Login
Section Elementary Education Method

Students’ Interest and Attitudes in Learning Arts and Culture in Elementary School

Minat dan Sikap Siswa dalam Pembelajaran Seni dan Budaya di Sekolah Dasar
Vol. 20 No. 4 (2025): November:

Nadia Sulfiana (1), Mahardika Darmawan K. W (2)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Learning interest and attitudes are central to students’ engagement and classroom behavior in elementary education. Specific Background: Arts and culture subjects in primary schools are often considered secondary, leading to limited attention despite their role in fostering creativity and participation. Knowledge Gap: Few studies describe how students’ learning interest aligns with observable learning attitudes in arts and culture classes at the elementary level. Aim: This study describes the learning interest and learning attitudes of fourth- and fifth-grade students toward arts and culture subjects. Results: Findings show that most students in both grades demonstrate high to very high interest, with fifth-grade students showing more consistent alignment between interest and appropriate learning attitudes. Observations indicate variations in aspects such as creativity, cooperation, discipline, and responsibility, particularly among fourth-grade students. Novelty: The study integrates questionnaire data on learning interest with structured observations of learning attitudes across multiple behavioral indicators in an elementary arts context. Implications: The results provide practical insights for teachers to adjust classroom strategies and better support students’ engagement and behavioral development in arts and culture learning.


Highlights




  • Fifth-grade students show stronger consistency between interest and learning attitudes.




  • Creativity and cooperation remain areas needing improvement, especially in fourth grade.




  • Combined use of questionnaires and observation offers a fuller view of student behavior.




Keywords: Learning Interest; Learning Attitudes; Arts And Culture Education; Elementary Students; Classroom Behavior

Pendahuluan

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia sebagai wahana untuk mengembangkan sumber daya manusia. Melalui dunia pendidikan manusia dapat melepaskan diri dari keterbelakangan. Diperlukan pendidikan yang bermutu tinggi untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Di dalam dunia pendidikan ada hal yang terpenting, dimana kita bisa menyiapkan manusia yang mampu mempertahankan dan mempertinggi kualitas kehidupan sehingga dapat meningkatkan pembangunan manusia seutuhnya. Sejalan dengan hal tersebut pendidikan menurut Zurial dan Sayuti yaitu “pendidikan merupakan sebuah proses yang melibatkan orang dewasa dan peserta didik dalam rangka usaha untuk mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam rangka pelestarian nilai-nilai budaya dan norma yang berkembang dimasyarakat [1].

Minat sangat berpengaruh dalam belajar, karena dapat membuat siswa semangat dan termotivasi dalam mempelajari sesuatu. Minat belajar merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran. Karena tanpa adanya minat belajar dari siswa, maka proses pembelajaran tidak akan berlangsung secara maksimal.

Minat belajar juga sebagai modal awal untuk mencapai keberhasilan dalam proses pembelajaran. Dengan adanya minat belajar, maka muncul motivasi dari siswa untuk mengikuti proses pembelajaran dengan efektif sehingga tercapai hasil pembelajaran yang baik [2].

Kesenian adalah salah satu bagian dari kebudayaan yang dikagumi karena keunikan dan keindahannya. Kesenian merupakan hasil karya seni manusia yang mengungkapkan keindahan serta merupakan ekpresi jiwa dan budaya penciptanya. Kesenian merupakan bagian dari budaya dan sarana yang digunakan untuk mengekpresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia, keindahannya juga mempunyai fungsi lain. Ragam kesenian yang ada tersebut diantaranya adalah seni musik, seni rupa, seni teater, seni sastra dan seni tari. Perwujudan seni yang ada di masyarakat merupakan cerminan dari diri kepribadian hidup masyarakat. Kesenian selalu melekat pada kehidupan manusia, dimana ada manusia di dalamnya pasti ada kesenian. Dari pernyataan tersebut benar adanya jika memang kesenian itu ada sejak manusia muncul. Pada hakikatnya kesenian adalah buah budi manusia dalam menyatakan nilai-nilai keindahan dan keluhuran lewat berbagai media cabang seni”. Kemudian ada juga pendapat dari Suwandono (1984:40) mengatakan bahwa: Kesenian, dalam hal ini seni tari adalah milik masyarakat sehingga pengungkapannya merupakan cermin alam pikiran dan tata kehidupan daerah itu sendiri. Tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa dapat dilihat dari kebudayaan atau kesenian yang dimilikinya, oleh sebab itu kesenian sebagai salah satu bagian dari kebudayaan perlu dilestarikan dan dikembangkan.

Penjelasan tersebut membuktikan bahwa kesenian itu sangat erat kaitannya dengan manusia. Kesenian itu muncul karena adanya masyarakat itu sendiri, sehingga kesenian dapat menggambarkan suatu kondisi masyarakatnya. Dengan adanya kesenian dapat menyatakan nilai-nilai kehidupan yang ada di masyarakat. Nilai-nilai tersebut yang harus dilestarikan sebagai bentuk kepedulian tehadap sebuah kesenian. Sebuah karya seni tentu identik dengan keindahan serta keunikannya, seni merupakan karunia Tuhan kepada manusia untuk dapat berekpresi sebagai perwujudan dari peradaban manusia sebagai hasil pengarahan kemampuan akal, tubuh, perasaan, emosi keinginan serta panca inderanya yang ditampilkan dalam sebuah hasil karya yang dapat dinikmati, baik oleh sang seniman (si pembuat karya), maupun oleh orang lain yang bertujuan untuk memperluas dan mempercantik serta menciptakan keharmonisan jiwa, raga, pikiran, dan alam ini. Dengan begitu dapat dikatakan bahwa seni adalah segala sesuatu yang bertujuan untuk memperhalus dan mempercantik jiwa dan alam ini.

Karya seni adalah hasil upaya manusia dalam menciptakan sesuatu yang indah dan mempunyai nilai tertentu. Saini (2001:49) mengungkapkan bahwa : Karya seni adalah hasil pendekatan seniman terhadap realitas. Ia adalah hasil persinggungan bahkan pergulatan kesadaran seniman berupa pemikiran, perasaan, dan khayalan seniman dengan realitas yang menjadi sasaran obsesinya. Kesenian dipengaruhi oleh faktor internal dan ekternal. Faktor internal dipengaruhi oleh proses pembelajaran, kebiasaan pengalaman yang dialami oleh pribadi masing-masing. Faktor ekternal dipengaruhi oleh lingkungan atau letak geografis. Secara umum, kesenian dapat mempererat ikatan solidarits suatu masyarakat, karena dengan adanya ikatan solidaritas suatu masyarakat sedikit demi sedikit terbentuklah keikhlasan kesenian yang ada pada masyarakatnya. Hal tersebut seperti yang diungkapkan Sedyawati (1986, hlm.61) “kesenian sebagai salah satu aktivitas budaya masyarakat dalam hidupnya ditentukan oleh masyarakat pendukungnya”. Ada berbagai macam seni yang manusia ciptakan. Diantaranya yaitu seni musik, seni tari, seni rupa. Salah satu kesenian yang memang memiliki sejarah paling lama yaitu seni tari. Dari sekian banyak kekayaan seni budaya Indonesia, tari adalah salah satu bidang seni yang merupakan bagian dari kehidupan manusia. Sehingga tari dan kehidupan manusia saling bersentuhan akrab.

Minat berhubungan dengan bentuk perhatian secara khusus terhadap sesuatu yang diikuti dengan kemauan/ keinginan. Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam yakni: 1). Faktor Internal Siswa, berasal dari dalam diri siswa sendiri meliputi dua aspek, a) aspek fisiologis (bersifat jasmaniah), kondisi umum jasmani yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah, dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinya pun kurang. Kondisi organ-organ khusus siswa, seperti tingkat kesehatan indera pendengar dan indera penglihat, juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan. b) Aspek psikologis (bersifat rohaniah), faktor-faktor psikologis ini dapat berupa tingkat kecerdasan/ inteligensi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa, motivasi siswa, perhatian siswa, kematangan dan kesiapan. 2). Faktor Eksternal Siswa, merupakan faktor dari luar siswa yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa. Faktor eksternal ini terdiri atas dua macam, yakni a) faktor lingkungan sosial, di Sekolah seperti guru, para staf administrasi, dan teman-teman sekelas ataupun tidak sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. Para guru yang selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang simpatik dan memperlihatkan suri tauladan yang baik dan rajin khususnya dalam hal belajar, misalnya rajin membaca dan berdiskusi dapat menjadi daya dorong yang positif bagi kegiatan belajar siswa. Guru atau pendidik memegang peranan penting dalam meningkatkan respon belajar siswa. Pentingnya peranan ini ditinjau dari tiga sudut, meliputi: sebagai sumber, sebagai pembimbing, dan sebagai pengelola iklim belajar. Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar ialah orang tua/ keluarga siswa itu sendiri. Sifat-sifat orang tua, praktek pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, dan demografi keluarga (letak rumah), semuanya dapat memberi dampak baik ataupun buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil belajar yang dicapai siswa. Faktor lingkungan sosial siswa dimasyarakat dan tetangga juga teman-teman sepermainan di sekitar perkampungan siswa tersebut.

Masyarakat merupakan faktor yang juga mempengaruhi aktivitas belajar siswa. Faktor ini dapat berupa: kegiatan siswa dalam masyarakat, teman bergaul atau teman belajar, situasi dalam masyarakat dan latar belakang sosial budaya dalam masyarakat. b) Faktor Lingkungan Non-Sosial, ialah gedung Sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar. Faktor-faktor ini dipandang dapat turut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. 3). Faktor Pendekatan Belajar (approach to learning) juga berpengaruh terhadap taraf keberhasilan proses pembelajaran siswa tersebut. Guru perlu membangkitkan 4 minat siswa agar pelajaran yang diberikan mudah dipahami. Minat ini dapat dibangkitkan dengan cara – cara sebagai berikut: a) Membangkitkan adannya suatu kebutuhan. b) Menghubungkan dengan persoalaan pengalaman yang lampau. c) Memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik. d) Menggunakan berbagai macam bentuk mengajar [3]. Pendekatan belajar dapat dipahami sebagai segala cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang keefektifan dan efisiensi proses pembelajaran materi tertentu. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan belajar tertentu.

Sikap merupakan salah satu istilah yang sering digunakan dalam mengkaji atau membahas tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari- hari. Sikap yang ada pada seseorang akan mem- bawa warna dan corak pada tindakan, baik menerima maupun menolak dalam menanggapi sesuatu hal yang ada di luar dirinya. Melalui pengetahuan tentang sikap akan dapat menduga tindakan yang akan diambil seseorang terhadap sesuatu yang dihadapinya. Meneliti sikap akan membantu untuk mengerti tingkah laku seseorang [4]. Sikap menurut Bruno (1987), sikap (attitude) adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu [5]. Sikap berkaitan dengan kesediaan individu untuk merespon, kesediaan seseorang untuk melaksanakan suatu tindakan tertentu yang dapat bersifat positif ataupun negatif. Arif dan Samidjo (2018: 94) Sikap adalah suatu respon atau reaksi terhadap stimulus suatu objek, memihak atau tidak memihak, positif mupun negatif terhadap berbagai keadaan sosial [6].

Krech, Crutchfield, dan Ballachey [7] mengemukakan bahwa sikap mempunyai tiga komponen pokok yaitu: (1) komponen kognitif (cognitive component) yaitu kemampuan dan keyakinan seseorang menganalisa dan mempersepsikan baik atau buruk suatu objek yang selanjutnya mengarah kepada evaluasi atau penelitian, (2) komponen afektif (affectif component) yaitu ungkapan perasaan seseorang terhadap obyek, dan (3) komponen konasi (action component) yaitu perilaku seseorang untuk bertindak terhadap obyek. Di dalam kehidupan manusia, sikap selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Peranan pendidikan dalam pembentukan sikap pada anak-anak didik adalah sangat penting. Menurut Ellis, faktor-faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan sikap anak-anak yang perlu diperhatikan di dalam pendidikan ialah: kematangan (maturation), keadaan fisik anak, pengaruh keluarga, lingkungan sosial, kehidupan sekolah, bioskop, guru, kurikulum sekolah, dan cara guru mengajar [8].

Minat dan sikap mempunyai peran yang penting dalam proses belajar mengajar, untuk itu diharapkan adanya minat dan sikap yang timbul dengan sendirinya dalam diri siswa tanpa adanya paksaan dan keterpaksaan sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman, aktif dan baik. Tetapi juga tidak jarang ada siswa yang mengikuti pelajaran dikarenakan terpaksa atau karena suatu keharusan, yang terkadang ia sendiri tidak berminat atau kurang berminat akan mata pelajaran tersebut. Hal ini merupakan salah satu penyebab adanya siswa yang mendapat prestasi belajar yang rendah, sedangkan hal ini belum tentu disebabkan oleh rendahnya kecerdasan. Berdasarkan praktek pengalaman lapangan peneliti di SD, terdapat kecenderungan bahwa mata pelajaran seni budaya di SD kurang diperhatikan siswa sehingga dapat mempengaruhi prestasi belajar. Berdasarkan survei sementara dilapangan hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: 1) kurang tersedianya sarana dan prasarana, 2) dalam pelaksanaannya alokasi waktu yang disediakan sangat terbatas, hanya 1 kali pertemuan dalam seminggu (2 x 45 menit) sehingga guru kurang maksimal dalam memberikan materi dan membimbing siswa dalam mengerjakan tugas baik di Sekolah maupun di rumah, akhirnya siswa banyak yang menemui kendala pada saat mengerjakan tugasnya yang berakibat pada prestasi/ nilai yang diperoleh, 3) kurangnya kemampuan siswa dalam berapresiasi dan berkarya seni terutama seni rupa, apalagi mata pelajaran seni budaya tidak termasuk pelajaran yang di UAS-kan, sehingga cenderung dikesampingkan. Keberhasilan siswa dalam belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain pendapat Slameto (2010) dan Sudjana (2010) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu atau siswa itu sendiri seperti minat, sikap, maupun motivasi, sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar individu, seperti faktor guru, faktor media pembelajaran yang digunakan, dan sebagainya [9].

Proses pembelajaran, kedua faktor tersebut sangat menentukan dan menunjang terhadap keberhasilan prestasi belajar siswa. Karena masalah sikap erat sekali hubungannya dengan minat. Petrus Sarjono Priyo (1989:32) berpendapat bahwa seseorang berminat terhadap sesuatu hal berarti menentukan sikap terhadap hasrat-hasrat dan memberikan arah serta mengemudikannya [10]. Dengan terpenuhinya minat seseorang/ individu akan mendapat kesenangan dan kepuasan batin yang dapat menimbulkan sikap belajar yang baik sehingga menghasilkan prestasi yang maksimal. Adanya minat yang kuat, maka akan tergambarkan dalam sikap seorang siswa.

Beberapa penelitian sejenis yang pernah dilakukan sebelumnya antara lain (1) Eksplorasi Minat Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran Seni Tari di SD Taman Muda Ibu Pawiyatan Yogyakarta pada tahun 2017. Mengemukakan bahwa kegiatan belajar mengajar dilaksanakan diluar ruangan yaitu Pendopo. Proses pembelajaran diruang terbuka memberikan dampak yang berbeda dengan proses belajar yang dilakukan dalam ruangan. Pembelajaran seni tari di Pendopo sendiri memberikan ruang kebebasan siswa dalam menyerap pelajaran seni tari. Siswa dapat bebas berkreasi dan berkreatifitas tanpa batas dan hambatan seperti ruang bergerak dan bersuara [11]. (2) Penerapan Kurikulum 2013 dalam Meningkatkan Keterampilan, Sikap, dan Pengetahuan pada Tahun 2017. Mengemukakan bahwa nilai sikap yang muncul pada setiap pertemuan berbeda-beda sesuai dengan tuntutan pada buku guru. Rasa ingin tahu, mandiri, dan percaya diri merupakan nilai sikap yang muncul, terlihat ada peningkatan pada setiap pertemuan. Sudah membudaya sebesar 20,68% sikap percaya diri, dan rasa ingin tahu sedangkan mandiri 6,2% lebih rendah disebabkan siswa masih belum terbiasa dengan penerapan kurikulum 2013 [12].

Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui minat dan sikap belajar seni budaya pada siswa kelas IV dan V di SDI Jalaluddin Bangil tahun ajaran 2022/ 2023 yang terdiri dari 16 siswa kelas IV dan 37 siswa kelas V. Alasan peneliti tertarik mengambil penelitian ini karena pembelajaran di SD sangat beraneka ragam yang disampaikan oleh seorang guru, minat dan sikap dipupuk mulai kecil, dan mata pelajaran seni budaya cenderung dikesampingkan, sedangkan pada momen-momen SD lebih banyak lomba-lomba mengenai keseninan. Sehubungan dengan hal tersebut ingin mengetahui minat dan sikap belajar seni budaya pada siswa kelas IV dan V. Agar guru juga dapat menyikapi mengambil tindakan yang sesuai akan kendala-kendala pemeblajaran setelah mengetahui hasil dari pengamatan penelitian tersebut. Tidak mengambil kelas yang lainnya karena jika kelas 1 – III masih kecil untuk dapat berpendapat, atau memberikan pernyataan. Kelas VI kemungkinan lebih diprioritaskan pada mata pelajaran yang akan diujikan/ ujian akhir sekolah dasar untuk kelulusan.

Metode

Metode penelitian survey dengan pendekatan kuantitatif (Quantitative Research) menjadi metode penelitian yang dipilih dalam penelitian ini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian [13]. Dalam penyusunan instrument atau alat pengumpul data, variabel-variabel yang menjadi acuan utama peneliti dalam menyusun angket, terdiri atas angket minat dan lembar observasi sikap belajar seni budaya kelas IV dan V di Sekolah Dasar Jalaluddin Bangil Tahun Ajaran 2022/ 2023. Menurut Arikunto mengungkapkan bahwa penelitian deskriptif tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan apa adanya tentang suatu variabel. Validasi angket dan observasi terstruktur dilakukan oleh 2 validator, Pak Joko Susilo S.Hum., M.Hum. merupakan dosen di Prodi. Manajemen UMSIDA, dan Triano Nanda Setiabudi, S.Pd., M.Pd. merupakan dosen yang mengajar di Prodi. DKV STIKI Malang dan Dosen LB di Prodi. Seni Rupa Murni Univesitas Brawijaya. Ada beberapa revisi sesuai dengan saran dari ke dua validator tersebut. Tentang penulisan dan mencantumkan indikator di angket minat. Semua saran untuk angket sudah disesuaikan sebelum pengambilan data.

Dengan penelitian kuantitatif, banyak dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa penelitian deskriptif kuantitatif dalam penelitian ini adalah untuk melihat, meninjau dan menggambarkan dengan angka tentang objek yang diteliti

seperti apa adanya dan menarik kesimpulan tentang hal tersebut sesuai fenomena yang tampak pada saat penelitian dilakukan [14]. Instrumen penelitian dilaksanakan di SDI Jalaluddin Bangil pada siswa kelas IV dan V, yang berjumlah 16 dan 37 siswa, dan diambil 2 siswa kelas IV untuk kelas V 3 siswa untuk uji coba. Sehingga untuk jumlah populasi kelas IV 14 siswa, dan kelas V jumlah siswanya 34.

Hasil dan Pembahasan

A. Minat Belajar Seni Budaya pada Siswa Kelas IV dan V SD

Minat berasal dari rasa tertarik dan menyenangi sebagai dasar untuk memusatkan perhatian dan aktivitas, karena pada dasarnya, perilaku manusia didorong oleh keinginan untuk menghindari kebencian atau ketidaksenangan (preasure principle)[15]. Angket atau instrumen ini terdiri dari 15 item pernyataan yang memuat tentang bagaimana gambaran-gambaran mengenai minat, disusun dari indikator-indikator dari sub variabel.

Variabel Sub Variabel Indikator Teknik Pengambilan Data Sumber Data
Minat a. Minat dari faktor pribadi. b. Minat dari faktor lingkungan. c. Aktivitas. a) Kegiatan saat mata pelajaran seni budaya. b) Frekuensi melihat pameran seni. c) Keaktifan pada kegiatan seni rupa. a) Dukungan lingkungan keluarga. b) Dukungan lingkungan sekolah. c) Dukungan lingkungan masyarakat. a) Prestasi. b) Kehadiran. c) Interaksi saat mata pelajaran seni budaya. d) Tugas di kelas/ tugas PR. Angket Angket Angket Siswa kelas IV dan V SD Jalaluddin Bangil.
Table 1. Jabaran Variabel Penelitian Minat
Variabel Subvariabel Indikator Jumlah butir pernyataan Nomor butir pernyataan
Minat mengikuti mata pelajaran seni budaya a. Minat dari faktor pribadi b. Minat dari faktor lingkungan c. Aktivitas/ kegiatan pembelajaran a) Kegiatan saat mata pelajaran seni budaya b) Frekuensi melihat pameran seni c) Keaktifan pada kegiatan seni rupa a) Dukungan lingkungan keluarga b) Dukungan lingkungan sekolah c) Dukungan lingkungan masyarakat a) Prestasi b) Kehadiran c) Interaksi saat mata pelajaran seni budaya d) Tugas di kelas / tugas PR 2 pernyataan 2 pernyataan 2 pernyataan 1 pernyataan 1 pernyataan 1 pernyataan 1 pernyataan 1 pernyataan 2 pernyataan 2 pernyataan 1, 2 3, 4 5, 6 7 8 9 10 11 12, 13 14, 15
Table 2. Kisi-Kisi Angket Minat Belajar Seni Budaya

1. Minat Belajar Seni Budaya pada Siswa Kelas I V.

Instrumen angket tentang minat belajar siswa terdiri dari 15 item pernyataan. Yang dibagikan pada 14 siswa kelas IV. Hasilnya adalah sebagai berikut:

Kriteria/ Tingkat Frekuensi Prosentase
Sangat tinggi 2 14,3 %
Tinggi 10 71,4 %
Cukup 2 14,3 %
Kurang - 0 %
Jumlah 14 100 %
Table 3. Tingkat Minat Belajar Seni Budaya pada Siswa Kelas IV

Figure 1.

Dari tabel 3.3 dan gambar 3.1 di atas diketahui bahwa prosentase lebih kecil (14,3 %) siswa memiliki tingkat minat belajar sangat tinggi, prosentase lebih dari separuh (71,4 %) siswa tingkat minat belajar tinggi, prosentase lebih kecil (14,3 %) siswa memiliki tingkat minat belajar cukup, dan untuk tingkat minat belajar kurang prosentasenya (0 %) tidak ada. Maka dapat dikatakan bahwa dari 14 siswa kelas IV tingkat minat belajar Seni Budayanya tinggi, karena lebih dari separuh jumlah siswa berminat belajar seni budaya.

Selanjutnya diuraikan data tiap indikator minat belajar seni budaya pada siswa kelas IV. Pertama tentang indikator tingkat kegiatan saat mata pelajaran seni budaya dengan 2 item pernyataan, nomor 1) saya selalu merasa bosan waktu mengikuti pelajaran seni budaya (merupakan pernyataan negatif). Prosentase terbanyak pada pernyataan 1 lebih dari separuh (71,4 %) kriterianya kurang. Kriteria cukup prosentasenya lebih kecil (21,4 %), kriteria tinggi prosentasenya lebih kecil (7,1), kriteria sangat tinggi prosentasenya (0 %). Pernyataan ke 2) saya tidak pernah mengantuk saat mengikuti pelajaran seni budaya prosentase terbanyak, lebih dari separuh (71,4 %) kriterianya sangat tinggi, kriteria tinggi prosentasenya (0 %), kriteria cukup prosentasenya lebih kecil (21,4 %), kriteria kurang prosentasenya lebih kecil (7,1 %). Maka dapat dikatakan pada indikator ini siswa antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran seni budaya, merasa tidak bosan dan tidak mengantuk.

Berikutnya indikator tingkat frekuensi melihat pameran seni ada 2 item pernyataan, 1) melihat hasil karya pemenang lomba, pameran karya seni sangat penting sekali, prosentase yang terbanyak kurang dari separuh (35,7 %) siswa kriterianya tinggi dan cukup, untuk kriteria sangat tinggi dan kurang prosentasenya lebih kecil (14,3 %) siswa. Pada pernyataan ke 2) mengunjungi pameran seni budaya dapat meningkatkan kreativitas saya, prosentase terbanyak pada kriteria tinggi dan kurang prosentase kurang dari separuh (35,7 %) siswa, prosentase lebih kecil (21,4 %) siswa dikriteria cukup, dan prosentase lebih kecil (7,1 %) kriterianya sangat tinggi. Maka dapat dikatakan pada indikator ini kriterianya tinggi yang mendapatkan prosentase terbanyak. Di Kota kecil Bangil memang frekuensi adanya pameran seni dan lomba seni cukup jarang, tetapi ketika kegiatan tersebut ada, banyak yang antusias untuk datang ikut dan mengapresiasi kegiatan berkesenian tersebut. Karena dengan ikut atau melihat tentang kesenian, dapat menumbuhkan kreativitas kita.

Indikator ke tiga yaitu tingkat keaktifan pada kegiatan seni rupa terdiri dari 2 item pernyataan, 1) mengikuti kegiatan berkesenian, pameran lukisan, dan lainnya bisa menambah pengalaman menunjukkan bahwa prosentase terbanyak separuh (50,0 %) siswa memiliki tingkat keaktifan tinggi, prosentase kurang dari separuh (35,7 %) siswa kriterianya sangat tinggi, prosentase lebih kecil (7,1 %) siswa kriterianya cukup dan kurang. Pernyataan ke 2) mengikuti lomba seni (mewarnai, menggambar, lukis, musik, tari, dll.) dapat meningkatkan daya kreatifitas saya menunjukkan bahwa prosentase terbanyak lebih dari separuh (64,3 %) siswa memiliki kriteria tinggi, prosentase lebih kecil (21,4 %) siswa kriterianya sangat tinggi, prosentase lebih kecil (14,3 %) siswa kriterianya kurang, untuk yang kriteria cukup tidak ada. Dapat diartikan bahwa keaktifan pada kegiatan berkesenian siswa kelas IV kriterianya

tinggi. Ketika di Kota Bangil ada perlombaan menggambar dan mewarnai ada beberapa siswa mengikuti lomba tersebut, dan ketika perpisahan kelas VI ada pertunjukan-pertunjukan kesenian yang dilakukan oleh siswa-siswa dengan antusiasnya.

Indikator ke empat tingkat dukungan lingkungan keluarga hanya terdiri dari 1 item pernyataan yaitu orang tua perlu sering mengingatkan untuk belajar seni budaya, prosentase terbanyak kurang dari separuh (42,9 %) sangat tinggi, prosentase lebih kecil (28,6 %) dukungan keluarga tinggi, dengan prosetase lebih kecil (14,3 %) siswa kriterianya cukup dan kurang. Maka dapat dikatakan dukungan dari lingkungan keluarga sangat tinggi, meskipun bukan pembelajaran inti yang diujikan saat kelulusan, tetapi pembelajaran seni budaya melatih kreativitas siswa-siswa agar semakin berkembang.

Indikator ke lima tentang dukungan lingkungan Sekolah hanya terdiri 1 item pernyataan yaitu antara teman saat pembelajaran berlangsung dapat saling membantu untuk mempermuda belajarnya, prosentase yang paling banyak lebih dari separuh (71,4 %) siswa kriterianya tinggi, prosentase lebih kecil (21,4 %) sangat tinggi, prosentase lebih kecil (7,1 %) siswa kriterianya kurang, sedangkan prosentase dengan kriteria cukup tidak ada. Maka dapat disimpulkan bahwa dukungan lingkungan Sekolah tinggi, suasana pembelajaran menyenangkan. Antar teman biasanya keliling-keliling melihat karya dari teman lain. Misalnya ada kekurangan selain koreksi dari guru, mereka juga saling memberi saran agar karyanya lebih bagus.

Indikator tentang tingkat dukungan lingkungan masyarakat 1 item pernyataan, yaitu andai di lingkungan saya banyak berkecimpung dalam seni, maka saya juga akan masuk dalam bidang atau kemampuan, kegiatan berkesenian prosentase terbanyak lebih dari separuh (64,3 %) siswa kriterianya tinggi, prosentase lebih kecil (21,4 %) siswa kriterianya sangat tinggi, sedangkan yang prosentase lebih kecil (7,1 %) siswa kriterianya cukup dan kurang. Maka dapat diartikan bahwa tingkat dukungan lingkungan masyarakat tersebut agar banyak siswa yang ingin mempelajari tentang kesenian. Maka dapat katakan bahwa memang lingkungan masyarakat dapat membentuk minat siswa. Kebiasaan melihat, mengamati akan membentuk minat yang serupa. Kebetulan di lingkungan Sekolah ada sebuah galeri, terkadang mengadakan lomba atau pameran seni. Masyarakat dan siswa sekitar berkunjung ke tempat tersebut untuk ajang apresiasi dan berkreasi.

Ketujuh tentang indikator tingkat prestasi terdiri dari 1 item pernyataan yaitu saya pernah mengikuti kegiatan/ kompetisi seni (mewarnai, menggambar, lukis, musik, tari, dll.), karena hal itu sangat penting. Prosentase terbesar separuh (50 %) siswa kriterianya tinggi, prosentase lebih kecil (28,6 %) siswa kriterianya sangat tinggi, prosentase lebih kecil (14,3 %) siswa kriterianya kurang, dan prosentase lebih kecil (7,1 %) siswa kriterianya cukup. Maka dapat dikatakan tingkat prestasinya tinggi. Ketika ada kegiatan lomba, beberapa siswa diikutkan lomba kesenian. Apalagi waktu TK dulu, banyak kegiatan kompetisi lomba mewarnai tiap tahun pasti ada disekitar Kota Bangil.

Indikator tingkat kehadiran terdiri dari 1 item pernyataan yaitu saya selalu masuk kelas/ hadir tepat waktu sebelum guru datang memulai pembelajaran seni budaya. Prosentase terbanyak lebih dari separuh (57,1 %) siswa kriterianya sangat tinggi, prosentase lebih kecil (21,4 %) siswa kriterianya tinggi, prosentase lebih kecil (14,3 %) siswa kriterianya cukup, dan prosentase lebih kecil (7,1 %) siswa kriterianya kurang. Maka dapat dikatakan pada indikator ini kehadiran siswa kriterianya sangat tinggi, prosentasenya paling besar. Datang tepat waktu meskipun beberapa ada yang masih ke toilet dsbnya.

Kesembilan tentang indikator interaksi saat mata pelajaran seni budaya terdiri dari 2 item pernyataan yang ke 1) saya sering bertanya pada guru tentang materi yang belum jelas pada saat pelajaran berlangsung prosentase terbesar lebih dari separuh (57,1 %) siswa kriterianya tinggi, prosentase lebih kecil (21,4 %) siswa kriterianya sangat tinggi, prosentase lebih kecil (14,3 %) siswa kriterianya cukup, dan prosetase paling sedikit lebih kecil (7,1 %) siswa kriterianya cukup. Pernyataan ke 2) saya memperhatikan guru pada saat menerangkan materi pelajaran seni budaya, prosentase yang paling banyak separuh (50 %) siswa kriterianya sangat tinggi, prosentase kurang dari separuh (35,7 %) siswa kriterianya tinggi, prosentase lebih kecil (7,1 %) siswa kriterianya cukup dan kurang. Maka dapat dikatakan pada indikator ini siswa aktif dalam bertanya dan memperhatikan guru saat menjelaskan materi pembelajarannya. Materi yang kurang dipahami, siswa berani bertanya agar lebih mengerti. Sehingga interaksi antar guru dan siswa terjalin. Kriterianyapun pada indikator ini sangat tinggi dan tinggi.

Indikator tugas di kelas/ tugas PR terdiri dari 2 item pernyataan, 1) saya selalu mengerjakan tugas di dalam kelas maupun tugas di rumah (PR) dan mengumpulkannya tepat waktu, prosentase terbanyak kurang dari separuh (42,9 %) siswa kriterianya cukup, prosentase lebih kecil (28,6 %) siswa kriterianya tinggi, prosentase lebih kecil (21,4 %) siswa kriterianya sangat tinggi, dan prosentase paling sedikit lebih kecil (7,1 %) siswa. Pernyataan ke 2) karena banyaknya tugas, saya menjadi malas mengerjakannya (pernyataan negatif), prosentase terbanyak lebih dari separuh (78,6 %) siswa kriterianya kurang, prosentase lebih kecil (14,3 %) siswa kriterianya tinggi, prosentase lebih kecil (7,1 %) kriterianya sangat tinggi, dan kriteria cukup tidak ada. Maka dapat dikatakan pada indikator ini siswa disiplin dan tidak malas, pengumpulan tugas tepat waktu meskipun dikriteria cukup dan tidak malas saat mengerjakan tugas.

Dari penjelasan tiap indikator dan pernyataan tersebut, dijelakan dalam gambar3.2 dengan pendataan prosentase terbesar dari masing-masing indikator dan pernyataannya.

Figure 2.

Pada gambar di atas menunjukkan prosentase terbesar tiap indikator dari pernyataan siswa kelas IV. Prosentase yang paling banyak indikator tugas di kelas/ tugas PR pada pernyataan ke 2 “karena banyaknya tugas, saya menjadi malas mengerjakannya” yang merupakan pernyataan negatif. Lebih dari separuh mencentang di angket tidak setuju, dengan artian meskipun tugas banyak, tidak membuat siswa menjadi malas mengerjakannya. Banyak siswa yang berminat akan pelajaran seni budaya. Sedangkan paling sedikit pada indikator frekuensi melihat pameran seni pada prosentase kurang dari separuh (35,7 %) siswa pada pernyataan ke 1 ”melihat hasil karya pemenang lomba, pameran karya seni sangat penting sekali” pada kriteria tinggi dan cukup, dan pada pernayataan ke 2 “mengunjungi pameran seni budaya dapat meningkatkan kreativitas saya” pada kriteria tinggi dan kurang. Pada indikator ini paling sedikit bisa dikarenakan Kota Bangil terdapat kegiatan pameran tidak sebanyak di Kota besar, juga dari pandangan orang tua, karena anak masih kecil kemana-mana tentu dengan orang tua atau kalau di Sekolah dengan gurunya.

2. Minat Belajar Seni Budaya pada Siswa Kelas V

Untuk instrumen angket tentang minat belajar siswa terdiri dari 15 item pernyataan. Yang dibagikan pada 34 siswa kelas V. Hasilnya adalah sebagai berikut:

Kriteria/ Tingkat Frekuensi Prosentase
Sangat tinggi 22 64,7 %
Tinggi 12 35,3 %
Cukup - 0 %
Kurang - 0 %
Jumlah 34 100 %
Table 4. Tingkat Minat Belajar Seni Budaya pada Siswa Kelas V

Figure 3.

Dari tabel di atas tingkat minat belajar seni budaya pada siswa kelas V prosentase lebih dari separuh (64,7 %) kriterianya sangat tinggi, prosentase kurang dari separuh (35,3 %) siswa kriterianya tinggi, untuk kriteria cukup dan kurang prosentasenya (0 %). Maka dapat dikatakan bahwa siswa kelas V tingkat minat belajar seni budayanya sangat tinggi, mendapat prosentase lebih dari separuh dari jumlah seluruh respondennya.

Selanjutnya diuraikan data tiap indikator minat belajar seni budaya pada siswa kelas V. Pertama indikator kegiatan saat mata pelajaran seni budaya terdiri dari 2 item pernyataan, 1) saya selalu merasa bosan waktu mengikuti pelajaran seni budaya (pernyataan negatif), prosentase terbanyak lebih dari separuh (64,7 %) siswa pada kriteria kurang, prosentase kurang dari separuh (32,4 %) siswa kriterianya cukup, prosentase lebih kecil (2,9 %) siswa, untuk kriteria sangat tinggi tidak ada. 2) saya tidak pernah mengantuk saat mengikuti pelajaran seni budaya, prosentese terbanyak lebih dari separuh (70,6 %) siswa kriterianya sangat tinggi, prosentase lebih kecil (23,5 %) siswa kriterianya tinggi, prosentase lebih kecil (2,9 %) siswa kriteria cukup dan kurang. Maka dapat dikatakan pada indikator ini siswa

merasa senang, tidak merasa bosan dan mengantuk saat proses belajar mengajar seni budaya.

Kedua tentang indikator frekuensi melihat pameran seni terdapat 2 item pernyataan, 1) melihat hasil karya pemenang lomba, pameran karya seni sangat penting sekali, prosentase terbanyak lebih dari separuh (52,9 %) siswa kriterianya sangat tinggi, prosentase kurang dari separuh (35,3 %) siswa kriterianya tinggi, prosentase lebih kecil (8,8 %) siswa kriterianya cukup, dan untuk prosentase lebih kecil (2,9 %) siswa kriterianya kurang. Pernyataan ke 2) mengunjungi pameran seni budaya dapat meningkatkan kreativitas saya, prosentase paling banyak sebagian besar (82,4 %) siswa kriterianya sangat tinggi, prosentase lebih kecil (14,7 %) siswa kriterianya tinggi, prosentase lebih kecil (2,9 %) siswa kriterianya cukup, untuk kriteria kurang tidak ada. Maka dapat dikatakan pada indikator ini siswa- siswi setuju, bahwa dengan melihat dan mengunjungi pameran seni dapat meningkatkan kreativitasnya.

Ketiga tentang indikator keaktifan pada kegiatan seni rupa terdiri dari 2 item pernyataan yaitu 1) mengikuti kegiatan berkesenian, pameran lukisan, dan lainnya bisa menambah pengalaman, prosentase terbanyak lebih dari separuh (64,7 %) siswa kriterianya sangat tinggi, presentase kurang dari separuh (35,3 %) siswa kriterianya tinggi, sedangkan untuk presentase cukup kurang tidak ada. Pernyataan ke 2) mengikuti lomba seni (mewarnai, menggambar, lukis, musik, tari, dll.), prosentase paling banyak lebih dari separuh (73,5 %) siswa kriterianya sangat tinggi, prosentase lebih kecil (20,6 %) siswa kriterianya tinggi, prosentase lebih kecil (5,9 %) siswa kriterianya cukup, untuk kriteria kurang tidak ada. Maka dapat dikatakan pada indikator ini siswa mengikuti lomba, mengunjungi kegiatan seni misalkan pameran seni lukis sangat tinggi. Di Kota Bangil setidaknya dalam satu tahun terdapat lomba menggambar dan mewarnai, siswa-siswa yang cukup menonjol biasanya diikutkan, siswa yang minat dianjurkan untuk datang melihat-lihat atau mengapresiasinya. Meskipun tidak selalu mendapatkan juara, yang terpenting berani dan berkarya.

Keempat tentang indikator dukungan lingkungan keluarga, pernyataannya yaitu orang tua perlu sering mengingatkan untuk belajar seni budaya, prosentase lebih dari separuh (52,9 %) siswa kriterianya sangat tinggi, prosentase kurang dari separuh (35,3 %) siswa kriterianya tinggi, prosentase lebih kecil (11,8 %) siswa kriterianya cukup, untuk kriteria kurang tidak ada. Maka dapat dikatakan pada indikator ini orang tua/ keluarga banyak yang mengingatkan untuk belajar seni, karena untuk mengembangkan kreativitas dan kedisiplinan siswa. Meskipun bukan matapelajaran yang diujikan untuk syarat kelulusan saat kelas VI nanti.

Kelima tentang indikator dukungan lingkungan sekolah, pernyataannya yaitu antara teman saat pembelajaran berlangsung dapat saling membantu untuk mempermudah belajarnya, prosentase terbanyak lebih dari separuh (58,8 %) siswa kriterianya sangat tinggi, prosentase kurang dari separuh (32,4 %) siswa kriterianya tinggi, prosentase lebih kecil (5,9 %) siswa kriterianya cukup, prosentase lebih kecil (2,9 %) siswa kriterianya kurang. Maka dapat dikatakan pada indikator ini siswa memang saling membantu jika antar teman mengalami kesulitan. Saat berkarya, siswa di bebaskan untuk keliling kelas sambil melihat karya teman-temannya, agar bisa saling mengapresiasi mana yang bagus, dan mana yang kurang bagus.

Indikator berikutnya dukungan lingkungan masyarakat, pernyataannya yaitu andai dilingkungan saya banyak yang berkecimpung dalam seni, maka saya juga akan masuk dalam bidang/ kemampuan, kegiatan kesenian, prosentase kurang dari separuh (38,2 %) siswa kriterianya tinggi, prosentase kurang dari separuh (35,3 %) siswa kriterianya sangat tinggi, prosentase lebih kecil (23,5 %) siswa kriterianya cukup, dan prosentase lebih kecil (2,9 %) siswa kriterianya kurang. Maka dapat dikatakan pada indikator ini prosentase terbanyak dikriteria tinggi meskipun kurang dari separuh. Bagaimanapun juga selain lingkungan akademis atau Sekolah, lingkungan masyarakat juga mempengaruhi perkembangan minat siswa. Misalnya seperti di Bali atau di Yogyakarta, masyarkatnya banyak yang berkecimpung di dunia seni.

Indikator selanjutnya tingkat prestasi, pernyataannya yaitu saya pernah mengikuti kegiatan/ kompetisi seni (mewarnai, menggambar, lukis, musik, tari, dll.), karena hal itu sangat penting, prosentase terbanyak lebih dari separuh (58,8 %) siswa kriterianya sangat tinggi, prosentase kurang dari separuh (32,4 %) siswa kriterianya tinggi, prosentase lebih kecil (5,9 %) siswa kriterianya cukup, dan prosentase lebih kecil (2,9 %) siswa kriterianya kurang. Maka dapat dikatakan pada indikator ini prestasi siswa kriterianya sangat tinggi. Beberapa siswa sering mengikuti lomba menggambar dan mewarnai meskipun tidak selalu menang. Yang terpenting melatih kreativitas dan jiwa berkompetisinya.

Indikator ke delapan tingkat kehadiran, pernyataannya yaitu saya selalu masuk kelas/ hadir tepat waktu sebelum guru datang memulai pembelajaran seni budaya. Prosentase terbanyak lebih dari separuh (76,5 %) siswa kriterianya sangat tinggi, prosentase lebih kecil (14,7 %) siswa kriterianya tinggi, prosentase lebih kecil (5,9 %) siswa kriterianya cukup, prosentase lebih kecil (2,9 %) siswa kriterianya kurang. Maka dapat dikatakan pada indikator ini bahwa siswa berantusias untuk mengikuti pelajaran seni budaya, karena menurut mereka seni budaya itu pelajaran yang sangat menyenangkan.

Indikator ke sembilan tingkat interaksi saat mata pelajaran seni budaya terdiri dari 2 item yaitu 1) saya sering bertanya pada guru tentang materi yang belum jelas pada saat pelajaran berlangsung. Prosentase terbanyak lebih dari separuh (52,9 %) siswa kriterianya sangat tinggi, prosentase lebih kecil (29,4 %) siswa kriterianya tinggi, prosentase lebih kecil (11,8 %) siswa kriterianya cukum dan prosentase lebh kecil (5,9 %) siswa kriterianya kurang. Maka dapat di artikan pada indikator tersebut bahwa siswa aktif dalam bertanya jawab dengan guru yang bersangkutan. Pernyataan ke 2) saya memperhatikan guru pada saat menerangkan materi pelajaran seni budaya.

Pernyataan ke 2) saya memperhatikan guru pada saat menerangkan materi pelajaran seni budaya. Prosentase lebih dari separuh (70,6 %) siswa kriterianya sangat tinggi, prosentase lebih kecil (23,5 %) siswa kriterianya tinggi, prosentase lebih kecil (5,9 %) siswa kriterianya cukup, sedangkan untuk kriteria kurang tidak ada. Maka dapat di artikan pada indikator ini bahwa siswa sangat serius untuk mengikuti pelajaran seni budaya karna dapat kita simpulkan bahwa siswa tersebut banyak yang menyukai pelajaran seni budaya.

Indikator ke sepuluh tentang tugas di kelas/tugas PR terdiri dari 2 item pernyataan yaitu 1) saya selalu mengerjakan tugas di dalam kelas maupun tugas di rumah (PR) dan mengumpulkannya tepat waktu. Prosentase kurang dari separuh (47,1 %) siswanya kriterianya sangat tinggi, prosentase kurang dari separuh (35,3 %) siswa kriterianya tinggi, prosentase lebih kecil (11,8 %) siswa kriterianya kurang, untuk prosentase lebih kecil (5,9 %) siswa kriterianya cukup. Maka dapat di artikan pada indikator tersebut siswa sudah bisa bertanggung jawab pada tugas sekolahnya dan bisa di bilang siswa tersebut siswa yang teladan dan taat dengan guru. Pernyataan ke 2) karena banyaknya tugas, saya jadi malas mengerjakan (pernyataan negatif), prosentase lebih dari separuh (73,5 %) siswa kriterianya kurang, prosentase lebih kecil (20,6 %) siswa kriterianya cukup, prosentase lebih kecil (5,9 %) siswa kriterianya sangat tinggi, sedangkan kriterianya tinggi tidak ada. Maka dapat diartikan pada indikator ini siswa di tidak malas untuk mengerjakan tugas sekolah meskipun tugasnya banyak, kebanyakan siswa mengerjakan tugas dengan senang hati dan mengumpulkan tugas tepat waktu, maka dari ini kita bisa melihat kalau siswa tersebut tidak malas meskipun banyak tugas di sekolah.

Figure 4.

Pada gambar di atas menunjukkan prosentase terbesar tiap indikator dari pernyataannya. Yang paling banyak pada indikator frekuensi melihat pameran seni dipernyataan ke 2 “mengunjungi pameran seni budaya dapat meningkatkan kreativitas saya” prosentasenya (82,4 %) siswa dikriteria sangat tinggi. Dapat diartikan minat siswa setuju akan pernyataan tersebut. Dengan kegiatan mengapresiasi, melihat, mengunjungi kegiatan atau hal yang bagus akan meningkatkan daya kreativitasnya. Sedangkan paling sedikit pada indikator dukungan lingkungan masyarakat dengan pernyataan ” andai dilingkungan saya banyak yang berkecimpung dalam seni, maka saya juga akan masuk dalam bidang/ kemampuan, kegiatan kesenian” prosentasenya (38,2 %) siswa kriterianya tinggi. Memang bagaimanapun juga pengaruh masyarakat dan keluarga bisa menentukan minat tumbuh kembang pemikiran anak-anak. Apalagi di Kota kecil Bangil perkembangan seni tidak seperti di Kota-Kota besar atau di Pulau Bali. Cenderung terbentuk untuk hidup dengan berkesenian. Di Kota Bangil beraneka macam kegiatan yang muncul dalam wilayah tersebut. Sehingga prosentase yang didapat tidak lebih dari separuh jumlah siswa kelas V keseluruhan.

B. Sikap Belajar Seni Budaya pada Siswa Kelas IV dan V

Sikap adalah Kondisi kesiapan mental emosional untuk melakukan suatu tindakan tertentu bila suatu situasi dihadapi.Sikap menunjukkan kepada kondisi seseorang agar siap melakukan sesuatu, bukan suatu prilaku yang nyata. Setiap orang memiliki sikap yang berbeda-beda terhadap suatu perangsang. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang ada pada diri individu masing-masing seperti adanya perbedaan dalam bakat, minat, pengalaman, pengetahuan, intensitas, perasaan, dan juga situasi lingkungan [15].

Sikap belajar seni budaya akan diobservasi dari 5 kriteria, yaitu teliti, kerja sama, kreatif, disiplin mengikuti pelajaran, dan tanggung jawab. Selanjutnya akan diuraikan data instrumen observasi dari berbagai aspek yang dijabarkan dari subvariabel dan indikator.

Variabel Subvariabel Indikator Aspek Observasi Teknik Pengambil-an Data Sumber Data
Afektif A. Komponen Kognetif (Pandangan/ persepsi). B. Komponen Afektif (perasaan) C. Komponen Konatif (kesiapan/ kesediaan) a. Dapat menjawab tugas. b. Dapat membantu mengerjakan tugas dengan kelompok. c. Dapat menampilkan tugas dengan menarik. d. Dapat mengikuti ketentuan atau informasi mata pelajaran dan Sekolah e. Dapat mematuhi aturan Sekolah dan ketentuan mata pelajaran. a) Teliti b) Kerja sama c) Kreatif d) Disiplin e) Tanggung Jawab Lembar Observasi Siswa kelas IV dan V SDI Jalaluddin Bangil.
Table 5. Jabaran Variabel Penelitian Sikap

1. Sikap Belajar Seni Budaya pada Siswa Kelas IV

Sikap belajar seni budaya pada siswa kelas IV dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

Kriteria/ Tingkat Frekuensi Prosentase
Sangat tinggi 5 35,7 %
Tinggi 1 7,1 %
Cukup 5 35,7 %
Kurang 3 21,4 %
Jumlah 14 100 %
Table 6. Tingkat Sikap Belajar Seni Budaya Kls. IV

Figure 5.

Sikap adalah Kondisi kesiapan mental emosional untuk melakukan suatu tindakan tertentu bila suatu situasi dihadapi.Sikap menunjukkan kepada kondisi seseorang agar siap melakukan sesuatu, bukan suatu prilaku yang nyata. Setiap orang memiliki sikap yang berbeda-beda terhadap suatu perangsang. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang ada pada diri individu masing-masing seperti adanya perbedaan dalam bakat, minat, pengalaman, pengetahuan, intensitas, perasaan, dan juga situasi lingkungan [15].

Sikap belajar seni budaya akan diobservasi dari 5 kriteria, yaitu teliti, kerja sama, kreatif, disiplin mengikuti pelajaran, dan tanggung jawab. Selanjutnya akan diuraikan data instrumen observasi dari berbagai aspek yang dijabarkan dari subvariabel dan indikator.

Dari gambar 3.5 prosentase kurang dari separuh (35,7 %) siswa kelas IV memiliki kriteria sikap belajar seni budaya kriterianya sangat sesuai dan kurang sesuai, prosentase lebih kecil (21,4 %) siswa kriterianya tidak sesuai, dan prosentase paling sedikit lebih kecil (7,1 %). Hasil observasi terstruktur mendapatkan kriteria sangat sesuai dan kurang sesuai, keduanya jumlah prosentase kurang dari separuh.

Selanjutnya akan diuraikan data hasil instrumen observasi terstruktur untuk tiap indikator sikap belajar seni budaya pada siswa kelas IV. Pertama aspek teliti, prosentase terbanyak kurang dari separuh (42,9 %) siswa kriterianya kurang sesuai, prosentase lebih kecil (21,4 %) siswa kriterianya sangat tinggi dan sesuai, dan prosentase lebih kecil (14,3 %) siswa kriterianya tidak sesuai. Karena masih terbawa dengan sikap kekanak-kanakannya, terkadang teliti dan kurang.

Aspek kerja sama dalam observasi sikap belajar seni budaya pada siswa kelas IV, prosentase terbesar kurang dari separuh (42,9 %) siswa kriterianya sesuai, prosentase lebih kecil (28,6 %) siswa kriterianya sangat sesuai, prosentase lebih kecil (14,3 %) siswa kriterianya kurang sesuai dan tidak sesuai. Maka dapat dikatakan kerja sama dalam pembelajaran, mengerjakan tugas kelompok sudah sesuai dengan sikapnya, meskipun prosentasenya kurang dari separuh.

Aspek berikutnya yaitu kreatif, prosentase terbesar kurang dari separuh (35,7 %) siswa kriterianya kurang sesuai, prosentase lebih kecil (28,6 %) siswa kriterianya sangat sesuai, prosentase lebih kecil (21,4 %) siswa kriterianya tidak sesuai, dan prosentase lebih kecil (14,3 %) siswa kriterianya sesuai. Bervariasi minat dan sikapnya siswa kelas IV jadi proses kreativitas dalam bidang seni budaya ada yang cukup bagus ada yang sedang. Masih perlu di gali lagi kreativitasnya. Berkarya tidak sering mencontoh sama persis, tapi dikembangkan dengan visual yang berbeda dikreasikan yang baru.

Aspek selanjutnya yaitu disiplin mengikuti pelajaran yang diamati dalam observasi sikap belajar seni budaya pada siswa kelas IV, prosentase terbanyak kurang dari separuh (42,9 %) siswa kriterianya sesuai, prosentase lebih kecil (28,6 %) siswa kriterianya kurang sesuai, prosentase lebih kecil (14,3 %) siswa kriterianya sangat sesuai dan tidak sesuai. Maka dapat dikatakan bahwa tingkat disiplin mengikuti pelajaran belajar seni budaya pada siswa kelas

IV kriterianya sesuai. Disisplin mengikuti pelajaran, tepat waktu saat masuk kelas, pengumpulan tugas dan sebagainya, meskipun prosentasenya kurang dari separuh.

Selanjutnya yaitu aspek tanggung jawab, prosentase terbanyak kurang dari separuh (42,9 %) siswa kriterianya sesuai, prosentase lebih kecil (28,6 %) siswa kriterianya kurang sesuai, dan prosentase lebih kecil (14,3 %) siswa kriterianya sangat sesuai dan tidak sesuai. Maka dapat dikatakan bahwa sikap yang tanggung jawab seharusnya dilakukan sesuai, meskipun prosentasenya kurang dari separuh. Tanggung jawab menyelesaikan tugas, dan jika melakukan kesalahan harus bersikap yang semestinya. Memang bagaimanapun juga siswa kelas IV masih perlu banyak belajar berbagai macam hal.

Figure 6.

Pada gambar 3.6 penjabaran prosentase tertinggi dari tiap-tiap indikator/ aspek pada variabel sikap belajar seni budaya pada siswa kelas IV. Terdapat jumlah prosentase yang sama tapi kriterianya ada yang berbeda, prosentase kurang dari separuh (42,9 %) siswa kriterianya sesuai di aspek kerja sama, disiplin mengikuti pelajaran, dan tanggung jawab dalam tugas. Untuk prosentase kurang dari separuh (42,9 %) siswa kriterianya kurang sesuai di aspek teliti, dan prosentase terkecil kurang dari separuh (35,7 %) siswa kriterianya kurang sesuai di aspek kreatif. Sikap yang ditunjukkan oleh siswa kelas IV bisa dikatakan masih banyak yang perlu ditingkatkan lagi. Karena prosentase kesesuaian sikap dengan aspek penelitian semuanya masih di bawah separuh jumlah siswa seluruhnya. Guru lebih meningkatkan cara pembelajarannya, memotivasi siswa dan menunjukkan contoh-contoh yang menarik, real/ nyata untuk peserta didiknya.

2. Sikap Belajar Seni Budaya pada Siswa Kelas V

Sikap belajar seni budaya pada siswa kelas V dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

Kriteria/ Tingkat Frekuensi Prosentase
Sangat tinggi 22 64,7 %
Tinggi 12 35,3 %
Cukup - 0, 0 %
Kurang - 0, 0 %
Jumlah 34 100 %
Table 7. Tingkat Sikap Belajar Seni Budaya Kls. V

Figure 7.

Pada gambar 3.7 prosentase lebih dari separuh (64,7 %) siswa kriterianya sangat sesuai, prosentase kurang dari separuh (35,3 %) siswa kriterianya sesuai, dan prosentase (0 %) kriterianya kurang sesuai dan tidak sesuai. Maka dapat dikatakan bahwa sikap yang dilakukan siswa saat pembelajaran seni budaya sangat sesuai, prosentasenya lebih dari separuh.

Selanjutnya akan diuraikan data hasil instrumen observasi untuk tiap indikator sikap belajar seni budaya pada siswa kelas V. Pertama aspek teliti dalam pembelajaran, prosentase terbesar kurang dari separuh (41,2 %) siswa

kriterianya sangat sesuai dan sesuai, kemudian prosentase lebih kecil (17,6 %) siswa kriterianya kurang sesuai, dan

kriteria tidak sesuai prosentasenya (0 %). Maka dapat dikatakan sikap siswa sudah banyak yang teliti ketika mengerjakan tugas, apa saja yang harus di bawa ke Sekolahan dan lainnya.

Aspek berikutnya yaitu kerja sama, prosentase terbanyak prosentase kurang dari separuh (44,1 %) siswa pada kriteria sesuai, prosentase kurang dari separuh (38,2 %) siswa kriterianya sangat sesuai, prosentase lebih sedikit (17,6 %) siswa kriterianya kurang sesuai, dan untuk kriteria tidak sesuai prosentasenya (0 %). Maka dapat dikatakan bahwa tingkat kerja sama belajar seni budaya pada siswa kelas V sesuai. Terjalin dengan baik sikap kerja samanya sesuai dengan seharusnya. Kerja sama menyelesaikan tugas kelompok yang diberikan guru dan yang lainnya.

Berikutnya aspek kreatif yang diamati dalam observasi sikap belajar seni budaya pada siswa kelas V, prosentase terbanyak pada kriteria sesuai yaitu prosentasenya separuh (50 %) siswa, prosentase kurang dari separuh (47,1 %) siswa kriterianya sangat sesuai, prosentase lebih kecil (2,9 %) siswa kriterianya kurang sesuai, dan untuk kriteria tidak sesuai prosentasenya (0 %). Maka dapat dikatakan sikap siswa sesuai dengan seharusnya. Paling tidak siswa separuh kelas memiliki sikap yang kreatif, dapat dilihat dari saat mengerjakan tugas berkarya seninya.

Aspek selanjutnya yaitu disiplin mengikuti pelajaran, prosentase terbanyak lebih dari separuh (70 %) siswa kriterianya sangat sesuai, prosentas lebih kecil (26,5 %) siswa kriterianya sesuai, prosentase lebih kecil (2,9 %) siswa kriterianya kurang sesuai, dan kriteria tidak sesuai prosentasenya (0 %). Maka dapat dikatakan bahwa tingkat disiplin mengerjakan tugas, masuk kelas tepat waktu, atribut pakaian, mengikuti pembelajaran seni budaya lebih dari separuh jumlah siswa kelas V disiplinnya sudah sangat sesuai dengan seharusnya.

Selanjutnya aspek tanggung jawab dalam tugas, prosentase terbanyak lebih dari separuh (52,9 %) siswa kriterianya sangat sesuai, prosentase kurang dari separuh (41,2 %) siswa kriterianya sesuai, prosentase lebih kecil (5,9 %) siswa kriterianya kurang sesuai, dan prosentase (0 %) siswa kriterianya tidak sesuai. Maka dapat dikatakan bahwa tingkat tanggung jawab dalam mengerjakan tugas, sikap dan sebagainya pada siswa kelas V kriterianya sangat sesuai dengan sikap yang seharusnya dilakukan oleh siswa-siswi.

Figure 8.

Pada gambar di atas penjabaran prosentase tertinggi dari tiap-tiap indikator/ aspek pada variabel sikap belajar seni budaya pada siswa kelas V. Dari yang paling banyak prosentasenya pada aspek disiplin mengikuti pelajaran lebih dari separuh (70 %) siswa kriteria sesuai. Berikutnya aspek tanggung jawab dalam tugas lebih dari separuh (52,9 %) siswa kriterianya sangat sesuai, yang ke 3 aspek kreatif prosentasenya separuh (50 %) siswa kriterianya sesuai, aspek kerja sama prosentasenya separuh (44,1 %) siswa kriterianya sesuai, dan prosentase kurang dari separuh (41,2 %) siswa kriterianya sangat sesuai dan sesuai. Sikap yang seharusnya dilakukan oleh siswa sudah sesuai dengan tujuan mereka belajar. Meskipun dibeberapa aspek masih di bawah separuh jumlah siswa secara keseluruhan, seperti halnya teliti dan kerja sama. Dua aspek tersebut harus ditingkatkan lagi sikapnya.

Simpulan

Minat dan sikap merupakan hal yang saling berkaitan. Ketika siswa atau orang tersebut menyatakan minat dengan sesuatu hal, maka dia akan bersikap bagaimana agar mendapatkan, memperoleh, berkecimpung dengan apa yang ia minati tersebut. Untuk kelas IV ada beberapa keadaan yang belum singkron akan minat dan sikapnya. Kemungkinan hal tersebut terjadi karena masih cukup kecil untuk bersikap semestinya. Orang tua dan Guru harus lebih memotivasi dan menunjukkan contoh-contoh yang nyata real agar anak lebih memahaminya, sehingga anak-anak memiliki minat belajar yang tinggi dan dapat bersikap seharusnya. Sedangkan siswa kelas V sudah banyak yang sesuai minat dan sikapnya. Tetapi tetap harus diberi dorongan, arahan dan motivasi baik dari Guru dan Orang Tuanya. Karena ada beberapa indikator yang masih di bawah separuh prosentasenya. Dengan mengetahui minat dan sikap dari

berbagai indikator dan aspek tersebut, guru dapat mengambil sikap atau tindakan bagaimana seharusnya dalam mengelolah kelas, menyampaikan materi, membimbing siswa-siswinya agar lebih semangat belajar dan berprestasi. Untuk penelitian ini tentang pembelajaran seni budaya, tapi juga sedikit banyak ada beberapa indikator yang mungkin bisa sebagai tolak ukur akan pandangan siswa ke yang lainnya. Lingkungan di luar akademisi atau lingkungan keluarga dan masyarakat juga sangat turut andil dalam membentuk wawasan siswa-siswa mengembangkan bakat dan minatnya.

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan kemudahan dan kelancaran dalam setiap proses hingga mampu mengerjakan tugas akhir untuk memperoleh gelar S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Dan kepada kedua orang tua, mertua, suami, sikecil saya serta keluarga yang memberi semangat, motivasi, dan doa serta kepada Bapak/ Ibu dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang senantiasa membantu para mahasiswanya hingga proses akhir ini.

References

[1] A. I. Firdaus and Mukhibat, “Pengaruh Sikap dan Minat Belajar Siswa dengan Nilai Hasil Belajar Mata Pelajaran IPS Terpadu Siswa Kelas VIII MTs Pondok Pesantren Sareh Wasilah Al Islam Magetan Tahun Ajaran 2020/2021,” Jurnal Ilmiah Ilmu Pengetahuan Sosial Indonesia, vol. 2, no. 1, pp. 63–72, 2022.

[2] Gupita E. C. and Elfrida, “Minat Belajar Siswa pada Pembelajaran Seni Tari Tradisional di Sekolah Dasar,” in Prosiding Seminar Nasional PGSD, Yogyakarta, 2019.

[3] M. Syah, Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003.

[4] A. Mulyana and S. Hidayat, “Hubungan Antara Persepsi, Minat, dan Sikap Siswa dengan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran PKn,” Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, vol. 19, no. 2, pp. –, 2013.

[5] T. S. Nanda, “Studi Tentang Minat dan Sikap Belajar Siswa Kelas VIII Reguler, RSBI dan Akselerasi terhadap Mata Pelajaran Seni Budaya (Seni Rupa) di SMP Negeri 1 Malang,” Unpublished Undergraduate Thesis, FS UM, Malang, 2010.

[6] L. Arif and Samidjo, “Hubungan antara Sikap Belajar dan Motivasi Belajar Kejuruan dengan Hasil Belajar Gambar Teknik,” Jurnal Taman Vokasi, vol. 6, no. 1, pp. 92–97, 2018.

[7] M. A. Janna, “Sikap, Minat dan Motivasi Belajar Siswa terhadap Mata Pelajaran Seni Budaya (Seni Rupa) di SMA Negeri 1 Bangil Tahun Ajaran 2007/2008,” Unpublished Undergraduate Thesis, FS UM, Malang, 2006.

[8] N. M. Purwanto, Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002.

[9] A. Mulyana, “Hubungan Antara Persepsi, Minat, dan Sikap Siswa dengan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran PKn,” Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, vol. 19, no. 2, pp. –, 2013.

[10] P. S. P. Sarjono, Psikologi Pendidikan. Jakarta: Erlangga, 1989.

[11] P. Indriyanti and D. P. S. Indah, “Eksplorasi Minat Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran Seni Tari di SD Taman Muda Ibu Pawiyatan Yogyakarta,” Yogyakarta: Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, 2017.

[12] O. Kurniaman and E. Noviana, “Penerapan Kurikulum 2013 dalam Meningkatkan Keterampilan, Sikap, dan Pengetahuan,” Jurnal Primary: Program Studi PGSD FKIP Universitas Riau, 2017.

[13] C. Sunaengsih, “Pengaruh Media Pembelajaran terhadap Mutu Pembelajaran pada Sekolah Dasar Terakreditasi A,” Mimbar Sekolah Dasar, vol. 3, no. 2, 2016.

[14] S. Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta, 2002.

[15] Y. Siska, “Korelasi Sikap, Minat, dan Motivasi Belajar dengan Pengetahuan Sejarah Lokal Lampung,” Mimbar Sekolah Dasar, vol. 5, no. 1, pp. 51–62, 2018.

[16] A. Riwahyudin, “Pengaruh Sikap Siswa dan Minat Belajar Siswa terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V Sekolah Dasar di Kabupaten Lamandau,” Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 6, no. 1, 2015.