Login
Section Elementary Education Method

Creative Character Development Through Drawing Activities in Elementary Students

Pengembangan Karakter Kreatif Melalui Aktivitas Menggambar pada Siswa Sekolah Dasar
Vol. 21 No. 2 (2026): May:

Yudhistiral Pradana Putra (1), Tri Linggo Wati (2)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

This study examines creativity development within elementary education contexts. General Background: Creativity constitutes a central component of character formation and learning processes in primary schools, particularly within arts-based instructional settings aligned with the Profil Pelajar Pancasila framework. Specific Background: Classroom observations revealed that students’ drawing activities often lacked originality and independent idea generation, indicating limited creative expression during project-based learning implementation. Knowledge Gap: Although prior studies discuss character education and creative learning models, limited empirical classroom-based research explicitly analyzes drawing activities as a structured medium for strengthening creative character within the P5 framework. Aims: This research aims to analyze how drawing-based project activities contribute to students’ creative character formation. Results: Findings indicate observable improvements in originality, participation, and student engagement during successive instructional cycles, reflected through qualitative observation and documented student work. Novelty: The study positions structured drawing practice as a concrete operationalization of creative character indicators within project-based curricular implementation. Implications: These findings provide practical pedagogical guidance for elementary educators in integrating structured artistic exploration into character education programs while maintaining alignment with national curriculum directives.


Keywords: Creative Character, Drawing Activities, Elementary Education, Project Based Learning, Profil Pelajar Pancasila


Key Findings Highlights




  1. Progressive originality growth observed across instructional cycles




  2. Increased active classroom participation during project implementation




  3. Documented improvement in student-generated visual concepts



Pendahuluan

Pendidikan merupakan bidang yang sangat penting dalam kehidupan manusia. pendidikan dapat meningkatkan dan memperbaiki kualitas kehidupan dimasa yang akan datang. Banyak faktor pendidikan yang harus dipertimbangkan karena pengaruhnya tidak dapat diabaikan dan menjadi faktor yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya suatu individu. Pendidikan mempunyai peranan penting bagi manusia untuk mengembangkan individu yang berkualitas dalam mencapai keberhasilan proses pendidikan[1]. Sekolah merupakan sarana tempat terjadinya interaktif belajar mengajar antara guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik, dimana guru sebagai pemegang peranan utama, kedua elemen ini sangat menentukan terjadinya proses belajar mengajar disekolah. Sehingga proses terjadinya belajar di sekolah harus berdasarkan kurikulum pendidikan yang saat ini menerapkan kurikulum merdeka[2].

Pelaksanaan kegiatan projek penguatan profil pancasila dilaksanakan diluar jam pelajaran yang dimaksudkan bertujuan dapat menunjukkan minat peserta didik pada bidang tertentu dan mengembangkan keterampilan peserta didik untuk membuat proyek yang disesuaikan dengan profil pelajar pancasil[3]. P5 dapat dilakukan dalam dua tahap yaitu fase konseptual dan fase kontekstual. Fase konseptual ini merupakan pembelajaran yang berkaitan dengan pengetahuan dasar dalam struktur keilmuan yang lebih luas untuk mendapatkan pengetahuan baru. Sedangkan fase kontekstual merupakan pembelajaran yang memahami hubungan antara materi pembelajaran dengan fakta dikehidupan nyata[4].

Dengan memperhatikan perubahan kurikulum saat ini, guru masih sama yaitu dengan menggunakan model pembelajaran atau media pembelajaran guna mempermudah siswa dalam belajar. Terlebih pada pembelajaran di kelas rendah yang seharusnya banyak menggunakan berbantuan gambar sebagai penunjang keberhasilan hasil belajar siswa. Guru sebagai tenaga pendidik dan motivator tentu akan berfikir keras tentang bagaimana pembelajaran yang ia akan ajarkan kepada siswa agar dapat dimengerti dan dipahami oleh siswa dengan cepat. Tidak hanya itu, guru sebagai penggerak kurikulum merdeka belajar juga harus bisa memanfaatkan teknologi dengan baik sebagai bentuk peningkatan cara mengajar guru. Guru juga tetap memberikan pengetahuan tentang penanaman nilai-nilai yang baik dan buruk dengan maraknya efek penggunaan teknologi yang semakin pesat[5].

Penerapan budaya di tingkat pendidikan Sekolah Dasar sangatlah berdampak baik untuk wawasan kebangsaan serta pemahaman budi pekerti terhadap budaya sekitar. Sehingga peran budaya dijadikan pemulihan pendidikan karakter siswa melalui Pengembangan Projek Penguatan Pancasila[6]. Sebenarnya, evaluasi implementasi dipaparkan dalam Buku Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Dijelaskan dalam bagian ini bahwa evaluasi implementasi Kurikulum Merdeka, khususnya penguatan profil pelajar Pancasila, pada hakikatnya harus melibatkan peserta didik. Penerapan pengembangan projek penguatan profil pelajar pancasila atau sering disebut P5 adalah aksi gelar karya oleh siswa yang bertujuan untuk memperkuat pendidikan karakter siswa yang disesuaikan berdasarkan pancasila[7]. Projek P5 pada tingkat SD juga bisa mengimplementasikan kegiatan intrakuler atau ekstrakuliker terlebih yang didalamnya terdapat minat dan bakat siswa yang bersama-sama memberikan sebuah aksi atau gelar karya dengan tidak meninggalkan pendidikan karakter[8]. Gelar karya tidak semuanya harus berupa penampilan siswa, bisa juga dengan hasil gambar, lukisan, dan lain-lain.

Melukis sendiri merupakan elemen penting dari kehidupan seorang anak terutama usia 7-8 tahun. Yang mana hasilnya merupakan tuangan dari ide, gagasan, dan kreativitas seorang anak. Mereka dapat menggambar atau melukis sesuai dengan tingkat perkembangan dan kreativitas mereka sendiri. Intinya, kegiatan melukis dapat dikatakan sebagai refleksi pada suasana belajar mereka. Sejalan dengan pemikiran[9]. yang mengatakan bahwa pembelajaran melukis dapat mengembangkan kreativitas anak yang mana tidak hanya mengambil dari hasil ekspresi watak, emosi, dan intelektualitas seseorang. Akan tetapi, juga dapat berperan sebagai teka teki simbolik dan mengungkapkan apa yang dirasakan oleh seseorang. Dengan melukis, adalah salah satu cara terbaik untuk mendorong kreativitas siswa Sekolah Dasar melalui menggambar. Sehingga hasil dari gambaran anak-anak mencerminkan pengalaman langsung[10].

Sesuai dengan visi dan misi profil pelajar pancasila sebagaimana terdapat dalam peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementrian dan kebudayaan Tahun 2020-2024, bahwa “Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai pancasila, dengan memiliki 6 ciri utama. Ciri tersebut merupakan dimensi dari profil pelajar pancasila. Semua komponen saling berkaitan dan menguatkan guna mewujudkan profil pelajar pancasila yang utuh. Keenam dimensi tersebut nantinya harus berjalan secara bersamaan. Enam dimensi yang dimaksud adalah beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, kreatif, bernalar kritis, dan mandiri. Maka, dari keenam dimensi tersebut tidak ada satu dimensi yang lebih penting daripada dimensi yang lain karena sifatnya saling berkesinambungan. Dimensi profil projek penguatan pancasila yang diteliti pada penelitian ini adalah pada aspek dimensi kreatif yaitu dimana hasil gambar siswa/siswi kelas 2 dengan berdasarkan instrumen penelitian yang sudah terlampir pada metode peneltiian.

Beriman bertaqwa kepada tugan YME, seluruh pelajar Indonesia yang berakhlak mulia merupakan pelajar yang berakhlak dalm hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Memhami ajaran dan kepercayaannya dengan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Elemen yang terdapat pada dimensi pertama ini meliputi akhlak beragama, akhlak pribadi, akhlak kepada manusia, akhlak kepada alam, akhlak bernegara[11]. Berkebinekaan global, seluruh pelajar Indonesia berkewajiban untuk mempertahankan budaya luhur, lokalitas, serta identitasnya. Memiliki sikap saling terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain sehingga menumbuhkan rasa saling menghargai dan membentuk budaya baru yang posiitf. Elemen yang terdapat pada dimensi kedua ini meliputi, mengenalkan dan menghargai budaya, memiliki kemampuan interaksi interkultural dengan sesama, refleksi, dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan. Gotong royong, dimensi ini mendorong untuk seluruh pelajar Indonesia untuk memiliki kemampuan gotong royong dengan melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan sukarela supaya kegiatan dapat berjalan ringan dan lancar. Elemen yang terdapat pada dimensi ketiga ini meliputi, kolaborasi, kepedulian, berbagai. Mandiri, dimensi ini mengajak seluruh pelajar Indonesia untuk memiliki sikap tanggung jawab atas proses hasil belajarnya. Elemen yang terdapat pada dimensi keempat ini meliputi, kesadaran akan diri dengan situasi yang dihadapi, dan regulasi diri. Bernalar kritis, dimensi ini mengajak untuk seluruh pelajar Indonesia mampu berpikir secara objektif dengan memproses segala informasi dengan baik baik kualitatif maupun kuantitatif. Elemen yang terdapat pada dimensi kelima ini meliputi, memperoleh dan memproses informasi dan gagasan, menganalisis dan mengevaluasi penalaran, merefleksi pemikiran dan proses berpikir, dan ikut serta dalam pengambilan keputusan. Kreatif, dimensi ini mengajak seluruh pelajar Indonesia mampu berpikir kreatif dengan memodifikasi hingga menghasilkan sesuatu yang asli, bermakna, bermanfaat dan berdampak baik bagi lingkungan sekitar. Elemen yang ada pada dimensi keenam ini meliputi, menghasilkan gagasan yang orisinil, menghasilkan karya, dan tindakan yang orisinil.

Pengembangan kreativitas pada anak dapat dilatih saat anak berada dalam usia dini. Yang bertujuan agar proses kognitif dari seorang anak dapat dilatih sedini mungkin, sehingga anak sudah terbiasa berpikir kreatif saat mereka menginjak usia dewasa. Fungsi dari pengembangan kreativitas pada anak yaitu 1) perkembangan estetika, hal ini dapat diciptakan melalui tingkat keestetikaan. Seorang anak bisa mengekspresikannya melalui beberapa hal yang diamati misalnya, keindahan, lukisan, tarian dan lain sebagainya. 2) kesehatan jiwa, hal ini dapat diciptakan dengan merasakan apa yang mejadi perasaan yang anak alami. Misalnya, perasaan takut, kwatir, kecewa ataupun senang sehingga perasaan tersebut sebaiknya diungkapkan agar tidak timbul terganggunya kesehatan mental. 3) perkembangan kognitif, hal ini dapat diciptakan dengan menyesuaikan pengalaman belajar yang dimiliki seorang anak. Dimana, seorang anak bebas mengekspresikan apa yang mereka rasakan melalui pembelajaran seni rupa sehingga pengembangan dari sikap kreativitas didukung oleh sikap kreatif yang ditunjukkan oleh seorang anak[12].

Merujuk dari teori Kreativitas merupakan sebuah kemampuan untuk membuat kombinasi baru yang diperoleh dari beberapa data, segala informasi atau unsur-unsur yang ada. Maksudnya, sesuatu yang sudah ada sebelumnya dengan segala pengetahuan yang pernah diperoleh ketika dibangku sekolah, di lingkungan keluarga dan dalam masyarakat. Sehingga, semakin banyak pengalaman atau cerita yang dimiliki seorang anak semakin bagus pula tingkat kreatif nya[13]. Kreativitas merupakan karakter yang dimiliki seseorang dengan didasari dorongan dalam diri serta didukung oleh lingkungan yang membuatnya dapat menyalurkan ide dan menciptakan hal-hal baru yang berguna bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Sepemikiran dengan[14]. Bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang sifatnya baru dan unik. Torrance juga mengatakan bahwa kreativitas tidak hanya diperoleh dari bakat kreatif saja, melainkan juga bisa diperoleh dari proses mental individu dalam melakukan proses pembelajaran dan pengalaman yang dialami pada lingkungan sekitarnya. Aspek kreativitas menurut Torrance ada 4 karakteristik. Yaitu: Fluency, Elaboration, Flexibility dan Originality. Fluency merupakan kemampuan untuk menghasilkan serta memproduksi beberapa ide, gagasan, dan jawaban yang bervariasi. Elaboration merupakan kemampuan untuk mengembangkan suatu ide atau gagasan secara detail untuk menghasilkan hasil yang lebih menarik dan kreatif. Flexibility merupakan kemampuan untuk menghasilkan suatu gambar atau karya yang bersifat abstrak. Originality merupakan kemampuan untuk menghasilkan ide atau gagasan yang bersifat unik dan pastinya asli bukan menjiplak dari karya orang lain.

Pada teori Torrance menekankan bahwa dukungan, dorongan serta motivasi merupakan hal yang penting untuk pengembangan kreativitas anak. Adapun motivasi eksternal yang digunakan untuk mendorong krrativitas anak, antara lain : 1.) Keluarga : rasa emosional yang diberikan kepada anak mampu menjadi rasa aman, senang, disayang dan juga dilindungi, Penunjang dan mendorong minat dan bakat yang disukai anak supaya anak merasa didukung dan selalu diperhatikan, Menghabiskan waktu atau menemani segala apapun aktivitas anak sehingga anak merasa punya teman saling bertukar cerita, Selalu memberikan apresiasi terhadap apa yang dilakukan anak, dan memberikan ruang agar anak dapat bereksperimen dan berekplorasi. 2.) Sekolah : guru harus bersikap terbuka terhadap minat dan bakat yang dimiliki anak, memberikan waktu atau kesempatan anak untuk mengembangkan ide atau gagasannya, mengajak anak untuk ikut berperan dalam mengambil keputusan, saat di sekolah guru harus menciptakan suasana yang menyenangkan agar anak selalu aktif dalam kegiatan, mengajak anak untuk selalu mendengar pendapat orang lain dan harus menghargai pendapat orang lain[15].

Selain faktor pendorong, terdapat faktor penghambat kreatvitas pada anak yaitu karena tidak adanya dorongan bereksplorasi, dimana anak tidak mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi atau mencoba hal baru dilingkungannya. Melarang pun dapat menghambat pemikiran kreatif anak untuk berkembang sehingga mereka tidak bisa menjelajahi lingkungan baru. Oleh karena itu, faktor penghambar kreativitas tersebut harusnya diperhatikan dan dipahami oleh guru maupun orang tua agar dapat memberikan stimulasi yang tepat dalam merangsang petensi yang dimiliki anak sejak dini[16].

Metode

Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif fenomenologi. Fenomenologi sendiri merupakan ilmu yang berasal dari kesadaran atau dapat terjadi dari peristiwa secara sadar. Fenomenologi juga merupakan pendekatan filosofis dari pengembangan pemikiran oleh manusia. Pendekatan ini bersifat logis, sistematis, dan kritis guna untuk mengembangkan pengetahuan yang ada. Fenomenologi juga berkaitan dengan penampakan suatu objek , peristiwa, atau suatu kondisi atas dasar persepsi kita. Dalam hal ini, fenomenologi membiarkan sesuatu yang datang dengan sendirinya yang sebagaimana mestinya. Terdapat 2 sisi, yakni dengan membiarkan realistis atau fenomena yang terjadi atau pengalaman yang dialaminya dengan membuka dirinya[17]. Di sisi lain, dengan munculnya hasil interkasi antara subjek dengan fenomena yang dialaminya. Terdapat pengertian fenomenologi lainnya, antara lain : 1.) fenomenologi merupakan studi tentang esensi-esensi, misalnya esensi persepsi dan esensi kesadaran. 2.) fenomenologi merupakan ilmu filsafat yang menempatkan kembali esensi-esensi dalam eksistensi bahwa manusia dan dunia tidak dapat dimengerti kecuali bertitik tolak pada aktivitasnya. 3.) fenomenologi merupakan ilmu filsafat transendental yang menangguhkan sikap natural dengan maksud memahaminya secara lebih baik. 4.) fenomenologi merupakan ilmu filsafat yang menganggap dunia selalu ada, mendahului refleksi, sebagai suatu kehadiran yang tak terisi, yang berusaha memulihkan kembali kontak langsung dan wajar dengan dunia sehingga dunia dapat diberi status filosofis.

Partisipan pada penelitian ini adalah siswa-siswi kelas 2 Sekolah Dasar (SD). Sedangkan sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 5 hasil karya anak perempuan dan 5 hasil karya anak laki-laki. Varibel yang digunakan dalam penelitian ini adalah karakteristik dari aspek kreativitas (Torrance) yang terdiri dari Fluency, Flexibity, Originality, dan Elaboration dengan menggunakan alat ukur berupa kreativitas figural. Terdapat tiga aktivitas untuk penelitian, yaitu : 1.) menggambar atau membuat sebuah gambar 2) menyelesaikan sebuah gambar 3) menghasilkan berbagai pola dengan menggunakan garis paralel[18]. Adapun instrumen penelitian yang digunakan sebagai berikut :

Tabel 1.1 Instrumen Penelitian

Indikator Sub Indikator
1. Mengelompokkan berbagai ukuran : bintik, garis, bidang, warna, dan bentuk pada benda dua dimensi dan tiga dimensi di alam sekitar 2. Mengungkapkan perasaan ketertarikan pada objek imajinatif yang diamati dari berbagai usnur rupa pada benda alam sekitar -Dapat membuat garis lurus dan lengkung -Dapat membuat garis pada gambar pemandangan -Dapat mengamati gambar objek alam yang menarik -Dapat menentukan warna dan tekstur dalam gambar -Dapat menggambar dasar bentuk binatang -Dapat menggambar dasar bentuk tanaman -Dapat menggambar dasar bentuk bangunan
Table 1. Tabel Indikator dan Sub Indikator

Figure 1.

Hasil dan Pembahasan

Figure 2.

Figure 3.

Figure 4.

Figure 5.

Mengacu pada teori kreativitas Torrance yang mana anak usia 8 tahun mampu mengemukakan ide gagasan atau pemikirannya dalam berupa gambar yang sederhana (Fluency). Kelima karya di atas baik perempuan maupun laki-laki merupakan hasil karya sendiri tanpa adanya referensi sebelumnya. Beberapa hasil karya Hisyam ada yang hampir mirip dengan karya Filza tetapi keduanya memiliki pembeda yakni hasil gambar, penggunaan variasi objek lain yang kurang sesuai dan kerapian dalam proses pewarnaan (Originality). Hasil karya kedua anak tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing[19]. Pada karya Filza banyak ditemukan kelebihan dengan hasil karya yang hampir sempurna. Sedangkan, Hisyam sebaliknya sudah mampu menyelesaikan karya nya namun belum maksimal (Flexibility). Selain itu, keduanya sudah dikatakan mampu dalam mengembangkan objek lain agar hasil karya bisa selesai dan dapat dinikmati. Kelima karya Filza sudah membuktikan hasil yang hampir sempurna dengan menambahkan objek lain yang sesuai dan teknik gradasi warna yang bagus. Berbeda dengan karya Hisyam yang mana hasilnya kurang rapi dan pemilihan objek yang kurang sesuai sehingga hasilnya kurang bisa dinikmati (Elaboration).

Dilihat dari tabel di atas telah dijabarkan bahwa terdapat hasil 5 karya perempuan dan 5 karya laki-laki menunjukkan hasil yang signifikan. Dibuktikan dengan hasil karya mereka yang mana telah didominasi hasil karya anak perempuan (Filza). Sehingga, dengan kata lain pola pikir anak perempuan (Filza) terbukti lebih kreatif dan variatif dalam pemilihan ide, pencampuran warna dan penambahan objek lain untuk memberi kesan agar terlihat nyata[20].

Maka hasil karya antara gambar perempuan dan laki-laki terdapat pembeda yakni dalam kerapian, kebersihan, kreativitas, hingga saat proses mewarnai. Sehingga hasil yang didapat juga dapat memberikan nilai estetika yang tinggi dengan dibuktikan pemilihan dan pengaplikasian warna dengan teknik gradasi.

Simpulan

Aspek kreativitas yakni Fluency, Flexibility, Originality, Elaboration yang telah dijadikan alat ukur untuk mengetahui tingkat kreativitas pada anak usia 8 tahun baik laki-laki maupun perempuan masing-masing memiliki tingkat emosional dan kecerdasan yang berbeda-beda. Pada lingkungan sekolah, anak usia 8 tahun telah dikenalkan P5 dalam pembelajaran. Yang mana, di dalam pelajaran P5 telah dikenalkan gambar atau lukisan. Telah dibuktikan bahwa pada tabel hasil dan pembahasan menerangkan bahwa hasil karya anak usia 8 tahun baik laki-laki dan perempuan terdapat perbedaan yang signifikan. Dari 10 hasil karya telah menunjukkan 1:0 hasil karya anak perempuan (Filza) usia 8 tahun lebih bagus, kreatif dan bervariasi. Maka, dapat disimpulkan karya anak perempuan mampu memiliki pemahaman ide yang luas, pemilihan objek yang tepat, dan penyelesaian gambar yang hampir sempurna.

Ucapan Terima Kasih

Disini peneliti mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak terkait yang sudah membantu dalam pembuatan penulisan skripsi dan artikel penelitian ini. Pertama peneliti mengucapkan terima kasih kepada pihak sekolah, yaitu kepada Bapak Aman Sari, S.Pd., M.Pd selaku kepala sekolah SDN Keboananom, Bapak Syahrul Romadhon, S.Pd selaku wali kelas II-D, dan juga seluruh siswa kelas II SDN Keboananom. Kemudian peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Tri Linggo Wati selaku dosen pembimbing, dan juga kepada ibu Dr. Enik Setiowati, S.Pd serta bapak Mukhlasin Amrullah, S.Ud., M.Pd.I selaku dosen penguji. Peneliti pun banyak mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tua serta teman-teman yang sudah membantu dan mendukung dengan penuh peneliti.

References

[1] R. Novianti, “Pengembangan Kreativitas Anak dalam Pembelajaran,” Jurnal Pendidikan Anak, vol. 2, no. 1, pp. 45–53, 2013.

[2] Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Dimensi, Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kemendikbudristek, 2022.

[3] K. N. P. E. S. K. Anak, Eksploitasi Seksual Komersial Anak di Indonesia. Medan: Restu Print, 2008.

[4] S. Pokhrel, “Creativity in Contemporary Education,” Educational Review, vol. 15, no. 1, pp. 37–48, 2024.

[5] Y. A. Appulembang, “Norma Kreativitas Menggunakan Torrance Test of Creative Thinking untuk Anak Usia 6–12 Tahun,” Jurnal Psikologi Pendidikan, vol. 9, no. 1, pp. 41–57, 2017.

[6] W. Handayani et al., “Internalisasi Karakter dalam Kegiatan P5RA Siswa MIN 1 Labuhanbatu,” Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 10, no. 1, pp. 1–12, 2025.

[7] S. M. A. Alasyary et al., “Penguatan Karakter dalam Pembelajaran Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan, vol. 8, no. 2, pp. 70–82, 2023.

[8] R. Satria, P. Adiprima, W. K. Sekar, and T. Y. Harjatanaya, Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Jakarta: Kemendikbudristek, 2022.

[9] P. E. Faida, T. Udin, and Latifah, “Metode Eksplorasi Seni Menggambar dalam Pengembangan Kreativitas Siswa,” Universal Journal of Educational Research, vol. 1, no. 2, pp. 116–131, 2020.

[10] S. Endrizal, U. Rahmi, and N. Nurhayati, “Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan Lil Alamin,” Soko Guru Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 3, no. 3, pp. 57–65, 2023.

[11] S. Sulastri, S. Syahril, N. Adi, and E. Ermita, “Penguatan Pendidikan Karakter melalui Profil Pelajar Pancasila,” Jurnal Riset Tindakan Indonesia, vol. 7, no. 3, pp. 583–590, 2022.

[12] A. Fauziah and G. E. Rohmawati, “Implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan Lil Alamin pada Siswa MI,” Ibtida’, vol. 4, no. 2, pp. 214–225, 2023.

[13] N. H. Cahyono, “Konstruksi Bangunan sebagai Ide Penciptaan Seni Rupa dengan Eksplorasi Teknik Seni Grafis,” CILPA Jurnal Pendidikan Seni Rupa, vol. 6, no. 2, pp. 38–49, 2021.

[14] S. S. I. Putri and T. Trisakti, “Pembelajaran Menggambar dengan Accelerated Drawing Technique untuk Anak Usia Dini,” Jurnal Pendidikan Anak, vol. 8, no. 2, pp. 107–115, 2019.

[15] R. Amalia, “Kreativitas dalam Pembelajaran Sekolah Dasar,” Jurnal Komprehensif, vol. 2, no. 1, pp. 1–10, 2024.

[16] U. A. Rofi’ah, M. Maemonah, and P. I. Lestari, “Filsafat Pendidikan Anak Usia Dini Menurut Friedrich Wilhelm Froebel,” Generasi, vol. 1, no. 1, pp. 23–47, 2023.

[17] Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Kombinasi, dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2014.

[18] M. F. N. Anwar, A. A. Wicaksono, and A. T. Pangambang, “Metode SAS Berbantuan Media Kartu Huruf untuk Keterampilan Membaca Permulaan,” Musamus Journal of Primary Education, vol. 5, no. 1, pp. 57–64, 2022.

[19] I. T. Simangunsong, D. P. Damanik, and J. Panjaitan, “Model Problem Based Learning dalam Peningkatan Pengetahuan Konseptual,” Jurnal Darma Agung, vol. 28, no. 1, pp. 100–110, 2020.

[20] N. Cotimah, N. K. Sari, and M. Suswandari, “Profil Pelajar Pancasila melalui Media Kolase Ditinjau dari Kreativitas Anak Berkebutuhan Khusus,” Jurnal Ilmiah Profesi Pendidik, vol. 9, no. 1, pp. 558–563, 2024.