<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>School Well-Being Boosts Student Motivation in Indonesia</article-title>
        <subtitle>Kesejahteraan Sekolah Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di Indonesia</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-684c0de419e3bc138017153d5ce21d12" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Priambadi</surname>
            <given-names>Braniodi Shandy </given-names>
          </name>
          <email>Priambadi@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-6681b18cc3343637fb21cb7db4018374" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Nastiti</surname>
            <given-names>Dwi </given-names>
          </name>
          <email>dwinastiti@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution content-type="orgname">Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution content-type="orgname">Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2024-04-22">
          <day>22</day>
          <month>04</month>
          <year>2024</year>
        </date>
      </history>
      <abstract>
        <p id="paragraph-4203125559464cb06729a098868de11c">This study examines the relationship between school well-being and learning motivation among Islamic Vocational High School students in Tulangan, Sidoarjo. Using a quantitative correlational method, 222 students were selected from a population of 497 through stratified random sampling. Validated scales measured school well-being and learning motivation, with data analyzed using Pearson product-moment correlation via JASP software. Results showed a significant positive correlation (r=0.432, p&lt;0.001), indicating that higher school well-being is associated with increased learning motivation. These findings suggest that improving school infrastructure and resources can enhance student motivation, highlighting the need for collaborative efforts to boost educational quality.</p>
      </abstract>
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-6586e64e55c818668db8051af31bcd94">
      <title>
        <bold id="bold-9a3a76f26243c6133d257b920ced68fa">Pendahuluan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-13">Pendidikan adalah sebuah sistem yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia, baik secara individu ataupun kelompok, baik secara jasmani dan rohani, dan juga mematangkan cara berpikir sehingga manusia tersebut dapat berkontribusi kepada masyarakat dan negara [1]. Jenjang pendidikan SMK adalah salah jenjang pendidikan yang bertugas untuk menciptakan lulusan yang kompeten dalam segi kinerja dan selanjutnya dapat mengembangkannya didalam dunia kerja [2]. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dibutuhkan motivasi untuk mencapai keberhasilan pendidikan sebagai bentuk upaya untuk meningkatkan hasil belajar dari siswa dan selanjutnya meningkatkan kompetensi siswa [3].</p>
      <p id="_paragraph-14">Andriani dan Rasto [4] menjelaskan bahwa hasil belajar yang diperoleh siswa tidak selalu sesuai dengan standar yang diberikan, yang mana hasil belajar tersebut masih belum maksimal. Hal ini menunjukkan adanya fenomena rendahnya motivasi belajar pada siswa dikarenakan hasil belajar sebagai salah satu output dari motivasi belajar siswa masih ditemukan rendah. Adapun motivasi menjadi salah satu faktor dari dalam diri siswa yang mempengaruhi hasil belajar sedangkan faktor internal lain yang memengaruhi adalah intelegensi, perhatian, minat, bakat, kesiapan, dan kematangan [5].</p>
      <p id="_paragraph-15">Motivasi untuk belajar juga menjadi sebuah hal yang penting bagi seorang siswa karena siswa dengan motivasi belajar yang tinggi akan mendapat hasil belajar yang tinggi pula karena siswa yang termotivasi akan mencoba semua yang dia bisa untuk mencapai apa yang mereka inginkan [6]. Hal ini menandakan bahwa siswa yang memiliki motivasi belajar yang rendah akan cenderung untuk kesulitan hasil belajar yang tinggi ataupun rata-rata karena mereka kekurangan dorongan yang dapat membawa mereka untuk mencapai hal yang mereka inginkan, atau malah hasil belajar bukanlah sesuatu yang mereka inginkan. Bakar [7] menambahkan bahwa motivasi belajar dapat berpengaruh pada <italic id="_italic-18">productive competencies</italic> dari siswa SMK dimana <italic id="_italic-19">productive competencies </italic>merupakan kapasitas seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu. Hal ini menandakan bahwa motivasi yang rendah akan mengarah kepada turunnya kapasitas seseorang dalam melakukan sesuatu bagi siswa SMK.</p>
      <p id="_paragraph-16">Motivasi didefinisikan sebagai dorongan psikologis untuk melakukan sebuah tindakan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan [8]. Bedasarkan definisi tersebut maka motivasi belajar didefinisikan sebagai seluruh daya penggerak dari dalam diri seorang siswa yang mendorong mereka untuk mengikuti kegiatan belajar, sehingga tujuan belajar yang diinginkan dapat tercapai dengan baik [9]. Motivasi adalah hal yang penting bagi siswa karena motivasi berkaitan dengan dorongan seorang siswa untuk menggerakkan diri siswa melakukan aktivitas akademik dan juga mencapai beberapa target akademik yang telah ditentukan, tanpa jal tersebut maka siswa akan kesulitan untuk menjalani kehidupan sekolah, dan akan ada kecenderungan untuk meraih hasil belajar yang rendah dikarenakan tidak ada dorongan untuk membawa siswa kepada hasil tersebut. Rahmawati [10] dalam penelitiannya menjelaskan bahwa beberapa indikator yang dapat menentukan tingkatan motivasi dari siswa diantaranya adalah tekun dalam menghadapi tugas, ulet menghadapi tugas, menunjukkan minat terhadap beberapa macam masalah, lebih senang bekerja secara mandiri, cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin, dapat mempertahankan pendapat tidak mudah melepas hal yang diyakini, senang mencari dan memecahkan masalah.</p>
      <p id="_paragraph-17">Permasalahan motivasi pada siswa sekolah juga ditemukan pada penelitian sebelumnya. Penelitian yang dilakukan oleh Santosa dan Us menjelaskan bahwa siswa kelas XI SMK Muhammadiyah Bambanglipuro mengelami fenomena motivasi belajar yang rendah yang diindikasikan dengan tingkat kehadiran siswa yang rendah, banyak PR yang dikerjakan disekolah, siswa yang cepat putus asa, dan siswa yang tidak semangat mengikuti pembelajaran [11]. Fenomena lain motivasi belajar yang rendah juga dijelaskan dalam penelitian yang dilakukan oleh Rahman pada siswa SMA yang menjelaskan bahwa siswa memiliki motivasi belajar yang rendah yang ditandai dengan tidak memiliki kesungguhan dalam belajar didalam sebuah mata pelajaran tertentu dan juga lalainya siswa untuk mengerjakan tugas yang diberikan [12]. Fenomena rendahnya motivasi belajar yang rendah juga masih banyak ditemukan dalam beberapa penelitian lainnya.</p>
      <p id="_paragraph-18">Fenomena motivasi belajar yang rendah dapat ditemukan pada SMK Islam Tulangan Sidoarjo dimana bedasarkan hasil survei yang dilakukan oleh peneliti, maka sekitar 45% siswa dari jumlah responden sebanyak 30 siswa di SMK tersebut memiliki tingkatan motivasi belajar yang rendah. Hal ini juga diperkuat dengan hasil wawancara tanggak 18 Mei 2022 dengan beberapa siswa yang mengatakan bahwa motivasi belajar yang dimiliki selama bersekolah lama-kelamaan menjadi turun karena perasaan bosan dan merasa tidak kreatif karena tidak dapat mengaplikasikan hobi yang dimiliki seperti fotografi. Hasil wawancara juga mengungkapkan bahwa siswa mengalami permasalahan motivasi belajar seperti wawancara dengan siswa A yang mengatakan bahwa dia tidak berminat dengan beberapa pelajaran yang diajarkan di sekolah. Hal ini menandakan bahwa siswa A memiliki permasalahan masalah sesuai dengan aspek motivasi belajar dari Sardirman yaitu memiliki minat pada topik atau suatu bidang tertentu [10].</p>
      <p id="_paragraph-19">Rahmawati [10] dalam penelitiannya menjelaskan bahwa motivasi belajar dari siswa smk dipengaruhi oleh fasilitas belajar, lingkungan keluarga, peran guru, ketertarikan terhadap materi, lingkungan teman, cita-cita, serta aspirasi atau kondisi siswa. Selanjutnya Hariyanto et al [13] dalam penelitiannya menjelaskan bahwa 3 faktor utama yang dapat mempengaruhi motivasi belajar adalah tindak lanjut guru, lingkungan sekolah, dan dukungan orang tua. Bedasarkan 2 penelitian tersebut maka keduanya sama-sama mengatakan sekolah sebagai faktor yang dapat mempengaruhi motivasi belajar, dan hal ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Ade et al [14] yang menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara <italic id="_italic-20">school well-being </italic>dengan motivasi belajar.</p>
      <p id="_paragraph-20"><italic id="_italic-21">School Well-being</italic> didefinisikan sebagai keadaan siswa yang mencapai kebutuhan dasar di sekolah yang meliputi <italic id="_italic-22">having, loving, being, </italic>and <italic id="_italic-23">health</italic> [15]. <italic id="_italic-24">School well-being</italic> juga merupakan kondisi atau situasi dimana siswa dapat memenuhi kebutuhan dasarnya didalam lingkungan sekolah, yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar [16]. Tingkatan <italic id="_italic-25">school well-being</italic> yang buruk akan sangat mempengaruhi kesehatan mental dari siswa sebagaimana pendapat dari Oktia yang menjelaskan bahwa <italic id="_italic-26">school well-being</italic> yang rendah dan perasaan tidak menyenangkan, menekan, dan membosankan di sekolah akan mengarahkan siswa merasakan beberapa reaksi negatif seperti stress, bosan, kesepian, hingga depresi [17]. Well-being di sekolah akan tercapai ketika siswa dapat merasakan perasaan positif dan lingkungan belajar yang nyaman [18] dimana siswa dapat melakukan proses belajar dengan baik tanpa harus merasa takut dengan beberapa kendala yang tidak diinginkan. Adapun aspek-aspek dari <italic id="_italic-27">school well-being </italic>diantaranya adalah <italic id="_italic-28">having, loving, being, </italic>dan <italic id="_italic-29">healthy </italic>[19]<italic id="_italic-30">.</italic></p>
      <p id="_paragraph-21">Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara <italic id="_italic-31">school well-being </italic>dengan motivasi belajar. Penelitian yang dilakukan oleh Hasanah dan Sutopo [20] menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara <italic id="_italic-32">school well-being</italic> dengan motivasi belajar pada siswa Sekolah Dasar. Selanjutnya ditemukan pula pada penelitian yang dilakukan oleh Amanillah dan Rosiana [21] terdapat hubungan positif antara <italic id="_italic-33">school well-being</italic> dengan motivasi belajar pada siswa SMA. Namun masih jarang ditemukan penelitian yang membahas hubungan antara <italic id="_italic-34">school well-being</italic> dengan motivasi belajar pada siswa SMK. Oleh sebab itu maka penelitian ini akan mencoba untuk menjawab gap penelitian dengan merumuskan tujuan dari penelitian ini yaitu mengukur hubungan antara <italic id="_italic-35">school well-being</italic> dengan motivasi belajar pada siswa SMK Islam Tulangan Sidoarjo. Adapun hipotesis yang diajukan adalah terdapat hubungan antara <italic id="_italic-36">school well-being</italic> dengan motivasi belajar pada siswa SMK Islam Tulangan Sidoarjo.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-c948fe7ab776625ffb1370baebbb5eea">
      <title>
        <bold id="bold-98dd86e23e908e46fff3cceb6e731cb3">Metode</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-22">Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kuantitatif korelasional yang bertujuan untuk menggambarkan hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Populasi dalam penelitian ini adalah Siswa SMK Islam Tulangan sidoarjo dengan jumlah siswa 497. Adapun siswa kelas X berjumlah 178, siswa kelas XI berjumlah 166, dan siswa kelas XII berjumlah 153. Selanjutnya digunakan rumus slovin untuk menentukan jumlah sampel dengan taraf kesalahan 5% sehingga didapatkan jumlah sampel sebanyak 222. Adapun tehnik sampling yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah tehnik sampling <italic id="_italic-37">Stratified Random Sampling</italic>. Berikut adalah pembagian sampel untuk setiap strata kelas yang telah ditentukan</p>
      <table-wrap id="_table-figure-1">
        <label>Table 1</label>
        <caption>
          <title>Jumlah Sampel bedasarkan kelas</title>
          <p id="_paragraph-24" />
        </caption>
        <table id="_table-1">
          <tbody>
            <tr id="table-row-7b9f9575c0ccda3f64b6941583ae6094">
              <td id="table-cell-656312e86b66ec262ddd9d85e8fa5b65" />
              <td id="table-cell-e2c2d0a06fce656c82fab90331bb5984" />
            </tr>
            <tr id="table-row-488a4e4caafd56050e5d1890fba0911b">
              <td id="table-cell-ad814120d084732f571e65d971424874">Kelas</td>
              <td id="table-cell-6b7fc22578582269f0e068097dc10041">Jumlah Sampel</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-23e4f05bb8487edc0044ce42be417be2">
              <td id="table-cell-cf8cac0309a72ce8125a64e5d52c9970">Kelas X</td>
              <td id="table-cell-fdbcbcfef5d2b1137eb8cf80cde3ee4d">80</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-23ff6a5bda4b3c90a78fda450aa11c89">
              <td id="table-cell-f2c8cc4d1add9625176e797f35524c3e">Kelas XI</td>
              <td id="table-cell-f7d2b21d471d699903ff15fdcbe2b3f0">74</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-5d8448aed420339d2dbc7bf4f1cef7ba">
              <td id="table-cell-53fc1199bf8fe671bd4354f8a9bddb94">Kelas XII</td>
              <td id="table-cell-39b61020001464fd43a1fd46c457c247">68</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-20587c0ed2300f10450fdf2e11533367">
              <td id="table-cell-17f9dbb33eaeeac05a83a5b2d6454671">Jumlah</td>
              <td id="table-cell-1f08037f81fb237378b89df56fa7f0aa">222</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-25">Instrumen dalam penelitian ini menyggunakan skala <italic id="_italic-38">school well-being</italic> dan skala motivasi belajar yang telah digunakan dalam penelitian sebelumnya. Adapun <italic id="_italic-39">skala school well-being</italic> mengadopsi dari penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Chasanah [19]. Alat ukur ini disusun bedasarkan teori <italic id="_italic-40">school well-being</italic> yang diajukan oleh Konu dan Rimpela dengan aspek-aspek yaitu <italic id="_italic-41">having, loving, being, dan healthy</italic>. Alat ukur ini terdiri atas 33 item yang selanjutnya akan diujikan validitas dan reliabiltasnya. Hasil <italic id="_italic-42">tryout</italic> yang telah dilakukan menunjukkan bahwa alat ukur telah reliabel untuk digunakan dalam penelitian dengan nilai reliabilitas <italic id="_italic-43">alpha Cronbach</italic> sebesar 0,898 [19] .</p>
      <p id="_paragraph-26">Instrumen penelitian motivasi belajar mengadopsi pula dari alat ukur yang disusun oleh Rahmawati [10]. Adapun alat ukur ini menggunakan teori motivasi belajar yang dimiliki oleh Sardiman dengan aspek-aspeknya yaitu tekun menghadapi tugas, ulet menghadapi kesulitan, menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah, lebih senang bekerja secara mandiri, cepat bosan dengan pekerjaan rutin, dapat mempertahankan pendapat, tidak mudah melepas hal yang diyakini, dan senang mencari dan memecahkan masalah. Skala ini terdiri atas 19 item yang selanjutnya akan diujicobakan kembali validitas dan reliabilitasnya. Hasil <italic id="_italic-44">tryout</italic> yang telah dilakukan menunjukkan bahwa alat ukur telah reliabel untuk digunakan dalam penelitian dengan nilai reliabilitas <italic id="_italic-45">alpha Cronbach</italic> sebesar 0,822.</p>
      <p id="_paragraph-27">Adapun skala berbentuk skala likert dengan 5 altternatif jawaban yaitu Sangat Tidak Setuju, Tidak Setuju, Netral, Setuju, dan Sangat Setuju. Tehnik analisa data yang akan digunakan dalam penelitian ini menggunakan tehnik analisa <italic id="_italic-46">Pearson Product Moment Correlation</italic>. Adapun <italic id="_italic-47">software</italic> yang akan digunakan dalam proses analisa data mengguakan <italic id="_italic-48">software JASP</italic> versi 0.14.1</p>
    </sec>
    <sec id="heading-b02c92f47ccb64f818aa5de5291ca936">
      <title>
        <bold id="bold-76faa3a7c2b7065a5b98283a2a03b03e">Hasil dan Pembahasan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-30">
        <bold id="_bold-16">Uji Asumsi</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-31">Hasil uji asumsi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa data <italic id="_italic-49">school well-being</italic> dan dan data motivasi belajar terdistrubsi normal. Hasil uji <italic id="_italic-50">Shapiro wilk</italic> dari data school well being terdistribusi normal (<italic id="_italic-51">p-value=0,075)</italic> dan data motivasi belajar terdistribusi secara normal (<italic id="_italic-52">p-value=0,059)</italic>. Hasil ini menandakan bahwa uji asumsi normalitas telah terpenuhi.</p>
      <table-wrap id="_table-figure-2">
        <label>Table 2</label>
        <caption>
          <title>Uji Normalitas Shapiro-Wilk</title>
          <p id="_paragraph-33" />
        </caption>
        <table id="_table-2">
          <tbody>
            <tr id="table-row-d8946321ce93be62d12795bfdb490615">
              <td id="table-cell-f8974ef474e4db0b5df7f4fb37267ad3" />
              <td id="table-cell-f6e36aa5dc91ef953a3e6de4a4c7ba56">School Well-being</td>
              <td id="table-cell-09e847e5962a36e9624fd29139436ac0">Motivasi Belajar</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-18325dbf1a6da4592ee3fb12d6cb1e92">
              <td id="table-cell-e0c2420927ab686d777c4a04fa077ce7">Valid</td>
              <td id="table-cell-9d8fc4d08132331e42ac994c426a41bf">222</td>
              <td id="table-cell-2f546c6fcf76a6e1ba4a67c99679c96c">222</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-d56c2c4fb47b6c374c1664ea6fc1e929">
              <td id="table-cell-8c995e5faee806ae36f596d5fd2519ec">Missing</td>
              <td id="table-cell-4898665b65952010ba11691006e98470">0</td>
              <td id="table-cell-526d9cc6b6687b0aa9cb56eddf51b0cc">0</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-21b6e81b195ed2c7fc90e9fb8e2c1fc8">
              <td id="table-cell-2a54f9ae4d78d066c0938bf925b186ad">Mean</td>
              <td id="table-cell-96e534ad6662e8d418c14d3370beec8a">91.077</td>
              <td id="table-cell-78c6710fe62f0ddd68fea0894e2ce1c4">52.545</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-91b01602321ac29bac0aaea2e3eb6efc">
              <td id="table-cell-c585ba5b73fd9e8316f4058bda38b246">Std. Deviation</td>
              <td id="table-cell-c381f2fcdeb299f34d6273258db70db8">5.178</td>
              <td id="table-cell-47afe6e159380397d848cd921163917c">4.593</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-3f1aef9aad7dcb13aa5e833102e71ffa">
              <td id="table-cell-70620b4503b9526929ce340771437a01">Shapiro-Wilk</td>
              <td id="table-cell-f5b1fa3fc9fca3f45789a8d70f54c174">0.989</td>
              <td id="table-cell-7807b203a7fc30b3193bc65d56ba095e">0.988</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-a553749b8c749f574d2c5af05301ad72">
              <td id="table-cell-6de81cd06fe3f2529190e4c63eae96ef">P-value of Shapiro-Wilk</td>
              <td id="table-cell-52a2aef02d86cd1ba6c39f5bc60e45b4">0.075</td>
              <td id="table-cell-4812af52a0aebad2cc38f2fd31a759b5">0.059</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-4c874362f7820392166f4e44a8a82b39">
              <td id="table-cell-69ea4a0274ba3cd181fec2d815e1ae4c">Minimum</td>
              <td id="table-cell-2e4ac39bab1692745331d81c221d2d96">79.000</td>
              <td id="table-cell-ed9026346934dbb38b78f5e60fe80e39">42.000</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-b218f01fcf8c214e05fa444c6778e375">
              <td id="table-cell-548efc0f0484bc0a5fc73ba2a0e1e114">Maximum</td>
              <td id="table-cell-4bfd6c59020bc50c279337169d0dec8e">104.000</td>
              <td id="table-cell-1e695c776caa6eb1939a518d2831fc17">67.000</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-34">Hasil uji linearitas juga menunjukkan bahwa data <italic id="_italic-54">school well-being</italic> dengan data motivasi belajar memiliki hubungan linear. Hal ini terbutki dari titik-titik <italic id="_italic-55">scatter plot</italic> yang berkumpul disekitar garis linear yang miring keatas. Adapun juga kumpulan-kumpulan tersebut membentuk bentuk oval atau elips, sehingga bedasarkan hasil sebaran data tersebut maka dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan linear antara kedua variabel dan asumsi lienaritas terpenuhi.</p>
      <fig id="figure-panel-b92dd0bc24cee98a00be3cd8ae733a92">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <title>Grafik Uji Liniearitas</title>
          <p id="paragraph-28899641f57e694b4c045f6c768ca749" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-d6fecf44f0a0d58009c3ab7e2a7abda6" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="Screenshot (931).png" />
      </fig>
      <p id="_paragraph-36">Uji asumsi yang terpenuhi menandakan bahwa uji hipotesis dapat menggunakan uji parametric. Oleh sebab itu analisa data selanjutnya menggunakan analisa korelasi <italic id="_italic-56">pearson product moment correlation</italic>.</p>
      <p id="_paragraph-37">
        <bold id="_bold-18">Uji Hipotesis</bold>
      </p>
      <table-wrap id="_table-figure-3">
        <label>Table 3</label>
        <caption>
          <title> Uji Korelasi Pearson</title>
          <p id="_paragraph-39" />
        </caption>
        <table id="_table-3">
          <tbody>
            <tr id="table-row-0d87178b01bb1336412887642e7305e4">
              <td id="table-cell-0ea881c53baf2459482bf380337d3539">Variabel</td>
              <td id="table-cell-d8cfa190aaffef857a9db337003bd473">Pearson's Correlations</td>
              <td id="table-cell-cee6bb8d08a29ee9a4a52f2dbd86a452">p-value</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-fe54df343f20a31454c6fc1d26467718">
              <td id="table-cell-b67d73426c6277d575e2a2043c3df45e">School Well-being - Motivasi Belajar</td>
              <td id="table-cell-b78587f5fa73597b923c17fb523eda0a">0.432</td>
              <td id="table-cell-fd87f872623382f60a6d386fb8bd613c">&lt; .001</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-40">Uji korelasi <italic id="_italic-58">pearson</italic> menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara <italic id="_italic-59">school well-being</italic> dengan motivasi belajar (<italic id="_italic-60">r=0,432, p-value&lt;0,001)</italic>. Hasil ini juga juga menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkatan <italic id="_italic-61">school well-being</italic> dari siswa maka akan semakin tinggi pula tingkatan motivasi belajar yang dimiiki oleh siswa tersebut.</p>
      <table-wrap id="_table-figure-4">
        <label>Table 4</label>
        <caption>
          <title>Sumbangan Efektif</title>
          <p id="_paragraph-42" />
        </caption>
        <table id="_table-4">
          <tbody>
            <tr id="table-row-8ab257d497e909a740c8da61a707fd5e">
              <td id="table-cell-595790ba85ec784f120249550e81c57d">Model</td>
              <td id="table-cell-a0d74b9aed5b711d51ac818b3c665c5a">R</td>
              <td id="table-cell-639f8ecaade3c76324db878326a9d8a5">R²</td>
              <td id="table-cell-7e2ff2ab061cd93613b06da222115c54">Adjusted R²</td>
              <td id="table-cell-9a1f3c54961749842506c28d61db8d5a">RMSE</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-3daeb2ba39f6ed0dc3ee57ff2c034bc0">
              <td id="table-cell-327dfc6bf72f6e67c798ab057bf4d9ec">H₀</td>
              <td id="table-cell-f17fa1f40bc5d07fe86e58dc491a8e5a">0.000</td>
              <td id="table-cell-515ea01ead343b83d131386b10383475">0.000</td>
              <td id="table-cell-55923376d67cded59ac2c3e46cdca644">0.000</td>
              <td id="table-cell-44cb5be17f80515974ab6d3a670d305a">4.593</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-63af6735de7809cde89f73889b2c1800">
              <td id="table-cell-38705f435bf795306b5143c6b1c8c96b">H₁</td>
              <td id="table-cell-c965992a6facf7850fb7297810acdb56">0.432</td>
              <td id="table-cell-391f82c15cd5a823230f39cbc2b3ffe8">0.187</td>
              <td id="table-cell-adb24b713afa001884928ed70f76ace3">0.183</td>
              <td id="table-cell-c66181075fdea51af9b2792d92ca4ae2">4.151</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-43">Selanjutnya nilai R² = 0,187 menunjukkan bahwa <italic id="_italic-62">school well-being</italic> memberikan sumbangan efektif kepada motivasi belajar sebesar 18,7%. Adapun sisa dari persentase yaitu sebesar 81,3% dipengaruhi oleh variabel lain yang berada diluar variabel <italic id="_italic-63">school well-being</italic>.</p>
      <table-wrap id="_table-figure-5">
        <label>Table 5</label>
        <caption>
          <title>Kategorisasi Motivasi Belajar</title>
          <p id="_paragraph-45" />
        </caption>
        <table id="_table-5">
          <tbody>
            <tr id="table-row-5a649c590b42ecb6f7890b22ee96f6ba">
              <td id="table-cell-55eb8288a6aac9470ef0076c51d1b793">Kategori</td>
              <td id="table-cell-19ab0c015ff4f37fc24d49ced56449dd">Rentangan</td>
              <td id="table-cell-c7e7ed5b04f5333f02f0d112f532d1f0">N</td>
              <td id="table-cell-2be67d08375ca6dc2932bcffc8339f1c">Persentase</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-b9119bf3b8ec823e76077452730a8a4d">
              <td id="table-cell-2526241743e3af03a4df0ac559ae7124">Sangat Tinggi</td>
              <td id="table-cell-7c01f70592d1f840794a57df95d5b673">&gt;59</td>
              <td id="table-cell-6dc0b21ca553e5675a183fe735b837a3">16</td>
              <td id="table-cell-79df9a901d8b06851356e036fc52dd45">7,21%</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-f3ab727d77685a438ac03f783a05aa15">
              <td id="table-cell-840302e409b4ff67e07a95ae5390026e">Tinggi</td>
              <td id="table-cell-169ca9d4f0ac58b281da1aa3fc749efa">59-55</td>
              <td id="table-cell-cba82c2b9280aaacaf4170b74f90a8ba">50</td>
              <td id="table-cell-26c53013509cba6d136954278083a76a">22,52%</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-18fc9d2ef74cebe1dc0b08819aa92a70">
              <td id="table-cell-a7d7801bcb01230a909478e1f298db1e">Menengah</td>
              <td id="table-cell-d6f5dfa3ee2c0321ac6d66edd0e28de5">54-50</td>
              <td id="table-cell-61e1afea9aa4f4302571740498c8d8b7">98</td>
              <td id="table-cell-d470cee32f861e49a1d5d2962a69c1e2">44,14%</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-c289a05f66f66cb44b084456d6527aaa">
              <td id="table-cell-30177ddd4c3a4a6a62642db17006622f">Rendah</td>
              <td id="table-cell-6b8eb6a57837c4dfa9bbc95e5cfe0d45">49-46</td>
              <td id="table-cell-0bac916450c2c89d0c74364d07dcbcec">46</td>
              <td id="table-cell-53e2a0ce4fe3ce496e9be2751835ce10">20,72%</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-dc571b03f5f6142bdb8048ed47edfdad">
              <td id="table-cell-fe99b0df2ef8b8d859973d7161804041">Sangat Rendah</td>
              <td id="table-cell-029a4302d26d78a4658e7994b36798fc">&lt;46</td>
              <td id="table-cell-7c450a74dd705d4932368aec5bd8e5a9">12</td>
              <td id="table-cell-2b81533f946c64f4cc686c178dd54041">5,41%</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-46">Hasil Kategorisasi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa Siswa SMK Islam Tulangan memiliki beberapa permasalahan motivasi belajar yang rendah dengan kategori rendah sebesar 20,72%. Selanjutnya kategori sangat rendah sebesar 5,41%.</p>
      <p id="_paragraph-48">Hasil analisa menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara <italic id="_italic-64">school well-being</italic> dengan motivasi belajar (<italic id="_italic-65">r=0,432, p-value&lt;0,001)</italic>. Hasil ini juga menunjukkan bahwa hipotesis penelitian yaitu terdapat hubungan positif antara <italic id="_italic-66">school well-being</italic> dengan motivasi belajar pada siswa SMK islam di Tulangan terbukti benar sehingga hipotesis dari penelitian ini dapat diterima.</p>
      <p id="_paragraph-49">Hasil ini juga sesuai dengan beberapa hasil penelitian terdahulu. Penelitian yang dilakukan oleh Ade et al menunjukkan bahwa terdapat hasil positif antara <italic id="_italic-67">school well-being</italic> dan motivasi belajar pada siswa SMKN di daerah Padang (<italic id="_italic-68">r=0,575, p&lt;0,001)</italic> [22]. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Hasanah dan Sutopo menunjukkan hasil yang sama yaitu hubungan positif antara <italic id="_italic-69">school well-being</italic> dan motivasi belajar pada siswa madrasah aliyah yang setingkat dengan jenjang sekolah menengah ke atas dan menengah kejuruan (<italic id="_italic-70">r=0,565, p&lt;0,001) </italic>[20]. Penelitian yang dilakukan oleh Zulfa menunjukkan hasil sama yaitu hubungan positif antara <italic id="_italic-71">school well-being</italic> dengan motivasi belajar pada siswa Sekolah Menengah Atas (<italic id="_italic-72">r=0,677, p&lt;0,001)</italic> [23].</p>
      <p id="_paragraph-50">Jika ditinjau dari aspek <italic id="_italic-73">school well-</italic>being yaitu <italic id="_italic-74">having </italic>yang berkaitan dengan kondisi sekolah, maka kondisi dari lingkungan belajar seperti kelas sangat mempengaruhi bagaimana cara siswa dalam belajar, dimana siswa akan termotivasi belajar dengan lebih baik ketika menilai kelas tempat belajarnya dengan perspektif yang positif [24]. Lingkungan dan kondisi sekolah terdiri dari kondisi fisik seperti kondisi gedung, infrastruktur, dan juga tenaga pengajar dan administrasi dari sekolah juga berpengaruh kepada semangat dari siswa untuk belajar, dimana lingkungan dan kondisi yang baik akan mempromosikan hal-hal positif kepada para siswa sehingga siswa akan termotivai untuk belajar [25]. Adapun lingkungan belajar di sekolah menjadi salah satu komponen yang berpengaruh kepada <italic id="_italic-75">school well-being</italic> yang selanjutnya dapat membuat siswa menjadi termotivasi dan lebih kreatif [26].</p>
      <p id="_paragraph-51">Selanjutnya bedasarkan aspek <italic id="_italic-76">school well-being </italic>yaitu <italic id="_italic-77">loving </italic>yang berkaitan dengan hubungan siswa dengan lingkungan sosial di sekolahnya, maka hubungan interpersonal antara siswa dengan guru juga menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa di sekolah, dimana siswa yang kesulitan untuk membangun hubungan interpersonal yang positif dengan teman dan guru dapat mempengaruhi bagaimana siswa beradaptasi untuk mengikuti tuntutan yang diberikan, mengarahkan siswa untuk tidak termotivasi dalam proses belajarnya [27]. Memiliki hubungan positf dalam konteks sekolah sangat dibutuhkan siswa untuk dapat berhasil dalam kehidupan akademiknya dimana perasaan diterima oleh teman dan juga memiliki guru yang ramah dan juga mampu memahami siswa dapat meningkatkan kesejahteraan emosional dan motivasi dari siswa [28]. Adapun hubungan yang negatif antar teman dan juga perlakuan guru yang tidak menyenangkan dapat berpengaruh kepada kondisi psikologis siswa, dan selanjutnya mengarahkan pada perasaan stress dan juga hilangnya motivasi [29].</p>
      <p id="_paragraph-52">Selanjutnya bedasarkan aspek <italic id="_italic-78">being </italic>dan <italic id="_italic-79">health </italic>yang berkaitan dengan pemenuhan potensi serta kesehatan dari siswa, maka infrastuktur sekolah, serta penyediaan kegiatan yang dapat memenuhi potensi siswa merupakan bagian bagian penting dari <italic id="_italic-80">school well-being</italic>. Infrastuktur yang dapat menunjang kegiatan dan kesehatan siswa dapat mempengaruhi proses belajar siswa. Beberapa kemungkinan siswa dapat terpapar kepada pengaruh perilaku negatif seperti minum-minuman keras, penggunaan obat terlarang, hingga seks bebas juga dapat berpengaruh kepada proses dan motivasi belajar siswa, dimana disinilah pentingnya peran Unit Kesehatan Sekolah (UKS) untuk memberikan layanan dan juga edukasi kesehatan agar siswa dapat menerapkan pola hidup sehat yang selanjutnya dapat menunjang proses dan motivasi belajarnya [30]. Sekolah yang dapat menyediakan kegiatan ekstrakurikler dan organisasi untuk pemenuhan potensi diri siswa juga berkaitan dengan motivasi, dimana beberapa penelitian menunjukkan bahwa siswa yang terlibat dalam kegiatan ekstrakurikler menunjukkan motivasi belajar yang baik [31].</p>
      <p id="_paragraph-53">Selanjutnya sumbangan efektif yang diberikan <italic id="_italic-81">school well-being</italic> kepada motivasi belajar pada sampel penelitian sebesar 18,7%, sehingga sebanyak 82,3% faktornya dipengaruhi oleh faktor lain yang berada diluar variabel <italic id="_italic-82">school well-being</italic>. Orientasi belajar merupakan salah satu faktor lain yang dapat mempengaruhi motivasi belajar dari siswa [32]. Selanjutnya kemampuan mengajar guru seperti bidang keilmuwan, manajemen kelas, dan metode mengajar guru menjadi faktor dominan yang dapat mempengaruhi motivasi belajar dari siswa [33].</p>
    </sec>
    <sec id="heading-69781e4bce887afd1987fe9f4c87570e">
      <title>
        <bold id="bold-056961ee6163dd1bdfe5a3335b915783">Simpulan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-54">Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara <italic id="_italic-83">school well-being</italic> dengan motivasi belajar. Hal ini menandakan bahwa semakin baik tingkatan <italic id="_italic-84">scholl well-being</italic> yang dimiliki oleh siswa maka akan semakin tinggi pula motivasi belajar yang dimiliki. Hasil ini juga membuktikan hipotesis penelitian benar dan dapat diterima. Keterbatasan dalam penelitian ini diantaranya adalah penggunaan metode penelitian yang sederhana untuk menjelaskan fenomena motivasi belajar pada siswa. Metode penelitian yang lebih kompleks dan melibatkan analisis dan lebih banyak variabel dapat mengarahkan kepada pemahaman yang lebih baik terkait fenomena motivasi belajar pada siswa. Beberapa alternatif penelitian yang lebih kompleks dapat dilakukan adalah melibatkan lebih dari 3 atau lebih variabel dan selanjutnya menggunakan tehnik analisa yang lebih mendalam sepert regresi linear berganda ataupun menggunakan analisa <italic id="_italic-85">structural equation model</italic></p>
      <p id="_paragraph-55">Implikasi dari penelitian ini adalah peningkatan infatruktur sekolah dan juga sumber daya manusia yang dimiliki oleh sekolah agar lebih baik lagi dalam memberikan layanan edukasi kepada siswa. Hal ini dapat dicapai dengan melakukan kerjasama dengan berbagai pihak baik antara orang tua ataupun dengan institusi pemerinntah atau mandiri yang berkaitan dengan pendidikan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas dari sekolah agar <italic id="_italic-86">school well-being</italic> dari siswa meningkat dan selanjutnya meningkatkan pula motivasi belajar yang dimiliki siswa. Selanjutnya implikasi akademik dari penelitian ini adalah pengembangan lebih lanjut terkait fenomena motivasi belajar dengan <italic id="_italic-87">school well-being</italic> pada siswa dengan menggunakan metode lain, seperti metode kualitatif dan selanjutnya peneliti dapat menggunakan penelitian ini sebagai dasar atau referensi untuk melakukan penelitian lebih lanjut.</p>
      <p id="_paragraph-56">Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak sekolah SMK Islam Tulangan karena telah memperbolehkan peneliti untuk melakukan penelitian di lingkungan sekolah. Peneliti selanjutnya mengucapkan terima kasih kepada siswa dan guru dan guru yang telah bersedia untuk jadi bagian dari penelitian ini.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>