Login
Section Information Technology Education Method

Phonics Media Assisted Reading Gains in Dyslexic Elementary Learners

Peningkatan Kemampuan Membaca dengan Bantuan Media Fonik pada Siswa SD dengan Disleksia
Vol. 20 No. 3 (2025): August:

Tita Nur Prasetya (1), Kemil Wachidah (2)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background Reading literacy is a fundamental competence in elementary education and becomes more challenging for children with dyslexia who experience phonological processing difficulties. Specific Background Instructional media that connect graphemes and phonemes, such as phonics media, are considered supportive tools to facilitate early reading practice in inclusive classrooms. Knowledge Gap However, empirical classroom-based evidence using a single-subject experimental approach to document measurable reading progress among dyslexic learners remains limited. Aims This study aimed to determine whether phonics media could improve beginning reading skills of a dyslexic child in an inclusive elementary school setting. Results Using a quantitative single-subject pre-experimental design with interviews, pretest–posttest measures, and 13 observation sessions across baseline and intervention phases, reading scores increased from 40–50% during initial baseline to 70–100% during intervention and were maintained at 90–100% in the second baseline, indicating consistent upward trends and stable performance. Novelty The study provides detailed phase-based visual analysis of individual learning progress through baseline–intervention–baseline conditions within authentic classroom practice. Implications These findings suggest that phonics-based learning media can serve as practical instructional support for teachers in inclusive schools to assist dyslexic students’ early reading development and encourage active participation in literacy activities.


Keywords: Phonics Media, Dyslexia, Beginning Reading, Single Subject Research, Inclusive Education


Key Findings Highlights




  1. Scores rose progressively across thirteen structured sessions




  2. Skills maintained after withdrawal of treatment phase




  3. Classroom implementation feasible for special needs learners



Pendahuluan

Berdasarkan pernyataan UNESCO bahwa pendidikan memiliki potensi transformatif untuk merubah kehidupan dan merupakan inti misinya dalam membina perdamaian, mengentaskan kemiskinan, dan memajukan pembangunan berkelanjutan. Pendidikan mempunyai peranan terpenting dalam kemajuan suatu bangsa dan berfungsi sebagai media untuk menafsirkan pesan-pesan konstitusi serta sebagai sarana dalam membentuk karakter nasional. Dengan adanya bangsa yang cerdas, akan tercipta ruang lingkup kehidupan yang lebih baik, yang secara bertahap mengarah pada pembentukan kemandirian. Membaca adalah salah satu aspek penting dari pendidikan tersebut [1]. Membaca adalah aktivitas multifaset yang mencakup dimensi fisik dan mental. Aspek fisik melibatkan gerakan mata dan kejelasan visual, sedangkan komponen mental berkaitan dengan memori dan pemahaman [2].

Seperti yang dinyatakan oleh Tampubolon, membaca adalah salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang mendasar dan memainkan peran penting dalam komponen komunikasi tertulis [3]. Membaca adalah salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang penting, yang meliputi menulis, berbicara, dan mendengarkan [4]. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Muhaimi Mugni Prayugo bahwa membaca merupakan aktivitas yang sangat penting. Aktivitas ini memungkinkan siswa memperoleh banyak informasi dan pesan, membantu mereka mendapatkan pengetahuan yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Pada hakikatnya, tujuan dari membaca yaitu guna mengekstrak informasi dari teks. Informasi ini dikumpulkan secara efektif ketika pembaca memahami isi materi yang sedang dibaca [5]. Dengan adanya pemaparan diatas mengenai pengertian membaca bahwa terdapat fenomena siswa yang kemampuan membacanya masih kurang. Dalam proses pembelajaran di sekolah, tampaknya masih ada kesulitan yang belum teratasi oleh siswa, dengan berbagai faktor yang menyebabkan mereka kurang lancar dalam membaca. Aktivitas belajar di rumah sangat krusial; tanpa perhatian yang memadai dari orang tua, anak-anak mungkin tidak menerima dukungan yang mereka butuhkan, perihal ini dapat menimbulkan akibat yang serius, kemungkinan besar kemampuan belajar anak akan terhambat, terutama bagi mereka yang belum teliti dalam membaca [6].

Terutama pada peserta didik yang memiliki berkebutuhan khusus, anak berkebutuhan khusus (ABK) yaitu seseorang yang punya ciri berbeda dari orang-orang yang diakui normal oleh masyarakat umum [7]. Salah satu jenis kebutuhan khusus adalah disleksia. Istilah disleksia asalnya dari bahasa Yunani, di mana “dys” artinya kesukaran dan “lexis” mengacu pada kata-kata. Johnson mendefinisikan disleksia sebagai ketidakmampuan belajar mendasar yang ditandai dengan kesulitan dalam bahasa tulis, yang meliputi membaca, menulis, dan mengeja, dan mungkin juga mencakup tantangan dengan angka. Masalah-masalah ini muncul dari gangguan neurologis yang kompleks dan gangguan dalam struktur dan fungsi otak. Disleksia dapat diperiksa dari sudut pandang neurologis, kognitif, dan perilaku dan umumnya ditunjukkan oleh pengolahan informasi yang tidak efektif. Ini mencakup kesulitan dalam pemrosesan fonologi, ingatan kerja, penamaan cepat, dan otomatisasi keterampilan dasar [8]. Mengidap disleksia berarti menghadapi tantangan dengan kata-kata atau simbol tertulis, yang umumnya dikenal sebagai kesulitan membaca. Disleksia merupakan suatu disabilitas dalam membaca dan belajar yang disebabkan oleh gangguan dalam pemrosesan otak terhadap simbol. Kondisi ini terkait dengan perubahan pada struktur dan fungsi bagian kiri otak yang terlibat dalam proses membaca dan bahasa [9]. Penyebab disleksia menurut Frith terdiri dari tiga faktor: 1) Faktor biologis, yang mencakup riwayat keluarga dengan disleksia, masalah selama kehamilan, serta permasalahan kesehatan yang berkaitan, 2) Faktor kognitif, yang meliputi pola artikulasi bahasa dan minimnya kesadaran fonologis pada seseorang, dan 3) Faktor perilaku, yang mencakup permasalahan didalam hubungan sosial, stress sebagai akibat dari ketidakmampuan belajar, serta gangguan motorik [10].

Berdasarkan National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS, 2011), disleksia yaitu kelemahan dalam belajar secara khusus yang berakar pada sistem saraf dan terutama mengganggu kemampuan individu dalam membaca dan berbicara. Selain itu, Rowan memandang disleksia sebagai ketidakmampuan membaca dan tantangan dalam bahasa tertulis, termasuk membaca dan mengeja. Disleksia mencakup berbagai ketidakmampuan dan kesulitan yang memengaruhi proses belajar pada satu ataupun beberapa bidang, seperti membaca, menulis dan mengeja. Umumnya, seseorang dengan disleksia menunjukkan kemampuan membaca yang di bawah apa yang diharapkan mengingat kecerdasan rata-rata mereka [11]. Disleksia yakni gangguan kognitif yang ditandai oleh ketidakmampuan membaca pada siswa. Mereka mengalami kesulitan dalam mengenali huruf-huruf yang serupa, sehingga tulisan terlihat seperti coretan yang sulit dibaca. Peserta didik dengan disleksia tidak harus bersekolah di lembaga pendidikan khusus, karena mereka memiliki kecerdasan rata-rata bahkan di atas rata-rata. Namun, hasil belajar mereka cenderung rendah akibat kesulitan dalam membaca dan memahami teks yang dibaca [12]. Disleksia adalah kondisi yang ditandai oleh kesulitan yang signifikan dalam membaca. Seseorang yang mengidap disleksia sering kali mempunyai IQ yang normal atau bahkan lebih tinggi dari rata-rata [13].

Pada peserta didik yang berkembang normal, kemampuan membaca biasanya sudah timbul pada usia 6 atau 7 tahun. Tetapi, hal tersebut tak berlaku untuk peserta didik dengan disleksia, yang terkadang masih belum lancar membaca hingga usia 12 tahun. Kesulitan ini sering kali terdeteksi ketika anak mulai bersekolah [14]. Diperlukan usaha untuk mendukung peserta didik yang mengidap disleksia agar mereka bisa berkonsentrasi ketika proses pembelajaran. Peserta didik dengan disleksia sering kali mengalami kesulitan untuk memfokuskan perhatian pada informasi yang mereka baca dari kertas putih biasa [15]. Riddick (Raharjo & Wimbarti, 2020) mengidentifikasi beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mendeteksi tanda-tanda gangguan disleksia pada usia dini. Indikator tersebut meliputi kesulitan dalam mengucapkan kalimat yang panjang dan kompleks, mengalami kesulitan dalam belajar, kesulitan dalam menyebutkan nama bulan dalam kalender, serta kesulitan membedakan huruf seperti p, d, q, dan b [16]. Kesulitan dalam membaca dapat diatasi jika pendidik mencoba berbagai metode dalam mengajarkan membaca. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa kesulitan membaca tidak selalu berkaitan dengan tingkat kecerdasan, melainkan berkaitan dengan proses persepsi informasi yang diterima melalui panca indera yang mungkin keliru [17]. Maka dari itu, anak-anak penderita disleksia memerlukan metode pembelajaran khusus untuk membantu mereka memahami bacaan secara akurat. Salah satu pendekatan yang efektif yaitu dengan memanfaatkan media yang memudahkan membaca, seperti media fonik.

Media pembelajaran ialah alat yang berguna untuk mengkomunikasikan pesan atau informasi yang memiliki tujuan pendidikan tertentu. Media tersebut berperan penting dalam membantu siswa memperoleh konsep, keterampilan, dan kompetensi baru [18]. Media fonik merujuk pada alat atau materi yang dirancang untuk mengajarkan hubungan antara huruf (grafem) dan bunyi (fonem) dalam suatu bahasa. Media ini sering kali berupa perangkat lunak, aplikasi interaktif, permainan seru, kartu berwarna-warni, atau materi visual dan auditori lainnya yang sangat membantu anak-anak dalam mempelajari serta memahami bunyi-bunyi yang membentuk kata-kata [19]. Penggunaan media fonik untuk anak disleksia karena media fonik membantu anak disleksia mengembangkan kemampuan membaca dan mengeja serta meningkatkan keterampilan dalam komunikasi. Tarigan (Darmata, 2015:24) menguraikan beberapa aspek keterampilan membaca permulaan, yang meliputi: 1) menggunakan pelafalan yang tepat, 2) menggunakan ungkapan yang sesuai, 3) menerapkan intonasi, nada, pelafalan, dan penekanan yang benar, 4) membaca dengan keras dan jelas saat mengucapkan kata atau kalimat, 5) menunjukkan sikap positif dalam membaca, termasuk ekspresi dan emosi, 6) memahami tanda baca, 7) membaca dengan lancar, 8) memperhatikan kecepatan membaca, 9) membaca tanpa terlalu terfokus pada teks, dan 10) membaca dengan percaya diri. Sebaliknya, Akhadiah (1993:146) mengidentifikasi empat aspek utama keterampilan membaca permulaan: 1) pelafalan, 2) kelancaran, 3) kejelasan suara, dan 4) intonasi [20].

Penelitian sebelumnya pada anak-anak disleksia mencakup studi yang menyelidiki dampak stimulasi fonik visual terhadap peningkatan kemampuan membaca pada penderita disleksia. Temuan tersebut menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam keterampilan membaca sebelum dan sesudah penerapan stimulasi fonik visual. Hal tersebut disebabkan oleh fakta bahwa media visual fonik dapat membantu memperlancar pemahaman serta memperkuat ingatan [21].

Berdasarkan hal tersebut, peneliti berencana untuk melakukan penelitian mengenai pengaruh media fonik terhadap peningkatan kemampuan membaca anak dengan disleksia di SD Muhammadiyah 1 Candi Labschool UMSIDA. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk menilai efektivitas media fonik guna meningkatkan kemampuan membaca anak-anak yang mengalami disleksia.

Metode

Studi ini mengadopsi metode kuantitatif dengan pendekatan eksperimen subjek tunggal (Single Subject Research). Sunarto dkk. (2006: 41), mengungkapkan bahwasanya “SSR merupakan strategi penelitian yang secara khusus dirancang untuk mendokumentasikan perubahan perilaku subjek seseorang. Pada hakikatnya, penelitian subjek tunggal yaitu komponen fundamental dari analisis perilaku.” [22]. Desain penelitian yang dipilih adalah penelitian pre-eksperimental, di mana peneliti hanya melakukan percobaan pada satu kelompok tanpa adanya kelompok pembanding. Kelompok tersebut diberikan pre-tes, kemudian setelah perlakuan, mereka diberikan post-tes. Prosedur ini juga dikenal dengan sebutan One-group Pre-test Post-test Design [23].

Pretest Treatment Posttest
O1 X O2
Table 1. Tabel One-group Pre-test Post-test Design

O1 = test awal sebelum siswa diberi perlakuan (pretest)

X = perlakuan diberikan saat kelas mulai (treatment menggunakan media fonik)

O2 = test akhir sesudah siswa diberikan perlakuan (posttest)

Teknik pengumpulan data yang diterapkan peneliti yakni meliputi Wawancara, Pretest-Posttes, dan Dokumentasi asli. Instrumen penelitian wawancara untuk guru terdiri dari 14 pertanyaan, sedangkan untuk peserta didik soal pretest dan posttest tidak ada perbedaan yaitu terdapat 13 soal mengenai membaca permulaan, hal ini diselenggarakan di SD Muhammadiyah 1 Candi Labschool UMSIDA. Pada penelitian ini peneliti melibatkan subjek tunggal peserta didik kelas II sebagai objek penelitiannya. Data disajikan dalam bentuk numerik dan akan dianalisis menggunakan metode statistik sebagai alat uji. Langkah terakhir adalah menarik kesimpulan berdasarkan hasil mengenai dampak media fonik terhadap peningkatan kemampuan membaca anak disleksia di SD Muhammadiyah 1 Candi Labschool UMSIDA.

Hasil dan Pembahasan

Hasil

Data dari penelitian subjek tunggal dianalisis menggunakan analisis visual data grafis. Data dikumpulkan dari observasi dalam kondisi A1 (baseline sebelum intervensi), kondisi B (selama intervensi), dan kondisi A2 (baseline setelah intervensi dihentikan). Peneliti melaksanakan observasi selama 13 sesi, yang terdiri dari empat pertemuan pada kondisi baseline A1, lima pertemuan pada kondisi intervensi B, dan empat pertemuan pada kondisi baseline A2. Setiap sesi dievaluasi dengan menghitung jumlah respons yang benar dan menghitung persentasenya. Hasil penelitian mengungkapkan bahwasanya dalam kondisi baseline A1, skornya adalah 40, 40, 50, dan 50, dalam kondisi intervensi B, skornya meningkat menjadi 70, 80, 90, 90, dan 100; dan dalam kondisi baseline A2, skornya adalah 90, 90, 100, dan 100. Ini menunjukkan bahwa persentase kemampuan membaca awal meningkat setelah perawatan atau intervensi menggunakan media fonik dibandingkan dengan kondisi sebelumnya.

Dalam menganalisis grafik menurut kondisi, dapat dicatat bahwa kondisi baseline (A1) memiliki empat observasi dengan rata-rata (mean) sebesar 45%. Batas atas untuk kondisi dasar ini adalah 48,75%, sedangkan batas bawahnya adalah 41,25%. Estimasi tren menunjukkan sedikit kecenderungan naik pada kondisi baseline (A1), meskipun masih dalam kategori rendah. Stabilitas data pada baseline (A1) ditunjukkan berada dalam kisaran 40% hingga 50%. Secara khusus, tingkat perubahan pada kondisi baseline (A1) untuk observasi pada dua hari pertama yaitu 40%, sedangkan tiga hari terakhir menunjukkan nilai 50%. Oleh karena itu, perbedaan antara nilai observasi awal dan akhirnya dihitung sebagai nilai tertinggi dikurangi nilai terendah (50% - 40%) yang menunjukkan perubahan sebesar 10%. Oleh karena itu, pada kondisi baseline (A1), level perubahan tersebut menunjukkan peningkatan (+) meskipun sangat rendah.

Dalam kondisi intervensi (B), lima pengamatan dilakukan, menghasilkan rata-rata 86%. Batas atas untuk kondisi ini adalah 92,75%, sedangkan batas bawah adalah 79,25%. Estimasi tren menunjukkan pergerakan ke atas, dan jejak data dalam kondisi intervensi (B) juga mencerminkan tren positif. Selain itu, tingkat perubahan dalam kondisi ini, berdasarkan lima titik data, menunjukkan bahwa nilai awal pasca-perlakuan adalah 70%, dan nilai akhir mencapai 100%. Selisih antara nilai tertinggi dan terendah (100% - 70%) berjumlah 30%, yang menandakan peningkatan (+) tingkat perubahan selama intervensi.

Pada kondisi baseline (A2), terdapat empat sesi dengan rata-rata 92,5%, batas atas 100%, dan batas bawah 85%. Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1, estimasi tren untuk kondisi baseline (A2) menunjukkan arah ke atas. Lebih jauh, stabilitas pada kondisi baseline (A2) tetap konsisten, dengan proporsi kestabilan 100%. Guna menilai kecenderungan jejak data, hal ini setara dengan mengevaluasi tren arah. Variabel kemampuan membaca permulaan pada anak disleksia terletak dalam rentang 100%-80%. Pada kondisi A2, persentase terendahnya adalah 80%, sedangkan persentase tertingginya adalah 100%. Sehingga, level perubahan pada kondisi baseline (A2) adalah 100%-80% = 20%, yang menunjukkan adanya peningkatan.

Figure 1. Tabel 1 Analisis dalam kondisi Kemampuan Membaca Permulaan

Penjelasan tabel rangkuman hasil analisis dalam kondisi kemampuan membaca permulaan sebagai berikut :

  1. Panjang kondisi atau banyaknya sesi pada kondisi baseline 1 (A1) yang dilakukan yaitu sebanyak empat sesi, untuk intervensi (B) sebanyak lima sesi, dan baseline 2 (A2) sebanyak empat sesi.
  2. Berdasarkan garis tabel diatas, diketahui bahwa pada kondisi baseline 1 (A1) kecenderungan arahnya mendatar. Garis pada kondisi intervensi (B) arahnya cenderung naik ini berarti kondisi meningkat (+). Garis pada kondisi baseline 2 (A2) arahnya cenderung naik, dalam hal ini kondisinya tetap meningkat (+).
  3. Hasil perhitungan kecenderungan stabilitas pada baseline 1 (A1) yaitu 100%, artinya data yanh diperoleh stabil. Kecenderungan stabilitas pada intervensi (B) yaitu 80% artinya dapat naik tetapi tidak stabil. Hal ini terjadi karena data yang diperoleh heterogen (bervariasi), pada setiap sesi kemampuan peserta didik dalam membaca kata bertambah atau meningkat. Sehingga perolehan data setiap sesi berbeda. Kecenderungan stabilitas pada baseline 2 (A2) yaitu 100%, hal ini data naik secara stabil.
  4. pada kondisi baseline 1 (A1) kecenderungan arahnya mendatar. Garis pada kondisi intervensi (B) arahnya cenderung naik ini berarti kondisi meningkat (+). Garis pada kondisi baseline 2 (A2) arahnya cenderung naik, dalam hal ini kondisinya tetap meningkat (+).

Figure 2. Grafik 1 Frekuensi Peningkatan Kemamapuan Membaca Permulaan pada Baseline I-Intervensi-Baseline II

Kondisi pertama adalah tahap baseline I, di mana partisipan tidak menerima intervensi atau perlakuan apapun. Pada tahap ini, peneliti mengamati kemampuan membaca peserta sebagaimana adanya, tanpa dukungan atau intervensi apa pun. Fase baseline ini berfungsi sebagai uji coba awal yang akan digunakan untuk membandingkan dengan data yang dikumpulkan selama proses intervensi di kemudian hari. Ada empat sesi pertemuan yang dilakukan selama kondisi baseline ini.

Figure 3.

Kondisi kedua adalah tahap intervensi (B). Selama fase ini, peserta didik menerima perawatan atau intervensi melalui penggunaan media fonik untuk membantu mereka membaca kata-kata yang ditugaskan. Kondisi intervensi ini mencakup lima sesi pertemuan.

Figure 4.

Kondisi ketiga adalah tahap baseline II, di mana partisipan kembali tidak menerima perlakuan apapun. Tujuannya adalah untuk mengamati apakah kemampuan yang sudah ditingkatkan melalui intervensi pada kondisi sebelumnya dapat bertahan meskipun tak ada intervensi lebih lanjut. Tahap baseline II berfungsi sebagai post-test dari hasil eksperimen pada kondisi intervensi dan mencakup empat sesi pertemuan.

Pembahasan

Melalui hasil yang telah didapat sebelumnya tentang media fonik terhadap kemampuan membaca anak disleksia bahwa media fonik membawa pengaruh bagi anak disleksia, karena media ini membantu anak disleksia dalam mengeja kata. Pada grafik diatas anak disleksia sebelum diberi perlakuan dan setelah diberikan perlakuan menunjukkan adanya perubahan yang sebelum diberi perlakuan hasilnya 10% saat diberi perlakuan 30% sedangkan hasil akhir/setelah tidak diberi perlakuan 20%. Hal ini menunjukkan adanya dampak positif dari pemberian treatment menggunakan media pembelajaran fonik untuk anak disleksia. Oleh karena itu, solusi untuk memberikan layanan pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus yaitu dengan menawarkan intervensi yang mengatasi tantangan dan hambatan belajar mereka. Dengan menyediakan layanan pembelajaran yang tepat, diharapkan anak berkebutuhan khusus akan mampu memaksimalkan potensinya.

Berbagai macam penanganan dapat dilaksanakan dalam mengontrol kesulitan belajar terhadap peserta didik disleksia, salah satunya yakni dengan memanfaatkan media sebagai sarana bantu pembelajaran yang mendukung. Penggunaan media fonik pada aktivitas pembelajaran melibatkan seluruh panca indera dan juga memanfaatkan peran teman sekelas untuk membantu peserta didik yang mendapatkan kesulitan dalam membaca dan menulis. Peran media sangat krusial saat proses pembelajaran, karena dapat secara efektif memperlancar penyampaian informasi dari guru kepada siswa. Lebih jauh lagi, dengan diperkenalkannya kurikulum 2013, pemanfaatan media dalam pendidikan semakin ditekankan [24]. Metode pembelajaran konvensional yang mengandalkan penggunaan media secara minimal mulai diabaikan. Pernyataan tersebut sejalan dengan anggapan bahwasanya pada era globalisasi dan informasi, pemanfaatan media pembelajaran bukan sekadar persyaratan, tetapi keharusan. Pendidikan di era ini harus berfokus pada media yang mengembangkan keterampilan abad ke-21. Efektivitas media akan terganggu bila metode yang dipergunakan kurang tepat. Oleh karena itu, guna meningkatkan peran media dalam menyampaikan konsep materi pelajaran, penting untuk memadukannya dengan metode pengajaran yang kreatif dan inovatif yang juga bisa mendorong minat dan motivasi siswa dalam menghadapi tantangan.

Inovasi dalam pendidikan semakin penting untuk meningkatkan pengalaman belajar. Mengandalkan buku teks atau penjelasan guru saja dapat menghambat pemahaman peserta didik. Peserta didik cenderung lebih mudah memahami materi ketika suasana belajar menyenangkan, sehingga mereka dapat tertarik untuk belajar sambil bermain [25]. Pemilihan media pembelajaran perlu diselaraskan dengan kondisi dan situasi masing-masing lingkungan pendidikan. Salah satu faktor terpenting yang wajib diperhatikan ketika memilih media pembelajaran yaitu usia peserta didik. Untuk peserta didik sekolah dasar, media visual seperti gambar adalah yang paling tepat. Selain itu, media yang dipilih harus memenuhi kriteria efektivitas optimal, artinya media harus dapat meningkatkan keterlibatan kelima indra peserta didik untuk memudahkan pembelajaran, eksplorasi, dan pemahaman konsep.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat diambil simpulan bahwasanya media fonik memberi pengaruh positif terhadap kemampuan membaca anak disleksia. Media fonik yang mengandung unsur-unsur yang menarik, misalnya warna dan gambar yang beragam, mampu membuat peserta didik menjadi berminat untuk belajar membaca, khususnya bagi peserta didik pemula yang memiliki kendala berdasarkan karakteristiknya. Dengan demikian, pemilihan media pembelajaran yang sesuai dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik sebagai target audiens sangat berperan penting dalam keberhasilan proses pembelajaran.

Simpulan

Penelitian yang diselenggarakan di SD Muhammadiyah 1 Candi Labschool UMSIDA, sebuah lembaga pendidikan inklusif, mengungkapkan bahwa pemanfaatan media pembelajaran fonik efektif meningkatkan keterampilan membaca awal pada anak disleksia. Penelitian ini dilakukan selama 13 sesi, dibagi menjadi tiga fase: baseline (A1) selama empat sesi, intervensi (B) selama lima sesi, dan baseline kedua (A2) selama empat sesi. Temuan penelitian menunjukkan adanya peningkatan keterampilan membaca awal pada peserta didik disleksia. Analisis data dalam setiap fase dan lintas fase menunjukkan tren positif, stabilitas, dan peningkatan laju perubahan. Secara keseluruhan, analisis menunjukkan adanya kemajuan dalam kemampuan membaca permulaan peserta didik disleksia. Data ini mengindikasikan bahwa media pembelajaran, seperti media fonik, membuat anak merasa nyaman, senang, dan aktif dalam proses belajar. Bahkan, banyak individu yang mengalami disleksia di masa kecilnya menunjukkan kecerdasan yang tinggi saat dewasa. Selain itu, karena peserta didik dengan disleksia tidak memiliki kecerdasan yang rendah, guru dapat memperlakukan mereka sama seperti siswa normal.

References

[1] I. F. N. D. Primasari and A. Supena, “Improving Reading Skills of Dyslexic Students Using Multisensory Methods in Elementary School,” Jurnal Basicedu, vol. 5, no. 4, pp. 1799–1808, 2021.

[2] I. Irdamurni, K. Kasiyati, Z. Zulmiyetri, and J. Taufan, “The Effect of Mingle Model to Improve Reading Skills for Students with Dyslexia in Primary School,” Journal of ICSAR, vol. 2, no. 2, pp. 167–170, 2018, doi: 10.17977/um005v2i22018p167.

[3] S. Rejeki, “Improving Reading Skills in Elementary Students,” Social Humanities and Education Studies, vol. 3, no. 3, pp. 2232–2237, 2020.

[4] M. Fita and A. Untari, “Analysis of Early Reading Difficulties in Elementary School Students,” Journal of Elementary Education, vol. 3, no. 3, pp. 432–439, 2020.

[5] I. S. Lubis, L. A. Siregar, and S. B. Hasibuan, “Improving Reading Skills Using Phonics Method,” Jurnal ESTUPRO, vol. 8, no. 3, pp. 1–7, 2023.

[6] U. N. Baroroh et al., “Reading Difficulties in Grade II Elementary Students,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, vol. 8, 2023.

[7] Suparyanto and Rosad, “Children with Special Needs,” Jurnal Pendidikan Khusus, vol. 5, no. 3, pp. 248–253, 2020.

[8] S. D. Nirmala et al., “Reading and Writing Ability of Dyslexic Students Through Simultaneous Multisensory Teaching,” Dinamika Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, vol. 14, no. 2, 2022, doi: 10.30595/dinamika.v14i2.14352.

[9] B. A. B. Ii, “Learning Difficulties in Elementary Education,” Educational Review, pp. 12–43, 2015.

[10] S. Rejeki, “Improving Reading Ability Using PAKEM Model,” Social Humanities and Education Studies, vol. 3, no. 3, 2020.

[11] I. Irdamurni et al., “Improving Teachers’ Skills in Teaching Dyslexic Students,” Jurnal Pendidikan Kebutuhan Khusus, vol. 2, no. 2, 2018, doi: 10.24036/jpkk.v2i2.516.

[12] A. Widodo et al., “Series Picture Media for Dyslexic Reading Skills,” MAGISTRA Media Pengembangan Ilmu Pendidikan Dasar, vol. 11, no. 1, 2020, doi: 10.31942/mgs.v11i1.3457.

[13] U. Muawwanah and A. Supena, “Letter Card Media for Dyslexic Children,” Aulad Journal of Early Childhood, vol. 4, no. 2, pp. 98–104, 2021.

[14] K. A. Hariandja and F. Fatmawati, “Spelling Puzzle Media for Beginning Reading,” Jurnal Penelitian Pendidikan Khusus, vol. 9, pp. 60–68, 2021.

[15] N. L. Maghfiroh and A. Bahrodin, “Flashcard Learning Media for Dyslexic Reading Ability,” Inovasi Kurikulum, vol. 19, no. 1, pp. 69–78, 2022.

[16] F. W. Yulianti and U. Sri, “Indonesian Journal of Educational Counseling,” Indonesian Journal of Educational Counseling, vol. 7, no. 1, pp. 131–138, 2020.

[17] N. Jumahir and Armaini, “Syllable Card Media for Dyslexic Children,” Journal of Multidisciplinary Research and Development, vol. 2, no. 1, pp. 270–279, 2019.

[18] M. Hasan et al., Media Pembelajaran. Jakarta: Edu Publisher, 2021.

[19] P. R. Intan and M. C. Eka, “Development of Audiovisual Phonics Media,” Jurnal PAUD Teratai, vol. 12, no. 1, pp. 1–7, 2023.

[20] L. H. Hadian et al., “Big Book Media for Simple Sentence Reading,” Didaktik Jurnal Ilmiah PGSD, vol. 4, no. 2, pp. 212–242, 2018, doi: 10.36989/didaktik.v4i2.73.

[21] R. Iskandar et al., “Stimulating Early Reading Difficulties in Elementary School,” Mimbar PGSD Undiksha, vol. 9, no. 2, 2021, doi: 10.23887/jjpgsd.v9i2.34362.

[22] C. U. Aiman et al., Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Rajawali Press, 2022.

[23] D. R. N. Indah, Desain Penelitian Eksperimental. Semarang: FK Unissula, 2017.

[24] A. P. Wulandari et al., “The Importance of Learning Media in Teaching Process,” Journal of Education, vol. 5, no. 2, pp. 3928–3936, 2023.

[25] P. S. Dasar and M. Pembelajaran, “Flashcard Media and Dyslexic Reading Skills,” Al-Madrasah Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, vol. 8, no. 3, pp. 995–1003, 2024, doi: 10.35931/am.v8i3.3564.