Login
Section Elementary Education Method

Teacher Exemplary Model in Forming Akhlakul Karimah Students

Guru Teladan dalam Membentuk Siswa Berakhlak Mulia
Vol. 20 No. 1 (2025): February:

Kholilurrohman Ubaidilah (1), Budi Haryanto (2)

(1) Program Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Moral education in Islamic schools plays a central role in shaping students’ character and social responsibility. Specific Background: In the context of SMA Assakinah Sidoarjo, the Islamic Religious Education teacher serves not only as an instructor but also as a daily role model whose behavior directly reflects religious ethics in practice. Knowledge Gap: Previous discussions often emphasize normative perspectives on moral instruction without deeply describing how exemplary conduct is implemented and observed in a specific school environment. Aims: This study aims to analyze the formation of Akhlakul Karimah among students through the teacher’s exemplary model and to describe its achievements in the school context. Results: Using a qualitative case study approach, the findings show that habituation, modeling, and advice contribute to students’ discipline, religious practices, respectful behavior, and avoidance of negative actions. Supporting factors include professional educators, school leadership motivation, and a conducive environment, while parental attention and social media exposure become constraints. Novelty: This study provides an in-depth case-based description of how exemplary practices are systematically integrated into daily school programs. Implications: The findings underline the strategic position of Islamic Religious Education teachers in embedding moral values through consistent conduct, structured religious activities, and school culture development.


Keywords: Akhlakul Karima, Islamic Religious Education, Teacher Role Model, Moral Education, Character Formation


Key Findings Highlights:




  1. Habituation and daily religious routines cultivate disciplined and respectful student conduct.




  2. Consistent educator behavior strengthens spiritual activities and social responsibility.




  3. School culture programs support sustained moral development despite external constraints.



Pendahuluan

Seorang guru sebagai pendidik akan memiliki citra yang baik di masyarakat apabila ia dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa dirinya memang layak untuk dijadikan panutan atau panutan bagi masyarakat sekitarnya. Terutama bagaimana masyarakat melihat sikap dan tindakan guru sehari-hari, patut dicontoh atau tidak. Bagaimana guru meningkatkan kerja pelayanannya, menambah ilmunya. Membimbing dan menyemangati siswa, cara guru berpakaian dan berbicara, serta cara bergaul dengan siswa, teman dan anggota komunitasnya sering menjadi perhatian masyarakat luas.

Keteladanan guru sekolah dalam pembinaan karakter siswa berpengaruh nyata terhadap kepribadian anak di masa depan. Sehingga orang tua harus sangat selektif dalam memilih guru untuk anaknya. Orang tua hendaknya tidak hanya melihat gedung dan lokasi sekolah, tetapi lebih pada bagaimana memilih guru-guru yang berkarakter saleh yang terbaik bagi anak-anaknya. Tentu saja, seorang guru yang berkepribadian saleh akan secara pribadi menanamkan kesalehan kepada murid-muridnya.

Pendidikan akhlak sangat penting bagi manusia, khususnya peserta didik sebagai generasi penerus, agar dapat berperan lebih baik bagi dirinya, keluarganya dan masyarakat sekitarnya, serta bangsa dan agamanya. Moralitas memang berperan dalam daya, kehidupan dan kesejahteraan hidup manusia.

Dengan demikian, setiap guru harus menjadi teladan kunci keberhasilan, termasuk keberhasilan guru dalam mendidik murid-muridnya. Contoh dan contoh lebih penting dari seribu perintah dan larangan. Puisi Arab mengatakan: "Qawul ul-had afshah min Lili 'l-maqal (Perumpamaan lebih fasih daripada kata-kata)". Mengikuti teladan guru, siswa menghormatinya, memperhatikan pelajarannya. Penerapan etika agama dalam pembelajaranlah yang benar-benar dapat menggerakkan pikiran, emosi, dan hati nurani siswa untuk mencapai keberhasilan.

Salah satu tugas dan peran seorang guru, khususnya guru agama ialah dapat memberikan teladan yang baik dan teladan bagi siswanya. Misalnya pada saat memberikan ceramah kepada siswa, sikap dan komunikasi guru yang baik pasti akan membuat siswa merasa aman dalam proses belajar mengajar di sekolah. Kenyamanan ini berdampak positif, seperti siswa mudah menangkap pelajaran, siswa tidak merasa bosan ketika guru memberikan ceramah, siswa mengenal guru. Sebaliknya sikap dan gaya komunikasi seorang guru yang tidak baik, tidak ramah, pemarah, bahkan pemarah pasti akan menghambat proses belajar siswa, dan guru akan dicela dan dibenci.ditelantarkan dan dijauhi, sikap dan gaya kerjanya guru sangat berpengaruh. proses pembelajaran dan etika siswa dalam pelatihan. Berdasarkan latar belakang permasalahan yang ada, peneliti akan membahas dalam artikel dengan judul : “PEMBENTUKAN AKHLAKUL KARIMAH PADA SISWA SMA ASSAKINAH MELALUI METODE MODEL KETELADANAN GURU PAI ”.

I. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah diatas, maka penulis merumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut :

1.Bagaimana pembentukan akhlakul karimah siswa SMA Assakkinah Kabupaten Sidoarjo melalui model keteladanan guru PAI ?

2.Bagaimana pencapaian pembentukan akhlakul karimah melalui keteladanan guru pai sma Assakinah Kabupaten Sidoarjo ?

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang memungkinkan untuk mengetahui atau mendeskripsikan fakta-fakta dari peristiwa yang diteliti untuk memudahkan pengumpulan data yang objektif. Sugiyono (2015: p 209) menyebutkan bahwa metode penelitian kualitatif digunakan peneliti pada kondisi objek yang alamiah.

Menurut Moleong (2009: p 6), penelitian kualitatif adalah “penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, mottindakanivasi, , dll., secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah”.

Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang memiliki sifat alamiah seta hasil dari penelitian ini berbentuk narasi atau deskriptif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Penelitian ini berfokus secara mendalam pada subjek tertentu yang sedang dipelajari sebagai suatu kasus. Data studi kasus dapat diperoleh dari semua pemangku kepentingan. Topik penelitian merupakan sumber data yang dapat memberikan informasi terkait dengan masalah penelitian yang sedang diteliti. Teknik sampling subjek menggunakan teknik purposeful sampling yang dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu (Sugiyono, 2015: p 216).

Hasil dan Pembahasan

Keteladanan Guru PAI dalam membentuk Akhlakul Karimah pada siswa SMA Assakinah

Peran guru dengan siswa sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku siswa sehari-hari seperti memberikan contoh adab saat makan dan minum, seperti makan menggunakan tangan kanan dan membaca doa sebelum makan. Perilaku perilaku tersebut merupakan salah satu contoh perilaku yang baik bagi siswa di masa sekarang dan yang akan datang, ketika guru tidak memperhatikan siswa lagi, siswa akan memiliki akhlak yang buruk.

Model pembinaan etik siswa menggunakan metode utama yaitu memberi contoh kepada siswa di sekolah dalam kehidupan sehari-hari dan dalam kehidupan, karena dengan memberikan contoh yang baik, keteladanan bagi siswa di lingkungan sekolah. Keteladanan dalam pendidikan merupakan perbuatan yang diyakini berhasil mempersiapkan dan membimbing peserta didik secara moral, spiritual, dan sosial. Memang, para pendidik, khususnya di sekolah, adalah contoh paling cemerlang di mata siswa. Keteladanan dalam pendidikan merupakan perbuatan yang diyakini berhasil mempersiapkan dan membimbing peserta didik secara moral, spiritual, dan sosial. Memang, para pendidik, khususnya di sekolah, adalah contoh paling cemerlang di mata siswa. Karena seorang guru mendidik atau bertanggung jawab kepada siswanya tentang etika yang baik dimanapun terutama di depan siswa karena siswa menerapkan apa yang mereka lihat dan guru merupakan seorang teladan yang setiap hari mereka lihat di sekolah. seorang guru.

Berdasarkan hasil observasi di lapangan telah dilakukan pembentukan akhlakul karimah peserta didik SMA Assakinah menggunakan metode sebagai berikut:

Pembiasaan

Pembiasaan merupakan bagian yang berperan besar dalam penanaman akhlak keagama terhadap perilaku siswa karena dapat menumbuhkan dan mengarahkan siswa untuk menghayati dan menerapkannya guna terbentuknya siswa yang berakhlak mulia.

Keteladanan

Metode keteladanan merupakan suatu cara yang dapat dilakukan untuk membentuk akhlakul karimah peserta didik. Metode keteladanan atau yang bisa disebut (modeling) adalah proses mendidik melalui keteladanan tindakan atau perilaku. Tujuan pendidikan Akhlakul Karimah dapat tercapai dengan keteladanan dikarenakan hakikatnya pendidikan Akhlakul Karimah adalah untuk meraih keridhaan Allah SWT dan mengangkat derajat akhlak masyarakat Allah SWT. Pemberian Nasihat

Pemberian nasihat kepada siswa merupakan salah satu cara membentuk akhlakul karimah. didalam nasihat nantinya akan memberi dampak terhadap siswa. Nasihat sendiri adalah sebuah petuah atau peringatan untuk memberi teguran agar menjadi lebih baik.

Peran guru adalah menerapkan serangkaian perilaku yang saling terkait yang dilakukan dalam konteks tertentu dan terkait dengan perkembangan perubahan perilaku dan tujuan perkembangan siswa (Uzer Usman: 2000). Dengan kata lain, peran guru dapat dipandang sebagai tugas yang harus dilakukan guru dalam rangka memberikan kemajuan kepada siswa, yaitu perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa. Ini berarti bahwa guru berada di pusat proses belajar mengajar, membantu siswa mempelajari apa yang belum mereka ketahui dan memahami apa yang telah mereka ketahui.

Ada banyak peran guru, namun ulama hanya mengambil beberapa peran yang paling penting dari guru agama Islam, yaitu:

a) Guru adalah ilustrator. Sebagai performer guru harus memiliki pemahaman dan penguasaan materi pendidikan yang akan diberikan kepada siswa dan mengembangkannya untuk meningkatkan kemampuannya sesuai dengan ilmu yang dimilikinya. Hal ini akan sangat besar pengaruhnya dalam menentukan hasil belajar yang dicapai siswa.

b) Wali kelas. Sebagai pengelola pembelajaran, guru kelas. Sebagai administrator pembelajaran, guru harus mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar, dan ini merupakan salah satu aspek lingkungan sekolah yang perlu dikelola. Lingkungan ini diatur dan dipantau untuk memastikan bahwa kegiatan pembelajaran selaras dengan tujuan pendidikan.

c) Guru sebagai fasilitator dan fasilitator Sebagai fasilitator, guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang media pendidikan karena merupakan alat komunikasi yang membantu proses belajar mengajar menjadi lebih efektif. Guru sebagai fasilitator, sebaliknya, harus dapat menemukan sumber belajar yang bermanfaat yang dapat mendukung tercapainya tujuan dan proses belajar mengajar.

Teladan merupakan bagian penting yang harus melekat dan dimiliki oleh seorang guru. Didalam bidang pendidikan, keteladanan yang dituntut dari guru diwujudkan dalam keteguhan dalam menjalankan perintah agama dan pemahaman akan larangannya, kepedulian terhadap nasib kaum dhuafa, ketekunan dalam mencapai prestasi pribadi dan sosial, ketangguhan dalam menghadapi tantangan, rintangan dan godaan. seperti kecepatan gerakan dan pembaruan. Selanjutnya, kecerdasan guru juga dituntut untuk membaca, menggunakan, dan mengembangkan kesempatan dengan efektif dan kompetitif (Asmani:2004).

Kelebihan dari metode keteladanan ini adalah siswa lebih mudah menerapkan ilmu yang dipelajarinya di sekolah. Guru akan dapat menilai hasil belajar dengan lebih mudah dan tujuan pendidikan akan lebih terarah dan dapat dicapai. Dan mendorong guru untuk selalu berbuat baik karena siswa meniru gurunya. Kelemahannya, masih ada guru yang tidak memiliki kode etik guru. Guru tidak mencerminkan kejiwaan dan akhlaknya sendiri di depan siswa, sehingga siswa menjadi apatis dan tidak termotivasi untuk belajar, serta cenderung melanggar peraturan sekolah.(Asmani:2004).

Keteladanan guru dilihat dari sifat dan perbuatannya. Perkataan dan perilaku guru bersifat teladan yang dapat ditiru siswa. Keteladanan perilaku merupakan faktor yang sangat penting dalam membentuk perilaku baik dan buruk pada diri siswa. Setiap siswa bermimpi memiliki orang yang memenuhi syarat ideal sebagai panutan untuk membimbing hidupnya. Dalam pembinaan guru, karakter dapat menjadi panutan bagi siswa. Tentu saja, jika seorang guru dapat memberikan contoh yang baik, itu adalah salah satu motivasi untuk perilaku yang lebih baik pada siswa. Para guru adalah orang-orang yang baik, berkualitas dan mampu menyelesaikan pekerjaan.

Mengingat nilai-nilai keteladanan seorang guru mata pelajaran agama Islam dalam pembentukan akhlak yang baik di Madrasah Aliyah Assakniah Sidoarjo di satu sisi dengan menanamkan kedisiplinan seperti tidak terlambat ke sekolah, melaksanakan sholat berjamaah, di sisi lain , melalui kebiasaan seperti cium tangan, memberi salam, menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekolah, bakti sekolah, shodaqah, dan shalat berjamaah dengan menanamkan sikap taat, seperti taat, mengikuti tata tertib sekolah, melaksanakan shalat sunnah dan wajib tanpa perintah, serta mendengarkan guru saat pembelajaran. Selanjutnya melatih perhatian siswa, seperti berjabat tangan dan mencium tangan guru sebelum pulang ke rumah, menjaga kebersihan kelas.

Dengan demikian, guru muslim bertanggung jawab membentuk kemampuan dan sikap yang baik didalam dirinya untuk anak didiknya sesuai dengan ajaran Islam. Artinya, pembinaan sikap dan karakter tidak terbatas pada pengawasan kelas saja. Sehingga dapat dikatakan bahwa, peran guru mata pelajaran pendidikan agama Islam dalam membimbing siswa tidak sebatas pembelajaran di dalam kelas saja.

Mempertimbangkan penerapan nilai-nilai keteladanan guru pendidikan agama Islam dalam meningkatkan akhlak siswa dalam penyelenggaraan Madrasah Aliyah Assakniah Sidoarjo melalui penetapan program kegiatan penyambutan, senyum dan sapa, jabat tangan guru setibanya di sekolah , santun kepada guru dan orang lain, mengakrabkan diri dengan kegiatan keagamaan di sekolah dan mengakrabkan diri dengan perilaku siswa melalui kegiatan harian, mingguan, bulanan bahkan tahunan.

Penerapan keteladanan guru dalam meningkatkan akhlak siswa Madrasah Aliyah Assakinah telah mencapai hasil yang baik, yang terlihat pada kegiatan spiritual siswa berprestasi iman dan berbakti, unggul dalam akhlak mulia. perilaku, keunggulan prestasi akademik dan non akademik. Tercapainya hasil keteladanan guru agama terhadap pembinaan akhlak siswa di Madrasah Assakniah Kabupaten Sidoarjo terlihat pada pelaksanaan kegiatan keagamaan yang banyak dipelajari siswa. terlihat dari sikap siswa yang baik yang mencerminkan karakter pemuda Islam memiliki akhlak yang baik, memakai baju muslimah tanpa pamrih, jauh dari tawuran, narkoba dan tindakan kriminal.

Melalui keteladanan guru dalam meningkatkan akhlak yang baik di madrasah aliya asasakina, faktor pendukung yang mempengaruhi berkembangnya akhlak yang baik pada siswa antara lain adanya pendidik yang profesional, motivasi dari pimpinan madrasah dan ustadz, etika siswa untuk memajukan akhlak, dan sebagainya. menyelesaikan infrastruktur. Kendalanya adalah kurangnya perhatian orang tua terhadap siswa, situasi rumah mereka yang terpecah-pecah, meningkatnya liputan media di jejaring sosial, dan ketidaktahuan proses implementasi oleh siswa sendiri. Faktor pendukung yang mempengaruhi pembinaan akhlak siswa yang baik melalui keteladanan guru dalam membangkitkan akhlak yang baik pada masa bupati Assakniah Madrasah Sidoarjo adalah kesadaran, niat baik siswa, dan semangat tanggung jawab guru yang tinggi dalam pendidikan agama Islam, lingkungan sekolah yang kondusif , perilaku santri yang baik dalam kehidupan sehari-hari dan menjadikan Masjid Al Furqon sebagai pusat kegiatan keagamaan. Jika remnya sebagian siswa tidak bersatu, lingkungan masyarakat (student union) kurang baik, kurang kompak antara guru dan guru SMA, pengaruh teknologi canggih dan siswa kurang mampu menggunakan dengan baik dan benar , dan kondisi fasilitas sekolah yang belum sempurna.

PENUTUP

Kesimpulan

Keteladanan guru merupakan hal yang penting bagi perkembangan Akhlakul Karimah siswa SMA Assakinah yakni untuk melatih siswa agar menjadi pribadi yang berbudi pekerti baik yang menjadi teladan bagi agama lain, keteladanan ini merupakan kunci dari segala niat baik terhadap siswa. Pendidikan agama Islam untuk membentuk akhlak siswa dengan berbagai cara baik melalui metode ceramah, kisah para nabi dan kisah-kisah yang bermanfaat, bersalaman dengan guru, tersenyum dengan siswa melahirkan, mengajarkan amal, dll.

Dengan melakukan pertemuan dan wawancara dengan kepala sekolah, bekerja sama dengan para guru di SMA Assakinah untuk memahami siswa dan menyampaikan pembelajaran yang efektif, sekaligus membantu siswa mengembangkan pemahaman tentang diri sendiri, mengharapkan hasil, dan memiliki keyakinan pada kemampuan Anda untuk mengatasi kesulitan dalam pembentukan moral dengan cara contoh sehari-hari.

Saran

Siswa SMA Assakinah harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh SMA, tidak melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh kepala SMA seperti tidak malas mengaji, tidak berkelahi dengan teman.

Penutup

Dengan mengucap Allahamdullilah, atas berkah dan kehadirat Allah SWT penelitian ini akhirnya dapat diselesaikan. Peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas dedikasinya selama penelitian ini. Jazakakumullah Ashsanal Jaaza' Amin. Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan. Dengan segala hormat, kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat diharapkan oleh peneliti.

References

[1] A. Sugiarti, “Strategi Akhlak Melalui Metode Keteladanan Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMAN 4 Pasuruan,” Jurnal Pendidikan Agama Islam, 2019.

[2] H. E. Mulyasa, Menjadi Guru Penggerak Merdeka Belajar. Jakarta, Indonesia: Bumi Aksara, 2021.

[3] Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bab II, Pasal 3. Jakarta, Indonesia: Sekretariat Negara, 1945.

[4] E. Purwanti, “Peranan Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membina Akhlak Peserta Didik,” Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Al-Idarah, vol. 5, no. 1, pp. 8–15, 2020.

[5] W. U. Sidiq, Hubungan Tingkat Komunikasi Orang Tua Dengan Akhlak Anak di SD Negeri Gonilan 01 Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo Tahun Pelajaran 2014/2015. Surakarta, Indonesia: Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2015.

[6] N. Nurela, Peranan Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membina Akhlakul Karimah Peserta Didik di SMK Teknika Grafika Kartika Gadingrejo Tahun Pelajaran 2017/2018. Lampung, Indonesia: UIN Raden Intan Lampung, 2018.

[7] L. Al Fiyah, Peran Guru PAI Dalam Pembinaan Karakter Religius SMA Berbasis Pondok Pesantren. Ponorogo, Indonesia: IAIN Ponorogo, 2019.

[8] S. Idris and Z. A. Tabrani, “Realitas Konsep Pendidikan Humanisme Dalam Konteks Pendidikan Islam,” Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan Konseling, vol. 3, no. 1, pp. 96–113, 2017.

[9] U. Hasanah, “Model-Model Pendidikan Karakter di Sekolah,” Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, vol. 7, no. 1, pp. 18–34, 2016.

[10] U. Hasanah, “Model-Model Pendidikan Karakter di Sekolah,” Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, vol. 7, no. 1, pp. 18–34, 2016.

[11] R. Maharani and N. Nasution, “Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Anak Autis di Sekolah Luar Biasa Harapan Mulia Kota Jambi,” Mikraf: Jurnal Pendidikan, vol. 2, no. 1, pp. 81–89, 2021.

[12] Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta, Indonesia: Sekretariat Negara, 2013.

[13] N. L. Fitriana, “Penanaman Nilai-Nilai Keagamaan Dalam Pembelajaran Akidah Akhlak Untuk Membentuk Akhlakul Karimah Peserta Didik di MI Nurul Islam Miringambar Sumbergempol Tulungagung,” 2021.

[14] Mukodi, Pendidikan Islam Terpadu Reformasi Pendidikan di Era Global. Yogyakarta, Indonesia: AURA Pustaka, 2011.

[15] N. Agustin, Pengaruh Tobat Terhadap Akhlak Perspektif Al-Ghazali (450–505 H/1058–1111 M). Riau, Indonesia: Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, 2020.

[16] M. A. Ramadana, “Perbandingan Konsep Pendidikan Akhlak KH Ahmad Dahlan Dengan Badiuzzaman Said Nursi,” Universitas Muhammadiyah Ponorogo, 2021.

[17] M. Mumtahanah and M. Warif, “Strategi Guru Dalam Pembinaan Akhlakul Karimah Siswa di Madrasah Aliyah Al-Wasi’ Bontoa Kabupaten Maros,” IQRA: Jurnal Magister Pendidikan Islam, vol. 1, no. 1, pp. 17–27, 2021.

[18] D. N. Hidayat, “Implementasi Program Keberagamaan Dalam Mengembangkan Akhlak Karimah Peserta Didik di SMAIT Insan Teladan Cileunyi,” UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2020.

[19] K. Khusnul, “Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Mencetak Lulusan Berakhlakul Karimah di SMAN 1 Pakong,” IAIN Madura, 2020.

[20] M. I. N. Mujahidin, “Sistem Pendidikan Akhlakul Karimah di MI Islamiyah Cibunar Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal,” UNISSULA, 2018.

[21] F. W. A. Fila, “Model Pembentukan Al-Akhlak Al-Karimah Siswa di SMP Muhammadiyah 8 Laren Lamongan,” UIN Maulana Malik Ibrahim, 2018.

[22] F. Firdaus, “Membentuk Pribadi Berakhlakul Karimah Secara Psikologis,” Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu Al-Quran dan Al-Hadits, vol. 11, no. 1, 2017.

[23] D. P. Sari, “Pendidikan Karakter Berbasis Al-Quran,” Islamic Counseling, vol. 1, no. 1, pp. 1–24, 2017.

[24] H. N. Afwa, “Bimbingan Keagamaan Untuk Meningkatkan Akhlak Kedisiplinan Siswa,” UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2020.

[25] M. Jannah, “Studi Komparasi Akhlak Terhadap Sesama Manusia Antara Siswa Fullday School Dengan Boarding School,” Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah, vol. 3, no. 2, pp. 1–15, 2018.

[26] H. Hasnawati, “Akhlak Kepada Lingkungan,” Pendais, vol. 2, no. 2, pp. 203–218, 2020.

[27] R. Raihani and U. Hasnan, “Kegiatan Keagamaan Dalam Pembentukan Akhlak Karimah Siswa Madrasah Aliyah Hidayatullah,” Al Ghazali: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam, pp. 37–47, 2021.

[28] S. Rohana, “Urgensi Akhlak Seorang Pendidik,” Bidayah: Studi Ilmu-Ilmu Keislaman, pp. 183–194, 2019.

[29] B. Kholis, “Model Pembelajaran di Pondok Pesantren Al-Hidayah Dalam Pembinaan Akhlak Santri,” UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, 2019.

[30] M. A. H. Millah, “Upaya Pembinaan Akhlak Siswa Melalui Program 7 Poe Atikan Purwakarta Istimewa,” UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2018.

[31] D. Hoeriah, “Implementasi Nilai-Nilai Karakter Melalui Pembiasaan Akhlakul Karimah Siswa,” UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2020.

[32] N. Hasan, “Elemen-Elemen Psikologi Islami Dalam Pembentukan Akhlak,” Spiritualita, vol. 3, no. 1, 2019.

[33] N. Hasan, “Elemen-Elemen Psikologi Islami Dalam Pembentukan Akhlak,” Spiritualita, vol. 3, no. 1, 2019.