Futhri Raudhatul Kabry (1), Inom Nasution (2)
General Background: Teacher leadership plays a strategic role in shaping effective learning interactions and fostering student motivation and participation. Specific Background: Democratic leadership in classroom settings emphasizes student involvement, two-way communication, and shared decision-making, aligning with student-centered learning approaches. Knowledge Gap: Limited empirical attention has been given to how democratic leadership practices operate in Madrasah Tsanawiyah contexts and how they relate to both intrinsic and extrinsic student motivation. Aims: This study aims to analyze the implementation of teacher democratic leadership and examine its relationship with student learning motivation and participation. Results: Using a qualitative phenomenological approach with observations, interviews, and documentation involving teachers and students, the findings reveal that democratic leadership is consistently applied through student participation in decision-making, active discussions, and varied instructional methods. These practices are associated with increased student confidence, engagement, motivation, and active participation, alongside improved academic outcomes. Both intrinsic and extrinsic motivation are fostered through supportive classroom environments, rewards, and participatory learning strategies. Novelty: This study positions democratic leadership not merely as a leadership style but as an integrated pedagogical practice embedded in classroom learning processes. Implications: The findings suggest that adopting democratic leadership can support participatory, student-centered learning environments and can be contextually applied across diverse educational settings, although generalization should consider contextual limitations.
Highlights• Student engagement increases through participatory classroom decision-making• Confidence and autonomy develop via collaborative learning practices• Academic performance shows improvement in previously low-achieving learners
KeywordsTeacher Democratic Leadership; Student Learning Motivation; Student Participation; Intrinsic And Extrinsic Motivation; Qualitative Phenomenological Study
Menurut Arsyam (2024), kepemimpinan kelas yang efektif sangat penting untuk meningkatkan keterlibatan siswa dan prestasi akademik. Setiap guru membutuhkan keterampilan kepemimpinan khusus untuk menjadi manajer kelas yang baik (Mubarok, 2022). Untuk mencapai potensi penuh dan melaksanakan proyek-proyek substansial yang terkait dengan pertumbuhan organisasi, kepemimpinan yang kuat sangat penting. Kinerja kelas hanyalah salah satu bidang di mana gaya kepemimpinan kewirausahaan memiliki dampak besar pada hasil organisasi (Pahruroji & Nugraha, 2023). Dengan memfasilitasi komunikasi antara pelatih (guru) dan siswa (peserta pelatihan), pelatih kepemimpinan merupakan bagian integral dari proses pendidikan. Menurut Rahayu dan Susanto (2018), agar pendidikan berhasil, guru perlu memotivasi murid-murid mereka untuk memiliki pandangan positif terhadap pembelajaran.
Dalam lingkungan kelas, seorang guru mengemban tanggung jawab kepemimpinan. Kami bertujuan untuk membawa perubahan dalam sistem pendidikan atau membangun organisasi pembelajaran untuk memberikan dampak pada siswa. Tidak ada gunanya mengajar sama sekali jika guru tidak dapat mengatur dan mengarahkan pembelajaran siswa mereka. Pendekatan pedagogis yang konstruktif diperlukan untuk menjamin keberhasilan siswa sebagai pembelajar dalam lingkungan kolaboratif, menurut Syahputra (2021). Seorang tutor yang efektif harus memiliki pandangan positif terhadap pembelajaran dan berpengetahuan luas di bidang studinya. Menurut Mulyana (2017), jika guru tidak memiliki kualifikasi yang tepat, hal itu akan berdampak negatif pada proses pendidikan. Muhammad (2017) berpendapat bahwa guru dengan kualitas kepemimpinan yang dapat mendorong, membimbing, dan menginspirasi siswa untuk mencapai potensi akademik penuh mereka adalah faktor terpenting dalam menciptakan kelas yang efektif. Alih-alih memilih dan memilah topik mana yang akan dibahas, guru harus secara ahli membimbing siswa melalui setiap tahap proses pembelajaran. Agar efektif, pendidik harus memperlakukan semua siswa secara adil, menggunakan berbagai strategi pembelajaran aktif, terbuka terhadap ide-ide baru, mendorong siswa untuk
mengembangkan potensi maksimalnya serta menilai perkembangan mereka secara individual. Di dalam kelas, guru memiliki peluang yang khas untuk menjalin hubungan secara personal dengan siswa sekaligus menjadi teladan yang dapat mereka ikuti.
Meningkatkan motivasi intrinsik siswa untuk belajar dapat meningkatkan minat dan upaya yang mereka curahkan dalam tugas kuliah mereka. Maryati, Eva, dkk. (2024) menemukan bahwa motivasi intrinsik siswa berkorelasi positif dengan tingkat keterlibatan mereka di kelas. Ketika seseorang termotivasi oleh tujuan yang jelas, mereka lebih cenderung untuk bertindak. Baik faktor internal maupun eksternal dapat berfungsi sebagai sumber inspirasi. Kualitas tindakan seseorang dalam belajar, bekerja, dan kehidupan sehari-hari sangat dipengaruhi oleh tingkat motivasi mereka. Durasi suatu tugas sebanding dengan jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Settingyo Budi (2024) menemukan korelasi yang kuat antara kemampuan individu untuk mengelola waktu mereka dengan baik dan motivasi mereka untuk belajar. Guru perlu sangat sabar jika mereka ingin siswa mereka benar-benar berpartisipasi di kelas. Sekarang lebih dari sebelumnya, mencapai tujuan ini membutuhkan keinginan yang kuat untuk belajar. Menurut Fernando dkk. (2024), pendidik harus berusaha untuk menumbuhkan rasa ingin tahu intelektual mereka sendiri untuk menginspirasi rasa haus akan pengetahuan pada siswa mereka.
Studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa efektivitas dialog siswa-guru, pengambilan keputusan kolaboratif, dan proyek kreatif dapat dipengaruhi oleh peran kepemimpinan guru di kelas (Fahri, Faisal et.al, 2022). Di sisi lain, terdapat kekurangan data tentang Gaya Demokratis di sekolah menengah (MTs). Tidak seperti studi yang berfokus pada kepemimpinan guru secara umum atau paradigma alternatif (ortodoks, laissez-faire), terdapat kekurangan penelitian yang signifikan tentang kepemimpinan guru dalam konteks demokratis dan dampaknya terhadap motivasi belajar siswa di tingkat MTs. Selain itu, terdapat kekurangan literatur tentang variabel mediasi yang dapat memengaruhi hubungan antara kepemimpinan demokratis dan dorongan intrinsik untuk belajar. Perbedaan dalam lingkungan belajar, karakteristik siswa, dan budaya sekolah adalah contoh dari variabel tersebut.
Untuk mengisi kesenjangan pengetahuan saat ini, studi ini akan meneliti bagaimana kepemimpinan guru demokratis memengaruhi dorongan intrinsik siswa untuk belajar. Tiga bagian dari penelitian gaya kepemimpinan demokratis yang dikaji dalam studi ini adalah 1) Praktik kepemimpinan demokratis guru dalam pendekatan pembelajaran, 2) Motivasi belajar siswa baik yang bersumber dari dalam diri (intrinsikl) maupun dari luar diri (ekstrinsiks), 3) Partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana guru menerapkan kepemimpinan demokratis dalam proses pembelajaran di kelas.
Selain itu, penelitian ini juga berupaya memahami pengalaman motivasi belajar siswa, baik yang berasal dari faktor internal maupun eksternal, dalam konteks tersebut. Selanjutnya, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dinamika interaksi serta tingkat keterlibatan siswa selama proses pembelajaran dengan gaya kepemimpinan demokratis.
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk memengaruhi orang lain agar bersedia melakukan tindakan tertentu guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. (Utari et al, 2020). Sejalan dengan pendapat Robert G. Owens dalan (Haryanti & Anwar, 2025) Mendefinisikan kepemimpinan sebagai suatu bentuk keterlibatan yang dilakukan secara sadar dengan tujuan memengaruhi perilaku orang lain. Menurut Yanti (2019) kepemimpinan merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang, baik secara alami maupun melalui proses pendidikan, untuk memengaruhi individu atau kelompok dalam suatu organisasi pada situasi tertentu, sehingga anggota dengan sukarela berupaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan yang dapat dikembangkan dalam diri seseorang untuk secara sadar memengaruhi serta mengarahkan perilaku orang lain, baik secara individu maupun kelompok, guna mencapai tujuan bersama dalam konteks organisasi dan kondisi tertentu.
Menurut Stephen P. Robbins (dalam Garis et al., 2021), gaya kepemimpinan demokratis ditandai dengan keterlibatan anggota dalam pengambilan keputusan, pendelegasian wewenang, dorongan terhadap partisipasi dalam menentukan metode dan tujuan kerja, serta pemanfaatan umpan balik sebagai sarana pembinaan. Dengan demikian, gaya ini mencerminkan kerja sama dan keterlibatan aktif antara pemimpin dan anggota tim dalam setiap proses pengambilan keputusan. Dalam konteks pendidikan, gaya kepemimpinan demokratis memberikan ruang bagi guru untuk melibatkan siswa dalam proses pembelajaran, mendorong keaktifan, serta mempererat hubungan antara guru dan siswa (Pahruroji & Nugraha, 2023). Selain itu, tipe kepemimpinan ini juga menumbuhkan inisiatif siswa, sehingga mereka dapat berkreasi dan mengembangkan kemampuan untuk mencapai tujuan bersama, serta bersifat terbuka (Istikomah & Haryanto, 2021). Lebih lanjut, kepemimpinan demokratis menekankan kolaborasi antara guru dan siswa dalam menentukan keputusan yang berkaitan dengan pembelajaran di kelas. Siswa didorong untuk berpartisipasi aktif, menyampaikan pendapat, serta berkontribusi dalam diskusi yang membangun suasana belajar. Adapun karakteristiknya meliputi: (1) guru melibatkan siswa dalam pengambilan keputusan, (2) guru menerima dan
menghargai pendapat siswa, (3) siswa diberi kesempatan untuk menyampaikan ide dan bertanya, serta (4) terciptanya suasana saling menghargai dengan interaksi yang aktif dan dinamis di kelas (Fadia, 2024).
Seorang guru wajib menerapkan kepemimpinan dalam mengelola kelasnya. Menurut Slavin dalam (Saman, 2010) Menekankan bahwa selain menguasai materi pembelajaran, guru juga dituntut mampu mengelola kelas dengan baik agar siswa tetap berada dalam kondisi semangat belajar yang optimal. Dengan menguasai materi yang diajarkan dan menerapkan kepemimpinan yang baik maka pembelajaran dikelas akan kondusif dan siswa dapat belajar dengan semangat. Menurut Larrivee (2002) Guru mendorong terciptanya komunitas belajar yang demokratis dengan cara memberikan motivasi (bukan sekadar pujian), menanggapi siswa melalui penerimaan (bukan penilaian), dan menyampaikan interpretasi yang membangun (bukan umpan balik evaluatif atau kritik yang merusak).
Pendekatan pembelajaran dapat dipahami sebagai sudut pandang dalam melihat proses belajar mengajar, yang mencerminkan pemahaman umum tentang bagaimana pembelajaran berlangsung. Pendekatan ini menjadi landasan dalam menentukan serta memperkuat pemilihan strategi dan metode pembelajaran dalam kerangka teoretis tertentu (Ramdani et al., 2023). Selain itu, pendekatan pembelajaran juga berperan sebagai paradigma yang mengarahkan pemahaman menyeluruh tentang proses belajar, termasuk cara siswa belajar, peran guru, serta bentuk interaksi yang terjadi di dalamnya. Dalam praktiknya, pendekatan pembelajaran dapat dibagi menjadi dua kategori. Pertama, berdasarkan pengorganisasian siswa, yang meliputi pembelajaran individual, kelompok, dan klasikal. Kedua, berdasarkan peran guru dalam mengelola penyampaian materi, yaitu pendekatan ekspositori dan pembelajaran inkuiri (Turdjai, 2016).
Dalam proses pembelajaran, guru dan siswa merupakan variabel utama. Tanpa kehadiran keduanya, kegiatan belajar tidak akan berlangsung. Berdasarkan hal tersebut, pendekatan pembelajaran secara umum terbagi menjadi dua, yaitu yang berpusat pada guru (teacher-centered) dan yang berpusat pada siswa (student-centered) (Adolf Bastian, dan Reswita, 2022). Pada pendekatan yang berpusat pada guru, seluruh pengelolaan dan manajemen pembelajaran ditentukan oleh guru, sehingga siswa hanya mengikuti aktivitas sesuai arahan yang diberikan. Sebaliknya, pada pendekatan yang berpusat pada siswa, pengelolaan pembelajaran lebih banyak ditentukan oleh siswa, yang memiliki kesempatan luas untuk berkreasi serta mengembangkan potensi sesuai minat dan kebutuhannya melalui keterlibatan langsung. Dalam pendekatan ini, guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing agar proses belajar siswa tetap terarah.
Motivasi belajar siswa ialah dorongan atau semangat dari dalam diri siswa yang membuat mereka mau belajar, bertahan meski susah, dan mengejar tujuan akademik. Menurut Iyai et al., (2025) Motivasi belajar merupakan keseluruhan dorongan dalam diri siswa yang memicu terjadinya aktivitas belajar, menjaga keberlangsungan proses tersebut, serta memberikan arah pada kegiatan belajar. Motivasi ini terbagi ke dalam dua bentuk utama, yaitu motivasi intrinsik (dorongan dari dalam diri siswa, seperti rasa ingin tahu atau kepuasan pribadi) dan motivasi ekstrinsik (dorongan dari luar, seperti hadiah, pujian, atau nilai). De Decce & Grawford (dalam Arief & Sudin, 2016) Menyatakan bahwa motivasi belajar perlu terus ditumbuhkan dan dijaga dalam diri siswa. Dalam hal ini, guru berperan membangkitkan semangat belajar, memberikan harapan yang realistis, menyediakan penghargaan atau insentif, serta mengarahkan perilaku siswa agar selaras dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Motivasi memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran karena dapat memengaruhi perilaku, kinerja, dan hasil belajar siswa. Siswa dengan motivasi tinggi cenderung lebih terlibat dalam kegiatan belajar, aktif mencari informasi, mengajukan pertanyaan, serta berpartisipasi dalam diskusi, sehingga pemahaman mereka terhadap materi semakin meningkat. Selain itu, mereka juga lebih fokus dan tekun dalam menyelesaikan tugas maupun ujian, serta memiliki tingkat kepuasan yang lebih tinggi terhadap hasil belajarnya. (Herwati, 2023).
Menurut Sardiman (dalam Novi Mayasari & Johar Alimuddin, 2023), berdasarkan karakteristiknya, motivasi dibedakan menjadi dua, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Richard M. Ryan dan Edward L. Deci (dalam Fitriya et al., 2025) menjelaskan bahwa motivasi intrinsik adalah dorongan belajar yang muncul dari dalam diri siswa, seperti rasa ingin tahu, minat terhadap materi, serta kepuasan pribadi saat memahami suatu konsep. Sebaliknya, menurut Dale H. Schunk, Paul R. Pintrich, dan Judith L. Meece (dalam Fitriya et al., 2025), motivasi ekstrinsik merupakan dorongan yang berasal dari luar diri siswa, seperti keinginan untuk memperoleh penghargaan, nilai tinggi, atau pujian dari guru maupun orang tua. Dengan demikian, motivasi intrinsik muncul dari kesadaran dan tujuan yang melekat pada aktivitas belajar itu sendiri, sedangkan motivasi ekstrinsik dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti belajar untuk menghadapi ujian atau memperoleh pengakuan, sehingga tidak selalu berkaitan langsung dengan esensi kegiatan belajar.
Ketika guru memberikan umpan balik informatif tentang seberapa baik siswa telah menyelesaikan tugas, atau dorongan yang membuat siswa merasa memiliki rasa otonomi diri, hal ini memungkinkan siswa untuk memahami kualitas apa yang membuat pencapaian tersebut mungkin dan bernilai. Dampak penting bagi siswa adalah pesan yang mereka berikan pada diri
sendiri setelah mengevaluasi komentar guru Penilaian diri yang positif ini membantu siswa merasa kompeten. Guru yang mendorong siswa untuk menetapkan standar diri sendiri dan mengekspresikan potensi mereka membantu mengembangkan pembelajar yang mandiri. Salah satu cara menumbuhkan motivasi adalah dengan memberi angka sebagai simbol nilai kegiatan belajar. Banyak siswa yang belajar terutama untuk mendapatkan nilai bagus atau naik kelas. Angka yang baik menjadi motivasi kuat, namun ada juga siswa yang hanya berusaha cukup untuk lulus. Selain itu, hadiah juga dapat memotivasi, tetapi hanya efektif jika sesuai dengan minat dan bakat siswa, karena hadiah yang tidak relevan mungkin tidak menarik bagi beberapa siswa.
Selain itu, mengetahui hasil belajar yang menunjukkan kemajuan dapat menambah semangat siswa untuk terus belajar. Pujian atas keberhasilan dalam ujian juga merupakan reinforcement positif yang memotivasi. Sebaliknya, hukuman sebagai reinforcement negatif bisa menjadi motivasi jika diberikan dengan tepat dan bijak. Motivasi belajar juga sangat dipengaruhi oleh hasrat belajar yang mencerminkan kesengajaan dan tujuan belajar, serta minat yang menjadi alat motivasi utama, sehingga proses belajar dapat berjalan lebih lancar dan menyenangkan (Sunarti Rahman, 2021).
Ketika guru memberikan umpan balik informatif tentang seberapa baik siswa telah menyelesaikan tugas, atau dorongan yang membuat siswa merasa memiliki rasa otonomi diri, hal ini memungkinkan siswa untuk memahami kualitas apa yang membuat pencapaian tersebut mungkin dan bernilai. Dampak penting bagi siswa adalah pesan yang mereka berikan pada diri sendiri setelah mengevaluasi komentar guru Penilaian diri yang positif ini membantu siswa merasa kompeten. Dengan mendorong siswa untuk menetapkan standar mereka sendiri dan mengekspresikan diri, guru membantu siswa berkembang menjadi pembelajar yang mandiri (Larrivee, 2002).
Partisipasi merupakan keterlibatan mental dan emosional seseorang dalam suatu kelompok yang mendorongnya untuk mengembangkan pemikiran dan perasaannya demi mencapai tujuan bersama serta bertanggung jawab atas tujuan tersebut. Seseorang yang berpartisipasi tidak hanya terlibat dalam tugas, tetapi juga melibatkan diri secara pribadi atau emosional. Oleh karena itu, partisipasi dalam pembelajaran dapat dilihat dari tingkat keterlibatan mental dan emosional peserta didik (Ginanjar et al., 2019). Partisipasi belajar merupakan proses keterlibatan siswa yang mencakup aspek fisik dan mental melalui penggunaan panca indera dalam berbagai kegiatan pembelajaran, seperti aktivitas visual, mendengar, berbicara, motorik, emosional, serta bahasa tubuh, dengan bertindak sesuai aturan dalam struktur pembelajaran.
Keterlibatan ini bertujuan memenuhi rasa ingin tahu terhadap suatu keterampilan atau materi, yang pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan kualitas diri siswa. (Librianty & Sumantri, 2014).
Hadari Nawawi mendefinisikan prestasi belajar sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam memahami materi di sekolah yang ditunjukkan melalui skor hasil ujian pada sejumlah materi. Sementara itu, Benjamin Bloom memandang prestasi belajar sebagai hasil perubahan pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa (Mario, 2023). Aspek kognitif berupa sesuatu yang menyangkut pengetahuan, aspek afektif meliputi nilai dan sikap, dan aspek psikomotorik berupa keterampilan.
Berdasarkan pengertian prestasi belajar diatas dapat disimpulkan bahwasannya prestasi belajar ialah keterlibatan aktif peserta didik dalam proses pembelajaran yang mencakup aspek mental, emosional, dan fisik. Partisipasi tidak hanya sebatas menjalankan tugas, tetapi merupakan bentuk penyertaan diri secara utuh melalui aktivitas berpikir, merasakan, melihat, mendengar, berbicara, bergerak, serta mengekspresikan bahasa tubuh sesuai dengan tuntutan pembelajaran. Keterlibatan ini menunjukkan adanya dorongan internal siswa untuk memenuhi rasa ingin tahu dan mengembangkan kemampuan diri, sehingga menjadi faktor penting dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dengan demikian, partisipasi belajar dapat dipahami sebagai proses keikutsertaan siswa secara menyeluruh dalam aktivitas belajar yang pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan kualitas diri dan hasil belajar mereka.
Prestasi belajar mencakup beberapa aspek yang berfungsi sebagai indikator pencapaian, dengan setidaknya tiga aspek utama yang dapat dievaluasi melalui berbagai literasi. Aspek pertama adalah kognitif, yang menjadi tolok ukur pencapaian siswa dalam bidang ini dan dapat diukur melalui tes tulis atau lisan. Aspek kedua adalah afektif, yang mencakup dimensi berpikir meliputi watak dan perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, serta nilai-nilai. Aspek ketiga adalah psikomotorik, yang berkaitan dengan kemampuan gerak fisik, seperti aktivitas yang melibatkan otot dan saraf, misalnya berlari, berjalan, menggambar, berbicara, membongkar atau memasang peralatan, dan sebagainya. Dengan demikian, ketiga aspek prestasi belajar ini akan lebih lengkap jika dimiliki oleh setiap siswa, sehingga mereka tidak hanya unggul dalam mata pelajaran tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pencapaian prestasi belajar tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait satu sama lain (Syafi’i et al, 2018).
Partisipasi siswa memiliki peran penting dalam menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan, sekaligus membantu siswa memahami materi serta mengungkapkan hal-hal yang telah atau belum mereka pahami. Dalam pembelajaran bahasa,
misalnya, keaktifan di kelas memberi kesempatan bagi siswa untuk melatih keterampilan berbahasa, sementara guru dapat mendengarkan dan memperbaiki kesalahan mereka. Namun, dalam praktiknya, siswa sering mengalami rasa takut dan tidak nyaman yang dapat menurunkan motivasi untuk berlatih, sehingga banyak yang memilih bersikap pasif. Akibatnya, mereka kehilangan peluang untuk mengembangkan kemampuan bahasa asing. Di sisi lain, pergeseran dari pendekatan berpusat pada guru ke pendekatan berpusat pada siswa menuntut pendidik untuk merancang pembelajaran yang mendorong keterlibatan aktif siswa, baik melalui diskusi kelas maupun kelompok kecil, agar kemampuan berpikir kritis dan partisipasi mereka dalam proses belajar dapat berkembang secara optimal (Nissa et al., 2021).
Penelitian ini dilakukan di MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung yang berlokasi di Jln. Platina Raya No. 7A, Titi Papan, Desa Renggas Pulau, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan gaya kepemimpinan demokratis guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk menggali bagaimana penerapan gaya kepemimpinan demokratis guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Pendekatan fenomenologi merupakan penelitian ilmiah yang berfokus pada pengkajian dan pemahaman terhadap pengalaman yang dialami individu atau kelompok. Dalam hal ini, suatu peristiwa yang dianggap penting menjadi bagian dari pengalaman hidup subjek penelitian dan dianalisis secara mendalam (Nasir et al, 2023). Menurut Creswell study dengan pendekatan fenomenologis berupaya untuk menjelaskan makna pengalaman hidup sejumlah orang tentang suatu konsep (Kuswarno, 2007).
Pada penelitian ini melibatkan guru dan siswa sebagai partisipan yang ingin diwawancarai. Sebelum melakukan wawancara, peneliti menanyakan kepada partisipan atas ketersediaannya untuk diwawancarai. Partisipan terdiri dari 4 guru dan 3 siswa. Wawancara ini dilakukan disekolah selama 15 menit untuk setiap partisipan. Sebelum itu, peneliti meminta izin kepada partisipan untuk merekam seluruh pembicaraan partisipan dan peneliti, kemudian peneliti menanyakan beberapa pertanyaan-pertanyaan kepada partisipan mengenai wawasan mereka tentang kurikulum merdeka.
Adapun biografi partisipan adalah sebagai berikut:
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui teknik observasi, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi. Observasi digunakan untuk mengamati penerapan gaya kepemimpinan demokratis guru saat mengajar di kelas serta melihat bagaimana motivasi belajar siswa muncul dalam proses pembelajaran. Selanjutnya, wawancara semi terstruktur dilakukan secara lisan dan tatap muka, disertai perekaman suara menggunakan aplikasi Tap Recorder untuk mendokumentasikan informasi dari partisipan. Wawancara ini bertujuan memperoleh data mengenai penerapan gaya kepemimpinan demokratis guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Sebelum proses wawancara, peneliti terlebih dahulu membangun kedekatan dengan partisipan serta meminta persetujuan mereka, sehingga suasana wawancara menjadi lebih nyaman, partisipan lebih terbuka, dan peneliti dapat menggali informasi secara lebih mendalam. Selanjutnya, peneliti mentranskripsikan hasil wawancara dengan partisipan, kemudian menyeleksi data yang relevan untuk diolah menjadi kesimpulan penting sesuai kebutuhan penelitian. Tahap berikutnya adalah teknik dokumentasi, yang digunakan untuk mengumpulkan berbagai dokumen dan data pendukung. Hasil observasi maupun wawancara akan lebih kredibel apabila diperkuat dengan dokumen yang berkaitan dengan fokus penelitian.
Setelah data yang dibutuhkan terkumpul melalui teknik dan instrumen yang telah ditetapkan, tahap berikutnya adalah melakukan analisis data. Dalam penelitian kualitatif, analisis dilakukan secara induktif, yaitu mengolah data atau fakta yang diperoleh dengan
mengelompokkannya menuju tingkat abstraksi yang lebih tinggi, melakukan sintesis, serta mengembangkan teori jika diperlukan. Data yang diperoleh dari lokasi penelitian melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi kemudian diklasifikasikan serta disederhanakan dengan mengurangi informasi yang tidak relevan. Selanjutnya, dilakukan proses penguraian dan penarikan kesimpulan untuk memahami makna perilaku subjek sesuai dengan konteks dan fokus penelitian (Suharsimi dan Arikunto, 2006).
Pendekatan analisis data diklasifikasikan ke dalam tiga kategori yang berbeda, menurut Miles dan Huberman dalam (Nasution, 2023), Mengemukakan bahwa teknik analisis data kualitatif dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan serta verifikasi kesimpulan. Tahap pertama, reduksi data, dilakukan dengan merangkum, memilih informasi yang pokok, memfokuskan pada hal-hal penting, serta mengidentifikasi tema dan pola dengan menghilangkan data yang tidak diperlukan. Tahap kedua, penyajian data, merupakan lanjutan dari reduksi, di mana data disusun dan ditampilkan secara sistematis agar lebih mudah dipahami. Tahap ketiga, penarikan kesimpulan dan verifikasi, dilakukan dengan menyusun kesimpulan sementara yang dapat berubah apabila ditemukan bukti baru pada tahap pengumpulan data berikutnya, atau tetap dipertahankan jika didukung oleh data yang kuat..
Untuk memastikan keabsahan temuan serta menjaga validitas penelitian, peneliti mengacu pada empat kriteria validasi yang dikemukakan oleh Yvonna S. Lincoln dan Egon G. Guba, yaitu: (1) kredibilitas (credibility), (2) transferabilitas (transferability), (3) dependabilitas (dependability), dan (4) konfirmabilitas (confirmability) (Salim dan Syahrum, 2015). Credibility diperoleh melalui pengamatan mendalam terhadap gaya kepemimpinan demokratis guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa agar temuan benar-benar mencerminkan kondisi lapangan. Transferability dicapai dengan memberikan uraian rinci sehingga hasil penelitian dapat diterapkan pada konteks serupa. Dependability menekankan konsistensi proses penelitian mulai dari pemilihan kasus, pengumpulan data, analisis, hingga pelaporan, sehingga proses dapat ditelusuri dan diuji oleh pihak lain. Sementara itu, confirmability berkaitan dengan objektivitas penelitian melalui pemeriksaan kesesuaian data, logika kesimpulan, pengendalian bias peneliti, serta konfirmasi ulang hasil wawancara dan observasi kepada informan kunci untuk memastikan kebenaran fakta.
Kemimpinan demokratis dalam pembelajaran terbukti diterapkan secara konsisten oleh Guru MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung melalui beberapa praktik utama seperti perlibatan
siswa dalam pengambilan keputusan pembelajaran, pemberian kesempatan menyampaikan pendapat, dan penggunaan musyawarah dalam menentukan metode pembelajaran. Pernyataan ini diperoleh penulis dari hasil wawancara dengan salah satu guru di MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung, yang menyampaikan bahwa:
“Saya menerapkan kepemimpinan demokratis dengan memberi kesempatan siswa menyampaikan pendapat, bertanya, dan berdiskusi. Saya menjelaskan materi terlebih dahulu kemudian latihan atau praktek. Saya tidak memaksakan kehendak dan lebih memilih musyawarah agar pembelajaran berjalan lancar, siswa merasa nyaman, aktif, dan berani berbicara selama proses pembelajaran di kelas.” (LY, Wawancara 12 Januari 2026)
Guru-guru juga menerapkan pola pembelajaran yang terstruktur, dimulai dengan penjelasan materi, dilanjutkan dengan praktik atau latihan. Metode yang digunakan bervariasi sesuai kebutuhan siswa, termasuk diskusi, demonstrasi, drama, dan pembelajaran di luar kelas. Para guru juga memberikan motivasi dan mengaitkannya dengan materi pembelajaran untuk meningkatkan minat siswa. Hal ini juga diungkapkan oleh salah satu Guru MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung sebagai berikut:
“Dalam pembelajaran sehari Saya mempersiapkan anak-anak untuk menyampaikan pendapat, memahami materi, dan menanggapi pendapat kawannya benar atau salah. Saya menanyakan metode pembelajaran seperti diskusi, drama, atau penugasan sesuai kondisi kelas. Keputusan pembelajaran ditentukan bersama agar siswa berani, percaya diri, dan aktif.” (SL, Wawancara 19 Januari 2026)
Berdasarkan dari wawancara diatas menunjukkan bahwa guru-guru di MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung secara konsisten menerapkan kepemimpinan demokratis dengan melibatkan siswa aktif dalam pengambilan keputusan pembelajaran, mendorong penyampaian pendapat, diskusi, dan musyawarah untuk menentukan metode yang sesuai, sehingga siswa merasa nyaman, berani, percaya diri, dan lebih termotivasi dalam proses belajar. Penerapan kepemimpinan demokratis memberikan dampak positif yang signifikan terhadap siswa. Siswa menunjukkan peningkatan dalam beberapa aspek semangat dan motivasi belajar meningkat, keberanian dalam menyampaikan pendapat kepercayaan diri bertambah, serta partisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Siswa merasa pendapat mereka dihargai dan pembelajaran menjadi lebih menyenangkan serta mudah dipahami. hal ini diungkapkan oleh salah satu siswa MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung sebagai berikut:
“Guru sering meminta pendapat siswa. Saya merasa semangat belajar, lebih suka mengikuti kegiatan kelas, terutama pembelajaran di luar kelas dengan materi yang jelas, karena merasa pendapat dihargai dan pembelajaran sesuai dengan keinginan siswa.” (NM, Wawancara 09 Januari 2026)
Berdasarkan wawancara dengan siswa di atas dapat dikatakan bahwa siswa merasa lebih termotivasi, semangat, dan terlibat aktif dalam pembelajaran karena pendapat mereka dihargai oleh guru, sehingga kegiatan kelas dan luar kelas menjadi lebih menyenangkan, sesuai keinginan, dan mudah dipahami. dengan penerapan kepemimpinan demokratis dalam pembelaran dikelas menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif dimana siswa merasa nyaman, dihargai, dan terlibat secara aktif. Kesesuaian antara perspektif guru dan pengalaman siswa menunjukkan bahwa pendekatan demokratis efektif dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran di kelas
Motivasi belajar diberikan dengan cara yang sederhana dan penuh perhatian di MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung. Dimulai dengan pengamatan kondisi siswa di kelas, diikuti oleh pemberian dorongan, nasihat, dan perhatian agar siswa merasa semangat belajar. Pujian sering diberikan sebagai bentuk penghargaan, yang membuat siswa lebih termotivasi. Selain itu, pembimbingan, pengingatan, dan pendekatan yang baik dilakukan sehingga siswa merasa diperhatikan dan ingin mengikuti pembelajaran dengan serius setiap hari. Dalam gaya kepemimpinan demokratis, pendekatan ini membantu siswa menjadi lebih aktif, percaya diri, serta menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan efektif di sekolah. hal ini diungkapkan oleh salah satu Guru MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung yang mana guru tersebut mengatakan:
“Saya memberikan motivasi belajar dengan melihat kondisi siswa di kelas. Saya memberi dorongan, nasihat, dan perhatian agar siswa semangat belajar. saya juga memberikan pujian sebagai penghargaan. Motivasi belajar siswa meningkat karena guru membimbing, mengingatkan, dan mendekati siswa secara baik sehingga siswa merasa diperhatikan dan terdorong mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh setiap hari.” (LY, Wawancara 12 Januari 2026)
Penerapan motivasi ekstrinsik oleh guru di MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung melibatkan berbagai strategi untuk meningkatkan semangat belajar siswa, seperti pemberian reward berupa pujian, hadiah, uang jajan, atau makanan yang berfungsi sebagai insentif langsung untuk mendorong partisipasi aktif. Apresiasi verbal, perhatian individual, dan penguatan positif digunakan untuk membangun rasa dihargai dan percaya diri. hal ini diungkapkan oleh salah satu Guru MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung yang mana guru tersebut mengatakan:
“Saya terus memotivasi agar minat belajar tumbuh. Saya mengapresiasi dengan pujian dan hadiah supaya siswa merasa dihargai. Saya merangkul
siswa yang kurang berminat dan memberi pandangan agar motivasi belajar kembali tumbuh” (NV, Wawancara 12 Januari 2026)
Sementara teknik tanya jawab, pre-test, dan pendekatan personal diterapkan untuk membangkitkan minat siswa yang kurang termotivasi dengan cara yang interaktif dan disesuaikan dengan kebutuhan individu. Dalam konteks kepemimpinan demokratis, pendekatan ini tidak hanya merangsang motivasi eksternal tetapi juga mendorong siswa untuk lebih terlibat dalam proses pembelajaran, menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan keterampilan sosial dan akademik, serta berkontribusi pada peningkatan efektivitas pembelajaran secara keseluruhan.
Motivasi intrinsik siswa ditumbuhkan melalui pelibatan aktif dalam diskusi dan pengambilan keputusan kelas, serta penciptaan lingkungan belajar yang demokratis dan suportif. Guru menggunakan strategi seperti mencampurkan siswa dengan tingkat kepercayaan diri berbeda, memberikan kebebasan berpendapat, dan membimbing siswa agar tumbuh keinginan belajar dari dalam diri sendiri. hal ini diungkapkan oleh salah satu Guru MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung yang mana guru tersebut mengatakan:
“Saya mengidentifikasi motivasi intrinsik melalui karakter siswa dan keaktifan belajar. dan saya juga menyesuaikan materi dan metode pembelajaran.” (IS, Wawncara 19 Januari 2026)
Berdasarkan wawancara di atas dapat dikatakan bahwa guru di MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung berhasil mengidentifikasi motivasi intrinsik siswa melalui pengamatan karakter individu dan tingkat keaktifan belajar mereka, yang kemudian digunakan untuk menyesuaikan materi dan metode pembelajaran agar lebih sesuai dengan kebutuhan siswa, sehingga mendorong partisipasi aktif dan pengembangan minat belajar yang lebih mendalam dalam konteks kepemimpinan demokratis.
Penerapan kepemimpinan demokratis dan pemberian motivasi yang tepat menghasilkan dampak positif yang konsisten. Siswa menunjukkan peningkatan motivasi intrinsik yang ditandai dengan keinginan belajar mandiri, keberanian menyampaikan pendapat, dan rasa percaya diri yang meningkat. Siswa merasa dihargai, didengar, dan bebas dalam proses pembelajaran, sehingga semangat belajar tumbuh secara alami tanpa paksaan. hal ini diungkapkan oleh salah satu siswa MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung sebagai berikut:
“Saya merasa senang karena guru melibatkan siswa dalam diskusi dan keputusan kelas. Guru membuat belajar lebih bebas, mudah berbicara, dan lebih percaya diri. Saya juga merasa tidak harus disuruh, lebih ingin belajar sendiri, dan suka guru yang melibatkan siswa karena suara siswa didengar serta dihargai dalam pembelajaran” (NA, Wawancara 12 Januari 2026)
Penelitian ini menunjukkan bahwa perpaduan motivasi intrinsik dan ekstrinsik yang diterapkan guru dalam kerangka kepemimpinan demokratis mampu menciptakan lingkungan belajar yang optimal. Hubungan yang harmonis antara guru dan siswa, kerja sama dalam kelompok, serta partisipasi aktif siswa di kelas turut memperkuat motivasi belajar secara berkelanjutan, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih bermakna dan efektif setiap hari.
Guru menerapkan pendekatan pembelajaran yang efektif melalui beragam metode partisipatif, seperti tanya jawab, diskusi kelompok, penugasan, demonstrasi, dan praktik langsung, sehingga siswa tidak hanya mendengarkan secara pasif, tetapi juga terlibat aktif dalam proses belajar. Keberagaman metode ini penting karena setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda. sehingga dengan pendekatan yang beragam, peluang semua siswa memahami materi menjadi lebih besar. Yang lebih istimewa, guru juga memberikan perhatian khusus pada siswa yang kurang aktif melalui bimbingan individual secara perlahan, menunjukkan kepedulian agar tidak ada siswa yang tertinggal. berdasara hasil wawancara yang penlis lakukan dengan salah satu guru MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung, Guru mengatakan bahwa:
“Meningkatkan partisipasi siswa melalui tanya jawab, diskusi, dan pemberian tugas. Saya mengajak siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Jika ada siswa kurang aktif, saya membimbing secara perlahan. Pendekatan ini membuat siswa lebih berani bertanya, aktif menjawab, memahami materi, dan menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik selama proses belajar di kelas” (LY, Wawancara 12 Januari 2026)
Wawancara diatas menunjukkan bahawa pendekatan ini memiliki banyak manfaat, seperti meningkatkan pemahaman siswa melalui praktik langsung, membangun kepercayaan diri siswa yang pemalu, mengembangkan keterampilan sosial lewat diskusi kelompok, dan memastikan pembelajaran yang merata untuk semua. Meski demikian, guru tetap perlu memperhatikan manajemen waktu agar semua metode dapat terlaksana dengan baik, menjaga keseimbangan antara bimbingan individual dan pembelajaran kelompok, serta melakukan evaluasi berkala untuk memastikan semua siswa benar-benar mengalami kemajuan dalam pembelajaran.
Kepemimpinan demokratis mendorong pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan logis melalui pertanyaan-pertanyaan khusus, analisis materi, dan diskusi terbuka. Guru tidak cepat menyalahkan kesalahan siswa, melainkan memberikan penjelasan konstruktif dan motivasi, sehingga siswa berani mengeksplorasi ide dan pendapat mereka dalam suasana
pembelajaran yang aman dan suportif. hal ini diungkapkan oleh salah satu guru MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung, Guru mengatakan bahwa
“Saya membangun kerjasama antara guru dan murid melalui tanya jawab, diskusi, analisis, dan pengecekan ulang tugas. Guru tidak cepat menyalahkan siswa, tetapi memberikan penjelasan dan motivasi.” (NV, Wawancara 12 Januari 2026)
Penerapan kepemimpinan demokratis terbukti meningkatkan partisipasi aktif siswa secara signifikan. Siswa menunjukkan perubahan positif berupa keberanian bertanya, keaktifan menjawab, antusiasme dalam praktik, dan kepercayaan diri yang meningkat. Siswa merasa suara mereka didengar dan dihargai, sehingga lebih termotivasi untuk terlibat aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran di kelas. hal ini diungkapkan oleh salah satu siswa MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung, yang mana siswa mengatakan bahwa:
“Saya pernah mengalami prestasi belajar rendah karena kurang memahami materi. Dengan bantuan guru, siswa dapat mengatasi masalah tersebut. Pendekatan demokratis, diskusi, dan penjelasan materi membantu siswa lebih memahami pelajaran. Saya menjadi lebih semangat belajar, aktif, percaya diri, dan prestasi belajar kembali meningkat secara bertahap.” (JP, Wawancara 09 Januari 2026)
Berdasarkan wawancara diatas menunjukkan bahwa hubungan positif antara kepemimpinan demokratis dengan peningkatan prestasi belajar siswa. Siswa yang sebelumnya mengalami prestasi rendah, kesulitan memahami materi, atau motivasi naik-turun menunjukkan perbaikan signifikan setelah mendapat pendekatan demokratis. Melalui diskusi, penjelasan yang jelas, praktik langsung, dan bimbingan individual, siswa mampu mengatasi kesulitan belajar dan prestasi akademik mereka meningkat secara bertahap.
Kepemimpinan demokratis menciptakan kerjasama efektif antara guru dan siswa serta antar siswa dalam kerja kelompok. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan, memotivasi, dan membantu siswa mengatasi hambatan belajar. Pendekatan ini memudahkan guru mengetahui tingkat pemahaman siswa, menarik siswa berprestasi rendah untuk lebih aktif, serta meningkatkan hasil belajar terutama dalam aspek kognitif dan motorik. kepemimpinan demokratis berperan krusial dalam meningkatkan partisipasi siswa dan prestasi belajar. Partisipasi aktif yang terbangun melalui pendekatan demokratis tidak hanya meningkatkan pemahaman materi, tetapi juga mengembangkan karakter siswa menjadi lebih percaya diri, mandiri, dan bertanggung jawab dalam proses pembelajaran mereka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan demokratis diterapkan secara konsisten oleh guru-guru di MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung melalui berbagai praktik yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Temuan ini sejalan dengan konsep kepemimpinan demokratis yang dikemukakan oleh Ariyani et.al. (2025) yang menyatakan bahwa kepemimpinan demokratis dalam konteks pendidikan menekankan menekankan partisipasi aktif anggota dalam proses pengambilan keputusan. Pemimpin tidak bersifat dominan, tetapi berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan diskusi, mendengarkan pendapat, dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang sebelum menetapkan keputusan akhir. Praktik kepemimpinan demokratis yang diterapkan mencakup pemberian kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat, penggunaan musyawarah dalam menentukan metode pembelajaran, dan penerapan pola pembelajaran terstruktur yang dimulai dengan penjelasan materi dilanjutkan dengan praktik atau latihan.
Guru menggunakan beragam metode pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa, seperti diskusi, demonstrasi, drama, dan kegiatan belajar di luar kelas. Variasi ini selaras dengan prinsip pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning). Oemar Hamalik (dalam Fitriyah, 2020) menjelaskan bahwa pendekatan tersebut menitikberatkan pada kebutuhan dan minat peserta didik dengan menyediakan sistem pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar serta latar belakang kehidupan mereka. Dalam pendekatan ini, peran pendidik dan lembaga pendidikan bukan lagi sebagai pusat, melainkan sebagai fasilitator. Oleh karena itu, karena setiap peserta didik memiliki perbedaan dalam gaya belajar, minat, bakat, dan kemampuan, pendidik dituntut untuk memahami karakteristik masing-masing siswa agar pembelajaran dapat berjalan secara optimal.
Demokrasi dalam kepemimpinan memberikan hasil yang luar biasa dan menghasilkan dampak positif bagi siswa. Peningkatan keseluruhan siswa terlihat dari meningkatnya minat dan dorongan mereka untuk belajar, kepercayaan diri, dan partisipasi di kelas. Penerapan kepemimpinan demokratis yang konsisten ditunjukkan oleh keselarasan antara perspektif guru dan hasil belajar siswa. Siswa lebih cenderung berpartisipasi di kelas dan mengingat informasi ketika mereka memiliki investasi pribadi dalam pendidikan mereka. Salah satu definisi motivasi intrinsik adalah "dorongan internal untuk belajar," yang mencakup karakteristik seperti rasa ingin tahu, minat, dan kebanggaan pada pengetahuan dan kemampuan sendiri (Fitriya dkk., 2025).
Penelitian ini menunjukkan bahwa guru di MTs Swasta Darul Ulum Budi Agung menerapkan strategi motivasi yang menyeluruh, mencakup motivasi intrinsik dan ekstrinsik dalam kerangka kepemimpinan demokratis. Pendekatan tersebut selaras dengan teori motivasi belajar yang dikemukakan oleh Sardiman dalam (Novi Mayasari & Johar Alimuddin, 2023), yang mengemukakan dua kategori motivasi—intrinsik dan ekstrinsik—dalam teorinya tentang motivasi belajar,.
Guru menggunakan berbagai strategi motivasi ekstrinsik untuk meningkatkan dorongan intrinsik siswa untuk belajar. Makanan cepat saji, pujian verbal, waktu tatap muka, penguatan positif, dan doa, hadits, uang, atau makanan adalah beberapa teknik yang digunakan. Usman (2024) berpendapat bahwa siswa dapat dimotivasi secara efektif untuk mengejar hasil yang lebih baik melalui penggunaan penghargaan, baik penghargaan verbal (seperti pujian) maupun non-verbal (seperti hadiah). Siswa lebih termotivasi untuk berprestasi dalam studi mereka ketika mereka diminta untuk mempertanggungjawabkan keterampilan dan potensi mereka. Ketika siswa menerima pujian atas usaha mereka di kelas, mereka cenderung lebih giat dalam mengerjakan tugas. Berdasarkan teori penguatan positif, tindakan seperti rajin, mengendalikan impuls, dan berprestasi di sekolah dapat ditingkatkan melalui penggunaan hadiah. Hal ini sangat sesuai dengan konsep tersebut. Kami telah meningkatkan motivasi ekstrinsik siswa untuk terus meningkatkan diri melalui metode yang tepat dan membantu mereka menjadi lebih termotivasi secara intrinsik dengan menawarkan insentif. Bentuk penguatan nonverbal, seperti pujian dan hadiah, dan bentuk penguatan verbal, seperti penghargaan, keduanya dapat mendorong siswa untuk terus bekerja hingga mencapai hasil yang lebih baik. Siswa lebih termotivasi untuk unggul dalam studi mereka ketika mereka diminta untuk bertanggung jawab atas keterampilan dan potensi mereka. Ketika guru memuji dan memberi penghargaan atas perilaku yang tepat, siswa lebih cenderung terlibat aktif di kelas.
Guru mengidentifikasi motivasi intrinsik siswa melalui pengamatan karakter individu dan tingkat keaktifan belajar, yang kemudian digunakan untuk menyesuaikan materi dan metode pembelajaran. Pendekatan diagnostik ini mencerminkan prinsip pembelajaran yang diferensiasi (differentiated instruction) sebagaimana dikemukakan oleh Tomlinson dalam (Novianti, 2025), diferensiasi pembelajaran merupakan respons guru terhadap keragaman siswa dalam kelas yang didasarkan pada prinsip bahwa semua siswa dapat belajar dengan pendekatan yang sesuai dengan profil unik mereka. Strategi ini mencakup diferensiasi konten, proses, produk, dan lingkungan belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami peningkatan motivasi intrinsik yang ditandai dengan keinginan belajar mandiri, keberanian menyampaikan pendapat, dan rasa percaya diri yang meningkat. Siswa merasa dihargai,
didengar, dan bebas dalam proses pembelajaran, sehingga semangat belajar tumbuh secara alami tanpa paksaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menerapkan pendekatan pembelajaran partisipatif melalui berbagai metode, seperti tanya jawab, diskusi kelompok, penugasan, demonstrasi, dan praktik langsung. Pendekatan ini membuat siswa tidak hanya berperan sebagai pendengar pasif, tetapi terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Temuan ini selaras dengan konsep pembelajaran aktif (active learning) yang dikemukakan oleh Charles C. Bonwell dan James A. Eison (dalam Niswi,2025), yang menekankan pentingnya keterlibatan penuh siswa, baik secara fisik maupun mental, melalui kegiatan seperti membaca, menulis, berdiskusi, dan memecahkan masalah. Dengan pendekatan ini, siswa memiliki kesempatan untuk membangun pengetahuan melalui pengalaman langsung, bukan sekadar menerima informasi dari guru.
Setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda. Bobby De Potter mencatat dalam (Azizah, 2024) bahwa "setiap orang memiliki metode belajar dan menyimpan informasi yang berbeda," sebuah pernyataan yang umumnya dikaitkan dengan berbagai gaya belajar. Terdapat tiga tipe utama pembelajar: visual, auditori, dan kinestetik. Pendekatan guru yang memberikan perhatian khusus pada siswa kurang aktif melalui bimbingan individual secara perlahan mencerminkan strategi pedagogis yang efektif dalam pendidikan inklusif. Dengan menyesuaikan bimbingan secara bertahap, guru dapat membangun kepercayaan dan motivasi siswa, menghindari tekanan berlebih yang mungkin membuat mereka semakin tertutup. Hal ini menunjukkan kepedulian mendalam terhadap keberagaman kebutuhan siswa, memastikan bahwa setiap individu mendapat dukungan personal untuk mengatasi hambatan seperti kurangnya kepercayaan diri atau kesulitan belajar, sehingga mendorong partisipasi aktif dan mencegah ketertinggalan. Secara keseluruhan, metode ini tidak hanya meningkatkan hasil belajar individu tetapi juga menciptakan lingkungan kelas yang lebih harmonis dan mendukung, di mana empati guru berperan sebagai katalisator untuk pertumbuhan siswa secara holistik.
Kepemimpinan demokratis mendorong pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan logis melalui pertanyaan-pertanyaan khusus, analisis materi, dan diskusi terbuka. Guru tidak cepat menyalahkan kesalahan siswa, melainkan memberikan penjelasan konstruktif dan motivasi, sehingga siswa berani mengeksplorasi ide dan pendapat mereka. Pendekatan ini sejalan dengan taksonomi Bloom yang direvisi oleh Anderson dan Krathwohl dalam (Saleh, 2025) yang menempatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (analyzing, evaluating, creating)
sebagai tujuan pembelajaran yang penting. Pemberian kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi ide dan pendapat dalam suasana yang aman
Penerapan kepemimpinan demokratis terbukti meningkatkan partisipasi aktif siswa secara signifikan. Siswa menunjukkan perubahan positif berupa keberanian bertanya, keaktifan menjawab, antusiasme dalam praktik, dan kepercayaan diri yang meningkat. Hasil penelitian juga menunjukkan hubungan positif antara kepemimpinan demokratis dengan peningkatan prestasi belajar siswa. Siswa yang sebelumnya mengalami prestasi rendah menunjukkan perbaikan signifikan setelah mendapat pendekatan demokratis. Melalui diskusi, penjelasan yang jelas, praktik langsung, dan bimbingan individual, siswa mampu mengatasi kesulitan belajar dan prestasi akademik mereka meningkat secara bertahap. Hal ini sejalan dengan penelitian Putri (2025) Umpan balik dalam Pembelajaran berfungsi sebagai media untuk berkomunikasi antara guru dan siswa dalam upaya meningkatkan pemahaman, memotivasi belajar, dan mengarahkan siswa untuk mencapai hasil akademik yang lebih baik.
Secara keseluruhan, Kepemimpinan demokratis sangat penting untuk meningkatkan partisipasi dan prestasi di kelas. Praktik kewarganegaraan aktif yang dipromosikan oleh pedagogi demokratis membantu pemahaman dan pengembangan karakter siswa; sebagai hasilnya, siswa menjadi lebih bertanggung jawab, mandiri, dan percaya diri saat mereka bersekolah. Hal ini sejalan dengan tujuan utama pendidikan sebagaimana tercantum dalam prinsip-prinsip panduan Sistem Pendidikan Nasional, yang mendorong kematangan penuh setiap siswa.
Menurut keterbatasan studi ini, gaya kepemimpinan demokratis meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa. Variabel pengganggu yang mungkin termasuk karakteristik sekolah, interaksi siswa-guru, dan dinamika siswa-pendidik mungkin telah memengaruhi hasil karena penelitian ini hanya mencakup satu sekolah MT dengan rasio siswa-guru yang relatif rendah. Ada sekolah-sekolah yang sangat berbeda satu sama lain dalam hal ukuran kelas, budaya sekolah, keragaman siswa, dll. Hal itu sama sekali tidak berpengaruh pada kehidupan mereka.
Kemampuan guru untuk menjaga ketertiban di kelas dan jumlah keterlibatan siswa dalam debat kelas adalah dua faktor terpenting dalam mencapai kepemimpinan demokratis yang sukses, menurut penelitian ini. Meskipun sebagian besar siswa memahami konsep pengendalian diri dan komunikasi yang baik, beberapa dari mereka masih memiliki pertanyaan.
Terlepas dari jenis kelasnya, penelitian ini menemukan bahwa kepemimpinan demokratis berhasil. Hanya perlu sedikit penyesuaian untuk menerapkannya. Strategi ini tidak akan berhasil kecuali guru dapat menarik perhatian siswa, memimpin mereka dalam diskusi yang bermakna, dan menghargai sudut pandang unik mereka.
Temuan menunjukkan bahwa ruang kelas yang secara aktif melibatkan siswa, melalui fasilitas seperti tempat duduk yang nyaman dan promosi diskusi terbuka, lebih mungkin mencapai tingkat partisipasi siswa yang tinggi. Selain itu, guru harus memperoleh pelatihan kepemimpinan pembelajaran demokratis jika kita ingin melihat peningkatan jangka panjang dalam praktik pendidikan.
Siswa mempelajari keterampilan kontemporer seperti berpikir kritis, berbicara di depan umum, kerja tim, dan kepercayaan diri melalui kepemimpinan demokratis. Saat menerapkannya, penting untuk mempertimbangkan berbagai faktor lokal, termasuk iklim sekolah, kebijakan pendidikan, dan sumber daya yang tersedia.
Penelitian ini menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan demokratis guru berfungsi sebagai strategi pedagogik yang efektif dalam meningkatkan motivasi dan partisipasi belajar siswa. Implementasi kepemimpinan demokratis tidak hanya berdampak pada peningkatan motivasi intrinsik dan ekstrinsik, tetapi juga membentuk lingkungan belajar yang partisipatif, suportif, dan berpusat pada siswa.
Alih-alih memandang kepemimpinan demokratis sebagai aspek yang bertentangan dalam hubungan guru-murid, penelitian ini menambah literatur dengan berargumen bahwa kepemimpinan demokratis paling baik dipahami sebagai praktik pengajaran yang terintegrasi ke dalam proses pembelajaran. Pemilihan mata kuliah memiliki dampak signifikan pada libido, harga diri, dan hubungan akademis siswa.Secara praktis, hasil penelitian ini mengimplikasikan bahwa guru perlu mengembangkan keterampilan kepemimpinan yang adaptif dan partisipatif untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna. Sekolah juga perlu mendukung budaya belajar yang demokratis agar implementasi pendekatan ini berjalan optimal.
Namun, penelitian ini terbatas pada konteks dan jumlah partisipan yang relatif kecil, sehingga generalisasi temuan perlu dilakukan secara hati-hati. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji kepemimpinan demokratis pada konteks yang lebih beragam serta mempertimbangkan faktor lain seperti budaya sekolah dan karakteristik siswa untuk memperkaya temuan.
Arief, H. S., & Sudin, A. (2016). Meningkatkan Motivasi Belajar Problem-Based Learning (PBL). Jurnal Pena Ilmiah, 1(1), 141–150
Ariyani, Rika et al. 2025. Kepemimpinan dalam Pendidikan. Jambi: CV. RA-Media Publishing
Arsyam, M. (2024). Peranan kepemimpinan guru dalam meningkatkan aktifitas belajar mengajar. Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam, 5(2), 52-62.
Azizah, Nova Auliatul & Widyartono, Didin. 2024. Gaya Belajar Visual, Auditorial, Dan Kinestetik: Temuan Dari Siswa Kelas VII. Journal of Language, Literature, and Arts, 4(11)
Bastian, Adolf dan Reswita. 2002. Model Dan Pendekatan Pembelajaran. Jawa Barat: CV. Adanu Abimata
Fahri, F., & Lubis, M. J. (2022). Gaya Kepemimpinan Demokratis Guru pada Motivasi Belajar Siswa. Jurnal Basicedu, 6(3), 3364-3372.
Fernando, Y., Andriani, P., & Syam, H. (2024). Pentingnya motivasi belajar dalam meningkatkan hasil belajar siswa. ALFIHRIS: Jurnal Inspirasi Pendidikan, 2(3), 61-68.
Fitriya, E., Kurahman, O. T., Tarsono, T., Nurhayati, F., Santora, P., & Rosulina, D. (2025). Peran Motivasi Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 14(1 Februari), 1055-1064.
Fitriyah, Lailatul. 2020. Pendekatan Student Centered Learning (SCL) Dalam Surah Al-Kahfi. Ta’limuna, Vol. 9, No. 01
Garis, R. R., Garvera, R. R., Sihabudin, A. A., & Galuh, U. (2021). Analisis tipe kepemimpinan demokratis kepala desa dalam peningkatan pelayanan publik di desa karangjaladri kabupaten pangandaran. 8, 291–301
Ginanjar, E. G., Darmawan, B., & Sriyono, S. (2019). Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya partisipasi belajar peserta didik smk. Journal of Mechanical Engineering Education (Jurnal Pendidikan Teknik Mesin), 6(2), 206-219.
Haryanti, N., & Anwar, M. A. 2025. Kepemimpinan Pendidikan Islam. Jawa Tengah: Eureka Media Aksara
Istikomah, I., & Haryanto, B. (2021). Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam. Sidoarjo: Nizamia Learning Center
Iyai, Y., Helsa, Y., & Padang, U. N. (2025). Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Melalui Pendekatan Pembelajaran Aktif. Jurnal Arjuna : Publikasi Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Matematika, 3(3), 288-296
Kuswarno, E. (2007). Tradisi fenomenologi pada penelitian komunikasi kualitatif sebuah pedoman penelitian dari pengalaman penelitian. Sosiohumaniora, 9(2), 161.
Larrivee, Barbara. 2002. “The Potential Perils of Praise in a Democratic Interactive Classroom.” Action in Teacher Education 23 (4): 77–88. doi:10.1080/01626620.2002.10463091.
Librianty, H. D., & Sumantri, S. (2014). Peningkatan partisipasi belajar melalui metode bercakap-cakap pada pembelajaran bahasa inggris. Jurnal Pendidikan Usia Dini, 8(1), 1-8.
Maryati, E., Sholeh, M., Saputra, M. R., Viqri, D., Simarmata, D. E., Yunizha, T. D., & Syafitr, A. (2024). Analisis strategi guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di kelas. Jurnal Inovasi, Evaluasi Dan Pengembangan Pembelajaran (JIEPP), 4(2), 165-170.
Mayasari, Novi & Alimuddin, Johar. 2023. Strategi Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa. Jawa Tengah: Rizquna
Mubarok, R. (2022). Guru Sebagai Pemimpin di Dalam Kelas Pada Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT). Ensiklopedia: Jurnal Pendidikan Dan Inovasi Pembelajaran Saburai, 2(01), 19-32.
Muhammad, A. F. N. (2017). Model kepemimpinan guru dalam proses pembelajaran di kelas pada jenjang sd/mi. Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI, 4(1), 29-44.
Mulyana, N. (2017). Hubungan gaya kepemimpinan guru dalam meningkatkan motivasi belajar penjas pada siswa sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Jasmani Dan Olahraga, 2(1), 41-47.
Nasir, A., Nurjana, N., Shah, K., Sirodj, R. A., & Afgani, M. W. (2023). Pendekatan fenomenologi dalam penelitian kualitatif. Innovative: Journal Of Social Science Research, 3(5), 4445-4451.
Nasution, Abdul Fattah. 2023. Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: CV. Harfa Creative
Nissa, K., Program, D., Pendidikan, S., Inggris, B., Alwasliyah, U., Program, D., Pendidikan, S., & Universitas, M. (2021). Peran Guru Dan Strategi Dalam Meningkatkan Partisipasi Siswa. JGK (Jurnal Guru Kita), 51–58
Niswi, Azra et al. 2025. Pengaruh Metode Pembelajaran Aktif Terhadap Kemampuan Kognitif Siswa Pada Mata Pelajaran PAI. Jurnal Penelitian dan Pendidikan Agama Islam. 3(1)
Novianti, Winda. 2025. Pengaruh Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi Terhadap Minat Belajar Siswa Pada Kurikulum Merdeka. Jurnal Penelitian dan Pendidikan Agama Islam. 2(2)
Pahruroji, S. A., & Nugraha, M. S. (2023). The Influence Of Democratic Leadership Style On Teacher Performance In Kuttab & Ppq An-Nubuwwah Sukabumi. Journal Of Humanities And Social Studies, 1(02), 499-507.
Putri, Ratih Deswita & Yulhendri, 2025. Pengaruh Umpan Balik Positif dan Negatif terhadap Engagement Cognitive dan Hasil Belajar pada Mata Pelajaran Ekonomi Kelas XI. Jurnal Pembelajaran, Bimbingan, dan Pengelolaan Pendidikan, 5(12),
Rahayu, R., & Susanto, R. (2018). Pengaruh kepemimpinan guru dan keterampilan manajemen kelas terhadap perilaku belajar siswa kelas IV. Jurnal Pendidikan Dasar Perkhasa: Jurnal Penelitian Pendidikan Dasar, 4(2), 220-229.
Rahman, Sunarti. (2022). Pentingnya motivasi belajar dalam meningkatkan hasil belajar. In Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dasar.
Ramdani, N. G., Fauziyyah, N., Fuadah, R., Rudiyono, S., Septiyaningrum, Y. A., Salamatussa'adah, N., & Hayani, A. (2023). Definisi dan teori pendekatan, strategi, dan metode pembelajaran. Indonesian Journal of Elementary Education and Teaching Innovation, 2(1), 20-31.
Saleh, Baso. et al. 2025. Pendekatan Taksonomi Bloom dalam Penyelenggaraan Pelatihan Government Transformation Academy untuk Penguatan Kompetensi ASN di Era Digital. Didaktika: Jurnal Kependidikan 14(1)
Salim dan Syahrum, 2015, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Ciapustaka Media.
Saman, A. (2010). Pola Pengasuhan Demokratis Orang Tua Dan Gaya Kepemimpinan Demokratis Guru Sebagai Prediktor Kecerdasan Emosional Siswa. Psympathic: Jurnal Ilmiah Psikologi, 3(1), 1-14.
SetyoBudi, F. D. A. (2024). Analisis Gaya Kepemimpinan Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa pada Siswa Kelas IV Madrasah Ibtidaiyah. Jurnal Ilmiah Pendidik Indonesia, 3(2), 1-12.
Suharsimi dan Arikunto, 2006, Prosedur Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta
Syahputra, R. (2021). Implementasi Kepemimpinan Guru dalam Pembelajaran MAS Darul Muta’allimin Tanah Merah Kabupaten Aceh Singkil dan SMAS Hidayatullah Kota Subulussalam. MUDABBIR Journal Research and Education Studies, 1(2), 62-71.
Turdjai. 2016. Pengaruh Pendekatan Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar Mahasiswa. TRIADIK, 15, (2): 17-29
Usman, A’zhami Alim & Rohmah, Lailatu. 2024. Pemberian Reward Dalam Pembelajaran Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Anak Usia Dini: Studi Kualitatif Deskriptif. Dunia Anak: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. Vol. 07, No. 02
Utari, S., & Hadi, M. M. (2020). Gaya Kepemimpinan Demokratis Perpustakaan Kota Yogyakarta (Studi Kasus). Jurnal Pustaka Ilmiah, 6(1), 994-1002.
Yanti, S. (2019). Gaya Kepemimpinan guru SD sekolah dasar di dalam kelas. Jurnal Pendidikan Dasar Perkhasa: Jurnal Penelitian Pendidikan Dasar, 5(1), 66-72.