Abstract

This study aims to assess the impact of the School Literacy Movement program on the reading skills of grade I students at SD Muhammadiyah 2 Tulangan in Indonesia. Employing a quantitative approach, data was collected through tests and questionnaires. The sample comprised 24 grade I students. The findings revealed that the School Literacy Movement variable accounted for 73.8% of the variance in students' reading skills, while the remaining 26.2% was attributed to external variables or error. Test results indicated that over 50% of the students demonstrated excellent reading skills, with 13 students falling in the "very good" category, nine in the "good" category, and two in the "sufficient" category. This study underscores the significant influence of the school literacy movement in fostering improved reading abilities among grade I students, suggesting its potential for enhancing educational outcomes in Indonesia and beyond.

Highlights:

  • The School Literacy Movement program significantly influences grade I students' reading skills.
  • The quantitative method employed in the study allowed for data analysis and assessment.
  • The findings highlight the potential of the program in improving educational outcomes.

Keywords: School Literacy Movement, Grade I Students, Reading Skills, Quantitative Method, Educational Outcomes

PENDAHULUAN

Rendahnya tingkat literasi bangsa Indonesia menyebabkan sumber daya manusia tidak kompetitif karena lemahnya minat dan kemampuan baca tulis. [1]. Hasil survei tahun 2019 menunjukkan bahwa minat membaca masyarakat Indonesia menduduki peringkat ke-62 di antara 70 negara [2]. Artinya, membaca dan menulis belum dianggap sebagai kebutuhan dasar manusia dan belum menjadi bagian dari praktik budaya arus utama di tanah air.

Pada tahun 2015 pemerintah membuat gagasan baru yaitu dengan menggalakkan program GLS membaca di sekolah karena menurunnya minat membaca di negara kita. Inisiatif literasi di seluruh sekolah ini ditujukan untuk siswa di kelas prasekolah hingga sekolah menengah. Tujuan dari program ini adalah untuk menanamkan kecintaan belajar dan penguasaan materi kepada siswa sehingga mereka dapat menyebarkan literasi dan memberantas pola pikir buta huruf melalui bahasa ibu mereka. Tujuan dari inisiatif literasi ini adalah agar siswa membaca karya penulis lokal dan mereka yang memiliki cinta rasa lokal yang kuat sebelum kelas dimulai [3]. Program peningkatan literasi sekolah diharapkan dapat menginspirasi masyarakat Indonesia untuk memajukan negaranya.

Penerapan program GLS dilakukan secara bertahap, dengan mempertimbangkan kesiapan sekolah di seluruh Indonesia. Program ini sudah diterapkan di berbagai daerah Indonesia, namun kualitas pelaksanaan GLS setiap daerah berbeda, tergantung ketersediaan sarana dan prasarana sekolah tersebut [4]. Program GLS sudah berjalan lebih dari 5 tahun akan tetapi ada sebagian sekolah yang sampai saat ini belum menerapkan program tersebut dikarenakan terkendala masalah sarana dan prasarana. Kurangnya dukungan dari pemerintah untuk pemenuhan bantuan sarana dan prasarana menyebabkan terhambatnya program di beberapa sekolah. GLS merupakan suatu usaha yang bersifat partisipatif dengan membaca rutin diharapkan akan tumbuh kebiasaan membaca. Kebiasaan membaca tersebut akan membentuk suatu kemampuan membaca dan memberi pemahaman terhadap peserta didik.

Semua proses belajar didasarkan dari kemampuan membaca, maka dari itu membaca merupakan fungsi yang paling penting dalam hidup [5]. Kemampuan membaca yang melekat dan membudaya dalam diri setiap anak akan menghasilkan keberhasilan di sekolah maupun dalam kehidupan di masyarakat, serta akan membuka peluang kesuksesan hidup yang lebih baik. Membaca merupakan kemampuan awal sebagai bekal mempelajari segala sesuatu, literasi membaca merupakan bentuk pembelajaran yang sangat penting bagi guru juga peserta didik agar suatu pembelajaran mudah dipahami atau dimengerti saat melakukan kegiatan membaca, menulis ataupun berkomunikasi [6].

Membaca tidak hanya sekedar melihat dan mengucapkan lafal kalimat melainkan memperoleh pemahaman dan informasi dari bacaan tersebut [7]. Informasi atau pemahaman yang kita dapat itulah yang dinamakan keterampilan dalam membaca. Minimnya kesadaran akan pentingnya membaca dalam diri kita menyebabkan tertinggal jauh akan informasi yang berkembang saat ini. Dengan adanya media elektronik yang serba canggih saat ini kita harus memanfaatkannya dengan baik. Membaca bukan hanya di buku saja, melainkan kita dapat memanfaatkan handphone maupun internet untuk membaca melalui e-book, maupun fasilitas lainnya.

Membaca merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi dan memperoleh pengetahuan. Kemampuan literasi seseorang sangat dipengaruhi oleh kemampuan membaca [8]. Rendahnya kemampuan literasi menyebabkan rendahnya minat baca dikalangan siswa sekolah dasar. Dari teori tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa literasi dan keterampilan membaca saling keterkaitan.

Dari hasil observasi yang dilakukan di SD Muhammadiyah 2 Tulangan bahwa penerapan GLS sudah diterapkan sejak sekitar kurang lebih 4 tahun yang lalu. Sarana dan prasarana kelengkapan program literasi juga sudah tercukupi dengan baik. Penerapan literasi di sekolah tersebut sempat dihilangkan sejak masa pandemi, dikarenakan waktu belajar yang singkat disekolah.

GLS yang diterapkan di SD Muhammadiyah 2 Tulangan berada di tahap pembiasaan, diikatakan masih berada dalam tahap pembiasaan karena pada tahap ini bertujuan untuk menumbuhkan minat peserta didik terhadap kecintaannya pada buku bacaan di luar pembelajaran. Peneliti mengambil kelas rendah yakni kelas 1 dikarenakan siswa yang awalnya hanya bernyanyi dan bermain di jenjang TK kemudian dituntut untuk bisa menulis dan membaca. Dalam buku panduan Gerakan literasi sekolah untuk kelas rendah seperti kelas 1 penerapan Gerakan literasi sekolah adalah dengan membaca nyaring yang dibacakan oleh guru dengan durasi waktu 15 menit setiap hari Senin sampai Kamis. Sebagai bahan evaluasi, guru menugaskan siswa untuk menceritakan kembali isi cerita dalam bentuk tulisan di buku masing masing.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Determinan penelitian ini meliputi Kebiasaan Membaca di Sekolah dan Keterampilan Membaca. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Program Membaca Sekolah (Gerakan Literasi Sekolah) terhadap keterampilan membaca siswa kelas satu SD Muhammadiyah 2 Tulangan. Pengambilan sampel dalam penelitian sering menggunakan teknik yang disebut "sampel jenuh", di mana setiap anggota populasi dipilih secara acak untuk menjadi bagian dari sampel. Jumlah siswa yang disurvei dalam penelitian ini adalah 24. Teknik seperti tes, wawancara, observasi, dan dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data untuk penelitian ini. Penelitian ini menggunakan uji regresivitas langsung untuk analisis datanya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mengetahui pengaruh gerakan literasi sekolah terhadap keterampilan membaca siswa kelas 1 SD Muhammadiyah 2 Tulangan. Untuk memperolah data, peneliti melakukan beberapa tindakan diantaranya observasi, test, angket dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk melihat situasi dan kondisi kelas 1 beserta model penerapan Gerakan literasi sekolah. Untuk memperoleh data tentang penerapan Gerakan literasi yaitu dengan menyebarkan angket sesuai buku panduan literasi pada tahap pembiasaan. Sedangkan untuk memperoleh data keterampilan membaca peneliti menggunakan test. Sebelum pelaksanaan test, peneliti membacakan buku cerita bergambar kemudian siswa dipanggil sesuai urutan absen untuk melakukan test dengan membaca buku cerita sebanyak 1 paragraf. Test ini diikuti oleh siswa kelas 1 bayam SD Muhammadiyah 2 Tulangan yang berjumlah 24 siswa. Keterampilan membaca siswa yang dapat dinilai dalam penelitian ini ada empat poin yaitu: ketepatan lafal, kelancaran dalam membaca, intonasi, dan ketepatan tanda baca.

Hasil analisis data menunjukkan bahwa gerakan literasi sekolah membawa pengaruh positif dan signifikan terhadap keterampilan membaca siswa kelas 1 SD Muhammadiyah 2 Tulangan. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut:

Coefficients a
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 2.417 5.628 .429 .672
GLS .384 .159 .459 2.424 .024
Table 1. Hasil Uji Regresi Linier

Dependent Variable: Keterampilan Membaca

Pada tabel diatas Koefisien regresi variabel gerakan literasi sekolah sebesar 0,384 artinya terjadi peningkatan variabel gerakan literasi sekolah sebesar 1 satuan maka akan menyebabkan peningkatan terhadap variabel keterampilan membaca siswa sebesar 0,384 satuan. Koefisien bernilai positif yang berarti bahwa arah hubungan variabel gerakan literasi sekolah terhadap variabel keterampilan membaca siswa searah dimana apabila variabel gerakan literasi sekolah naik maka variabel keterampilan membaca siswa naik. Artinya semakin tinggi nilai variabel gerakan literasi sekolah semakin tinggi nilai variabel keterampilan membaca siswa begitu pula sebaliknya semakin rendah variabel gerakan literasi sekolah maka semakin rendah pula nilai variabel keterampilan membaca siswa

Peran literasi di era globalisasi ini sangat dibutuhkan untuk menggali informasi dan menambah wawasan. Keterampilan membaca seseorang dapat kita lihat dari seberapa sering seseorang membaca, Semakin sering seseorang membaca semakin luas pengetahuan yang didapatkan. Keterampilan dalam menggunakan bahasa biasanya mencantumkan empat keterampilan yang harus dikuasai oleh siswa, yakni keterampilan menyimak, keterampilan membaca, keterampilan berbicara dan keterampilan menulis [9]. Dengan adanya Gerakan literasi sekolah membuat siswa mau tidak mau harus membaca minimal sehari 1 bacaan.

Untuk mengetahui besar pengaruh Gerakan Literasi Sekolah terhadap keterampilan membaca dapat kita lihat pada tabel dibawah ini :

Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .866a .749 .738 7.49262
a. Predictors: (Constant), GLS
b. Dependent Variable: Keterampilan Membaca
Table 2. Hasil Uji Hipotesis

Dari tabel diatas dapat terlihat nilai Adjusted R Square 0,738 atau 73,8%. Angka tersebut menunjukkan besar pengaruh variabel Gerakan Literasi Sekolah terhadap Variabel Keterampilan Membaca Siswa secara gabungan, sedangkan sisanya 26,2% dipengaruhi oleh faktor variabel lain di luar penelitian ini atau nilai error

Bukti lain yang menunjukkan bahwa Gerakan literasi sekolah mempengaruhi keterampilan membaca dapat dilihat pada perolehan nilai test. Perolehan nilai test dengan kriteria sangat baik dengan nilai 80-100 diperoleh 13 siswa maka persentase kriteria sangat baik sebesar 54% sedangkan kriteria baik dengan nilai 61-80 diperoleh 9 siswa besar persentase 37,5% dan kriteria cukup dengan nilai 40-60 diperoleh 2 siswa dengan persentase 8,5%. Dari test tersebut dapat dilihat bahwa lebih dari 50% siswa sudah mempunyai keterampilan membaca yang sangat baik.

Hasil penelitian diatas menunjukkan terdapat pengaruh Gerakan literasi sekolah terhadap keterampilan membaca siswa kelas 1 SD Muhammadiyah 2 Tulangan. Banyak faktor yang mempengaruhi keterampilan membaca siswa, baik faktor internal maupun eksternal. Faktor internal yang dapat mempengaruhi keterampilan membaca tidak lain adalah kegemaran membaca dalam diri mereka, sedangkan faktor eksternal yang ada di dalam lingkungan sekolah seperti pembiasaan Gerakan literasi sekolah yang dilakukan oleh guru sebelum pembelajaran dimulai.

Hal ini sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa Gerakan literasi sekolah mempengaruhi keterampilan membaca siswa [10]. Membaca merupakan kegiatan penting dalam memperoleh informasi dan memperoleh pengetahuan. Kemampuan literasi seseorang sangat dipengaruhi oleh kemampuan membaca [11]. Rendahnya kemampuan literasi menyebabkan rendahnya minat baca dikalangan siswa sekolah dasar. Dari teori tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa literasi dan keterampilan membaca saling keterkaitan.

SIMPULAN

Peneliti menemukan bahwa Gerakan Literasi Sekolah berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan membaca siswa kelas satu SD Muhammadiyah 2 Tulangan. Nilai Adjusted R Square yang dapat dihitung dari tabel pengujian hipotesis adalah 0,738%. Angka tersebut menunjukkan bahwa kemampuan membaca siswa sangat dipengaruhi oleh tingkat literalisme sekolah mereka, sedangkan 26,2% lainnya dipengaruhi oleh faktor di luar cakupan penelitian ini (kesalahan). Skor ujian dapat digunakan untuk mengevaluasi dampak inisiatif literasi sekolah. Berdasarkan nilai ujian, kita dapat melihat bahwa lebih dari separuh siswa memiliki keterampilan membaca tingkat lanjut.

References

  1. A. I. Anisa, "Pengaruh Kurangnya Literasi Serta Kemampuan Dalam Berpikir Kritis Yang Masih Rendah Dalam Pendidikan Di Indonesia," Series Journal, pp. 1-2, 2021.
  2. T. Wulandari, "Pengaruh Gerakan Literasi Sekolah Terhadap Minat Baca Dan Keterampilan Membaca Siswa SMA N 1 Purworejo," pp. 41-50, 2020.
  3. Teguh, "Pengaruh Gerakan Literasi Sekolah Terhadap Keterampilan Membaca Siswa," Pendidikan Dasar Flobamorata, pp. 1-9, 2020.
  4. Eriyani, "Pengaruh Gerakan Literasi Sekolah Terhadap Keterampilan Menulis Teks Deskripsi," pp. 1-2, 2020.
  5. Rumidjan, "Pengembangan Media Kartu Kata Untuk Melatih Keterampilan Membaca Permulaan Pada Siswa Kelas 1 SD," Kajian Teori Dan Praktik Pendidikan, pp. 62-68, 2017.
  6. Hermawan, "Pengaruh Literasi Terhadap Keterampilan Membaca Pada Siswa Kelas IV SD Inpres 12 Kab. Sorong," Jurnal Papeda: Jurnal Publikasi Pendidikan Dasar, pp. 56-63, 2020.
  7. Anjani, "Pengaruh Implementasi Gerakan Literasi Sekolah Terhadap Minat Baca Dan Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa Kelas V SD Gugus II Kuta Utara," Pendasi, pp. 74-83, 2019.
  8. F. Dafit and &., "Pelaksanaan Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Disekolah Dasar," Jurnal Basicedu, pp. 1429-1437, 2020.
  9. Hermawan, "Pengaruh Literasi Terhadap Keterampilan Membaca Pada Siswa Kelas IV SD Inpres 12 Kab. Sorong," Jurnal Papeda: Jurnal Publikasi Pendidikan Dasar, pp. 56-63, 2020.
  10. Eriyani, "Pengaruh Gerakan Literasi Sekolah Terhadap Keterampilan Menulis Teks Deskripsi," pp. 1-2, 2020.
  11. F. Dafit and &., "Pelaksanaan Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Disekolah Dasar," Jurnal Basicedu, pp. 1429-1437, 2020.