Christianti Ellis Rahayu (1), Vanda Rezania (2)
General Background: Character education in the Society 5.0 era requires the strengthening of social sensitivity to support harmonious social interaction among elementary students. Specific Background: Observations in Grade 5 Nyai Walidah at SD Plus Muhammadiyah Brawijaya indicated low levels of social sensitivity, reflected in limited cooperation, low empathy, weak emotional regulation, and minimal classroom interaction. Knowledge Gap: Although previous studies have applied Problem Based Learning in social studies contexts, limited classroom action research has specifically examined its structured implementation to address four aspects of social sensitivity: perspective-taking, empathy, emotional regulation, and theory of mind in primary education. Aims: This study aims to increase students’ social sensitivity through the implementation of the Problem Based Learning model in IPAS learning. Results: Using a Classroom Action Research design with two cycles, findings show an increase in social sensitivity levels from 66.8% in Cycle I to 96.5% in Cycle II, supported by observable improvements in cooperation, respect, emotional control, and responsiveness during group discussions. Novelty: The study integrates contextual social issues and structured monitoring outside the research cycle within the PBL framework to strengthen measurable social sensitivity indicators. Implications: The findings provide pedagogical guidance for elementary teachers in designing collaborative, problem-oriented IPAS instruction to foster social character development.
Keywords: Social Sensitivity, Problem Based Learning, Character Education, Classroom Action Research, Elementary Students
Key Findings Highlights
Social awareness scores rose from 66.8% to 96.5% across cycles
Stronger peer interaction observed during collaborative tasks
Emotional control and empathy demonstrated in group discussions
Era society 5.0 menjadikan pendidikan karakter sama pentingnya dengan pendidikan kognitif. Era society 5.0 mengintegrasikan teknologi ke dalam penyelesaian masalah sosial. Terintegrasinya teknologi menjadikan masyarakat banyak menggantungkan kebutuhannya pada teknologi seperti penggunaan AI, Kota Cerdas, aplikasi pendidikan, dll. Masuknya teknologi ke dalam ranah pendidikan menjadikan anak-anak jaman sekarang menjadi melek teknologi. Penggunaan telepon genggam sudah bukan hal baru lagi. Dampak dari penggunaan handphone bisa dirasakan mulai banyak anak-anak yang paham dengan berbagai teknologi digital seperti contohnya game online. Penggunaan game online berlebihan menjadikan anak acuh terhadap lingkungan, boros waktu, mempunyai imajinasi ingin menjadi seperti tokoh game, mudah emosi, dan mengabaikan perintah orangtua [1]. Selain itu juga pernah mengalami pandemi sehingga sekolah dilakukan secara daring dan mengakibatkan minimnya interaksi sosial siswa. Oleh karenanya perlu adanya pembinaan karakter yang bisa meningkatkan kualitas dari interaksi sosial siswa di sekolah. Pendidikan karakter dapat mengembangkan Era Society 5.0 agar memiliki kualitas hidup yang tinggi secara aktif dan menyenangkan [2]. Pentingnya penanaman karakter sejak dini juga tertuang dalam Peraturan Pemerintah nomor 87 Tahun 2017 tentang penguatan pendidikan karakter. Karakter yang dikuatkan yakni religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab [3].
Dewasa ini banyak siswa yang mulai rusak karakternya, sehingga hal tersebut menjadi perhatian khusus dalam pembelajaran di kelas. Resty Fauziah, dkk dalam penelitiannya melakukan observasi dan wawancara dengan guru yang ada di SDN 21 Cindakir. Berdasarkan hasil pengamatan dijumpai beberapa permasalahan yang disebabkan oleh minimnya pembinaan karakter di sekolah tersebut seperti kurang sopan terhadap guru, kurang menghargai teman, berbohong, saling mengejek, berkelahi, merusak barang teman, merusak fasilitas sekolah, serta mudah meninggalkan ruang kelas saat jam pembelajaran berlangsung [4]. Penelitian yang dilakukan oleh Andi Arma Zuhriana juga menunjukkan permasalahan serupa yakni kurangnya kepedulian terhadap teman, berperilaku tidak sopan, dan tidak mau membantu teman yang kesulitan [5]. Pada penelitian Putu Agus Gunawan juga dijumpai perilaku seperti pasif, belum mampu berbaur, tidak menghargai pendapat teman, dan belum mampu bekerjasama [6]. Di berbagai platform berita online juga bisa kita jumpai banyak berita kurang mengenakkan tentang aksi bullying yang dilakukan oleh antar pelajar. Diantaranya yakni siswa SD yang dianiaya kakak kelas hingga koma, anak SD dan TK dibully siswa SMA, dan siswa SMA di Pasuruan yang depresi hingga masuk RSJ akibat dibully 15 orang temannya.
Rusaknya nilai karakter siswa ini berkaitan erat dengan kepekaan sosial yang dimiliki oleh masing-masing individu. Kepekaan sosial adalah tindakan seseorang untuk bereaksi secara cepat dan tepat terhadap objek atau situasi sosial di lingkungan sekitar [7]. Kepekaan sosial yang dimaksudkan meliputi perilaku seseorang dengan lingkungan sosialnya seperti suka menolong, suka membagikan apa yang dimilikinya kepada orang lain, mau bekerjasama, jujur, dermawan, dan memperhatikan hak serta keseahteraan orang lain. Adaya kepekaan sosial di dalam diri seseorang mampu menumbuhkan rasa saling menghargai, menghormati, dan saling percaya satu sama lain [8].
Kepekaan sosial dilihat dalam literatur, memiliki empat aspek diantaranya perspective-taking, regulasi emosi, empati, dan theoryofmind. Prespective-takingyaitu perilaku untuk mengadopsi sudut padang psikologis orang lain [9]. Regulasi Emosi yaitu kapasitas untuk mengelola respon emosional sendiri dalam interaksi sosial [10]. Empati yakni perasaan simpati dan peduli terhadap orang lain [11]. Theory of Mind yakni Kemampuan untuk memahami bahwa orang lain memiliki keyakinan, keinginan, dan niat yang mungkin berbeda dari diri sendiri [12].
Peneliti juga melakukan wawancara di kelas 5 Nyai Walidah (NW) SD Plus Muhammadiyah Brawijaya. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas 5 NW yakni Zulfa Inayati, S.Pd, didapatkan informasi bahwa saat pembelajaran berlangsung, siswa sering kurang memperhatikan guru, kurang bekerjasama, sering izin ke toilet, kurang mengaplikasikan aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahan tersebut sangat berpengaruh pada pola pikir siswa yang kurang berikir kritis dan logis. Penugasan juga seringnya individu sehingga menimbulkan kurangnya interaksi sosial antar siswa dan menimbulkan minimnya kepekaan sosial diantara siswa kelas 5 NW. Oleh karenanya perlu adanya tindakan preventif untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan kepekaan sosial adalah Problem Based Learning (PBL). Model pembelajaran PBL adalah pembelajaran yang menggunakan masalah nyata yang tidak terstruktur dan bersifat terbuka agar peserta didik dapat mengembangkan keterampilan menyelesaikan masalah dan berpikir kritis serta membangun pengetahuan baru. Sintaks PBL menurut Faturrohman diantaranya: mengorientasikan peserta didik terhadap masalah, mengorganisasi peserta didik untuk belajar, membimbing penyelidikan individual maupun kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah [13]. Penggunaan model pembelajaran PBL digunakan untuk meningkatkan kepekaan sosial siswa karena dalam model pembelajaran ini siswa dituntut untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam proses pebelajaran. Kerjasama bisa memunculkan interaksi antar siswa, sehingga dalam praktiknya siswa harus bisa memahami satu sama lain agar tercipta kerjasama yang harmonis dan tercapai tujuan pembelajarannya. Selain itu siswa juga dilatih untuk menyelesaikan masalah dalam situasi yang nyata. Oleh karenanya model pembelajaran PBL mampu membentuk karakter yang cepat tanggap dalam menyelesaikan permasalahan nyata termasuk permasalahan sosial [14]. Keterampilan ini peting untuk membentuk karakter peserta didik yang mampu mengatasi permasalahan sosialnya di sekolah. Belajar IPS menggunakan model PBL dapat melatih keterampilan sosial peserta didik khususnya dalam hal bekerjasama dan berkomunikasi dengan orang lain sehingga mampu berkolaborasi dan lebih memiliki rasa percaya diri dalam menjalani hidup [15].
Peningkatan kepekaan sosial dengan menggunakan model pembelajaran PBL sebenarnya pernah dilakukan penelitian melalui skripsi dengan judul “Efektivitas Model Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Kepekaan Sosial Siswa Pada Pembelajaran IPS Kelas VIII MTS Nurul Iman” yang disusun oleh Putri Nur Widiyani. Putri melakukan observasi kepada siswa kelas VIII dengan indikator kepekaan sosial diantaranya memahami dan menganalisis masalah, berpikir kritis dan logis, dan mampu mengadakan interaksi sosial yang baik [16]. Dari hasil observasi diperoleh data kurangnya kepekaan siswa kelas VIII MTS Nurul Iman yang disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya keluarga yang tidak bisa diajak kerjasama untuk membentuk karakter siswa, faktor ligkungan pertemanan, dan faktor lingkungan sekitar sekolah yang mendukung perilaku menyimpang siswa. Pada penelitian Rasdinah Muri juga didapatkan hasil bahwa model pembelajaran PBL mampu meningkatkan kepekaan sosial siswa setelah melakukan penelitian dan membandingkan dengan kelas kontrol yang menggunakan model konvensional [17].
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Putri Nur Widiyani dan Rusdianah Muri, peneliti kemudian ingin mengaplikasikan model pembelajaran serupa untuk diterapkan di kelas 5 NW SD Plus Muhammadiyah Brawijaya. Lantas, “Apakah model pembelajaran PBL dapat meningkatkan kepekaan sosial siswa?”. Inilah yang mendasari tujuan penelitian yang dilakukan, yakni meningkatan kepekaan sosial siswa kelas 5 NW dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran IPAS. Model Pembelajaran PBL akan diaplikasikan dalam materi IPAS Kelas 5 NW. Penelitian ini menggunakan indikator yang berbeda dengan penelitian sebelumnya dan menggunakan perlakuan khusus yakni mengaplikasikan model pembelajaran PBL di dalam pembeljaran IPAS sehari-hari di luar siklus. Penggunaan model pembelajaran PBL diharapkan mampu meningkatkan kepekaan sosial siswa kelas 5 NW. Manfaat penelitian ini yakni untuk mengetahui pengaruh model PBL dalam meningkatkan kepekaan sosial siswa. Seiring dengan meningkatnya kepekaan sosial siswa kelas 5 NW di SD Plus Muhammadiyah Brawijaya juga dapat meningkatkan lingkungan yang lebih inklusif. Selain itu juga siswa lebih mampu bekerjasama serta berpikir kreatif dan inovatif dalam pembelajaran.
Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian yang dilakukan di dalam kelas atau sekolah yang bertujuan untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran atau meningkatkan mutu hasil belajar di kelas. Desain penelitian menggunakan model Kemmis dan Taggart (1989) yang meliputi: (a) perencanaan, (b) tindakan, (c) observasi, dan (d) refleksi. Berikut adalah diagram alur desain Penelitian Tindakan Kelas model Kemis dan Taggart [18].
Figure 1. Gambar 1. Siklus PTK
Sumber: [18]
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang menggunakan angka dan statistik dalam pengumpulan data serta analisis yang bisa diukur. Data akan diperoleh melalui angket yang diisi oleh peserta didik di setiap akhir siklus. Analisis data kuantitatif akan dilakukan dengan rumus berikut ini:
Figure 2. Gambar 2. Rumus Menghitung Tingkat Kepekaan Sosial Siswa
Sumber: [19]
Analisis data akan menunjukkan tingkat kepekaan sosial siswa kelas 5 NW yang diperoleh melalui hasil penerapan siklus. Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang menekankan pada pemahaman mendalam [20]. Data kualitatif akan diperoleh melalui hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti.
Subjek dalam penelitian ini difokuskan pada kelas 5 Nyai Walidah di SD Plus Muhamdiyah Brawijaya. Jumlah siswa di kelas 5 NW yakni 15 siswa. Penelitian dilakukan dalam kurun waktu 2 minggu selama proses siklus 1 dan 2 berlangsung. Sebelum masuk ke siklus 1, peneliti akan melakukan observasi kepada siswa kelas 5 NW dengan menggunakan guru model. Selanjutnya dari hasil observasi akan dilakukan penelitian tindakan melalui siklus 1 dan siklus 2 sesuai dengan model Kemmis dan Taggart.
Proses pembelajaran pada siklus 1 dan 2 menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Sintaks PBL yang akan digunakan menggunakan sintaks dari Faturrohman yakni orientasi masalah, mengorganisir peserta didik untuk belajar, membimbing penyelidikan kelompok, menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses. Penerapan PBL akan difokuskan pada studi kasus yang akan didiskusikan penyelesaiannya melalui kerja kelompok. Selama proses pembelajaran akan dilakukan pengamatan dan pada akhir bagian setiap siklus, peserta didik akan diberikan angket kepekaan sosial.
Penelitian PTK ini menggunakan model Kemis dan Taggart dengan menggunakan dua siklus. Pada siklus 1 dilakukan perencanaan meliputi identifikasi masalah, analisis, hipotesis, perencanaan, dan rencana pelaksanaan. Dari hasil observasi dan yang dilakukan wawancara terhadap guru kelas 5 NW didapatkan fakta banyak siswa yang kurang bisa berpikir kritis, logis, serta kurang memiliki kepekaan sosial yang salah satu diantaranya dikarenakan model pembelajaran yang monoton. Kepekaan sosial sangat penting berkaitan dengan karakter siswa yang mulai rusak seiring dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan metode Penelitian Tidakan Kelas (PTK) untuk meningkatkan kepekaan sosial siswa. Instrumen yang disiapkan diantaranya modul ajar dan angket kepekaan sosial.
Figure 3. Gambar 3. Pelaksanaan Siklus 1
Pelaksanaan penelitian siklus 1 di kelas 5 Nyai Walidah dengan jumlah siswa yang hadir sebanyak 15 siswa. Hasil dari pelaksanaan siklus 1 bisa dilihat dari diagram berikut ini:
Figure 4. Gambar 4. Diagram Perbandingan Hasil Masing-masing Indikator di Siklus 1
Data yang telah diperoleh dari hasil angket siswa dihitung dalam presentase dan disajikan dalam bentuk diagram batang dengan membandingkan hasil dari masing-masing aspek yang dinilai. Hasil penerapan siklus 1 juga disajikan berdasarkan masing-masing indikator sebagai berikut ini:
Hasil pengamatan menyatakan bahwa peserta didik mampu bersikap baik dengan teman satu kelompoknya seperti menyapa, mengajak berbicara, dan berusaha menghargai pendapat teman. Pada saat diskusi juga dilakukan dengan tenang meskipun ada beberapa siswa yang cukup emosional dalam mempertahankan pendapatnya. Namun saat pembagian kelompok masih dijumpai siswa yang masih canggung saat bertemu teman-teman kelompoknya sehingga diskusi berjalan lebih lambat dari yang seharusnya. Hanya beberapa siswa yang mudah beradaptasi pada kelompok-kelompok baru. Melalui kasus yang dibahas yakni tentang bencana banjir, banyak siswa yang bingung untuk mengungkapkan bentuk penyelesaian yang harus dilakukan, beberapa diantaranya pasif saat diskusi. Hal tersebut menunjukkan kurangnya sifat peduli pada diri siswa.
Hasil angket pada siklus 1 yang telah dihitung keseluruhannya menunjukkan hasil tingkat kepekaan siswa kelas 5 NW sebesar 66,8%. Hasil tersebut tentu belum memenuhi indikator keberhasilan peneliti. Peneliti kemudian melakukan refleksi terhadap penerapan siklus 1. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa saat melakukan diskusi kelompok sebagian besar siswa sudah bisa menyesuaikan diri dengan anggota kelompoknya, saling bertukar pendapat, dan mampu menghargai satu sama lain. Namun hasil menunjukkan masih ada sebagian siswa lainnya yang pasif saat melakukan diskusi kelompok sehingga perlu adanya pergantian kelompok pada siklus 2. Selain itu kepedulian akan topik yang dibahas masih kurang sehingga perlu adanya topik berita yang lebih erat kaitannya dengan isu sosial populer yang mudah dipahami siswa.
Pada siklus 2 tahap perencanaan dimulai dengan mempersiapkan modul ajar dengan materi yang berbeda dan isu sosial yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Jika sebelumnya mengusung tema isu lingkungan, pada siklus 2 tema warisan budaya Indonesia yakni mengangkat isu tentang batik yang kerap di klaim oleh negara lain. Selanjutnya pada tahap pelaksaaan dilakukan dengan pembelajaran PBL di kelas namun dengan anggota kelompok yang kembali diacak.
Figure 5. Gambar 5. Pelaksanaan Siklus 2
Pada pelaksanaan siklus 2 di kelas 5 NW jumlah siswa yang hadir 15 siswa. Saat berkelompok siswa dibagi kedalam kelompok besar yakni 5 siswa per kelompok, sedangkan sebelumnya hanya 3-4 siswa per kelompok. Tujuan dibentuk kelompok yang lebih besar dan diacak yakni untuk memperluas sosialisasi masing-masing siswa. Hasil pelaksanaan siklus 2 disajikan dalam diagram berikut:
Figure 6. Gambar 6. Diagram Perbandingan Hasil Masing-masing Indikator di Siklus 2
Data hasil penelitian siklus 2 juga disajikan dalam bentuk tabel untuk masing-masing indikator. Berikut adalah tabel hasil perhitungan tingkat kepekaan siswa kelas 5 NW:
Isu yang dipaparkan pada siklus 2 mampu mendongkrak rasa keingintahuan siswa. Hal tersebut berdampak pada keaktifan belajar dan menjalankan peran sebagai anggota kelompok. Hasil pengamatan pada siklus 2 menunjukkan banyak peningkatan interaksi sosial siswa selama proses proses diskusi kelompok. Peningkatan interaksi satu sama lain ditunjukkan dari antusias siswa dalam menyatakan pendapat, memberikan saran, dan membahas permasalahan yang disajikan. Dalam diskusi kelompok juga sudah banyak peserta didik yang mampu menghargai pendapat teman, membantu teman yang kesulitan dalam memahami materi, menunjukkan kepedulian terhadap kasus yang dipaparkan, bersikap ramah, dan mampu menjaga emosi selama proses diskusi. Hasil meningkatnya kepekaan sosial siswa juga bisa diamati melalui presentasi yang dilakukan dalam menanggapi isu yang dibahas. Selain itu selama proses tunggu antara pelaksanaan siklus 1 an siklus 2, peneliti memberikan perlakuan khusus dengan senantiasa memantau perkembangan siswa selama menjalankan kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas. Peneliti berkoordinasi dengan guru kelas untuk membenahi karakter sosial siswa sehingga pada siklus 2 nantinya bisa mendapatkan dampak yang diinginkan. Sehingga dapat dilihat peningkatan signifikan pada siklus 2 dengan perolehan total skor yakni 96,5%. Hasil pada siklus 2 sudah memenuhi indikator keberhasilan peneliti. Dengan demikian maka penelitian dihentikan pada siklus 2. Hasil refleksi pada siklus 2 melalui catatan siswa bahwa banyak diantara siswa yang sudah mampu meningkatkan kepekaan sosialnya terhadap teman sejawat.
Figure 7. Gambar 7. Diagram Perbandingan Hasil Siklus 1 dan Siklus 2
Perbandingan hasil penelitian pada siklus 1 dan siklus 2 dapat dilihat melalui diagram diatas. Hasil siklus 1 menunjukkan tingkat kepekaan sosial siswa sebesar 66,8% dan meningkat pada siklus 2 menjadi 96,5%. Meningkatnya kepekaan sosial siswa menunjukkan keberhasilan penerapan PBL untuk meningkatkan kepekaan sosial siswa kelas 5 NW SD Plus Muhammadiyah Brawijaya.
Pendidikan karakter dewasa ini penting diajarkan di sekolah-sekolah. Karakter seseorang dapat berpengaruh pada kehidupan sosialnya. Dalam kehidupan sosialnya, manusia selalu bergantung satu sama lain sehingga menimbulkan interaksi sosial [21]. Dalam melakukan interaksi sosial agar timbul hubungan yang harmonis, maka diperlukan adanya kepekaan sosial. Menurut penelitian Ananda (2019) 57,4% siswa yang tidak memperhatikan guru saat mengajar, melakukan bullying, berkata kasar, dan enggan menolong teman saat kesulitan [22]. Di kelas 5 NW SD Plus Muhammadiyah Brawijaya juga terjadi hal demikian. Melalui hasil observasi dan wawancara, banyak diantara siswa yang masih kurang memiliki kepekaan sosial terlihat dari karakter siswa yang kurang memperhatikan saat pembelajaran, kurang peduli dengan teman yang kesulitan, dan beberapa siswa kurang memiliki interaksi sosial dengan teman lainnya. Salah satu penyebab kurangnya kepekaan sosial ada model pembelajaran yang digunakan cenderung monoton sehinga anak-anak mudah bosan dan kurang mengaplikasikan pembelajaran sosial dalam kehidupan sehari-hari. Pada penelitian yang dilakukan Dwi Novaria juga mengalami kejadian serupa. Model pembelajaran monoton yakni menggunakan metode ceramah, sehingga berimbas pada prestasi mahasiswa. Penerapan PBL mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis sehingga preatasi meningkat [23]. Penelitian oleh Eko Mulyadi juga bermula pada monotonnya model pembelajaran yakni menggunakan model klasikal sehingga anak kurang percaya diri dan enggan berpendapat. Penerapan PBL mampu meningkatkan prestasi belajar IPAS siswa [24]. Menurut penelitian Alful dkk, teknik PBL mampu meningkatkan interaksi sosial siswa [25]. Model PBL adalah model pembelajaran yang menuntut siswa untuk memecahkan masalah melalui berbagai tahapan ilmiah, sehingga dalam praktiknya siswa akan menjadi aktif dalam proses pembelajaran [26]. Seiring dengan penggunaan metode diskusi kelompok, maka keaktifan siswa akan meningkatkan interaksi sosialnya. Meningkatnya interaksi sosial akan berdampak pada kepekaan sosial yang dimiliki oleh siswa. Oleh karenanya penelitian dengan menggunakan model PBL pada pembelajaran IPAS dilakukan di kelas 5 NW.
Hasil penelitian pada siklus 1 dan 2 menunjukkan perubahan signifikan penerapan model pembelajaran PBL untuk meningkatkan kepekaan sosial siswa. Perubahan yang signifikan terjadi karena ada beberapa faktor seperti penggunaan isu sosial yang menarik dalam pembelajaran dan adanya monitoring KBM siswa. Media pembelajaran mampu digunakan untuk meningkatkan semangat belajar dan memfokuskan perhatian siswa [27]. Penggunaan masalah yang menarik dan konkret mampu digunakan siswa untuk belajar mengidentifikasi dan memecahkan isu sosial yang tengah dibahas dan mengkaitkan dengan pengetahuannya [28]. Target pembelajaran IPAS salah satunya yakni mempersiapkan peserta didik agar menjadi warga negara yang baik sehingga mampu melanjutkan warisan budaya dan bangsanya [29]. Pemilihan isu sosial yang tepat pada siklus 2 mampu meningkatkan empati dan regulasi emosi siswa.
Sama halnya dengan ciri utama PTK yakni adanya perlakuan khusus [30]. Peningkatan signifikan pada penelitian ini juga banyak dipengaruhi adanya perlakuan khusus yakni monitoring KBM yang merupakan kerjasama antara peneliti dan guru kelas untuk memantau perkembangan siswa. Guru kelas menjadi lebih aktif dan kreatif dalam menggunakan model pembelajaran PBL dalam pembelajaran IPAS. Namun, monitoring dilakukan di luar siklus. Tujuan adanya monitoring khusus ini adalah mengamati proses KBM yang berlangsung dan meningkatkan kecakapan berpikir dan sosial siswa [31]. Dengan demikian target penelitian meningkat di siklus 2. Seperti yang diharapkan terjadi peningkatan dari siklus 1 sebesar 66,8% menjadi 96,5%.
Berdasarkan data hasil penelitian dari siklus 1 dan siklus 2 menyatakan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) mampu digunakan untuk meningkatkan kepekaan sosial siswa. Siklus 1 mendapatkan hasil data sebesar 66,8%, sedangkan siklus 2 yakni 96,5%. Peningkatan hasil penelitian sebesar 29,7% disebabkan oleh isu sosial yang menarik minat siswa dan monitoring di luar siklus PTK. Melalui penelitian ini siswa mampu memiliki empati yan kuat, mampu menghargai orang lain, mengelola emosi dengan baik, dan cepat beradaptasi dengan lingkungannya.
Ucapan Terima Kasih
Terimakasih atas seluruh pihak baik keluarga, dosen pembimbing, dosen penguji, dan kepala sekolah SD Plus Muhammadiyah Brawijaya yang telah mendukung terlaksananya penelitian ini sehingga bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya.
[1] S. Aulia, A. Chandra, and K. Khairuddin, “Hubungan Antara Kecanduan Game Online dengan Perilaku Agresif pada Remaja di Mabar Hilir Kota Medan,” Jouska: Jurnal Ilmiah Psikologi, vol. 1, no. 1, 2022, doi: 10.31289/jsa.v1i1.1101.
[2] A. Arip et al., “Implementasi Pendidikan Karakter di Era Society 5.0 pada Siswa SD Muhammadiyah Purwodiningratan Yogyakarta,” in Prosiding Hasil Pelaksanaan Program Pengenalan Lapangan Persekolahan, 2023.
[3] N. P. Pertiwi, S. Sumarwiyah, and R. Hidayati, “Peningkatan Kepekaan Sosial melalui Layanan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Home Room pada Siswa,” Jurnal Prakarsa Paedagogia, vol. 2, no. 2, 2020, doi: 10.24176/jpp.v2i2.4503.
[4] R. Fauziah, M. Montessori, Y. Miaz, and A. Hidayati, “Pembinaan Karakter Siswa Berdasarkan Kurikulum 2013 Sekolah Dasar,” Jurnal Basicedu, vol. 5, no. 6, pp. 6357–6366, 2021, doi: 10.31004/basicedu.v5i6.1727.
[5] A. A. Zuhriana et al., “Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Sosial terhadap Kepekaan Sosial Siswa SD Inpres 12/79 Kampuno Kecamatan Barebbo Kabupaten Bone,” 2021.
[6] P. A. Gunawan and L. Indrayani, “Meningkatkan Keterampilan Sosial Siswa dengan Menerapkan Model Pembelajaran Berbasis Masalah,” Jurnal Pendidikan Ekonomi Undiksha, vol. 13, no. 1, p. 44, 2021, doi: 10.23887/jjpe.v13i1.32090.
[7] N. Nurhayati, B. Pitoweas, D. S. Putri, and H. Yanzi, “Analisis Kepekaan Sosial Generasi Z di Era Digital dalam Menyikapi Masalah Sosial,” Bhineka Tunggal Ika: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan PKn, vol. 7, no. 1, 2020, doi: 10.36706/jbti.v7i1.11415.
[8] S. F. Shodiq, “Pengaruh Kepekaan Sosial terhadap Pengembangan Pendidikan Karakter Berbasis Masyarakat,” Jurnal Basicedu, vol. 5, no. 6, 2021, doi: 10.31004/basicedu.v5i6.1698.
[9] T. M. Erle and S. Topolinski, “The Grounded Nature of Psychological Perspective-Taking,” Journal of Personality and Social Psychology, 2017.
[10] T. Herd et al., “Inhibitory Control Mediates the Association Between Perceived Stress and Secure Relationship Quality,” Frontiers in Psychology, vol. 9, 2018, doi: 10.3389/fpsyg.2018.00217.
[11] E. T. van Berkhout and J. M. Malouff, “The Efficacy of Empathy Training: A Meta-Analysis of Randomized Controlled Trials,” Journal of Counseling Psychology, vol. 63, no. 1, 2016, doi: 10.1037/cou0000093.
[12] K. R. Warnell and E. Redcay, “Minimal Coherence Among Varied Theory of Mind Measures in Childhood and Adulthood,” Cognition, vol. 191, 2019, doi: 10.1016/j.cognition.2019.06.009.
[13] M. Faturrohman, Model-Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2017.
[14] E. N. Masrinah, I. Aripin, and A. A. Gaffar, “Problem Based Learning untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis,” 2019.
[15] A. L. Shinta, H. Yanzi, and A. Mentari, “Pengaruh Metode Project Based Learning terhadap Kepekaan Sosial Peserta Didik,” HEMAT: Journal of Humanities, Education, Management, Accounting, and Transportation, vol. 1, no. 1, 2024, doi: 10.57235/hemat.v1i1.2060.
[16] N. P. Widiyani, “Efektivitas Model Pembelajaran Problem Based Learning terhadap Kepekaan Sosial Siswa pada Pembelajaran IPS Kelas VIII MTs Nurul Iman,” Undergraduate Thesis, IAIN Metro, 2024.
[17] R. Muri, N. Nursalam, and M. Nawir, “The Effectiveness of Problem-Based Learning Models on Critical Thinking Ability and Social Sensitivity in Social Studies Subjects at SDN 105 Baraka Enrekang Regency,” Edumaspul: Jurnal Pendidikan, vol. 6, no. 2, pp. 1584–1589, 2022, doi: 10.33487/edumaspul.v6i2.4405.
[18] A. Ahmad and A. Zainal, PTK Penelitian Tindakan Kelas: Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Andi, 2018.
[19] L. Tyera, M. Megawati, and M. Rusli, “Penerapan Keterampilan Proses Dasar Berbasis Lingkungan untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa,” Educativo: Jurnal Pendidikan, vol. 1, no. 1, pp. 112–123, 2022, doi: 10.56248/educativo.v1i1.18.
[20] P. Kurniawati, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Tindakan Kelas dalam Pendidikan Olahraga. Yogyakarta: 2022.
[21] S. G. Zaman and H. T. Widiastuti, “Pengaruh Layanan Bimbingan Kelompok dalam Meningkatkan Kemampuan Interaksi Sosial Siswa,” Ghaidan: Jurnal Bimbingan Konseling Islam dan Kemasyarakatan, vol. 8, no. 1, pp. 43–52, 2024, doi: 10.19109/c1qnky55.
[22] I. D. O. B. Ananda, “Efektivitas Modifikasi Perilaku Teknik Positive Reinforcement untuk Meningkatkan Kepekaan Sosial Siswa SMK Negeri 1 Yogyakarta,” 2019.
[23] D. N. Misidawati and P. Sundari, “Penerapan Model PBL dalam Mata Kuliah Teori Pengambilan Keputusan untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa,” Jurnal Educatio FKIP UNMA, vol. 7, no. 3, pp. 922–928, 2021, doi: 10.31949/educatio.v7i3.1290.
[24] E. Mulyadi, “Penerapan PBL dalam Meningkatkan Aktivitas dan Prestasi Belajar Proyek IPAS di Sekolah Menengah Kejuruan,” Ideguru: Jurnal Karya Ilmiah Guru, vol. 8, no. 3, pp. 653–660, 2023, doi: 10.51169/ideguru.v8i3.684.
[25] A. Lailah, N. Khotimah, R. T. Hariastuti, nd S. Mardiyas, “Implementasi Bimbingan Klasikal dengan Teknik Problem Based Learning (PBL) untuk Meningkatkan Interaksi Sosial Siswa Kelas XI Sekolah Menengah Atas,” Journal of Education Research, vol. 5, no. 2, pp. 1943–1946, 2024, doi: 10.37985/jer.v5i2.1121.
[26] N. K. Mardani, N. B. Atmadja, and I. N. Suastika, “Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap Motivasi dan Hasil Belajar IPS,” Jurnal Pendidikan IPS Indonesia, vol. 5, no. 1, 2021, doi: 10.23887/pips.v5i1.272.
[27] A. Rahmat, “Meningkatkan Hasil Belajar IPS dengan Menggunakan Media Film pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 15 Buton Tengah,” Jurnal Akademik FKIP Unidayan, vol. 9, no. 3, pp. 113–121, 2021, doi: 10.55340/fkip.v9i3.507.
[28] N. T. Wahyuningsih, A. Syawaluddin, and M. Dahlan, “Penggunaan Media Konkret dalam Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa,” Pinisi Journal of PGSD, vol. 1, 2021.
[29] T. Sukardi, “Pengembangan Strategi Konstruktivistik dalam Pembelajaran IPS untuk Meningkatkan Kepekaan Sosial Mahasiswa,” Sosiohumanika: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, vol. 8, no. 1, pp. 55–66, 2015.
[30] L. Rakhmanina, Melati, S. Masitah, and Y. Marita, “Workshop Penulisan Tindakan Kelas bagi Guru SMAN 1 Kota Bengkulu dalam Kegiatan Pengabdian Masyarakat,” Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, vol. 5, no. 1, pp. 344–350, 2024.
[31] H. Lempang, “Pembelajaran Contextual Teaching and Learning sebagai Strategi Peningkatan General Life Skill Khususnya Kecakapan Berpikir Rasional dan Kecakapan Berpikir Sosial,” Jurnal Pendidikan, vol. 7, no. 1, 2019.