam tim untuk meningkatkan keterampilan sosial mereka.
3) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, mencari ilmu, dan menyelesaikan masalah, yang merupakan pendekatan yang digunakan inkuiri.
4) Pembelajaran aktif mengizinkan siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses belajar mereka melalui penelitian, eksperimen, dan pembuatan karya produk.
5) Membuat hubungan antara materi pembelajaran dan pengalaman dunia nyata siswa untuk membantu mereka memahami bagaimana mereka belajar berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.
6) Memantau kemajuan siswa dan memberikan kritik yang bermanfaat dengan melakukan evaluasi secara teratur selama proses pembelajaran.
7) Melalui proyek-proyek, mendorong perkembangan keterampilan abad 21 termasuk kreativitas, pemikiran kritis, kerja sama tim, dan komunikatif .
Penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek di SD Negeri Ketajen 2 kelas IV menunjukkan bahwa sikap kerja sama lebih baik ditanamkan melalui pengalaman langsung daripada melalui pembelajaran yang bersifat teoritis. Nilai kerja sama tidak hanya diajarkan oleh guru, tetapi ditunjukkan melalui aktivitas nyata yang melibatkan siswa dengan aktif. Ini membuat siswa lebih mudah memahami dan mencerminkan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari mereka [20].
Peran guru di dalam penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek sangat penting untuk keberhasilan pengembangan sikap kerja sama siswa. Guru berfungsi sebagai fasilitator yang menciptakan suasana belajar yang baik, memberikan petunjuk yang jelas, dan membantu siswa dalam berkolaborasi. Dengan pendekatan ini, guru dapat mengarahkan siswa untuk tidak hanya fokus pada hasil akhir proyek, tetapi juga menghargai proses kerjasama yang dijalani [21].
Penerapan model pembelajaran berbasis proyek di SD Negeri Ketajen 2 bagi siswa kelas IV menunjukkan hasil yang baik, terutama dalam meningkatkan sikap kerja sama antar siswa. Tetapi juga dalam meningkatkan keterampilan sosial siswa secara umum. Siswa terlihat lebih yakin saat berbicara, lebih ramah dan menghargai pendapat orang lain. Lainnya, menunjukkan rasa tanggung jawab yang lebih besar dalam menyelesaikan tugas kelompok. Temuan ini mendukung upaya meningkatkan pendidikan karakter di tingkat sekolah dasar. Khususnya dalam hal kerjasama yang sesuai dengan nilai-nilai yang terdapat dalam Profil Pelajar Pancasila [22].
Dari hasil dan pembahasan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis proyek di kelas IV di SD Negeri Ketajen 2 efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Sikap kerjasama di antara siswa secara signifikan. Pendekatan kualitatif menunjukkan bahwa pengalaman langsung siswa selama proses pembelajaran berbasis proyek memiliki peran penting. Penting dalam perkembangan sikap kerjasama
Berdasarkan analisis dan hasil penelitian tentang penerapan model Pembelajaran Berbasis Proyek untuk meningkatkan sikap gotong royong siswa di kelas IV SD Negeri Ketajen 2, dapat ditarik kesimpulan bahwa model Pembelajaran Berbasis Proyek telah diterapkan secara efektif dan berdampak positif pada perkembangan sikap gotong royong siswa. Penerapan model ini dilakukan melalui perencanaan pembelajaran yang terstruktur, pelaksanaan pembelajaran kelompok berbasis proyek, serta evaluasi dan refleksi yang berfokus pada proses serta hasil pembelajaran siswa.
Dengan menggunakan Pembelajaran Berbasis Proyek, suasana belajar yang aktif, kolaboratif, dan bermakna dapat tercipta bagi siswa di kelas IV. Melalui proyek yang dikerjakan dengan cara kelompok, siswa mendapatkan pengalaman langsung dalam bekerja sama, membagi tugas, saling membantu, dan bertanggung jawab atas keberhasilan kelompok. Pengalaman ini mendorong timbulnya sikap gotong royong dengan cara yang alami dan berkelanjutan selagi proses pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, terdapat peningkatan dalam sikap kerja sama di kalangan murid. Ini terlihat dari semakin baiknya kolaborasi antara siswa, peningkatan kemampuan mereka dalam berkomunikasi dan berdiskusi, bertambahnya rasa tanggung jawab bersama, serta saling menghargai di dalam kelompok. Siswa-siswa yang dulu lebih pendiam dan lebih suka bekerja sendiri kini mulai ikut aktif serta menunjukkan minat terhadap teman-teman dalam kelompok. Temuan ini menunjukkan bahwa metode belajar dengan proyek lebih efektif dalam membentuk sikap kerja sama dibandingkan metode mengajar yang biasa digunakan sebelumnya.
Pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini membantu memahami secara lebih dalam pengalaman nyata yang dialami oleh guru dan siswa selama proses belajar mengajar penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek. Pengalaman langsung dari siswa saat bekerja dalam kelompok menjadi kunci untuk membentuk sikap kolaborasi. Oleh karena itu, nilai kerja sama tidak hanya sekedar dipahami secara teoritis, tetapi juga dirasakan melalui praktik nyata selama kegiatan belajar.
Secara umum, dapat disimpulkan bahwa model Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode yang efektif untuk meningkatkan sikap kerja sama di kalangan siswa kelas IV SD Negeri Ketajen 2. Metode ini tidak hanya membantu mencapai tujuan akademik, tetapi juga berkontribusi dalam memperkuat pendidikan karakter siswa, terutama dalam aspek kerja sama yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila.
Ucapan Terima Kasih
Bagian ini memuat pernyataan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatan penelitian. Pihak-pihak tersebut dapat meliputi institusi atau laboratorium tempat penelitian dilaksanakan, pembimbing, responden, serta pihak lain yang memberikan dukungan secara langsung maupun tidak langsung. Selain itu, apabila penelitian memperoleh dukungan dana atau bantuan dari sponsor maupun donor, maka bentuk dan peran dukungan tersebut perlu disebutkan secara singkat dan jelas sebagai bentuk apresiasi.
T. H. Nurgiansah, “Pendidikan Pancasila Sebagai Upaya Membentuk Karakter,” Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha, vol. 9, no. 1, pp. 33–41, 2021.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, “Standar, Teknologi, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan,” 2023.
H. Habibah and M. Fathurrahman, “Analisis Penerapan Model Pembelajaran pada Modul Ajar Pendidikan Pancasila SDN 1 Purwosari Kabupaten Blora,” vol. 7, no. 1, 2025.
S. Mulyani, D. Ghifron, S. Akhwani, and Kasiyun, “Peningkatan Karakter Gotong Royong di Sekolah Dasar,” vol. 11, no. 2, pp. 225–238, 2020.
M. Yasa and I. K. Margi, “Penerapan Nilai-Nilai Karakter Berlandaskan Falsafah Tri Hita Karana melalui Pembelajaran Tematik pada Siswa Kelas VI SD Lab Undiksha,” vol. 8, no. 1, pp. 1–10, 2022.
W. I. Prawira and D. Priatini, “Pengembangan Video Animasi Pembelajaran Interaktif,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti, vol. 8, pp. 325–338, 2021.
Khosiyatun, “Permainan Medikar Limai untuk Meningkatkan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di SD Negeri Sukoharjo 04,” pp. 387–398, 2021.
E. Fadilasari, O. Pramudita, K. Aeni, and W. A. Azizah, “Penerapan Model Pembelajaran Project-Based Learning dalam Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Pengamalan Makna Nilai-Nilai Pancasila,” vol. 4, pp. 6887–6901, 2024.
F. R. Anggraeny, V. Y., Sulalatin, S. A., and Hadi, “Pendidikan Pancasila melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan Metode Project Based Learning (PjBL) dalam Aktivitas Siswa di SDN 1 Bedingin,” vol. 08, pp. 5701–5716, 2023.
N. Alya Putri Maradika, E. Kumalasari, W. A. Azizah, and S. T. Widodo, “Pengaruh Media Smart Box dengan Model Project Based Learning terhadap Hasil Belajar Pendidikan Pancasila Kelas II SD Negeri Tugurejo 02 Materi Penerapan Nilai Pancasila,” vol. 09, 2023.
M. N. M. and W. S. Rondli, “Analisis Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning pada Materi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar,” pp. 428–437.
E. Rosa, R. Destian, A. Agustian, and W. Wahyudin, “Inovasi Model dan Strategi Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Merdeka,” J. Educ. Res., vol. 5, no. 3, pp. 2608–2617, 2024, doi: 10.37985/jer.v5i3.1153.
D. Widiastutik, K. Fajriyah, and V. Purnamasari, “Penerapan Model PjBL untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V SDN Tlogosari Kulon 01,” vol. 7, pp. 4090–4096, 2023.
S. Qisthi Mawardah and Akhwani, “Penerapan Model Project Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila Siswa Sekolah Dasar,” vol. 04, no. 02, 2022.
Mazianto and Erman, “Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Proyek dalam Menumbuhkan Sikap Gotong Royong di SDN 005 Serapung,” EduSpirit: Jurnal Pendidikan Kolaboratif, vol. 1, no. 1, pp. 592–598, 2024.
W. Larasati, “Peningkatan Gotong Royong Siswa melalui Model Project Based Learning Berbantuan Media Audiovisual di Fase B Kelas 3 SDN Sumber 3 Surakarta,” Prosiding Seminar Nasional Pendidikan dan Agama, vol. 5, no. 2, pp. 1382–1397, 2024, doi: 10.55606/semnaspa.v5i2.2190.
W. Rahayu, T. Haryati, and D. Kusumoningsih, “Implementasi Dimensi Gotong Royong melalui PjBL pada Pembelajaran Pendidikan Pancasila,” pp. 104–117, 2024.
Sugiyono, “Cara Mudah Menyusun Skripsi, Tesis, dan Disertasi,” Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2013.
H. Palisa Aulia Dewanti and Usman Alhudawi, “Gotong Royong dalam Memperkuat Partisipasi Warga Negara (Civic Participation),” vol. 5, no. 1, pp. 211–215, 2025.
L. H. Nirmayani and N. P. C. P. Dewi, “Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) Sesuai Pembelajaran Abad 21 Bermuatan Tri Kaya Parisudha,” J. Pedagog. dan Pembelajaran, vol. 4, no. 3, p. 378, 2021, doi: 10.23887/jp2.v4i3.39891.
N. Nikolaos, Y. A. Arifianto, and R. Triposa, “Strategi Pembelajaran Berbasis Proyek dalam Meningkatkan Kreativitas Siswa Sekolah Dasar,” ELEOS J. Teol. dan Pendidik. Agama Kristen, vol. 3, no. 2, pp. 142–153, 2024, doi: 10.53814/eleos.v3i2.73.
Norhikmah, “Mengembangkan Kemampuan Sains Anak dengan Menggunakan Model Project Based Learning dan Metode Eksperimen,” vol. 2, no. 8.5.2017, pp. 2003–2005, 2022.
Martati, L. B. Mirnawati, and A. Firmannandya, “Analisis Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning dalam Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila Sekolah Dasar,” pp. 127–133.
Fitriyani and S. Tri Widodo, “Analisis Model Pembelajaran Problem Based Learning dalam Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila Ditinjau dari Motivasi Belajar Peserta Didik Sekolah Dasar,” J. Ilm. Profesi Pendidik., vol. 10, no. 2, pp. 1569–1581, 2025, doi: 10.29303/jipp.v10i2.3250.
W. A. A. Nikmatul Chasanah Tarasti, L. Wiji Lestari, and K. Aeni, “Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning dan Media Interaktif untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila Kelas I Sekolah Dasar,” vol. 09, pp. 2706–2717, 2024.