Abstract

This descriptive quantitative research aimed to investigate the readiness of grade 1 elementary school students to enter primary education in the Jabon sub-district. A sample of 102 students out of a total population of 110 was selected using non-probability accidental sampling. Data analysis, employing the SPSS 17.0 for Windows program, involved descriptive statistics to assess school readiness based on measures such as mode, mean, median, standard deviation, and variance range. The findings revealed that among grade 1 students at SD Jabon Sidoarjo District, 85.3% (87 students) exhibited high readiness, 8.8% (9 students) demonstrated sufficient readiness, and 5.9% (6 students) displayed less readiness to enter elementary school. These results shed light on the preparedness of children for formal education and have implications for educational stakeholders in fostering optimal learning environments and supporting students' smooth transition to elementary school.

Highlights:

  • The study examined the readiness of grade 1 students to enter elementary school, providing insights into their preparedness for formal education.
  • A significant majority of grade 1 students (85.3%) demonstrated high readiness, emphasizing the positive foundation for their academic journey.
  • The findings have implications for educational stakeholders, highlighting the importance of creating supportive learning environments and facilitating a smooth transition into elementary school.

Keywords: Readiness, Elementary school, Grade 1 students, School transition, Educational implications.

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting didalah kehidupan manusia. Pendidikan manusia/warga disuatu negara dapat dijadikan salah satu tolak ukur keberhasilan suatu negara yang tertuang dalam MDGs. MDGs adalah suatu perjanjian atau hasil perundingan dari perwakilan 189 negara didunia. Salah satu kesepakatan dalam MDGs adalah mencapai pendidikan dasar untuk semua [1]. Dengan pendidikan diharapkan pembangunan sumber daya manusia dapat terealisasi. Pada pedoman pendidikan yang berlaku di Indonesia tertuang dalam peraturan UU Negara Republik Indonesia Nomor 12 tahun 2012 pasal 1 poin 1 yang menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha dasar dan terencana sehingga dapat mewujudkan suasana belajar serta proses pembelajaran peserta didik secara aktif mengembangkan dan meningkatkan potensi atau kemampuan yang ada pada dirinya, guna memiliki kekuatan spritual dalam keagamaan yang dapat membantu dirinya sendiri, masyarakat dan Negara.

Peserta didik SD adalah mereka yang sudah menyelesaikan melalui pendidikan taman kanak-kanak (TK). Seorang anak yang berusia sekitar 6 sampai dengan 12 tahun yang berada dalam tingkat perkembangan anak dan memasuki remaja awal merupakan tahap masa dimana mereka mempersiapkan diri untuk tahap selanjutnya untuk melanjutkan perkembagan hidupnya [2]. Dalam UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 pendidikan dasar terdiri dari Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau yang sederajatnya. Sekolah dasar merupakan tingkatan yang paling mendasar pada pendidikan formal di Indonesia. Untuk mencapai tingkatan pada sekolah dasar dibutuhkan dalam waktu 6 tahun, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6.

Persiapan anak memasuki sekolah dasar ialah keterampilan yang dimiliki anak-anak untuk melaksanakan tugasnya secara akademik di sekolah dasar [3]. Siswa yang telah siap masuk sekolah itu biasanya memiliki kelebihan serta tidak mengalami kegagalan di dalam aspek akademik [4]. Kesiapan siswa akan membantu siswa keluar dari kesulitan akademik yang dihadapi, sehingga anak mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik, dan memiliki minat belajar yang tinggi [5]. Kesiapan anak dapat dipengaruhi oleh tiga faktor, diantaranya; genetika, lingkungan, serta kondisi tubuh dan pematangan otak [6]. Sumber lain mengatakan terdapat lima faktor penting yang dapat mempengaruhi dari kesiapan anak masuk sekolah, antara lain: kesehatan fisik dan mental, usia, tingkat kecerdasan, cara menstimulasi dengan tepat dari lingkungan dan juga dukungan motivasi diri siswa [7]. Liingkungan yang paling dekat dengan anak adalah keluarga, faktor tingkat pendidikan orang tua sangat memengaruhi kesiapan anak [4].

Fakta dilapangan tidak semua siswa SD kelas 1 memiliki kesiapan seperti yang diharapkan. Hasil penelitian dari Lembaga Pendidikan orang tua dan Anak “Padi Bersinar” (LPOA “DINAR”) dari 5 sekolah di jawa Timur baik swasta maupun negeri ditahun 2015 didapat kurang lebih dari 30% calon peserta didik baru masih berusia dibawah 6,5 tahun. Ketuntasan anak dijenjang pendidikan Taman Kanak-kanak atau kemampuan anak dalam membaca, menulis dan berhitung menjadikan alasan orangtua untuk melanjutkan pendidikan dijenjang sekolah dasar [8]. Hasil penelitian sebelumnya mengatakan bahwa kurang lebih 5% dari 37 siswa TK-B dikatakan kategori cukup sampai belum siap[9]. Diperkuat juga dari hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan di SD terdapat 28% siswayang dikategorikan cukup dan belum siap[10].

Fenomen dan dasar teori diatas melatarbelakangi penulis untuk menyampaikan hasil penelitian yang berjudul “Gambaran Kesiapan anak masuk Sekolah Dasar pada Siswa Kelas 1 SD Negeri kecamatan Jabon”. Sesuai dengan tujuan dari penelitian ini yakni menggambarkan Kesiapan anak masuk Sekolah Dasar pada Siswa Kelas 1 SD Negeri kecamatan Jabon. Penelotian ini berharap dapat menambah khasanah kajian dibidang psikologi khusunya psikologi pendidikan anak. Serta penelitian ini diharapkan menjadikan dasar untuk pengembangan pendidikan di Indonesia dengan mempertimbangkan situasi pendidikan yang ada saat ini.

METODE

Pada penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Dimana penelitian ini memberikan sebuah gambaran pemetaan yang lebih lengkap mengenai suatu indikasi berdasarkan data yang sudah ada, menyiapkan data, menganalisa dan menginterprestasi data tersebut [11]. Penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif karena penelitian ini ingin mengetahui bagaimana Gambaran Kesiapan Anak Masuk Sekolah dasar di SD Negeri di kecamatan Jabon. Populasi pada penelitian ini sebanyak 110 siswa kelas 1 di 4 SD Negeri kecamatan Jabon. Proses pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode Non Probability dengan teknik sampling jenuh. Sehingga sampel dalam penelitian ini adalah sejumlah 102 anak kelas 1 di 4 SD Negeri Kecamatan Jabon. Alat ukur untuk pengumpulan data pada penelitian ini adalah menggunakan Psikotes NST (Nijmeegse Schoolbekwamheids Test), yaitu alat ukur ini digunakan untuk mengetahui kematangan anak, khususnya pada aspek kognitif [12]. Hasil uji analisa aitem NST membuktikan dari 99 aitem mempunyai nilai kolerasi biserial (rbis) yang bergerak dari 0,01744 sampai mengacu ke angka 1,00 yang telah ditentukan berdasarkan kriteria 0,25 sebagai batas minimum sebuah daya diskriminasi aitem yang sudah valid [13].

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

1. Kategori Kesiapan Siswa Masuk Sekolah Dasar

Pada Gambar dibwah ini menunjukkan gambaran dari kesiapan anak masuk SD pada siswa kelas 1 SD Jabon Sidoarjo sebesar 85.3% (87 siswa) memiliki kesiapan tinggi untuk masuk sekolah dasar, 8,8% (9 siswa) memiliki kesiapan yang cukup untuk masuk sekolah dasar, 5.9% (6 siswa) kurang siap dalam memasuki sekolah dasar. Sehingga pada hal ini dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian besar siswa kelas 1 di SD kecamatan Jabon Sidoarjo telah siap untuk memasuki dunia pendidikan.

Figure 1. Gambaran Kesiapan Siswa Masuk Sekolah Dasar

Figure 2. Rata-Rata Nilai NST diyinjau dari Umur

Gambar diatas menjelaskan bahwa rata-rata nilai NST pada usia 6 tahun mendapat nilai 53, pada usia 7 tahun mendapat nilai 54,13 dan pada usia 8 tahun mendapat nilai 53,88.

2. Hasil Rata-Rata Nilai NST ditinjau dari Umur Siswa

Figure 3. Kesiapan Anak Masuk SD ditinjau Berdasarkan Umur 6 Tahun

Dalam gambar diatas dapat dijabarkan bahwa siswa pada umur 6 tahun 80.0% (8 siswa) menyatakan siap dalam kesiapan masuk sekolah dasar, serta 20.0% (2 siswa) merasa cukup dalam kesiapan masuk sekolah dasar.

Figure 4. Kesiapan Anak Masuk SD ditinjau Berdasarkan Umur 7 Tahun

Pada gambar 4.4 menjelaskan bahwa kesiapan anak masuk sekolah dasar berdasarkan umur 7 tahun mendapatkan hasil 86.9% (73 siswa) merasa siap masuk SD. 7,1% (6 siswa) merasa cukup, 6.0% (5 siswa) kurang siap dalam kesiapan masuk SD.

Figure 5. Kesiapan Anak Masuk SD ditinjau Berdasarkan Umur 8 Tahun

Pada gambar 4.5 menjelaskan bahwa kesiapan anak masuk sekolah dasar berdasarkan umur 8 tahun mendapatkan hasil 75.0% (6 siswa) siap masuk SD, 12.5% (1 siswa) merasa Cukup, 12.5% sedangkan 12.5% (1 siswa) kurang siap dalam kesiapan masuk sekolah dasar.

3. Gambaran Kesiapan Anak Masuk Sekolah Dasar ditinjau dari Jenis Kelamin

Figure 6. Kesiapan Anak Masuk SD ditinjau dari Jenis Kelamin Laki-Laki

Figure 7. Kesiapan Anak Masuk SD ditinjau dari Jenis Kelamin Perempuan

Gambaran kesiapan Anak Masuk SD pada siswa kelas 1 SD Jabon ditinjau dari Jenis Kelamin dapat dijabarkan sebagai berikut:

  1. Pada kategori Siap jenis kelamin laki-laki terdapat 86.7% (39 siswa) sedangkan jenis kelamin perempuan mendapatkan 85.0% (34 siswa)
  2. Pada kategori Cukup, jenis kelamin laki-laki terdapat 4.4% (2 siswa) sedangkan jenis kelamin perempuan terdapat 12.5% (5 siswa).
  3. Pada kategori Kurang Siap jenis kelamin laki-laki 8.9% (4 siswa) sedangkan perempuan terdapat 2.5% (1 siswa).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Jenis kelamin laki-laki kesiapan masuk sekolah dasar masih banyak yang kurang siap dibandingkan dengan kesiapan jenis kelamin perempuan.

Pembahasan

Gambaran uji statistik dari data skor NST pada subjek yang berjumlah 102 peserta didik baru di SD Kecamatan Jabon Sidoarjo didapatkan hasil bahwa terdapat 87 siswa berada pada kategori siap dengan skor rata-rata kesiapan sebanyak 85,3% , selanjutnya 9 siswa pada kategori cukup dengan skor 8,8% , dan 6 siswa yang kurang siap dengan skor kesiapan 5,9%. Artinya sebagian besar siswa sudah siap memasuki sekolah dasar, hanya sja sebagian kecil sebesar 14,7% yang memiliki skor cukup hingga kurang siap. Hal ini di dukung oleh hasil penelitian terdahulu yang berjudul “Pengukuran Kesiapan Sekolah: Analisis Empirik Berdasar Teori Tes Klasik dengan subjek berjumlah 37 pada siswa TK IT Darul Hasan Padangsidimpun” didapatkan hasil bahwa 35 siswa dengan persentase 94,6% dinyatakan siap memasuki sekolah dasar, 1 orang siswa dengan persentase 2,7% dinyatakan cukup dan 1 orang siswa dengan persentase 2,7% dinyatakan belum siap [9].

Pada penelitiannya terdahulu berikutnya yang berjudul School Readiness of Preschool Children Entering Elementary School Based on Nijmeegse Schoolbekwaamheiid Test (NST) (Case Study at Early Childhood Education Al Husna Pengging Boyolali) pada 32 siswa menunjukkan bahwa 16 siswa dinyatakan siap dengan persentase 50%, 13 siswa cukup siap dengan persentase 40,6% dan 3 siswa tidak siap dengan persentase 9,4% [14]. Penelitian lain yang berjudul Profil Kesiapan Sekolah Anak Prasekolah Memasuki Sekolah Dasar Berdasarkan Nijmeegse Schoolbekwaamheiid Test (NST) di SDIT Ukhuwah Banjarmasin didapatkan hasil bahwa 72% siswa memiliki kesiapan yaitu sejumlah 54 anak, 21% pada kategori cukup dengan jumlah siswa sebanyak 16, dan 7% pada kategori belum siap pada 5 anak [10].

Hsil penelitian ini juga menggambarkan perbedaan prosentasi hasil kesiapan ditinjau dari segi usia siawa. Pada usia 6 tahun mendapatkan presentase 80%, sedangkan pada usia 7 tahun mendapatkan presentase 86,9%, dan pada usia 8 tahun mendapatkan presentase sebesar 75%. Artinya ada peningkatan skor prosentase kematangan ditinjau dari usia 6 dan 7. Namun tidak skor prosentase kematangan pada siswa usia 7 dan 8. Dari data yang diperoleh pada siswa usia 8 tahun terdapat 2 siswa yang berada pada kategori kurang siap dan cukup adalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang memiliki keterbatasan pada fisik, intelektual, emosi, dan sosial. Hal ini juga dijelaskan oleh penelitian sebelumnya yang mengatakan kesiapan sekolah siswa yang berkebutuhan khusus pada tingkat sekolah dasar di sekolah inklusi kota Batu Malang yaitu kesiapan bahasa yang di ikuti oleh aspek emosional serta social, sedangkan aspek motivasi merupakan aspek yang paling rendah dengan diikuti oleh aspek kognitif [15].

Tidak hanya berfokus pada tingkat intelegensi tetapi juga harus memerhatikan kematangan aspek kognitif. Aspek kognitif sangat penting bagi anak agar dapat memenuhi tuntutan pada berbagai bidang pelajaran nantinya [16]. Kesiapan sekolah adalah kondisi anak yang dalam bentuk memiliki beberapa keterampilan sebagai modal anak untuk beradaptasi terhadap tuntutan lingkungan yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Pada hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kesiapan anak masuk sekolah dasar ditinjau dari usia [17]. Hal ini dibuktikan oleh hasil penelitian bahwa subjek yang berusia 6 tahun ada 80.0% (8 siswa) menyatakan siap dalam kesiapan masuk sekolah dasar. Sedangkan pada siswa yang berusia 7 tahun 86.9% (73 siswa) merasa siap masuk SD. Artinya bahwa siswa yang berusia 6-7 tahun menunjukkan kesiapan masuk sekolah dasar. Bahwa semakin tinggi usia anak maka perkembangan kognitif tahap demi tahap mengalami kematangan, sesuai dengan teori piaget bahwa perkembangan kognitif manusia ada 4 tahap: tahap sensori, tahap praoperasional, tahap operasi konkrit, tahap operasi formal. Hal ini di dukung oleh hasil penelitian terdahulu yang berjudul Usia dan Jenis Kelamin dengan Kesiapan Masuk Sekolah Dasar menunjukkan hasil bahwa rxy=0,123 dan p=0,035, artinya ada hubungan positif antara usia dengan kesiapan anak masuk SD pada anak usia 6-7 tahun [3].

Kesiapan masuk sekolah dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satu faktor utamanya adalah lingkungan keluarga dan peran orangtua dalam menyiapkan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk masuk sekolah dasar [18]. Faktor lain yang turut memengaruhi adalah usia, pola asuh, kesehatan fisik, kesejahteraan anak, kompetensi sosial dan kematangan emosi, pendekatan belajar, Bahasa dan perkembangan kognitif, dan keterampilan komunikasi [19]. Sehingga peserta didik yang kurang siap dalam memasuki dunia sekolah dapat disebabkan karna adanya hambatan kognitif, masalah tumbuh kembang dan sebagainya. Dilihat dari segi berkembanya kognitif yang telah berada pada tahap operasional yang nyata, dimana anak sudah dapat mengelompokkan benda, dapat memahami konsep waktu, ruang, sebab akibat serta mampu bercerita dengan baik, menandakan bahwa anak sudah siap untuk memasuki sekolah dasar.

Gambaran kesiapan anak masuk sekolah dasar pada siswa kelas 1 di SD kecamatan Jabon ditinjau dari jenis kelamin dapat dilihat pada kategori siap jenis kelamin laki-laki terdapat 86.7% (39 siswa) sedangkan jenis kelamin perempuan mendapatkan 85.0% (34 siswa). Sehingga dapat disimpulkan bahwa jenis kelamin laki-laki lebih siap masuk sekolah dasar. Penelitian yang berjudul Kesiapan Anak Masuk Sekolah Dasar Ditinjau dari Tingkat Intelegensi dan Jenis Kelamin menjelaskan bahwa terdapat beberapa perbedaan dari kesiapan anak masuk sekolah dasar dan dapat ditinjau dari tingkat intelegensi serta jenis kelamin [20]. Perihal ini di karenakan jenis kelami laki-laki mempunyai sifat yang cenderung tidak emosional, bisa meredam emosinya, lebih objektif, sulit terpengaruh, lebihh percaya diri, bisa memilah antara fikiran serta perasaan, tidak tergantung, kebutuhan keamanan yang sedikit. Sedangkan sifat wanita berbanding terbalik dengan sifat laki-laki.

Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Mariyati, (2016) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada skor mean yang memiliki nilai cenderung kecil yaitu 1.7948 sehingga ditarik kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan atau cenderung untuk diabaikan dalam konteks umum atau luas terkait perbedaan jenis kelamin antara perempuan dan laki-laki [8]. Tes intelegensi atau kognitif sebagaian besar dipergunakan secara luas serta didesain untuk menghilangkan bias gender [6]. Namun pada hasil tersebut juga terjadi perbedaan pada nilai tertentu, seperti halnya anak yang berjenis kelami perempuan dapat lebih baik dalam tugas verbal, motoric halus dan keterampilan perseptual dibanding anak laki-laki. Sedangkan anak laki-laki lebih menonjol dalam kemampuan spasial, matematika abstrak serta penalaran ilmiah [6]. Apabila terdapat perbedaan pada anak laki-laki dan perempuan mengenai stuktur serta fungsi otak, akan tetapi pendapat tersebut sangat kecil serta tidak konsisten terhadap perbedaan [21]. Hasil penelitian lain membuktikan bahwa anak berjenis kelamin laki-laki lebih baik dalam keterampilan visiospatial daripada anak berjenis kelamin perempuan [21].

Kesiapan anak masuk SD pada siswa kelas 1 dapat diteliti melalui aspek psikologi yang menjadi pertimbangan pada kesiapan anak masuk SD. Dengan terpenuhinya psikologis anak, maka anak jauh lebih siap serta dapat cepat untuk adaptasi di situasi pembelajaran yang baru. Begitu dengan sebaliknya, apabila anak masih belum siap untuk mengikuti kegiatan belajar di sekolah dasar semakin besar. Sehingga sangat dibutuhkan kesiapan psikologis yang terkait dengan aspek perkembangan anak, seperti halnya dalam hal kognitif, bahasa, social, pengelolaan emosi diri, motoric, serta kemandirian. Bahwa kesiapan siswa sekolah dasar terdiri dari kesiapan secara fisik serta kesiapan secara psikologis yang meliputi kesiapan emosi, social dan inteektual [22]. Indikator kesiapan memiliki peranan untuk mengetahui sejauh mana kesiapan siswa. Kesiapan bersekolah dan mengikuti kegiatan di sekolah sangat bergantung pada perkembangan siswa.

SIMPULAN

Pada penelitian yang telah di jabarkan dalam pembahasan skripsi diatas, maka dapat ditarik kesimpulan apabila kesiapan anak masuk SD siswa kelas 1 dapat diteliti melalui aspek psikologis yang dapat dipertimbangkan dalam kesiapan anak masuk sekolah dasar. Apabila aspek psikologi pada anak telah terbentuk maka anak akan memiliki kesiapan masuk sekolah dasar dengan baik serta mampu beradaptasi dalam pembelajaran dengan situasi baru. Namun, apabila aspek psikologi belum terbentuk pada anak, maka anak akan mengalami permasalahan dalam mengikuti pembelajaran baru serta akan kesulitan dalam mengikuti pembelajaran disekolah dasar. Kesiapan masuk sekolah dasar dipengaruhi oleh kesiapan psikologi serta kesiapan fisik yang meliputi kesiapan emosi, social, serta intelektual. Indikator kesiapan memiliki peranan dalam memahami seberapa besar kesiapan anak untuk memasuki sekolah dasar. Kesiapan bersekolah serta mengikuti kegiatan disekolah sangat bergantung terhadap kematangan perkembangan siswa.

References

  1. F. Simangunsong, "Pencapaian Perkembangan Milenium Development Goals (MDGs) di Kabupaten Asmat," JIPSI, vol. 3, pp. 196–289, 2019.
  2. N. Rolina, "Memahami Psikologi Perkembangan Anak Bagi Pengembangan Aspek Seni Anak Usia Dini," 2010.
  3. L. I. Mariyati and G. R. Affandi, "Analisis Kualitas Nijmeegse Schoolbekwaamheids Test (NST) secara empirik berdasar Classical Test Theory," Laporan penelitian tidak diterbitkan, Sidoarjo: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, 2016.
  4. W. Sulistyaningsih, "Kesiapan Bersekolah Ditinjau Dari Jenis Pendidikan Pra Sekolah Anak Dan Tingkat Pendidikan Orangtua," Psikologis, vol. 1, no. 1, pp. 1–8, 2005.
  5. J. W. Santrock, Life-Span Development Perkembangan Masa Hidup, 5 jilid 2. Jakarta: Erlangga, 2012.
  6. D. E. Papalia, S. W. Old, and R. D. Feldman, Human Development (Psikologi Perkembangan) Bagian V s/d IX. Jakarta: Prenadamedia Grup, 2008.
  7. A. K. Damayanti and E. P. Kristanti, "Kesiapan anak masuk sekolah dasar ditinjau dari pola asuh orangtua," J. Psikovidya, vol. 20, no. 2, pp. 40–52, 2016.
  8. L. I. Mariyati, "Usia dan jenis kelamin dengan kesiapan masuk sekolah dasar," Fak. Psikol. Univ. Muhammadiyah Sidoarjo, vol. 095, pp. 331–344, 2012.
  9. F. Ramadhini and L. A. A. Nasution, "Pengukuran Kesiapan Sekolah: Analisis Empirik Berdasar Teori Tes Klasik," Buhuts Al-Athfal J. Pendidik. dan Anak Usia Dini, vol. 2, no. 1, 2022.
  10. Y. Hairina, "Profil Kesiapan Sekolah Anak Prasekolah Memasuki Sekolah Dasar Berdasarkan Nijmeegse Schoolbekwaamheids Test (Nst) (Studi di SDIT Ukhuwah Banjarmasin, Tahun 2017)," Mu'adalah J. Stud. Gend. dan Anak, vol. 4, no. 1, pp. 27–40, 2017.
  11. S. Sitoyo and A. Sodik, Dasar Metodelogi Penelitian. Yogyakarta: Literasi Media Publishing, 2015.
  12. E. Supartini, "Pengukuran Kesiapan Sekolah," J. Pendidik. Khusus, vol. 2, no. 2, 2006.
  13. S. Azwar, penyusunan skala psikologi edisi 2. Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2015.
  14. N. Fauziyah, "School Readiness of Preschool Children Entering Elementary School Based on Nijmeegse Schoolbekwaamheids Test (Nst) (Case Study at Early Childhood Education Al Husna Pengging Boyolali In 2017)," Early Child. Res. J., vol. 2, no. 2, pp. 29–35, 2019, doi: 10.23917/ecrj.v2i2.7725.
  15. S. Prasetyaningrum, N. Imatuzahroh, A. Firmanto, and P. Saraswati, "School Readiness Siswa Berkebutuhan Khusus Di Kelas Inklusi Tingkat Sekolah Dasar Kota Batu," J. Psikol. Perseptual, vol. 7, no. 1, 2017.
  16. Kustimah and D. Kusumawati, "Gambaran kesiapan anak masuk sekolah dasar ditinjau dari hasil Test N.S.T (Nijmeegse Schoolbekwaamheids Test)," Fak. Psikol. Univ. Padjajaran, 2007.
  17. K. Peckham, Developing school readiness: Creating life long learners. London: Sage Publication Ltd, 2017.
  18. M. Rifai and Fahmi, "Pengelolaan kesiapan belajar anak masuk sekolah dasar," Tarbawi, vol. 3, no. 01, pp. 129–143, 2017.
  19. D. A. Faqumala and Y. K. S. Paranoto, Kesiapan Anak Masuk Sekolah Dasar, Cetakan ke. Pekalongan: PT Nasya Expanding Management, 2020.
  20. A. K. Damayanti and Rachmawati, "Kesiapan anak masuk sekolah dasar ditinjau dari dukungan orangtua dan motivasi belajar," Psikovidya, vol. 20, no. 1, pp. 16–25, 2016.
  21. J. W. Santrock, Perkembangan Anak, Edisi 7 Ji. Jakarta: Erlangga, 2011.
  22. N. Mustamiroh, "Studi Komparasi Kesiapan Anak Memasuki sekolah Dasar (SD) Pada Anak-Anak Yang Mengikuti Pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) Program Full Day Ditinjau Dari Tingkat Pendidikan Orang Tua," Skripsi Fak. Psikol. Univ. Muhammadiyah Surakarta, 2012.