Abstract

This quantitative comparative study aims to examine the differences in academic self-efficacy among upper grade students in elementary schools in Sidoarjo, specifically in relation to tutoring. The research population consisted of fourth and fifth-grade students from Larangan State Elementary School and Muhammadiyah 2 Kedungbanteng Elementary School, with a total of 185 subjects. The Academic Self-Efficacy Scale, comprising 27 items, was used to measure self-perceived abilities. Data analysis involved the two independent sample t-test technique. The results indicated no significant difference (p > 0.5) in academic self-efficacy between students who received tutoring and those who did not. The Cronbach's Alpha test demonstrated high reliability (0.890) for the academic self-efficacy scale. This study highlights that tutoring did not have a significant impact on the academic self-efficacy of upper grade students. These findings provide implications for educators and parents in considering alternative strategies to enhance students' academic self-efficacy beyond traditional tutoring approaches.

Highlight:

  • No significant difference: The study reveals that there is no significant difference in academic self-efficacy between students who receive tutoring and those who do not.
  • Reliable scale: The academic self-efficacy scale used in the study demonstrates high reliability, with a Cronbach's Alpha coefficient of 0.890.
  • Implications for practice: The findings suggest that tutoring may not be the sole determinant of academic self-efficacy in upper grade students, prompting educators and parents to consider alternative strategies to enhance students' belief in their abilities.

Keyword:

Academic Self-Efficacy, Tutoring, Upper Grade Students, Quantitative Comparison, Elementary School

Pendahuluan

Berdasarkan amanat UUD 1945, pendidikan di Sekolah Dasar merupakan sebuah upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan Sekolah Dasar merupakan sebuah upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa [1]. Pembelajaran yang dilakukan secara langsung membuat siswa sekolah dasar lebih bersemangat menjalani aktivitas belajar, untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Waktu pembelajaran yang terbatas di sekolah membuat sebagian besar waktu belajar siswa dilaksanakan di rumah masing-masing. Proses pembelajaran yang dilakukan di rumah membuat orang tua meluangkan waktu ekstra untuk mendampingi putra putri nya dalam proses belajar. Tidak sedikit siswa yang mempunyai kedua orang tua pekerja, sehingga orang tua mendaftarkan putra putri nya pada lembaga bimbingan belajar. Salah satu motivasi orang tua mengikutsertakan putra putrinya pada lembaga bimbingan belajar adalah besarnya harapan untuk peningkatan penguasaan konten materi oleh siswa [2].

Teori efikasi diri pertama kali dikenalkan oleh Bandura. Efikasi diri pada siswa merupakan kepercayaan diri untuk mencapai tujuan atas dasar usaha diri sendiri [3]. Efikasi diri merupakan konsep multidimensional gagasan Bandura yang menyatakan tentang keyakinan keberhasilan terhadap tugas-tugas khusus. Dalam dimensi akademik tugas-tugas khusus tersebut adalah tugas-tugas dalam bidang akademik [4]. Dengan demikian efikasi diri akademik sendiri merupakan salah satu faktor internal yang mempengaruhi kepuasan dan kinerja, yang dimana efikasi diri akademik merupakan keyakinan individu memotivasi diri dalam melakukan tugas yang terdiri dari pertimbangan efikasi diri akademik dan kepercayaan diri terhadap teknologi informasi [5].

Pada bidang akademik efikasi diri berpengaruh terhadap prestasi siswa di sekolah. Efikasi diri memiliki pengaruh yang besar pada tindakan. Keyakinan individu terhadap kemampuannya di bidang akademik sangat dibutuhkan pada saat siswa menempuh pendidikan di sekolah. Keyakinan terhadap kemampuan di bidang akademik disebut sebagai efikasi diri akademik.

Efikasi diri akademik tidak memiliki kaitan terhadap kemampuan tiap individu, tetapi efikasi diri akademik berkaitan dengan keyakinan individu pada hal-hal yang dapat dilakukan dengan kemampuan yang dimiliki. Individu yang memiliki efikasi diri akademik tinggi mampu mengeluarkan usaha yang lebih besar untuk menyelesaikan laporan tugas besar meskipun dengan banyaknya kendala yang dihadapi seperti proses asistensi yang cukup rumit, perhitungan yang sulit, dan situasi-situasi lainnya yang menghambat kelancaran penyelesaian tugas [6].

Perkembangan lembaga bimbingan belajar di Indonesia yang pesat menjadi hal yang menarik untuk diteliti lebih mendalam terutama dalam perannya menunjang pencapaian akademik siswa di sekolah. Menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bagian Kelima Pasal 26, pendidikan non formal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar mengajar, dan majelis taklim serta satuan pendidikan yang sejenis. Menurut direktorat pembinaan kursus dan pelatihan, pertumbuhan LBB di Indonesia dalam kurun waktu tujuh tahun sejak 2009 sampai 2016 yang tercatat yaitu 1866 lembaga [7]. Di kabupaten Sidoarjo terdapat kurang lebih tujuh LBB swasta yaitu Piramida, Alpha Beta, Delta, Study Club ITS, Ipiems, SSC Sidoarjo, Ganesha Operation.

Pada siswa sekolah dasar ditemukan beberapa fakta lapangan terkait kondisi efikasi diri akademik siswa. Berdasarkan observasi awal peneliti yang dilakukan di salah satu SD Negeri di Sidoarjo dengan mengamati saat proses belajar mengajar di kelas menunjukkan bahwa terdapat siswa yang merasa ragu akan kemampuannya dalam memahami materi di sekolah. Seberapa baik individu dapat menentukan atau memastikan motif mengarah pada tindakan yang diharapkan sesuai situasi yang dihadapi. Keyakinan akan seluruh kemampuan ini meliputi kognitif, motivasi, afeksi, seleksi.

Menurut Bandura asumsi yang timbul pada aspek kognitif adalah semakin efektif kemampuan seseorang dalam menganalisis dan berlatih mengungkapkan ide atau gagasan pribadi, maka akan mendukung dalam mencapai tujuan yang diharapkan dan mengembangkan cara dalam mengontrol setiap kejadian yang mempengaruhi kehidupannya [8]. Hasil dari wawancara di atas menunjukkan terdapat permasalahan pada aspek kognitif efikasi diri akademik siswa. Aspek kognitif merupakan suatu keterampilan individu untuk memikirkan cara yang dapat digunakan serta merancang tindakan yang akan diambil untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Hal tersebut diperkuat dengan penelitian terdahulu yang berjudul “Perbandingan tingkat efikasi siswa dalam menyelesaikan soal genetika ditinjau dari keikutsertaan bimbingan belajar” menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat efikasi akademik yang dimiliki oleh siswa kelas XII yang mengikuti bimbel dengan yang tidak mengikuti bimbel dalam menyelesaikan soal-soal genetika. Siswa kelas XII yang ikut serta dalam lembaga bimbel cenderung memiliki tingkat efikasi akademik yang lebih tinggi pada semua dimensi efikasi akademik yaitu level, strength, dan generality.

Kegiatan bimbingan belajar merupakan pemberian bantuan bagi peserta didik oleh pembimbing yang memiliki keahlian di bidang pendampingan belajar yang berkaitan dengan tingkah laku siswa siswi dalam memecahkan permasalahan dalam pembelajaran [9]. Dalam membangun kemampuan intelektual peserta didik diperlukan usaha di bidang pendidikan, hal ini sekaligus dapat membangun kepribadian siswa siswi untuk maju kedepan menjadi lebih positif untuk menjalankan kehidupan kedepannya. Sekolah formal merupakan tempat sebagian besar pengaplikasian aktivitas pendidikan dilakukan, namun pada faktanya saat pelaksanaan aktivitas pendidikan di sekolah formal sering kali tidak lancar dan tidak sesuai yang diharapkan. Beberapa peserta didik kurang termotivasi untuk belajar sehingga mengalami kesulitan dan hambatan dalam belajar. Hal ini dibuktikan dari peserta didik yang hasil prestasinya kurang maksimal.

Bimbingan belajar dapat diperoleh dari tiap individu melalui tujuan membantu siswa agar dapat tahu dirinya serta dapat bertindak secara wajar. Dalam memfasilitasi peserta didik dalam membuatkan pemahaman dan keterampilan dalam belajar bimbingan belajar hadir sebagai bentuk bantuan. Selain itu, bimbingan belajar juga dapat membantu memecahkan masalah belajar peserta didik [10]. Efektivitas bimbingan belajar terhadap peningkatan performa siswa telah dilaporkan oleh Atta, et al., bahwa bimbingan belajar dianggap lebih efektif karena siswa diposisikan dalam suatu kelompok untuk mencapai tujuan bersama dan mengesampingkan perhatian individual [11]. Kuan dan Guil juga menyatakan bahwa bimbingan belajar dianggap efektif karena memberikan lebih banyak waktu belajar untuk siswa [12]. Menurut Cooper siswa yang mengikuti bimbingan belajar menunjukkan performa akademik yang lebih baik dibanding siswa yang tidak mengikuti bimbingan belajar, hal ini dikarenakan bimbingan belajar menyediakan dukungan layanan akademis sesuai dengan kebutuhan siswa [13].

Penelitian selanjutnya berjudul “Perbedaan self-efficacy siswa dalam menghadapi ujian nasional di SMP Negri 1 Boyolali ditinjau dari keikutsertaan bimbingan belajar”. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa subjek yang mengikuti bimbingan belajar memiliki self-efficacy yang lebih tinggi dibandingkan dengan subjek yang tidak mengikuti bimbingan belajar [14].

Penelitian sleanjutnya berjudul “Pelaksanaan bimbingan belajar privat serta kajian diri dan motivasi belajar matematika untuk siswa panti asuhan”. Berdasarkan pelaksanaan kegiatan bimbingan belajar yang dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini telah mampu meningkatkan antusias siswa dalam belajar matematika. Hal ini dapat dijadikan masukan untuk kegiatan berikutnya, dimana pembinaan terhadap efikasi diri dan motivasi belajar hendaknya dilakukan semenjak siswa duduk di sekolah dasar [15]

Dari penjelasan di atas bimbel dipandang sebagai pilihan yang seharusnya dipertimbangkan oleh siswa dan lebih yakin pada kemampuan diri dengan pelajaran yang didapat di sekolah. Hal ini dirasa sebagai suatu kelebihan oleh para siswa yang mengikuti bimbel karena bisa berlatih untuk memecahkan soal-soal dengan cepat. Siswa akan sering diberikan soal-soal serta cara penyelesaian yang cepat dan tepat sehingga membuat siswa terbiasa dan terlatih mengerjakan soal. Hal ini juga membuat siswa memiliki keyakinan untuk dapat menyelesaikan soal-soal ujian dengan baik sehingga tidak merasakan kecemasan yang berlebihan ketikan menghadapin ujian.

Efikasi diri diharapkan dapat memberikan siswa keyakinan akan kemampuan yang dimiliki dalam menyelesaikan baik itu tugas sekolah maupun ujian sekolah sehingga hal ini dapat membuat siswa mengembangkan sikap positif terhadap kemampuan dirinya sendiri dan tidak cemas dalam menghadapi tantangan yang dianggap berat [16].

Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengetahui lebih lanjut untuk gambaran tentang perbedaan efikasi akademik siswa yang mengikuti bimbingan belajar dengan yang tidak mengikuti bimbingan belajar

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif komparasi, bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara variabel dengan variabel lainnya [17]. Populasi dalam penelitian ini yaitu siswa kelas IV, V Sekolah Dasar di Sidoarjo. Sampel penelitian berjumlah 185 siswa dengan teknik sampling jenuh. Sampling Jenuhyaitu pengambilan sampel apabila seluruh populasi dijadikan sebagai sampel penelitian [18]. Efikasi diri akademikdiukur berdasarkan aspek yang dikemukakan oleh Wahdania yaitu kognitif, motivasi, afeksi dan seleksi[19]

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah skala efikasi diri akademik dan bimbingan belajar dengan model skala Likert. Hasil validitas skalaefikasi diri akademik yang dilakukan yaitu 0.307 – 0.606 dengan nilai reliabilitas sebesar 0.890. Analisis data menggunakan tekni korelasi product moment darii Spearman Rho’s dengan bantuan SPSS 22.0 for windows.

Hasil dan Pembahasan

Hasil Penelitian

Bimbingan Belajar Jumlah Presentase
Ya 67 36%
Tidak 118 64%
Total 185 100%
Table 1.Distribusi Subjek Penelitian

Dari tabel 1. diatas dapat diketahui jumlah subjek yang mengikuti bimbingan belajar sejumlah 67, dan subjek yang tidak mengikuti bimbingan belajar sejumlah 113. Siswa kelas atas SDN Larangan tahun pelajaran 2021/2022 memiliki siswa sebanyak 141 siswa dan MI Muhammadiyah Kedungbanteng memiliki siswa kelas atas sebanyak 44 siswa yang berasal dari Sidoarjo dengan total 185 subjek penelitian.

Figure 1.Uji Normalitas

Hasil uji normalitas dua skala menunjukkan bahwa nilai signifikan skala Efikasi diri akademik sebesar 0.2 dengan p > 0.05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data penelitian ini berdistribusi normal sehinga dapat digunakan untuk uji selanjutnya.

Test of Homogeneity of Variances
Levene Statistic df1 df2 Sig.
Efikasi Diri Akademik Based on Mean 0.345 1 183 0.558
Table 2.Uji Homogenitas

Berdasarkan tabel 3. di atas, dapat diketahui nilai signifikansinya sebesar 0,558. Angka tersebut lebih besar dari 0,05, sehingga data dikatakan homogen dan dapat digunakan untuk uji selanjutnya.

Figure 2.Uji Hipotesis

Dari hasil analisis independent sample t test. Terlihat nilai signifikansi 2 arah (t-tailed) 0.465 > 0.05. Sehingga tidak terdapat perbedaan skor point yang signifikan antara efikasi diri akademik dengan bimbingan belajar. Dengan demikian Ho diterima dan Ha ditolak. Hasil uji hipotesis menunjukkan menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan efikasi diri akademik siswa yang mengikuti bimbel dengan yang tidak mengikuti bimbel di SDN Larangan dan MI 2 Muhammadiyah Kedungbanteng Sidoarjo.

Kategorisasi Frekuensi
Frekuensi %
Sangat Rendah 22 12%
Rendah 41 22%
Sedang 67 36%
Tinggi 38 21%
Sangat Tinggi 17 9%
Total 185 100%
Table 3.Kategori Skor Subjek

Berdasarkan tabel 5. diatas dapat disimpulkan bahwa pada variabel Efikasi Diri Akademik terdapat 17 subyek yang memiliki Efikasi Diri Akademik sangat tinggi, 38 subyek yang termasuk dalam kategori tinggi, 67 subyek yang masuk dalam kategori sedang, 41 subyek yang masuk dalam kategori rendah, dan 22 subyek yang masuk dalam kategori sangat rendah.

Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan efikasi diri akademik antara siswa yang mengikuti bimbingan belajar dengan siswa yang tidak mengikuti bimbingan belajar pada siswa kelas atas sekolah dasar di Sidoarjo. Berdasarkan nilai signifikansi 2 arah (t-tailed) 0.465 > 0.05. Sehingga tidak terdapat perbedaan skor point signifikan antara efikasi diri akademik siswa yang mengikuti bimbingan belajar dengan yang tidak mengikuti bimbingan belajar. Siswa yang mengikuti bimbingan belajar yaitu siswa yang telah terdaftar menjadi siswa di salah satu lembaga bimbingan belajar dan telah mengikuti bimbingan belajar di lembaga tersebut. Tidak terdapatnya perbedaan yang signifikan efikasi diri akademik siswa yang mengikuti bimbingan belajar dengan yang tidak dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti kehadiran siswa saat bimbingan belajar.

Tidak ditemukannya perbedaan yang siginifikan efikasi diri akademik siswa yang mengikuti bimbingan belajar dengan yang tidak mengikuti bimbingan belajar berbanding dengan penelitian terdahulu tentang efikasi diri akademik siswa dilakukan oleh Hikmawati yang meneliti siswa sekolah menengah atas di Majalengka berdasarkan keikutsertaan bimbingan belajar menunjukan adanya perbedaan efikasi diri akademik dimana siswa yang mengikuti bimbingan belajar memiliki efikasi diri akademik yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang tidak mengikuti bimbingan belajar [20].

Berdasarkan uji homogenitas, dapat diketahui nilai signifikansinya sebesar 0,558. Angka tersebut lebih besar dari 0,05, sehingga skala efikasi diri akademik siswa yang mengikuti bimbingan belajar dengan siswa yang tidak mengikuti bimbingan belajar adalah homogen.

Dari hasil analisis independent sample t test. Terlihat nilai signifikansi 2 arah (t-tailed) 0.465 > 0.05. hal tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang berbunyi “Tidak ada perbedaan signifikan efikasi diri akademik siswa yang mengikuti bimbingan belajar dengan siswa yang tidak mengikuti bimbingan belajar“ diterima.

Berdasarkan hasil kategorisasi dapat disimpulkan bahwa pada variabel Efikasi Diri Akademik terdapat 17 subyek yang memiliki Efikasi Diri Akademik sangat tinggi, 38 subyek yang termasuk dalam kategori tinggi, 67 subyek yang masuk dalam kategori sedang, 41 subyek yang masuk dalam kategori rendah, dan 22 subyek yang masuk dalam kategori sangat rendah.

Dari hasil uji korelasi dapat diketahui sebanyak 118 siswa yang tidak mengikuti bimbingan belajar memiliki rata-rata efikasi diri akademik 54, dan siswa yang mengikuti bimbingan belajar sejumlah 67 siswa memiliki rata-rata efikasi diri akademik 55. Dengan demikian tidak terdapat perbedaan signifikan rata-rata efikasi diri akademik. Perbedaan efikasi diri akademik ini salah satunya disebabkan karena keikutsertaan siswa dalam bimbingan belajar.

Hasil ini berarti bahwa subjek yang mengikuti bimbingan belajar tidak memiliki perbedaan efikasi diri akademik yang signifikan dibandingkan dengan subjek yang tidak mengikuti bimbingan belajar. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hikmawati yang meneliti siswa sekolah menengah atas di Majalengka berdasarkan keikutsertaan bimbingan belajar menunjukan adanya perbedaan efikasi diri akademik dimana siswa yang mengikuti bimbingan belajar memiliki efikasi diri akademik yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang tidak mengikuti bimbingan belajar [20].

Limitasi atau keterbatasan dalam penelitian ini terdapat pada subjek yang terbatas pada kelompok populasi. Penelitian sebaiknya dilakukan pada kelompok populasi lain misalnya remaja atau dewasa awal. Keterbatasan dalam penelitian juga terdapat pada variabel penelitian, dimana seharusnya bisa menggunakan variabel yang lainnya seperti motivasi belajar, dan hasil belajar.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan efikasi diri akademik siswa kelas atas yang mengikuti bimbel dengan siswa kelas atas yang tidak mengikuti bimbel pada sekolah dasar di SDN Larangan dan MI Muhammadiyah 2 Kedungbanteng Sidoarjo. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan hasil uji hipotesis menunjukkan menunjukkan bahwa efikasi diri akademik siswa yang tidak mengikuti bimbingan belajar lebih rendah dibanding siswa yang mengikuti bimbingan belajar di SDN Larangan dan MI Muhammadiyah 2 Kedungbanteng Sidoarjo. Dari hasil analisis komparasi uji ttes juga menunjukan nilai signifikan (p = 0.465 > 0.05). Dengan presentase 36% siswa yang mengikuti bimbingan belajar, dan siswa yang tidak mengikuti bimbingan belajar sebesar 64%.

References

  1. A. Alfarabi, “Hubungan tingkat religiusitas dengan flow akademik pada siswa,” Skripsi, pp. 1–40, 2017.
  2. A. Safitri and E. Sukma, “Peningkatan Hasil Belajar Siswa pada Tema 3 Menggunakan Pendekatan Saintifik di Sekolah Dasar,” J. Pendidik. Tambusai, vol. 4, no. 3, pp. 3132–3144, 2020.
  3. A. R. Baron, N. R. Branscombe, and Donnbyrnt, Social psychology. New York: Pearson Education, 2009.
  4. L. Wicaksono, “Keefektivan Pemodelan Terhadap Peningkatan Efikasi-Diri Akademik Siswa Smp (Kajian Teoritik Aplikasi Teori Bandura),” J. Visi Ilmu Pendidik., vol. 6, no. 3, 2015.
  5. R. Tanjung, O. Arifudin, Y. Sofyan, and H. Hendar, “Pengaruh Penilaian Diri Dan Efikasi Diri Terhadap Kepuasan Kerja Serta Implikasinya Terhadap Kinerja Guru,” J. Ilm. MEA (Manajemen, Ekon. Akuntansi), vol. 4, no. 1, pp. 380–391, 2020.
  6. S. F. L. Zagoto, “Efikasi diri dalam proses pembelajaran,” J. Rev. Pendidik. dan Pengajaran, vol. 2, no. 2, pp. 386–391, 2019.
  7. Kemendikbud, “Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003,” Undang. Republlik Indones., no. 1, pp. 1–26, 2003, doi: 10.16309/j.cnki.issn.1007-1776.2003.03.004.
  8. Bandura, Social learning theory. 1977.
  9. A. Santoso and Y. Rusmawati, “Pendampingan belajar siswa di rumah melalui kegiatan bimbingan belajar di desa Guci Karanggeneng Lamongan,” J. Abdimas Berdaya J. Pembelajaran, Pemberdaya. dan Pengabdi. Masy., vol. 2, no. 02, 2019.
  10. H. Sriyono, Bimbingan dan Konseling Belajar Bagi Siswa di Sekolah-Rajawali Pers. PT. RajaGrafindo Persada, 2021.
  11. M. A. Atta, A. Jamil, J. Rehman, M. Ayaz, A. Saeed, and M. A. Shah, “Effects of private home tuition on educational attainments of students at secondary school level,” World Appl. Sci. J., vol. 13, no. 6, pp. 1486–1491, 2011.
  12. M. Widyastuti and H. Kusumadewi, “Penggunaan aplikasi Duolingo Dalam meningkatkan kamampuan kosakata Bahasa Inggris pada tenaga pengajar bimbingan belajar Omega Sains Institut,” J. Abdimas BSI J. Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 1, no. 2, 2018.
  13. E. Cooper, “Tutoring center effectiveness: The effect of drop-in tutoring,” J. Coll. Read. Learn., vol. 40, no. 2, pp. 21–34, 2010.
  14. R. P. Astuti and E. Purwanto, “Perbedaan Self Efficacy siswa dalam menghadapi ujian nasional di SMP Negeri 1 Boyolali ditinjau dari keikutsertaan bimbingan belajar,” Educ. Psychol. J., vol. 3, no. 1, 2014.
  15. I. R. HG, A. Nazra, H. Yozza, N. Narwen, Y. Yanita, and L. Yulianti, “Pelaksanaan Bimbingan Belajar Privat Serta Kajian Efikasi Diri Dan Motivasi Belajar Matematika Untuk Siswa Panti Asuhan,” J. Hilirisasi IPTEKS, vol. 2, no. 2, pp. 130–137, 2019.
  16. O. D. Anggraini, E. N. Wahyuni, and L. T. Soejanto, “Hubungan antara efikasi diri dengan resiliensi menghadapi ujian pada siswa kelas XII SMAN 1 Trawas,” J. Konseling Indones., vol. 2, no. 2, pp. 50–56, 2017.
  17. Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: PT Alfabet, 2016.
  18. S. Azwar, Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015.
  19. W. Wahdaniah, U. Rahman, and S. Sulateri, “Pengaruh Efikasi Diri, Harga Diri Dan Motivasi Terhadap Hasil Belajar Matematika Peserta Didik Kelas X Sma Negeri 1 Bulupoddo Kab. Sinjai,” MaPan J. Mat. Dan Pembelajaran, vol. 5, no. 1, pp. 68–81, 2017.
  20. V. Y. Hikmawati and L. M. Taufik, “Perbandingan tingkat efikasi siswa dalam menyelesaikan soal genetika ditinjau dari keikutsertaan bimbingan belajar,” Edubiotik J. Pendidikan, Biol. dan Terap., vol. 5, no. 01, pp. 81–90, 2020.