<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.2 20190208//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.2/JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Strengthening Students’ Noble Character Through School–Parent Collaboration</article-title>
        <subtitle>Memperkuat Karakter Mulia Siswa Melalui Kerjasama Sekolah dan Orang Tua</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Nadhifah</surname>
            <given-names>Fany Rizki</given-names>
          </name>
          <email>machful.indra.k@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Kurniawan</surname>
            <given-names>Machful Indra</given-names>
          </name>
          <email>machful.indra.k@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution>Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2025-12-09">
          <day>09</day>
          <month>12</month>
          <year>2025</year>
        </date>
      </history>
    <pub-date pub-type="epub"><day>08</day><month>08</month><year>2025</year></pub-date></article-meta>
  </front>
  
  
<body id="body">
    <sec id="heading-7fc82b2ea1194f4574c35f8a48bec8b3">
      <title>
        <bold id="bold-cc397fb1441b447b03626498791d1d8f">Pendahuluan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-10">Pembentukan karakter mulia merupakan hal penting tujuan utama pendidikan, terutama di Sekolah Dasar (SD) yang menjadi landasan bagi perkembangan kepribadian anak. Karakter mulia religius, jujur, dan bertanggung jawab di masa ini membutuhkan partisipasi dan perhatian dari semua pihak [1]. Kepedulian dan perhatian terhadap karakter anak harus ditanam dan dikuatkan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Upaya menyiapkan generasi emas nanti yang senantiasa mulia, bertaqwa, bertanggung jawab, memiliki sifat jujur adalah cita-cita Bangsa Indonesia. Pendidikan karakter mutlak dan sangat diperlukan tidak hanya dirumah tetapi juga disekolah karena karakter adalah atribut yang membedakan serta membentuk individu berkombinasi nilai antara etika dan mental yang membentuk seseorang, bangsa dan kelompok. Dikarenakan zaman sekarang makin maju, pembelajaran pendidikan berkarakter di Indonesia sekarang mengalami turunnya kualitas. Oleh karena itu, pendidikan karakter mulia perlu dibentuk sehingga memiliki karakter berkualitas moral dalam kehidupan [2].</p>
      <p id="_paragraph-11">Karakter dapat dimaknai nilai dasar yang dapat membangunkan pribadi peserta didik, terbentuknya pengaruh hereditas ataupun lingkungan yang tidak sama dengan yang lainnya. Maka dari itu, dengan adanya pendidikan karakter akan menciptakan karakter yang baik pada peserta didik. Jika anak tidak diajarkan tentang tanggung jawab, kejujuran serta akhlaq yang baik maka anak tidak belajar mengenai apa itu pribadi yang baik. Pembentukan karakter mulia pada anak usia sekolah dasar merupakan tantangan besar dalam dunia pendidikan Indonesia. Di era globalisasi sekarang ditandai dengan canggihnya perkembangan informasi dan teknologi, anak-anak semakin rentan terhadap pengaruh negatif yang bisa mengikis nilai-nilai moral etika. Fenomena ini menuntut adanya upaya sistematis dan berkesinambungan dari berbagai pihak, terutama sekolah dan keluarga, untuk menanamkan dan menumbuhkan karakter positif pada diri anak [3]. Sekolah Dasar sebagai lembaga tingkat pendidikan formal yang pertama, memiliki</p>
      <p id="_paragraph-12">peran krusial guna membentuk pondasi karakter anak. Namun, tanggung jawab ini tidak dapat ditentukan oleh sekolah sendiri. Keterlibatan aktif orang tua dan keluarga sangat diperlukan untuk memastikan konsistensi dan keberlangsungan karakter pendidikan.</p>
      <p id="_paragraph-13">Anak yang mempunyai kepribadian baik mencakup bersosialisasi ialah anak dengan menerapkan akhlaq, moral dan budi pekerti yang mulia [4]. Dalam mengembangkan karakter mulia bangsa yang bermoral tidak diukur soal penyampaian teori tentang ilmu moral dan etika saja yang digunakan di mata pelajaran sekolah, tetapi juga diukur dengan menanamkan kebiasaan berkesinambungan sehari-hari. Seperti yang dikatakan oleh [5] untuk menanamkan kebiasaan bermoral serta beretika peserta didik butuh figur teladan sehingga dapat dijadikan contoh yang baik. Figur teladan dari lingkungan sekitar anak menjadi hal utama untuk membentuk moral yang dimiliki oleh peserta didik. Banyak pengaruh faktor terbentuknya karakter mulia dari Pendidikan sekolah, pola asuh orang tua dan lingkungan sekitar.</p>
      <p id="_paragraph-14">Sebagai lembaga pendidikan sekolah dasar yang berbasis Islami dan berprogram full day school, SDI Al- Chusnaini berupaya untuk membuktikan sekolah unggul dan layak menghasilkan siswa berkarakter mulia sholih serta sholihah dan bertanggung jawab memiliki ketrampilan keagamaan sekaligus intelektual. Beberapa sekolah yang memanfaatkan materi Agama Islam untuk peserta didiknya agar dapat menghasilkan generasi berkarakter mulia serta bermoral. Menyiapkan generasi emas yang mulia, bertakwa, bertanggung jawab, dan memiliki sifat jujur adalah cita- cita luhur Bangsa Indonesia [6]. Upaya ini melibatkan berbagai aspek, mulai dari pendidikan, peran keluarga, hingga partisipasi masyarakat luas.</p>
      <p id="_paragraph-15">Perlu upaya untuk mewujudkan peserta didik berkarakter mulia sekolah dan keluarga perlu bekerjasama untuk mengatasi tantangan ini, misalnya dengan memberikan pendidikan yang konsisten dan dukungan moral. Maraknya permasalahan yang terkait dengan dunia pendidikan disekolah. Adapun permasalahan lain diantaranya yaitu degradasi akhlaq, moral dan budi pekerti yang kini ada dilingkungan pendidikan, misalnya saja tidak patuh pada nasehat guru, berbohong kepada guru dikelas, berbohong dengan orang tua ketika dirumah, melalaikan sholat, enggan bertanggung jawab dan masih banyak lagi [7]. Kurangnya keberhasilan penguatan pendidikan karakter mulia disekolah dengan guru ataupun dirumah dengan orang tua dan lingkungan masyarakat yang mendukung. [8] Beberapa faktor yang mendominasi sehingga terjadi degradasi moral buruk sebagaimana yang sudah diteliti sebelumnya bahwa kurang menekankan akhlaq, telah hilang nilai-nilai agama di dalam kehidupan, maraknya pergeseran nilai moral mulai terjadi dalam lingkungan masyarakat serta pupusnya kesadaran tentang pentingnya islam.</p>
      <p id="_paragraph-16">Sikap jujur semakin hilang seperti pepatah jawa mengatakan “jujur malah ajur”, bersifat jujur hanya akan membuat hancur [9]. Hal tersebut dikarenakan terkikisnya sifat jujur sedemikian mewabah dan membawa pengaruh buruk dikehidupan sampai dewasa, sehingga saat orang memiliki sifat jujur justru akan terjerumus dalam kesulitan. Oleh karena itu, bagaimana strategi dan upaya tepat yang harus dilakukan untuk Penguatan dan pembentukan karakter mulia peserta didik. Karena apabila sikap tidak jujur telah merombak maka masa depan bangsa ini akan mengerikan [10]. Hal tersebut disebabkan sifat tidak jujur menjadi masalah munculnya perilaku atau sikap yang merugikan bangsa.</p>
      <p id="_paragraph-17">Program lembaga sekolah ini bukan sekedar memberikan pengetahuan saja, tetapi diselingi adanya upaya pembentukan karakter mulia guna peserta didik menjadi terbiasa melakukan perilaku mulia serta berakhlaq karimah dalam kehidupan kesehariannya. Maka, sejauh mana program-program penguatan dan pembentukan karakter di sekolah dalam membentuk perilaku positif siswa berkarakter mulia. Program lembaga sekolah ini semacam upaya alternatif, aktifitas siswa berada disekolah untuk melakukan kegiatan belajar materi serta kegiatan keagamaan. Pentingnya menanamkan serta menumbuhkan karakter mulia pada peserta didik merupakan tanggung jawab yang besar bagi Lembaga Pendidikan serta guru kelas yang harus ikut berpartisipasi dan membantu mendorong peserta didik untuk mempunyai karakter mulia.</p>
      <p id="_paragraph-18">Di SDI Al-Chusnaini merupakan SD Islam yang berprogram full day school menekankan mengenai praktik Agama Islam yang didalamnya memiliki pembelajaran pendidikan karakter termasuk karakter mulia jujur, bertanggung jawab dan religius. Dalam penanganan masalah pembentukan dan penguatan karakter, siswa kurang maksimal apabila hanya mengandalkan salah satu pihak yakni lembaga sekolah. Tetapi menjadi tugas bersama kolaborasi antara orang tua dengan guru. Pendidikan karakter menjadi salah satu fokus utama dalam dunia pendidikan, terutama di tingkat Sekolah Dasar (SD), berperan penting dalam membentuk kepribadian dan moral siswa sejak dini. Karakter yang kuat, seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, religiusitas, dan empati, merupakan pondasi yang tidak hanya menentukan keberhasilan akademik, tetapi juga kualitas hidup siswa di masa depan. Pendidikan karakter mulia bertujuan untuk membentuk penerus yang berintegritas, beretika, dan memiliki kemampuan untuk berkontribusi positif dalam masyarakat.</p>
      <p id="_paragraph-19">Dalam konteks Indonesia, pendidikan karakter telah menjadi bagian integral dari kurikulum, sejalan dengan nilai-nilai Pancasila yang menekankan pentingnya pembentukan moral dan etika yang baik. Namun, tantangan globalisasi, perkembangan teknologi, dan pergeseran budaya sosial menjadikan pembentukan karakter yang konsisten semakin krusial. Siswa sering kali terpapar oleh nilai-nilai yang mungkin bertentangan dengan norma dan budaya lokal, sehingga sekolah dan keluarga dituntut untuk bekerja sama dalam memperkuat pendidikan karakter ini. Melalui</p>
      <p id="_paragraph-20">pendekatan yang terintegrasi dalam berbagai aspek pembelajaran dan kehidupan sehari-hari, pendidikan karakter diharapkan tidak hanya bersifat teoretis tetapi juga praktis, yang mampu membentuk siswa menjadi anak yang bukan sekedar cerdas secara intelektual tetapi juga bermoral juga berkepribadian baik [11]. Oleh karena itu, program- program yang melibatkan partisipasi aktif guru, siswa, dan orang tua sangat penting untuk memastikan bahwa nilai- nilai karakter mulia dapat ditumbuhkan secara efektif.</p>
      <p id="_paragraph-21">Kesadaran bahwa pengembangan karakter tidak bisa hanya diserahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah. Pendidikan karakter membutuhkan peran aktif dari keluarga, terutama orang tua, sebagai lingkungan pertama tempat anak belajar mengenai nilai-nilai moral dan etika. Oleh karena itu, kerjasama antara sekolah dan orang tua dalam menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, religiusitas, dan disiplin sangat diperlukan untuk memperkuat pembentukan karakter anak. Dalam implementasinya, pendidikan karakter juga harus mencakup berbagai metode yang efektif dan sesuai dengan perkembangan usia siswa. Pembelajaran di kelas harus dikombinasikan dengan pengalaman nyata yang dapat membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai tersebut. Misalnya, melalui kegiatan ekstrakurikuler, proyek sosial, serta kegiatan keagamaan yang diorganisir oleh sekolah [12]. Hal ini memungkinkan siswa untuk mengembangkan karakter dalam tindakan nyata, tidak hanya melalui teori.</p>
      <p id="_paragraph-22">Pendidikan karakter mulia memiliki arti lebih unggul daripada pendidikan moral, karena tidak hanya mengajarkan baik dan buruk. Melebihi itu, pendidikan karakter mulia harus membentuk suatu kebiasaan (habituation) tentang hal yang baik, sehingga peserta didik dapat mengerti dan menjadi paham tentang salah dan benar, mampu merasakan nilai yang baik dan biasa melakukannya (domain perilaku). Dapat disimpulkan, pendidikan karakter mulia terkait erat dengan kebiasaan “habit” yang harus selalu diasah serta dipraktikkan. Pemerintah juga memiliki peran penting dalam mendorong penguatan pendidikan karakter melalui kebijakan pendidikan nasional. Dengan adanya kurikulum yang mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam setiap mata pelajaran dan kegiatan sekolah, serta pengawasan yang ketat terhadap penerapannya, diharapkan pembentukan karakter siswa dapat berjalan dengan sistematis dan berkelanjutan [13].</p>
      <p id="_paragraph-23">Namun, di sisi lain, tantangan dalam implementasi pendidikan karakter juga tidak dapat diabaikan. Berbagai faktor seperti keterbatasan sumber daya, kurangnya pemahaman orang tua tentang pentingnya pendidikan karakter, serta pengaruh negatif dari media sosial dan lingkungan luar sekolah seringkali menjadi hambatan [14]. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan upaya kolaboratif dan berkelanjutan antara sekolah, keluarga, dan komunitas agar siswa dapat tumbuh menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga memiliki integritas dan karakter yang mulia. Dengan pendekatan yang komprehensif, terstruktur, dan melibatkan berbagai pihak, pendidikan karakter diharapkan mampu membentuk generasi yang memiliki moral yang kuat, tangguh dalam menghadapi tantangan zaman, serta mampu berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa. Secara keseluruhan, pendidikan karakter memerlukan pendekatan yang sistematis dan kolaboratif, melibatkan berbagai elemen dalam pendidikan guru, orang tua dan masyarakat. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi upaya atau strategi yang digunakan di SDI Al- Chusnaini dalam membentuk serta menguatkan karakter mulia pserta didik. Pada zaman maju ini harus ditanamkan karakter mulia untuk kebaikan peserta didik guna terbentuk menjadi pribadi dengan akhlak karimah. Melalui upaya ini, diharapkan generasi muda dapat tumbuh dengan nilai-nilai moral yang kuat, menjadi pribadi yang jujur, bertanggung jawab, dan religius, serta siap menghadapi tantangan masa depan dengan landasan karakter yang kokoh. Ini adalah cita-cita mulia yang menjadi pondasi bagi pembentukan bangsa yang bermartabat dan maju di masa mendatang.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-3">
      <title>
        <bold id="bold-60a594a54955eb66e02074b17a8485cc">Metode</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-24">Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yang mengadopsi pendekatan deskriptif kualitatif teknik wawancara. Peneltian jenis kualitatif memiliki arah tidak terlalu berfokus statistik dan angka. Penelitian kualitatif menuju pada pemahaman fenomena yang dialami oleh subyek peneliti. Subjek penelitian ialah orang tua dan guru. Guru dipilih karena perannya dalam mendidik, mengajar, dan mengarahkan siswa di sekolah, sedangkan orang tua dipilih karena perannya dalam membimbing, mengawasi, dan mendidik anak-anak mereka di rumah. Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah dokumentasi, observasi dan wawancara mendalam guru dan orang tua. Instrumen penelitian meliputi lembar observasi, lembar wawancara, dan lembar dokumentasi. Data yang dikumpulkan akan dianalisis menggunakan teknik triangulasi sumber data. Teknik tersebut digunakan untuk memvalidasi dan mengkonfirmasi data dari berbagai sumber, dalam penelitian kualitatif yang digunakan untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas data dengan membandingkan dan memverifikasi informasi yang diperoleh dari berbagai sumber [15]. Penelitian deskriptif kualitatif cenderung menonjolkan pada uraian kalimat dan kata dalam proses melakukan penelitian [16]. Penelitian ini memilih metode kualitatif karena peneliti bertujuan untuk mengumpulkan data yang mendeskripsikan Strategi Penguatan dan Pembentukan Karakter Mulia di SDI Al-Chusnaini menggunakan paparan yang nyata. Penelitian ini mempunyai tujuan mendapatkan gambaran tentang identifikasi strategi yang digunakan di SDI Al-Chusnaini mengenai penguatan dan pembentukan karakter mulia. Analisis data dalam penelitian ini ialah</p>
      <p id="_paragraph-25">wawancara yang terkumpul kemudian diklasifikasikan serta dikelompokkan sesuai kondisinya kemudian ditarik kesimpulannya. Dapat disebut juga, semua hasil wawancara dikumpulkan kemudian disusun kembali sehingga terbentuk sebuah analisa rangkuman sesuai dengan judul penelitian. Penelitian penguatan dan pembentukan untuk membentuk peserta didik memiliki karakter mulia religius, jujur dan bertanggung jawab melalui kolaborasi guru dan orang tua serta program ekstrakulikuler sangat membantu peserta didik untuk menciptakan priadi bermoral baik, berakhlak mulia, dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi bangsa [17].</p>
    </sec>
    <sec id="sec-4">
      <title>
        <bold id="bold-fd6174e8467fdb15772dc8b67b16f31f">Hasil dan Pembahasan</bold>
      </title>
      <sec id="sec-4_1">
        <title>
          <bold id="bold-d363a637a1928136d138d7bbfbdc9886">a. </bold>
          <bold id="bold-40cefe0a322be4d91ce0bf7fc461d128">Hasil</bold>
        </title>
        <p id="_paragraph-26">Pendidikan sekolah memiliki tanggung jawab serta tugas guna membentuk siswa tumbuh memiliki karakter mulia religius, jujur dan bertanggung jawab. Dibebankannya tanggung jawab dan tugas tersebut guru menghadapi siswa dengan berbagai karakter yang berbeda serta rentan tergesernya pembentukan pendidikan karakter untuk menciptakan generasi yang berkarakter mulia. Secara psikologi pada masa pertumbuhan sejak dini harus ditekankan pembentukan karakter mulia. Maka dari itu membentuk karakter religius, jujur dan bertanggung jawab dalam dunia pendidikan merupakan komponen penting dan diharuskan berkolaborasi atau bekerja sama antar guru dengan orang tua guna memperkuat pembentukan karakter mulia kepada peserta didik. Strategi dalam pembentukan karakter mulia supaya siswa bisa dipantau oleh pihak orang tua dan guru sekolah menggunakan program kolaborasi orang tua dengan guru melalui buku penghubung, program ekstrakulikuler serta keagamaan dengan upaya tersebut kolaborasi dapat meringankan sekolah untuk memberikan komunikasi peserta didik kepada orang tua terutama guna pembentukan karakter mulia.</p>
        <p id="_paragraph-27">Berdasarkan hasil penelitian tentang strategi penguatan dan pembentukan karakter mulia siswa SD menunjukkan bahwa strategi penguatan dan pembentukan karakter siswa dapat dicapai secara efektif melalui kolaborasi antara guru dan orang tua, yang saling mendukung dalam menanamkan nilai-nilai moral dan etika di lingkungan sekolah serta rumah. Selain itu, program ekstrakurikuler yang berfokus pada pengembangan kejujuran, kerja sama tim, dan tanggung jawab turut berperan penting dalam membentuk karakter mulia siswa. Di sisi lain, kegiatan keagamaan yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari siswa, diawali pembelajaran formal di sekolah maupun praktik di rumah, memberikan landasan spiritual yang kuat bagi pengembangan karakter mulia yang holistik. Kolaborasi yang harmonis antara orang tua dengan guru menciptakan sinergi yang positif dalam membentuk karakter siswa, di mana guru berperan dalam memberikan pembelajaran formal terkait nilai-nilai karakter di sekolah, sementara orang tua memperkuat penerapan nilai tersebut di lingkungan keluarga. Program ekstrakurikuler seperti kegiatan olahraga dan pramuka siswa membantu membangun tanggung jawab, kepemimpinan dan kejujuran, dimana elemen penting dalam pembentukan karakter mulia. Selain itu, program keagamaan seperti pengajian, sholat berjamaah dan pembelajaran nilai-nilai agama di sekolah memperkuat aspek spiritual siswa, sehingga mereka tidak berkembang secara akademis tetapi juga mempunyai moralitas kuat.</p>
        <p id="_paragraph-28">Kombinasi antara peran guru, keterlibatan aktif orang tua, dan pelaksanaan program-program sekolah yang menekankan pengembangan karakter ini telah terbukti efektif dalam membentuk siswa yang berakhlak mulia, disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki kecerdasan emosional serta spiritual yang baik. Dari hasil penelitian, tampak bahwa peran program ekstrakurikuler dan kegiatan keagamaan tidak hanya melengkapi pendidikan formal, tetapi juga memperkuat pengembangan karakter secara menyeluruh. Program ekstrakurikuler memberikan siswa kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai seperti kerja sama, tanggung jawab, dan kepemimpinan dalam situasi nyata. Aktivitas- aktivitas ini juga memupuk rasa percaya diri dan empati, yang pada akhirnya membentuk kepribadian siswa yang tangguh dan peduli terhadap sesama. Sementara itu, kegiatan keagamaan yang diterapkan secara konsisten, baik di rumah atau disekolah, menanamkan fondasi spiritual yang kuat. Praktik keagamaan, seperti doa bersama, pembelajaran etika agama, dan keterlibatan dalam kegiatan sosial-keagamaan, membentuk siswa menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral dan spiritualitas mendalam.</p>
        <p id="_paragraph-29">Program keagamaan di SDI Al-Chusnaini sangat membantu Lembaga Pendidikan dalam menumbuhkan atau menanamkan karakter mulia religius dan bertanggung jawab. Keagamaan membantu siswa untuk mengerti kewajiban sholat lima waktu, mengerti sholat sunnah, mengerti makna zakat, mengerti makna infaq. Kebiasaan keagamaan seharusnya memang ditekankan sejak dini karena anak masih mencari dan harus dibimbing. Shalat berjamaah dan hafalan doa harian mengajarkan Siswa bertanggung jawab terhadap kewajiban agama mereka serta disiplin dalam menjalankan tugas sehari-hari. Siswa belajar untuk tidak berbohong dan selalu mengatakan yang sebenarnya, terutama melalui nilai-nilai yang diajarkan waktu sesi mengaji. Kegiatan shalat berjamaah dan membaca doa mengajarkan pentingnya menghargai waktu dan melaksanakan tugas tepat waktu. Melalui kegiatan keagamaan Siswa diajarkan bersikap sabar, baik dalam menunggu giliran maupun menghadapi kesulitan, serta menghargai perbedaan antara teman-teman memiliki latar belakang agama berbeda di sekolah maupun dirumah. Hasil penelitian, program keagamaan di sekolah terbukti efektif dalam membentuk karakter mulia pada Siswa terutama dalam ha kejujuran,</p>
        <p id="_paragraph-30">tanggung jawab, kesabaran dan toleransi. Faktor keberhasilan utama dari program keagamaan ini adalah dukungan guru, keterlibatan orang tua, serta metode pembelajaran yang relevan menarik. Hambatan ditemukan dalam pelaksanaan program ini dapat diatasi dengan mengalokasikan waktu yang lebih proposional, memvarasikan metode pengajaran, dan meningkatkan Kerjasama antara sekolah dan keluarga. Program keagamaan infaq dan zakat memberikan efek positif pada siswa, dimana siswa diajarkan peduli dengan orang lain, terutama yang membutuhkan. Dengan membiasakan program ini siswa belajar mengenai tanggung jawab sosial dan pentingnya berbagi. Dana yang terkumpul melalui infaq dan zakat biasanya disalurkan pihak yang membutuhkan, seperti fakir miskin atau Pembangunan fasilitas umum. Ini membantu siswa memahami bahwa kontribusi mereka memiliki dampak positif bagi masyarakat sekitar. Guru agama di sekolah dasar memiliki peran sentral sebagai penggerak program keagamaan dan teladan bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, dukungan orang tua sangat diperlukan untuk memastikan bahwa nilai-nilai karakter yang diajarkan di sekolah juga diterapkan di rumah. Berdasarkan wawancara dengan guru dan kepala sekolah, keberhasilan program keagamaan dalam penguatan karakter sangat bergantung pada sinergi antara sekolah dan keluarga.</p>
        <p id="_paragraph-31">Kegiatan ekstrakulikuler mengajarkan siswa untuk mengatur waktu dengan baik antara kegiatan akademik dan non-akademik. Ini melatih siswa untuk mengelola waktu secara efektif dan menunjukkan komitmen dalam mengikuti program ekstrakulikuler. Kegiatan ekstrakulikuler sering kali melibatkan peran kepemimpinan, baik formal maupun informal. Dalam situasi tersebut siswa belajar untuk bertanggung jawab atas orang lain dan keputusan yang mereka ambil. Dalam kegiatan kelompok seperti pramuka siswa belajar pentingnya kejujuran dalam komunikasi dan kerja sama. Jika ada masalah atau kendala, mereka diajak untuk berbicara terbuka dan tidak menyembunyikan kesalahan. Siswa diajarkan untuk jujur dalam menyelesaikan tugas mereka tanpa bergantung pada orang lain bahkan menipu. Ini mendorong mereka untuk memahami bahwa keberhasilan sejati datang dari upaya yang jujur dan kerja keras. Kegiatan ekstrakulikuler seperti pramuka sering melibatkan interaksi dalam situasi nyata, seperti menghadapi kekalahan, menangani konflik dan menyelesaikan masalah. Dalam ekstrakulikuler siswa dihadapkan pada tantangan yang membutuhkan ketekunan dan integritas. Mereka diajarkan untuk tidak menyerah dan menghadapi masalah dengan benar dan jujur. Secara menyeluruh, kegiatan ekstrakulikuler menjadi salah satu sarana efektif dalam penguatan pembentukan karakter mulia tanggung jawab dan jujur, karena melibatkan siswa dalam aktifitas yang nyata mengharuskan siswa menginternaisasi nilai tersebut secara alami.</p>
        <p id="_paragraph-32">Penguatan dan pembentukan karakter mulia melalui kolaborasi antara orang tua dengan guru memberikan dampak yang signifikan pada perkembangan karakter siswa. Buku penghubung berperan sebagai media komunikasi antara orang tua dengan guru untuk mendiskusikan perilaku, kemajuan beajar, dan perkembangan karakter siswa. Dengan menggunakan buku penghubung guru dapat menyampaikan nilai yang sama kepada siswa baik disekolah maupun dirumah. Konsistensi ini memastikan bahwa siswa mendapatkan arahan yang selaras terkait nilai seperti disiplin, tanggung jawab dan kejujuran sehingga pembentukan karakter mulia menjadi lebih efektif. Ketika orang tua secara aktif membaca dan memberikan respon melalui buku penghubung, siswa merasa didukung oleh orang tua mereka. Dukungan ini memberikan dorongan motivasi bagi siswa berperilaku lebih baik dan mengikuti nilai-nilai yang diajarkan disekolah. Guru memberikan informasi perkembangan perilaku siswa disekolah, sementara orang tua dapat melaporkan hal-hal yang mmereka perhatikan dirumah. Kolaborasi ini memungkinkan kedua pihak bekerja sama dalam mengarahkan siswa untuk membentuk dan menguatkan karakter mulia.</p>
      </sec>
      <sec id="sec-4_2">
        <title>
          <bold id="bold-7a8f4e4c5da7644d8c51060fcd42253a">b.</bold>
          <bold id="bold-abe019ee0d3faef5c015be198255cfb3">Pembahasan</bold>
        </title>
        <p id="_paragraph-33">Secara keseluruhan strategi penguatan dan pembentukan karakter mulia, sinergi antara peran guru dan orang tua, didukung oleh program-program sekolah ekstrakulikuler dan keagamaan yang berorientasi pada pengembangan karakter, menciptakan lingkungan yang kondusif untuk penguatan karakter mulia. Siswa yang terlibat di berbagai kegiatan tersebut menonjolkan perkembangan yang signifikan dalam kejujuran dan bertanggung jawab, yang merupakan indikator penting dari keberhasilan program pembentukan karakter mulia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan buku penghubung sebagai media komunikasi antara orang tua dengan guru secara signifikan berkontribusi terhadap penguatan dan pembentukan karakter mulia pada siswa [18]. Kolaborasi serta program ekstrakulikuler dan keagamaan ini memungkinkan guru dan orang tua untuk saling berkolaborasi berbagi informasi terkait perkembangan siswa, baik dari aspek akademik maupun non-akademik, termasuk perilaku dan karakter mereka sehari-hari. Melalui buku penghubung, guru dapat memberikan laporan rutin tentang sikap, tanggung jawab, serta kedisiplinan siswa di sekolah, sementara orang tua dapat merespons dengan memberikan informasi mengenai perilaku anak di rumah.</p>
        <p id="_paragraph-34">Program ekstrakurikuler memiliki peran yang signifikan dalam penguatan dan pembentukan karakter mulia pada siswa. Keterlibatan siswa dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler, seni, pramuka, dan organisasi siswa, memberikan mereka kesempatan untuk mengembangkan kejujuran, kerja sama, tanggung jawab, serta kemandirian. Melalui kegiatan ekstrakurikuler, siswa belajar menghadapi tantangan, menyelesaikan masalah, dan bekerja dalam tim, yang pada gilirannya memperkuat nilai-nilai seperti kepemimpinan, toleransi, empati, dan sportivitas [19]. Kegiatan ini juga menjadi media yang efektif untuk menanamkan etos kerja keras, kegigihan, dan sikap pantang</p>
        <p id="_paragraph-35">menyerah, yang penting dalam pengembangan karakter mulia. Ekstrakurikuler yang berorientasi pada nilai-nilai sosial, seperti kegiatan sosial atau pengabdian masyarakat, memberikan kesempatan bagi siswa untuk mempraktikkan kepedulian sosial dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. Hal ini memperkuat karakter moral mereka, menjadikan mereka perasa terhadap kebutuhan orang yang membutuhkan dan siap berkontribusi secara positif dalam masyarakat.</p>
        <p id="_paragraph-36">Dengan adanya program ekstrakurikuler, Siswa bukan hanya berprestasi secara akademis, tetapi memiliki karakter mulia yang tercermin melalui perilaku sehari-hari mereka, di luar maupun di sekolah. Program ini berhasil membentuk siswa yang lebih disiplin, memiliki integritas, bertanggung jawab, serta memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Selain itu, dalam ekstrakurikuler yang berorientasi pada kegiatan sosial atau lingkungan, siswa dilatih untuk memiliki kepedulian dan tanggung jawab sosial, seperti dalam menjaga kebersihan lingkungan, berbagi kepada yang membutuhkan, dan berkontribusi dalam kegiatan kemasyarakatan [20]. Nilai-nilai tanggung jawab ini dipraktikkan secara nyata, sehingga siswa tidak hanya menangkap konsep tanggung jawab secara teori, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Keterlibatan dalam program ekstrakurikuler membantu membentuk siswa yang lebih disiplin, mandiri, dan memiliki tanggung jawab yang kuat, baik dalam aspek akademik maupun sosial, yang menjadi landasan penting dalam pembentukan karakter mulia.</p>
        <p id="_paragraph-37">Program ekstrakurikuler memiliki peran yang signifikan dalam penguatan dan pembentukan karakter mulia pada siswa. Keterlibatan siswa dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler, seni, pramuka, dan organisasi siswa, memberikan mereka kesempatan untuk mengembangkan kejujuran, kerja sama, tanggung jawab, serta kemandirian. Melalui kegiatan ekstrakurikuler, siswa belajar menghadapi tantangan, menyelesaikan masalah, dan bekerja dalam tim, yang pada gilirannya memperkuat nilai-nilai seperti kepemimpinan, toleransi, empati, dan sportivitas. Kegiatan ini juga menjadi media yang efektif untuk menanamkan etos kerja keras, kegigihan, dan sikap pantang menyerah, yang penting dalam pengembangan karakter mulia. Ekstrakurikuler yang berorientasi pada nilai-nilai sosial, seperti kegiatan sosial atau pengabdian masyarakat, memberikan kesempatan bagi siswa untuk mempraktikkan kepedulian sosial dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. Hal ini memperkuat karakter moral mereka, menjadikan mereka lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan lebih siap berkontribusi secara positif dalam masyarakat.</p>
        <p id="_paragraph-38">Dengan adanya program ekstrakurikuler, siswa tidak hanya berprestasi secara akademis, tetapi juga memiliki karakter mulia yang tercermin dalam perilaku sehari-hari mereka, baik di sekolah maupun di luar. Program ini berhasil membentuk siswa yang lebih disiplin, memiliki integritas, bertanggung jawab, serta memiliki kepekaan sosial yang tinggi [21]. Selain itu, dalam ekstrakurikuler yang berorientasi pada kegiatan sosial atau lingkungan, siswa dilatih untuk memiliki kepedulian dan tanggung jawab sosial, seperti dalam menjaga kebersihan lingkungan, berbagi kepada yang membutuhkan, dan berkontribusi dalam kegiatan kemasyarakatan [22]. Nilai-nilai tanggung jawab ini dipraktikkan secara nyata, sehingga siswa tidak hanya memahami konsep tanggung jawab secara teoritis, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Keterlibatan dalam program ekstrakurikuler membantu membentuk siswa yang lebih disiplin, mandiri, dan memiliki tanggung jawab yang kuat, baik dalam aspek akademik maupun sosial, yang menjadi landasan penting dalam pembentukan karakter mulia.</p>
        <p id="_paragraph-39">Berkaitan dengan karakter mulia peserta didik, di SDI Al-Chusnaini memiliki karakter religius yang tinggi dimana lembaga sekolah Muhammadiyah bersistem full day school sehingga pembentukan karakter mulia peserta didik dapat dilakukan dengan baik. Pengakuan dari orang tua peserta didik atau wali murid, bahwa peserta didik mengalami proses perubahan karakter karena adanya program buku penghubung sehingga penanaman dan pembentukan karakter mulia sudah mempunyai hasil yang diinginkan. Akan tetapi, upaya program buku penghubung ini harus melibatkan pantauan dari orang tua guna memaksimalkan pembentukan karakter peserta didik. Wali murid atau orang tua harus ikut serta dalam program buku penghubung dengan mengisi atau memberi catatan aktivitas dirumah peserta didik sesuai dengan kolom di buku penghubung.</p>
        <p id="_paragraph-40">Hasil wawancara oleh guru kelas menyampaikan bahwa dalam pembentukan karakter mulia, jika peserta didik yang berbohong atau enggan melaksanakan sholat dirumah dan orang tua mengisi catatan sesuai pada program buku penghubung maka peserta didik tersebut dikenakan sanksi atau hukuman saat dikelas. Sanksi yang ditetapkan pada peserta didik tersebut guna sebagai menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap kewajiban sholat meskipun pada saat dirumah. Hukuman atau sanksi dikelas bisa berupa pengulangan sholat atau dengan membaca surah pendek yang ditentukan oleh guru. Adanya strategi buku penghubung ini sangat membantu dan mampu digunakan guna membuat peserta didik lebih jujur dan bertanggung jawab. Strategi program buku penghubung untuk pembentukan karakter mulia juga dapat memperbaiki hidup peserta didik dikarenakan pada saat disekolah tidak sekedar diajarkan tentang mengajarkan nilai-nilai ilmu materi pengetahuan saja akan tetapi juga menanamkan yang berhubungan pada karakter dan sikap para peserta didik. Buku penghubung sangat berpengaruh penting guna strategi pembentukan karakter mulia pada peserta didik [23]. Semua pihak orag tua dan guru harus ikut memantau bekerja sama juga berpartisipasi serta mendukung para peserta didik dengan upaya memberikan motivasi atau dorongan untuk peserta didik dan buku penghubung juga dapat menciptakan efek jera bagi peserta didik yang tidak jujur saat berada di kelas maupun dirumah [24].</p>
        <p id="_paragraph-41">Peran guru sebagai penanggung jawab dari seluruh kegiatan pembentukan karakter mulia pada peserta didik. Menghimbau para peserta didik agar memperhatikan sikap dan sifat untuk jangan memiliki karakter yang tidak baik seperti berbohong kepada guru dan orang tua dirumah, melalaikan kewajiban sholat, tidak memiliki rasa bertanggung jawab dan menyepelekan karakter mulia.</p>
        <fig id="fig1">
          <label>Figure 1</label>
          <caption>
            <title>Gambar 1. Pelaksanaan sholat sunnah dhuha dikelas IV</title>
            <p id="_paragraph-42"/>
          </caption>
          <graphic id="_graphic-1" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="image1.jpeg"/>
        </fig>
        <p id="_paragraph-44">Dari hasil wawancara penelitian, strategi untuk menumbuhkan dan membentuk karakter mulia keagamaan ialah dengan mengajarkan peserta didik infaq disetiap hari jumat, memprogramkan sholat dhuha kepada peserta didik untuk mengajarkan sholat sunnah, memprogramkan mengaji bersama sebelum sholat dhuhur guna membiasakan para peserta didik untuk memiliki karakter religius, berangkat sholat jumat bersama bagi peserta didik laki-laki untuk mengajarkan kewajiban. Program keagamaan di sekolah berperan penting dalam penguatan dan pembentukan karakter mulia pada siswa [25]. Melalui berbagai kegiatan keagamaan, seperti shalat berjamaah, pengajian, peringatan hari- hari besar keagamaan, dan pembelajaran nilai-nilai spiritual, siswa diajarkan untuk menginternalisasi moral etika yang berlandaskan ajaran agama.</p>
        <p id="_paragraph-45">Kegiatan keagamaan secara konsisten membentuk siswa menjadi pribadi jujur, tawadhu (rendah hati), dan berintegritas. Praktik ibadah rutin, seperti shalat berjamaah dan pembacaan doa, membantu siswa membangun disiplin dan ketaatan, sementara pengajian dan kajian nilai-nilai agama memperdalam pemahaman mereka tentang pentingnya akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai seperti kesabaran, rasa syukur, pengendalian diri, dan kesederhanaan tertanam melalui pelaksanaan kegiatan keagamaan ini [26]. Selain itu, program-program keagamaan juga mendorong siswa untuk memiliki kepedulian sosial, baik melalui aksi sosial berbasis agama seperti infak, zakat, atau kegiatan berbagi dengan sesama, yang memperkuat rasa empati dan tanggung jawab sosial mereka. Keterlibatan dalam kegiatan menguatkan karakter mulia tidak sekedar taat dalam beribadah, peduli terhadap orang lain dan lingkungan sekitar.</p>
        <p id="_paragraph-46">Selama berada di lingkungan sekolah, peserta didik taat melaksanakan kegiatan membaca surah pendek saat hendak memasuki kelas untuk memulai pembelajaran [27]. Peserta didik juga taat dalam membiasakan berdoa sebelum memulai pembelajaran dimana siswa secara bergantian memimpin doa di depan kelas. Pada saat kegiatan sholat dhuha, peserta didik juga bergegas segera mengambil wudhu lalu adzan sesuai nama di absen dan melaksanakan sholat dhuha. Pada kegiatan pembelajaran dikelas, peserta didik dengan antusias mendengarkan materi pembelajaran serta aktif dalam bertanya kepada guru dan mematuhi peraturan dikelas. Peserta didik selalu hadir dalam pelaksanaan sholat dhuha karena jika tidak, guru akan melaporkan melalui catatan di buku penghubung guna orang tua mengetahui ketidak jujuran siswa dan siswa akan mendapat sanksi dirumah ataupun disekolah sesuai dengan peraturan sekolah.</p>
        <p id="_paragraph-47">Kegiatan mengaji secara teratur mengajarkan siswa untuk memiliki disiplin dalam menjalankan kewajiban spiritual mereka. Melalui proses mengaji, siswa juga dilatih untuk memahami dan menghayati nilai-nilai akhlak yang terkandung dalam kitab suci, seperti kejujuran, rasa syukur, rendah hati, serta tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain. Selain itu, pembiasaan mengaji membantu siswa mengembangkan pengendalian diri dan kesadaran spiritual yang lebih dalam [28]. Mereka diajak untuk merenungi makna dari ayat-ayat yang mereka baca, yang pada akhirnya mempengaruhi perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, rumah, maupun di lingkungan sosial. Secara keseluruhan, kegiatan mengaji secara rutin berperan dalam membentuk karakter mulia pada siswa, menjadikan mereka individu yang berakhlak baik, taat beragama, serta memiliki komitmen yang kuat terhadap nilai- nilai moral dan etika dalam kehidupan.</p>
        <p id="_paragraph-48">Keagamaan mengaji sebelum sholat wajib dhuhur ditujukan untuk pembiasaan kepada siswa agar terbiasa melakukan kegiatan keagamaan serta menumbuhkan kebiasaan baik untuk menjadikan siswa tumbuh menjadi sholih dan sholihah. Mengaji sebelum sholat Dhuhur menciptakan rutinitas yang disiplin, di mana siswa diajak untuk menghargai waktu, khususnya dalam menjalankan ibadah tepat waktu. Melalui kebiasaan mengaji, siswa diajarkan</p>
        <p id="_paragraph-49">untuk memiliki ketaatan dalam menjalankan kewajiban agama, yang berimplikasi pada karakter siswa dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menjadi lebih disiplin, tidak hanya dalam hal ibadah, tetapi juga dalam menjalankan tugas-tugas lain di sekolah [29]. Selain itu, kebiasaan ini memperkuat kesabaran dan ketekunan dalam mempelajari Al-Qur'an, yang juga diterapkan dalam kehidupan akademik dan sosial mereka.</p>
        <p id="_paragraph-50">Keagamaan infaq program keagamaan yang membiasakan infaq setiap hari Jumat terbukti efektif dalam penguatan dan pembentukan karakter mulia pada siswa. Kegiatan infaq rutin ini mengajarkan siswa untuk memiliki rasa peduli dan empati terhadap sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan. Dengan berinfaq, siswa dilatih untuk berbagi dan berkontribusi secara aktif dalam membantu orang lain, yang memperkuat karakter kedermawanan dan kepedulian sosial [30]. Selain itu, pembiasaan infaq juga menanamkan nilai keikhlasan pada siswa, di mana mereka diajarkan untuk memberi dengan hati yang tulus tanpa mengharapkan imbalan. Sikap ini mendorong perkembangan karakter yang lebih rendah hati, yang penting dalam membangun hubungan yang baik dengan sesama. Rutinitas infaq setiap Jumat juga mengajarkan siswa tentang tanggung jawab sosial, bahwa setiap individu memiliki peran dalam kesejahteraan masyarakat sekitarnya.</p>
        <p id="_paragraph-51">Kegiatan ini juga memperkuat aspek spiritualitas siswa. Melalui infaq, mereka diajarkan tentang pentingnya menjalankan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam hal bersedekah dan membantu orang lain, sesuai dengan prinsip-prinsip yang diajarkan dalam agama. Secara tidak langsung, infaq rutin ini membantu siswa membentuk kepribadian yang berakhlak baik, penuh rasa syukur, dan sadar akan pentingnya berbuat baik. Mereka didorong untuk lebih peka terhadap kondisi orang-orang di sekitar mereka, sehingga mampu mengembangkan sikap yang lebih toleran dan bersolidaritas [31]. Nilai-nilai ini semakin penting dalam membentuk siswa menjadi individu yang peduli dan aktif dalam masyarakat. Program infaq juga meningkatkan rasa syukur pada siswa, karena mereka diajarkan untuk menghargai apa yang mereka miliki dan berbagi dengan orang lain yang kurang beruntung. Dengan melakukan infaq secara rutin, siswa tidak hanya belajar tentang nilai-nilai keagamaan, tetapi juga memahami pentingnya kontribusi sosial dalam kehidupan mereka, yang pada akhirnya membentuk karakter yang lebih berintegritas dan bertanggung jawab.</p>
        <p id="_paragraph-52">Strategi pembentukan karakter jujur ialah dengan menggunakan buku penghubung dimana orang tua dapat mengisi catatan jika peserta didik dirumah tidak melakukan sholat dan waktu disekolah peserta didik ditanyai oleh guru jika siswa jujur tetap akan diberikan sanksi, jika tidak jujur maka guru akan memberikan sanksi mengulang sholatnya dikelas serta membaca surah pendek. Dengan menerapkan karakter jujur juga bisa dengan menjadwalkan piket kelas dimana semua peserta didik harus jujur melakukan piket sesuai jadwalnya serta dengan melihat tugas individu peserta didik mengerjakan dengan jujur atau malah berbohong. Menurut [32] strategi menggunakan buku penghubung menjadi sarana melalui siswa yang didalamnya berisi pengumuman penting, tugas-tugas, catatan problem siswa, dan informasi seputar kegiatan siswa yang dipergunakan serta diterapkan secara tertulis. Peran orang tua sebagai perangkat penting dan pendukung keberhasilan program pembelajaran tidak bisa diabaikan. Kendala yang dihadapi oleh guru terkadang beberapa orang tua tidak ikut serta berpartisipasi dalam penggunaan buku penghubung karena hanya mengandalkan guru dikelas yang pada intinya orang tua hanya mengandalkan guru serta catatan buku penghubung, sedangkan orang tua dirumah hanya menerima tanpa ikut menanamkan atau mendorong peserta didik dalam penguatan karakter mulia saat lingkungan keluarga. Strategi program kolaborasi guru dengan orang tua di SDI Al-Chusnaini sangat mampu membentuk karakter mulia peserta didik dan menciptakan generasi unggul berkarakter baik.</p>
        <p id="_paragraph-53">Hasil wawancara dan observasi penelitian yang dilakukan dilapangan bahwa pembentukan karakter mulia tidak hanya diberikan berupa teori saja. Peserta didik benar-benar menerapkan karakter religius, jujur dan bertanggung jawab karena dukungan dari strategi program buku penghubung. Buku penghubung sangat diperlukan karena bukan hanya berupa buku catatan biasa tetapi juga membentuk dan menumbuhkan rasa jujur, religius dan bertanggung jawab peserta didik [33]. Manfaat karakter mulia bagi siswa yaitu menanamkan sikap kepada siswa menjadi lebih bertanggung jawab dan mempunyai karakter jujur dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan sampai kelak dewasa, serta siswa dapat memahami bahwa berkarakter mulia amat sangat penting bagi masa depannya kelak sehingga terbentuk menjadi pribadi berkarakter kokoh berakhlak mulia dan berguna bagi sesama manusia.</p>
        <fig id="fig2">
          <label>Figure 2</label>
          <caption>
            <title>Gambar 2. Kolom Buku Penghubung dan Catatan</title>
            <p id="_paragraph-54"/>
          </caption>
          <graphic id="_graphic-2" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="image2.jpeg"/>
        </fig>
        <p id="_paragraph-56">Sikap dan perilaku guna pembentukan karakter merupakan penerapan yang dibiasakan dan dilatih baik dalam pembelajaran maupun dalam pengalaman [34]. Maka pengetahuan peserta didik akan tertanam serta bertambah dalam ingatan peserta didik dikarenakan pembiasan akan terus dilaksanakan dan mempengaruhi penguatan pembentukan karakter mulia sampai hari tua [35]. Jika perilaku atau perubahan hasil belajar sering dibiasakan maka keberadaan perilaku tersebut akan bertambah kuat, dan sebaliknya jika perilaku tersebut tidak dibiasakan dan tidak diterapkan maka keberadaannya mengalami penurunan.</p>
        <fig id="fig3">
          <label>Figure 3</label>
          <caption>
            <title>Gambar 3. Wawancara wali murid</title>
            <p id="_paragraph-57"/>
          </caption>
          <graphic id="_graphic-3" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="image3.jpeg"/>
        </fig>
        <p id="_paragraph-59">Pembentukan karakter mulia disampaikan oleh orang tua peserta didik bahwa strategi buku penghubung ini sudah diterapkan dengan baik oleh peserta didik pada saat dirumah dan disekolah karena adanya buku penghubung, peserta didik melakukan kebiasaan pembentukan karakter pada saat disekolah dan menjadi terbiasa ketika dirumah. Tugas orang tua hanya ikut andil serta memantau dan menekankan apa yang sudah dibiasakan pada saat disekolah. Kolaborasi komunikasi antar orang tua dengan guru sangat diperlukan guna mencapai keberhasilan memaksimalkan upaya pembentukan karakter mulia pada peseta didik. Mengetahui berbagai karakter peserta didik yang diketahui dari kelemahan, kekurangan dan kemajuan peserta didik, guru kelas selaku pembentuk karakter harus mengerti larakter peserta didik yang berbeda-beda. Jumlah waktu dan kegiatan yang dihabiskan peserta didik lebih banyak disekolah daripada dirumah karena SDI Al-Chusnaini berprogram full day school maka dari itu pendidikan peserta didik dirumah maupun disekolah harus diselaraskan jangan sampai pada saat disekolah peserta didik dibina dengan baik akan tetapi pada saat dirumah dibiarkan ataupun sebaliknya. Kerja sama dan kolaborasi antar orang tua dan guru dimaksudkan guna mendidik anak tidak terjadi perbedaan prinsip atau bahkan pertentangan yang dapat mengakibatkan keraguan pendirian serta terbentuknya karakter mulia peserta didik.</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="sec-5">
      <title>
        <bold id="bold-ca0994d0c3d6d9dc1494c32132ae2d48">Simpulan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-60">Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa strategi penguatan dan pembentukan karakter mulia siswa dapat dicapai secara efektif melalui integrasi program ekstrakurikuler, keagamaan, serta kolaborasi antara orang tua dan guru. Setiap elemen memiliki peranan penting dalam membentuk siswa menjadi pribadi yang berakhlak mulia, bertanggung jawab, dan disiplin. Program ekstrakurikuler memberikan siswa pengalaman praktis untuk mengembangkan nilai-nilai seperti kerja sama, kepemimpinan, tanggung jawab, dan disiplin. Kegiatan ini</p>
      <p id="_paragraph-61">memberikan ruang bagi siswa untuk mempraktikkan berbagai nilai positif dalam kehidupan sehari-hari, yang memperkuat karakter mereka. Program keagamaan, seperti pembiasaan mengaji, shalat berjamaah, dan infaq rutin, memperkuat aspek spiritualitas, integritas moral, serta kedermawanan siswa. Kegiatan-kegiatan ini membantu menginternalisasi nilai-nilai agama yang menjadi landasan penting dalam pembentukan karakter mulia, seperti kejujuran, rasa syukur, dan empati terhadap sesama.</p>
      <p id="_paragraph-62">Sementara itu, kolaborasi antara guru dan orang tua melalui media komunikasi seperti buku penghubung atau pertemuan rutin, terbukti efektif dalam menjaga konsistensi pendidikan karakter antara lingkungan sekolah dan rumah. Sinergi ini memastikan bahwa nilai-nilai yang diajarkan di sekolah diperkuat di rumah, sehingga terjadi kesinambungan dalam proses pembentukan karakter Siswa Secara keseluruhan, buku penghubung bukan hanya sekedar buku pencatat, peran buku penghubung yang efektif dalam memotivasi siswa untuk berperilaku baik dan membentuk karakter mulia yang berkelanjutan. Namun, agar fungsinya optimal, diperlukan komitmen dari semua pihak yang terlibat, serta peningkatan pemahaman tentang pentingnya peran buku penghubung dalam proses pembentukan karakter siswa. Strategi penguatan dan pembentukan karakter mulia melalui program ekstrakurikuler, keagamaan, dan kolaborasi guru dengan orang tua melalui buku penghubung menghasilkan siswa yang lebih berkarakter mulia jujur, bertanggung jawab, religius, memiliki empati, serta berintegritas tinggi, baik dalam lingkungan sekolah maupun masyarakat.</p>
    </sec>
  </body><back/></article>
