<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Modern Forms of Employment</article-title>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-104876e596687c59c8606dc63e482f90" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <given-names>Dadajonova Martabokhon Mahmudovna</given-names>
          </name>
          <email>author@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Uzbekistan</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2022-09-20">
          <day>20</day>
          <month>09</month>
          <year>2022</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-387d0f57fec3708d65cb6279fca0bc89">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-11">Mahasiswa adalah suatu kelompok generasi yang sedang menuntut atau menimba ilmu di perguruan tinggi negeri maupun swasta. Aktivitas atau tugas mahasiswa yaitu belajar mengenai ilmu pengetahuan, bermasyarakat, berorganisasi, dan belajar menjadi seseorang pemimpin untuk dapat meraih suatu kesuksesan dalam hidupnya [1]. Mahasiswa sering dikatakan sebagai suatu kelompok cendikiawan atau golongan intelektual yang menanggung beban di pundak untuk dapat menentukan nasib masa depan suatu bangsa. [2]</p>
      <p id="_paragraph-12">Sebutan mahasiswa berlaku untuk individu yang menempuh pendidikan di Universitas atau perguruan tinggi. Sebagai mahasiswa memiliki sebuah kewajiban untuk mengembangkan dirinya dengan ilmu, sehingga mahasiswa dapat memiliki <italic id="_italic-107">skill </italic>(kemampuan) sesuai dengan jurusan pendidikannya. Seorang mahasiswa dituntut untuk dapat menyelesaikan tugas akhirnya yaitu skripsi [3].</p>
      <p id="_paragraph-13">Skripsi merupakan karangan ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa untuk persyaratan akhir pendidikan akademisnya. Skripsi merupakan suatu bukti akademik mahasiswa yang berkaitan dengan penelitian dan berhubungan mengenai masalah pendidikan yang sesuai dengan program studinya. Skripsi dibuat untuk mencapai gelar sarjana [4].</p>
      <p id="_paragraph-14">Masalah yang sering dialami oleh mahasiswa yaitu berawal dari mencari dan menentukan judul penelitian yang kemudian tidak di <italic id="_italic-108">acc </italic>dengan dosen pembimbing karena memiliki alasan tertentu seperti kurang jelasnya fenomena yang diangkat, tidak adanya teori yang relevan dengan fenomena, kesulitan menuangkan ide kedalam skripsi, takut menemui dosen pembimbing, dan sulitnya membagi waktu antara mengerjakan skripsi dengan aktivitas lain. Hal tersebutlah yang membuat para mahasiswa berat hati dalam memperbaiki skripsinya. Selain itu, mahasiswa mendapat tuntutan akademik pada perkuliahan yang membuat para mahasiswa seringkali menghadapi kebingungan dalam mengatur jadwal atau waktu di dalam kehidupan sehari-harinya [5].</p>
      <p id="_paragraph-16"><italic id="_italic-109">Adversity Quotient </italic>merupakan konsep psikologis mengenai kecerdasan yang telah dikembangkan oleh Paul G Slotz yang dapat diartikan sebagai kemampuan dalam menghadapi kesulitan seseorang. Slotz juga menyatakan <italic id="_italic-110">adversity quotient </italic>memiliki kontribusi yang besar karena faktor-faktor dari kesuksesan dasar ilmiah dan saling mempengaruhi, faktor itulah yang dapat mencakup semua kebutuhan dalam menghadapi tantangan [6].</p>
      <p id="_paragraph-17"><italic id="_italic-111">Adversity </italic><italic id="_italic-112">Quotient </italic>bermula dari bahasa inggris yang diterjemahkan <italic id="_italic-113">adversity </italic>adalah kesengsaraan dan kemalangan. Sedangkan <italic id="_italic-114">quotient </italic>yang diterjemahkan pada Kamus Psikologi adalah pandai atau cerdas. Paul G.Stoltz telah mengembangkan <italic id="_italic-115">adversity quotient </italic>(AQ) pada konsep kecerdasan (IQ dan EQ) dianggap belum dapat menjadi suatu modal seseorang dalam mencapai tujuan. Kemudian Stoltz mengembangkan suatu rancangan mengenai konsep kecerdasan [6]</p>
      <p id="_paragraph-18">Penelitian ini dilakukan dalam mengkaji <italic id="_italic-116">adversity quotient </italic>yang terdapat hubungannya dengan mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, khususnya pada mahasiswa Fakultas Psikologi Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Oleh sebab itu, penelitian ini memiliki peran dalam meminjau teori mengenai <italic id="_italic-117">adversity</italic><italic id="_italic-118">quotient </italic>serta menunjukkan gambaran tentang <italic id="_italic-119">adversity quotient </italic>pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi Fakultas Psikologi Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-cad4b9e6de703b1385f8f7b1c5a6efcc">
      <title>Metode Penelitian</title>
      <p id="_paragraph-19">Penelitian ini telah memakai pendekatan kuantitatif deskriptif, Sugiyono menyatakan jika populasi yaitu suatu wilayah generalisasi yang terdiri adanya objek maupun subjek yang mempunyai suatu kualitas serta karakteristik yang telah ditentukan, kemudian bisa ditetapkan dan ditentukan oleh peneliti agar dipelajari, selanjutnya dapat dijadikan kesimpulan (Nizar, 2018). Jadi populasi yang digunakan pada penelitian ini yaitu 650 mahasiswa FPIP yang sedang menyusun skripsi di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.Selanjutnya sampel yang dipakai pada penelitian ini yaitu berjumlah 242 mahasiswa, dengan memakai tabel krejcie. Adapun jenis sampling yang digunakan ialah <italic id="_italic-120">simple</italic><italic id="_italic-121">random</italic><italic id="_italic-122">sampling </italic>yang artinya mengambil sampel berdasarkan anggota populasi secara acak tanpa menghiraukan tingkatan yang ada dalam anggota populasi, hal tersebut dilakukan karena anggota populasi dianggap homogen (sejenis) [7]. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini ialah skala <italic id="_italic-123">adversity</italic><italic id="_italic-124">quotient</italic>, dan skala stres akademik yang berbentuk skala <italic id="_italic-125">Likert</italic>. Skala <italic id="_italic-126">Likert </italic>merupakan skala dengan pengukuran yang sudah dikembangkan oleh <italic id="_italic-127">Likert </italic>tahun 1932. Skala <italic id="_italic-128">Likert </italic>memiliki 4 butir bahkan bisa lebih dari pertanyaan yang akan dikombinasikan untuk membuat suatu penilaian yang dapat menginterpretasikan dari adanya sifat seseorang [8].</p>
      <p id="_paragraph-20">Penelitian ini menggunakan <italic id="_italic-129">Jeffreys's Amazing Statistics Program </italic>versi 0.15 dalam melakukan analisis data. Terdapat juga skala dari <italic id="_italic-130">adversity</italic><italic id="_italic-131">quotient</italic>yang telah diadaptasi dan berpacu pada penelitian milik [1] yang mengacu pada teori milik Stoltz (2005) meliputi aspek-aspek : (CO2RE) <italic id="_italic-132">control</italic>, <italic id="_italic-133">ownership</italic><italic id="_italic-134">and</italic><italic id="_italic-135">origin</italic>, <italic id="_italic-136">reach</italic>, <italic id="_italic-137">endurance</italic>. Pada stres akademik peneliti mengukurnya melewati 4 aspek stres akademik menurut Robottham [9], yaitu kognitif, afektif, fisiologis, dan perilaku. Azwar [10] menyatakan bahwa pengukuran dapat dilakukan untuk mengetahui suatu aspek psikologis yang ada pada diri seseorang dan dinyatakan dalam bentuk <italic id="_italic-138">score </italic>(nilai) pada instrumen pengukur yang bersangkutan. Suatu pengukuran bisa dibilang mempunyai validitas tinggi jika mampu mendapatkan sebuah hasil data secara tepat dan akurat serta bisa memberi sebuah gambaran tentang variabel yang sedang diukur. Azwar [10] menyatakan bahwa suatu aitem memerlukan kriteria secara empirik. Kriteria itu merupakan ukuran yang relevan, seperti angka-angka yang dapat menunjukkan indikasi atas atribut yang diukur. Aitem dengan nilai korelasi sebesar &gt; 0,3 adalah aitem yang memiliki validitas memuaskan, sebaliknya aitem yang nilai korelasi &lt; 0,3 adalah validitas yang kurang memuaskan. Penelitian ini menggunakan <italic id="_italic-139">Jeffreys's</italic><italic id="_italic-140">Amazing</italic><italic id="_italic-141">Statistics</italic><italic id="_italic-142">Program</italic>dengan JASP versi 0.15 untuk mengukur validitas antar aitem.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-cb9a87708595eeff92f8d1bd86ea9f66">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="_paragraph-21">Penelitian ini terdapat beberapa hasil dari <italic id="_italic-143">adversity quotient </italic>yang telah dilakukan kepada 242 mahasiswa yang sedang menyusun skripsi Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Adapun hasil serta pembahasannya sebagai berikut :</p>
      <fig id="figure-panel-ab1632232ad722a6b292bc61c281e164">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <title>Diagram Tingkat Adversity Quotient</title>
          <p id="paragraph-26df3dc5894387f92d01c953c94fadf8" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-e03820b9da1d0012985bc3d56c17a3d7" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="693 Ijemd G1.png" />
      </fig>
      <p id="_paragraph-23">Pada hasil diagram diatas dapat diketahui bahwa tingkat <italic id="_italic-144">adversity quotient </italic>pada mahasiswa FPIP Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, terdapat 20 mahasiswa <italic id="_italic-145">adversity quotient </italic>yang rendah dengan persentase 8,26% dan memiliki skor dibawah 39. Sedangkan mahasiswa yang memiliki <italic id="_italic-146">adversity quotient </italic>sedang memiliki presentase sebesar 22,3% dengan skor berkisar antara 40 hingga 46 dan berjumlah 53 mahasiswa. Kemudian, mahasiswa sebanyak 168 memiliki <italic id="_italic-147">adversity quotient </italic>yang tinggi dengan presentase 69,42% dan skornya adalah diatas 46 hal tersebut bisa disebut <italic id="_italic-148">Climbers</italic>.</p>
      <p id="_paragraph-24">Sesuai dengan teori milik Stoltz terdapat tingkat kecerdasan dari <italic id="_italic-149">adversity quotient </italic>salah satunya yaitu <italic id="_italic-150">Climbers</italic>yang disebut dengan para pendaki yaitu untuk seseorang yang telah membangkitkan dirinya pada pendaikan. Tanpa menghiraukan keuntungan ataupun kerugian, nasib buruk atau nasib baik[11]. <italic id="_italic-151">Climber </italic>adalah sosok pemikir yang memikirkan adanya kemungkinan-kemungkinan dan tidak membiarkan apapun hambatan yang menghalangi pendakiannya [12]. Adapun rata-rata dari aspek-aspek <italic id="_italic-152">adversity</italic><italic id="_italic-153">quotient</italic>, sebagai berikut :</p>
      <fig id="figure-panel-7d8d54dc8d342ba5edcc8094b25454cc">
        <label>Figure 2</label>
        <caption>
          <title>Rata Rata dari Aspek Adversity Quotient</title>
          <p id="paragraph-2ba74f237dc6e17bcd0e455ceac61827" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-4739c2fb9db24ea0a90f896e7682e500" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="693 Ijemd G2.png" />
      </fig>
      <p id="_paragraph-25">Kemudian dapat diketahui pula hasil dari masing-masing tingkatan aspek <italic id="_italic-154">adversity quotient </italic>memiliki rata-rata yang signifikan pada aspek Jangkauan (<italic id="_italic-155">Reach</italic>) dan Daya Tahan (<italic id="_italic-156">Endurance</italic>) dengan nilai 13,4 dan 13,5. Sedangkan pada aspek Asal-Usul dan Pengakuan (<italic id="_italic-157">Origin </italic>&amp; <italic id="_italic-158">Ownership</italic>) memiliki rata-rata dengan nilai 11,3. Kemudian pada aspek pengendalian diri juga memiliki rata-rata yang kecil yaitu 9,5. Artinya, mahasiswa FPIP Universitas Muhammadiyah Sidoarjo memiliki <italic id="_italic-159">Endurance</italic>(Daya Tahan) yang tinggi dibandingkan aspek-aspek lain dari <italic id="_italic-160">adversity</italic><italic id="_italic-161">quotient</italic>dengan skor 13,5.</p>
      <p id="_paragraph-26">Hal tersebut sesuai dengan teori dari Lee, Cheung, &amp; Kwong menyatakan jika salah satu aspek <italic id="_italic-162">adversity quotient</italic>yaitu daya tahan adalah konstruksi multidimensi yang dapat digunakan sebagai aspek kunci dalam mendapatkan hasil yang baik ketika berhadapan dengan kesulitan[13]. Daya tahan adalah kapasitas individu untuk menjalani peristiwa</p>
      <p id="_paragraph-27">stres dan mungkin menjadi aspek kunci dalam mengatasi kesulitan[14]. Selanjutnya terdapat perbandingan persentase dari <italic id="_italic-163">adversity</italic><italic id="_italic-164">quotient</italic>berdasarkan jenis kelamin, sebagai berikut :</p>
      <fig id="figure-panel-396df806e2b87efef08f02c0f842818f">
        <label>Figure 3</label>
        <caption>
          <title>Persentase Adversity Quotient Jenis Kelamin</title>
          <p id="paragraph-72584004aee7208c2de29b99b6679814" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-d22b2b0bb6eb09d3c472d6c4ab6bc157" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="693 Ijemd G3.png" />
      </fig>
      <p id="_paragraph-29">Pada hasil penelitian diatas terdapat juga perbandingan persentase <italic id="_italic-165">adversity quotient </italic>berdasarkan jenis kelamin, seperti pada tabel diatas laki-laki cenderung memiliki <italic id="_italic-166">adversity quotient </italic>yang tinggi jika dibandingkan dengan perempuan yaitu sebesar 71,66%, sedangkan perempuan memiliki <italic id="_italic-167">adversity quotient </italic>yang tinggi sebesar 68,68%, walaupun perbedaannya tidak begitu signifikan.</p>
      <p id="_paragraph-30">Adapun teori yang sesuai dengan mengatakan bahwa <italic id="_italic-168">adversity quotient </italic>matematis seorang mahasiswa yang memiliki jenis kelamin laki-laki akan berbeda dengan mahasiswa yang jenis kelaminnya perempuan, perbedaan tersebut dapat diperkuat dari Dwek yang berbendapat jika seorang laki-laki mempunyai <italic id="_italic-169">adversity</italic><italic id="_italic-170">quotient</italic>yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan perempuan [15].</p>
    </sec>
    <sec id="heading-691811e87c003e43978259f417847569">
      <title>Kesimpulan</title>
      <p id="_paragraph-32">Berdasarkan pemaparan diatas dapat diambil kesimpulan jika <italic id="_italic-171">adversity quotient </italic>yang telah dilakukan oleh 242 mahasiswa yang sedang menyusun skripsi Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo termasuk kategori yang tinggi. Artinya, mahasiswa FPIP Universitas Muhammadiyah Sidoarjo termasuk kedalam kategori <italic id="_italic-172">Climbers</italic>, sosok pemikir yang memikirkan adanya kemungkinan-kemungkinan dan tidak membiarkan apapun hambatan yang menghalangi pendakiannya.</p>
      <p id="_paragraph-33">Meskipun dapat dikatakan memiliki tingkat yang tinggi pada <italic id="_italic-173">adversity quotient</italic>, mahasiswa FPIP Universitas Muhammadiyah Sidoarjo jika ditinjau dari aspek-aspek <italic id="_italic-174">adversity quotient </italic>memiliki <italic id="_italic-175">Endurance </italic>(Daya Tahan) yang tinggi jika dibandingkan aspek-aspek lain dari <italic id="_italic-176">adversity quotient </italic>dengan skor 13,5. Daya tahan adalah konstruksi multidimensi yang dapat digunakan sebagai aspek kunci dalam mendapatkan hasil yang baik ketika berhadapan dengan kesulitan. Selain itu, subjek dengan jenis kelamin laki-laki cenderung memiliki <italic id="_italic-177">adversity</italic><italic id="_italic-178">quotient</italic>yang tinggi yaitu sebesar 71,66%, sedangkan perempuan memiliki <italic id="_italic-179">adversity quotient </italic>yang tinggi sebesar 68,68%, walaupun perbedaannya tidak begitu signifikan.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>