Login
Section Elementary Education Method

Demonstration Drawing Method and Fifth Grade Creativity Growth

Metode Gambar Demonstrasi dan Pertumbuhan Kreativitas Siswa Kelas Lima
Vol. 21 No. 2 (2026): May:

Ba’Agil Widya Arahman (1), Tri Linggo Wati (2)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Creativity is a fundamental component of human intelligence and plays an essential role in elementary education, particularly in visual arts learning where students are encouraged to express ideas through drawing activities. Specific Background: In Al-Ishlah Elementary School, many fifth-grade students experienced difficulties in expressing ideas independently and tended to produce similar and basic drawings, indicating limited creative development. Knowledge Gap: Although the demonstration method has been widely discussed in educational contexts, limited classroom action research specifically examines its application in structured shape drawing activities to foster creativity in upper elementary students. Aims: This study aimed to determine whether the application of the shape-drawing demonstration method could increase the creativity of fifth-grade students at Al-Ishlah Elementary School. Results: Using a two-cycle classroom action research model based on Kurt Lewin, the findings showed a progressive increase in students’ creativity scores from 70.08 in the initial observation to 85.49 in Cycle I and 90.75 in Cycle II, indicating measurable improvement after reflective refinement of instructional practice. Novelty: The study highlights structured shape-based demonstration as a practical classroom strategy to reduce students’ hesitation and dependence on peers during drawing tasks. Implications: The findings suggest that carefully implemented demonstration techniques can support creative expression in visual arts education and provide practical guidance for elementary school teachers in designing structured art instruction.


Keywords: Demonstration Method, Creativity, Classroom Action Research, Drawing Shapes, Elementary Education


Key Findings Highlights




  1. Creativity scores increased consistently across two classroom action cycles.




  2. Reflective revision of instruction reduced students’ hesitation and imitation behavior.




  3. Structured visual modeling supported independent artistic expression.



Pendahuluan

Indonesia saat ini mengalami krisi kreativitas. Kreativitas yang dimaksud adalah bagaimana anak bisa berfikir lebih kreatif dalam memecahkan sebuah masalah. Kreativitas dapat diartikan sebagai bentuk keseimbangan serta pengaplikasian dari tiga aspek yaitu kecerdasan analis, praktis serta kreatif [1]. Tiga aspek ini merupakan komponen penting dari terbentuknya suatu ilmu pengetahuan. Kreativitas menjadi komponen penting terbentuknya kecerdasan manusia yang mana harus dilakukan pengasahan sejak usia dini agar nantinya bisa menjadi bekal untuk kemajuan di masa mendatang. Kreativitas juga dapat didefinisikan sebagai suatu kemampuan untuk memecahkan sebuah permasalahan. Kreativitas adalah kapasitas untuk mengembangkan paradigma baru dalam ekspresi artistik, menurut Hoerce B. Dan Ave English dalam Mistaram [2]. Selain itu, Tirtiana mendefinisikan kreativitas sebagai kapasitas untuk membayangkan, memahami, dan menunjukkan ide-ide dan upaya inovatif untuk menghasilkan kombinasi baru dari bahan-bahan yang sudah ada sebelumnya, sehingga meningkatkan kualitas pengembangan diri siswa [3]. Karena kreativitas terkait dengan penyelesaian masalah dalam hidup dan peningkatan kesejahteraan, maka kreativitas merupakan kualitas penting yang harus dimiliki setiap individu., serta dapat beradaptasi dengan semua perubahan dunia yang dijumpai, maka dari itu diperlukan kreativitas dalam berpikir [4].

Pengembangan kreativitas sangat diperlukan untuk setiap tahap pertumbuhan. Dimulai sejak usia dini, kreativitas sudah dapat dirangsang perkembangannya sampai usia dewasa. Dalam mengembangkan kreativitas cara yang paling sederhana ialah dengan membuat karya dua dimensi dalam bentuk gambar [5]. Menggambar merupakan kegiatan seni rupa, dimana hal ini selaras dengan pembelajaran disekolah yaitu pelajaran seni rupa. Dalam konteks pendidikan seni, kreativitas lebih pada ranah pendidikan formal, berkaitan dengan pemahaman guru kepada siswa atau siswa sebagai subjek yang unik [6]. Seni dan kreativitas saling berkaitan erat. Penulis membandingkannya dengan seni rupa dalam hal ini. Bagian dari seni visual yang diapresiasi melalui sentuhan dan penglihatan disebut seni rupa [7]. Penilaian sebuah karya dapat dilakukan dengan menggunakan empat indikator: Kemampuan beradaptasi, kreativitas, dan detail. Kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap keadaan yang berubah, menemukan solusi baru untuk masalah, memperhatikan detail, gigih, dan menonjol dari yang lain merupakan karakteristik orang yang fleksibel [8].

Dalam pembelajaran, kreativitas juga memiliki peran penting didalamnya. Dengan adanya kreativitas siswa dapat dengan mudah memecahkan suatu masalah karena dapat menilai dari banyak sudut pandang. Karena orang ingin meniru orang lain, teknik demonstrasi merupakan cara mengajar yang baik. Pendekatan demonstrasi bertujuan untuk melakukan perbaikan dalam bidang keterampilan yang dipadukan dengan praktik dengan menggunakan demonstrasi untuk mengilustrasikan suatu konsep atau menunjukkan bagaimana suatu objek terbentuk. [9]. Definisi lain dari teknik demonstrasi adalah cara mengajar dengan memperagakan dan mendemonstrasikan kepada siswa suatu prosedur, keadaan, atau barang tertentu sambil memberikan penjelasan lisan [10]. Guru dapat menerapkan strategi ini di kelas dengan sangat sukses. Menggunakan suatu benda atau media atau barang fisik yang sengaja digunakan untuk memudahkan guru memberikan penjelasan kepada siswa dalam bentuk konkret yang mudah dipahami merupakan salah satu ciri metode demonstrasi, yang dapat diartikan sebagai suatu siklus tahapan belajar siswa yang meliputi pembelajaran berdasarkan demonstrasi. [11]. Lebih jauh, teknik demonstrasi didefinisikan sebagai suatu strategi mengajar yang menggunakan instruksi langsung atau pemanfaatan bahan ajar yang terkait dengan pokok bahasan untuk mengilustrasikan produk, peraturan, prosedur, dan urutan penyelesaian suatu kegiatan [12].

Kemampuan siswa yang dibutuhkan di sekolah sangat beragam. Namun, kemampuan untuk membuat atau mengatur adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki siswa. Hal ini sangat penting karena menjadikan pembelajaran lebih efektif serta hasil menjadik maksimal. Kemampuan siswa untuk membuat atau mengatur merupakan satu-satunya tujuan dari pendekatan demonstrasi [13]. Salah satu manfaat pendekatan ini adalah memudahkan pemahaman siswa terhadap operasi atau proses suatu objek [14]. Siswa yang kesulitan mengekspresikan orisinalitas mereka dalam menggambar mungkin akan merasa lebih mudah menggunakan pendekatan demonstratif, yang melibatkan sketsa bentuk. Dengan digunakannya demonstrasi diharapkan bisa menjadi solusi dari permasalahan yang sering muncul di dunia pendidikan. Penggunaan metode demonstrasi sangat mudah diterapkan pada pembelajaran, khusunya pembelajaran tatap muka. Hal ini sesuai dengan pengertian demonstrasi yang menggunakan media konkret sebagai sumber belajar.

Hasil penelitian observasional tersebut memperkuat temuan yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah PGSD FKIP Universitas Mandiri tentang pengaruh teknik demonstrasi terhadap kemauan belajar dan kreativitas siswa di kelas. Temuan yang diperoleh saat pemberian soal latihan menunjukkan bahwa teknik demonstrasi berdampak signifikan terhadap hasil belajar siswa. [15]. Selain itu, delapan anak sangat kreatif, tiga belas kreatif, dan enam sangat kreatif, menurut penelitian JIMPS tentang pengaruh pendekatan demonstrasi video terhadap kreativitas dalam membuat mosaik di kelas tiga SD Negeri 30 Banda Aceh. Siswa mengalami peningkatan kemampuan kreatif dalam membuat mosaik setelah perlakuan, menurut penelitian ini [16]. Jurnal Ilmiah Siswa: Pendidikan Dasar juga telah menerbitkan penelitian tentang pengaruh teknik demonstrasi pada bahan gambar ornamen terhadap hasil belajar siswa kelas tiga SD Negeri Garot Aceh Besar. Penelitian tersebut menemukan bahwa teknik demonstrasi memengaruhi hasil belajar siswa pada bahan gambar ornamen di kelas III SD Negeri Garot Aceh Besar, dengan hasil 1,70, sebagaimana ditentukan oleh statistik uji-t pada ambang signifikansi α = 0,05. [17]. Artikel yang dimuat dalam Jurnal Kreatif Online mengkaji dampak metode demonstrasi terhadap periodisasi gambar anak kelas V SDN Banawa, Kabupaten Donggala. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan dari nilai rata-rata 79,8 pada siklus I menjadi nilai rata-rata 93,3 pada siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa gambar anak didik menjadi lebih periodisasi. [18].

Pada kenyataannya banyak siswa yang belum dapat menyalurkan kreativitasnya. Mereka kesulitan untuk menyalurkan apa yang mereka pikirkan. Mereka bahkan merasa takut untuk menyalurkan kreativitasnya. Hal ini merupakan permasalahan yang sering muncul dalam dunia pendidikan. Merupakan tugas guru untuk mengatasi permasalahan seperti ini. Berdasarkan hasil observasi di SD Al-Ishlah Rejeni banyak dari siswa yang merasa bingung jika diminta untuk menggambar bebas. Kebanyakan dari mereka hanya menggambar pemandangan gunung yang sangat umum. Hal ini menunjukkan bahwa mereka merasa bingung untuk menyalurkan kreativitasnya.

Namun pada penelitian ini yang menjadi fokus ialah metode demonstrasi yang digunakan dalam menggambar bentuk. Dimana pada pemberian perlakuan peneliti mendemonstrasikan menggambar bentuk kepada siswa yang nantinya diharapkan dapat memberikan pengaruh pada kreativitas siswa. Hal ini diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi untuk merangsang anak untuk mengeluarkan kreativitasnya dan mengurangi kebingungan atau rasa takut anak untuk berkreasi.

Metode

Dua siklus metode penelitian tindakan kelas (PTK) yang digunakan dalam penelitian ini, berdasarkan model Kurt Lewin, meliputi perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi[19]. Salah satu definisi PTK adalah "penelitian tindakan kelas", karena penelitian ini dilakukan di dalam kelas[20]. Penelitian tindakan kelas menonjol dari yang lain karena memungkinkan langkah-langkah praktis untuk meningkatkan pembelajaran dan pembelajaran siswa di kelas [21]. Kunandar menyatakan bahwa penelitian tindakan di dalam kelas didasarkan pada tiga prinsip: pertama, peneliti harus terlibat dalam beberapa program atau kegiatan; kedua, harus ada tujuan untuk meningkatkan program atau kegiatan melalui penelitian tindakan; dan ketiga, harus ada perlakuan untuk meningkatkan program atau kegiatan pembelajaran. Hanya satu kelompok yang menjadi subjek eksperimen dalam penelitian ini. Total ada 28 anak (16 laki-laki dan 12 perempuan) dari kelas 5B SD Al-Ishlah Rejeni yang berpartisipasi dalam penelitian ini. Pada Mei tahun 2025, peneliti melakukan investigasi. Observasi yang cermat merupakan cara pengumpulan data. Instrumen penilaian digunakan untuk melakukan observasi, dan gambar aktivitas digunakan sebagai bukti pendukung untuk analisis masalah. Tindakan kemudian diambil berdasarkan temuan ini. Metode kualitatif untuk mendeskripsikan data digunakan dalam analisis.

Figure 1. Gambar 1. Tahapan PTK menurut Kurt Lewin [21]

Hasil dan Pembahasan

Hasil Penelitian

Siswa dapat belajar cara menggambar dan mengasah kemampuan menggambar mereka dengan menggunakan teknik demonstratif dalam pendidikan seni. Hasilnya, pendekatan ini sangat tepat untuk digunakan dalam pendidikan, khususnya dalam seni visual. Banyak siswa yang kesulitan mengutarakan pendapat mereka. Lebih jauh lagi, pendekatan ini adalah cara yang paling mudah untuk memberikan siswa representasi nyata tentang apa yang ingin diajarkan guru. Dalam penelitian ini, peneliti yang juga merupakan guru kelas melakukan demonstrasi langsung.

Penelitian dilakukan selama 2 hari dimana pada hari pertama dilakukan observasi awal serta siklus 1 sedangkan pada hari kedua dilakukan siklus 2. Sebelum penelitian, peneliti memberikan tes awal untuk mengukur tingkat kreativitas siswa dalam menggambar. Siswa kemudian diminta untuk menggambarkan bentuk kupu-kupu, ikan, dan bunga menggunakan tema taman.pada tahap observasi ditemukan bahwa:

  1. Siswa belum mengerti cara mengintrepretasikan apa yang mereka pikirkan.
  2. Hasil gambar siswa masih dasar.
  3. Garis yang digambarkan siswa masih belum spontan dan gambar banyak yang memiliki kemiripan dengan yang lain.

Setelah dilakukan pretest, diberikan perlakuan Siklus 1 pada hari jum’at 8 Mei 2025 kepada siswa dengan prosedur sebagai berikut:

1. Perencanaan

Pada tahapan ini, peneliti melakukan beberapa kegiatan berupa perancangan modul ajar, instrumen penilaian observasi, lembar observasi, serta menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan.

2. Pelaksanaan

Pada tahap ini peneliti melakukan semua kegiatan sesuai dengan modul ajar dimulai dari pendahuluan sampai penutup. Pelaksanaan dilakukan dengan memulai pembelajaran serta penyampaian materi menggunakan metode demonstrasi menggambar bentuk. Peneliti mendemonstrasikan bagaimana cara menggambar bentuk dasar dari bunga, ikan, dan kupu-kupu. Bersamaan dengan ini lembar observasi diberikan. Observasi yang dikerjakan siswa adalah posttest 1.

3. Pengamatan

Pengamatan dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Pengamatan dilakukan dengan mengamati aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran. Dari hasil observasi tersebut dianalisa tingkat keberhasilan dan kekurangan proses pembelajaran. Analisa menggunakan instrumen penliaian yang telah dibuat. Uji N-gain digunakan untuk proses analisa sehingga diperoleh nilai rata-rata pada angka 85,49. Nilai ini masih belum memenuhi karena masih banyak siswa yang belum mendapat skor maksimal pada tiap indikator. Maka dari itu peneliti melanjutkan penelitian pada siklus 2.

4. Refleksi

Refleksi dibutuhkan agar penelitian bisa lebih maksimal. Dengan refleksi peneliti dapat menganalisa kekurangan dari tahap sebelumnya. Pada siklus 1 peneliti menjumpai penyebab belum maksimalnya hasil yang diperoleh. Hal ini disebabkan masih banyak siswa yang melihat pekerjaan temannya. Sehingga skor yang diperoleh belum maksimal. Selain itu juga sebagian dari siswa masih ragu dengan apa yang mereka gambar yang menyebabkan garis menjadi putus-putus. Adapun yang harus dilakukan oleh peneliti adalah harus lebih tegas agar siswa tidak melihat pekerjaan temannya. Selain itu peneliti juga harus bisa meyakinkan siswa agar tidak ragu dalam menggambar atau menuangkan apa yang mereka pikirkan.

Setelah siklus 1 dilakukan, dilanjutkan siklus 2 pada sabtu 9 Mei 2025 dengan prosedur sebagai berikut:

1. Perencanaan

Pada tahapan ini, peneliti melakukan perencanaan sama seperti siklus sebelumnya.

2. Pelaksanaan

Pada tahap ini peneliti melakukan semua kegiatan sesuai dengan modul ajar dimulai dari pendahuluan sampai penutup. Pelaksanaan dilakukan dengan memulai pembelajaran serta penyampaian materi menggunakan metode demonstrasi menggambar bentuk. Peneliti mendemonstrasikan bagaimana cara menggambar bentuk dasar dari bunga, ikan, dan kupu-kupu. Bersamaan dengan ini lembar observasi diberikan. Observasi yang dikerjakan siswa adalah posttest 2.

3. Pengamatan

Pengamatan dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Pengamatan dilakukan dengan mengamati aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran. Dari hasil observasi tersebut dianalisa tingkat keberhasilan dan kekurangan proses pembelajaran. Analisa menggunakan instrumen penliaian yang telah dibuat. Uji N-gain digunakan untuk proses analisa sehingga diperoleh nilai rata-rata pada angka 90,75. Nilai ini sudah memenuhi karena sudah banyak siswa yang mendapat skor maksimal pada tiap indikator. Oleh karena itu pada siklus 2 telah mengalami peningkatan pada nilai rata-rata yang diperoleh.

4. Refleksi

Dari kekurangan pada siklus 1 telah berkurang pada siklus 2. Proses pembelajaran berjalan dengan menggunakan metode demonstrasi menggamabr bentuk berjalan dengan baik dan lancar

Pembahasan

Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas menggambar siswa selain menciptakan strategi pengajaran untuk pendidikan seni rupa. Karya siswa berfungsi sebagai sumber data penelitian, dan diantisipasi bahwa ketika siswa diberi tindakan, kreativitas mereka akan meningkat. Kontras antara karya anak-anak sebelum dan sesudah menerima intervensi menunjukkan hal ini.

Pada penelitian ini, gambar yang dihasilkan siswa pada tahap pretest masih belum beraturan atau belum imajinatif. Namun setelah melalui siklus 1 peningkatan pada kreativitas siswa melalui penerapan metode demonstrasi menggamabr bentuk masih belum memenuhi dikarenakan sebagian besar siswa masih belum mendapat nilai sempurna serta adanya siswa yang nilainya masih sangat kurang. Hal ini disebabkan karena kebiasaan siswa yang menlihat atau menyontek pekerjaan temannya. Selain itu juga terdapat siswa yang masih ragu untuk menuangkan kreativitasnya yang menyebabkan nilai perolehannya sangat minim.

Pada siklus 2, penerapan metode demonstrasi menggambar bentuk menunjukkan hasil yang lebih baik daripada siklus 1. Perubahan ini merupakan hasil dari adanya perbaikan-perbaikan melalui tahap refleksi di siklus 1. Hasil yang diperoleh menjadi lebih baik pada siklus 2. Hasil gambar siswa dominan sudah dibuat sesuai dengan kreativitas mereka. Hal ini menunjukkan siswa sudah mulai bisa menyalurkan kreativitasnya.

Melalui tabel hasil penelitian dapat dilihat adanya peningkatan nilai kreativitas dari siklus I ke siklus II. Berikut tabel hasil penelitian:

Tahapan Skor
Observasi awal 70,08
Siklus I 85,49
Siklus II 90,75
Table 1. Tabel 1. Hasil Penelitian

Dari tabel di atas terlihat bahwa nilai siswa meningkat dari pengamatan pertama hingga siklus II. Nilai siswa pada pengamatan pertama adalah 70,08. Nilai tersebut merupakan nilai hasil dari pretest yang dianalisi menggunakan rubrik penilaian instrumen dengan uji n-gain. Nilai tersebut menujukkan kurangnya kreativitas siswa dalam menggambar. Pada siklus I perolehan nilai menjadi 85,49 yang diperoleh dari posttes 1 dengan uji n-gain. Nilai tersebut masih belum memenuhi sehingga menunjukkan adanya kekurangan atau permasalahan pada siklus 1. Sedangkan pada siklus II nilai meningkat lagi menjadi 90,75 yang diperoleh dari posstest 2 dengan uji n-gain. Peningkatan yang dialami merupakan hasil dari refleksi pada siklus 1. Temuan ini mendukung gagasan bahwa mendorong siswa untuk menggambar bentuk menggunakan teknik demonstrasi dapat meningkatkan kreativitas mereka.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian siswa kelas 5B SD Al-Ishlah, penggunaan metode demonstrasi menggambar bentuk memberikan dampak positif terhadap kreativitas siswa dalam mempelajari keterampilan seni rupa terkait menggambar motif dan pola hias. Hal ini dilakukan sesuai dengan modul ajar yang telah dikembangkan. Dimana kreativitas siswa dianalisis berdasarkan indikator kreativitas. Dengan kreativitas hasil karya siswa tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pada kreativitas siswa. Peneliti berharap agar semua guru dapat menjadi mediator dalam menyalurkan kreativitas siswa, karena dengan disalurkannya kreativitas ini dapat berpengaruh baik pada masa depan siswa. Selain itu guru diharapkan dapat memilih dan memilah metode pembelajaran yang digunakan agar siswa tidak merasa bosan sehingga dapat menciptkan atmosfer belajar yang nyaman dan menyenangkan.

Ucapan Terima kasih

Atas izin Allah SWT, penulis dapat menyelesaikan penelitian ini, oleh karena itu puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat-Nya. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan dorongan kepada penulis hingga penelitian ini selesai. Kepada Dr. Septi Budi Sartika, M.Pd., Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan, yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di SD Al-Ishlah. Kepada Ketua Program Studi PGSD, Ibu Dr. Kemil Wachidah, S.Pd.I, M.Pd., yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di SD Al-Ishlah. Kepada pembimbing penulis, Ibu Dr. Tri Linggo Wati, M.Pd., yang telah memberikan semangat dan dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan penelitian ini. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kepala Sekolah SD Al-Ishlah yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian terhadap putra-putrinya. Terakhir, ucapan terima kasih kepada kedua orang tua penulis atas doa dan dukungan yang tak henti-hentinya, serta kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

References

[1] H. A. Alfatika, T. M. Novi, and P. A. Putra, “Peran Mind Mapping Dalam Pengembangan Keterampilan Kreativitas Siswa di Sekolah Dasar,” IMEIJ, vol. 5, no. 1, p. 335, 2024.

[2] N. A. Miftah and N. Hanifah, “Penerapan Project Based Learning pada Tema 3 Benda di Sekitarku untuk Meningkatkan Kreativitas dan Hasil Belajar Kelas III SD Negeri 4 Cindaga,” Didaktika: Jurnal Pendidikan, vol. 13, no. 1, pp. 219–230, 2024.

[3] K. Ary, “Kreativitas Tokoh dalam Novel Garuda Gaganeswara,” BAPALA, vol. 11, no. 1, pp. 210–221, 2024.

[4] K. Tinggi and R. D. I. Sdn, “Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Sekolah Dasar ELSE,” Elementary School Education Journal, vol. 6, pp. 331–350, 2022.

[5] A. N. Rachmayani, Kreativitas Seni dan Pembelajarannya, 1st ed. Yogyakarta: LKiS, 2019.

[6] T. F. Lestari, A. A. Wakih, and D. Chandra, “Meningkatkan Kreativitas Menggambar Siswa Kelas V SD Menggunakan Teknik Sketsa Motif Payung Geulis Tasikmalaya,” vol. 8, no. 3, pp. 1168–1176, 2024.

[7] W. S. K. Sari, N. Fajrie, and L. Kironoratri, “Kreativitas Karya Dekoratif Siswa dalam Pembelajaran Project Based Learning,” Jurnal Papeda: Jurnal Publikasi Pendidikan Dasar, vol. 6, no. 1, pp. 23–31, 2024.

[8] S. Resy Nirawati, “Pengaruh Metode Demonstrasi terhadap Keterampilan Menggambar Dekoratif Siswa Sekolah Dasar,” Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, vol. 9, pp. 533–542, 2024.

[9] F. Inayah, S. S. D. Pendit, and Y. R. Lagandesa, “Penggunaan Metode Demonstrasi untuk Meningkatkan Hasil Karya Sesuai Periodisasi Gambar Anak,” Jurnal Kreatif Online, vol. 9, no. 4, pp. 58–68, 2021.

[10] E. Salsabila and R., “Pengaruh Metode Demonstrasi untuk Meningkatkan Kreativitas dan Motivasi Belajar Siswa,” Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD FKIP Universitas Mandiri, vol. 9, pp. 175–187, 2023.

[11] M. S. Sutikno, Metode dan Model-Model Pembelajaran. Lombok: Holistica, 2019.

[12] I. Hidayat, 50 Strategi Pembelajaran Populer. Yogyakarta: Diva Press, 2019.

[13] M. A. K. Budiyanto, Sintaks 45 Metode Pembelajaran dalam Student Centered Learning, 1st ed. Malang: UMM Press, 2016.

[14] E. Salsabila and R., “Pengaruh Metode Demonstrasi untuk Meningkatkan Kreativitas dan Motivasi Belajar Siswa,” Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD FKIP Universitas Mandiri, vol. 9, pp. 175–187, 2023.

[15] B. Ulfa, F. Aida, and Mislinawati, “Penerapan Metode Demonstrasi Berbantuan Media Video terhadap Kreativitas Membuat Karya Mozaik,” JIMPS, vol. 8, no. 4, p. 4350, 2023.

[16] P. N. Yasmin, A. Fitri, and Mislinawati, “Pengaruh Metode Demonstrasi pada Materi Gambar Dekoratif terhadap Hasil Belajar Peserta Didik,” Jurnal Ilmiah Mahasiswa Elementary Education Research, vol. 7, no. 4, 2022.

[17] F. Inayah, S. S. D. Pendit, and Y. R. Lagandesa, “Using Demonstration Method to Improve Students’ Drawing Work Based on Periodization,” Jurnal Kreatif Online, vol. 9, no. 4, pp. 58–68, 2021.

[18] Julfatujahra, L. H. Maula, and I. Nurasiah, “Peningkatan Kreativitas Siswa Melalui Teknik Kolase pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar,” Jurnal Cakrawala Pendas, vol. 8, no. 3, pp. 877–883, 2022.

[19] S. Kuswandi et al., Penelitian Tindakan Kelas, 1st ed. Medan: Yayasan Kita Menulis, 2021.

[20] Supardi and S. Arikunto, Penelitian Tindakan Kelas, Revisi ed. Jakarta: Bumi Aksara, 2017.

[21] Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008.

[22] W. Sanjaya, Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Kencana, 2009.