Muhamad Rifqi Hidayatullah (1), Ruli Astuti (2)
General Background: The rapid expansion of digital technology has integrated social media into students’ daily lives, including platforms such as TikTok that provide entertainment and information access. Specific Background: Elementary-level Madrasah Ibtidaiyyah students increasingly use the platform after school and during leisure time, raising concerns regarding character development, particularly politeness and responsibility. Knowledge Gap: Limited qualitative evidence explains how routine usage relates to these specific character traits within the Madrasah context. Aims: This study investigates usage patterns and analyzes their relation to students’ politeness and responsibility. Results: Using interviews, observations, and documentation with fifth-grade students, findings show daily usage of one to three hours, mainly for entertainment and informational content. Positive materials such as religious and motivational videos support moral understanding and respectful behavior, while inappropriate content and prolonged viewing are associated with delayed duties and imitation of negative actions. Novelty: The study provides contextual qualitative insights linking social media habits with character indicators in an Islamic elementary school environment. Implications: Schools and parents are encouraged to guide ethical media practices, supervise screen time, and integrate character education strategies to balance digital engagement and responsibility.
Keywords: Social Media Use, Student Character, Politeness Behavior, Responsibility Attitude, Madrasah Education
Key Findings Highlights
Daily viewing reaches up to three hours after school
Constructive content supports moral awareness and respectful conduct
Excessive exposure relates to postponed academic and household duties
Kemajuan teknologi informasi sangat memengaruhi kehidupan manusia. Mayoritas orang di seluruh dunia kini mengandalkan internet sebagai bagian integral dari kehidupan mereka, mulai dari mencari informasi, bekerja, berbelanja, dan bermedia sosial [1]. Gadget merupakan wujud nyata dari kemajuan zaman dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, dimana perkembangan yang sangat cepat telah memengaruhi cara berfikir dan perilaku manusia [2]. Di era kemajuan teknologi saat ini, penggunaan media sosial telah meluas ke berbagai lapisan masyarakat, termasuk di kalangan siswa sekolah dasar. Media sosial adalah media online yang digunakan untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan berbagi informasi dengan orang lain [3]. Selain itu, media sosial juga dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran, seperti yang ditunjukkan oleh video instruksional yang ada di aplikasi seperti YouTube, TikTok, dan Instagram.
Media sosial adalah teknologi informasi yang paling banyak digunakan masyarakat dan membuat banyak hal menjadi mudah. Jika digunakan dengan benar, media sosial dapat meningkatkan minat siswa dalam belajar dan meningkatkan prestasi mereka di sekolah. Namun, siswa sering salah menggunakannya. Media sosial yang paling digunakan oleh siswa termasuk Facebook, YouTube, Twitter, Instagram, WhatsApp, dan TikTok. TikTok adalah media sosial yang dapat dilihat dan didengar oleh jutaan orang, sehingga sangat populer di kalangan masyarakat dan anak-anak. Siswa sangat senang menggunakan media sosial ini karena bagi mereka media sosial yang bermanfaat [4] Hadirnya berbagai jenis media pembelajaran dan munculnya model pembelajaran baru yang menggunakan kemajuan teknologi menunjukkan pengaruh teknologi pada dunia pendidikan modern.[5]
Tiktok adalah salah satu aplikasi paling populer yang digunakan oleh kaum pria dan wanita di seluruh dunia, karena diketahui menjadi salah satu aplikasi paling terkenal di dunia. Aplikasi ini memiliki 1,5 miliar pengunduh, menempati peringkat kedua setelah WhatsApp [6]. TikTok telah berkembang menjadi platform di mana orang dapat menunjukkan eksistensi mereka yang bangga kepada orang lain. Rasa ingin tahu yang tinggi membuat mereka lebih senang mencoba semua konten yang ada di aplikasi TikTok selama 15 detik, dengan stiker, gambar tiga dimensi, dan berbagai efek musik. Mereka akan lebih suka bermain gawai daripada duduk dan belajar tentang PR sekolah [7].
Tiktok memiliki sejumlah dampak negatif, hal tersebut telah banyak dibahas dalam berbagai artikel. Dampak tidak langsung dari aplikasi ini adalah banyaknya video yang tidak pantas yang menunjukkan perilaku atau sopan santun remaja dan anak saat ini. Ketergantungan anak pada perangkat elektronik juga dipengaruhi oleh kurangnya pengawasan orang tua. Anak-anak yang dibiarkan bermain handphone tanpa pengawasan biasanya lupa waktu dan sering mengabaikan tanggung jawab mereka[8]. Orang tua harus mengawasi penggunaan media sosial anak karena anak-anak terkadang tidak dapat menilai mana yang benar dan mana yang salah [9]. Jika orang tua tidak mengawasi penggunaan media sosial anak-anak mereka dengan ketat, sangat mungkin anak-anak akan mengakses konten yang tidak pantas untuk dilihat oleh anak-anak/orang lain.
Semakin berkembangnya zaman, terutama dalam hal teknologi, akses ke media sosial menjadi lebih mudah, terutama Tiktok. Tiktok sangat disukai oleh semua orang, termasuk guru dan siswa, karena penggunaannya yang mudah dan banyaknya video yang menarik perhatian mereka. Oleh karena itu, mereka senang menggunakannya [10]. Sudah seharusnya para siswa memiliki sifat tanggung jawab. Pandangan tanggung jawab ini juga perlu diterapkan dalam setiap tahapan proses pendidikan karena ini membantu kita mengetahui bagaimana karakter siswa sebenarnya dalam proses penilaian[11].
Selain itu, perilaku sopan santun merupakan salah satu komponen penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang hidup dalam lingkungan sosial. Berbicara dengan orang yang lebih tua, misalnya, dapat menumbuhkan rasa hormat dan kasih sayang dari orang lain, sehingga perilaku tersebut perlu dijunjung tinggi. Sopan santun juga dapat dimaknai sebagai tata krama yang mencerminkan penghargaan, penghormatan, dan berbudi pekerti yang baik. Sifat sopan santun ini harus ditanamkan pada anak sejak usia dini, karena tanpa hal tersebut anak dapat dinilai kurang baik oleh lingkungan sekitarnya [12]. Sikap sopan santun menunjukkan bahwa seseorang menyadari bahwa dirinya sebagai makhluk sosial yang hidup berdampingan dengan orang lain di mana pun mereka berada [13]. Tanggung jawab adalah sikap untuk menjalankan kewajiban dan berani menanggung konsekuensi dari keputusan yang dibuat. Dalam pendidikan, sikap tanggung jawab mencakup dapat menyelesaikan tugas, mematuhi aturan, dan menghargai serta menghormati orang lain [14].
Sebagian besar sekolah dasar di Indonesia, ada aturan yang melarang siswa membawa ponsel pintar ke sekolah. Akibatnya, siswa tidak dapat memainkan aplikasi TikTok di sekolah. Mereka hanya dapat mengakses TikTok sepanjang hari ketika mereka berada di rumah. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa siswa menghabiskan waktu seharian untuk membuka Tik-Tok dan menonton konten yang mereka anggap menarik dan menyenangkan. Contoh konten yang mereka sukai termasuk kucing, anime, berita viral, kpop, edit foto dan video, tarian viral, memasak, dan meme. Mereka sering melihat video yang dianggap dapat menurunkan stres dan meningkatkan mood dari aplikasi Tiktok. Dalam wawancara terhadap siswa sekolah dasar tentang bagaimana reaksi mereka ketika bermain TikTok saat dipanggil oleh orang tua untuk membantu atau melakukan sesuatu, dikatakan bahwa beberapa siswa menghargai lawan bicara dengan mematikan gadget mereka dan fokus pada lawan bicara, tetapi beberapa tetap memainkan aplikasi TikTok ketika seseorang mengajak mereka berbicara. Akibatnya, tiktok mempengaruhi sikap menghargai dan menghormati orang lain juga [15].
Guru harus menanamkan karakter melalui sikap teladan, peringatan, nasihat, dan sanksi tegas. Diharapkan para siswa akan menjadi sopan di mana pun mereka berada. Pada saat ini, ada faktor eksternal yang menjadikan kebudayaan terus berubah, seperti banyaknya budaya barat yang masuk, yang akan membuat sulit untuk tetap sopan, selain tidak sopan terhadap orangtuanya sendiri. Anak-anak di zaman sekarang juga tidak sopan dengan orang yang lebih tua dari mereka seperti memanggil orang dengan nama langsung, dan ada lagi cara mendandani anak-anak.[16] Di era digital yang penuh tantangan ini, karakter pendidikan sangat penting untuk membentuk siswa sekolah dasar yang bertanggung jawab, jujur, dan bermoral. Strategi pengembangan karakter termasuk kebiasaan positif, contoh yang baik dari guru dan orang tua, dan kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka.[17]
Dari observasi awal yang dilakukan oleh peneliti terkait penggunaan tiktok di sekolah, diperoleh informasi bahwa siswa banyak yang mengunakan media sosial, termasuk aplikasi tiktok dan terdapat dampak negatif terhadap karakter siswa kepada teman maupun kepada guru. Dampak siswa laki-laki sering melihat konten game ditiktok dan di dalam konten game itu ada perkataan yang tidak pantas untuk ditiru, saat di sekolah siswa laki laki selalu berbicara tidak sopan kepada temannya sendiri seperti menyebukan nama orang tua,berkata jorok,membully temannya yang kadang juga sampai adu mulut hingga bertengkar dengan teman sendiri dan siswa kalau bercanda kepada temanya memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Terkadang mereka tidak membedakan bagaimana bercanda kepada temannya dengan bercanda kapada guru dan orang tua Karena di tiktok ini anak-anak bebas sekali mengakses konten-konten tentang apa saja yang mereka mau, dan tidak semua konten di tiktok ini positif, bahkan yang tidak sesuai dengan norma dan konten dewasa juga dengan bebas ditonton.
Dari permasalahan di atas, maka penelitian ini penting dilakukan untuk membantu siswa memahami bagaimana menggunakan media sosial dengan bijak dan kritis. Dengan memahami penggunaan tik tok, para pendidik, orang tua, dan pembuat kebijakan dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk memaksimalkan manfaat media social (tik tok) dan meminimalkan resiko penggunaan tik tok terhadap karakter siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan tik tok dan menganalisis dampaknya terhadap karakter sopan santun dan tanggung jawab siswa kelas V di salah satu Madrasah Ibtida’iyyah di Sidoarjo
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yang menjabarkan data penelitian secara lisan, tulisan dan dianalisis tanpa menggunakan statistik. Penelitian ini dilakukan di salah satu Madrasah Ibtida’iyyah di Sidoarjo. Adapun subjek penelitian ini adalah siswa kelas 5. Peneliti melakukan wawancara kepada siswa untuk memperoleh informasi terkait penggunaan tiktok dan dampaknya terhadap karakter mereka. Peneliti juga melakukan observasi di lingkungan sekolah untuk mengetahui karakter siswa seperti sopan santun dan tanggung jawab. Setelah melakukan pengumpulan data dilanjut dengan menganalisis data yaitu melalui Triangulasi data.
Penggunaan TikTok Siswa Madrasah Ibtidaiyyah
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada 10 siswa terkait kebiasaan mereka menggunakan Tiktok, ditemukan bahwa mayoritas siswa cukup aktif menggunakan aplikasi tersebut, terutama setelah pulang sekolah dan saat liburan, dengan durasi rata-rata 1 hingga 3 jam per hari. Sebanyak 7 siswa (70%) mengaku sering mengakses TikTok, sementara 3 siswa lainnya (30%) menyatakan bahwa mereka menggunakan TikTok dengan frekuensi yang cukup sering. Hal ini menunjukkna bahwa Tiktok telah menjadi bagian dari keseharian siswa. Dari sisi waktu penggunaan, semua siswa menyatakan bahwa mereka biasanya menggunakan TikTok setelah pulang sekolah, dan 6 diantaranya juga menggunakan TikTok saat hari libur. Pola ini menggambarkan bahwa Tiktok menjadi hiburan pilihan favorit bagi siswa. Intensitas penggunaan aplikasi ini cenderung meningkat ketika libur sekolah. Berikut merupakan diagram yang menunjukkan frekueansi penggunaan TikTok oleh siswa.
Figure 1. Diagram 1. Frekuensi Penggunaan TikTok oleh Siswa
Adapun jenis konten yang ditonton oleh siswa sangat beragam, sebagian besar cenderung pada konten yang bersifat menghibur, seperti mukbang, make-up dan kecantikan, mama Lela, tarian dan hiburan lucu, bus telolet, merakit laying-layang dan sepeda ontel. Sebagian besar siswa menjelaskan bahwa menyukai konten mukbang karena memiliki daya tarik tinggi dan bersifat menghibur. Selanjutnya konten Mama Lela juga menjadi favorit sebagian besar siswa karena dianggap memiliki popularitas di kalangan remaja. Konten sepeda onthel dan modifikasinya menjadi favorit sebanyak empat siswa. Hal ini menunjukkan adanya minat terhadap konten yang berhubungan dengan hobi atau kegiatan tradisional. Sementara itu, konten make up dan kecantikan lebih diminati oleh sebagian siswa perempuan. Hal ini menandakan bahwa adanya ketertarikan terhadap tren kecantikan di kalangan remaja perempuan. Selain konten hiburan, beberapa siswa juga mengaku menggunakan TikTok yang bernilai spiritual dan motivasi, misalnya konten dakwah. Salah satu siswa juga mengaku menonton TikTok untuk mencari informasi terkait kesehatan. Dari beberapa penjelasan siswa tersebut, dapat disimpulna bahwa terdapat preferensi yang beragam dalam penggunaan TikTok, yang cenderung disesuaikan dengan minat masing-masing siswa. TikTok tidak hanya dimanfaatkan sebagai media hiburan saja, tetapi juga sebagai wadah untuk mengekspresikan hobi, mengikuti tren, dan mendapatkan informasi yang dinilai berguna dan menginspirasi.
Figure 2. Gambar 1 Siswa menggunakan TikTok
Pada gambar 1 tampak siswa sedang menggunakan TikTok untuk menonton konten yang berkaitan dengan hiburan. Menurut penjelasan para siswa, setelah menggunakan TikTok dalam waktu yang lama, sebagian besar siswa merasa senang dan terhibur, meskipun ada beberapa yang mengaku mengalami kebosanan saat terlalu lama menggunakan TikTok. Siswa juga cenderung memilih konten yang positif yang memberikan dampak yang baik. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Amalia dan Naufal bahwa penggunaan TikTok memberikan dampak yang kompleks pada perilaku dan motivasi siswa. Mayoritas siswa merasa senang dan terhibur karena konten-konten kreatif yang ditampilkan, seperti video tantangan, tutorial, dan hiburan interaktif. Namun ada juga sebagian siswa yang mengaku merasa bosan jika durasi penggunaan terlalu lama atau jika kontennya mulai monoton [18].
Terkait alasan siswa dalam menggunakan TikTok, mayoritas siswa menggunakan TikTok sebagai sarana hiburan karena kontennya yang menyenangkan dan mampu mengusir kejenuhan. Sebanyak enam siswa menyatakan bahwa mereka merasa terhibur dengan berbagai konten yang ada. Beberapa siswa melihat TikTok sebagai media belajar informal yang memberikan pemahaman baru melalui konten yang bermanfaat.
Terkait manajemen waktu, sebagian besar siswa menunjukkan cara yang efektif dalam mengelola waktu antara menonton Tiktok dan menyelesaikan tugas mereka. Para siswa berusaha menyelesaikan tanggung jawab terlebih dahulu sebelum bermain TikTok, meskipun ada beberapa yang terkadang menunda tugas sekolah. Sebagian besar siswa mengklaim dapat mengatur waktu dengan baik. Namun, ada beberapa siswa yang mengaku kadang-kadang menunda tugas karena asyik bermain TikTok. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Annida bahwa penggunaan TikTok dapat menyebabkan siswa menunda komitmen dan tanggung jawab mereka, seperti belajar, berdoa, dan membantu orang tua dalam pekerjaan rumah tangga [19]. Secara keseluruhan siswa menunjukkan disiplin yang baik dalam mengatur waktu dan menjaga keseimbangan antara tugas atau pekerjaan dan hiburan.
Dampak Penggunaan TikTok terhadap Karakter Sopan Santun dan Tanggung Jawab Siswa
Menurut penjelasan dari beberapa siswa, bahwa konten-konten yang mereka tonton yang bersifat positif seperti dakwah dan motivasi, dapat mempengaruhi sikap sopan santun mereka terhadap guru, teman, dan orang-orang di sekitar sekolah. Hasil penelitian inj senada dengan pendapat Maulana bahwa penggunaan TikTok berpengaruh positif terhadap perilaku sopan santun siswa, dengan tingkat pengaruh yang kuat. Media sosial TikTok sangat berpengaruh terhadap perilaku sopan santun siswa, baik secara positif maupun negatif. Beberapa siswa memberikan pengaruh secara negatif dengan meniru konten yang tidak sesuai, sementara yang lain mendapatkan manfaat positif dengan mengakses konten edukatif dan inspiratif [20]. Dengan demikian, TikTok tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga memiliki potensi untuk memberikan dampak positif terhadap karakter siswa.
Konten positif seperti dakwah dan motivasi yang ditonton oleh siswa juga berkontribusi terhadap pemahaman mereka mengenai nilai-nilai moral, seperti menghargai orang lain dan sopan santun. Namun, ada tantangan dalam memastikan bahwa siswa tetap memiliki kontrol terhadap waktu penggunaan dan memilih konten yang positif. Menurut Penelitian Rukmana siswa dengan intensitas penggunaan TikTok yang tinggi cenderung memiliki kemampuan belajar yang lebih rendah dibandingkan dengan siswa yang menggunakan TikTok dengan intensitas rendah. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan TikTok yang berlebihan dapat mengganggu konsentrasi dan waktu belajar siswa, sehingga mempengaruhi kemampuan belajar mereka [21].
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan Tiktok menjadi bagian dari rutinitas siswa, terutama setelah pulang sekolah dan di waktu luang dengan durasi penggunaan rata-rata 1 hingga 3 jam per hari. Mayoritas siswa menggunakan Tiktok untuk hiburan dan memperoleh berbagai informasi.
Penggunaan Tiktok membawa dampak positif dan negatif terhadap karakter siswa. Konten positif seperti dakwah dan motivasi dapat meningkatkan sopan santun dan pemahaman moral mereka. Sementara itu, konten negatif beresiko meniru perilaku buruk dan menunda tanggung jawab saat belajar dan membantu orang tua. Meskipun siswa mengklaim bisa mengatur waktu dengan baik, kenyataannya masih ada yang menunda tugas karena keasyikan bermain Tiktok.
Dari hasil penelitian ini, peneliti memberikan saran bagi sekolah agar meningkatkan peran guru dan wali kelas dalam memberikan edukasi tentang etika bermedia sosial, manajemen waktu, serta pentingnya sopan santun dan tanggung jawab. Bagi peneliti berikutnya dapat mengeksplorasi terkait peran kontrol orang tua terhadap penggunaan Tiktok dan strategi pendidikan karakter berbasis teknologi sebagai upaya mitigasi dampak negatif dari media sosial.
[1] A. Khuryati et al., “Strengthening Social Media Ethics Among Students in the Society 5.0 Era,” Altifani Journal of Community Service Ushuluddin Adab dan Dakwah, vol. 3, no. 2, pp. 165–181, 2023.
[2] I. D. Harmiyanti and R. Astuti, “The Impact of Gadget Use on Akidah Akhlak Learning Outcomes of Elementary Students,” Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, vol. 1, no. 4, pp. 1–11, 2024, doi: 10.47134/pgsd.v1i4.715.
[3] A. D. Kusumandaru and F. P. Rahmawati, “Implementation of TikTok as a Medium to Strengthen Literary Literacy in Thematic Learning,” Jurnal Basicedu, vol. 6, no. 3, pp. 4876–4886, 2022, doi: 10.31004/basicedu.v6i3.2972.
[4] Z. Bashiroturrohmah et al., “Social Media TikTok and Student Character in Elementary School,” Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial, vol. 1, no. 3, pp. 119–131, 2023.
[5] A. Nurhasanah et al., “Modern Technology and Student Morality and Responsibility,” Student Scientific Creativity Journal, vol. 2, no. 1, pp. 175–186, 2024.
[6] R. N. Harahap et al., “TikTok Use and Self-Confidence of Junior High School Students,” vol. 8, pp. 3359–3368, 2024.
[7] Y. N. Bulele and T. Wibowo, “Analysis of Social Media Phenomena Among Millennials A TikTok Case Study,” Conference on Business Social Science Innovation Technology, vol. 1, no. 1, pp. 565–572, 2020.
[8] Nabilah and Suprayitno, “Social Media TikTok and Politeness Character of Sixth Grade Students,” PGSD FIP Universitas Negeri Surabaya, vol. 10, no. 4, pp. 735–745, 2022.
[9] M. Biduri et al., “TikTok and Politeness Character of Elementary Students,” JKP Jurnal Khasanah Pendidikan, vol. 2, no. 1, pp. 26–35, 2023.
[10] E. T. Bakistuta and M. Abduh, “TikTok and Speech Acts of Elementary Students,” Jurnal Elementary Edukasia, vol. 6, no. 3, pp. 1201–1217, 2023.
[11] F. Farid, “Developing Responsibility Character Through Classroom Activities,” Jurnal Pendidikan Karakter, vol. 14, pp. 114–121, 2023.
[12] N. Wasriyani, “Instilling Politeness Character Through Akidah Akhlak Learning,” Jurnal Tunas Bangsa, vol. 10, no. 2, pp. 92–104, 2023.
[13] S. Hafifah et al., “Analysis of TikTok Use on Students’ Politeness Behavior,” vol. 3, 2025.
[14] I. D. Kurniati et al., Implementation of Honest and Responsible Behavior Through Civic Education in Elementary School. 2015.
[15] J. Saputra and S. Noviyanti, “Interactive Multimedia as Technology-Based Learning Media,” Jurnal Tonggak Pendidikan Dasar, vol. 1, no. 1, pp. 11–33, 2022.
[16] N. A. Husna et al., “Cultivating 5S Culture Smile Greet Salute Polite Courtesy in Elementary School,” Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, vol. 5, no. 2, pp. 561–567, 2022.
[17] A. R. Nizar et al., “Character Development Strategies Outside School Hours in the Digital Era,” Nusantara Educational Review, vol. 3, no. 1, pp. 44–50, 2025.
[18] N. Amalia and N. Nafiardina, “Review of TikTok Use Among Elementary Students Advantages Limitations and Educational Implications,” Jurnal Elementary Edukasia, vol. 7, no. 1, pp. 2392–2410, 2024.
[19] F. W. Annida et al., “TikTok Use and Student Behavior,” Jurnal Basicedu, vol. 8, no. 2, pp. 1574–1580, 2024.
[20] M. R. Maulana, “TikTok and Politeness Behavior of Elementary Students Grades IV–VI,” 2024.
[21] Rukmana, “Intensity of TikTok Use and Student Learning Ability,” Universitas Islam Sultan Agung, 2023.