<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.2 20190208//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.2/JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Implementation Of Project Based Learning (PjBL) Model to  The Motor Skills of Third Grade at Elementary School</article-title>
        <subtitle>Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) Untuk Kemampuan Motorik Peserta Didik Kelas III Di Sekolah Dasar</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Nisa’</surname>
            <given-names>Himmatun</given-names>
          </name>
          <email>trilinggowati@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Wati</surname>
            <given-names>Tri Linggo</given-names>
          </name>
          <email>trilinggowati@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution>Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2026-09-21">
          <day>21</day>
          <month>09</month>
          <year>2026</year>
        </date>
      </history>
    <pub-date pub-type="epub"><day>21</day><month>09</month><year>2026</year></pub-date></article-meta>
  </front>
  
  
<body id="body">
    <sec id="sec-1">
      <title>I. Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-12">Pendidikan merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk dapat membantu pengembangan keterampilan dan potensi peserta didik agar memiliki tingkat kecerdasan dalam segala bidang intelektual, emosional, dan spiritual. Dan tentunya dapat memberikan dampak yang bermanfaat bagi dirinya dan kwalitas hidupnya dilingkungan sekolah. Hal ini sesuai dengan undang – undang nomor 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS yang menyebutkan dalam pasal 1 ayat 1 bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar yang menyenangkan dan peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki pengendalian diri, keagamaan, kerohanian, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dam keterampilan yang diperlukan untuk dirinya. Pemdidikan pada hakikatnya hanya bersekolah yaitu lembaga formal. Sekolah menjadi tempat belajar dan mengajar, serta wadah bagi siswa untuk memperoleh pengetahuan. SDN Kesambi merupakan salah satu contoh pendidikan jenjang SD. Prestasi yang dimiliki oleh siswa dan guru disekolah ini sudah terbilang cukup memuaskan dengan berbagai penghargaan. </p>
      <p id="_paragraph-13">Kemampuan motorik adalah hasil dari gerakan yang dilakukan seseorang dalam melakukan gerakan, baik gerakan yang dilakukan secara olahraga maupun gerakan yang tidak dilakukan secara olahraga, atau tingkat kematangan seseorang dalam melakukan gerakan tersebut. Perkembangan fisik dan motorik anak terdiri dari dua bagian yaitu perkembangan motorik  dan motorik kasar. Proses perkembangan motorik  setiap anak keterampilan motorik memiliki peran yang sangat signifikan dalam seluruh aktivitas manusia. Motorik didefinisikan sebagai proses perkmebangan kemampuan gerak individu hingga menghasilkan respon yang terkoordinassi, terkendali, dan sistematis. Melalui keterampilan ini, manusia mampu melaksanakan berbagai kegiatan secara optimal. Gangguan pada kemampuan motorik berpotensi menghambat aspek perkembangan lainnya, diantaranya kemampuan berinterraksi sosial dan kemandirian dalam menjalankan aktivitas sehari – hari. Guru dituntut untuk mampu mengembangkan seragam metode dalam menyampaikan materi pembelajaran. Hal ini dikarenakan metode memiliki fungsi sebagai strategi untuk memastikan tercapainya seluruh aspek perkembangangan, khususnya aspek motorik anak. Oleh karena itu, guru perlu menerapkan metode perkembangan yang dapat memfasilitasi peningkatan kemampuan motorik peserta didik. </p>
      <p id="_paragraph-14">Keterampilan motorik berarti perkembangan keterampilan gerakanfisik melalui gerakan syaraf dan otot yang saling teratur. Kemampuan motorik dasar memiliki peran sebagai landasan terhadap keterampilan. Kemampuan motorik memiliki peranan sangat penting dalam setiap kegiatan yang dilakukan. </p>
      <p id="_paragraph-15">Berdasarkan hassil observasi yang dilakukan di SDN Kesambi. Permasalahn dalam penelitian ini rendahnya kemampuan motorik anak dalam kegiatan pembelajaran. Oleh sebab itu, dibutuhkan suatu upaya untuk mengembangkan kemampuan tersebut melalui. Permasalahan ini tidak terlepas dari pendekatan pembelajaran yang digunakan disekolah. Saat ini guru cenderung menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas pada lembar kerja. Pembelajaran belum diarahkan pada kegiatan eksplorasi dan praktik langsung. Kondisi tersebut membuat peserta didik kurang aktif secara fisik sehingga perkembanga motoriknya kurang terstimulasi dengan baik. Di SDN Kesambi ini sama sekali belum menerapkan Model Pembelajaran <italic id="_italic-21">project based learning</italic>. Oleh karena itu, disini peneliti tertarik untuk menerapkan dan mengembangkan model pembelajaran tersebut.</p>
      <p id="_paragraph-16">Untuk menjawab permasalahan tersebut, dibutuhkan strategi pembelajaran yang dapat mengintegritasskan motorik anak. Salah satu pendekatan yang relevan untuk diterapkan adalah <italic id="_italic-22">project based learning</italic> (PjBL). Model Pembelajaran <italic id="_italic-23">project based learning</italic> adalah merupakan model pembelajaran dengan menggunakan proyek atau kegiatan. Tujuan model ini adalah supaya anak lebih melatih pengamatan. Ketelitian, dan kerapian dalam proses pembuatan tempe. Kegiatan tersebut akan mengoptimalkan perkembangan motorik  anak secara maksimal. </p>
      <p id="_paragraph-17">Menurut Sujiono (2010) bahwa kegiatan permainan memasak merupakan salah satu bentuk aktivitas yang bertujuan untuk mengemabngkan keterampilan memeasak peserta didik. Dalam kegiatan ini, anak menggunakan bahan – bahan asli dan mengikuti proses pembuatan yang sebenarnya. Hasil dari kegiatan tersebut juga dapat dikonsumsi langsung oleh anak. Dalam penerapan model <italic id="_italic-24">project based learning</italic>, potensi siswa mengoptimalkan melalui kegiatan kerja kelompok. Melalui proses tersebut, siswa memiliki kesempatan untuk melatih, menguji, serta mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkelanjutan. Pentingnya Model Pembelajaran <italic id="_italic-25">Project Based Learning</italic> salah satunya ialah agar meningkatkan kemampuan motorik  siswa dalam memecahkan suatu masalah. Di sisi lain, pembelajaran berbasis proyek dapat memudahkan peserta didik dalam menjalankan kegiatan pembelajaran sebab dapat memfasilitasi anak guna mengidentifikasi masalah, mema cahkan massalah, dan berorientasi pada anak.</p>
      <p id="_paragraph-18">Pembelajaran berbasis proyek proyek menurut Himmah dan Gunansyah (2017) meliputi langkah-langkah sebagai berikut : a) <italic id="_italic-26">start with the big question</italic>, guru mengajukan pertanyaan yang dapat membantu siswa untuk berpikir dan berdiskusi. b) <italic id="_italic-27">design a plan for the project</italic>, dari pertanyaan tersebut siswa mulai merancang proyek yang akan dikerjakan. c) <italic id="_italic-28">create a schedule</italic>, perancangan langkah- langkah penyelesaian proyek. d) <italic id="_italic-29">monitor the students and the progress of the project,</italic> guru selalu mengawasi proses pengerjaam agar siswa dapat konsisten dan memiliki waktu berdiskusi jika mengalami kebingungan. e) <italic id="_italic-30">asses the outcome</italic>, setelah selesai mengrjakan proyek, hasil akan dipresentasikan dan dinilai sesuai dengan rubrik penilaian yang diberikan. f) <italic id="_italic-31">evaluate the experience</italic>, guru akan menilai dan memberikan masukan untuk hasil siswa dimulai dari rancangan, proses pembuatan, ketepatan waktu, dan hasil karya yang dipresentasikan</p>
      <p id="_paragraph-19">Menurut peneliti, penerapan model pembelajaran <italic id="_italic-32">Project Based Learning</italic> dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan, serta memberikan ruang bagi siswa untuk menyampaikan gagassan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan proses pembelajaran turut dipengaruhi oleh pemiliohan model pembelajaran yang tepat. Sebagai seorang pendidik diharuskan bisa menentukan model pembelajaran dengan tepat agar bisa terciptanya pembelajaran yang efektif. Model Pembelajaran <italic id="_italic-33">Project Based Learning</italic> sudah banyak digunakan dibeberapa negara. Karena Model Pembelajaran ini dapat memberikan pengalaman belajar yang detail, menantang dan dapat menyelesaikan proyek dengan menghasilkan sebuah karya siswa yang memuaskan. </p>
      <p id="_paragraph-20">Penelitian ini mengkaji implementasi model <italic id="_italic-34">Project Based Learning</italic> dalam Upaya meningkatkan kemampuan mototirk peserta didik. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis efektivitas  penerapan model <italic id="_italic-35">Project Based Learning</italic> terhadap kemampuan mototirk peserta didik kelas III SDN Kesambi melalui kegiatan praktik pembuatan tempe. </p>
    </sec>
    <sec id="sec-2">
      <title>II. Metode</title>
      <p id="_paragraph-21">Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK merupakan suatu kegiatan penelitian yang dilakukan dengen memberikan perlakuan tertentu dalam proses pembelajaran di kelas secara sengaja. Tujuannya adalah untuk memecahkan permasalahan pembelajaran serta meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 Siklus. Kemmis dan Mc Taggart menyebutkan bahwa dalam PTK terdapat empat tahapan yaitu Pertama, tahap perencanaan, pada tahap ini peneliti menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dan menyiapkan instrumen penelitian. Kedua, tahap pelaksanaan, yaitu mengimplementasikan kegiatan pratik membuat tempe dengan disertai observasi terhadap partisipasi siswa. Ketiga, tahap observasi, peneliti melakukan pengamatan langsung terhadap aktivitas anak, mancatat data pada instrumen, dan mendokumentasikan kegiatan dalam bentuk foto.  Keempat, tahap refleksi, peneliti melakukan evaluassi terhadap proses dan hasil kegiatan untuk mengukur efektivitas praktik pembuatan tempe dalam meningkatkan kemampuan motorik anak . Penelitian ini diterapkan dengan dua siklus kemudian akan dilanjutkan apabila hasil yang diharapkan belum tercapai. </p>
      <fig id="fig1">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <title><bold id="_bold-18">Gambar 1</bold>. Desain PTK Model Kemmis &amp; Mc Taggart </title>
          <p id="_paragraph-22"/>
        </caption>
        <graphic id="_graphic-1" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="image1.jpeg"/>
      </fig>
      <p id="paragraph-76b4b5279e40db95dd868a8dd2623a39">Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III di SDN Kesambi dengan jumlah 25 siswa, beserta guru kelas untuk memperkuat hasil penelitian terhadap siswa. Pengumpulan data dalam penelitian ini ialah dengan melakukan wawancara, observasi melalu lembar observasi kemampuam motorik peserta didik dan dokumentasi. Berikut indikator keberhasilan penilaian ketercapaian Kemampuan motorik peserta didik kelas III yang mengacu pada ranah motorik pada Taksonomi Bloom</p>
      <p id="_paragraph-23"><bold id="_bold-11">Tabel 1</bold>. Indikator Penilaian Ketercapaian Kemampuan Motorik Peserta Didik</p>
      <table-wrap id="tbl1">
        <label>Table 1</label>
        <caption>
          <p id="_paragraph-24"/>
        </caption>
        <table id="_table-1">
          <tbody>
            <tr id="table-row-3e56d51f5596c1aa68852bb2edfb23ea">
              <td id="0cef36fb023574db379e90afe9f4e22b">
                <bold id="_bold-12">Ranah motorik</bold>
              </td>
              <td id="d2087e470e913c02daf227b638715f51">
                <bold id="_bold-13">Deskripsi </bold>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-0704ec3ff4e49844fbb6de0c84838737">
              <td id="de30a9ec09ba68c93f4f0070a04c5667">
                <bold id="_bold-14">P1 (Meniru)</bold>
              </td>
              <td id="5394f88f914ee59082e4d8b37baa37fc">Mampu mengikuti langkah – langkah pembuatan Tempe. </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-75b4e367e240c3ae8d962d21d051b616">
              <td id="0847c178d9c4e32e20ec04f6573d552b">
                <bold id="_bold-15">P2 (Manipulasi)</bold>
              </td>
              <td id="48bdc7c0a2dea7c8b2fabbb7f11d9ec7">Mampu mencampurkan kedelai dengan ragi secara merata. </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-c1afa63eb93ee0c3423251b891b52790">
              <td id="cc5a051f98660ec49152c7f3823c6e4c">
                <bold id="_bold-16">P3 (Presisi)</bold>
              </td>
              <td id="6ee42940f6962ba6852caac1cc94c4ca">Mampu membungkus kedelai ke dalam pembungkus dengan rapi. </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-b6be849a6c68f95b9874c5bfbe975f1d">
              <td id="8fb31c6ba3298de53b504e0658825969">
                <bold id="_bold-17">P3 (Presisi)</bold>
              </td>
              <td id="2564f3fb26c742f1b74933bcfb10bb51">Mampu mengolah bahan dengan benar. </td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-25">Adapun ketentuan dalam keberhasilan pada penelitian ini adalah dengan addanya keberhasilan dengan KKM yang ditentukan sebelumnya yakni 75%. kriteria ketuntasan minimal dalam penelitian ini mengacu pada standar yang berlaku di SDN Kesambi. Jika nilai peserta didik ≥ 75% dalam kegiatan pengelolahan teknologi pangan membuat tempe meningkatkan kemampuan motorik peserta didik dinyatakan Tuntas (T). jika kurang dari 75% maka dinyatakan Belum Tuntas (BT). </p>
      <fig id="figure-panel-4199f5778d2f570b2c34a7b6cacd0540">
        <label>Figure 2</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-f6d4767227c12ec9960fe17e4e6cfcf1"/>
        </caption>
        <graphic id="graphic-df3bd1aca11cc11e300e9f74fb412ccf" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="15309-1.png"/>
      </fig>
      <list list-type="bullet" id="list-cf8be73086905ad55bfbf00965d9446a">
        <list-item>
          <p>P =  x 100%</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>P : Presentase</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>f  : Nilai yang diperoleh</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>n : Jumlah Frekuensi / Banyaknya Individu</p>
        </list-item>
      </list>
    </sec>
    <sec id="sec-3">
      <title>III. Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="_paragraph-26">Data hasil pengamatan pada tahap Pra Siklus menunjukkan baahwa motorik peserta didik masih berada pada kategori rendah. Berdasarkan observasi awal sebelum pelaksanaan tindakan, diperoleh presentase kemampuan motorik sebesar 16%. Data tersebut dapat dilihat pada tabel 2. Rendahnya capaian pada prasiklus disebabkan oleh minimnya penggunaan media pembelajaran serta kurang bervariasinya proses pembelajaran yang diterapkan. Menanggapi kondisi tersebut, peneliti merancang sebuah inovasi pembelajaran motorik yang bersifat menyenangkan, kreatif, dan beragam.</p>
      <p id="_paragraph-27">
        <bold id="_bold-19">Tabel </bold>
        <bold id="_bold-20">2</bold>
        <bold id="_bold-21">. Hasil observasi Kemampuan motorik siswa Prasiklus</bold>
      </p>
      <table-wrap id="tbl2">
        <label>Table 2</label>
        <caption>
          <p id="_paragraph-28"/>
        </caption>
        <table id="_table-2">
          <tbody>
            <tr id="table-row-7371ad71f11bb9951d5d496a9b324f0f">
              <td id="18392f407ab09480269b7de02c395e44">
                <bold id="_bold-22">Nilai</bold>
              </td>
              <td id="0176357ac7df69efdcd68115a636def3">
                <bold id="_bold-23">Jumlah siswa</bold>
              </td>
              <td id="1badcee9478ccc3fac057039a22c6815">
                <bold id="_bold-24">Presentase</bold>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-18dd7ce339599720960557766bf51fad">
              <td id="0b75394683eaad99d46804c475f125cd">
                <bold id="_bold-25">Belum Tuntas &lt; 75</bold>
              </td>
              <td id="585dd6a984e3b1ffbf317db88f59d2c6">
                <bold id="_bold-26">21</bold>
              </td>
              <td id="3069edbc14a5867c8e38182e3d05ea1f">
                <bold id="_bold-27">84%</bold>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-c75e1107044fa0ac7af63b6b863d12ab">
              <td id="74dbe24bac9c72a63115c080b9dadd0e">
                <bold id="_bold-28">Tuntas ≥ 75</bold>
              </td>
              <td id="13c6a2bb7abf5ea215ea441c586b748e">
                <bold id="_bold-29">4</bold>
              </td>
              <td id="7cd0921d836b3316dc654c770517354d">
                <bold id="_bold-30">16 %</bold>
              </td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-29">Pada siklus I dilakukan dengan empat tahap pelaksanaan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Tahap pertama perencanaan yaitu Menyusun RPP ( Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ) yang telah dirancang. Tindakan yang dilakukan mempersiapkan kegiatan pengolahan pangan cara membuat tempe untuk meningkatkan kemampuan motorik  siswa. Kemudian Menyusun lembar observasi perihal meningkatkan kemampuan motorik  siswa melalui kegiatan tersebut berisi tentang penilaian kemampuan motorik  siswa. Tahap pembelajaran dengan kegiatan pembuka,  Kegiatan pembuka guru membuka dengan salam, doa, dan cek kehadiran. Dilanjutkan dengan motivasi lewat tepuk tangan atau yel – yel, apresiasi materi sebelumnya, lalu menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini. Kegiatan inti peneliti mulai menyiapkan alat dan bahan. Sebelum kegiatan praktik pembuatan tempe dimulai, peneliti terlebih dahulu menyampaikan langkah-langkah dan menampilkan video cara membuat tempe. Selama kegiatan tersebut berlangsung, peneliti melakukan observasi terhadap siswa dan mengamati siswa serta mengisi data pada lembar observasi . Peserta didik tampak sangat antusias dalam kegiatan tersebut. Namun Sebagian anak masih belum hafal proses pembuatan tempe, sering terbalik. Saat mencampurkan ragi masih menggumpal di satu bagian dan takaran ragi nya masih salah. Saat membungkus kedelai tumpah dan tidak rapi. Sebagian siswa masih membutuhkan bimbingan penuh dari guru. Berdasarkan kondisi tersebut, guru mengambil langkah dengan memberikan dokumentasi langsung dan bertahap mengenai teknik pencampuran ragi sesuai takaran. Selain itu, guru juga melakukan bimbingan individual kepada peserta didik agar dapat memahami proses pembuatan tempe dengan lebih baik. Pendekatan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan memberikan rasa aman kepada anak dalam melaksanakan kegiatan memasak, Kegiatan penutup siswa merapikan kelas, lalu refleksi bersama guru untuk mengecek ketercapaian tujuan. dan ditutup dengan doa. Hasil observasi kemampuan motorik peserta didik kegiatan siklus 1 pada table 3.</p>
      <p id="_paragraph-30">
        <bold id="_bold-31">Tabel </bold>
        <bold id="_bold-32">3</bold>
        <bold id="_bold-33">. Hasil observasi kemampuan motorik peserta didik siklus 1</bold>
      </p>
      <table-wrap id="tbl3">
        <label>Table 3</label>
        <caption>
          <p id="_paragraph-31"/>
        </caption>
        <table id="_table-3">
          <tbody>
            <tr id="table-row-0100f57cd101d3520fb6fbb370e92544">
              <td id="52df8f84e3657d285271cdcf2741cec2">
                <bold id="_bold-34">Nilai</bold>
              </td>
              <td id="0b2c503a8cc33f5307e98bcb3c89fbf3">
                <bold id="_bold-35">Jumlah siswa</bold>
              </td>
              <td id="32eb40b17e355758c10ee1726c1ceb23">
                <bold id="_bold-36">Presentase</bold>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-a2202c7191a3dba1830c277f18fdaecb">
              <td id="a0f1ce901938b22239debb1433d6f7bb">
                <bold id="_bold-37">Belum Tuntas &lt; 75</bold>
              </td>
              <td id="6f31f742cb13e342bb30c52c65fc022b">
                <bold id="_bold-38">16</bold>
              </td>
              <td id="abaa9dfb5580f194e52d9d1a22867ce1">
                <bold id="_bold-39">64%</bold>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-b649f0a071318465adfeb51bf965e7d9">
              <td id="54072f0bcc35cd2400b8a51910eaba8a">
                <bold id="_bold-40">Tuntas ≥ 75</bold>
              </td>
              <td id="1ece29d9e4abd2ac656a6b9e10b0f89c">
                <bold id="_bold-41">9</bold>
              </td>
              <td id="1f572a7c18a2884578a8c772467fcf07">
                <bold id="_bold-42">36 %</bold>
              </td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-32">Berdasarkan tabel pada siklus I menunjukkan kegiatan pengolahan teknologi pangan untuk meningkatkan kemampuan motorik peserta didik 36%. Hasil presentase pada siklus I penelitian belum dinyatakan berhasil karena belum mencapai target ketuntasan 75%. Oleh sebab itu peneliti melanjutkan ke siklus II. Refleksi dilakukan untuk mengevaluasi pelaksanaan siklus I guna mengidentifikasi kelemahan dan kelebihan yang ada. Dari hasil observasi dan analisis siklus I diketahui masih terdapat kendala, yaitu sebagai besar siswa belum memahami cara membuat tempe. Maka peneliti melanjutkan ke siklus II dengan tujuan untuk meningkatkan hasil sesuai target yang telah ditetapkan. </p>
      <p id="_paragraph-33">Pada siklus II, tahap perencanaan penelitian yaitu menyusun RPP ( Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ) yang sesuai dengan model pembelajaran <italic id="_italic-36">Project based learning</italic> . Siklus II dilaksanakan dalam tiga pertemuan. Pertemuan ke I dimulai kegiatan pembukaan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Pada kegiatan inti diawali dengan tanya jawab anatara guru dan siswa mengenai manfaat teknologi pangan dalam kehidupan sehari – hari. Guru memberikan pertanyaan pemantik kepada siswa: “ apakah kamu mengetahui makanan tempe ? Bagaimana proses pembuatannya” setelah itu, siswa mencermati teks bacaan yang berisi langkah – langkah pembuatan tempe guna membangun pemahaman awal. Kemudian siswa dibagi menjadi 3-4 orang untuk menentukan proyek dan berdiskusi merancang cara pembuatan tempe. Dengan bimbingan guru, siswa mengidentifikasi alat – bahan yang digunakan, menuliskan rencana kerja, dan menyepakati jadwal pelaksanaan percobaan bersama guru. Pertemuan ke II siswa mengamati video langkah pembuatan tempe, kemudian merancang dan berkonsultassi tahapan proyek kepada guru. Setelah menyiapkan alat dan bahan, siswa membuat tempe secara berkelompok dengan dipantau guru, lalu menyusun laporan hasil proyek. Pertemuan III pada kegiatan ini, siswa menyimak penjelasan guru mengenai tata tertib dan aturan presentasi yang akan dilaksanakan.</p>
      <p id="_paragraph-34">Selanjutnya, setiap kelompok mempresentasikan hasil kerja proyek pembuatan tempe. Guru mengamati aktivitas siswa serta menilai proses presentasi dan hasil proyek untuk melihat ketercapaian tujuan pembelajaran. Peneliti melakukan perubahan dengan membuat proyek cara membuat tempe, sehingga anak bisa menuangkan ide kreatif dalam kegiatan proyek pembuatan tempe. Hal tersebut dapat membuat anak lebih memahami proses pembuatan tempe. Pada siklus II ini memperoleh hasil yang maksimal sebab dilakukan perbaikan pada  kendala siklus I sebelumnya yaitu Siswa sudah mampu mengikuti semua langkah pembuatan tempe secara urut tanpa banyak arahan. Pencampuran ragi sudah merata di seluruh kedelai. Pembungkusan juga dilakukan dengan rapi, tidak tumpah dan lipatan kuat. Siswa terlihat lebih cekatan, teliti, dan mandiri.</p>
      <p id="_paragraph-35">Berikut hasil observasi pada siklus II dalam kegiatan membuat tempe untuk Kemampuan Motorik Peserta Didik yaitu :</p>
      <p id="_paragraph-36">
        <bold id="_bold-43">Tabel </bold>
        <bold id="_bold-44">4</bold>
        <bold id="_bold-45">. Hasil Observasi Kemampuan Motorik Peserta Didik</bold>
        <bold id="_bold-46">Siklus II</bold>
      </p>
      <table-wrap id="tbl4">
        <label>Table 4</label>
        <caption>
          <p id="_paragraph-37"/>
        </caption>
        <table id="_table-4">
          <tbody>
            <tr id="table-row-086fd740db9d4f568e7ddc3426db5c7b">
              <td id="30ee1d0257caabf8af9730b207e238db">
                <bold id="_bold-47">Nilai</bold>
              </td>
              <td id="d59478d2289e776b418e441966b441f7">
                <bold id="_bold-48">Jumlah siswa</bold>
              </td>
              <td id="20dd0a2b4ada126bb32c975c2b2896c2">
                <bold id="_bold-49">Presentase</bold>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-a0f494b42953ca847ac274dd78976952">
              <td id="4f01fc9cb8dbca61771dfea82f261849">
                <bold id="_bold-50">Belum Tuntas &lt; 75</bold>
              </td>
              <td id="b56095e9201996ca72226cc8c1ef8caa">
                <bold id="_bold-51">5</bold>
              </td>
              <td id="587e7e080fcb4e2ccd489c0dfd2650f4">
                <bold id="_bold-52">20 %</bold>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-fcd773c8c37ad03a41376ff6298327c9">
              <td id="8b0b1fc92419883f0bd9b0a717d62021">
                <bold id="_bold-53">Tuntas ≥ 75</bold>
              </td>
              <td id="b1899e871b82b6f306929cd10642e784">
                <bold id="_bold-54">20</bold>
              </td>
              <td id="12dad3b54bff822ccb0882aab13dcbfc">
                <bold id="_bold-55">80 %</bold>
              </td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-38">Berdasarkan pada siklus II menunjukkan bahwa kegiatan membuat tempe dapat meningkatkan kemampuan motorik  siswa dengan peningkatan prasiklus 16%, siklus I 32% menjadi 80% pada siklus II. Menunjukkan hasil presentasi dikatakan berhasil memenuhi target pencapaian keberhasilan 75%. Berdasarkan perolehan presentase kemampuan motorik siswa melalui kegiatan membuat tempe pada siklus I, dan siklus II berikut grafik pencapaian secara keseluruan sebagai berikut :</p>
      <p id="_paragraph-39"><bold id="_bold-56">Gambar 2</bold>. Grafik nilai rata – rata ketuntasan kemampuan motorik siswa</p>
      <fig id="figure-panel-234dfd0ea47637100c1b2902afacd5db">
        <label>Figure 3</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-147a882927c97533cc89d8dfd6391bcd"/>
        </caption>
        <graphic id="graphic-32a70b54e79b30012cd02c931b3f4cc6" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="15309-2.png"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-40"><bold id="_bold-57">Gambar 3</bold>. Grafik Perbandingan Nilai Kemampuan Motorik  Siswa</p>
      <fig id="figure-panel-91f0d5139609b03c2b0708411efa1073">
        <label>Figure 4</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-ff15adb603ac900bfaf6a9f42e55941e"/>
        </caption>
        <graphic id="graphic-7576703db745e5e27482f34940809674" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="15309-3.png"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-41">Berdasarkan diagram diatas, hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wuni (2021) dan Ramli &amp; Jayanti (2023), yang menunjukkan bahwa model <italic id="_italic-37">Project Based Learning</italic> dapat meningkatkan keterampilan motorik anak melalui kegiatan berbasis proyek. Penilaian kemampuan motorik pada anak – anak menjadi semakin penting dalam beberapa tahun terakhir, karena telah disarankan untuk dikaitkan dengan kesulitan kognitif, bahasa, sosial dan emosional.</p>
      <p id="_paragraph-42">Implementasi pembelajaran berbasi proyek mendorongh siswa untuk bersikap lebih aktif, mandiri, dan memiliki tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas. Dalam proses ini, posisi siswa tidak lagi terbatas sebagai penerima informasi, melinkan berperan sebagai subjek utama dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini sesuai dengan karakteristik PjBL yang menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran melalui kegiatan proyek yang menghasilkan produk nyata. Ditunjukkan adanya peningkatan siswa dari prasiklus dengan perolehan presentasen 16%,  siklus I  dengan perolehan presentase 36%, selanjutnya pada siklus II meningkat sebesar 80% dari target pencapaian indikator keberhasilan sebesar 75%. </p>
    </sec>
    <sec id="sec-4">
      <title>Simpulan </title>
      <p id="_paragraph-43">Dari hasil penelitian tindaka kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 2 Siklus yaitu Siklus I dan Siklus II pada siswa kelas II SDN Kesambi dengan jumlah subjek 25 siswa. Hasil observasi penelitian menunjukkan bahwa kegiatan praktik membuat tempe dapat meningkatkan kemampuan motorik peserta didik kelas III di SDN Kesambi. Setelah melalui 2 siklus, diperoleh kesimpulan bahwa kegiatan tersebut efektif. Peningkatan ini terlihat jelas dari data persentase. Pada kondisi awal atau prasiklus motorik peserta didik masih 16%, setelah siklus I nsik menjadi 36%. Pada siklus II meningkat menjadi 80%. Dengan demikian indikator keberhasilan telah tercapai. </p>
      <p id="_paragraph-44">Berdasarkan analisa data dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran <italic id="_italic-38">Project Based Learning</italic> dapat meningkatkan kemampuan motorik anak. Peningkatan signifikan ini dapat menjadi tolak ukur bagi sekolah yang memiliki masalah dengan kegiatan pengolahan pangan untuk meningkatkan kemampuan motorik Peserta didik. </p>
      <p id="paragraph-d10439a3653f0303317d691f7136eba3">
        <bold id="bold-bb6ed3f5b86c720f6ec1c9d177b86cb0">Ucapan Terima Kasih</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-45">Peneliti mengucapkan terima kasih kepada kepala sekolah dan guru SDN Kesambi yang telah memberikan waktu, memberikan izin dan mendukung peneliti untuk melakukan penelitian, sehingga memudahkan proses pengumpulan data berjalan dengan tujuan dan sasaran yang diharapkan.</p>
    </sec>
  </body><back/></article>
