Futhri Raudhatul Kabry (1), Inom Nasution (2)
General Background: Teacher leadership plays a strategic role in shaping effective learning interactions and fostering student motivation and participation. Specific Background: Democratic leadership in classroom settings emphasizes student involvement, two-way communication, and shared decision-making, aligning with student-centered learning approaches. Knowledge Gap: Limited empirical attention has been given to how democratic leadership practices operate in Madrasah Tsanawiyah contexts and how they relate to both intrinsic and extrinsic student motivation. Aims: This study aims to analyze the implementation of teacher democratic leadership and examine its relationship with student learning motivation and participation. Results: Using a qualitative phenomenological approach with observations, interviews, and documentation involving teachers and students, the findings reveal that democratic leadership is consistently applied through student participation in decision-making, active discussions, and varied instructional methods. These practices are associated with increased student confidence, engagement, motivation, and active participation, alongside improved academic outcomes. Both intrinsic and extrinsic motivation are fostered through supportive classroom environments, rewards, and participatory learning strategies. Novelty: This study positions democratic leadership not merely as a leadership style but as an integrated pedagogical practice embedded in classroom learning processes. Implications: The findings suggest that adopting democratic leadership can support participatory, student-centered learning environments and can be contextually applied across diverse educational settings, although generalization should consider contextual limitations.
Highlights• Student engagement increases through participatory classroom decision-making• Confidence and autonomy develop via collaborative learning practices• Academic performance shows improvement in previously low-achieving learners
KeywordsTeacher Democratic Leadership; Student Learning Motivation; Student Participation; Intrinsic And Extrinsic Motivation; Qualitative Phenomenological Study
Kepemimpinan dalam konteks pendidikan memainkan peran penting sebagai alat untuk mengarahkan dan menginspirasi siswa, sehingga mendorong motivasi dan pencapaian akademik yang lebih baik (Arsyam, 2024). Jiwa kepemimpinan merupakan jiwa yang harus dimiliki oleh setiap guru supaya dapat mengelola kelas dengan baik (Mubarok, 2022). Pemimpin yang efektif memainkan peran yang sangat penting dalam pengembangan organisasi dan mencapai kinerja yang optimal. Gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh seorang pemimpin dapat berdampak signifikan terhadap kinerja individu dan kelompok dalam organisasi, termasuk di lingkungan Pendidikan (Pahruroji & Nugraha. 2023). Kepemimpinan guru dalam pembelajaran menjadi faktor yang mendasar, karena berperan sebagai fasilitator yang memengaruhi interaksi dalam relasi guru sebagai pemimpin dan siswa sebagai yang dipimpin. Melalui kepemimpinannya, guru menggerakkan siswa untuk berprilaku belajar yang positif dalam pencapaian tujuan pembelajaran (Rahayu & Susanto, 2018).
Guru dalam kelas berperan sebagai pemimpin. Tugasnya adalah mempengaruhi siswa melalui pengembangan organization of learning atau pengorganisasian pembelajaran. Sukses pembelajaran bergantung pada kemampuan guru memimpin dan mengorganisasikan pembelajaran dalam kelas sehingga dapat mewujudkan hasil belajar sesuai dengan tujuan. Mengajar memerlukan suasana yang kondusif untuk mengembangkan pengalaman siswa sehingga menjadi produktif dalam interaksi sosial yang efektif (Syahputra, 2021). Dalam melaksanakan tugasnya ternyata guru juga tidak hanya cukup terampil mengajar, memahami bidang studi yang akan diajarkannya, tetapi harus memiliki sikap yang tepat terhadap semua unsur yang terlibat dalam kegiatan proses pendidikan tersebut. Apabila salah satu syarat yang menjadi tuntutan guru tidak terpenuhi akan melaksanakan tugasnya, maka pelaksanaan proses pendidikan tersebut tidak akan berjalan dengan lancar (Mulyana, 2017). Guru sebagai pemimpin kelas memiliki peran sentral dalam membentuk lingkungan belajar yang mendukung, hal ini sejalan dengan (Muhammad, 2017) yang mengatakan bahwa guru sebagai pemimpin proses pembelajaraan memiliki kemampuan memimpin berupa membimbing, mendorong, dan memajukan siswa agar mau melaksanakan kegiatan pembelajaran. Tuntutan seorang pendidik harus bisa menuntun siswa di setiap proses pembelajaran, tidak membeda-bedakan siswa, memperlakukan siswa semuanya sama, memberikan pengajaran dengan berbagai metode yang menarik, paham akan hal-hal yang baru, menggali serta menumbuhkan potensi siswa, serta mengikuti dan paham perkembangan karakter siswa. Hal tersebut karena guru adalah orang yang memiliki kedekatan tinggi dengan siswa dan menjadi pemimpin bagi siswa di sekolah.
Motivasi belajar dapat membantu siswa mengembangkan kecintaan terhadap belajar dan memotivasi mereka untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran. Karena termotivasi, siswa akan berpartisipasi dengan senang hati dalam kegiatan pembelajaran (Maryati, Eva, et al., 2024). Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan yang mendorong individu untuk memiliki kemauan dalam melaksanakan suatu aktivitas. Kemauan tersebut bisa berasal dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari faktor eksternal (motivasi ekstrinsik). Kekuatan motivasi yang dimiliki seseorang sangat menentukan kualitas perilaku yang ditunjukkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja, maupun kehidupan sehari-hari. Selain itu, durasi kegiatan berhubungan dengan seberapa lama seseorang dapat memanfaatkan waktunya untuk melakukan aktivitas. Berdasarkan indikator ini, dapat dipahami bahwa motivasi terlihat dari kemampuan seseorang dalam mengatur waktunya untuk melakukan suatu kegiatan, yang juga dapat menjadi tolok ukur dalam menilai motivasi belajar siswa (Setyo Budi, 2024). Guru harus berupaya secara maksimal agar siswa termotivasi untuk belajar. Oleh karena itu motivasi belajar menjadi salah satu kunci keberhasilan dalasm mencapai tujuan pembelajaran. Motivasi belajar harus dibangkitkan dalam diri siswa sehingga siswa termotivasi dalam belajar (Fernando et al, 2024).
Lebih lanjut penelitian sebelumnya menekankan kepemimpinan guru sebagai pemimpin di kelas dapat mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran melalui interaksi yang melibatkan siswa dalam diskusi, pengambilan keputusan bersama, dan aktivitas kreatif. (Fahri, Faisal et.al, 2022). Namun kurangnya spesifik tentang Gaya Demokratis di Sekolah Menengah Pertama (MTs), Penelitian sebelumnya sering membahas kepemimpinan guru secara umum atau gaya lain (otoriter, laissez-faire), tetapi belum banyak yang fokus pada gaya demokratis dan dampaknya pada motivasi belajar siswa di tingkat MTs, dan Kurangnya mengeksplorasi variabel moderasi atau mediasi seperti perbedaan karakteristik siswa, budaya sekolah, atau faktor lingkungan belajar yang bisa mempengaruhi hubungan antara kepemimpinan demokratis dan motivasi belajar.
Oleh karena itu penelitian ini berupaya mengisi kesenjangan tersebut dengan mengeksplorasi bagaimana gaya kepemimpinan demokratis guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. penelitian ini berfokus pada 3 aspek eksplorasi gaya kepemimpinan demokratis guru: 1) Praktik kepemimpinan demokratis guru dalam pendekatan pembelajaran, 2) Motivasi belajar siswa baik yang bersumber dari dalam diri (intrinsikl) maupun dari luar diri (ekstrinsiks), 3) Partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Berdasarkan fokus tersebut, penelitian ini bertujuan untuk Mengeksplorasi praktik kepemimpinan demokratis yang diterapkan guru dalam pendekatan pembelajaran di kelas. Memahami pengalaman motivasi belajar siswa dari aspek internal dan eksternal dalam konteks kepemimpinan demokratis guru. Mendeskripsikan dinamika interaksi dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran dengan gaya kepemimpinan demokratis.
Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mempengaruhi orang lain, agar mereka berbuat sesuatu dalam mencapai suatu tujuan dan maksud (Utari et al, 2020). Sejalan dengan pendapat Robert G. Owens dalan (Haryanti & Anwar, 2025) mengemukakan kepemimpinan sebagai keterlibatan yang dilakukan secara sengaja untuk mempengaruhi perilaku orang. Menurut Yanti (2019) kepemimpinan adalah kemampuan yang ada dalam diri seseorang baik secara alamiah atau melalui suatu pendidikan untuk mempengaruhi orang lain baik individu maupun kelompok dalam suatu organisasi dalam situasi tertentu sehingga dengan sukarela anggota organisasi melakukan tujuan yang hendak dicapai. Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan kepemimpinan ialah Kepemimpinan adalah kemampuan yang dapat dikembangkan dalam diri seseorang untuk secara sengaja mempengaruhi dan menggerakkan perilaku orang lain (individu atau kelompok) dengan sukarela dalam mencapai tujuan bersama dalam konteks organisasi dan situasi tertentu.
Menurut Robbins (dalam Garis et al, 2021) gaya kepemimpinan demokratis menggambarkan pemimpin yang cenderung melibatkan karyawan dalam mengambil keputusan, mendelegasikan wewenang, mendorong partisipasi dalam memutuskan metode dan sasaran kerja, dan menggunakan umpan balik sebagai peluang untuk melatih karyawan. Gaya kepemimpinan demokratis mencerminkan partisipasi aktif dan kolaboratif antara pemimpin dan anggota tim dalam pengambilan keputusan. Dalam konteks pendidikan, gaya kepemimpinan demokratis dapat memberikan peluang kepada guru untuk melibatkan siswa dalam proses pembelajaran, mendorong keterlibatan aktif, dan membangun ikatan yang kuat antara guru dan siswa (Pahruroji& Nugraha, 2023). Tipe kepemimpinan ini mendorong timbulnya inisiatif bawahan (siswa), sehingga bawahan benar-benar dapat berimprovisasi dan mengambangkan bakat dan keahliannya demi kemajuan organisasi dan tercapainya tujuan yang telah ditetapkan bersama, sehingga tipe kepemimpinan ini bersifat terbuka (Istikomah & Haryanto,2021). Kepemimpinan demokratis melibatkan kolaborasi antara guru dan siswa dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi pembelajaran di kelas. Dalam gaya ini, siswa didorong untuk aktif berpartisipasi, mengemukakan pendapat, serta berkontribusi dalam diskusi yang membentuk suasana belajar. Adapun Karakteristik gaya kepemimpinan demokratis (Fadia,2024) 1) Guru melibatkan siswa dalam proses pengambilan keputusan. 2) Guru mendengarkan masukan dari siswa dan menghargai pendapat mereka. 3) Siswa diberikan ruang untuk menyampaikan ide dan bertanya. 4) Ada suasana saling menghormati dan interaksi yang dinamis di dalam kelas.
Seorang guru wajib menerapkan kepemimpinan dalam mengelola kelasnya. Menurut Slavin dalam (Saman, 2010) menegaskan bahwa selain guru harus menguasai materi yang akan diajarkannya, juga dituntut untuk dapat menjadi manajer kelas yang baik agar siswa tetap berada dalam momentum (gairah belajar) yang baik. Dengan menguasai materi yang diajarkan dan menerapkan kepemimpinan yang baik maka pembelajaran dikelas akan kondusif dan siswa dapat belajar dengan semangat. Menurut Larrivee (2002) Guru mendorong terciptanya komunitas belajar yang demokratis dengan cara memberikan motivasi (bukan sekadar pujian), menanggapi siswa melalui penerimaan (bukan penilaian), dan menyampaikan interpretasi yang membangun (bukan umpan balik evaluatif atau kritik yang merusak).
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai sudut pandang terhadap suatu proses pembelajaran, yang merajuk pada pandangan tentang terjadinya proses yang sifatnya masih umum untuk menginspirasi dan menguatkan pemilihan strategi dan metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu (Ramdani et al, 2023). paradigma yang memandu pemahaman tentang pembelajaran secara keseluruhan, seperti bagaimana siswa belajar, peran guru, dan interaksi dalam proses tersebut.
Dalam implementasinya pendekatan pembelajaran tersebut menurut dikelompokkan pertama, berdasarkan pengorganisasian siswa yang meliputi: (a) pendekatan pembelajaran secara individual., (b) pembelajaran secara kelompok; dan (c) pembelajaran secara klasikal; kedua, pendekatan berdasarkan posisi guru dalam pengolahan pesan pembelajaran yang meliputi: (a) ekspositori; dan (b) pembelajaran inkuiri (Turdjai, 2016).
Variabel utama dalam kegiatan pembelajaran adalah guru dan siswa. Tidak akan terjadi proses pembelajaran apabila kedua varibel ini tidak ada berdasarkan hal tersebut. Maka pendekatan dalam pembelajaran secara umum dibagi dua, yaitu yang berorientasi pada guru (teacher centered approaches) dan yang berorientasi pada siswa (student centered approaches) (Adolf Bastian, dan Reswita, 2022). Pada pendekatan yang berorientasi pada guru, manajemen dan pengelolaan pembelajaran sepenuhnya ditentukan oleh guru, sehingga siswa hanya menjalankan aktivitas sesuai petunjuk guru. Sebaliknya, pada pendekatan yang berorientasi pada siswa, manajemen dan pengelolaan pembelajaran ditentukan oleh siswa sendiri, yang memiliki kesempatan luas untuk berkreasi dan mengembangkan potensi melalui aktivitas langsung berdasarkan minat dan keinginan mereka. Dalam strategi ini, guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing agar kegiatan belajar siswa lebih terarah.
Motivasi belajar siswa ialah dorongan atau semangat dari dalam diri siswa yang membuat mereka mau belajar, bertahan meski susah, dan mengejar tujuan akademik. Menurut Iyai et al., (2025) Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberi arah pada kegiatan belajar tersebut. Motivasi terdiri atas dua bentuk utama, yaitu motivasi intrinsik (dorongan dari dalam diri siswa, seperti rasa ingin tahu atau kepuasan pribadi) dan motivasi ekstrinsik (dorongan dari luar, seperti hadiah, pujian, atau nilai). De Decce & Grawford (dalam Arief & Sudin, 2016) mengatakan bahwa motivasi belajar siswa harus senantiasa ditumbuhkan dan dipelihara pada diri siswa sebagaimana fungsi dari motivasi belajar yaitu guru harus dapat membangkitkan semangat siswa dalam belajar, memberikan harapan yang nyata, memberi insentif, dan mengarahkan siswa pada perilaku yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Motivasi memainkan peran penting dalam proses belajar, karena dapat memengaruhi perilaku, kinerja, dan hasil belajar siswa. Siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi cenderung lebih terlibat dalam proses belajar. Mereka lebih aktif dalam mencari informasi, bertanya pertanyaan, dan berpartisipasi dalam diskusi kelas, yang dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang subjek yang dipelajari. Terlebih mereka akan lebih fokus dan tekun dalam mengerjakan tugas-tugas dan ujian, serta cenderung memiliki tingkat kepuasan yang lebih tinggi terhadap hasil belajar (Herwati, 2023).
Menurut Sardiman dalam (Novi Mayasari & Johar Alimuddin, 2023) berdasarkan sifatnya, motivasi dibedakan menjadi dua macam yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Menurut Ryan & Deci dalam (Fitriya et al, 2025) motivasi intrinsik adalah dorongan untuk belajar yang berasal dari dalam diri siswa, seperti rasa ingin tahu, minat terhadap materi pelajaran, dan kepuasan pribadi ketika berhasil memahami suatu konsep. Sebaliknya, menurut Schunk, Pintrich, dan Meece dalam (Fitriya et al, 2025) motivasi ekstrinsik adalah dorongan yang bersumber dari luar diri siswa, seperti keinginan untuk memperoleh penghargaan, nilai tinggi, atau pujian dari guru dan orang tua. Motivasi intrinsik adalah dorongan yang berasal dari dalam diri individu tanpa perlu dirangsang dari luar, di mana seseorang melakukan sesuatu karena kesadaran dan tujuan esensial yang melekat pada tindakan itu sendiri, seperti belajar untuk mencapai tujuan belajar secara nyata. Sebaliknya, motivasi ekstrinsik muncul karena adanya rangsangan dari luar, misalnya belajar untuk menghadapi ujian agar mendapat nilai bagus atau pujian, bukan semata-mata untuk mengetahui sesuatu. Dengan kata lain, motivasi ekstrinsik merupakan dorongan yang berasal dari faktor eksternal dan tidak selalu berkaitan langsung dengan aktivitas belajar itu sendiri.
Ketika guru memberikan umpan balik informatif tentang seberapa baik siswa telah menyelesaikan tugas, atau dorongan yang membuat siswa merasa memiliki rasa otonomi diri, hal ini memungkinkan siswa untuk memahami kualitas apa yang membuat pencapaian tersebut mungkin dan bernilai. Dampak penting bagi siswa adalah pesan yang mereka berikan pada diri sendiri setelah mengevaluasi komentar guru Penilaian diri yang positif ini membantu siswa merasa kompeten. Guru yang mendorong siswa untuk menetapkan standar diri sendiri dan mengekspresikan potensi mereka membantu mengembangkan pembelajar yang mandiri. Salah satu cara menumbuhkan motivasi adalah dengan memberi angka sebagai simbol nilai kegiatan belajar. Banyak siswa yang belajar terutama untuk mendapatkan nilai bagus atau naik kelas. Angka yang baik menjadi motivasi kuat, namun ada juga siswa yang hanya berusaha cukup untuk lulus. Selain itu, hadiah juga dapat memotivasi, tetapi hanya efektif jika sesuai dengan minat dan bakat siswa, karena hadiah yang tidak relevan mungkin tidak menarik bagi beberapa siswa.
Selanjutnya, saingan atau kompetisi bisa menjadi alat motivasi yang efektif, baik dalam bentuk persaingan individu maupun kelompok, yang dapat meningkatkan prestasi belajar. Perasaan ego-involvement juga penting, di mana siswa menyadari pentingnya tugas, menerima tantangan, dan bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri agar mencapai prestasi baik. Memberi ulangan sebagai sarana motivasi juga efektif, asalkan tidak terlalu sering dan diinformasikan terlebih dahulu kepada siswa agar mereka bisa mempersiapkan diri.
Selain itu, mengetahui hasil belajar yang menunjukkan kemajuan dapat menambah semangat siswa untuk terus belajar. Pujian atas keberhasilan dalam ujian juga merupakan reinforcement positif yang memotivasi. Sebaliknya, hukuman sebagai reinforcement negatif bisa menjadi motivasi jika diberikan dengan tepat dan bijak. Motivasi belajar juga sangat dipengaruhi oleh hasrat belajar yang mencerminkan kesengajaan dan tujuan belajar, serta minat yang menjadi alat motivasi utama, sehingga proses belajar dapat berjalan lebih lancar dan menyenangkan (Sunarti Rahman, 2021).
Ketika guru memberikan umpan balik informatif tentang seberapa baik siswa telah menyelesaikan tugas, atau dorongan yang membuat siswa merasa memiliki rasa otonomi diri, hal ini memungkinkan siswa untuk memahami kualitas apa yang membuat pencapaian tersebut mungkin dan bernilai. Dampak penting bagi siswa adalah pesan yang mereka berikan pada diri sendiri setelah mengevaluasi komentar guru Penilaian diri yang positif ini membantu siswa merasa kompeten. Dengan mendorong siswa untuk menetapkan standar mereka sendiri dan mengekspresikan diri, guru membantu siswa berkembang menjadi pembelajar yang mandiri (Larrivee, 2002).
Partisipasi adalah penyertaan mental dan emosi seseorang dalam situasi kelompok yang mendorong mereka untuk mengembangkan daya pikir dan perasaan mereka bagi tercapainya tujuan-tujuan bersama, bertanggung jawab terhadap tujuan. Seseorang yang berpatisipasi sebenarnya mengalami keter libatan diri/ego yang sifatnya lebih daripada keterlibatan dalam pekerjaan atau tugas saja. Indikator dalam keterlibatan, mental dan emosional peserta didik dalam pembelajaran (Ginanjar et al., 2019). Partisipasi belajar adalah suatu proses keterlibatan yang dilakukan anak, mencakup fisik maupun mental melalui pengaktifan panca indera pada serangkaian kegiatan belajar yang meliputi aktivitas visual, aktivitas mendengar, aktivitas oral, aktivitas motorik, emosional dan bahasa tubuh serta berbuat sesuai ketentuan dalam struktur partisipasi belajarnya, sebagai upaya memenuhi rasa ingin tahu akan suatu keterampilan atau materi pelajaran, yang akan memberi pengaruh pada peningkatan kualitas diri anak. (Librianty & Sumantri, 2014).
Hadari Nawawi memberikan pengertian prestasi belajar ialah tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi di Sekolah, dengan bentuk skor yang diperoleh dari ujian terkait beberapa materi. Selanjutnya, Bloom juga memberikan pendapat bahwa prestasi belajar sebagai hasil dari perubahan aspek kognitif, afektif, serta psikomotorik (Mario, 2023). Aspek kognitif berupa sesuatu yang menyangkut pengetahuan, aspek afektif meliputi nilai dan sikap, dan aspek psikomotorik berupa keterampilan.
Berdasarkan pengertian prestasi belajar diatas dapat disimpulkan bahwasannya prestasi belajar ialah keterlibatan aktif peserta didik dalam proses pembelajaran yang mencakup aspek mental, emosional, dan fisik. Partisipasi tidak hanya sebatas menjalankan tugas, tetapi merupakan bentuk penyertaan diri secara utuh melalui aktivitas berpikir, merasakan, melihat, mendengar, berbicara, bergerak, serta mengekspresikan bahasa tubuh sesuai dengan tuntutan pembelajaran. Keterlibatan ini menunjukkan adanya dorongan internal siswa untuk memenuhi rasa ingin tahu dan mengembangkan kemampuan diri, sehingga menjadi faktor penting dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dengan demikian, partisipasi belajar dapat dipahami sebagai proses keikutsertaan siswa secara menyeluruh dalam aktivitas belajar yang pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan kualitas diri dan hasil belajar mereka.
Prestasi belajar mencakup beberapa aspek yang berfungsi sebagai indikator pencapaian, dengan setidaknya tiga aspek utama yang dapat dievaluasi melalui berbagai literasi. Aspek pertama adalah kognitif, yang menjadi tolok ukur pencapaian siswa dalam bidang ini dan dapat diukur melalui tes tulis atau lisan. Aspek kedua adalah afektif, yang mencakup dimensi berpikir meliputi watak dan perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, serta nilai-nilai. Aspek ketiga adalah psikomotorik, yang berkaitan dengan kemampuan gerak fisik, seperti aktivitas yang melibatkan otot dan saraf, misalnya berlari, berjalan, menggambar, berbicara, membongkar atau memasang peralatan, dan sebagainya. Dengan demikian, ketiga aspek prestasi belajar ini akan lebih lengkap jika dimiliki oleh setiap siswa, sehingga mereka tidak hanya unggul dalam mata pelajaran tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pencapaian prestasi belajar tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait satu sama lain (Syafi’i et al, 2018).
Partisipasi siswa juga penting untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan serta membantu siswa dalam memahami teori ataupun menjelaskan mengenai hal-hal yang telah dipahami ataupun belum. Dalam kelas Bahasa, misalnya, salah satu manfaat partisipasi dikelas adalah siswa dapat berlatih kemampuan berbahasa dan guru dapat mendengarkan dan melakukan koreksi pada kesalahan yang dilakukan oleh peserta didik. Namun, dalam proses ini tentu terdapat ketakutan dan ketidaknyamanan pada siswa sehingga berpotensi menurunkan motivasi untuk berlatih sehingga banyak siswa memilih untuk menjadi pasif di kelas. Dalam kasus ini, siswa kehilangan kesempatan untuk berlatih dan meningkatkan kemampuan bahasa asingnya. Selain itu, dengan adanya perubahan metode belajar, yaitu dari pembelajaran berbasis guru (teacher centered approach) menjadi pembelajaran berbasis siswa (student centered approach), para pendidik dituntut untuk mampu merancang pembelajaran yang memberikan siswa untuk terlibat aktif dikelas, tidak hanya alam diskusi kelas namun juga diskusi grup kecil agar mereka bisa mengembangkan kemampuan untuk berfikir kritis dan juga terlibat aktif dalam proses pembelajaran di kelas (Nissa et al., 2021).
Konteks Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung yang beralamat di Jln.Platina Raya no 7 A Titi Papan Desa Renggas Pulau Kecamatan Medan Marelan Kota Medan Provinsi Sumatera Utara. Tujuan utama diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gaya kepemimpinan demokratis guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa.
Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk mengeksplorasi bagaimana gaya kepemmpinan demokratis guru dalam meningktakan motivasi belajar siswa. Penelitian fenomenologi adalah suatu penelitian ilmiah yang mengkaji dan menyelidiki suatu peristiwa yang dialami oleh seorang individu, sekelompok individu, atau sekelompok makhluk yang hidup. Suatu kejadian menarik terjadi dan menjadi bagian dari pengalaman hidup subjek penelitian (Nasir et al, 2023). Menurut Creswell study dengan pendekatan fenomenologis berupaya untuk menjelaskan makna pengalaman hidup sejumlah orang tentang suatu konsep (Kuswarno, 2007).
Partisipan Penelitian
Pada penelitian ini melibatkan guru dan siswa sebagai partisipan yang ingin diwawancarai. Sebelum melakukan wawancara, peneliti menanyakan kepada partisipan atas ketersediaannya untuk diwawancarai. Partisipan terdiri dari 4 guru dan 3 siswa. Wawancara ini dilakukan disekolah selama 15 menit untuk setiap partisipan. Sebelum itu, peneliti meminta izin kepada partisipan untuk merekam seluruh pembicaraan partisipan dan peneliti, kemudian peneliti menanyakan beberapa pertanyaan-pertanyaan kepada partisipan mengenai wawasan mereka tentang kurikulum merdeka.
Adapun biografi partisipan adalah sebagai berikut:
Teknik Pengumpulan Data
Proses pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan Teknik observasi, wawancara semi terstruktur dan dokumentasi. Teknik observasi digunakan untuk mengamati bagaimana geya kepemimpinana demokratis guru dalam mengajar dikelas dan mengamati bagaimana siswa termotivasi dalam belajar dikelas. Selanjutnya Teknik Wawancara semi terstruktur wawancara semi terstruktur yang disertakan dengan rekaman suara dengan bantuan aplikasi Tap Recorder dari informasi yang disampaikan partisipan. Wawancara ini dilakukan secara lisan dan tatap muka oleh peneliti dan partisipan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang bagaimana Gaya kepemimpinan demokratis guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Sebelum wawancara, peneliti sudah membangun kedekatan dengan partisipan dan menanyakan apakah partisipan bersedia untuk diwawancarai, sehingga wawancara dapat berjalan dengan nyaman serta partisipan dapat lebih terbuka dan peneliti dapat lebih mudah menggali informasi yang peneliti butuhkan. Selanjutnya peneliti mentranskipkan hasil wawancara yang dilakukan dengan partisipan, setelah itu peneliti memilih data mana yang akan diambil pada hasil wawancara tersebut untuk diambil kesimpulan yang penting yang di butuhkan oleh peneliti. Dan yang terakhir Teknik dokumentasi, untuk mengumpulkan dokumen dan data-data yang diperlukan dalam penelitian. Hasil observasi atau wawancara akan lebih kredibel atau dapat dipercaya jika didukung oleh dokumen yang terkait dengan fokus penelitian.
Analisis Data
Setelah data yang diperlukan terkumpul dengan menggunakan teknik pengumpulan data atau instrumen yang ditetapkan, maka kegiatan selanjutnya adalah melakukan analisis data. Analisis data dalam peneitian kualitatif bergerak secara induktif yaitu data atau fakta yang dikategorikan menuju ketingkat abstraksi yang lebih tinggi, melakukan sintesis dan mengembangkan teori bila diperlukan. Setelah data dikumpulkan dari lokasi penelitian, melalui wawancara, observasi dan dokumen, maka dilakukan pengelompokan dan penguranagan yang tidak penting. Setelah dilakukan analisis penguraian dan penarikan kesimpulan tentang makna perilaku subjek penelitian dalam latar serta fokus penelitian (Suharsimi dan Arikunto, 2006).
Pendekatan analisis data diklasifikasikan ke dalam tiga kategori yang berbeda, menurut Miles dan Huberman dalam (Nasution, 2023), mengemukakan bahwa metode atau teknik pengolahan data kualitatif dapat dilakukan melalui tiga tahap, yakni data reduction, data display, dan conclusion drawing/Verification. Pertama, reduksi data (data reduction) merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya serta membuang yang tidak diperlukan. Kedua, penyajian data (data display) mengikuti reduksi, di mana data ditampilkan secara visual untuk meningkatkan kejelasan dan visibilitas. Ketiga, penarikan kesimpulan dan verifikasi (conclusion drawing/verification) melibatkan pembentukan kesimpulan awal yang bersifat sementara, yang dapat berubah jika ditemukan bukti kuat dari tahap pengumpulan data berikutnya, atau dipertahankan jika bukti mendukungnya.
Untuk memperkuat keabsahan data hasil temuan dan untuk menjaga validitas penelitian, maka peneliti mengacu pada empat standard validasi yang disarankan oleh Lincoln dan Gulba, yang terdiri dari: 1) Keterpercayaan (credibility), 2) Keteralihan (transferability), 3) Ketergantungan (dependability), 4) Ketegasan (confirmbility) (Salim dan Syahrum, 2015). Credibility diperoleh melalui pengamatan mendalam terhadap gaya kepemimpinan demokratis guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa agar temuan benar-benar mencerminkan kondisi lapangan. Transferability dicapai dengan memberikan uraian rinci sehingga hasil penelitian dapat diterapkan pada konteks serupa. Dependability menekankan konsistensi proses penelitian mulai dari pemilihan kasus, pengumpulan data, analisis, hingga pelaporan, sehingga proses dapat ditelusuri dan diuji oleh pihak lain. Sementara itu, confirmability berkaitan dengan objektivitas penelitian melalui pemeriksaan kesesuaian data, logika kesimpulan, pengendalian bias peneliti, serta konfirmasi ulang hasil wawancara dan observasi kepada informan kunci untuk memastikan kebenaran fakta.
Kepemimpinan Demokratis Guru Dalam Pendekatan Pembelajaran
Kemimpinan demokratis dalam pembelajaran terbukti diterapkan secara konsisten oleh Guru MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung melalui beberapa praktik utama seperti perlibatan siswa dalam pengambilan keputusan pembelajaran, pemberian kesempatan menyampaikan pendapat, dan penggunaan musyawarah dalam menentukan metode pembelajaran. hal ini penulis dapatkan dari hasil wawancara dengan salah satu guru MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung yang mana guru tersebut mengatakan:
“Saya menerapkan kepemimpinan demokratis dengan memberi kesempatan siswa menyampaikan pendapat, bertanya, dan berdiskusi. Saya menjelaskan materi terlebih dahulu kemudian latihan atau praktek. Saya tidak memaksakan kehendak dan lebih memilih musyawarah agar pembelajaran berjalan lancar, siswa merasa nyaman, aktif, dan berani berbicara selama proses pembelajaran di kelas.” (LY, Wawancara 12 Januari 2026)
Guru-guru juga menerapkan pola pembelajaran yang terstruktur, dimulai dengan penjelasan materi, dilanjutkan dengan praktik atau latihan. Metode yang digunakan bervariasi sesuai kebutuhan siswa, termasuk diskusi, demonstrasi, drama, dan pembelajaran di luar kelas. Para guru juga memberikan motivasi dan mengaitkannya dengan materi pembelajaran untuk meningkatkan minat siswa. Hal ini juga diungkapkan oleh salah satu Guru MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung sebagai berikut:
“Dalam pembelajaran sehari Saya mempersiapkan anak-anak untuk menyampaikan pendapat, memahami materi, dan menanggapi pendapat kawannya benar atau salah. Saya menanyakan metode pembelajaran seperti diskusi, drama, atau penugasan sesuai kondisi kelas. Keputusan pembelajaran ditentukan bersama agar siswa berani, percaya diri, dan aktif.” (SL, Wawancara 19 Januari 2026)
Berdasarkan dari wawancara diatas menunjukkan bahwa guru-guru di MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung secara konsisten menerapkan kepemimpinan demokratis dengan melibatkan siswa aktif dalam pengambilan keputusan pembelajaran, mendorong penyampaian pendapat, diskusi, dan musyawarah untuk menentukan metode yang sesuai, sehingga siswa merasa nyaman, berani, percaya diri, dan lebih termotivasi dalam proses belajar.
Penerapan kepemimpinan demokratis memberikan dampak positif yang signifikan terhadap siswa. Siswa menunjukkan peningkatan dalam beberapa aspek semangat dan motivasi belajar meningkat, keberanian dalam menyampaikan pendapat kepercayaan diri bertambah, serta partisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Siswa merasa pendapat mereka dihargai dan pembelajaran menjadi lebih menyenangkan serta mudah dipahami. hal ini diungkapkan oleh salah satu siswa MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung sebagai berikut:
“Guru sering meminta pendapat siswa. Saya merasa semangat belajar, lebih suka mengikuti kegiatan kelas, terutama pembelajaran di luar kelas dengan materi yang jelas, karena merasa pendapat dihargai dan pembelajaran sesuai dengan keinginan siswa.” (NM, Wawancara 09 Januari 2026)
Berdasarkan wawancara dengan siswa di atas dapat dikatakan bahwa siswa merasa lebih termotivasi, semangat, dan terlibat aktif dalam pembelajaran karena pendapat mereka dihargai oleh guru, sehingga kegiatan kelas dan luar kelas menjadi lebih menyenangkan, sesuai keinginan, dan mudah dipahami. dengan penerapan kepemimpinan demokratis dalam pembelaran dikelas menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif dimana siswa merasa nyaman, dihargai, dan terlibat secara aktif. Kesesuaian antara perspektif guru dan pengalaman siswa menunjukkan bahwa pendekatan demokratis efektif dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran di kelas
Motivasi Belajar Siswa Baik Yang Bersumber Dari Dalam Diri (Intrinsik) Dan Dari Luar Diri (Ekstrinsik)
Motivasi belajar diberikan dengan cara yang sederhana dan penuh perhatian di MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung. Dimulai dengan pengamatan kondisi siswa di kelas, diikuti oleh pemberian dorongan, nasihat, dan perhatian agar siswa merasa semangat belajar. Pujian sering diberikan sebagai bentuk penghargaan, yang membuat siswa lebih termotivasi. Selain itu, pembimbingan, pengingatan, dan pendekatan yang baik dilakukan sehingga siswa merasa diperhatikan dan ingin mengikuti pembelajaran dengan serius setiap hari. Dalam gaya kepemimpinan demokratis, pendekatan ini membantu siswa menjadi lebih aktif, percaya diri, serta menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan efektif di sekolah. hal ini diungkapkan oleh salah satu Guru MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung yang mana guru tersebut mengatakan:
“Saya memberikan motivasi belajar dengan melihat kondisi siswa di kelas. Saya memberi dorongan, nasihat, dan perhatian agar siswa semangat belajar. saya juga memberikan pujian sebagai penghargaan. Motivasi belajar siswa meningkat karena guru membimbing, mengingatkan, dan mendekati siswa secara baik sehingga siswa merasa diperhatikan dan terdorong mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh setiap hari.” (LY, Wawancara 12 Januari 2026)
Penerapan motivasi ekstrinsik oleh guru di MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung melibatkan berbagai strategi untuk meningkatkan semangat belajar siswa, seperti pemberian reward berupa pujian, hadiah, uang jajan, atau makanan yang berfungsi sebagai insentif langsung untuk mendorong partisipasi aktif. Apresiasi verbal, perhatian individual, dan penguatan positif digunakan untuk membangun rasa dihargai dan percaya diri. hal ini diungkapkan oleh salah satu Guru MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung yang mana guru tersebut mengatakan:
“Saya terus memotivasi agar minat belajar tumbuh. Saya mengapresiasi dengan pujian dan hadiah supaya siswa merasa dihargai. Saya merangkul siswa yang kurang berminat dan memberi pandangan agar motivasi belajar kembali tumbuh” (NV, Wawancara 12 Januari 2026)
Sementara teknik tanya jawab, pre-test, dan pendekatan personal diterapkan untuk membangkitkan minat siswa yang kurang termotivasi dengan cara yang interaktif dan disesuaikan dengan kebutuhan individu. Dalam konteks kepemimpinan demokratis, pendekatan ini tidak hanya merangsang motivasi eksternal tetapi juga mendorong siswa untuk lebih terlibat dalam proses pembelajaran, menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan keterampilan sosial dan akademik, serta berkontribusi pada peningkatan efektivitas pembelajaran secara keseluruhan.
Motivasi intrinsik siswa ditumbuhkan melalui pelibatan aktif dalam diskusi dan pengambilan keputusan kelas, serta penciptaan lingkungan belajar yang demokratis dan suportif. Guru menggunakan strategi seperti mencampurkan siswa dengan tingkat kepercayaan diri berbeda, memberikan kebebasan berpendapat, dan membimbing siswa agar tumbuh keinginan belajar dari dalam diri sendiri. hal ini diungkapkan oleh salah satu Guru MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung yang mana guru tersebut mengatakan:
“Saya mengidentifikasi motivasi intrinsik melalui karakter siswa dan keaktifan belajar. dan saya juga menyesuaikan materi dan metode pembelajaran.” (IS, Wawncara 19 Januari 2026)
Berdasarkan wawancara di atas dapat dikatakan bahwa guru di MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung berhasil mengidentifikasi motivasi intrinsik siswa melalui pengamatan karakter individu dan tingkat keaktifan belajar mereka, yang kemudian digunakan untuk menyesuaikan materi dan metode pembelajaran agar lebih sesuai dengan kebutuhan siswa, sehingga mendorong partisipasi aktif dan pengembangan minat belajar yang lebih mendalam dalam konteks kepemimpinan demokratis.
Penerapan kepemimpinan demokratis dan pemberian motivasi yang tepat menghasilkan dampak positif yang konsisten. Siswa menunjukkan peningkatan motivasi intrinsik yang ditandai dengan keinginan belajar mandiri, keberanian menyampaikan pendapat, dan rasa percaya diri yang meningkat. Siswa merasa dihargai, didengar, dan bebas dalam proses pembelajaran, sehingga semangat belajar tumbuh secara alami tanpa paksaan. hal ini diungkapkan oleh salah satu siswa MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung sebagai berikut:
“Saya merasa senang karena guru melibatkan siswa dalam diskusi dan keputusan kelas. Guru membuat belajar lebih bebas, mudah berbicara, dan lebih percaya diri. Saya juga merasa tidak harus disuruh, lebih ingin belajar sendiri, dan suka guru yang melibatkan siswa karena suara siswa didengar serta dihargai dalam pembelajaran” (NA, Wawancara 12 Januari 2026)
Penelitian ini menemukan bahwa kombinasi motivasi intrinsik dan ekstrinsik yang diberikan guru dalam konteks kepemimpinan demokratis menciptakan ekosistem pembelajaran yang optimal. Hubungan baik antara guru dan siswa, kerja kelompok, serta keterlibatan aktif siswa dalam kelas memperkuat motivasi belajar secara berkelanjutan, membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna dan efektif bagi siswa setiap hari.
Partisipasi Siswa Dalam Proses Pembelajaran
Guru menerapkan pendekatan pembelajaran yang sangat efektif dengan menggunakan berbagai metode partisipatif seperti tanya jawab, diskusi kelompok, penugasan, demonstrasi, dan praktik langsung, yang membuat siswa tidak hanya pasif mendengarkan tetapi aktif terlibat dalam proses belajar. Variasi metode ini penting karena setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, sehingga dengan pendekatan yang beragam, peluang semua siswa memahami materi menjadi lebih besar. Yang lebih istimewa, guru juga memberikan perhatian khusus pada siswa yang kurang aktif melalui bimbingan individual secara perlahan, menunjukkan kepedulian agar tidak ada siswa yang tertinggal. berdasara hasil wawancara yang penlis lakukan dengan salah satu guru MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung, Guru mengatakan bahwa:
“Meningkatkan partisipasi siswa melalui tanya jawab, diskusi, dan pemberian tugas. Saya mengajak siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Jika ada siswa kurang aktif, saya membimbing secara perlahan. Pendekatan ini membuat siswa lebih berani bertanya, aktif menjawab, memahami materi, dan menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik selama proses belajar di kelas” (LY, Wawancara 12 Januari 2026)
Wawancara diatas menunjukkan bahawa pendekatan ini memiliki banyak manfaat, seperti meningkatkan pemahaman siswa melalui praktik langsung, membangun kepercayaan diri siswa yang pemalu, mengembangkan keterampilan sosial lewat diskusi kelompok, dan memastikan pembelajaran yang merata untuk semua. Meski demikian, guru tetap perlu memperhatikan manajemen waktu agar semua metode dapat terlaksana dengan baik, menjaga keseimbangan antara bimbingan individual dan pembelajaran kelompok, serta melakukan evaluasi berkala untuk memastikan semua siswa benar-benar mengalami kemajuan dalam pembelajaran.
Kepemimpinan demokratis mendorong pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan logis melalui pertanyaan-pertanyaan khusus, analisis materi, dan diskusi terbuka. Guru tidak cepat menyalahkan kesalahan siswa, melainkan memberikan penjelasan konstruktif dan motivasi, sehingga siswa berani mengeksplorasi ide dan pendapat mereka dalam suasana pembelajaran yang aman dan suportif. hal ini diungkapkan oleh salah satu guru MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung, Guru mengatakan bahwa
“Saya membangun kerjasama antara guru dan murid melalui tanya jawab, diskusi, analisis, dan pengecekan ulang tugas. Guru tidak cepat menyalahkan siswa, tetapi memberikan penjelasan dan motivasi.” (NV, Wawancara 12 Januari 2026)
Penerapan kepemimpinan demokratis terbukti meningkatkan partisipasi aktif siswa secara signifikan. Siswa menunjukkan perubahan positif berupa keberanian bertanya, keaktifan menjawab, antusiasme dalam praktik, dan kepercayaan diri yang meningkat. Siswa merasa suara mereka didengar dan dihargai, sehingga lebih termotivasi untuk terlibat aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran di kelas. hal ini diungkapkan oleh salah satu siswa MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung, yang mana siswa mengatakan bahwa:
“Saya pernah mengalami prestasi belajar rendah karena kurang memahami materi. Dengan bantuan guru, siswa dapat mengatasi masalah tersebut. Pendekatan demokratis, diskusi, dan penjelasan materi membantu siswa lebih memahami pelajaran. Saya menjadi lebih semangat belajar, aktif, percaya diri, dan prestasi belajar kembali meningkat secara bertahap.” (JP, Wawancara 09 Januari 2026)
Berdasarkan wawancara diatas menunjukkan bahwa hubungan positif antara kepemimpinan demokratis dengan peningkatan prestasi belajar siswa. Siswa yang sebelumnya mengalami prestasi rendah, kesulitan memahami materi, atau motivasi naik-turun menunjukkan perbaikan signifikan setelah mendapat pendekatan demokratis. Melalui diskusi, penjelasan yang jelas, praktik langsung, dan bimbingan individual, siswa mampu mengatasi kesulitan belajar dan prestasi akademik mereka meningkat secara bertahap.
Kepemimpinan demokratis menciptakan kerjasama efektif antara guru dan siswa serta antar siswa dalam kerja kelompok. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan, memotivasi, dan membantu siswa mengatasi hambatan belajar. Pendekatan ini memudahkan guru mengetahui tingkat pemahaman siswa, menarik siswa berprestasi rendah untuk lebih aktif, serta meningkatkan hasil belajar terutama dalam aspek kognitif dan motorik. kepemimpinan demokratis berperan krusial dalam meningkatkan partisipasi siswa dan prestasi belajar. Partisipasi aktif yang terbangun melalui pendekatan demokratis tidak hanya meningkatkan pemahaman materi, tetapi juga mengembangkan karakter siswa menjadi lebih percaya diri, mandiri, dan bertanggung jawab dalam proses pembelajaran mereka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan demokratis diterapkan secara konsisten oleh guru-guru di MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung melalui berbagai praktik yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Temuan ini sejalan dengan konsep kepemimpinan demokratis yang dikemukakan oleh Ariyani et.al. (2025) yang menyatakan bahwa kepemimpinan demokratis dalam konteks pendidikan menekankan menekankan partisipasi aktif anggota dalam proses pengambilan keputusan. Pemimpin tidak bersifat dominan, tetapi berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan diskusi, mendengarkan pendapat, dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang sebelum menetapkan keputusan akhir. Praktik kepemimpinan demokratis yang diterapkan mencakup pemberian kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat, penggunaan musyawarah dalam menentukan metode pembelajaran, dan penerapan pola pembelajaran terstruktur yang dimulai dengan penjelasan materi dilanjutkan dengan praktik atau latihan.
Guru-guru menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan siswa, termasuk diskusi, demonstrasi, drama, dan pembelajaran di luar kelas. Variasi metode ini sesuai dengan prinsip pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning) yang dikemukakan oleh Oemar Hamalik dalam (Fitriyah, 2020) yang menjelaskan bahwa Student Centered Learning adalah proses belajar mengajar berdasarkan kebutuhan dan minat peserta didik yaitu dengan menyediakan sistem belajar sesuai dengan gaya belajar dan kehidupan peserta didik, pendidik dan lembaga pendidikan tidak berperan sebagai sentral akan tetapi berperan sebagai fasilitator. Setiap peserta didik mempunyai gaya belajar dan latar belakang kehidupan yang berbeda, hal ini berdampak pada minat, bakat dan kemampuan peserta didik juga tidak sama, maka dari itu untuk menerapkan sistem student centered learning seorang pendidik harus mengetahui karakteristik setiap peserta didik.
Dampak penerapan kepemimpinan demokratis terhadap siswa menunjukkan hasil yang sangat positif. Siswa mengalami peningkatan dalam berbagai aspek, termasuk semangat dan motivasi belajar, keberanian menyampaikan pendapat, kepercayaan diri, dan partisipasi aktif dalam pembelajaran. Kesesuaian antara perspektif guru dan pengalaman siswa menunjukkan konsistensi dalam implementasi kepemimpinan demokratis. Siswa merasakan bahwa pendapat mereka dihargai dan pembelajaran menjadi lebih menyenangkan serta mudah dipahami. Hal ini sejalan dengan teori motivasi Ryan & Deci dalam (Fitriya et al, 2025) motivasi intrinsik adalah dorongan untuk belajar yang berasal dari dalam diri siswa, seperti rasa ingin tahu, minat terhadap materi pelajaran, dan kepuasan pribadi ketika berhasil memahami suatu konsep.
Penelitian ini menemukan bahwa guru di MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung menerapkan strategi pemberian motivasi yang komprehensif, meliputi motivasi intrinsik dan ekstrinsik, dalam konteks kepemimpinan demokratis. Pendekatan ini sejalan dengan teori motivasi belajar yang dikemukakan oleh Sardiman dalam (Novi Mayasari & Johar Alimuddin, 2023) berdasarkan sifatnya, motivasi dibedakan menjadi dua macam yaitu motivasi intrinsic dan motivasi ekstrinsik.
Guru menerapkan berbagai strategi motivasi ekstrinsik untuk meningkatkan semangat belajar siswa. Strategi yang digunakan meliputi pemberian reward berupa pujian, hadiah, uang jajan, atau makanan sebagai insentif langsung, apresiasi verbal, perhatian individual, dan penguatan positif. Usman (2024) menyatakan Reward, baik dalam bentuk verbal seperti pujian maupun non-verbal seperti penghargaan dan hadiah, dapat memberikan dorongan positif kepada siswa untuk terus berusaha mencapai hasil yang lebih baik. Ketika siswa merasa diapresiasi atas usaha dan pencapaiannya, mereka cenderung lebih termotivasi untuk belajar dengan lebih giat. Selain itu, pemberian reward juga menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan mendorong siswa untuk lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan belajar. Hal ini sejalan dengan teori penguatan positif, di mana penghargaan dapat memperkuat perilaku yang diharapkan, seperti ketekunan, disiplin, dan prestasi akademik. Dengan pendekatan yang tepat, pemberian reward tidak hanya meningkatkan motivasi ekstrinsik, tetapi juga memupuk motivasi intrinsik siswa untuk terus berkembang. Reward, baik dalam bentuk verbal seperti pujian maupun non-verbal seperti penghargaan dan hadiah, dapat memberikan dorongan positif kepada siswa untuk terus berusaha mencapai hasil yang lebih baik. Ketika siswa merasa diapresiasi atas usaha dan pencapaiannya, mereka cenderung lebih termotivasi untuk belajar dengan lebih giat. Selain itu, pemberian reward juga menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan mendorong siswa untuk lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan belajar.
Guru mengidentifikasi motivasi intrinsik siswa melalui pengamatan karakter individu dan tingkat keaktifan belajar, yang kemudian digunakan untuk menyesuaikan materi dan metode pembelajaran. Pendekatan diagnostik ini mencerminkan prinsip pembelajaran yang diferensiasi (differentiated instruction) sebagaimana dikemukakan oleh Tomlinson dalam (Novianti, 2025), diferensiasi pembelajaran merupakan respons guru terhadap keragaman siswa dalam kelas yang didasarkan pada prinsip bahwa semua siswa dapat belajar dengan pendekatan yang sesuai dengan profil unik mereka. Strategi ini mencakup diferensiasi konten, proses, produk, dan lingkungan belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami peningkatan motivasi intrinsik yang ditandai dengan keinginan belajar mandiri, keberanian menyampaikan pendapat, dan rasa percaya diri yang meningkat. Siswa merasa dihargai, didengar, dan bebas dalam proses pembelajaran, sehingga semangat belajar tumbuh secara alami tanpa paksaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menerapkan pendekatan pembelajaran partisipatif dengan menggunakan berbagai metode seperti tanya jawab, diskusi kelompok, penugasan, demonstrasi, dan praktik langsung. Pendekatan ini membuat siswa tidak hanya pasif mendengarkan tetapi aktif terlibat dalam proses belajar. Temuan ini sejalan dengan konsep pembelajaran aktif (active learning) yang dikemukakan oleh Bonwell dan Eison onwell & Eison (dalam Niswi, 2025) pembelajaran aktif menekankan pada keterlibatan siswa secara penuh dalam proses belajar, baik fisik maupun mental, dengan cara membaca, menulis, berdiskusi, maupun melakukan aktivitas pemecahan masalah. Pembelajaran aktif memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuan melalui pengalaman, bukan sekadar menerima informasi dari guru.
Variasi metode pembelajaran yang diterapkan guru penting karena setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Bobby De Potter dalam (Azizah, 2024) Setiap orang mempunyai cara unik dalam mempelajari dan mengolah informasi, yang seringkali dikaitkan dengan gaya belajar yang berbeda-beda. Ada tiga jenis gaya belajar yang dapat dibedakan: gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik sering disingkat VAK.
Pendekatan guru yang memberikan perhatian khusus pada siswa kurang aktif melalui bimbingan individual secara perlahan mencerminkan strategi pedagogis yang efektif dalam pendidikan inklusif. Dengan menyesuaikan bimbingan secara bertahap, guru dapat membangun kepercayaan dan motivasi siswa, menghindari tekanan berlebih yang mungkin membuat mereka semakin tertutup. Hal ini menunjukkan kepedulian mendalam terhadap keberagaman kebutuhan siswa, memastikan bahwa setiap individu mendapat dukungan personal untuk mengatasi hambatan seperti kurangnya kepercayaan diri atau kesulitan belajar, sehingga mendorong partisipasi aktif dan mencegah ketertinggalan. Secara keseluruhan, metode ini tidak hanya meningkatkan hasil belajar individu tetapi juga menciptakan lingkungan kelas yang lebih harmonis dan mendukung, di mana empati guru berperan sebagai katalisator untuk pertumbuhan siswa secara holistik.
Kepemimpinan demokratis mendorong pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan logis melalui pertanyaan-pertanyaan khusus, analisis materi, dan diskusi terbuka. Guru tidak cepat menyalahkan kesalahan siswa, melainkan memberikan penjelasan konstruktif dan motivasi, sehingga siswa berani mengeksplorasi ide dan pendapat mereka. Pendekatan ini sejalan dengan taksonomi Bloom yang direvisi oleh Anderson dan Krathwohl dalam (Saleh, 2025) yang menempatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (analyzing, evaluating, creating) sebagai tujuan pembelajaran yang penting. Pemberian kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi ide dan pendapat dalam suasana yang aman
Penerapan kepemimpinan demokratis terbukti meningkatkan partisipasi aktif siswa secara signifikan. Siswa menunjukkan perubahan positif berupa keberanian bertanya, keaktifan menjawab, antusiasme dalam praktik, dan kepercayaan diri yang meningkat. Hasil penelitian juga menunjukkan hubungan positif antara kepemimpinan demokratis dengan peningkatan prestasi belajar siswa. Siswa yang sebelumnya mengalami prestasi rendah menunjukkan perbaikan signifikan setelah mendapat pendekatan demokratis. Melalui diskusi, penjelasan yang jelas, praktik langsung, dan bimbingan individual, siswa mampu mengatasi kesulitan belajar dan prestasi akademik mereka meningkat secara bertahap. Hal ini sejalan dengan penelitian Putri (2025) Umpan balik dalam Pembelajaran berfungsi sebagai media untuk berkomunikasi antara guru dan siswa dalam upaya meningkatkan pemahaman, memotivasi belajar, dan mengarahkan siswa untuk mencapai hasil akademik yang lebih baik.
Secara keseluruhan, kepemimpinan demokratis berperan krusial dalam meningkatkan partisipasi siswa dan prestasi belajar. Partisipasi aktif yang terbangun melalui pendekatan demokratis tidak hanya meningkatkan pemahaman materi, tetapi juga mengembangkan karakter siswa menjadi lebih percaya diri, mandiri, dan bertanggung jawab dalam proses pembelajaran mereka. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan yang holistik sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang menekankan pengembangan potensi peserta didik secara utuh.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan demokratis guru di MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung terbukti secara konsisten dan efektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Guru-guru menerapkan kepemimpinan demokratis melalui pelibatan aktif siswa dalam pengambilan keputusan pembelajaran, pemberian kesempatan menyampaikan pendapat, penggunaan musyawarah dalam menentukan metode pembelajaran, serta penerapan variasi metode yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa seperti diskusi, demonstrasi, drama, dan pembelajaran di luar kelas. Pendekatan ini berhasil meningkatkan motivasi belajar siswa baik secara intrinsik maupun ekstrinsik, yang ditandai dengan meningkatnya semangat belajar, keberanian menyampaikan pendapat, kepercayaan diri, keinginan belajar mandiri, serta partisipasi aktif siswa dalam setiap kegiatan pembelajaran di kelas.
Penerapan kepemimpinan demokratis juga memberikan dampak positif yang signifikan terhadap partisipasi dan prestasi belajar siswa. Melalui pendekatan pembelajaran partisipatif dengan berbagai metode, guru berhasil mendorong pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan logis siswa dalam suasana yang aman dan suportif. Siswa yang sebelumnya mengalami kesulitan belajar dan prestasi rendah menunjukkan perbaikan yang signifikan setelah mendapat pendekatan demokratis melalui diskusi, penjelasan yang jelas, praktik langsung, dan bimbingan individual. Dengan demikian, kepemimpinan demokratis guru berperan krusial dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif, di mana siswa merasa nyaman, dihargai, dan terlibat secara aktif, sehingga pada akhirnya mengembangkan karakter siswa menjadi lebih percaya diri, mandiri, bertanggung jawab, dan mencapai hasil belajar yang optimal sesuai dengan tujuan pendidikan holistik.
Arief, H. S., & Sudin, A. (2016). Meningkatkan Motivasi Belajar Problem-Based Learning (PBL). Jurnal Pena Ilmiah, 1(1), 141–150
Ariyani, Rika et al. 2025. Kepemimpinan dalam Pendidikan. Jambi: CV. RA-Media Publishing
Arsyam, M. (2024). Peranan kepemimpinan guru dalam meningkatkan aktifitas belajar mengajar. Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam, 5(2), 52-62.
Azizah, Nova Auliatul & Widyartono, Didin. 2024. Gaya Belajar Visual, Auditorial, Dan Kinestetik: Temuan Dari Siswa Kelas VII. Journal of Language, Literature, and Arts, 4(11)
Bastian, Adolf dan Reswita. 2002. Model Dan Pendekatan Pembelajaran. Jawa Barat: CV. Adanu Abimata
Fahri, F., & Lubis, M. J. (2022). Gaya Kepemimpinan Demokratis Guru pada Motivasi Belajar Siswa. Jurnal Basicedu, 6(3), 3364-3372.
Fernando, Y., Andriani, P., & Syam, H. (2024). Pentingnya motivasi belajar dalam meningkatkan hasil belajar siswa. ALFIHRIS: Jurnal Inspirasi Pendidikan, 2(3), 61-68.
Fitriya, E., Kurahman, O. T., Tarsono, T., Nurhayati, F., Santora, P., & Rosulina, D. (2025). Peran Motivasi Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 14(1 Februari), 1055-1064.
Fitriyah, Lailatul. 2020. Pendekatan Student Centered Learning (SCL) Dalam Surah Al-Kahfi. Ta’limuna, Vol. 9, No. 01
Garis, R. R., Garvera, R. R., Sihabudin, A. A., & Galuh, U. (2021). Analisis tipe kepemimpinan demokratis kepala desa dalam peningkatan pelayanan publik di desa karangjaladri kabupaten pangandaran. 8, 291–301
Ginanjar, E. G., Darmawan, B., & Sriyono, S. (2019). Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya partisipasi belajar peserta didik smk. Journal of Mechanical Engineering Education (Jurnal Pendidikan Teknik Mesin), 6(2), 206-219.
Haryanti, N., & Anwar, M. A. 2025. Kepemimpinan Pendidikan Islam. Jawa Tengah: Eureka Media Aksara
Istikomah, I., & Haryanto, B. (2021). Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam. Sidoarjo: Nizamia Learning Center
Iyai, Y., Helsa, Y., & Padang, U. N. (2025). Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Melalui Pendekatan Pembelajaran Aktif. Jurnal Arjuna : Publikasi Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Matematika, 3(3), 288-296
Kuswarno, E. (2007). Tradisi fenomenologi pada penelitian komunikasi kualitatif sebuah pedoman penelitian dari pengalaman penelitian. Sosiohumaniora, 9(2), 161.
Larrivee, Barbara. 2002. “The Potential Perils of Praise in a Democratic Interactive Classroom.” Action in Teacher Education 23 (4): 77–88. doi:10.1080/01626620.2002.10463091.
Librianty, H. D., & Sumantri, S. (2014). Peningkatan partisipasi belajar melalui metode bercakap-cakap pada pembelajaran bahasa inggris. Jurnal Pendidikan Usia Dini, 8(1), 1-8.
Maryati, E., Sholeh, M., Saputra, M. R., Viqri, D., Simarmata, D. E., Yunizha, T. D., & Syafitr, A. (2024). Analisis strategi guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di kelas. Jurnal Inovasi, Evaluasi Dan Pengembangan Pembelajaran (JIEPP), 4(2), 165-170.
Mayasari, Novi & Alimuddin, Johar. 2023. Strategi Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa. Jawa Tengah: Rizquna
Mubarok, R. (2022). Guru Sebagai Pemimpin di Dalam Kelas Pada Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT). Ensiklopedia: Jurnal Pendidikan Dan Inovasi Pembelajaran Saburai, 2(01), 19-32.
Muhammad, A. F. N. (2017). Model kepemimpinan guru dalam proses pembelajaran di kelas pada jenjang sd/mi. Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI, 4(1), 29-44.
Mulyana, N. (2017). Hubungan gaya kepemimpinan guru dalam meningkatkan motivasi belajar penjas pada siswa sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Jasmani Dan Olahraga, 2(1), 41-47.
Nasir, A., Nurjana, N., Shah, K., Sirodj, R. A., & Afgani, M. W. (2023). Pendekatan fenomenologi dalam penelitian kualitatif. Innovative: Journal Of Social Science Research, 3(5), 4445-4451.
Nasution, Abdul Fattah. 2023. Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: CV. Harfa Creative
Nissa, K., Program, D., Pendidikan, S., Inggris, B., Alwasliyah, U., Program, D., Pendidikan, S., & Universitas, M. (2021). Peran Guru Dan Strategi Dalam Meningkatkan Partisipasi Siswa. JGK (Jurnal Guru Kita), 51–58
Niswi, Azra et al. 2025. Pengaruh Metode Pembelajaran Aktif Terhadap Kemampuan Kognitif Siswa Pada Mata Pelajaran PAI. Jurnal Penelitian dan Pendidikan Agama Islam. 3(1)
Novianti, Winda. 2025. Pengaruh Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi Terhadap Minat Belajar Siswa Pada Kurikulum Merdeka. Jurnal Penelitian dan Pendidikan Agama Islam. 2(2)
Pahruroji, S. A., & Nugraha, M. S. (2023). The Influence Of Democratic Leadership Style On Teacher Performance In Kuttab & Ppq An-Nubuwwah Sukabumi. Journal Of Humanities And Social Studies, 1(02), 499-507.
Putri, Ratih Deswita & Yulhendri, 2025. Pengaruh Umpan Balik Positif dan Negatif terhadap Engagement Cognitive dan Hasil Belajar pada Mata Pelajaran Ekonomi Kelas XI. Jurnal Pembelajaran, Bimbingan, dan Pengelolaan Pendidikan, 5(12),
Rahayu, R., & Susanto, R. (2018). Pengaruh kepemimpinan guru dan keterampilan manajemen kelas terhadap perilaku belajar siswa kelas IV. Jurnal Pendidikan Dasar Perkhasa: Jurnal Penelitian Pendidikan Dasar, 4(2), 220-229.
Rahman, Sunarti. (2022). Pentingnya motivasi belajar dalam meningkatkan hasil belajar. In Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dasar.
Ramdani, N. G., Fauziyyah, N., Fuadah, R., Rudiyono, S., Septiyaningrum, Y. A., Salamatussa'adah, N., & Hayani, A. (2023). Definisi dan teori pendekatan, strategi, dan metode pembelajaran. Indonesian Journal of Elementary Education and Teaching Innovation, 2(1), 20-31.
Saleh, Baso. et al. 2025. Pendekatan Taksonomi Bloom dalam Penyelenggaraan Pelatihan Government Transformation Academy untuk Penguatan Kompetensi ASN di Era Digital. Didaktika: Jurnal Kependidikan 14(1)
Salim dan Syahrum, 2015, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Ciapustaka Media.
Saman, A. (2010). Pola Pengasuhan Demokratis Orang Tua Dan Gaya Kepemimpinan Demokratis Guru Sebagai Prediktor Kecerdasan Emosional Siswa. Psympathic: Jurnal Ilmiah Psikologi, 3(1), 1-14.
SetyoBudi, F. D. A. (2024). Analisis Gaya Kepemimpinan Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa pada Siswa Kelas IV Madrasah Ibtidaiyah. Jurnal Ilmiah Pendidik Indonesia, 3(2), 1-12.
Suharsimi dan Arikunto, 2006, Prosedur Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta
Syahputra, R. (2021). Implementasi Kepemimpinan Guru dalam Pembelajaran MAS Darul Muta’allimin Tanah Merah Kabupaten Aceh Singkil dan SMAS Hidayatullah Kota Subulussalam. MUDABBIR Journal Research and Education Studies, 1(2), 62-71.
Turdjai. 2016. Pengaruh Pendekatan Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar Mahasiswa. TRIADIK, 15, (2): 17-29
Usman, A’zhami Alim & Rohmah, Lailatu. 2024. Pemberian Reward Dalam Pembelajaran Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Anak Usia Dini: Studi Kualitatif Deskriptif. Dunia Anak: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. Vol. 07, No. 02
Utari, S., & Hadi, M. M. (2020). Gaya Kepemimpinan Demokratis Perpustakaan Kota Yogyakarta (Studi Kasus). Jurnal Pustaka Ilmiah, 6(1), 994-1002.
Yanti, S. (2019). Gaya Kepemimpinan guru SD sekolah dasar di dalam kelas. Jurnal Pendidikan Dasar Perkhasa: Jurnal Penelitian Pendidikan Dasar, 5(1), 66-72.