<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.2 20190208//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.2/JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Implementing the Burhany Method in Quranic Reading Learning at the Burhany Quranic Education Center (TPQ) in Surabaya</article-title>
        <subtitle>  Penerapan Metode Burhany dalam Pembelajaran Membaca Al-Quran di Pusat Pendidikan Al-Quran Burhany (TPQ) di Surabaya</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Salim</surname>
            <given-names>Muhammad Alfin</given-names>
          </name>
          <email>alfinvasal@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Fahyuni</surname>
            <given-names>Eni Fariyatul</given-names>
          </name>
          <email>enifariyatulfahyuni@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>Program Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution>Program Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2026-09-15">
          <day>15</day>
          <month>09</month>
          <year>2026</year>
        </date>
      </history>
    <pub-date pub-type="epub"><day>14</day><month>09</month><year>2026</year></pub-date></article-meta>
  </front>
  
  
<body id="body">
    <sec id="sec-1">
      <title>I. Pendahuluan </title>
      <p id="_paragraph-11">Kemampuan membaca al-Qur’an adalah salah satu fondasi utama dalam pendidikan Islam. Aktivitas membaca al-Qur’an bukan hanya sekadar ibadah, namun juga langkah awal untuk memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Annisa dan Susanti menekankan bahwa jika peserta didik dapat membaca al-Qur’an dengan baik dan benar, maka itu akan membantu peserta didik dalam memahami isi al-Qur’an dan juga meningkatkan kesadaran spiritual para pembacanya [1]. Karena itu, membekali peserta didik dengan keterampilan membaca Al-Qur’an sejak dini adalah aspek paling penting dalam pendidikan Islam. Pembelajaran al-Qur’an merupakan suatu kegiatan yang dirancang untuk mendukung peserta didik dalam membaca, memahami, dan menerapkan nilai-nilai al-Qur’an. Terdapat berbagai pendekatan dalam pembelajaran al-Qur’an, yang biasanya mencakup metode iqra’, tilawati, qiraati, ummi, dan lainnya. Sasaran dari pembelajaran Al-Qur’an adalah agar peserta didik dapat membaca dengan tepat berdasarkan aturan tajwid, mampu menghafal ayat-ayat al-Qur’an, mengerti makna dari ayat tersebut, serta dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap al-Qur’an [2].</p>
      <p id="_paragraph-12">Namun, permasalahan yang kini terjadi masih ada anak didik yang mengalami keterbatasan dalam membaca al-Qur’an. Faktor-faktor seperti kurangnya motivasi, minimnya waktu pembelajaran, serta pendekatan pengajaran yang kurang variatif sering menjadi hambatan utama pada kegiatan pembelajaran mengaji. Di beberapa lembaga pendidikan Islam seperti TPQ (Taman Pendidikan al-Qur’an), tantangan tersebut kerap kali membuat hasil pembelajaran kurang maksimal, bahkan ada yang tidak bisa membaca huruf hijaiyah dengan baik meski sudah belajar bertahun-tahun [3]. Maka, dibutuhkan pendampingan yang tepat dan metode yang sesuai agar dapat meningkatkan semangat belajar anak dan remaja dalam membaca al-Qur’an [4].</p>
      <p id="_paragraph-13">Penelitian tentang pembelajaran al-Qur’an ini telah ada sebelumnya. Di antara penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian berjudul “Implementasi Pembelajaran Al-Qur’an Dengan Metode Ummi terhadap Kemampuan Membaca Al-Qur’an Bagi Anak Usia 7-13 Tahun Di Desa Teniga Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara“. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Ummi cukup efektif bagi anak usia 7–13 tahun, namun diperlukan penyesuaian ketika diterapkan pada jenjang usia lain atau pada kelompok dengan kebutuhan khusus [5]. Adapun penelitian yang lain berjudul “Penerapan Metode Tilawati dalam Pembelajaran Membaca Al-Quran di Pondok Sabilul Huda”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode tilawati di pondok Sabilul Huda memberikan hasil positif pada meningkatnya kemampuan membaca al-Qur’an peserta didik secara bertahap dan sistematis. Metode pembelajaran yang diterapkan sangat memengaruhi keberhasilan pada pembelajaran membaca al-Qur’an [6]. </p>
      <p id="_paragraph-14">Penelitian ini tentu memiliki kebaruan atau novelty dengan penelitian sebelumnya. Penelitian sebelumnya, seperti metode Iqro’, Ummi, dan Tilawati telah banyak diterapkan, namun setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan metode pada pembelajaran membaca al-Qur’an perlu disesuaikan pada karakteristik dan kebutuhan peserta didik. Pada penelitian ini, metode Burhany muncul sebagai solusi pendekatan yang menarik untuk diteliti lebih lanjut. Metode ini tidak hanya mengajarkan membaca secara teknis, tetapi juga mendorong peserta didik untuk berpikir logis dan analitis dalam memahami struktur kalimat atau ayat. Metode Burhany memiliki potensi untuk mengintegrasikan unsur bayani (tekstual) dengan pendekatan rasional (burhani) sehingga lebih menyentuh aspek kognitif dan pemahaman mendalam terhadap materi keagamaan, termasuk al-Qur’an. Pentingnya eksplorasi terhadap metode Burhany juga sejalan dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan Islam di tengah masyarakat yang semakin kompleks dan plural. </p>
      <p id="_paragraph-15">Metode Burhany merupakan metode cepat belajar membaca al-Qur’an dan penguasaan ilmu tajwid sistem 9 jam. Metode Burhany lahir sebagai solusi atas problem pembelajaran al-Qur’an yang berlangsung cukup lama di TPQ. Metode ini secara resmi ditetapkan pada 21 Maret 2012 dan telah mendapat tashih dari beberapa ulama al-Qur’an. Prinsip dasarnya Adalah sederhana, berproses, membimbing, memotivasi, dan mengingatkan. Kitab Burhany terdiri dari 48 halaman, disusun secara bertahap dan sistematis. Dalam format klasikal, kitab ini dibagi menjadi tiga tingkatan, Burhany 1 (halaman 1–13), Burhany 2 (halaman 14–30), Burhany 3 (halaman 31–48). Implementasinya yang terstruktur dan berorientasi pada pembiasaan serta motivasi menjadikan perkembangan santri cepat, tepat, dan menyeluruh (A. Ghozali, 22 November 2025).</p>
      <p id="_paragraph-16">Pendidikan Islam masa kini harus mampu membentuk generasi yang tidak hanya bisa membaca, tetapi juga memahami nilai-nilai al-Qur’an pada konteks sosial dan budaya multikultural [8]. Topik ini menjadi relevan dengan kebutuhan praktis lembaga-lembaga pendidikan Islam yang sedang mencari metode paling efektif untuk meningkatkan kemampuan literasi qur’ani peserta didik. Hal ini menunjukkan pentingnya kajian mendalam terhadap metode-metode pembelajaran, termasuk metode Burhany yang masih jarang dikaji secara spesifik dalam konteks pembelajaran membaca al-Qur’an .</p>
      <p id="_paragraph-17">Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini penting dilakukan untuk mengkaji secara komprehensif penerapan metode Burhany dan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pembelajaran membaca Al-Qur’an serta bagaimana perkembangan pembelajaran membaca al-Qur’an setelah menggunakan metode Burhany. Pendekatan yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data mengacu pada model Miles dan Huberman yang meliputi tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan metode pembelajaran membaca Al-Qur’an yang efektif, sistematis, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik di era saat ini. </p>
    </sec>
    <sec id="sec-2">
      <title>II. Metode</title>
      <p id="_paragraph-18">Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Pendekatan kualitatif digunakan untuk memahami dan menggambarkan fenomena secara mendalam, komprehensif, serta sesuai dengan kondisi nyata yang terjadi di lapangan [9]. Melalui pendekatan ini, peneliti berupaya mengkaji, menginterpretasikan, dan memaparkan data yang diperoleh dari TPQ Burhany Surabaya yang berkaitan dengan implementasi metode Burhany dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an.</p>
      <p id="_paragraph-19">Penelitian ini dilakukan di Taman Pendidikan al-Qur’an (TPQ) Burhany Surabaya, yang berlokasi di Jalan Tambak Dalam Baru 1 Nomor 3, Asemrowo, Surabaya. Pemilihan lokasi tersebut karena pembelajaran membaca al-Qur’an menggunakan metode Burhany pertama kali dipraktikkan di TPQ Burhany. Kemudian, subjek penelitian telah dirumuskan secara purposive sesuai pada kebutuhan studi, informan penelitian meliputi perancang metode Burhany, Pengasuh TPQ Burhany, 1 pengajar, 2 santri dan 2 walisantri TPQ Burhany. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi untuk melihat kegiatan pembelajaran secara langsung, wawancara atau tanya jawab dengan pihak terkait untuk menggali informasi lebih mendalam, serta dokumentasi menjadi pelengkap data bersifat tertulis atau visual [10]. </p>
      <p id="_paragraph-20">Adapun teknik analisa data menggunakan teknik Miles dan Huberman [11], Tahapan analisis data dalam penelitian ini meliputi beberapa langkah. Pertama, pengumpulan data, yaitu peneliti memperoleh data yang berkaitan dengan implementasi metode Burhany dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an melalui kegiatan pengumpulan data secara langsung di lapangan. Data yang terkumpul selanjutnya dipilih untuk dianalisis lebih lanjut. Kedua, reduksi data, yakni proses merangkum, menyeleksi, serta memfokuskan data pada informasi yang dianggap penting dan relevan dengan tujuan penelitian. Ketiga, penyajian data, di mana data mengenai implementasi metode Burhany dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an disajikan dalam bentuk uraian deskriptif agar mudah dipahami. Keempat, penarikan kesimpulan atau verifikasi, yaitu tahap akhir untuk merumuskan temuan penelitian berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan, peneliti membuat kesimpulan terkait implementasi metode Burhany dalam pembelajaran membaca al-Qur’an yang telah diperoleh di lapangan.</p>
      <p id="_paragraph-21">Proses analisis data dapat dilihat melalui peta konsep berikut:</p>
      <fig id="figure-panel-dcbe8f9b32a27888b133fd463e15ca90">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-807573d3862ecddcf6ece8af56bbe9b9"/>
        </caption>
        <graphic id="graphic-21018294effa921a3f542f549cc5205e" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="14157-1.png"/>
      </fig>
    </sec>
    <sec id="heading-448cb929a71804c437e3796d6e0ae361">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="heading-d88ca79fbe08739cbd2f159a607ae80e">
        <bold id="bold-1">A. </bold>
        <bold id="bold-2">Metode Burhany</bold>
      </p>
      <fig id="fig1">
        <label>Figure 2</label>
        <caption>
          <p id="_paragraph-22"/>
        </caption>
        <graphic id="_graphic-1" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="image1.jpeg"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-23"><bold id="_bold-7">Gambar 1.</bold> Halaman cover depan dan belakang buku Burhany</p>
      <p id="_paragraph-24">Metode Burhany merupakan metode cepat belajar membaca al-Qur’an dan penguasaan ilmu tajwid sistem 9 jam. Metode ini dirancang oleh Ustadz Ahmad Ghozali, Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Al-Qur’an, Wonosalam, Jombang, Jawa Timur. Secara filosofis, metode ini dinamakan “Burhany”, merujuk pada kata “burhān” yang berarti bukti kebenaran. Menurut filsafat Islam yakni metode logis atau rasional untuk menetapkan proposisi dan kebenaran [12]. Sebagai harapan agar pembelajaran al-Qur’an menjadi cahaya dan bukti kebenaran bagi umat. Dengan demikian, lahirnya metode ini tidak hanya berdimensi pedagogis, tetapi juga spiritual. Hasil wawancara dengan penyusun metode Burhany, Ustadz Ahmad Ghozali Fadli, menunjukkan bahwa metode Burhany lahir sebagai solusi atas problem pembelajaran al-Qur’an yang berlangsung cukup lama di TPQ. Pada masa itu, banyak santri membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dapat membaca al-Qur’an dengan lancar, bahkan terdapat santri yang sudah lulus sekolah dasar namun belum mampu membaca al-Qur’an secara mandiri. Sebagaimana menurut Selvia Enjelina dan Rita Yulia Anggraini, bahwa banyak siswa belum memiliki kompetensi membaca Al-Qur’an yang baik, sehingga kebiasaan membaca sulit terbentuk serta proses belajar bisa panjang dan tidak semua siswa cepat mahir [13]. Melihat kondisi tersebut, pada tahun 2011 dilakukan penyusunan awal konsep metode yang lebih sederhana, cepat, dan mudah diterapkan. Uji coba dilakukan kepada santri TPQ internal. Setelah melalui evaluasi selama satu tahun, disertai proses revisi berulang, dan mendapat tashih dari beberapa ulama al-Qur’an, metode ini secara resmi ditetapkan pada 21 Maret 2012 (A. Ghozali, 22 November 2025). </p>
      <p id="_paragraph-25">Prinsip dasar metode Burhany adalah sederhana, berproses, membimbing, memotivasi, dan mengingatkan. Kitab Burhany terdiri dari 48 halaman, disusun secara bertahap dan sistematis. Dalam format klasikal, kitab ini dibagi menjadi tiga tingkatan. Menurut Ibu Hj. Fadli selaku Pengasuh TPQ Burhany, menyatakan bahwa:</p>
      <p id="_paragraph-26">“Metode burhany merupakan metode belajar membaca alquran terbaru yang mengandalkan kecepatan dan kreatiftas dalam proses pembelajaran. Burhany memiliki ciri khas dalam pembelajaran perkata dan terus mengulang. Metode burhany terdapat 3 jilid.” (F. Fadli, 28 November 2025)</p>
      <p id="_paragraph-27">Selaras dengan pernyataan Ustadz Luthfi selaku pengajar di TPQ Burhany, Bahwa:</p>
      <p id="_paragraph-28">”Metode burhany adalah metode belajar cepat membaca al quran, burhany sama seperti metode belajar membaca alquran yang lainnya. Dalam metode burhany terdapat bagaimana cara membaca alquran dan menguasai tajwid serta cara cepat dan efisien belajar. Metode burhany terdiri dari 3 tingkatan, yakni, burhany 1,2,3.” (L. Abdillah, 28 November 2025).</p>
      <p id="_paragraph-29">Maka dari pernyataan tersebut dan hasil dokumentasi, dapat disimpulkan bahwa metode Burhany memiliki 3 tingkatan kelas dengan rincian sebagai berikut:</p>
      <p id="paragraph-2b1fbadee981d697d57cf24390d08b4e">1. Burhany 1 (halaman 1–13)</p>
      <p id="_paragraph-30">Fokus pada pengenalan huruf hijaiyah, makhraj sederhana, dan pengucapan dasar.</p>
      <p id="paragraph-f6e016304d9e7d00bd2d2457282b5241">2. Burhany 2 (halaman 14–30)</p>
      <p id="_paragraph-31">Fokus pada harakat, tanwin, mad thabi’i, mad layyin, huruf sukun, dan tasydid.</p>
      <p id="paragraph-5ec89a2078113b2017d1ad4ccd3190dc">3. Burhany 3 (halaman 31–48)</p>
      <p id="_paragraph-32">Fokus pada hukum tajwid lanjutan: lam tafkhim/tarqiq, nun sukun &amp; tanwin, mim sukun, mad panjang, idgham mutamatsilain–mutaqaaribain, waqaf, serta latihan intensif.</p>
      <fig id="figure-panel-abafa3a22847dbbfcff7f9a97613c43b">
        <label>Figure 3</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-d2b2266da588c3f6c870668e9237a0b6"/>
        </caption>
        <graphic id="graphic-78dd89c5e31c2fe08dcab15b04582a3a" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="14157-2.png"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-36"><bold id="_bold-8">Gambar </bold><bold id="_bold-9">2</bold><bold id="_bold-10">. </bold>Halaman isi buku Burhany</p>
      <p id="_paragraph-37">Struktur pembelajaran halaman demi halaman memberikan alur yang terukur, yaitu halaman 1–13: pengenalan huruf, halaman 14–15: harakat, halaman 16–17: tanwin, halaman 18–22: mad thabi’i &amp; layyin, halaman 23–26: huruf mati, halaman 27–30: tasydid, halaman 31: lam tebal / tipis, halaman 32–38: hukum nun sukun &amp; tanwin, halaman 39–40: mad 4–6 harakat, halaman 41: mim sukun, halaman 42–44: waqaf, halaman 45: idgham mutamatsilain &amp; mutaqaaribain, halaman 46–47: latihan, halaman 48: tanda waqaf. Menurut hasil wawancara, target pembelajaran metode Burhany ini terbagi atas 2, yakni usia remaja dan dewasa dengan jumlah pertemuan 9 kali, pada setiap pertemuan membaca 4 – 6 halaman. Selain itu juga ada target hafalan Juz Amma mulai Surah An-Nas hingga An-Naba’. Kemudian usia anak-anak dibagi menjadi 3 tingkatan, yaitu Burhany 1, 2, dan 3. Pada tiap tingkatan terdiri atas 32 pertemuan. Target hafalan pada usia ini mulai dari Surah An-Nas hingga Surah Al-Lail. Struktur ini menegaskan bahwa metode Burhany mampu digunakan baik bagi pemula dewasa maupun anak-anak dengan sistem yang disesuaikan (A. Ghozali, 22 November 2025).</p>
      <p id="_paragraph-38">Persebaran metode Burhany ini telah tersebar secara luas, Adapun menurut hasil wawancara, metode Burhany telah tersebar di 38 provinsi di Indonesia. Selain itu, juga telah tersebar di beberapa negara Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Adapun persebaran terbesar berada di wilayah Jawa Barat, Jakarta, dan Banten, mengingat tingginya permintaan pembelajaran al-Qur’an di wilayah urban dan sub-urban tersebut. Pada mulanya, metode ini disusun untuk kebutuhan internal TPQ saja dan tidak direncanakan untuk dipublikasikan. Namun pada 21 Maret 2012, KH. Hasan Abdullah Sahal (Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor) memberikan instruksi dakwah agar metode ini disebarkan untuk kemaslahatan umat. Perintah dakwah dari seorang ulama besar inilah yang menjadi titik awal penyebaran Burhany kepada masyarakat luas. Sejak saat itu, pendampingan guru, pelatihan relawan wakaf, dan bimbingan teknis mulai dilakukan secara berkala, sehingga metode ini cepat dikenal dan digunakan (A. Ghozali, 22 November 2025).</p>
      <p id="paragraph-12acdc8309a0a94ef2d8552eb6797071">
        <bold id="bold-57a39d267c43396041b08e3bbbdeaf51">B. </bold>
        <bold id="bold-03374ba8b5550b3eaefde2237803f7b5">Implementasi Metode Burhany dalam Pembelajaran membaca Al-Qur’an di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Burhany Surabaya</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-39">Pembelajaran al-Qur’an memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan baca tulis al-Qur’an sekaligus menanamkan nilai-nilai akhlak pada peserta didik. Dalam proses tersebut, implementasi metode pembelajaran menjadi aspek penting karena menentukan sejauh mana peserta didik mampu memahami, membaca, dan mengamalkan al-Qur’an secara benar dan berkelanjutan. Setiap lembaga pendidikan biasanya menggunakan pendekatan yang berbeda, seperti metode fonetik, tahfiz, talaqqi, atau metode gabungan, namun keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh jenis metodenya, melainkan juga bagaimana metode tersebut diterapkan secara konsisten, terstruktur, dan sesuai kebutuhan peserta didik [16].</p>
      <fig id="fig5">
        <label>Figure 4</label>
        <caption>
          <p id="_paragraph-40"/>
        </caption>
        <graphic id="_graphic-5" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image5.png"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-41"><bold id="_bold-11">Gambar </bold><bold id="_bold-12">3</bold><bold id="_bold-13">.</bold> Dokumentasi kegiatan mengaji di TPQ Burhany Surabaya</p>
      <p id="_paragraph-42">Proses mengaji Metode Burhany yang diterapkan di TPQ Burhany Surabaya, menurut penuturan pengasuh TPQ Burhany yakni Bu Hj. Fadli bahwa dalam proses pembelajaran Burhany dimulai dari jam 18.00 (Ba’da Maghrib) hingga pukul 19.30. Pembelajaran diawali dengan membaca doa bersama serta membaca surah-surah pendek. Kemudian dilanjutkan dengan membaca Burhany sesuai jilid masing-masing secara berkelompok dan maju per-individu, kemudian diakhir sesi melakukan evaluasi dan doa penutup (F. Fadli, 28 November 2025). Kemudian teknis mengaji dijelaskan lebih lanjut oleh Ustadz Luthfi selaku pengajar di TPQ Burhany Surabaya, bahwasannya:</p>
      <p id="_paragraph-43">“Implementasi dari Burhany menuju al-Qur’an dimulai dari burhany 1, biasanya dimulai dari halaman 1-13, kemudian Burhany 2 dari halaman 14-30, sedangkan burhany 3 mulai halaman 31-48. Untuk implementasi menuju al-Qur’an dimulai ketika pembelajaran burhany 1-3 sudah selesai dan faham, santri mulai diperkenalkan al-Quran dari juz 30 atau surah pendek sambil praktek secara langsung dan dibarengi hafalan.” [15]</p>
      <p id="_paragraph-44">Secara teori, menurut Ahyar Rasyidi, dkk pada umumnya tahapan pembelajaran di TPQ meliputi pembukaan dimulai dengan membaca surah-surah pendek, do’a harian, menulis, kegiatan inti (belajar mengaji) dan penutup. Kemudian yang membedakan proses pembelajaran antar TPQ yang satu dengan yang lainnya adalah metode yang digunakan oleh masing-masing TPQ [17]. </p>
      <p id="_paragraph-45">Teknik pelaksanaan pembelajaran metode Burhany telah dijelaskan secara rinci, menurut hasil wawancara dengan penyusun metode burhany, Ustadz Ahmad Ghozali, kegiatan pembelajaran di kelas, meliputi yang pertama 1)pembukaan, yakni santri dan guru duduk rapi, kemudian guru mengucapkan salam, lalu yel-yel penyemangat: “Santri Burhany… Bertaqwa – Cerdas – Kreatif – Allahu Akbar!”. Kegiatan kedua 2)doa pembuka, meliputi doa khusus untuk penyusun, guru, relawan, pewakaf, santri, dan kedua orang tua. Kemudian membaca Al-Fatihah dimulai dari ta’awudz, syi’ir al-Qur’an serta membaca doa sebelum belajar. Kegiatan 3)pengulangan hafalan surat pendek, kegiatan 4)penambahan hafalan baru (1–3 ayat), kegiatan 5)pengulangan pelajaran sebelumnya, kegiatan 6)penanaman konsep dan pemahaman materi, kegiatan 7)latihan membaca hingga lancar, kegiatan 8)penugasan menulis Arab di rumah, kegiatan terakhir adalah doa penutup (A. Ghozali, 22 November 2025).</p>
      <p id="_paragraph-46">Selain metode yang digunakan, peran guru TPQ menjadi faktor kunci dalam keberhasilan pembelajaran Al-Qur’an. Guru TPQ yang mampu menerapkan metode secara tepat, memberikan motivasi yang berkelanjutan, serta menunjukkan keteladanan akhlak yang kuat akan membantu para santri membangun hubungan yang positif dengan Al-Qur’an. Dengan demikian, keberhasilan pembelajaran Al-Qur’an tidak hanya ditentukan oleh strategi mengajar, tetapi juga oleh karakter, kompetensi, dan dedikasi guru sebagai pendidik spiritual [18]. Sebagaimana menurut Bu Hj. Fadli, selaku pengasuh TPQ Burhany Surabaya, bahwa:</p>
      <p id="_paragraph-47">“Guru berperan dalam membimbing santri dari awal masuk sampe pulang belajar megaji, dalam proses pembelajaran guru memiliki peran untuk memmimpin ngaji bersama sebelum menemani santri ngaji secara satu persatu, guru juga berperan pada pengajaran akhlak santri dan terus memberi motivasi dalam belajar.”</p>
      <p id="_paragraph-48">Adapun metode pengajaran Burhany secara rinci dijelaskan oleh Ustadz Ahmad Ghozali selaku perancang metode Burhany. Pertama dengan cara guru menjelaskan dan memahamkan bentuk huruf yang akan diajarkan. Misalnya, huruf (ي) ’ya’ seperti bebek, dll. Kemudian santri diminta untuk mengklasifikasikan bentuk huruf. Misalnya: “si Fulan, huruf ya’ sama seperti bentuk apa?”. Kedua yakni dengan cara mendengar dan mengulang (Tasmi’ dan Takrir), meliputi guru membaca seluruh halaman dan santri mendengarkan, guru membaca per kata, santri menirukan, santri membaca, guru menyimak dan mengevaluasi. Dan yang terakhir yakni cara pembiasaan, seperti santri membaca berulang-ulang dan santri membaca bergiliran (A. Ghozali, 22 November 2025)</p>
      <p id="_paragraph-49">Secara teori, menurut Ana Maryati, dkk, bahwa Guru TPQ memiliki peran besar dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an melalui pendekatan pengajaran yang tepat, pemanfaatan media pembelajaran yang beragam, serta pemberian motivasi kepada santri. Selain itu, hubungan dan komunikasi yang baik antara guru dan santri turut mendukung keberhasilan proses pembelajaran [19].</p>
      <p id="paragraph-bb2cdfa523a948cf1056d03fb8aebaa6">
        <bold id="bold-1d29d1e4baaffe5d0a6f229b3e8defb7">C. </bold>
        <bold id="bold-7324acaa8ae6cb8b4d4a4ba2dcab56e4">Faktor Pendukung dan Penghambat Metode Burhany dalam Pembelajaran membaca Al-Qur’an di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Burhany Surabaya</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-50">Dalam pembelajaran Al-Qur’an, berbagai metode telah dikembangkan untuk membantu peserta didik menguasai keterampilan membaca dan memahami al-Qur’an dengan baik. Setiap metode memiliki karakteristik, keunggulan, dan keterbatasan tersendiri yang perlu dianalisis secara kritis sebelum diterapkan dalam konteks pembelajaran tertentu. Secara umum, kajian tentang kaidah metode pembelajaran Al-Qur’an menunjukkan bahwa pendekatan yang sistematis dapat mempermudah proses pembelajaran, tetapi pada saat yang sama memerlukan penyesuaian terhadap kebutuhan peserta didik dan kemampuan guru dalam mengimplementasikannya secara efektif [20].</p>
      <p id="_paragraph-51">Metode pembelajaran al-Qur’an, yaitu metode Burhany juga memiliki kelebihan dan kekurangan, sama halnya dengan metode-metode lainnya yang memiliki karakteristik dan keterbatasannya masing-masing. Menurut Bu Hj. Fadli selaku pengasuh TPQ Burhany Surabaya, Adapun beberapa kelebihan atau faktor pendukung metode Burhany dalam pembelajaran al-Qur’an adalah metode ini mudah dipahami dan penyampaiannya juga ringan sehingga santri tidak merasa berat untuk mempelajarinya. Selain itu, juga ada beberapa faktor penghambatnya, seperti setiap santri memiliki kemampuan yang berbeda membuat proses pembelajaran terlambat, terkadang waktu dan situasi kondisi yang terjadi membuat santri kurang fokus (F. Fadli, 28 November 2025). Secara teori, menurut Irna Awliyah dan Muhammad Abdullah Darras, bahwa motivasi belajar santri dan kesiapan materi menjadi faktor yang mempermudah proses pembelajaran, sedangkan kurangnya disiplin, kurangnya peran keluarga di rumah, dan gangguan selama pelajaran menjadi faktor penghambat [21].</p>
      <p id="_paragraph-52">Faktor pendukung dan penghambat metode Burhany dalam proses pembelajaran al-Qur’an dijelaskan secara detail oleh Ustadz Ahmad Ghozali selaku perancang metode Burhany, bahwa faktor penghambatnya ialah kedisiplinan santri terhadap waktu dan kemauan untuk belajar yang kurang serta tidak ada target yang ingin dicapai. selain itu faktor psikologis dan lingkungan juga mempengaruhi gaya belajar santri. Adapun santri yang belum mengenal huruf hijaiyah juga mempengaruhi proses belajar mengajar. Sedangkan pendukungnya adalah motivasi santri untuk giat belajar dan dukungan dari orangtua berupa pengawasan dan visi misi yang sama dapat mempermudah target yang dituju. Konsistensi dan kompetensi santri juga membantu belajar dengan cepat dan tepat.[7]</p>
      <p id="paragraph-8316fb19063152dd3746a8daf4500620">
        <bold id="bold-3bf33a710c17a07381a2d90f58b4d405">D. </bold>
        <bold id="bold-dc4961376524560bdcd25e40c14b78a5">Perkembangan Pembelajaran Membaca Al-Qur’an Setelah Menggunakan Metode Burhany</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-53">Pembelajaran membaca al-Qur’an merupakan proses berkelanjutan yang menuntut adanya peningkatan kemampuan santri secara bertahap, baik dari segi kelancaran membaca, ketepatan makhraj dan tajwid, maupun sikap dan motivasi belajar. Perkembangan dalam pembelajaran membaca al-Qur’an dapat dilihat dari perubahan kemampuan santri setelah mengikuti proses pembelajaran dengan metode tertentu, yang mencakup aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif. Oleh karena itu, penggunaan metode pembelajaran yang tepat menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong perkembangan kemampuan membaca al-Qur’an secara lebih efektif dan terarah, sehingga santri mampu menunjukkan kemajuan yang signifikan seiring dengan berjalannya waktu pembelajaran [22]. </p>
      <p id="_paragraph-54">Menurut hasil penuturan beberapa wali santri TPQ Burhany, bahwa perkembangan anaknya terlihat cukup baik dan signifikan. Anak menjadi lebih lancar dalam membaca, mengenal huruf hijaiyah dengan benar, serta mulai memahami panjang-pendek bacaan. Selain itu, anak juga lebih percaya diri dan semangat dalam mengikuti pembelajaran al-Qur’an, baik di TPQ maupun saat berlatih di rumah [23]. Berikut merupakan tanggapan dari Bu Sukarti selaku wali santri TPQ burhany Surabaya:</p>
      <p id="_paragraph-55">“Alhamdulillah anak saya sekarang sudah Burhany 3, dia kan masih kelas 3 SD menurut saya itu sudah bagus sih, setelah itu kalau lulus ujian dia naik pra-Tahfid. Buku Burhany ini menurut saya ringan, anak saya tidak kesusahan mengikuti pembelajaran menggunakan Burhany ini dan anak saya jadi cepat bisa membaca.” [24].</p>
      <p id="_paragraph-56">Begitupula dari sudut pandang santri, diantaranya menjelaskan bahwa mereka tidak merasa kesulitan dalam mempelajari metode Burhany, mereka jadi cepat bisa membaca dan naik tingkat meskipun masih SD kelas 3 tetapi sudah akan beranjak memasuki kelas al-Qur’an [25]. Secara teori menurut Fahimatul Ulumiah dan Siti Amanah, bahwa metode pembelajaran yang dioptimalkan dapat memengaruhi minat dan keterlibatan santri dalam pembelajaran Al-Qur’an, hal ini merupakan faktor penting yang biasa berkorelasi dengan kemampuan santri mencapai tingkat baca yang lebih tinggi [26].</p>
      <p id="_paragraph-57">Berdasarkan hasil dokumentasi pada dokumen Desain Burhany Baru, metodologi pengajaran, dan kurikulum yang dianalisis, perkembangan yang muncul setelah penerapan metode Burhany meliputi, 1)peningkatan kecepatan belajar. Santri lebih cepat mengenal huruf, memahami harakat, hingga membaca ayat berharakat lengkap karena materi disusun bertahap dari yang paling mudah ke kompleks. Sistem 9 jam untuk dewasa menjadi bukti efektivitas metode ini. 2)Peningkatan kelancaran dan kefasihan. Pembiasaan membaca, latihan berulang, dan pengelompokan halaman membuat santri mencapai kelancaran lebih cepat. Latihan intensif pada halaman 46–47 memperkuat kelancaran akhir sebelum naik ke mushaf. 3)Peningkatan ketepatan tajwid. Karena tajwid dimasukkan sejak level dasar (mad, tasydid, hukum nun sukun, waqaf), perkembangan bacaan santri tidak hanya cepat tetapi juga tepat sesuai kaidah. 4)Perubahan sikap dan motivasi santri. Langkah pembelajaran yang dimulai dengan doa, yel-yel, dan motivasi membuat santri antusias, disiplin, dan memiliki keyakinan bahwa membaca al-Qur’an itu mudah. 5)Pemerataan akses pembelajaran al-Qur’an. Program pelatihan guru dan relawan memperluas akses pendidikan al-Qur’an. Masyarakat di berbagai daerah yang sebelumnya kesulitan mendapatkan metode efektif kini dapat belajar secara cepat dan benar. 6)Peningkatan kualitas pembelajaran TPQ. Guru lebih mudah mengelola kelas karena memiliki panduan halaman demi halaman. Evaluasi kenaikan tingkat juga lebih objektif [27].</p>
    </sec>
    <sec id="sec-3">
      <title>IV Simpulan</title>
      <p id="_paragraph-58">Berdasarkan hasil penelitian, dapat dipahami bahwa penerapan metode Burhany dalam pembelajaran membaca al-Qur’an di TPQ Burhany Surabaya memberikan kontribusi nyata dan positif terhadap proses belajar santri. Metode ini tidak hanya membantu santri mempercepat kemampuan membaca al-Qur’an, tetapi juga mendorong peningkatan kelancaran, kefasihan, dan ketepatan tajwid secara bertahap. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa struktur pembelajaran yang sistematis, pengulangan yang konsisten, serta pembiasaan membaca menjadi kunci penting dalam membentuk kemampuan baca Al-Qur’an santri.</p>
      <p id="_paragraph-59">Selain itu, temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa keberhasilan implementasi metode Burhany tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh motivasi belajar santri dan dukungan orang tua sebagai faktor pendukung utama. Sebaliknya, rendahnya kedisiplinan dan kurangnya kemauan belajar menjadi hambatan yang perlu mendapat perhatian serius dari pihak pengelola TPQ. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa efektivitas metode pembelajaran Al-Qur’an tidak hanya ditentukan oleh metode itu sendiri, tetapi juga oleh kesiapan santri, peran guru, serta dukungan lingkungan belajar yang positif..</p>
      <p id="paragraph-cb970af5a435d0fbc5cb5e9a4e2f3c5b">
        <bold id="bold-c84cb390cdf9c67e0c96caa614236658">Ucapan Terima Kasih</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-60">Ucapan syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memberikan rahmat kemudahan dan kelancaran sehingga dapat terselesainya tulisan ini dengan baik. Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang turut mendukung dan membantu dalam proses kelancaran penulisan karya ilmiah ini. Terutama kepada orang tua, dosen pembimbing, pasangan yang telah membimbing, mensupport dan mendoakan serta para narasumber yang telah berkenan berbagi ilmu dan informasi dalam proses pengumpulan data penelitian. </p>
    </sec>
  </body><back/></article>
